BinBin : Yihaa… Gue balik again. Sebenarnya chap ini udah selese dari selasa kemarin tapi gue baru publish sekarang. Hohohoho…

Mayen : Jiaahh… Dasor! Para readers kan udah nunggu tuh.

Ichigo : Dasar pemalas!!! Giliran fic yang gue dapet peran keren malah di tunda mulu updatenya.

BinBin : Halah… yang penting update kan. Oke ayo kita bales review!! Pertama dari Mayonakano shadow girl, Renji memang always dengan pisang. Byakuya udah meninggal makanya Rukia ma Hisana jadi miskin gitu.

Rukia : Hiks.. Gue miskin.. Kedua dari Kuchiki Rukia-taichou, *blushing* di cium di bibir?? Aduhh.. gimana ya…

Ichigo : *blushing juga* bibir? Tauk nih author, kenapa ga di cium di bibir aja?

BinBin : Lahh.. Napsu ama lo Ichi!! Ntar aja deh kissu di bibirnya!

Mayen : Ketiga dari Sunako-chan, Ichi orang kaya… Hohoo..

Ichigo : Gue gitu loh! Next dari kazuka-ichirunatsu23, eh? Mau disuapin sama gue? Hmm… tanya ma Rukia boleh apa ga.

Rukia : Gag boleh!!! Selanjutnya dari Ruki_ya_cH, Ichigo jeruk itu keren? Sejak kapan?!!

Renji : Heh.. Kerenan juga gue ih. Ini juga, baca review ga ngajak-ngajak! Dari kishina nadeshiko, yaiyalah! Banana is mai laip ( baca : Banana is my life ). Nggak suka sama Inoue? Si author juga gag suka tuh.

Inoue : Hiee.. Kug banyak yang ga suka sama gue!?? *pundung*

BinBin : Ikh.. pergi lo!! Gue ga mau lo ikutan bales review!! *nendang Inoue ke mars* Lalu dari Raiko Azawa, janji masih di simpen buat chapter nanti. BBF ? ehh.. masa? *maklum ga suka nonton* Kurosaki itu perusahaan… ya ntar juga tau kok *ditabok*

Mayen : Kemudian dari Yumemiru Reirin, lebih kayaan siapa? Hmm.. gue juga ga tau, yang tau Cuma ni author.

Ichigo : Ya jelas gue lah!! Gue!! Next dari NaMie AmaLia, yeaahh!! Akan gue tunjukkin pada seluruh dunia kalau gue lebih kaya dari Baboon itu!! *semangat 45*

Renji : Cih.. Coba aja, pasti gue yang paling kaya!! Dari Suza Tamaki-chan, nanti lo juga tau kok..

Rukia : Dari Meong, ga aneh banget sih, suka kucing ya? Emm… tambah aneh kah nie fic. Wakkakaka.. maaf deh ga bisa update cepet.

BinBin : Maaf deh kalo nie fic aneh. Terus dari shirayuki haruna, mau di gituin gimana? *telmi* ehh.. Ichi ma Ruki mau dinikahin?? Hore juga!! *ikutan heboh*

Mayen : Jiahh.. dia malah heboh. Lalu dari Ni-chan d'Sora Yuki, eh? Nagus? Wahh makasih deh ya Nichan!! Jiahh… mulai suka ma Renjong ya. Oke hidup IchiRuki juga!!

BinBin : Oke… Bales reviewnya nyambung di bawah ya!!! Selamat baca!! Jangan lupa RnR!!!

Disclaimer : Bleach is not mine, Bleach punya Tite Kubo san!! Spring punya Lee Young -You


My Father?!

Chapter 4 : Who is The Richest??

Rate : T

Genre : Romance/Humor

Pairing : IchiRuki slight RenRuki & IchiHime


"Kau, Baboon merah! Jangan pernah berani menyentuh Rukia!!" seru Ichigo saat melihat Renji hampir menyentuh pipi Rukia.

Renji tercengang. Tangannya berhenti bergerak mendekati wajah Rukia. Ia menatap Ichigo dengan tajam.

"Kau siapa hah?" tanya Renji.

Ichigo mendekati Renji lalu mencengkram kerah seragam Renji. "Tidak penting aku ini siapa, yang jelas aku tidak akan mengampunimu jika berani menyentuhnya lagi!" ancam Ichigo.

"Cih.. Jaman sekarang makin banyak saja orang aneh. Orang miskin sepertimu tidak punya hak untuk mengancamku," kata Renji sombong. Ichigo mengeratkan cengkramannya membuat tubuh Renji sedikit terangkat.

"Sialan kau!!" Ichigo mengepalkan tangannya bersiap hendak meninju Renji. Amarahnya sudah sangat memuncak mendengar perkataan Renji yang sombong itu.

"Emm… Ichigo, kau sudah pulang? Kenapa lama sekali?" Rukia mengucek-ngucek matanya yang baru bangun tidur tidak sadar kalau Ichigo dan Renji sedang bertengkar.

Ichigo dan Renji berpaling melihat Rukia yang sangat imut ketika bangun tidur, di tambah lagi dengan rambutnya yang berantakan tak karuan. Wajah kedua cowok itu langsung memerah ketika Rukia membulatkan mata violetnya menatap Ichigo dan Renji.

