Mayen : Hai minna, ogenki desu ka?? Hehehe

Readers : Loh? Kok yang ngebuka ni fic lo? Author nya mana?

Mayen : BinBin ga tau kemana, makanya gue yang buka ni fic. Memang nya kenape?
Readers : Kami mau ngebantai tu author karena update nya lama banget!!! *nyiapin golok + bazooka*

Ichigo : Itu!! Author gaje itu lagi sembunyi di belakang pohon cabe!!

Readers : *langsung nyerbu ke pohon cabe*

BinBin : *keluar dari belakang pohon jambu* Makasih Ichigo, lo nyelametin gue!!

Ichigo : Ga apa-apa, asal lo bikin gue makin keren di ni fic.

BinBin : Cih, ternyata ada maunya. Minna maafkan diriku yang telat update (again) ini. Sekarang kita balas review!!! Yeahh!!!!!!

Mayen : Pertama dari Raiko Azawa, wahahaha.. maaf ya Rukia ma Hisana ga bakal saingan kok.

Rukia : Kedua dari, Yumemiru Reirin, hahaha…iya tenang gue ga bakal kalah kok.

Ichigo : Ketiga dari Chizu Michiyo, hahaha.. gue ga bisa ngerayu ye, bisanya Cuma berkelahi duank. Mulai chapter ini ceritanya bakal beda dari komiknya karena author ga punya komiknya yang vol 2 mpe habis, dia Cuma punya yang vol 1 tapi nekat bikin fic ini.

BinBin : Ehehehehehe… Selanjutnya dari Aurorafyfy, haha. Iya papa palsu, eh? Jadiin pacaran aja, hmm… ntar deh.

Renji : Dari Ruki_ya_cH, hampir mudeng? Moga aja di chapter ini mudeng juga ya. Nie fic memang beneran gaje soalnya.

Kira : Lalu dari Suzune-zidRa, ya moga aja makin seru. Gue banyak muncul di nie fic!! Asyik!!! *kegirangan*

Hitsugaya : Jiah si Kira girang banget kayanya. Lalu dari Kishina nadeshiko, ya sepertinya mereka memang di jodohin tuh.

BinBin : Dari Ni-chan d'Sora Yuki, bagus? Beneran? Jiah.. Hisana memang masih hidup di fic ini. Lanjutkan juga!!! Hahaha

Readers : Mana authornya? Tadi kayanya ada suaranya deh *celingak-celinguk*

BinBin : *ngerebut topengnya Senbonzakura, langsung di pake* Author tadi lari ke arah barat.

Readers : Oh thanks!! *lari ke arah yang di tunjuk BinBin*

Senbonzakura : Kembaliin topeng gue!! Gue juga mau bacain review! Dari Mayonakano Shadow Girl, Inoue memang belagu tuh!! Ini udah update kok.

Ichigo : Lah, ngapain Senbon ada di sini? Majikan lo mane? Terus dari Namie Amalia, ga gue ga janji buat tinggal ma Rukia kok. Pokoknya ada deh janjinya. Di tinggal gara-gara gue ga mau nunggu si Inoue itu bengong karena terpesona ma ketampanan gue.

Senbonzakura : Byakuya-sama lagi berduaan sama Rukia, ga nyadar lo?

Byakuya : Rukia, lo ga apa-apa kan? Ga beneran demam kan? *megang tangan Rukia*

Rukia : Ga apa-apa kok Nii-sama, jangan khawatir.

Ichigo : WHAT?!!! RUKIAAA COME BACK!!!!! *narik Rukia jauh-jauh dari Byakuya* Sudah cukup kalian mesra-mesraan di Sweet Senbonzakura, sekarang giliran gue yang mesra-mesraan di fic ini!!!

Renji : Wah..wah.. kayanya udah mau perang dunia lagi nih. Next review dari Kazuka-Ichirunatsu23, baca terus pasti nanti ketauan Hisana di mana dan apa hubungan Ichi ma Hisana.

Mayen : Balas reviewnya nyambung di bawah… Met baca, jangan lupa REVIEW nya ya….!!!!!

Disclaimer : Bleach punya Tite Kubo!!! Gue Cuma minjem sumpah! Spring punya Lee-Young You, walau dari chapter ini ceritanya bakal beda dari komiknya.


My Father ?!

Chapter 3 : Ichigo, Rukia, Renji??

Rate : T

Genre : Romance/Humor

Pairing : IchiRuki, RenRuki


"Silahkan, nyonya," kata seorang maid bernama Nemu setelah selesai menuangkan wine ke dalam gelas seorang wanita di depannya.

"Terima kasih Nemu-chan," kata wanita itu sambil tersenyum ramah.

Nemu hanya membungkuk memberi hormat lalu pergi meninggalkan wanita itu.

Wanita itu sedang menikmati segelas wine di dalam sebuah ruangan berinterior ala Eropa ketika seorang pria separuh baya menghampirinya.

"Hisana, apa kau senang tinggal disini?" tanya pria itu.

