BinBin : Hula minna~ Apa kabar? Gw update rada cepet nih soalnya.. hiks.. dengan berat hati gw harus HIATUS again!!
Mayen : Hiks.. Berarti kita ga akan berjumpa dalam jangka waktu yang tidak ditentukan.. Huhuu..
BinBin : Gw pasti bakal kangen banget!! Hua.. UN yang menyiksa!!
Mayen : Tapi sebelum lo hiatus kenalin gw sama para reader yang belum kenal gw donk.
BinBin : Oh iya... di bawah ini biodata babu gw ini.
Nama OC : Kazumei Mayen
Ket. Fisik : Tinggi 165cm Rambut ungu panjang gelombang, mata abu-abu.
Umur : 16 tahun.
Kisah hidup : Sepupu Ichigo yang menjadi yatim piatu setelah kedua orang tuanya meninggal, tinggal bersama Isshin, Yuzu dan Karin namun tetap bersikeras tidak mau mengganti marga mejadi Kurosaki Mayen karena suka dengan nama marga aslinya, Kazumei. Pemilik sekaligus direktur dari Kazumei Mode & Salon yang sangat terkenal.
Pendidikan : Lulusan Univercity de Paris fakultas mode. Sekarang menjadi siswi Karakura High School kelas 11.
Sifat : jahil, kekanak-kanakan –makanya dipanggil Hitsugaya nona childish. Selalu adu mulut dengan Hitsugaya tentang masalah-masalah yang tidak penting.
Mayen : Salam kenal yaa.. wakakaa.. oke, balesan review ada dibawah. Selamat membaca jangan lupa repiu lagi ya..
Disclaimer : Bleach murni punya Tite Kubo. Saya Cuma seenak jidat minjem chara
My Father ?!
Chapter 6 : Abarai Family
Rate : T
Genre : Romance/Humor
Pairing : IchiRuki *main pairing* etc.
Warning : OOC dan kelebayan tingkat tinggi!! Don't like don't read!!
Ichigo dan Rukia sama-sama terdiam. Sejak kejadian kemarin saat Ichigo mencium Rukia mereka samasekali tidak berbicara satusama lain, hubungan mereka menjadi canggung sekarang.
Rukia meletakkan sepiring ikan goreng dihadapan Ichigo, lalu membelahnya menjadi dua bagian untuknya sendiri dan juga untuk Ichigo. Tangan mungilnya bergerak mengambil sendok nasi yang ada di atas rice cooker, namun pada saat yang sama Ichigo juga ingin mengambil sendok nasi itu hingga tangan mereka bersentuhan. Wajah mereka berdua memerah dan menunduk.
Ichigo melepaskan tangannya dari sendok nasi itu masih sambil tetap menunduk. "Kau saja yang duluan," katanya pelan.
Rukia mengambil piring Ichigo lalu mengambilkan nasi dari rice cooker itu. "Biar aku saja yang mengambilkanmu nasi," katanya masih sambil menyendokkan nasi.
Ichigo hanya mengangguk menyetujui. Ia samasekali tidak suka dengan suasana canggung ini, malam tadi dia juga memaki dirinya sendiri yang tidak bisa menahan diri untuk mencium Rukia. Ah.. Betapa bodohnya kau Ichigo, batinnya.
Pria berambut orange itu hanya memandangi nasi putih yang mengepulkan uap dihadapannya. Ia tidak selera untuk makan jika suasana tidak juga berubah, ia harus mengatakannya, ia harus minta maaf.
"Emm.. Rukia... Masalah yang tadi malam, tolong lupakan saja ya.." kata Ichigo dengan sedikit gugup.
Rukia menatapnya dengan heran. Bagaimana ia bisa melupakan kejadian tadi malam semudah itu jika ciuman itu adalah ciuman pertama untuknya. Rasanya sangat mustahil untuk melupakannya, ia sebenarnya sangat kesal dengan Ichigo, tetapi ia juga merasa aneh pada dirinya sendiri karena disisi lain ia sangat senang diperlakukan seperti itu oleh Ichigo dan juga jantungnya berdegup dengan sangat cepat jika berada di dekat Ichigo.
"Tidak bisa!! Mana mungkin aku bisa lupa, itu pertama kalinya bagiku!" seru Rukia.
Ichigo terperangah. "Hah? Ternyata benar ya itu yang pertama kalinya. Kau memang benar-benar polos ya.." Ichigo tertawa kecil hingga membuat wajah Rukia semakin memerah dan itu membuatnya menjadi tambah manis.
"Jangan tertawa! Kau mempermainkanku ya!" Rukia melemparkan sumpit yang awalnya ia pakai ke arah Ichigo, dan sumpit itu melayang tepat mengenai wajah Ichigo.