"Tu-tuan muda Renji…" ucap Rukia agak kaget.

Ichigo melepaskan cengkramannya dari kerah seragam Renji. Ia tidak mau menghajar si Baboon Renji itu di depan Rukia sekarang.

"Rukia, aku…. Minta maaf, karena aku kau jadi sakit begini," kata Renji sambil duduk di pinggir futon yang ditiduri Rukia.

"Jangan dipikirkan, Tuan muda kan tidak sengaja. Sejak kemarin sudah ku maafkan kok," balas Rukia tersenyum manis.

Ichigo menggumam tidak jelas. Ia muak dengan kata 'Tuan muda' yang di tujukan pada Renji. "Heh, Tuan muda Abarai yang terhormat, kenapa kau tidak cepat pulang saja.." kata Ichigo sedikit memberi penekanan pada kata 'terhormat'.

"Ichigo! Bisa tidak kau bicara sedikit lebih sopan pada tamu. Umurmu lebih tua tapi kelakuanmu memalukan," tegur Rukia.

"Cih.. Bahkan kau pun berkata seperti itu. Terserah apa maumu!" Ichigo yang kesal berjalan meninggalkan Rukia dan Renji menuju ke dapur. Ichigo sangat kesal, dia tidak suka melihat Rukia dengan Renji atau lebih tepatnya dia… cemburu.

"Rukia, siapa dia?" tanya Renji setelah Ichigo menghilang di balik pintu dapur.

"Emm.. Anuu… Dia Kurosaki Ichigo, papa baruku," jawab Rukia agak ragu-ragu.

Renji terbelalak. "Papamu? Semuda itu? Bagaimana bisa.." kata Renji tidak percaya.

Rukia menghela napas. Ia tahu pasti respon Renji akan seperti itu. "Ya, mamaku menikah lagi dengannya. Dan begitulah.." jawab Rukia seadanya.

"Oh kasian sekali kau harus punya papa yang menyebalkan seperti dia.. Rukia, aku harus pulang sekarang," kata Renji.

"Baiklah, ayo ku antar," Rukia mengantar Renji sampai ke depan pintu rumah gubuknya.

"Ah iya.. Terima ini, ini baru saja di panen dari kebun milik perusahaan ayahku," Renji memberikan dua sisir pisang yang kulitnya terlihat sangat menggoda, bagi Renji tentunya.

"Eh? Pisang? Terima kasih Tuan muda.." sambut Rukia lalu meletakkan dua sisir pisang itu di atas meja kecil dekat futonnya.

Rukia dan Renji berjalan bersama menuju ke pintu keluar rumah gubuk Rukia. Ketika sampai di luar Kira sudah menunggu dengan senyumnya.

"Rukia, apa kau benar-benar tidak apa-apa tinggal di tempat seperti ini?" Renji memandang sekeliling rumah gubuk yang di tempati Rukia. tempat itu terlihat sangat menyedihkan dengan tambalan semen di mana-mana.

Rukia tersenyum. "Tidak apa-apa. Terimakasih karena Tuan muda sudah mengkhawatirkan ku yang miskin ini," kata Rukia.

"Sudahlah, cepat pulang dan pergi!!" seru Ichigo tiba-tiba.

"Anuu.. Maafkan sikapnya Tuan muda, dia memang sedikit tidak sopan."

"Tidak apa-apa, aku bisa mengerti kok." Balas Renji. Renji sedikit melirik ke pintu rumah gubuk Rukia, ia memberikan senyum kemenangan pada Ichigo yang berdiri di samping pintu itu, senyuman yang membuat Ichigo masuk ke dalam rumah lagi dengan kesal.

'Sabar, aku harus sabar. Tidak boleh bertindak bodoh yang bisa menghancurkan imej di depan Rukia,' pikir Renji dalam hati.

"Syukurlah, dan juga maaf karena sampai membuat Tuan muda datang ke rumahku yang seperti ini," kata Rukia.

"Tapi, Tuan muda kesini naik apa? Aku tidak melihat sebuah mobil pun," kata Rukia lagi. Ia celingak-celinguk tetapi tidak menemukan satu pun mobil.

"Aku tidak naik mobil, tapi naik itu," jawab Renji sambil menunjuk helikopter yang melayang di atas mereka. Akibat helikopter itu angin di sekitar rumah Rukia menjadi menggila membuat pohon-pohon bergoyang dan daun-daun berterbangan.

"Mari Tuan muda," kata Kira mempersilahkan Renji untuk menaiki tangga yang terbuat dari tali berlapis emas itu. Setelah Renji naik, Kira pun mengikutinya dari belakang.

"Sampai jumpa Rukia, semoga cepat sembuh!" seru Renji dari atas helikopter yang hanya terdengar samar-samar oleh Rukia. Rukia membalasnya dengan senyuman sambil melambaikan tangannya.

Helikopter itu mulai naik lebih tinggi, suara bising dari helikopter itu membuat seluruh tetangga rumah Rukia melongok dari kaca jendela rumah mereka masing-masing.