"Tentu saja Isshin, aku sangat berterima kasih pada putra mu yang telah memperboleh kan ku tinggal di rumah pribadinya ini selama dia tinggal bersama Rukia," sahut wanita yang ternyata adalah Hisana itu sambil memandang sudut-sudut rumah yang sangat mewah itu.

"Dan kau harus bersyukur karena dia mewarisi kebaikan hati Masaki, meskipun kebaikannya itu tidak ia tampakkan dengan jelas," sambungnya.

"Ya, kau benar. Sikapnya sangat mirip dengan Masaki, tapi aku tidak mengerti dia mewarisi rambut dengan warna nyentrik itu dari siapa," kata Isshin tersenyum kecil mengingat putranya Kurosaki Ichigo yang warna rambutnya orange.

"Haha.. Aku juga pernah memikirkan tentang itu. Memangnya saat mengandung Ichigo apa yang di idamkan Masaki?" tanya Hisana.

"Jeruk," jawab Isshin singkat.

"Pantas saja, hahahaha…" Hisana tertawa mendengar jawaban Isshin.

"Memangnya itu berpengaruh?"

Hisana terdiam. Ia sedikit mengerutkan alisnya yang pertanda bahwa dia sedang berpikir.

"Aku tidak tahu. Tapi mungkin saja,"

"Kau tidak berubah Hisana, selalu saja menghubungkan hal yang aneh-aneh. Hahahaha.."

"Benarkah? Berarti aku awet muda ya. Hahahahaha.." Hisana dan Isshin tertawa bersama hingga membuat para maid bingung dengan kelakuan ayah majikan mereka itu.

"Hisana, aku masih belum mengerti sebenarnya apa yang kau dan Masaki rencanakan. Masaki tidak mengatakan apapun pada ku sampai ia menghembuskan napas terakhirnya, yang ku tahu hanya masalah 'janji' Ichigo itu," Isshin mengambil sebuah gelas lalu menuangkan wine ke dalamnya.

Hisana tersenyum. Ternyata Masaki benar-benar menjaga rahasia rencana mereka.

"Hmm.. Berarti kau tidak boleh tau Isshin," balas Hisana.

"Heh? Kenapa begitu? Kalian curang! Masaaaaaaakiiii…. Kenapa kalian berdua menyimpan rahasia dari ku…….." kata Isshin sambil menempel pada poster Masaki yang super hyper besar ukurannya.

"Selalu saja begitu, bagaimana kau tidak di anggap ayah bodoh oleh Ichigo kalau kau begitu terus," kata Hisana.

"Huuuu…. Masakiiii, bertambah lagi orang yang bilang aku bodoh…!!!!" seru Isshin masih sambil menempel dengan poster itu.

Hisana sweatdropp. Ia lalu menyeret Isshin untuk melepas tempelan (?) nya dari poster itu.

"Ya ampun Isshin, untung saja Ichigo tidak mewarisi sifat gila dan lebay mu itu,"

Hisana memandang poster Masaki yang sangat cantik itu sambil tangannya menghalangi Isshin untuk menempel lagi di poster itu.

"Masaki, rencana pertama kita berjalan lancar," Hisana tersenyum di depan poster almarhum sahabatnya itu.


"Ichigooooooooooooooooooooooooo!!!!!" jerit Rukia.

"Ada apa putriku yang pendek?" tanya Ichigo dengan wajah innocent.

"Kenapa aku diikat seperti ini?!" seru Rukia yang kaget saat bangun tidur ternyata tubuhnya diikat dengan tali hingga tidak bisa bergerak.

"Tentu saja supaya kau tidak kabur,"

"Kabur? Hei, aku mau berangkat sekolah! Sekarang sudah hampir terlambat tau!" seru Rukia.

"Kau tidak akan sekolah hari ini, kau harus istirahat di rumah," kata Ichigo.

"Apa?!! Aku juga hari ini ada kerja di café, kalau aku tidak bekerja kita mau makan apa hah! Lepaskan aku sekarang!" Rukia berusaha melepaskan ikatan tali itu tapi sia-sia, dia masih lemas karena demamnya belum benar-benar sembuh hingga tidak kuat untuk melepas tali itu.

Ichigo tersenyum melihat kelakuan Rukia yang keras kepala itu.

"Masalah uang serahkan saja padaku," kata Ichigo.

"Memangnya kau punya uang jeruk?"tanya Rukia.

"Berhentilah memanggil papamu ini jeruk putriku. Memangnya kau pikir aku miskin?" Ichigo menatap mata violet Rukia.

"Bukannya memang begitu kenyataannya," balas Rukia yang mengalihkan pandangannya dari Ichigo yang menatapnya.

"Hmm.. Mungkin begitu," kata Ichigo sambil berjalan meninggalkan Rukia.

"Jeruk, kau mau kemana?! Lepaskan dulu tali bodoh ini dari ku,"

"Mengambil makan pagi untuk putriku, aku tidak akan melepaskannya," Rukia hanya bisa menahan kesal melihat Ichigo menghilang dari hadapannya.