Ichigo yang jengkel karena sumpit itu menyentuh wajah menawannya pun lalu melempar sendok nasi ke arah Rukia, dan terjadi lah perang saling lempar barang apapun yang ada disekitar mereka.
Ichigo duduk menyandar pada dinding setelah kelelahan dengan perang melempar barang dan juga sudah tidak ada satupun barang disekitarnya yang bisa ia lempar lagi pada Rukia.
"Midget, kau tahu.. Itu juga pertama kalinya untukku," kata Ichigo dengan napas menderu.
Rukia mengerutkan alisnya. Juga pertama kali? Jadi dengan mama dia tidak pernah? Batin Rukia.
"Kau juga baru pertama kali? Jadi kau dan mama..."
"Aku tidak pernah sekalipun mencium mamamu," balas Ichigo dengan diiringi senyumnya.
Rukia sedikit tersenyum kecil. Perasaannya sekarang terasa sedikit lega. Tunggu dulu, lega? Kenapa ia harus lega setelah mengetahui Ichigo tidak pernah mencium Hisana? Rukia menepuk-nepuk pipinya sendiri, ia berusaha meluruskan jalan pikirannya yang telah melenceng.
Ichigo menatap Rukia yang bertingkah aneh dengan heran. Ia lalu menahan tangan Rukia yang berdiri dihadapannya lalu menarik Rukia hingga terjatuh ke pangkuannya. "Kau kenapa putriku?" tanya Ichigo yang sudah mulai kambuh penyakit memanggil Rukia dengan 'putriku'.
Rukia semakin salah tingkah saat Ichigo memegang pipinya yang memerah karena tepukan oleh tangannya sendiri dan bercampur dengan merah karena malu sekarang ia ada dipangkuan Ichigo.
"Pipimu memerah putriku, kau demam lagi?" tanya Ichigo khawatir.
Rukia menggeleng dengan kaku. "Ti-tidak, aku tidak apa-apa. Ichigo bisa lepaskan tanganmu dari pipiku?"
"Ah.. Iya, maaf putriku." Ichigo lalu melepaskan tangannya dari pipi Rukia dan beralih menggenggam tangan Rukia lalu membantunya berdiri.
Rukia merapikan seragam sekolahnya yang berantakan dengan wajah yang masih merah. Ia bisa merasakan detak jantungnya yang sangat cepat hingga mungkin Ichigo bisa mendengarnya.
"Ichigo, aku berangkat sekolah dulu," kata Rukia lalu mengambil tas hitamnya yang tergeletak di lantai karena tadi ia lemparkan juga pada Ichigo dan bergegeas menuju ke pintu rumah.
Ichigo mengikuti Rukia dari belakang, ia tersenyum senang karena akhirnya suasana hubungannya dengan Rukia sudah tidak canggung lagi. Ia memerhatikan gerak-gerik Rukia dari memasang kaos kaki hingga sepatu, dan pada saat Rukia sudah hendak keluar rumah ia sekali lagi menarik tangan perempuan mungil itu hingga jatuh ke pelukannya.
"Belajar yang baik ya putriku," katanya lalu mengecup kening Rukia.
Rukia hanya terpaku dengan suhu wajahnya yang kembali meninggi. Ia merasa wajahnya sudah seperti kepiting rebus yang memalukan.
"T-tenang saja! Dan kau juga Ichigo, bersihkan rumah!!" perintah Rukia sambil menunjuk ke arah ruang makan yang berantakan seperti kapal pecah dengan barang-barang yang berserakan dimana-mana.
"Aku pergi.." kata Rukia lagi lalu berlari kecil keluar rumah.
Ichigo memandang sekitarnya dengan nista, tapi sesaat kemudian ia kembali tersenyum. "Aku hampir mendapatkan hatinya," katanya senang lalu mengambil handphone BlackBerrynya dari saku celananya dan memijit beberapa nomor.
"Moshi-moshi, Nemu? Tolong datang ke rumah Rukia sekarang juga, bersihkan rumahnya sampai tidak ada satupun debu yang menempel. Aku tunggu." Ichigo meletakkan handphonenya kembali ke dalam sakunya.
'Hai Ichigoo....' sapa inner gaje Ichigo.
"Heh, kau masih hidup ternyata innerku yang gaje," balas Ichigo malas. Ia tahu untuk apa innernya muncul pada saat seperti ini, pasti untuk menggodanya.
'Ihh.. Jahat deh! Ichigo, bagaimana rasanya ciuman? Enak?' tanya inner itu penuh rasa ingin tahu.
Wajah Ichigo memerah. "Bisakah kau sekali saja tidak menggodaku? Kalau kau mau tahu rasakan saja sendiri."
