BinBin : Oh yeah! Gw balik lagi dengan fic My Father!!! *nebar kelopak sakura*

Mayen : Hueeh.. Uda sebulan lebih ga lo update nih!!! Lama bener dah~

BinBin : Ya gimana donk, gw kan sibuk. Di tambah lagi gw lagi semangat bikin fic yang TLR itu. Wohohoho..

Mayen : Yasudahlah. Sekarang saatnya bales review!!

Rukia : Udah lama ga baca review!! Hahaii.. Pertama dari kishina nadeshiko, iya tuh c Renjong ga modal banget ngasih pisang. Eh? Yang mau ketemu sama si jeruk ituu.. lihat aja deh ntar.

Ichigo : Kedua dari Raiko Azawa, Renji itu kan kayanya gadungan!! Iya donk, gw kan terkenal gitu, coba aja lo cari di wikipedia nama gw pasti ada, tokoh utama Bleach gitu loh!!! Riwayat pendidikan? Hmm.. ntar ya..

BinBin : Ketiga dari Kuchiki Rukia-taichou, Jiahh.. pada suuzon ma Renji semua nih, hahaha... IchiRuki poreper ye..

Renji : Selanjutnya dari Kazuka-ichirunatsu23, ahh!! Banyakin IchiRuki! Jangan! Sekali-kali RenRuki aje ngape sih *kesel*. Eh? Nuduh gw?

Mayen : Sabar aje ye Ren. Next dari KuroShiro6yh, nah lo ada lagi yang nuduh Renji. Hah bimbingan belajar?? Makasih ya!!!

Rukia : lalu dari Ruki_ya, biar ga kaya kan Renji mank keterbelakang mental otaknya. Ada apa dengan cinta, biar... *malah nyanyi*

Byakuya : *muncul tiba-tiba* dari Kuchikichii Icha, iya Renji jadi OrKay nih. C author lagi baik hati ngasih tu peran ke Renji. Makasih reviewnya ya.

BinBin : *meluk Byakuya mendadak* Byakkun~ kangen!! Oke selanjutnya dari beby-chan, keren? Hahaha makasih ya. Maaf updatenya telat! *menunduk*

Ichigo : Lalu dari Hiru Shirosaki, dia kan ga modal. Ga kaya gue ngasih boneka gitu. Iya gw di culik!! Tuluuungg!!

Hitsugaya : Ikutan baca review donk!! Dari shiNomori naOmi, Inoue hater sama kaya author neh? Hahaa... iye dia 20 tahun jadi bos sedangkan gw Cuma jadi guru SMA!! *death glare ke author*

Mayen : Heh! Kenapa ada chibi-sensei disini, kan ga ada yang ngajak lo!! Next dari Tako-agni, Bin ada yang ngajak lo maen nih!! Haha.. kasian Renji ga ada yang setuju dia ma Rukia ya. Eh? Gw menganiaya Inoue? Haha bisa aje lo, kalo dia deket sama Byakkun baru gw aniaya tuh cewe centil!

Renji : Dari Mayonakano Shadow Girl, Iya tuh! Si jeruk kan memang makhluk langka!! Golongan darahnya aja aneh, apalagi orangnya!

Ichigo : Heh! Sembarangan aje lo Baboon!! Next dari chizu_Michiyo, ga tau nih. Gw di culik!!

Rukia : Dari Suza Tamaki-chan, makanya! Eh tambahin IchiRuki? *blushing*

BinBin : Oke, bales reviewnya lanjut di bawah!!! Makasih reviewnya yang banyak ini!! Saya sangat amat senang!!!! Enjoy!!!


My Father ?!

Chapter 5 : Another Millionaire Has Arrived

Rate : T

Genre : Romance/Humor

Pairing : IchiRuki *main pairing* etc.


"Hei lepaskan aku!!! Kalian bertiga mau bawa aku kemana!!" seru Ichigo. Kedua tangannya terikat dengan seutas tali tambang dan kedua matanya di tutup dengan kain berwarna hitam.

"Tenang tuan. Ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda," kata seorang pria bertubuh kecil hampir sama seperti Rukia.

"Sudahlah Hanatarou, pria jeruk ini walau kau beritahu berjuta-juta kalipun dia tidak akan diam. Cih.. orang kaya memang menyusahkan saja," keluh pria dengan rambut biru muda yang tidak kalah mencolok dari Ichigo.

"Grimmjow-san, tapi kan aku juga bosan mendengar Kurosaki-sama memberontak terus. Memberontaknya dengan menginjak-nginjak kakiku lagi, sakit tahu!" keluh Hanatarou.

Ulquiorra yang sedari tadi hanya diam saja lalu melirik ke arah kaki Ichigo yang menginjak kaki Hanatarou. Ia hanya tersenyum kecil dan terlihat begitu horror bagi Grimmjow dan Hanatarou.