'Ichigo!! Awas kau ya,' geram Rukia dalam hati sambil membentur-bentur kan kepala nya ke dinding saking kesalnya.

"Putriku yang pendek, kau bisa gegar otak jika tidak berhenti bertindak bodoh seperti itu," tegur Ichigo sambil membawa semangkuk bubur ayam yang asapnya masih mengepul.

"Bukan urusanmu jika aku gegar otak kan!" teriak Rukia.

"Tentu saja urusanku bodoh, aku bisa mati kalau kau gegar otak! Karena aku…"

"Apa?" Rukia penasaran dengan perkataan Ichigo yang tidak lengkap itu.

'Karena aku sangat mengkhawatirkan mu Rukia,' Ichigo hanya meneruskan kata-katanya tadi dalam hati.

"…Tidak, lupakan saja. Cepat makan ini," kata Ichigo sambil menyodorkan semangkuk bubur ayam itu pada Rukia.

"Dasar aneh, mana bisa aku makan kalau kau mengikatku seperti ini," protes Rukia.

"Oh maaf, aku lupa. Hehe.." cengir Ichigo.

"Aku tidak lap.. Apa yang kau lakukan Ichigo?" seru Rukia saat Ichigo ingin menyuapkan sesendok bubur itu pada Rukia.

"Menyuapi putriku yang pendek dan cerewet, ayo buka mulut aaa…"

Rukia membuka mulutnya lalu Ichigo langsung menyuapinya. Entah kenapa tiba-tiba suasana berubah menjadi romantis.

"Nah begitu baru gadis manis," puji Ichigo sambil tersenyum. Senyum yang membuatnya bertambah tampan dan keren.

Blussshhhh….

Wajah Rukia langsung memerah karena senyuman maut Ichigo itu.

'Sial! Kenapa wajahku rasanya seperti panas dan senyumnya itu mampu membuatku takluk,' gumam Rukia dalam hati.

"Putriku, kenapa wajahmu merah? Apa demamnya kambuh lagi?" tanya Ichigo sambil memegangi pipi Rukia yang membuat Rukia semakin memerah.

"L-Lepaskan tanganmu.. A-Aku tidak apa-apa.." kata Rukia salah tingkah.

"Hmm… Benarkah?" Ichigo mendekatkan wajahnya ke wajah Rukia.

"A-Apa yang mau k-kau lakukan?" Rukia berusaha memundurkan kepalanya agar wajahnya tidak terlalu dekat dengan wajah Ichigo tapi percuma karena ia sudah terpojok.

"Kau belum pernah berciuman?" tanya Ichigo tiba-tiba. Sekarang wajah Rukia sudah sangat memerah dan Ichigo sangat menikmati manisnya wajah Rukia saat memerah seperti itu.

Deg…Deg…Deg…

"M-menjauh j-jeruk.." kata Rukia terbata-bata.

Ichigo tidak mempedulikan kata-kata Rukia, ia menatap mata Rukia yang bulat dan sangat indah itu. Jarak mereka semakin dekat, dekat, dekat dan..

Cup…

Ichigo mengecup kening Rukia dengan lembut. Rukia hanya bisa terdiam dan menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan wajahnya yang sudah seperti kepiting rebus.

"I-ichigo.." katanya pelan.

"Ya?" Ichigo melepaskan ikatan pada tubuh Rukia yang sekarang sudah mulai 'jinak'.

"Kenapa kau menciumku?" tanya Rukia malu.

"Karena aku sayang padamu," Ichigo menggulung tali itu dan memasukkannya ke dalam laci di sebelah futon yang di tempati Rukia.

'Dan karena kau begitu manis saat wajahmu memerah,' sambung Ichigo dalam hati.

"Sayang?" tanya Rukia lagi heran.

"Aku kan papa mu, jadi itu ciuman sayang dariku," kata Ichigo.

DEG..

Ada sedikit rasa kecewa di dalam hati Rukia. Ia tidak tahu kenapa, tapi yang jelas dia merasa sedikit kecewa dengan jawaban Ichigo itu. Jujur, Rukia ingin jawaban lain bukan jawaban ciuman sayang seorang papa tapi ciuman sayang sebagai Ichigo.

"Putriku, aku pergi dulu sebentar," kata Ichigo sambil mengambil mangkuk bubur ayam yang sudah habis di makan Rukia tadi.

"Kau, mau kemana?" tanya Rukia.

"Aku mau ke sekolah mu, minta izin kau tidak masuk karena sakit,"

"Tapi aku sudah sembuh Ichigo!" seru Rukia meyakinkan Ichigo.

Ichigo tersenyum lalu menempelkan telapak tangannya ke dahi Rukia. "Dengan badan yang masih hangat seperti ini kau bilang sudah sembuh?" kata Ichigo sambil mengerutkan alisnya.