'Ah.. Bagaimana bisa ngerasain, disini kan ngga ada cewe. Aku mau ciuman sama siapa?'
"Ciuman sama dinding sana!!"
'Enak aja, Ichigo ciptain inner cewe donk disini sekalian sama cafe dan game center juga.'
"Cewe, cafe dan game center? Kau kira aku ini pencipta inner jadi kau suruh untuk menciptakan hal-hal aneh kaya gitu. Sudah sana, jangan ganggu aku!!" kata Ichigo kesal. Ia lalu mengambil jaket Adidas cokelat yang tergantung dalam lemari pakaian butut yang sudah mau runtuh milik Rukia.
'Dasar! Eh, kau mau kemana Ichigo? Aku ikuuuutt...!!' seru inner itu manja, membuat Ichigo hampir muntah. Ia benar-benar menyesal mempunyai inner yang jablay seperti itu.
"Aku mau ke rumah pribadiku. Sudah lama aku tidak pulang dan menjenguk Yuzu dan Karin."
Keluarga Abarai, semua orang di Jepang pasti sudah mengenal mereka. Ya, mereka adalah salah satu keluarga terkaya dan terhormat di Jepang dengan Abarai grup mereka yang menguasai hampir seluruh pasar dagang pisang di dunia.
Hari ini ada yang sedikit berbedaa dari keluarga Abarai. Tidak biasanya mereka bisa berkumpul bersama untuk makan pagi, dan pastinya selalu ada keributan jika mereka berkumpul.
"Renji!! Ambilkan selai kacang mami yang ada disana!" seru Abarai Yoruichi, ibunya Renji.
Renji mengambil sebotol selai dengan tulisan "Abarai nuts Jam" dengan sedikit malas. Ia lalu melemparkannya ke arah Yoruichi yang ada dihadapannya. Renji menguap sedikit, rambut merahnya masih berantakan dan terurai karena ia terlalu pagi –padahal sudah jam 08.00 tapi baginya itu masih terlalu pagi- bangun dan manusia yang telah mengganggu tidurnya dengan mimpi indahnya dengan Rukia adalah pria bertopi belang hijau-putih yang ada di samping Yoruichi, Abarai Kisuke, ayahnya yang bodoh –menurut Renji.
"Nii-chan hari ini tolong belikan aku permen yang ada di kantin sekolahmu itu ya, rasanya enak!!" pinta anak lelaki berambut sama merah dengan Renji yang duduk di sampingnya, Abarai Jinta, adiknya satu-satunya.
"Heh? Lagi? Astaga setiap hari kau makan permen itu bisa-bisa gigimu bisa bolong semua," kata Renji sinis sambil memakan roti panggang pisang kesukaannya.
"Ayolah, Renji. Jangan pelit dengan adikmu sendiri. Hohoho.." kata Kisuke sambil menutupi wajahnya dengan sebuah kipas.
"Sayang, chirsmast day masih sebulan lagi jadi ngga perlu pake ketawa 'hohoho'," tegur Yoruichi sambil mengoleskan selai kacang pada roti tawar putih yang selalu menjadi menu makan pagi utama dalam sejarah keluarga Abarai.
"Nii-chan, belikan ya,ya,ya,ya,ya..." rengek Jinta dengan puppy eyesnya.
"Huh.. Baiklah, terserah apa maumu. Aku berangkat dulu papi, mami." Renji mengangkat tas punggung Volcomnya lalu berdiri sambil mengancingkan beberapa kancing bajunya yang terbuka.
Kisuke hanya bisa menghela napas melihat penampilan anaknya itu. Anting perak di telinga kiri, rambut merah, tatto hampir diseluruh badan, Kisuke melirik ke arah istrinya, Yoruichi. Perasaan waktu Yoruichi hamil ngga ngidam yang macam-macam deh, kok anakku jadi seperti ini ya? Batin Kisuke.
"Hei Renji, tumben kau tidak mengikat rambutmu," tegur Kisuke melihat rambut merah Renji yang mencapai sepunggung.
"Aku malas kembali kekamar, jadi biarkan saja," balas Renji.
"Tapi kau terlihat lebih tampan seperti itu anakku! Good job!!" salut Yoruichi sambil mengacungkan dua jempolnya pada Renji.
"Hmm.. Benarkah? Ya sudah, aku berangkat." Renji lalu keluar ruang makan dengan diiringi Kira yang sebelum mengikuti Renji ia menundukan badan terlebih dahulu pada Kisuke dan Yoruichi.
"Sayang..." Kisuke menatap Yoruichi dengan mata berkaca-kaca. "Anak kita ternyata sudah dewasa, huuuhuu.. aku terharu.." kata Kisuke sambil nangis bombay gaje. Sedangkan Yoruichi hanya bisa mengangguk dengan penuh bangga.