"Tabahkan hatimu, Hanatarou," kata Ulquiorra sambil menepuk punggung Hanatarou. Sedangkan yang di tepuk hanya bisa bengong.

Setelah 30 menit akhirnya mereka sampai di sebuah rumah mewah dengan sebuah kolam pancur di halaman rumahnya dan ada patung malaikat membawa kendi air di tengah kolam pancur itu.

Ketiga orang pria yang berpakaian seperti mafia bernama Grimmjow, Hanatarou dan Ulquiorra itu mengeluarkan Ichigo dari mobil van hitam. Karena Ichigo selalu saja memberontak akhirnya terpaksa Grimmjow dan Ulquiorra menyeretnya secara paksa memasuki rumah mewah itu, sedangkan Hanatarou membawakan boneka Chappy super besar yang di beli Ichigo.


Rukia mulai gelisah. Tidak biasanya Ichigo pergi hingga sesenja ini apalagi dengan alasan akan membelikan makan siang. Ia hanya mondar-mandir di depan pintu sambil menggigit kuku ibu jari tangan kanannya.

Ia gelisah bukan karena lapar menunggu makanan yang di janjikan Ichigo tetapi ia gelisah karena mengkhawatirkan pria berambut orange itu. Khawatir? Wajahnya bersemu merah. Baru pertama kali ia mengkhawatirkan seorang pria, ya walaupun ia sedikit menyesal karena pria itu adalah ayah tirinya.

"Ichigo.. Kau kemana sih.." gumamnya cemas.

Rukia menutup jendela rumahnya ketika angin mulai berhembus dingin. Sekarang memang sedang pergantian musim, dan suhu udara pada malam hari akan turun menjadi sangat dingin.

Ketika melewati dapur ia berhenti di depan sebuah kalender berbentuk Chappy lusuh buatannya sendiri. Ia menatap lingkaran berwarna merah yang mengelilingi angka 20. Rukia menyentuh kalender itu perlahan. 20 November. Pada tanggal itu ayah kandungnya, Kuchiki Byakuya, meninggal dalam kecelakaan mobil.

Tiba-tiba saja Rukia menjadi rindu pada ayahnya. Walaupun Byakuya meninggal saat Rukia berumur 3 tahun tetapi ia sering mendengar cerita dari mamanya bahwa Byakuya sangat menyayangi dan memanjakannya, dari situ Rukia dapat menarik kesimpulan bahwa ayahnya adalah ayah yang sangat baik.

"Sepertinya aku harus mengunjungi makam ayah nanti." Rukia melirik ke bagian lain dari kalender, memastikan hari ini adalah tanggal 14 November. Berarti dua minggu lagi baru ia akan ke makam Byakuya.

Kring.. Kring..

Sebuah nada dering klasik terdengar dari handphone Rukia di dalam saku baju piyamanya. Ia langsung mengambil handphone yang merupakan pemberian dari Rangiku dengan layar tidak berwarna itu lalu memandang nomor yang tetera pada layar.

Rukia mengerutkan alisnya. Nomor yang tertera pada layar handphonenya samasekali tidak ia kenal. Dengan sedikit ragu Rukia pun menjawab panggilan itu.

"Moshi-moshi.. Apa anda Kuchiki Rukia?" tanya seseorang di handphone tersebut. Dari suara yang sedikit berat itu Rukia bisa menyimpulkan bahwa yang menelponnya adalah pria berusia 20 tahunan.

"Iya, ini siapa ya?"

"Maaf saya tidak bisa memberitahukan identitas saya pada nona. Saya hanya ingin memberitahukan bahwa Kurosaki Ichigo-sama hari ini tidak bisa pulang karena ada urusan mendadak."

"Urusan mendadak apa? Sebenarnya kau ini siapa sih?"

"..."

Rukia mendengus kesal saat orang yang tadi menelponnya memutuskan pembicaraan secara mendadak padahal ia belum selesai bertanya.

Rukia samasekali tidak mengerti apa maksud orang itu tapi ia sedikit lega artinya Ichigo baik-baik saja. Ia kembali memasukkan handphonenya ke dalam saku piyama, setelah itu ia berjalan menuju ke dapur, memasak mie instan. Jika Ichigo ada di sana sekarang pasti cowok berambut orange itu akan memarahi Rukia makan mie instan. Memang, Ichigo sangat memperhatikan segala sesuatu tentang Rukia hingga terkadang membuat Rukia sedikit risih.

Rukia terdiam sejenak. Ternyata rumahnya tanpa Ichigo menjadi sangat sepi. Setelah mie instan itu matang Rukia lalu menuangkannya pada sebuah piring. Tiba-tiba ia mengingat perkataan orang yang menelponnya tadi.