"Kira, dia sangat manis kan.." kata Renji kegirangan saat helikopter itu mulai menjauh dari rumah gubuk Rukia.

"Iya, nona Rukia memang manis sangat serasi dengan Tuan muda yang sangat keren," balas Kira semakin membuat Renji girang tidak karuan.

"Emm… Kira, tapi aku sangat kesal dengan cowok berambut orange itu. Kalau tidak salah namanya Kurosaki Ichigo," Kira mengerutkan alisnya. Dia merasa familiar dengan nama itu.

"Sepertinya nama itu tidak asing lagi," Kira lalu mengeluarkan sebuah notebook kecil dari kantung kursinya. Ia menyalakan notebook itu lalu membuka sebuah situs pencarian terkenal dan menuliskan nama Kurosaki Ichigo pada situs itu.

"Hei Kira, kenapa sampai harus mencarinya di internet. Memangnya dia itu artis, tidak mungkin ada informasi tentang si jeruk itu disana," kata Renji yang bingung dengan yang di lakukan bodyguardnya itu.

Beberapa detik kemudian muncul hasil pencarian dari nama itu. Kira mengklik hasil pencarian paling atas yaitu Wikipedia karena biasanya di situs itu menyediakan info yang lengkap.

Kira dan Renji memicingkan matanya saat Wikipedia terbuka. Terlihat tulisan yang cukup panjang mengenai Ichigo dalam website itu.

"Kau yakin kalau ini orang yang sama dengan jeruk itu?" tanya Renji sambil mengupas pisang favoritenya.

Kira mengangguk mantap lalu membagi notebook itu agar Renji juga bisa melihatnya dengan jelas.

Wikipedia Kurosaki Ichigo

Kurosaki Ichigo adalah anak pertama dari Kurosaki Masaki dan Kurosaki Isshin, Presiden Direktur dan pemilik dari Perusahaan Kuroichi corps yang terkenal sebagai perusahaan teknologi terbesar di dunia. Sedangkan Kurosaki Ichigo saat berusia 18 tahun memegang anak perusahaan yang bernama Kurosaki corps yang terdapat di London. Perusahaan yang dipimpin oleh Kurosaki Ichigo berkembang dengan sangat luar biasa hingga membuat Kurosaki Ichigo menempati peringkat ke 5 sebagai pengusaha muda terkaya di dunia, dan karena paras wajahnya yang tampan dia juga menempati peringkat pertama sebagai pengusaha terfavorite di London.

Biodata :

Nama : Kurosaki Ichigo
Lahir : 15 Juli 1989
Tinggi : 174 cm
Berat : 61 kg
Golongan darah : AO
Pekerjaan : Direktur Kurosaki corps (London), anak perusahaan Kuroichi corps (Jepang)

Renji tercengang pisang yang ia pegang langsung jatuh ke lantai helikopter. Dia sama sekali tidak bisa berkata-kata sekarang. Dia terlalu shock mengetahui siapa sebenarnya Ichigo. Ia lalu menatap foto Ichigo yang terpampang di Wikipedia itu. Foto Ichigo dengan memakai jas hitam lengkap dengan dasi yang membuatnya terlihat sepuluh kali lebih tampan dari saat dia memakai pakaian biasa.

'Hebat.. !! Renji bodoh!! Tidak seharusnya aku kagum padanya, sial!!' gumam Renji.

"Pantas saja saya merasa pernah mendengar namanya. Ternyata dia anak dari Tuan Isshin," kata Kira. Renji langsung melihat ke arah Kira. Ia menunjukkan ekspresi bingung pada bodyguardnya itu.

"Kira, kenapa kau tahu Kurosaki Isshin?" tanya Renji.

"Tentu saja, semua orang yang berkelut dalam bidang bisnis pasti kenal dengannya. Dan juga teman saya ada yang bekerja di rumahnya."

"Tapi Kira, Rukia bilang kalau jeruk purut itu adalah ayahnya," ungkap Renji.

"Tidak mungkin! Pasti ada sesuatu di balik semua ini.."

"Ya, aku juga berpikir seperti itu. Tidak mungkin orang terhormat seperti jeruk itu mau tinggal di rumah gubuk Rukia tanpa alasan," Renji mencoba berpikir alasan dari Ichigo bisa ada di rumah Rukia. Tapi otak autis Renji tidak mampu bergerak ke jenjang pemikiran serius seperti itu.

"Tuan muda itu dia rumah Tuan Isshin!" Kira menunjuk sebuah rumah dari atas helikopter yang mereka tumpangi. Renji menengok dari kaca helikopter. Untuk kedua kalinya mata Renji membulat sempurna.

"Kira, itu bukan rumah….Tapi itu adalah istana!!" seru Renji.


Rukia kembali masuk ke dalam rumah gubuknya. Kepalanya sedikit pusing akibat sinar matahari yang terlalu menyengat dan juga akibat suara bising dari helikopter yang di tumpangi Renji.

Ia melirik Ichigo yang sejak tadi berwajah masam yang tidak enak di lihat. Rukia sedikit tersenyum melihat ekspresi wajah Ichigo saat kesal seperti itu.

