A/N: Untuk semua teman yang sudah review, arigatou ya*membungkuk*. Semoga kalian tetap membaca fic aku*dipukul*
Yosh! lanjut ke chapter ke dua.
Pagi itu di kelas 2-7 SMU Karakura.
"Murid baru?" Beberapa anak berseru.
"Ya." jawabku sambil tertawa kecil. Kemudian aku menoleh ke arah pintu kelas. "Ayo masuklah..."
Mata semua murid tertuju ke arah pintu kelas. Perlahan-lahan Rukia masuk dan berjalan menuju mejaku. Semua murid kelas itu yang terkenal tak bisa diam, terhanyut beberapa saat oleh kehadiran anak baru yang manis itu. Hal itu juga membuat seorang anak laki-laki berambut oranye dan bermata coklat tak berkedip menatap wajahnya. Entah kenapa rasanya gadis ini begitu menarik perhatiannya. Wajah anak laki-laki ini sedikit memerah.
"Ichigo!" Kiba memanggil pelan si rambut oranye sambil mengguncang-guncangkan tubuhnya.
"Aaah?" Ichigo agak tersentak kaget dan menoleh ke arah kanannya.
"Melamun terus. Dari tadi sudah kupanggil-panggil. Huh dasar!" Kiba menghela napas, tidak mengerti kenapa temannya ini tidak fokus.
"Aku pinjam pulpenmu. Tinta pulpenku sudah habis," pinta Kiba pada Ichigo sambil memperlihatkan isi pulpennya.
"Nih!" Dengan cepat ichigo memberikan salah satu pulpennya dan kembali memandang Rukia.
Kiba memperhatikan dan merasa tatapan Ichigo yang penuh arti pada Rukia.
"Aaah... Aku tahu! Jangan-jangan kau menyukainya ya?" goda Kiba sambil menyikut pelan tubuh Ichigo. Ichigo tersipu.
"Ssst! Diamlah Kiba nanti kita dimarahi guru Anko!" Ichigo meletakan jari telunjuknya pada bibirnya agar Kiba bisa diam. Kiba hanya menggumam kecil.
"Baiklah. Perkenalkan dirimu." Perintahku pada anak baru ini.
"Salam kenal. Namaku Rukia Kuchiki. Aku murid pindahan dari SMU Konoha. Senang bisa berkenalan dengan kalian semua dan mohon kerjasamanya." Rukia membungkuk.
"Salam kenal Rukia. Senang bisa bertemu denganmu!" Dengan berteriak, Naruto menyahut ucapan Rukia. Semua yang mendengar hampir tuli olehnya. Maklum saja, Naruto tiba-tiba berteriak seperti mendapat lotere, padahal suasana di kelas sedang tenang sekali.
DUKK! Sebuah pukulan tongkat kayu mendarat di kepala Naruto.
"Aduh! Kamu ini kenapa sih Renji-san?" pekik Naruto sambil memegangi kepalanya.
"Kamu tidak sadar ya, Naruto? Suaramu berisik sekali tahu! Telingaku hampir mau pecah! Dasar Bodoh!" teriak Renji dari belakang bangku Naruto.
Yang lain hanya bisa sweatdrop melihat kelakuan dua anak paling berisik di kelas ini. Walaupun ada beberapa anak yang berisiknya hampir sama dengan mereka.
"Kalian berdua juga berisik!" teriak Ichigo dan Kiba bersamaan.
Melihat kelakuan mereka, Lee bersiap-siap untuk ikut ribut. Tapi semua anak sekelas menyadari kebiasaan Lee, maka Ikkaku dan Yumichika langsung menutup mulut dan memegangi tangan Lee.
"KALIAN BEREMPAT INI BISA DIAM TIDAK, AAAH?" Empat buah penghapus papan tulis kulemparkan pada Naruto, Renji, Kiba dan Ichigo. Semua lemparan kena telak di kepala mereka berempat. Lemparanku sukses.
"Aww!" Mereka berempat mengaduh.
Aku menepuk-nepukkan tangannya sendiri. "Baiklah Rukia. Silakan cari tempat duduk untukmu." kataku pada Rukia yang sedang tersenyum melihat kelakuan teman-teman barunya.
"Baik, Sensei" Rukia mengangguk. Mata rukia menyapu ruang kelasnya, mencari tempat duduk untuknya. Kemudian, mata violetnya mengundangnya untuk mengambil tempat duduk di sebelah Ichigo. Ichigo sedikit terkejut.
"Salam kenal ya?" Sapa Rukia sambil tersenyum.
"S-salam kenal juga. Namaku Ichigo Kurosaki." Ichigo berkata dengan sedikit gugup. Sepertinya sebuah keberuntungan baginya, Rukia memilih tempat duduk disampingnya.
Jam istirahat.
Dalam sekejap saja kelas sudah sepi. Hanya ada Ichigo dan beberapa temannya yang masih duduk santai dibangkunya.
"Ichigo, maukah kamu menemaniku berkeliling sekolah ini?" tanya Rukia sambil mendekati Ichigo yang sedang berdiri di depan pintu kelas seorang diri.
Ichigo diam sejenak, ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, "Tentu saja." jawab Ichigo. Rukia tersennyum.
"Hei, Sasuke! Mereka cocok sekali ya?" tanya Sakura sambil menarik-narik tangan kekasihnya sambil memperhatikan Ichigo dan Rukia yang sedang berjalan berdua melewati halaman sekolah.
"Hn. Ya. Kupikir juga begitu," jawab Sasuke.