"Kenapa orang tadi menyebut nama Ichigo dengan 'Kurosaki Ichigo-sama'??"


Sinar lampu yang menyala terang serasa menusuk mata Ichigo saat penutup mata yang selama beberapa jam ini membutakan matanya sementara dilepaskan. Ichigo mengedipkan matanya beberapa kali untuk menstabilkan penglihatannya. Tertutup oleh sebuah kain hitam membuat matanya sangat silau walau hanya melihat cahaya sedikit saja.

"Kurosaki Ichigo.."

Ichigo mengalihkan pandangannya pada pria yang duduk di hadapannya. Matanya membulat sempurna ketika melihat pria itu dengan jelas, ia tidak pernah menyangka bahwa orang di hadapannya inilah yang telah berlaku tidak sopan kepadanya.

"Ishida!! Apa yang kau lakukan disini?" tanya Ichigo pada pria berkacamata di hadapannya.

Pria berkacamata bernama Ishida Uryuu itu hanya menyeringai kecil. Ia lalu menatap Ichigo dengan sedikit kesal.

"Kau tanya apa yang kulakukan? Ya ampun Kurosaki, seharusnya aku yang bertanya seperti itu. Kau seenaknya saja meninggalkan perusahaan. Gara-gara kau aku menjadi sangat sibuk dan tidak sempat mengikuti kejuaraan menjahit di London. Kau pikir aku ini apa hah, robot? Klien-klien mu juga selalu saja bertanya tentang keberadaan dirimu dan yang paling menyusahkan itu adalah para fansmu yang setiap hari berdemo di depan perusahaan menuntut agar kau muncul!!" celoteh Ishida hingga napasnya hampir habis.

Ichigo hanya bisa tertawa kecil mendengar semua celotehan dari Ishida, sahabatnya sekaligus Manager dari Kurosaki Corps, perusahaan yang ia pimpin.

"Maaf deh.. Aku kan ada keperluan disini," kata Ichigo pada pria yang memakai jas putih dengan dasi bergaris biru-kuning itu.

"Huh.. keperluan menemui calon tunanganmu," gerutu Ishida pelan dan hanya terdengar samar-samar oleh Ichigo.

Ichigo langsung menatap Ishida dengan tajam. Seingatnya ia tidak pernah menceritakan tentang kepergiannya ke Jepang untuk menemui Rukia yang sebenarnya calon tunangannya, walau Rukia tidak mengetahui hal itu. "Dari mana kau tahu?"

Ishida menghela napas. "Kurosaki, kau tahu saat aku menghubungi ayahmu untuk menanyakan keberadaanmu orang tua itu malah menceritakan tentang calon tunanganmu yang bernama Kuchiki Rukia itu dengan menggebu-gebu! Bahkan dia mengirimkan foto Kuchiki Rukia di emailku!! Astaga kenapa pria seperti dia bisa memiliki perusahaan besar seperti ini," kata Ishida sambil menunjukkan foto Rukia yang dikirimkan Isshin.

Ichigo hanya bisa ternganga mendengar perkataan Ishida. Ia juga tidak habis pikir kenapa ayahnya yang idiot itu bisa mempunyai perusahaan sejaya ini, dan juga foto Rukia? Darimana ayah super lebaynya itu mendapatkan foto Rukia, ah iya, pasti dari Tante Hisana itu, batin Ichigo.

"Sumpah deh Ishida, aku minta maaf banget!!" kata Ichigo sambil menunduk.

Ishida menatap sahabatnya itu. Mereka sudah bersahabat sejak 5 tahun yang lalu, saat mereka sama-sama kuliah di Univercity of London dan menjadi mahasiswa termuda disana. Ichigo dan Ishida sama-sama tidak merasakan bangku SMA karena kecerdasan mereka yang membuat mereka di rekomendasikan ke Univercity of London dari SMP mereka masing-masing.

Ishida menghela napas. Ichigo memang selalu saja berulah tetapi Ishida tahu bahwa pria itu penuh dengan tanggung jawab. "Baiklah ku maafkan.."

"Tapi kau harus mengerjakan semua dokumen yang terlantar akibat kepergianmu." Ishida menjentikkan jarinya dan seketika itu juga seorang maid menyeret sebuah meja yang di isi dengan dokumen yang tingginya mencapai 2 meter.

Ichigo kembali tenganga. "Se-sebanyak itu?" tanyanya tidak percaya.

"Tentu saja! Kerjakan disini sampai besok. Tenang saja, aku sudah menyuruh anak buahku menelpon Rukia dan memberitahukan kalau kau tidak pulang hari ini," kata Ishida santai lalu menyerahkan sebuah pulpen bertahtakan intan di ujung atas pulpen itu.