"Ichigo, kau itu kenapa sih? Sejak tadi berwajah mengerikan seperti itu," kata Rukia mendekati tempat Ichigo bersila.

Ichigo memalingkan wajahnya dari Rukia. tampaknya ia benar-benar marah pada Rukia.

"Hei, Ichigo…" Rukia sekarang duduk di samping Ichigo. Tangannya mengambil jarum jahit dan segulung benang lalu mulai menjahit sisa boneka Chappy yang belum terjahit rapi.

Ichigo masih tidak bergeming. Ia sama sekali tidak menghiraukan panggilan Rukia. Tangannya asyik memencet-mencet BlackBerry nya. Memeriksa wall dan pesan di Facebook atau respon di Plurk miliknya.

Rukia sedikit melirik ke arah Ichigo. Matanya menatap pada BlackBerry yang di pegang Ichigo. "Ichigo? Itu kan barang mahal, bagaimana bisa kau membelinya?" tanya Rukia.

Ichigo hanya tersenyum tipis dan masih asyik dengan kegiatannya. Membuat Rukia menjadi kesal.

"Hei, jeruk kau mendengarkan aku tidak?! Kau ini kenapa sih?!" seru Rukia.

Ichigo berhenti dari kegiatannya sesaat. Ia menatap mata Rukia dengan tajam hingga membuat Rukia salah tingkah.

"Apa kau tidak sadar kalau aku cemburu melihatmu dengan Baboon merah itu?" tanya Ichigo. Wajahnya terlihat sangat kesal membuat Rukia sedikit takut.

"Mana ada ayah yang cemburu untuk anaknya Ichigo.." balas Rukia. Ia meneruskan kembali menjahit boneka-boneka Chappy itu seolah tidak memperdulikan ucapan Ichigo.

Ichigo tiba-tiba menggenggam tangan Rukia membuat Rukia yang kaget kehilangan keseimbangan dan terbaring di lantai dengan posisi Ichigo berada di atasnya.

"I-ichigo.. A-apa yang kau lakukan.." ucap Rukia yang wajahnya sudah memerah sangat pelan hingga hanya terdengar samar-samar di telinga Ichigo.

"Ku katakan padamu putriku.." Ichigo memberi penekanan lebih pada kata 'putriku'. Wajahnya dengan Rukia sangat dekat membuat jantung Rukia berdetak lebih kencang dari biasanya.

"Aku benar-benar tidak suka kau dekat dengan Baboon merah itu dan aku cemburu sebagai laki-laki bukan sebagai ayahmu." Ichigo menatap mata violet Rukia. tangannya semakin erat menggenggam tangan Rukia hingga tanpa dia sadari Rukia sedikit merintih kesakitan.

"Lepaskan Ichigo… Sakit.." rintih Rukia. Ichigo langsung melepaskan tangannya dan bangkit dari atas Rukia.

"Maaf.. Aku.. Kehilangan kontrol," ucap Ichigo menyesal. Dia benar-benar kehilangan kontrol dirinya tadi, membuat sedikit menjadi menggila.

Rukia berpaling berusaha tidak menghadap ke arah Ichigo agar wajah kepiting rebusnya tidak diketahui Ichigo. Ia memegangi tangannya yang memerah karena genggaman Ichigo. Genggaman yang terasa sampai ke tulangnya.

"Putriku, apa demammu sudah sembuh?"

"Umm.. Ya, hanya saja kepalaku sedikit pusing," balas Rukia sambil memegangi kepalanya.

"Kalau kepalamu pusing jangan memaksakan diri untuk menjahit boneka itu," kata Ichigo. Wajahnya terlihat sangat khawatir dengan keadaan Rukia.

"Aku tidak apa-apa, boneka ini harus selesai hari ini. Jika tidak aku tidak akan dapat uang untuk makan, coba kau lihat dompetku sama sekali tidak ada isinya," Rukia memperlihatkan isi dompetnya yang kosong sama sekali membuat Ichigo tertawa.

"Kenapa tertawa? Kau mengejekku?" tanya Rukia kesal.

"Hahaha… Tidak, tidak. Hanya saja dompetmu itu menyedihkan sekali putriku," jawab Ichigo. Rukia mengerutkan wajahnya tanda kesal. Baru kali ini dia menunjukkan dompetnya pada orang lain selain Rangiku.

"Baiklah, biar aku yang beli makan siang hari ini. Sebaiknya kau tidur saja putriku," kata Ichigo mengambil jaketnya yang tergeletak di lantai lalu mengucek-ngucek rambut hitam Rukia sebelum pergi.

"Cih.. Lagi-lagi dia pergi," kata Rukia pelan ketika Ichigo sudah menghilang di balik pintu.

"Tapi… Kenapa aku senang saat dia bilang cemburu ya.. Apa jangan-jangan aku suka padanya pada jeruk itu?" kata Rukia. Tiba-tiba saja wajah Rukia langsung memerah lagi.


Inoue termenung di kamarnya yang super mewah itu. Rambut cokelat orangenya tergulung dengan rapi memperlihatkan tengkuk jenjangnya. Matanya menatap kartu kredit milik Ichigo sedangkan tangannya memeluk sebuah boneka beruang yang mempunyai tambalan jahitan dimana-mana.