"Tapi aku beneran sudah sembuh!!" Rukia keras kepala.

"Iya,iya. Kau sudah sembuh tapi masih harus istirahat sekarang," kata Ichigo.

Rukia terdiam. Apa yang di katakan Ichigo benar, dia tau itu. Tapi ia ingin bekerja karena ia paling benci menjadi beban orang lain, paling benci di khawatirkan oleh orang lain, dan juga paling benci untuk kesepian di setiap harinya setelah ibunya meninggalkannya 3 tahun lalu. Dan setelah Ichigo muncul, hidupnya sudah tidak kesepian lagi, mungkin itu adalah alasan kenapa Rukia membiarkan Ichigo tinggal bersamanya karena dia tidak ingin kesepian lagi.

"Jangan berbuat yang macam-macam ya putriku," Ichigo mengacak-ngacak rambut Ruka sebelum pergi meninggalkannya.

"Hati-hati…" ucap Rukian pelan.

Rukia memandang punggung Ichigo yang semakin menjauh dari dirinya.

'Tidak Rukia, dia itu suami Mama dan dengan kata lain dia itu Papa mu. Begitulah adanya, kau tidak boleh punya perasaan lebih padanya,' gumamnya menyadarkan dirinya yang hanyut dalam perasaannya sendiri.


Inoue membuka lemari pakaiannya yang memiliki aksen ukiran yang sangat rumit dan terlihat mahal, walau sebenarnya dia mendapatkan lemari itu dari memungut lemari itu di depan rumah konglomerat kaya yang membuangnya. Inoue menarik laci pada lemari itu dan mengambil sebuah kartu.

"Kartu kredit beneran!!" serunya sambil memandang kartu kredit milik yang kemarin di tinggalkan Ichigo saat membeli obat penurun panas di apotik kecil miliknya.

Tiba-tiba Inoue langsung terbayang wajah Ichigo, wajahnya bersemu merah mengingat wajah tampan itu.

"Aku tidak sempat menanyakan namanya," kata Inoue.

"Dia tampan sekali, keren… Dan dia pasti orang kaya!!"

"Pengusaha terkenal, anak presiden, atau jangan-jangan dia putra mahkota suatu kerajaan," khayal gaje Inoue.

"Pokoknya aku harus kenalan dengannya!!" kata Inoue sambil mengepalkan tinjunya di udara.

"Inoue!!! Sampai kapan kau mau di kamar hah! Apa kau mau terlambat ke sekolah!" teriak ibu Inoue dari luar kamar.

"Iya,iya!!" jawab Inoue malas.

Inoue lalu meletakkan kartu kredit itu ke dalam sebuah kotak perhiasaan bercorak biru/putih berbentuk hati.

"Ku harap dia kembali untuk mengambil kartu kredit ini," kata Inoue sambil berlari kecil keluar dari kamarnya.


"Bodoh..Bodoh..Bodoh.. Kau bodoh sekali Ichigo!" ucap Ichigo yang memaki dirinya sendiri. Ichigo sekarang berada dalam busway di daerah Shirayuki karena satu-satunya cara menuju ke Karakura High School tempat Rukia sekolah hanya lah dengan naik busway itu karena dari rumah Rukia ke sana lumayan jauh.

"Kenapa aku menciumnya tadi.. Tidak, hei Ichigo itu Cuma di kening jadi tidak apa-apa," katanya lagi pada diri sendiri.

'Ichigo, aku tau kau tadi ingin mencium bibirnya kan..' kata inner yang ada dalam diri Ichigo tiba-tiba.

"A-Apa kau bilang, tidak kok.." kata Ichigo. Wajahnya mulai memerah mengingat kejadian bersama Rukia tadi, walaupun dia yang menggoda Rukia tapi sebenarnya jantungnya juga berdegup dengan kencang saat wajah mereka berdekatan.

'Ayolah Ichigo, aku ini inner yang ada dalam dirimu, aku tau semua yang kau pikirkan,' kata inner Ichigo.

"Tidak.. Aku tidak seperti itu," Ichigo tetap kukuh.

'Hahaha.. Tapi aku cukup salut denganmu Ichigo,'

"Salut untuk apa?" tanya Ichigo.

'Karena jika yang berada dalam posisi mu tadi pria lain pasti perempuan boncel itu sudah kehilangan first kiss nya atau bahkan lebih, kau memang pria yang baik ya,' puji inner Ichigo itu.

"Memangnya kau pikir aku ini se mesum itu. Karena itu kau harusnya bersyukur jadi bagian dari diriku kan," bangga Ichigo.

'Yah, terserah kau lah, aku mau tidur lagi, byee…' kata inner Ichigo.

"Memangnya inner juga bisa tidur ya.." kata Ichigo heran.

Ichigo turun dari busway di halte bis di depan Karakura High School. Ia lalu memasuki gerbang Karakura High School yang ramai dengan murid-murid yang sedang bersenda gurau satu sama lain. Ia merasa sedikit bernostalgia dengan masa SMA nya dulu, masa SMA yang kira-kira sudah 3,5 tahun lalu baginya.