Ichigo menatap dokumen-dokumen itu dengan nista. Ia lalu teringat boneka Chappy raksasa yang ia beli tadi. "Ishida, tolong berikan boneka itu pada Rukia."


Angin berhembus lembut ketika seorang perempuan dengan tinggi 165 centimeter turun dari mobil Ferrari violet yang di kemudikannya sendiri. Ia menatap sekelilingnya, ia sekarang berada di Karakura High School. Setelah puas menatap sekeliling ia lalu berjalan menjauh dari mobilnya.

Semua mata khususnya pria tertuju padanya saat ia melewati lorong-lorong kelas. Ia samasekali tidak memperdulikan tatapan-tatapan bahkan hingga siulan dari siswa pria di Karakura High School itu dan terus berjalan menuju ke ruang kepala sekolah dengan sebuah earphone menempel di telinganya.

DUUK...

Langkah perempuan cantik itu terhenti ketika ia menabrak seorang pria berambut putih dengan tinggi badan beberapa puluh centimeter lebih rendah darinya.

Mata abu-abu perempuan itu menatap pria bermata emerald yang terjatuh di depannya. "Hei chibi, bisa minggir tidak?" pintanya dingin.

Hitsugaya langsung berdiri dan menatap perempuan di hadapannya itu dengan kesal. Selama ini tidak ada murid yang berani mengatainya secara terang-terangan seperti ini.

Perempuan berambut ungu lavender bergelombang itu mengerutkan alisnya. "Jangan menatapku seperti itu. Bisa minggir tidak sih, chibi?"

"Kau! Berani-beraninya menyebut guru dengan chibi!! Lagipula aku tidak chibi, kau saja yang terlalu tinggi sebagai murid!" seru Hitsugaya.

"K-kau guru? Ya ampun.. maaf deh chibi-sensei, aku kan murid baru," kata perempuan itu.

"Jangan panggil aku chibi-sensei! Panggil aku Hitsugaya-sensei! Ternyata kau murid baru yang di bicarakan Yama-jii itu. Ayo ku antar ke ruangan kepala sekolah," ajak Hitsugaya.

Perempuan itu tersenyum lalu mengikuti Hitsugaya dari belakang menuju ke ruang kepala sekolah. Ruang kepala sekolah terletak di sebelah ruang Tata Usaha, Hitsugaya mempersilahkan perempuan itu masuk ke dalam ruangan bercat putih polos itu.

Tampak seorang kakek tua dengan jenggot panjang terayam sedang duduk tenang di belakang sebuah meja besar. Kakek itu melirik sebentar ke arah Hitsugaya dan perempuan itu lalu mempersilahkan mereka duduk.

"Akhirnya kau datang juga! Aku sudah menunggumu sejak setengah jam lalu, kemana saja kau?" tanya Yamamoto pada perempuan yang hanya cengengesan saja.

"Gomen nee Yama-chan, tadi aku sempat tersesat karena sekolah ini terletak di pedalaman perumahan seperti ini. Nee~ Yama-chan, jadi aku di tempatkan di kelas yang sama dengan 'nee-san' itu kan?" perempuan manis itu menghentak-hentakkan kakinya seperti tidak sabar menunggu jawaban Yamamoto.

Hitsugaya yang melihat keakraban mereka hanya bisa heran. Yamamoto Genryuusai, seorang kepala sekolah Karakura High School yang terkenal killer bisa akrab dengan murid kekanak-kanakan macam perempuan ini, apa yang terjadi? Batin Hitsugaya.

"Ya tentu saja, karena itu permintaan pamanmu kan. Baiklah, nona Kazumei Mayen kau bisa langsung ke kelas 2-4 sekarang," kata Yamamoto.

Hitsugaya membelalak. "K-kazumei Mayen??" katanya kaget.

Perempuan bernama Mayen itu menatap Hitsugaya dengan heran. "Ada apa denganku?" tanyanya.

"Kau pemilik Kazumei Mode & Salon itu?!"

Mayen menghela napas lalu mengangguk. "Memangnya ada apa chibi-sensei?"

Hitsugaya menggeleng. "Tidak bisa di percaya, seorang perempuan kekanak-kanakan seperti mu bisa punya butik dan salon sebesar itu dan yang paling penting kau masih kelas 2 SMA!" seru Hitsugaya lebay.

"Enak saja! Aku ini sebenarnya lulusan Univercity de Paris, tetapi aku punya misi di sekolah ini. Kau mengerti chibi-sensei?"

"Tidak! Tetap saja kau itu terlalu kekanak-kanakan untuk jadi pemilik Kazumei Mode & Salon!" seru Hitsugaya tidak mau kalah.