Rukia berjalan tergopoh-gopoh menuju ke Karakura High School. Kepalanya sedikit pusing, Ichigo benar-benar mengacaukan pikirannya sekarang. Rukia mengambil sebuah cermin dari dalam tasnya, ia menatap wajahnya sendiri, semburat merah masih sangat terlihat jelas karena wajahnya putih mulus hingga semburat sekecil apapun pasti akan sangat terlihat.
Ia samasekali tidak bisa melupakan semua kejadian yang terjadi antara dia dan Ichigo, bahkan bisa dibilang ia senang. Rukia mengucek-ngucek rambutnya sendiri 'Tidak, aku tidak mungkin jatuh cinta padanya. Dia papaku, ingat itu Rukia,' gumamnya.
Rukia termenung di tengah jalan yang memang sepi itu. Selain karena ia mengantuk karena tadi malam tidak bisa tidur juga karena ia memikirkan mamanya. 'Sebenarnya mama dimana sih..' gumamnya sambil menghela napas.
Tiit.. Tiit.. Tiit..
Rukia menengok ke arah belakangnya. Mata violetnya membulat melihat sebuah mobil Jaguar merah yang jarak hanya beberapa meter lagi di depannya. Dan akhirnya karena Rukia cuma memandang mobil mewah itu iapun tertabrak dan jatuh dengan beberapa luka lecet ditubuhnya.
Kira dan Renji terdiam. Mereka melirik satusama lain, lalu keluar dari mobil Jaguar merah itu secara bersamaan.
"Kira, kau itu bagaimana sih sampai bisa menabrak orang. Kalau orangnya luka kan bisa gawat," omel Renji sambil menutup pintu mobilnya itu.
Rukia mengelus-ngelus luka di kakinya yang berdarah. Ia mencoba berdiri tapi kakinya tidak kuat karena perih. "Aduhh.. Bagaimana ini.." katanya bingung.
Mata Renji membulat sempurna ketika melihat Rukia yang ternyata mereka tabrak. Dengan sigap ia langsung menghampiri Rukia dan memeluk perempua berambut hitam sebahu itu. "Rukia, kau tidak apa-apa?" tanyanya khawatir masih sambil memeluk Rukia.
Rukia yang dipeluk hanya bisa mengerutkan alisnya, ia tidak mengenali Renji dengan rambut terurai seperti itu. "Maaf, kau siapa ya?"
"Astaga!! Nona Rukia kena amnesia!!" seru Kira panik.
" Ah, Kira-san.. Aku tidak amnesia! Tunggu, kalau ada Kira-san disini berarti.." Rukia menatap wajah pria yang memeluknya, "Tu-tuan muda Renji!!" serunya walau suaranya tertahan karena wajahnya menempel pada dada bidang Renji.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Renji sekali lagi. Ia melepas pelukannya lalu menatap kaki kanan Rukia yang terluka.
"I-iya, aku tidak apa-apa. Hanya sepertinya aku tidak sanggup berjalan, hehe.." jawab Rukia sambil cengengesan.
Renji melirik Kira dan memberi sebuah tanda agar Kira membukakan pintu mobil. Renji lalu menggendong Rukia menuju ke mobilnya, wajah Baboonnya yang selalu terlihat bodoh sekarang tampak sangat serius membuatnya sedikit berbeda.
Rukia hanya bisa pasrah digendong Renji ke dalam mobil, kakinya sangat perih jika digerakkan jadi hanya inilah satu-satunya jalan. Ia tidak mungkin menolak karena ia sudah terlanjur berada dalam mobil mewah itu dan juga ia tidak mau terlantar di jalan seperti gembel.
Mobil Jaguar merah itu memasuki gerbang putih Karakura High School dan berhenti tepat di bawah pohon cemara rindang dan di samping mobil Ferrari violet yang tidak kalah mewahnya dari Jaguar itu.
Merasa sangat familiar dengan Jaguar merah itu, para siswa dan siswi langsung bergerombol di depan mobil seharga 15.000.000¥ itu. Seperti itulah kebiasan siswa Karakura High School setiap pagi ketika Renji datang, menonton sang Pangeran Kartu Emas itu keluar dari mobil mewahnya.
"Kyaaa... Tuan muda Renji!!!" seru beberapa siswi sambil membawa poster Renji yang sedang memanjat pohon pisang di belakang sekolah dan spanduk bertuliskan 'We Love Renji-sama'.
Kira turun lebih dahulu dari mobil, lalu membukakan pintu belakang tempat Renji biasanya duduk. Tapi sekarang berbeda, jika biasanya Kira membuka dengan perlahan saja sekarang ia membuka pintu dengan tegesa-gesa.