"Siapa dia?" tanya Rangiku pada Momo saat melihat Ichigo berjalan memasuki Karakura High School.

"Kenapa kau tanya padaku, mana aku kenal dengannya. Memang kenapa?" balas Momo.

"Dia kereeennn… Tapi walau begitu tetap saja lebih keren Gin!" kata Rangiku berbinar-binar.

"Ehh?? Lebih keren Hitsugaya-sensei tauk!" kata Momo tidak mau kalah membanggakan guru favorite nya itu.

"Tidak!! Gin jauh lebih keren daripada si boncel yang kerjanya selalu darah tinggi itu!"

"Apa kau bilang?! Hitsugaya-sensei lebih baik daripada guru berwajah srigala itu!" perang kata-kata yang di selingi dengan death glare terjadi antara Rangiku dan Momo.

"Umm.. Maaf, ruang wali kelas 2-4 di mana ya?" tanya Ichigo yang sepertinya salah memilih orang untuk bertanya karena Rangiku dan Momo sedang dalam perang mode on.

Rangiku dan Momo memandang Ichigo dari ujung kaki sampai ke ujung kepala lalu mereka saling berpandangan.

"Momo, rambutnya mencolok sekali ya," bisik Rangiku pada Momo.

"Iya, tapi memang ku akui ternyata dia sangat keren kalau di lihat dari dekat," bisik Momo juga.

"Ehemm.. Aku tanya di mana ruang wali kelas 2-4 tapi kok kalian malah bisik-bisik tetangga gitu," kata Ichigo yang sedikit kesal karena di cuekin.

"Ahh.. Maaf, kelas 2-4 ya? Itu kelas kami, mau kami antar?" kata Rangiku.

"Umm.. Ya, boleh juga. Maaf merepotkan," kata Ichigo.

Ichigo, Rangiku dan Momo berjalan beriringan melewati lorong-lorong kelas. Semua mata memandang Ichigo dengan tatapan kagum dan aneh, aneh karena warna rambutnya yang mencolok itu.

"Siapa namamu dan untuk apa kau ke sini?" tanya Momo memulai perbincangan.

"Kurosaki Ichigo, aku kesini untuk meminta izin Rukia karena si midget itu sedang sakit," jawab Ichigo.

Rangiku dan Momo tiba-tiba berhenti berjalan, mereka saling memandang lagi.

"Hei, kenapa kalian berdua berhenti?" tanya Ichigo bingung.

"Kau.. Siapa nya Rukia??" kata Rangiku sambil menunjuk-nunjuk wajah Ichigo.

"Aku pa.. eh, maksudku aku ini sepupu nya," jawab Ichigo.

"Heee.. Sayang sekali, padahal ku kira kau pacar nya Rukia," kata Rangiku kecewa.

"A-Apa kata mu? Ma-mana mungkin kan.." Ichigo wajahnya langsung memerah karena kata-kata Rangiku.

"Haha.. Iya,ya. Aku Matsumoto Rangiku dan yang di sebelahku ini Hinamori Momo," kata Rangiku memperkenalkan diri.

"Salam kenal ya Ichigo," kata Momo ramah.

"Kalian berdua temannya Rukia?" tanya Ichigo.

"Iya!!" jawab Rangiku dan Momo bersamaan.

'Syukurlah Rukia mempunyai teman yang baik di sekolah,' gumam Ichigo lega.

"Kata mu Rukia sakit? Pasti karena tersiram air kotor kemarin, semua gara-gara pangeran sialan itu!" omel Rangiku.

Ichigo mengerutkan alisnya. "Pangeran? Siapa?"

"Itu, Abarai Renji sang Pangeran Baboon kartu emas," kata Momo sambil menunjuk ke arah Renji yang sedang berbicara dengan Kira bodyguard nya.

Ichigo memandang Renji dengan wajah aneh. Aneh karena di tangan kanan Renji membawa sesisir pisang yang masih segar fresh dari pohon (?).

"Memang nya apa yang dia lakukan pada Rukia?"

"Saat Rukia membawa ember yang berisi air kotor Renji seperti nya dengan sengaja mengait kaki Rukia hingga dia jatuh dan air dalam ember itu tumpah membasahi seluruh tubuhnya," jelas Rangiku, Momo mengangguk tanda setuju dengan penjelasan Rangiku.

"Tapi walau begitu Rukia tetap kagum dengan Baboon itu, aneh sekali," kata Momo.

"Jadi Rukia demam gara-gara dia.." Ichigo menggenggam tangan nya lalu hendak berjalan menghampiri Renji.

"Ichigo, kau mau apa?!" Rangiku menahan tangan Ichigo agar tidak pergi karena dia tahu Ichigo pasti akan berbuat sesuatu pada Renji.

"Tentu saja aku akan menghajar nya, berani-berani nya dia membuat Rukia seperti itu!"