Yamamoto yang pusing mendengar pertengkaran dua orang itu akhirnya menengahi. "Kalian berdua sudah diam! Dan kau nona Kazumei, silahkan ke kelasmu pelajaran sebentar lagi akan di mulai."

Mayen mendengus kesal pada Hitsugaya sebelum tersenyum manis pada Yamamoto. "Arigatou Yama-chan, aku yakin paman Kurosaki pasti akan menyumbang lebih banyak tahun ini."


Rukia meletakkan tas hitamnya di atas meja sebelum duduk di kursinya. Ia sangat mengantuk karena malam tadi tidurnya tidak nyenyak memikirkan Ichigo yang benar-benar tidak pulang kemarin dan juga sebuah boneka Chappy raksasa yang malam tadi di berikan seorang pria berpakaian jas serba hitam padanya.

Ia sedikit kaget karena pria tak dikenal itu bilang bahwa boneka Chappy raksasa itu pemberian Ichigo. Tetapi ketika ia mencoba menanyakan keberadaan Ichigo pada pria itu tetapi samasekali tidak mendapat jawaban yang jelas.

"Jeruk itu merepotkan saja.. Hoaam.." katanya sambil menguap.

Rukia mendongakkan kepalanya saat seseorang memberinya sebuah pisang. Setelah ia melihat pria berambut merah yang berdiri di hadapannya, Rukia langsung menegakkan posisi duduknya.

"Tu-tuan muda Renji!" serunya tergagap.

Renji tesenyum ala Baboonnya dan di sampingnya masih setia seorang Kira Izuru, bodyguardnya.

"Ohayoo nona Rukia," sapa Kira.

"Ohayoo mo Kira-san," jawab Rukia ramah.

"Bagaimana keadaanmu sekarang?" Renji menarik kursi dari meja di sebelah Rukia lalu menyeretnya ke depan meja Rukia sehingga ia bisa menatap langsung wajah cantik Rukia.

Renji mengibaskan tangannya memerintahkan Kira untuk menjauh dari mereka dan dengan patuh Kira pun melangkah keluar kelas Rukia.

"Aku sudah sembuh sekarang, berkat kunjungan dari tuan muda," jawab Rukia lalu tersenyum hingga membuat wajah Renji memerah.

"Syukurlah kalau begitu. Emm.. Rukia, apa kau ada waktu malam ini?"

"Eh? Malam ini... aku harus memasak untuk Ichigo, lalu aku juga harus menyelesaikan jahitan boneka Chappy. Memangnya kenapa?"

Renji memasang wajah kesal saat mendengar nama Ichigo, pria berambut jeruk yang menjadi penghalangnya mendekati Rukia. Renji memutuskan untuk tidak memberitahukan Rukia tentang identitas Ichigo yang sebenarnya karena pikirnya jika Rukia tahu maka hal itu akan menambah nilai plus Ichigo di mata Rukia. "Tidak.. aku hanya ingin mengajakmu makan malam saja."

"Maaf ya tuan muda, sepertinya memang tidak bisa. Ichigo itu kalau aku tidak masak maka dia akan membelanjakan uang secara boros dan aku tidak suka itu, dia seperti orang kaya saja," jelas Rukia.

'Memang dia orang kaya kan..' gumam Renji dalam hati.

Teng.. Teng.. Teng..

Renji bangkit dari kursinya setelah bel masuk berbunyi. "Yasudah, lain kali saja bisa kan. Aku ke kelasku dulu ya Rukia," kata Renji lalu keluar dari kelas 2-4.

Beberapa menit setelah Renji keluar barulah Hitsugaya, wali kelas sekaligus guru matematika di kelasnya masuk. Seperti biasanya Hitsugaya tetap memasang wajah coolnya hingga membuat sebagian murid perempuan menjerit gaje. Hitsugaya memang salah satu dari beberapa guru yang berwajah tampan di Karakura High School dan dari semua guru dialah yang paling muda karena baru berusia 20 tahun.

"Selamat pagi anak-anak, hari ini ada murid baru di kelas kita. Hei nona childish ayo masuk!" panggil Hitsugaya.

"Cih.. Kau guru paling tidak sopan yang pernah kutemui chibi-sensei," gerutu Mayen yang di sambut dengan sebuah tatapan tajam dari Hitsugaya.

Bisik-bisik antar murid langsung terdengar setelah Mayen memasuki kelas. Bahkan ada beberapa murid pria yang terbengong-bengong melihat kecantikannya.

Mayen melirik penghuni kelas 2-4 satu-persatu. Dan saat ia melihat Rukia ia langsung tersenyum pada perempuan berambut hitam itu. Rukia yang walau sedikit bingung karena mendapat senyuman dari Mayen pun secara refleks membalas dengan senyuman manisnya.