Semua siswi telah bersiap berteriak untuk menyabut keluarnya Renji, tapi pada saat Renji keluar dari mobil dan menggendong Rukia dengan bridal-style mereka langsung terdiam. Bahkan ada beberapa siswi yang shock dan segera diamankan oleh siswa lain ke tempat terdekat.
Renji setengah berlari kecil, ia tidak memperdulikan tatapan para siswa lain yang mulai berbisik-bisik, namun ada juga beberapa siswi yang semakin terpesona padanya, karena Renji memang lebih tampan dengan rambut terurai.
"Tuan muda Renji, aku malu.." kata Rukia pelan. Wajahnya memerah karena malu sekarang menjadi pusat perhatian, dan terutama malu pada teman-teman dekatnya yang juga ikut melihat seperti Rangiku dan Momo yang menatapnya dengan tatapan Oh-my-God. Bahkan Inoue pun tatapannya sangat terkejut.
Renji menekan wajah Rukia ke dadanya hingga wajah perempuan bermata violet itu memerah walau tidak terlihat oleh siapapun. "Sudah kau diam saja, kita harus ke ruang UKS secepatnya karena darah dari luka di kakimu tidak juga berhenti," kata Renji sambil berlari memasuki gedung sekolah.
Renji berlari melewati lorong-lorong kelas menuju ke UKS yang terletak di lantai dua. Ia sempat memaki sekolah itu karena tidak mempunya lift dan bersumpah bahwa ia akan menyuruh ayahnya untuk membuat lift di sekolah itu.
Renji berlari dengan kecepatan Baboon extra max saat ruang UKS sudah beberpa meter dihadapannya. Saking cepatnya, bahkan Hitsugaya yang sedang bertengkar dengan Mayen menjadi bengong setelah Renji lewat dihadapan mereka bagai kilat.
"Chibi-sensei.. Tadi apa ya?" tanya Mayen mulai merinding dan karena takut ia dengan tidak sadar menggandeng tangan Hitsugaya.
"Ti-tidak tahu.. Mungkin ada Baboon bermesin jet lewat," jawab Hitsugaya asal dengan wajah blushing.
Renji membuka pintu UKS sambil ngos-ngosan. Seorang wanita paruh baya dengan rambut hitam panjang terayam ke depan menyambutnya dengan senyum yang sangat ramah. "Wah..wah.. Tuan muda yang terhormat, ada apa anda bisa sampai kesini?" tanya wanita bernama Unohana Retsu itu.
"Unohana-sensei, tolong obati seluruh lukanya." Renji mendudukkan Rukia ke tepi kasur UKS lalu ia sendiri duduk di tepi kasur lain di depan Rukia.
Unohana mengambil kotak P3K dalam sebuah lemari berisi buku-buku tentang pengobatan lalu mengambil obat merah, plester luka, kapas dan perban. Ia tersenyum pada Rukia terlebih dahulu sebelum mulai membersihkan luka Rukia dari kaki hingga ke lengannya.
Renji hanya bisa merutuki dirinya sendiri, sudah dua kali ia membuat Rukia susah. Pertama karena ia dengan sengaja mengait kaki Rukia hingga perempuan itu jatuh tertimpa ember berisi air kotor dan jadi sakit demam, sekarang ia –walau Kira yang menyetir- menabrak Rukia hingga tubuh perempuan yang ia sukai itu lecet lumayan parah. Ia seperti pria yang benar-benar tidak berguna sekarang.
"Nah Kuchiki-san, semoga sakitnya cepat hilang ya," kata Unohana setelah selesai memperban bagian tubuh Rukia yang luka.
"Terima kasih Unohana-sensei," kata Rukia sambil tersenyum.
"Rukia.. Maaf ya, gara-gara aku kau jadi luka seperti itu," kata Renji. Ia menunduk, merasa malu menatap wajah manis Rukia yang selalu saja tersenyum.
"Eh.. Ini salahku karena melamun di tengah jalan. Aku seharusnya berterima kasih pada Tuan muda, karena sudah mau membawaku ke UKS. Terima kasih." Rukia tersenyum sangat manis hingga membuat wajah Renji memerah semerah rambutnya.
"Ah iya, Tuan muda Renji, maaf ya tadi aku sempat tidak mengenalimu. Kau terlihat lebih keren dengan rambut terurai seperti itu, aku suka," tambah Rukia lagi dan tentu saja membuat Renji semakin blushing ditambah dengan salah tingkah plus ge-er.
Renji hanya bisa tersenyum sambil menutupi wajahnya yang memerah. Tangannya bergerak mengambil sesuatu di dalam saku celananya, sebuah pisang raja. Ia lalu mengupas kulit pisang itu hingga bersih dan menyerahkannya pada Rukia. "Ayo dimakan," katanya malu-malu.