"Jangan bertindak bodoh Ichigo, dia itu anak dari pemilik Abarai Corps sekaligus pemilik sekolah ini. Jika kau macam-macam bisa-bisa Rukia yang akan di keluarkan," kata Rangiku.

"Tenangkan dirimu Ichigo, tarik napas… hembuskan… tarik napas… hembuskan…" kata Momo.

"Momo, kau pikir Ichigo mau melahirkan apa!" seru Rangiku.

"Matsumoto, Hinamori kenapa kalian ribut sekali!" kata seorang pria pendek berambut putih itu.

"H-Hitsugaya-sensei!!" Rangiku dan Momo kaget setengah idup.

"Wah, ada makhluk yang sejenis bahkan lebih pendek dari Rukia," kata Ichigo cari mati sama guru yang terkenal galaknya ini.

"Siapa kau? Berani-berani nya kau bilang aku pendek!!" Hitsugaya langsung mengirimkan death glarenya ke Ichigo.

"Haha.. Galak sekali ya. Perkenalkan aku Kurosaki Ichigo, kenapa ada anak SD di si.." belum sempat Ichigo menyelesaikan kata-katanya tapi dia sudah di tarik paksa oleh Rangiku dan Momo.

"Ichigo, dia itu wali kelas 2-4, Hitsugaya Toushiro!" bisik Rangiku.

"Ehh?? Apa? Sekecil ini sudah jadi wali kelas?" kata Ichigo.

"Ada urusan apa denganku?" Hitsugaya berusaha menahan amarahnya agar tidak meledak karena Ichigo.

"Ah, iya. Aku Cuma mau bilang kalau Rukia tidak bisa masuk hari ini karena sedang demam," kata Ichigo.

"Kau siapanya Kuchiki?" selidik Hitsugaya.

"Emm.. Sebenarnya aku ayahnya," kata Ichigo sambil menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.

"APA?!!" jerit Hitsugaya, Rangiku dan Momo tidak percaya.

"Bukankah kau bilang tadi kau itu sepupunya Rukia?" kata Momo.

"Maaf, aku berbohong, sebenarnya aku ini ayah barunya Rukia," jelas Ichigo.

'Ya Kami-sama, aku harus memulai sandiwara ini lagi,' gumam Ichigo dalam hati.

"Jadi Tante Hisana menikah lagi dengan mu?" tanya Rangiku. Ichigo mengangguk sambil mengembangkan senyumnya.

"Rukia yang malang…" kata Rangiku dan Momo bersamaan prihatin.

"Karena aku sudah bilang pada wali kelas pendek ini, sekarang aku mau pulang dulu," kata Ichigo.

"Tunggu! Kurosaki… Sepertinya nama ini sudah tidak asing lagi," kata Hitsugaya. Ichigo mengerutkan alisnya.

"Ah iya, Kurosaki itu nama perusa…."

"Kyaaaaaa….. Cowok rambut orange yang kemarin!!!" jerit Inoue yang memotong perkataan Hitsugaya sambil berlari menghampiri Ichigo.

"Kau siapa?" tanya Ichigo sambil menjaga jarak dari Inoue.

"Kau tidak ingat padaku, ini aku yang kemarin," kata Inoue.

Ichigo melirik Inoue sebentar. "Oh, kau yang di apotik kemarin," kata Ichigo.

"Apotik? Tidak ku sangka seorang Inoue bisa ada di apotik," kata Rangiku.

'Gawat aku lupa! Kalau begini terus identitas asli ku bisa ketahuan!' gumam Inoue panik.

"Memangnya aku tidak boleh berada di sana? Lagipula aku di apotik hanya untuk mengontrol apotik kecil yang baru saja di beri pinjaman modal oleh perusahaan ayahku," kata Inoue berbohong.

"Ohh, ku pikir kau yang punya apotik itu," kata Ichigo.

"Hitsugaya-sensei, kau tadi mau bilang apa?" tanya Momo.

"Em.. Eh, tidak bukan apa-apa," jawab Hitsugaya yang memilih bungkam setelah melihat Ichigo menempelkan jarinya di mulut yang berarti menyuruh Hitsugaya untuk merahasiakan sesuatu.

Ichigo tersenyum pada Hitsugaya, senyuman yang bisa di artikan sebagai ucapan terima kasih.

"Mana kartu kredit ku?" pinta Ichigo pada Inoue.

"Eh? Tentu saja di rumah. Bagaimana kalau sore ini kau ke apotik itu lagi untuk mengambilnya, aku akan menunggumu di sana," kata Inoue.

"Ya, apa boleh buat. Baiklah nanti sore aku ke apotik itu lagi," balas Ichigo yang sebenarnya malas.

"Asyik…!!!" seru Inoue kegirangan.

"Aku pergi dulu, kalau ada waktu kunjungi Rukia ya," kata Ichigo lalu meninggalkan Rangiku, Momo, Hitsugaya, dan Inoue.

Inoue mengerutkan alisnya. "Rukia?"