"Rukia, dia kenalanmu?" bisik Rangiku.

"Bukan, aku malah baru melihatnya hari ini," jawab Rukia di sertai gelengan kepala.

Hitsugaya menatap heran Mayen yang dari tadi hanya menatapi murid-muridnya tanpa memperkenalkan diri. "Nona childish, sampai kau mau diam di situ? Ayo cepat perkenalkan dirimu."

"Iya..iya, dasar chibi-sensei cerewet!" bentak Mayen dan langsung di sambut tawa seisi kelas kecuali Momo yang cemburu melihat guru kesayangannya dengan Mayen yang terlihat akrab dan Inoue yang merasa kesal karena kecantikannya mulai tersaingi.

"Ohayoo minna-san! Perkenalkan namaku Kazumei Mayen, karena aku baru di sini jadi mohon bantuan semuanya ya!" Mayen membungkukkan badannya lalu tersenyum manis.

Dengan tiba-tiba Inoue mengangkat tangannya lalu berdiri. "Apa kau pemilik Kazumei Mode & Salon?"

Mayen mengangguk. "Iya. Kau salah satu pelangganku kan, yang selalu membayar dengan uang recehan itu." Seluruh murid kembali tertawa apalagi Rukia yang sudah jelas punya dendam kesumat dengan Inoue.

"Kazumei-san, mana mungkin putri pengusaha kaya seperti Inoue membayar dengan recehan?" tanya Rangiku dengan sengaja.

"Oh.. Benarkah? Tapi kata karyawanku begitu loh, perempua bernama Inoue Orihime membayar tagihan manicurenya dengan uang recehan." Mayen tersenyum puas. Ia sudah mempelajari segala sesuatu tentang sekolah ini, termasuk tentang Inoue yang di sebut sebagai Ratu Sekolah yang sering mengganggu Rukia bahkan latar belakang Inoue yang sebenarnya hanya penjual obat di apotik kecil.

'Murid baru itu! Lihat saja kau nanti!' gumam Inoue. Wajahnya sangat memerah karena malu di perlakukan seperti itu oleh seorang murid baru yang kaya raya macam Mayen. Dan mulai saat itu juga nama Kazumei Mayen telah masuk dalam daftar blacklist bersanding dengan nama Kuchiki Rukia.


Ichigo turun dari bis di halte depan Karakura High School. Ia berencana menjemput Rukia hari ini sekaligus minta maaf karena kemarin menghilang tanpa kabar. Ia mengutuk Ishida yang membuat tangannya lecet akibat menandatangani ratusan dokumen perusahaan malam tadi.

Ia menatap jari telunjuk kanannya yang berbalut plester luka. Ternyata ia tidak bisa menyalahkan Ishida sepenuhnya karena ia yang berulah sejak awal dan ia yang menghilang tanpa kabar.

Ichigo membuka kancing paling atas kemeja putihnya. Malam tadi dia juga di paksa berganti pakaian oleh Ishida, pakaian hasil jahitan Ishida sendiri.

"Si maniak jahit itu.. Apa ini tidak terlalu formal? Seharusnya aku memakai pakaianku kemarin saja," gerutu Ichigo.

Ichigo melirik jam tangan Rolex berlapis emas yang melingkar di pergelangan tangannya. Pukul 15.00. Seharusnya sekolah sudah berakhir sekarang tetapi ia belum melihat satupun murid yang keluar dari gerbang sekolah. Akhirnya Ichigo pun memutuskan untuk masuk ke dalam gerbang putih itu.

Satu hal yang menarik matanya ketika masuk adalah sebuah mobil Ferrari violet yang terparkir di bawah pohon cemara rindang. Ichigo mengerutkan alis orangenya, ia seperti mengenali mobil Ferrari violet itu.

Sebelum ia menyentuh mobil itu lonceng tanda berakhirnya pelajaran berbunyi. Ichigo langsung mengalihkan pandangannya ke beberapa siswa yang bergerombol keluar dari kelas masing-masing.

Matanya mengamati mencari sesosok perempuan dengan rambut hitam sebahu. Dan ketika ia menemukan Rukia ia langsung berlari menghampiri perempuan yang di cintainya itu.

"Putriku!!" seru Ichigo sambil berlari menghampiri Rukia.

Rukia yang sedari tadi asyik berbincang dengan Rangiku, Momo dan Mayen langsung menoleh ke arah Ichigo yang sekarang ada di hadapannya.

DUAAK!!

Rukia dengan tiba-tiba memukul kepala Ichigo dengan tas hitamnya yang berisi beberapa buku paket tebal.

"Kau itu kemana saja sih!! Katanya Cuma pergi membeli makan siang, tapi malah tidak pulang semalaman, papa macam apa kau hah!?" maki Rukia.