Rukia walau sempat sweatdrop, ia tertawa kecil dan menerima pisang itu dengan senang hati dan memakannya. "Enak, kau memang suka sekali pisang ya Tuan muda," katanya.
"Rukia!!!"
Renji dan Rukia menoleh ke arah pintu UKS. Nampak tiga orang perempuan manis dan seorang pria imut masuk ke dalam UKS. Mereka adalah Rangiku, Momo, Mayen dan Hitsugaya. Tunggu, Hitsugaya? Kenapa dia juga ikut? Jawabannya simple karena ia sudah berjanji pada Mayen untuk melanjutkan perdebatan mereka tentang seberapa panjang jenggot Yamamoto Genryuusai setelah perempuan bermata abu-abu itu menjenguk keadaan Rukia.
"Rukia, kau tidak apa-apa?" tanya Momo khawatir.
"Apa yang dilakukan Pangeran Baboon ini padamu Rukia?" tanya Rangiku sambil menunjuk-nunjuk wajah Renji.
"Nee-san! Kau tahu berapa panjang jenggot Yamamoto Genryuusai??" tanya Mayen, dan tatapan semua mata pun tertuju padanya.
"Nona childish bodoh, pertanyaanmu itu melenceng tahu!" kata Hitsugaya tertawa sinis.
"Huss.. Udah deh, kalau kalian mau berdebat lagi silahkan diluar aja!" bentak Rangiku. Hitsugaya dan Mayen pun terdiam.
"Sudah, sudah.. Aku tidak apa-apa, cuma luka sedikit, tidak masalah." Rukia mengacungkan jempolnya untuk meyakinkan pada teman-temannya bahwa ia baik-baik saja.
"Kurasa jika Icchan melihat ini, dia akan mengamuk," kata Mayen.
Rukia lemas. "Benar, dia pasti akan menceramahiku melihat keadaanku seperti ini," kata Rukia.
"Tenang saja, aku akan mengantarmu pulang nanti. Aku akan bicara langsung pada Ichigo," ujar Renji.
"Benarkah? Terima kasih Tuan muda," balas Rukia kembali tersenyum lagi.
Mayen menatap wajah Renji lalu Rukia lalu Renji lagi. Ia memukul telapak tangan kirinya dengan kepalan tangan kanannya seakan mengerti sesuatu. Beberapa saat kemudian ia tersenyum misterius.
"Jadi begitu ya.." gumamnya pelan namun masih bisa terdengar oleh Hitsugaya yang berada di sampingnya.
"Jadi begitu apanya, nona childish?" tanya pria bermata emerald itu.
"Bukan urusanmu!"
Bunyi sirine melengking keras, orang-orang berpakaian maid dan pengawal berlarian dengan sedikit panik mengangkat semua barang dari ruangan kamar tamu rumah pribadi Ichigo ke gudang tempat barang-barang bekas menumpuk.
"Siaga satu! Siaga satu! Tuan muda Ichigo hari ini pulang!!" seru Soi Fon sang kepala maid di rumah pribadi Ichigo dengan menggunakan sebuah toa besar.
"Cepat sembunyikan Tv pengintai yang ada di kamar tamu!" tambah perempuan tomboy mungil itu lagi memerintah anak buahnya.
Para maid berhamburan di seluruh ruangan rumah pribadi Ichigo. Mereka membersihkan apapun yang ada di sekitar mereka setelah selesai membereskan Tv pengintai yang digunakan Isshin dan Hisana untuk memantau kedua anak mereka itu.
Isshin dan Hisana merapikan pakaian mereka lalu bergegas menuju ke pintu masuk rumah mewah itu. Mereka berdiri sejajar sambil sesekali melirik satusama lain untuk memastikan tidak ada yang aneh dengan penampilan mereka.
"Ingat Isshin, jangan sampai Ichigo curiga apalagi sampai tahu kalau kita memasang kamera di rumah Rukia. Bisa habis kita nanti!" kata Hisana.
"Sip! Tenang saja! Ah itu dia!" tunjuk Isshin pada seorang pria berambut orange yang memasuki gerbang pagar.
Para maid dan pengawal berkacamata hitam yang tadi berhamburan dalam rumah itu sekarang telah berbaris rapi untuk menyambut majikan mereka.
"Selamat datang Tuan muda." Para maid dan pengawal itu menunduk serentak, sedangkan Ichigo melewati barisan mereka dengan ekspresi wajah yang samasekali tidak bisa ditebak.