Pikirannya terus saja memikirkan Ichigo yang telah menyita hatinya. Ia menghela napas. Berharap agar Ichigo segera datang karena sudah hampir tiga jam dia menunggu Ichigo.

"Rukia.. Kenapa cowok rambut orange itu kenal dengan Rukia miskin itu sih?!" raut wajahnya berubah menjadi kesal. Ia memang sangat tidak suka dengan Rukia, entah kenapa, dia juga tidak tahu alasannya. Yang jelas dia benci Kuchiki Rukia!

"Nee-san ada yang mencarimu.." kata Ururu sambil mengetuk pintu kamar Inoue.

Inoue berjalan menuju ke pintu kamarnya. Kepalanya mendongak untuk meliat adiknya itu. "Siapa yang mencariku? Tanya Inoue.

"Tidak tahu, yang jelas rambutnya itu aneh warna…N-nee-san??" Ururu tercengang. Dia belum menyelesaikan perkataannya tetapi Inoue sudah berlari dengan kecepatan seperti macan yang hendak mencengkram mangsanya.

Dalam waktu beberapa detik Inoue sudah sampai di apotik kecilnya itu. Ia menengok ke kanan dan kiri seperti orang yang ingin menyebrang jalan. Ia mencari sesosok cowok dengan rambut orange. Berharap cowok itulah yang mencarinya.

"Hei kau, kembalikan kartu kreditku.." Inoue berpaling. Wajahnya tersenyum senang ketika melihat Ichigo di depannya sambil mengulurkan tangannya.

Inoue mengeluarkan kartu kredit yang di maksud dari dalam saku bajunya. Kartu kredit berwarna emas itu mengkilat karena sinar matahari membuat mata musim gugur Ichigo sedikit kesilauan.

"Sebelum ku kembalikan kau harus memberitahukan padaku namamu dan no telponmu," pinta Inoue membuat Ichigo mengerutkan alisnya.

"Heh? Kenapa aku harus memberitahukannya? Cepat kembalikan, setelah ini aku akan membeli makan siang jika aku terlambat pulang putriku itu akan mengamuk," kata Ichigo.

Inoue membulatkan matanya. "Putrimu? Kau sudah punya anak?" tanya Inoue tidak percaya.

Ichigo mengangguk sambil tersenyum ceria andalannya melihat Inoue yang sepertinya shock berat dengan pernyataan Ichigo.

"Ya Tuhan!! Bagaimana bisa cowok setampan kau sudah punya anak!!" kata Inoue sambil mengguncang-guncang tubuh kekar Ichigo.

"Hei, hentikan!! Sudahlah, kembalikan kartu kreditku!" seru Ichigo menangkis tangan Inoue.

Inoue akhirnya menyerahkan kartu kredit itu dengan frustasi bagai orang yang kehilangan semangat untuk hidup –lebay-.

"Oh ya, kau teman Rukia kan? Siapa namamu?" tanya Ichigo setelah mendapatkan kembali kartu kreditnya. Ia membuka dompet Polonya dan menyisipkan kartu kredit itu di salah satu sela dompetnya. Ichigo sedikit kesulitan memasukkannya karena terlalu banyak kartu ATM , kartu kredit, dan foto ibunya di dalamnya.

"Rukia? Ya, bisa di bilang teman. Namaku Inoue Orihime. Kau kenapa kenal dengan Rukia?" kata Inoue heran. Dia benar-benar penasaran kenapa Ichigo bisa kenal dengan Rukia.

"Rukia itu putriku," jawab Ichigo dengan bangganya.

Inoue serasa dirinya akan terkena serangan jantung saat mendengar jawaban Ichigo. "APA??!!! Bagaimana bisa?!!" seru Inoue.

"Ya begitulah.. Berteman yang baik dengannya ya. Kalau kau berani macam-macam padanya kau akan tahu rasa," Ichigo berbisik ke telinga Inoue saat kalimat terakhir. Ada sedikit nada ancaman pada kalimat yang di ucapkan Ichigo hingga membuat Inoue bergidik.

Ichigo mulai meninggalkan Inoue. Setelah beberapa langkah dia berpaling menghadap Inoue. "Ku beritahu, namaku Ichigo," kata Ichigo sambil tersenyum manis lalu berjalan lagi.

Inoue terdiam mematung. "Ichigo… Kereeeennnnnn!!!!!!!!!!" serunya. Hidungnya hampir mengeluarkan darah alias mimisan melihat senyuman maut Ichigo.

"Mau kau itu sudah punya anak atau belum.. Aku akan mendapatkanmu!!" Inoue mengepalkan tangannya ke udara membuat orang-orang yang melintas di depan rumahnya memandangnya dengan tatapan aneh.


Rangiku dan Momo turun dari mobil Volvo merah milik Rangiku tepat di depan rumah gubuk Rukia. Mata Momo berputar sempurna mengamati lingkungan sekitar rumah Rukia.

"Rangiku, kau yakin rumah Rukia di sini?" tanya Momo.