"Rukia tidak masuk sekolah?!" seru Renji.

"Iya, dia terkena demam mungkin gara-gara tersiram air kemarin," kata Kira pada tuan mudanya itu.

Raut wajah Renji langsung berubah drastis. Ia merasa sangat berdosa karena telah membuat cewek yang di sukai nya sakit.

"Kiraa.. Ini semua salah ku jadi Rukia demam. Cepat bunuh aku sekarang, biarkan aku menebus dosa ku itu.." rengek Renji lebay.

"Tenang tuan muda, daripada melakukan hal bodoh itu sebaiknya anda pergi ke rumah Rukia dan meminta maaf padanya," usul Kira.

"Ahh.. Iya, nice idea Kira!!" kata Renji sambil menatap Kira dengan mata berbinar-binar.

"Tapi.. Aku tidak tahu rumahnya.." sambung Renji.

Kira mengambil sebuah catatan dari saku jasnya lalu membuka catatan itu dan matanya mulai mencari-cari sesuatu dalam catatan. Kira mencarinya dengan sangat teliti dari halaman satu ke halaman yang lain dari baris satu ke baris yang lainnya. Dan akhirnya dia tersenyum saat yang dia cari telah di temukan.
"Jl. Shirayuki No. 28, sekitar 35 menit dari sini. Rumah nona Rukia di sana," kata Kira.

Renji menatap Kira layaknya dewa penyelamat baginya. Keluarganya memang tidak pernah salah dalam memilih sesuatu untuknya, dia bersyukur Kira adalah bodyguard yang baik, walaupun Kira sangat lemah dalam bidang bela diri tapi Renji tidak pernah mempermasalahkan hal itu karena ia telah menganggap Kira sudah seperti saudaranya sendiri.

"Kira, kita ke sana sekarang!!"

"Tapi tuan muda, sekarang jalan sedang sangat macet, anda paling benci terjebak di jalan kan,"

Renji terdiam sebentar. Ia memikirkan cara untuk cepat sampai ke rumah Rukia tanpa terjebak kemacetan yang menjengkelkan itu

"Kira, telpon Iba sekarang. Kita pakai helikopter," perintah Renji.

Kira mengambil handphone BlackBerry dari kantong celana nya lalu ia mencari nama Iba di kontak panggilannya. Iba adalah pilot helikopter pribadi milik keluarga Abarai yang juga memiliki hubungan lumayan akrab dengan Renji.

"Kami tunggu sekarang di Karakura High School, untuk mendarat kau bisa lakukan itu di halaman sekolah," kata Kira pada Iba lewat telpon.

Setelah menunggu sekitar 10 menit akhirnya helikopter yang di tunggu Renji dan Kira pun datang. Helikopter itu mendarat di lapangan Karakura High School, akibatnya seluruh murid yang sedang ada di halaman saat itu terpaksa di usir sementara waktu.

"Tuan muda, ayo segera naik," kata Kira. Renji mengangguk dan mengikuti Kira menaiki helikopter itu. Setelah Renji dan Kira naik ke dalam helikopter, Iba menginstruksi kan pada mereka untuk memakai sabuk pengaman dan duduk dengan tenang selama penerbangan.

'Tunggu aku Rukia..!!!' gumam Renji dalam hati sambil mengacungkan pisang yang ia makan di udara.


"Ichigo kemana sih, lama banget!" keluh Rukia kesal. Ia saat ini sedang menjahit boneka-boneka Chappy setengah jadi yang akan di jual di toko Unohana walaupun sudah dilarang keras Ichigo untuk melakukan itu tapi tetap saja tangannya gatal kalau tidak bekerja.

Hyuuuuusshhh….

Rukia sedikit bergidik saat merasakan angin yang tiba-tiba berubah menjadi kencang. Ia bangkit dari duduknya dan menutup semua jendela agar angin kencang itu tidak masuk dan melemahkan tubuhnya lagi.

"Kenapa anginnya tiba-tiba jadi seperti itu ya? Aneh," katanya bingung.

"Kalau begini, lebih baik aku tidur saja," Rukia berjalan menuju futonnya lalu berbaring dan tidak lama kemudian dia sudah tertidur sambil memeluk boneka Chappy yang super besar.

Rukia sama sekali tidak terganggu dengan suara bising helikopter yang terdengar dari luar rumahnya.

"Ini rumahnya Tuan muda," kata Kira.

Sekarang mereka sudah ada di depan rumah Rukia setelah terbang selama 10 menit dengan helikopter.

"Gubuk menyedihkan itu??" tanya Renji sambil berusaha turun dari tangga tali yang di turunkan helikopter itu. Karena tidak menemukan tempat mendarat yang luas, Iba terpaksa menurunkan Renji dan Kira secara darurat dengan menggunakan tangga yang terbuat dari tali berkualitas atas.

"Iya, ini rumah nona Rukia,"

Renji menatap rumah gubuk itu dengan tatapan bingung.