"Oh! Ichigo my son!! Welcome back!!!!" seru Isshin lebay sambil berlari ingin memeluk Ichigo, namun dengan sigap Ichigo langsung menendang ayahnya itu.
"Oyaji, kau tidak pernah berubah ya. Berisik sekali," komentar Ichigo smabil menatap penuh kemenangan pada Isshin yang terkulai di lantai.
Hisana bergidik ngeri. Ia bersyukur tidak mempunyai suami yang lebay seperti Isshin. Entah apa yang disukai Masaki dari pria ini, batin Hisana.
Ichigo beralih menatap Hisana yang memakai kimono biru muda dengan lukisan burung bangau pada bagian bawahnya, ia jadi teringat Rukia, tentu saja karena Hisana dan Rukia memang benar-benar mirip, dan ia berharap suatu hari nanti ia bisa melihat Rukia memakai kimono manis seperti Hisana.
"Selamat datang Ichigo," kata Hisana sambil tersenyum.
"Terima kasih," balasnya lalu memasuki rumah.
Ichigo melirik ke sekitarnya. Mengamati rumah pribadinya dengan seksama. Tidak ada perubahan, tetap ada kursi sofa merah kesukaannya, satu set home theater lengkap juga masih ada, tapi.. Ichigo mengerutkan alisnya saat melihat sebuah poster besar menempel di depan meja makannya.
"Sejak kapan poster ibu ada disini? Seingatku aku tidak pernah memasangnya di ruang makan," kata Ichigo.
"Maaf Tuan muda, tapi Kurosaki-sama yang menyuruh untuk memasang disini. Dan juga di semua ruangan di rumah ini," lapor Soi Fon.
"Yo, Ichigo. Aku juga sudah memasang poster ibumu di semua kantor cabang Kuroichi, di hotel milik kita, restoran, karaoke, pokoknya di semua tempat milik kita. Hahaha..." kata Isshin bangga dengan mata berbinar-binar.
Ichigo hanya bisa tercengang. Sebenarnya ayahnya ini manusia dari planet mana sih? Pikirnya. "Baka Oyaji!" seru Ichigo lalu pergi menuju ke kamarnya.
Ishida menghela napas. Ia sekarang berada di sebuah tempat ramai yang ia tidak tahu, atau bisa dibilang ia tersesat.
Sebenarnya ia tadi hanya ingin mencari toko swalayan tedekat karena haus, tapi karena ia tidak hapal jalan di Karakura jadilah sekarang ia terlantar bagai anak hilang dengan pakaian jas dan celana hitam dipadu dengan dasi warna biru tua.
Ada sebuah kantor polisi yang ia lewati tadi. Tapi ia merasa gengsi dan malu untuk bertanya, masa orang elit berpakaian jas mahal sepertinya tersesat, bukankah ini sangat memalukan.
Ia duduk di kursi sebuah taman kecil. Ia kembali haus namun seingatnya uang cash dalam dompetnya telah habis, hanya ada kartu kredit dan ATM. Ia mengucek-ngucek kepalanya frustasi, rasa haus, kesal bercampur menjadi satu. Rasanya ia ingin mengamuk sekarang juga, tapi pasti hal itu sangat memalukan.
"Aku haus!!" serunya kesal sambil melonggarkan dasinya.
Wajah kesal Ishida berubah menjadi mengerut saat melihat sekaleng Coca cola dihadapannya. Ia menengol ke arah sampingnya, ada seorang perempuan juga sedang duduk di sampingnya dan menyodorkan sekaleng Coca cola di tangannya.
"Kau haus kan? Minum saja ini," kata gadis berpakaian seragam SMA itu.
Ishida menerima Coca cola itu dengan sedikit ragu, namun karena rasa hausnya mengalahkan rasa kehati-hatiannya akhirnya ia meminum juga Coca cola itu.
"Terima kasih," kata Ishida sambil meletakkan kaleng Coca cola yang sudah kosong itu di sebelahnya.
Perempuan berambut orange panjang itu tersenyum, "Sama-sama. Sepertinya kau tersesat, karena orang berjas sepertimu sangat jarang berkeliaran di daerah sini."
Wajah Ishida berubah memerah, ternyata ia memang mencolok ya hingga ketahuan sedang tersesat. "Ya begitulah, oh iya, apa jarak dari sini ke Jalan Quincy jauh?"
"Hm.. Menurutku tidak, kau bisa naik taksi. Mungkin hanya 10 menit. Siapa namamu?" tanya perempuan itu sambil tersenyum manis.
Semburat merah muncul di wajah Ishida, ia tidak bisa mengelak kalau perempuan yang duduk di sampingnya ini memang cantik dan manis hingga mampu membuatnya sedikit salah tingkah. "Umm.. Aku Ishida Uryuu. Kau?"