Rangiku tersenyum dan mengangguk. "Tentu saja, aku sudah sering kesini kok," jawab Rangiku. Ia memang sudah sangat sering ke rumah Rukia. Apalagi waktu mereka masih SMP, hampir setiap hari Rangiku datang ke rumah Rukia untuk bermain dengan sahabatnya itu.

"Ya ampun Rukia yang malang.." kata Momo simpati dengan keadaan rumah Rukia.

"Hei Rangiku tunggu aku!!" seru Momo saat Rangiku lebih dulu berjalan ke depan pintu rumah gubuk Rukia.

Tok..Tok..Tok..

Rangiku mulai mengetuk pintu yang rapuh itu. Rangiku hanya mengetuknya dengan pelan karena jika sedikit saja Rangiku menambah kekuatannya maka pintu itu pasti akan rubuh.

"Apa Rukianya ada di rumah? Lama sekali membukakan pintunya," kata Momo.

Tok..Tok..Tok..

Rangiku mengetuk pintu itu sekali lagi, samar-samar terdengar gerutuan dari dalam rumah menandakan bahwa orang di dalam rumah akan segera membukakan pintunya.

"Ichigo tumben kau pulang ce…"

"Sayang sekali Rukia kami bukan Ichigo," kata Rangiku di barengi dengan senyumannya. Rukia terlihat sedikit kaget, ia sudah berpikir bahwa yang datang adalah Ichigo.

"Rukiaaaa…." Rangiku langsung memeluk ( baca: mencekik ) Rukia yang tubuhnya masih lemah. Rukia berusaha melepaskan pelukan Rangiku karena paru-parunya serasa sesak akibat pelukan maut itu.

"Rangiku hentikan, kau bisa membunuh Rukia!!" tegur Momo yang merasa kasihan melihat tubuh Rukia yang sudah lemah di serang oleh macan betina macam Rangiku.

"Ehh… Maaf Rukia," sesal Rangiku yang akhirnya melepaskan Rukia dari ancaman mati muda *?* itu.

"Iya iya. Rangiku, Momo ayo masuk," ajak Rukia. Rukia membuka lebar pintu rumah gubuknya agar angin bisa masuk menyegarkan rumahnya yang pengap itu.

Momo menatap tumpukan boneka Chappy yang tergeletak di pojok ruangan. Perlahan ia berjalan mendekati tumpukan boneka itu. Tangannya mengambil sebuah boneka yang sudah terjahit rapi oleh Rukia.

"Rukia, jadi ini kerjamu setelah pulang sekolah?" tanya Momo sambil memeluk boneka buatan Rukia itu.

"Iya, Cuma boneka jelek kok," rendah Rukia sambil tangannya mengaduk teh manis yang baru saja ia tambahkan gula.

"Jelek? Ini bagus loh, kalau boleh aku mau membeli satu," balas Momo.

"Kau mau beli berapa? 5000 ¥?" Rukia mengangkat sebuah nampan dengan isi dua cangkir teh hangat lalu meletakkan masing-masing cangkir di depan Rangiku dan Momo.

"5000¥? Apa kau gila? Uang jajanku sebulan saja hanya 3500¥," protes Momo sembari tangannya meraih cangkir yang ada di depannya.

"Hahaha… Bercanda, kalau kau mau ambil saja tidak perlu bayar," Rukia tertawa. Wajah manisnya terlihat bertambah cantik jika tertawa.

"Benarkah? Terimakasih Rukia!!" seru Momo kegirangan. Ia kembali memeluk-meluk boneka Chappy berwarna coklat itu dengan gembira.

Rangiku hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah Momo yang sangat kekanak-kanakan lalu menyeruput teh miliknya.

"Rukia, dimana Ichigo itu?" tanya Rangiku.

"Ichigo? Kalian kenal dengannya? Ichigo sedang pergi membeli makan siang."

"Ya, tadi pagi dia kan ke sekolah. Kau tahu saat aku pertama melihatnya aku langsung menganggap dia cowok terkeren setelah Gin-sensei," jujur Rangiku sambil tertawa sendiri jika mengingat saat pertama dia melihat Ichigo.

"Kuakui dia memang keren. Kau beruntung sekali Rukia punya papa seperti dia. Eh.. tapi, kalian hanya tinggal berdua disini?" kata Momo. Rukia mengangguk menyambut pertanyaan Momo.

"Hmm… Apa tidak apa-apa cewek dan cowok tinggal bersama? Jangan-jangan kalian sudah melakukan sesuatu?" selidik Rangiku.

Wajah Rukia langsung memerah. "Te-tentu saja tidak!! Aku dan dia kan ayah dan anak," jawab Rukia tergagap.

Rangiku dan Momo tersenyum jahil melihat wajah Rukia yang memerah. "Sekarang tidak, tapi lama kelamaan akan kejadian deh," goda Momo.

"Sudahlah jangan bahas masalah itu!" seru Rukia berusaha menutupi wajahnya yang sangat merah.

"Hahaha… Baiklah, baiklah. Rukia kenapa di sekitar rumahmu berantakan seperti itu?" tanya Rangiku sambil menunjuk halaman rumah gubuk Rukia yang berantakan oleh daun-daun yang berserakan.