Ichigo mengusap kepalanya yang sedikit benjol akibat pukulan itu. "Ahh.. Putriku, kau jahat sekali memukul papamu yang ganteng ini!"

"Ganteng?! Jangan bercanda! Kemana kau malam tadi?"

"Maaf putriku, malam tadi aku di ajak teman lamaku menginap di rumahnya. Kebetulan juga aku ada urusan dengannya, maaf ya.." kata Ichigo dengan tampang melas.

"Nee-san, dia papamu ya?" tanya Mayen dengan wajah menahan tawa.

"Papa idiot yang selalu saja menyusahkan!" balas Rukia.

Mayen tersenyum. Ia merasa geli melihat Ichigo sekarang ini. "Konnichiwa, Icchan," sapa Mayen.

Ichigo menatap ke arah perempuan bermata abu-abu yang tadi menyapanya dengan panggilan Icchan. Mata cokelatnya membulat sempurna ketika melihat wajah Mayen, pemilik Ferrari violet yang sangat familiar baginya.

"K-kau!!" dengan cepat Ichigo langsung menarik tangan Mayen menjauh dari Rukia, Rangiku dan Momo yang hanya terbengong melihat kelakuan Ichigo.

Ichigo menarik Mayen ke samping mobil Ferrari violet itu. Ia memandang Mayen yang memakai seragam yang sama dengan Rukia. "Mayen, apa yang kau lakukan disini?"

Mayen tersenyum lalu menjawab, "Icchan begitukah sikapmu pada sepupumu ini. Aku disini karena sekolah donk."

Ichigo mengertukan alisnya. "Jangan bercanda Mayen, kau itu lulusan terbaik Univercity de Paris fakultas mode tahun lalu, untuk apa lagi kau sekolah?"

"Pasti ayah yang menyuruhmu kan? Apa yang dia rencanakan?" sambungnya lagi.

"Hi-mit-su.." jawab Mayen lalu berlari meninggalkan Ichigo yang hanya bisa menggeram kesal.

"Kenapa anggota keluargaku tidak ada yang waras sih!" gerutunya lalu berjalan menghampiri Rukia lagi.


"Ichigo, kau mengenal Mayen?" tanya Rukia. Sekarang mereka sudah berada di rumah gubuk Rukia. Selama dalam bis tadi Ichigo samasekali tidak bicara apa-apa tentang kenapa ia dan Mayen terlihat akrab.

"Hmm.. Ya bisa di bilang kenal sih. Kenapa? Kau cemburu ya putriku?" goda Ichigo.

"A-apa kau bilang, tidak mungkin aku cemburu!" bantah Rukia. Wajah putih mulusnya memerah hingga ia hanya bisa menunduk untuk menutupi wajahnya itu.

Ichigo yang melihat perubahan rona wajah Rukia tersenyum jahil. Wajah Rukia saat memerah terlihat semakin manis baginya.

"Tatap mataku, kau cemburu kan?" Ichigo mengangkat dagu Rukia hingga sekarang mata violet indah milik perempuan itu bertemu dengan mata cokelat milik Ichigo.

Rukia terdiam tak berkutik. Dirinya benar-benar tersihir dengan pesona Ichigo dan jantungnya tak berhenti berdetak dengan cepat. "Se-sedikit sih.." jawabnya sangat pelan.

Ichigo tersenyum membuat wajah Rukia semakin memerah. Dengan perlahan Ichigo semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Rukia, ia menganggap ini menyenangkan melihat seorang gadis manis dengan wajah memerah.

"Begitu.. Kalau begitu aku minta maaf karena membuatmu cemburu.."

Rukia menghentikan napasnya saat Ichigo mulai mencium bibirnya dengan lembut. Ia tidak mengerti kenapa keadaan bisa menjadi seperti ini sekarang, namun anehnya ia merasa sangat senang karena Ichigo menggenggam tangannya dengan erat.

Dengan agak ragu Rukia pun membalas ciuman itu hingga sampai napas mereka berdua hampir habis baru mereka berhenti.

Ichigo dan Rukia sama-sama menunduk. Wajah mereka berdua menjadi semerah tomat dan suasana menjadi hening seketika.


"Huaaaa~ Masaki, Ichigo sudah mulai berani menggoda wanita sekarang!!" seru pria paruh baya bernama Kurosaki Isshin sambil memeluk poster raksasa perempuan cantik bernama Masaki.

Hisana hanya bisa menggeleng sedangkan Yuzu dan Karin masih menutup kedua mata mereka dengan tangan mereka sendiri. Tv berukuran 40 inch yang menayangkan adegan Ichigo dan Rukia berciuman secara langsung tadi masih menyala dan menampilkan tontonan Ichigo dan Rukia yang masih terdiam satu sama lain.