'Bagaimana bisa seorang cewek manis seperti Rukia tinggal di tempat seperti ini,' pikir Renji.

"Iba pergilah, jika kami sudah mau pulang nanti ku hubungi lagi," Kira memerintah Iba lewat telpon.

Renji dan Kira berjalan menekati rumah gubuk Rukia, setelah berada di depan pintu Renji mengetuk pintu yang rapuh itu.

"Rukia.. Apa kau ada di rumah?" kata Renji sambil mengetuk pintu. Karena tidak ada jawaban Renji memberanikan diri memegang lalu memutar gagang pintu itu.

Pintu terbuka. Ternyata Rukia lupa mengunci pintu rumahnya itu. Renji dan Kira masuk ke dalam rumah dan mereka langsung melihat Rukia yang sedang tertidur lelap di atas futonnya, karena di rumah itu tidak mempunyai ruang lain lagi selain dapur dan kamar mandi maka otomatis tidak ada kamar tidur.

"Rukiaa…" Renji terpesona dengan wajah manis Rukia saat tidur.

"Tuan muda, saya pamit keluar," Kira yang mengerti kalau Renji mau berdua aja sama Rukia keluar dari rumah gubuk itu.

Renji mendekati Rukia yang sangat terlelap. Mata Renji menjelajahi setiap sudut ruangan rumah itu, matanya terbelalak ketika melihat sepasang sepatu cowok tergeletak di dekat pot bunga.

"Kenapa ada sepatu cowok di sini?" kata Renji heran.

"Maaf Rukia.. Gara-gara aku kau jadi sakit seperti ini," ucap Renji pelan sambil memandang Rukia yang pulas.

Tangan Renji ingin bergerak ingin menyentuh pipi Rukia saat Ichigo membuka pintu rumah Rukia. Mata Ichigo terbelalak melihat Renji.

"Hei, apa yang sedang kau lakukan??!" seru Ichigo yang marah karena Renji ingin menyentuh Rukia.

"Menjauh dari Rukia!!" seru Ichigo.

---To Be Continued---


BinBin : Hueee… Makin gaje ya?? *frustasi*

Mayen : Ya begitulah Bin, gue sebagai asisten pribadi lo mah Cuma bisa berduka cita aja. Oke kita lanjutin bales review!! Dari nekogirl2102, request buat bikin Inoue menderita katanya, gimana nih Bin?

BinBin : Boleh juga. Hehehehehe *Inoue Hater*, selanjutnya dari Kuchiki Rukia-taichou, iya bukan kok. Sweet Senbonzakura udah update kug! Jangan lupa RnR ya.. *promosi*

Rukia : Lalu dari Beby-chan, iya rencana. Itu masih rahasia bu. Hehehehe

Ichigo : Dari Meong, nama yang aneh, Hisana keren? Keren di mananye?

Hisana : Ngiri aje lo Ichigo, dari The Great Kon-sama, Rukia tinggal sama lo? Itu tidak akan terjadi!!! Bapaknya ya jelas Byakuya-sama lah, tauk nih author bikin Byakuya-sama melarat.

BinBin : Bukan gitu, kan Byakkun mati terus ga ada yang cari uang jadinya Rukia ma Hisana melarat dah gitu.

Renji : Poor Taichou!! Lanjut dari Tako_Agni, hati gue memang sedingin Himalaya kok! Suer dah!! Ya maklumi lah author yang ga teliti ini.

Hitsugaya : Author kan orangnya geblek jadi begitu dah. Next dari RabicHan kawaii na, mohon di maklumi author lagi banyak kegiatan jadi rada susah nyari waktu buat ngetik, kalo ada waktu luang juga ni author malah ketiduran.

Mayen : Bener banget tuh, kalo ada waktu ni author malah tidur. Dari Arashi Hiruka, iya nie udah update kok.

Rangiku : Hueee.. gue kok ga di ajak bacain review!! Pokonya gue mau bacain! Dari Jess Kuchiki, makasih udah bayar janjinya!! Hahaha bashing ye, tapi author mank suka gituin Renji tuh.

BinBin : Hehehee.. Dari Suza Tamaki-chan, udah tau kan Hisana ada di mana..

Mayen : Dari May, wahh.. ngebash ya.

BinBin : Biarin dah, bukan Cuma gw kok. Wakkakaka *di timpuk*

Ichigo : Lalu dari zuRazu gaJe boHa, nama yang aneh hahaha. Seru ya? Ini udah update kok.

Rukia : Hiaa.. Ini yang terakhir, dari Shirayuki haruna, Ichigo.. kayanya memang orang kaya dia, tapi tau lah, terserah author. Inoue tuh MISKIN!!!!

BinBin : Nahh.. makasih banget ya buat yang udah review!! Jangan lupa review lagi!! WAJIB ITU!!! *ditendang karena maksa*

All Character : MOHON REVIEWNYA YA…..

Ayo klik Ijo-Ijo di bawah! Boleh pujian, kritikan, saran atau apapun!!