"Ishida Uryuu? Pantas saja wajahmu seperti tidak asing lagi, ternyata kau orang yang tadi malam kulihat di Tv. Perkenalkan aku Inoue Orihime."
To be Continued
Balasan Review :
Ruki4062jo : Hahaa... Tos! Tapi keanya rada keterlaluan yak, sudahlah masa bodo gw. *dilempar*
Raiko Aizawa : Iyapz.. Dia mah OC sekaligus asisten sekaligus babu gw. Hahaha..
Kuchiki Rukia-taichou : Hoho.. Tau ga ya.. Nantikan chapter-chapter selanjutnya. *digantung*
Tako-agni : Ayah tahun 2010 tuh. Hahaa...
-attakuchiki- : Hahaha.. Iya akhirnya kissu juga mereka. Wakaka.. tadinya mau w jadiin babu, tapi kasian juga mukanya udah melas sgitu.
Kuchikichii Icha : Lah kalo dilemparin kartu kredit mah gw malah kesenengan. Haha.. Nyemangatin Renji nih yee..
Meong : Hahaa. Ga ada tampang yah? Biarlah sekali-sekali. Wah baru tau lo kalo gw ini mesum? Kemana aja mas?? *digeplok*
The Great Kon-sama : Yah.. ada yang baru bangkit dari kubur neh *disiram*. Sepupu gadungan tuh dia *nunjuk Mayen – dibankai*
Namie Amalia : Haha.. Penyakit lebaynya Isshin nular ke Hisana tuh. Yep IchiRuki poreper!!!
Hiru Shi-chan : Makanya jangan suka suuzon. Wakaka..
Violet Murasaki : Haha.. makasih, tauk tuh. Bikin susah aje ye dia. Tapi ga nyangka juga kenapa bs jd banyak yang ga suka sama dia ya?
Sorayuki Nichan : Yahh.. minta sama Ichi langsung aja sana. Wahh.. mesum juga nih mau ikutan liat.
Kazuka-rizu eglantine : Haha iya nih. Misinya buat perdamaian dunia *ditendang*.
Ruki_ya : Wah.. Mayen dibilang cerdik? Kaga salah tuh? Ckckck.. nah makanya jangan suuzon dulu mba. Hehe
Monkey D. Cyntia : Mba mingkem mba, ingat ma yang diatas wkwkwk.. iya tenang aja ada IshiHime kok untuk chap depan. Gw juga mau ada guru kaya Hitsu di skula w..
Sunako-chan : Ishida tertarik tuh. Haha..
Jess Kuchiki : Iya, pada elite semua~. Haha..Lebay semua~ fic terlebay gw nih, haha..
Mayonakano Shadow Girl : Hehee. Iya nih jadi nge-bash banget. Maap ye Inoue, wokokoo.. Makasih..
Ichirukiluna gituloh : Jiah. Kebiasaan deh repiu dulu baru baca, kebalik ihh..
Vamput* amano : Lahh.. Jangan peluk Byakkun gw!!!
KuroShiro6yh : Makanya jangan suuzon dulu mas. Hohoo..
Ichikawa Ami : HAH?? Ga mungkin lo dapet ciuman dari Ichi!! Waah.. Omes ni anak.
Hibari Kyouya : Yupz! Thank you!!
shiNomori naOmi : Eh? 2 shift?? Wuahh.. Zangetsu mau nyium Ishida? Ckckck..
Yumemiru Reirin : Iyah! Berani dia. Hahaa... waspada dengan penyakit Isshin!!
Beby-chan : Haha.. Mayen kaga ada tampang jahat, yang ada malah tampang melas. Ichigo kelepasan tuhh!!!
Miyamiyamiyayam : Lah.. Tapi chap ini RenRuki. Wakakak.. kasian juga Renji kalo dikurangin. Haha.. tetep deh lo yang paling heboh.
Shirayuki haruna : Jenis orang tua tahun 2010 tuh. Haha..
Sora Chand : Iya gapapa kok. Hehe.. makasih udah suka ma fic super lebay ini.
Rukiahinata : Renji pun juga mulai bergerak. Hohoo..
Joe : Hee.. Maaf ya, tapi w mank belum dewasa kok. Masih remaja *dikemplang*
Ryo : Oh gitu ya... Mary sue yaa...
Viant'ss : Ohh.. Oke idenya gw pikirin nanti. Makasih ya.
Hanamori Kuchiki : Hah? Game apaa?
Cioneng : Iya ini udah update kok.
Hiks~ Hiatus lagi deh. Tapi tanggal 31 gw bakal publish fic buat ultah Byakkun!! Okelah, ayo tekan tombol ijo di bawah ini. Semoga yang neken masuk surga, amieen!!!