Rukia mengerutkan alisnya. "Mungkin karena helikopter milik Tuan muda Renji tadi."

"Apa?! Pangeran Baboon jadi-jadian itu tadi kesini?" seru Rangiku dan Momo bersamaan. Rukia hanya mengangguk sambil memasang tampang bingung.

"Memangnya kenapa?" tanya Rukia.

"Gara-gara dia menghilang dengan tiba-tiba seluruh guru di sekolah kita menjadi panik bahkan suamiku, Gin-sensei, sampai berkeliling sekolah kita yang luas itu untuk mencarinya. Menyebalkan sekali. Kasihan Gin-sensei pasti capek," kata Rangiku ceplas ceplos.

"Rangiku benar, bahkan Hitsugaya-sensei sampai mencarinya ke pasar tradisional pisang di siang bolong tadi. Pangeran Baboon kartu emas yang sangat menyusahkan!!" omel Momo.

"Eh? Sampai sebegitunya, ya ampun.."

"Ah ya Rukia, kami harus pulang sekarang. Setelah ini aku ada les pelajaran tambahan dari Mayuri-sensei gara-gara nilai biologiku yang sialan itu jelek," kata Rangiku lalu bangkit dari tempatnya duduk.

"Aku juga ada les piano hari ini. Maaf ya Rukia tidak bisa lama-lama," kata Momo juga.

"Iya tidak apa-apa. Terimakasih sudah menjengukku.." kata Rukia sambil melambaikan tangannya ke arah Volvo merah yang di tumpangi Rangiku dan Momo.


Ichigo berjalan di antara pertokoan yang berjejer rapi dengan tangannya yang memegang kantong plastik berisi hamburger yang masih panas yang ia beli di sebuah restoran. Ichigo melirik keselilingnya. Ia belum terbiasa dengan daerah Jepang karena terlalu lama tinggal di London, sebelumnya dia hanya beberapa kali kembali ke Jepang itupun hanya tinggal di rumahnya bermain bersama dua adiknya, Yuzu dan Karin dan mengunjungi makam ibunya.

Ichigo berhenti di depan sebuah toko boneka. Matanya melirik beberapa boneka Chappy raksasa yang tentunya berbeda dengan boneka Chappy murahan yang sering di peluk Rukia saat tidur.

"Selamat siang tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya penjaga toko itu menyambut Ichigo. Penjaga toko itu tersenyum manis menyambut tamu seperti pada umumnya. Ia terus memperhatikan Ichigo yang daritadi memandangi boneka Chappy raksasa itu.

"Boneka itu… Aku mau membeli boneka itu," penjaga toko itu melirik ke arah boneka yang ditunjuk Ichigo. Lalu dengan sigap dia mengambil boneka itu lalu menyerahkannya pada Ichigo.

"Harganya 10.000 ¥, terima kasih," Ichigo menyerahkan kartu kredit yang dia ambil dari Inoue itu pada penjaga toko.

( A/N : menurut situs yang gue buka 1 ¥= Rp 105. Jadi 10.000 ¥ = Rp 1.050.000. pokoknya sekitar itu lah )

"Untuk pacarnya ya?" tanya penjaga toko itu dan langsung membuat wajah Ichigo memerah.

"Bu-bukan kok.." Ichigo langsung pergi dari toko itu setelah mengambil kembali kartu kredit dan membawa boneka raksasa itu.

Ichigo kembali berjalan di antara kerumunan orang yang berlalu lalang di jalan tempatnya berada. Beberapa siswi yang melihatnya bahkan berbisik-bisik tidak jelas membuatnya menghela napas.

'Ichigooo….' Panggil inner Ichigo.

"Apa? Tumben kau muncul di siang bolong begini," jawab Ichigo dalam hati tentunya.

'Ternyata kau benar-benar sudah jatuh hati pada perempuan midget itu ya sampai membelikannya boneka,' kata inner itu.

"Cih.. Memangnya kenapa?"

'Ini cinta pertamamu kan.. Hehehe, cupu sekali. Setelah berumur 20 tahun baru jatuh cinta,' goda inner Ichigo.

"Diam!! Kau muncul hanya untuk menggodaku? Lebih baik kau pergi saja!!" seru Ichigo yang wajahnya sudah memerah.

'Baiklah..baiklah.. Aku akan pergi. Lagipula aku mau tidur lagi,' sahut sang inner gaje itu lalu menghilang.

"Dasar inner gaje!" seru Ichigo kesal.

Ichigo duduk di halte bis Karakura. Dia menunggu bis dengan tujuan ke Shirayuki. Di sekitarnya ada beberapa orang yang sepertinya juga sedang menunggu bis. Tiba-tiba dia menjadi rindu dengan suasana seperti ini, suasana menunggu bis yang semenjak dia menjadi Direktur Kurosaki corps tidak pernah dia rasakan lagi karena jika pergi kemana pun selalu saja menggunakan mobil BMWnya.

Rambut orangenya bergerak seirama dengan angin yang berhembus sejuk. Ichigo menghela napas, membiarkan udara baru mengisi paru-parunya untuk menggantikan udara kotor yang lalu ia buang lewat hembusan napasnya.