"Ayah mesum! Kenapa memasang kamera di dalam rumah Rukia-nee segala sih, sampai adegan seperti juga jadi di lihat kan!" seru Yuzu yang sekarang sudah tidak menutup matanya lagi.

"Eh, sejak kapan paman memasang kamera itu?" tanya Mayen sambil memakan popcorn rasa anggur, rupanya ia menganggap adegan tadi seperti menonton di bioskop hanya saja tontonan dua orang yang berciuman tadi lebih spesial.

"Baru hari ini, dan ternyata kita langsung di manjakan dengan tontonan menarik~" seru Isshin kegirangan.

"Hmm.. Sepertinya setiap hari aku harus siaga di depan Tv ini mulai sekarang. Kau lihat kan, putri kita manis sekali saat itu," kata Hisana tidak kalah girang sambil memeluk foto Byakuya, suami yang sangat di cintainya.

"Dasar orang tua gila.. Dan juga kenapa kau ada disini Ishida-nii?" tanya Karin pada pria berkacamata yang daritadi hanya diam terpaku.

"Hanya menonton," jawab Ishida singkat.

Isshin tertawa kecil. "Ishida, sepertinya sayang sekali jika kau harus pulang ke London malam ini," kata Isshin.

"Aku berubah pikiran Kurosaki-san, aku akan tinggal di Karakura beberapa hari lagi karena sepertinya hal ini menjadi sangat menarik."

"Bagus!!" sahut Isshin, Hisana, dan Mayen bersamaan.

To be Continued


BinBin : Hula~ ketemu lagi dengan gw sang author gaje!! Wahaha semuanya salah nebak yang nyulik Ichi! Pada suuzon semua neh ma Renji. Makin gaje aja deh ini fic, ya ampuun..

Mayen : Gaje dan mesum. Oh yei gw muncul!! Jadi orang elit juga pula, asyiikkk!!!!

BinBin : Yee, lo tuh harus berterima kasih deh sama gw. Gw Cuma punya OC lo doank, males bikin yang lain takut ga keurus *?*. oh iya, bagi yang mau tau biodatanya Mayen tinggal liat di Profil gw aja ya. Oke lanjutin bales review!!

Rukia : Dari Grimmy GJ, ehh.. kan Ichigo memang keren dari sononya. *ciee ngebelain cowonya nih*

Ichigo : *blushing di bilang keren* lalu dari Yumemiru Reirin, oh yeah!! Jelas gw lebih kaya!!

Mayen : Narsisnya Icchan mulai! Selanjutnya dari qie Kurosaki, wahaha bener tuh ni author ma hentai + sarap! Icchan kalo jealous bisa makan orang loh! *dibankai*

Hitsugaya : Cih.. Kenapa gw mesti punya murid kaya ci childish ini sih! Dari Ni-chan d'sora Yuki, Iya tuh! Dia ngilang gw yang cape, nambah lagi dah fansnya Ichigo. Fans gw mana neh!!

Hitsugaya Fc + BinBin : Kyaaa!! Shiro-chaaannn!!!!!!!!! *BinBin langsung di seret Byakkun*

Byakuya : Ehm.. Selanjutnya dari Namie Amalia, haha.. Iya Renji tau rasa tuh!

Hisana : Gw juga mau ikutan baca review!! Dari Sunako-chan, makasih ya Sunako-chan!!

Renji : Next dari Jess Kuchiki, iya nih makin banyak. Soalnya kalo pendek malah di protes. Haha.. Ichigo anak preman..

Isshin : Oh yeah!! Kenapa ga ada yang ngajak gw baca repiu!! Dari Sora chand, udaah fallin in love tuh mereka.

BinBin : Terus dari ichirukibanget gitulo, makasih ya! Maaf update lama, udah lebih sebulan ya. Hehe bener-bener maaf.

Mayen : Dari chariot330, hahaha.. kemaren author kena WB jadi harap maklum.

Rukia : Dari Nagiku senjougahara, makasih atas pujiannya ni author mpe mau terbang tuh.

Ichigo : Selanjutnya dari Monkey D. Cyntia, jiaahh.. heboh banget ni anak. Tau tuh, tapi maklum ni author kan Inoue hater. Hah? Jadi bapak lo? Ya ampuun. Ogah gw!!

Ishida : What?! Gw di suruh baca repiu terakhir? Baiklah, dari vamput* amano, haha.. makasih.. yoroshiku mo..

BinBin : Oh yeah! Makasih reviewnyaa!!!! Review lagi ya, dan doakan supaya gw ga sibuk jadi ga telat update lagi!!!

Ayo tekan Ijo-ijo. Yang nekan dapet ciuman dari Ichigo!! *kabur sebelum di bankai*