Ia memandang boneka Chappy raksasa yang baru ia beli. Sebuah boneka kelinci dengan ukuran besar berwarna putih dan memakai pakaian unik berenda-renda.

"Rukia pasti suka.." katanya pelan. Wajahnya tersenyum tidak sabar ingin menyerahkan boneka ini dan melihat ekspresi Rukia saat menerimanya.

Ichigo mendongak memandang langit biru nan cerah. Beberapa awan yang putih bersih berhamburan menghiasi langit hari ini.

"Ibu, aku akan menepati janjiku padamu.." kata Ichigo. Ia tersenyum pada langit biru seakan ibunya sedang melihatnya dari langit itu.

Akhirnya bis yang di tunggu Ichigo tiba. Ichigo menunggu penumpang lain turun agar dia tidak bertabrakan dengan siapapun.

Kakinya sudah akan naik ke atas bis ketika tiga orang pria berpakaian layaknya mafia menyekapnya dari belakang.

"Kalian siapa? Aku mau dibawa kemana?!! Lepaskan!!!" jerit Ichigo. Ia berusaha memberontak dengan seluruh kekuatan yang dia punya tapi percuma karena ketiga orang itu menyeretnya dengan kuat masuk ke dalam mobil van hitam.

"Maaf tuan, tapi ada yang ingin bertemu dengan anda."

---To Be Continued---


BinBin : Nyohoo… Gimana? Makin gajekah? Anehkah? Abalkah?

Mayen : Kayanya makin gaje. Gue ga di munculin lagi. Lanjutin balas review yuk Bin!!

BinBin : Jiah. Lo mau muncul? Hmm.. ntar deh gue pikirin dulu lo jadi apa. Review dari Chizu_ Michiyo-gak-log-in, iya Ichi jahat tuh pake ngiket Rukia segala!! Emm… itu belum w bongkar sekarang. Hehee..

Ichigo : Kan lo yang bikin gue jadi ngiket Rukia my sweety!! Terus dari Mr. Konnochiwa lagi ngompol, kreatip?? Sejak kapan fic kaya gini kreatip!! *langsung di tabok atuthor*

BinBin : Makasih ya Mr Konnichiwa.. next dari Hiru Shirosaki!! *heboh sendiri* keren? Makasih ya hiru-san!! *meluk Hiru* Renji keren?? Ckckck…

Renji : Yee.. ngeiri aje lo gue dibilang keren! Selanjutnya dari shiNomori naOmi, Mayen?? Jiahh.. nama nie author bukan Mayen tapi BinBin, Mayen tuh tokoh OCnya author sekaligus "BABU"nya author. Heh? Gue lebay?

Rukia : Iya juga sih, gara-gara Renji pake heli segala rumah w mau ambruk tuh. Next dari RabicHan kawaii na, untung gue ga sempat disentuh ma Renji. Inoue memang belagu. Ayo kita gampar bersama!!

Mayen : Ckckck… Next dari tako-agni, iya ga ada hak tuh Renji mau pegang Nee-san!!! Iyei!! Ike ike Ichigo jeruk!!!

Ichigo : Yoo agni-chan terimakasih atas dukunganmu selama ini!! Selanjutnya dari Jigoku-Ai-Risa-Toushiro, wahh… maksih juga buat Risa-chan juga!! Ayo basmi Baboon merah itu!!

BinBin : Nah loh.. kacau dah. Dari Toshihiro Fumi, wakakaka.. pemaksaan?? *muka innocent*.

Fumi-san : Iye, lo kan rada maksa tuh kemaren d isms supaya gue review. Eh.. gue juga mau bacain review neh!! Dari beby-chan, Ichigo jago acting? Lah ini udah di update kan sama author gaje ini.

Mayen : Eh.. siapa lo? *nunjuk Fumi-san*

Fumi-san : Gue? Gue temennya tuh author gaje. Kenape? Lo juga siape?

Mayen : Gue OCnya author yang manis, cakep dan sexy. Perkenalkan, Kazumei Mayen. *jabat tangan sama Fumi-san*

BinBin : Jiahh.. mereka kenalan. Selanjutnya dari Jess kuchiki. Ichigo lo di suruh nendang Renji tuh…

Ichigo : Ga usah di suruh juga bakal gue tendang tuh Baboon!! Next dari Anizaki-Ai10, iya gue jadi bapak disini..

Rukia : Terus dari nEni louph hitsu, wah author… lo di puji tuh sama dia..

BinBin : Kyaaa!! Makasih ya neni-chan!!! *meluk nEni*

Renji : Terakhir dari rukiahinata, iya Rukia di rebutin sama gue ma Ichigo. Hohoo…

Fumi-san : Ehh.. reviewnya udah abis? Yah.. gue balik aja deh. *balik ke alamnya*

BinBin : Makasih ya atas review yang banyak ini!! Gue amat sangat berterima kasih dan akan berusaha terus mengupdate!!! Jadi jangan lupa review lagi!!

All character : Sampai jumpa di chapter 5.. mohon REVIEWnya!!! *menunduk*

Tekan ijo-ijo di bawah ini!! ONEGAI!!!!!!