"Pantas saja Ichigo tidak mau diajak keluar." Renji tiba-tiba muncul menanggapi pembicaraan Sasuke dan Sakura. Renji bermuka masam.
"Ternyata dia malah enak-enakkan berduaan sama Rukia." lanjutnya.
"Kamu cemburu ya?" ejek Naruto sambil terkekeh, muncul menggandeng Hinata yang masih tampak malu-malu.
"Enak saja! Tidak kok!" Bantah Renji sambil menepuk-nepuk kepala Naruto.
"Jangan pegang-pegang kepalaku, Renji!" gerutu Naruto.
"Terserah aku 'kan mau apa?"
"Enak saja!"
Yang melihat hanya sweatdrop karena adu mulut mereka tidak pernah ada habisnya.
"Yooo, Anko! Kurenai!" Sapa Kakashi ketika menemuiku yang sedang duduk bersama Kurenai di kantin ramen. Kantin yang agak luas. Para guru dan murid bisa bebas memilih tempat duduk yang ada.
"Mau apa kau kesini?" tanyaku menunjukkan sikap dinginku. Ya, walaupun dalam hatiku, aku mulai menyukai Kakashi.
"Memang tidak boleh ya?" tanya Kakashi dari balik masker, dia menunjukkan senyumnya lewat matanya dan mengambil duduk di sampingku.
"Tidak Kakashi. Silakan saja" jawab Kurenai yang diikuti muka masamku sementara Kakashi tersenyum penuh kemenangan.
Aku hanya menghela napas. Dalam hati, aku merasa sedikit gugup duduk didekat Kakashi, namun aku berusaha menutupinya.
"Aku juga mau ramennya, Ayame" pinta Kakashi pada Ayame yang kebetulan lewat.
"Ya. baiklah" jawabnya singkat sambil tersenyum.
"Bagaimana kamu memakan ramen dengan maskermu itu Kakashi?" tanya Kurenai. Dia tahu, seorangpun belum pernah ada yang melihat wajah Kakashi. Juga tidak ada yang tahu alasan Kakashi selalu memakai maskernya.
"Tenang saja." Ucap Kakashi sambil tersenyum. Senyum itu membuatku tersipu. Aku mulai menyukai senyumnya yang dulu kuanggap hinaan, tapi aku buru-buru memejamkan mata untuk mengusir raut wajahku yang memerah agar tidak ketahuan.
"Kurenai!" Asuma memanggil Kurenai dan mendekatinya. "Aku ada perlu denganmu. Ayo kita pergi dulu." lanjut Asuma.
"Tapi aku sudah memesan ramen." jawab Kurenai.
"Sudahlah, ada hal yang lebih penting. Kita makan di ruang guru saja nanti" Asuma langsung meraih tangan Kurenai, "Maaf ya! Anko! Kakashi!"
Asuma menarik tangan Kurenai dan pergi bersamanya, meninggalkanku dan Kakashi berdua.
Hening sejenak.
"Uhmm... aku juga ada urusan." ujarku sambil berdiri dan bersiap melangkahkan kaki. Berdua saja dengan Kakashi membuatku gugup dan canggung. Terlebih ada perasaan gengsi juga pada diriku yang biasanya selalu kesal padanya.
"Dia?" batinku. "Apa yang harus kulakukan?"
"Hey! Lepaskan tanganku!" ucapku kasar.
"Makanannya sudah dipesan 'kan?" Kakashi menarik tanganku. Dan entah kenapa aku malah menuruti saja perintahnya.
"Ya, baiklah. Biarpun mulutmu tajam, aku langsung bisa memukulmu," ucapku sambil tersenyum padanya.
Kakashi hanya menggeleng-geleng kepala. "Aku tidak mau ribut denganmu." jawabnya.
Mendengar jawabannya, aku tidak bertanya lagi.
"Di kelasmu ada murid baru ya?" tanya Kakashi memulai pembicaraan.
"Ya, begitulah. Dia murid pindahan dari SMU Konoha. Dia.." Belum sempat Aku meneruskan kalimatku, Rukia datang bersama Ichigo.
"Anko-sensei!" panggil Rukia, dia bersama Ichigo kemudian datang ke meja tempatku dan Kakashi.
"Rukia? Ayo kalian duduk di sini." ucapku menyuruh mereka duduk.
"Baiklah, terima kasih." Rukia dan Ichigo mengambil tempat duduk berhadapan dengan Anko dan Kakashi.
"Ini murid baruku namanya Rukia." kataku sambil melirik Kakashi.
"Salam kenal Rukia. Namaku Kakashi Hatake guru bahasa inggris kalian." Kakashi memperkenalkan dirinya.
"Salam kenal juga Kakashi-sensei." Rukia sedikit membungkuk.
"Kakashi-sensei dan juga Anko-sensei makan berdua saja?" tanya Ichigo. "Jangan-jangan..."
"Tidak. Tadi ada Kurenai-sensei juga kok, tapi dia dipanggil Asuma-sensei" jawabku cepat melihat Ichigo sepertinya mulai jahil.
"Kalian mau makan apa?" tanyaku pada Ichigo dan Rukia.
"Tidak Anko-sensei. Kami hanya…." ucapan Rukia terputus.
"Kakashi-sensei yang akan traktir!" Aku memotong ucapan Rukia sambil tersenyum lebar. Kakashi melirik kearahku. Aku tertawa.
"Kena kau!" pikirku. Puas rasanya melihat ekspresi Kakashi mendelik padaku.
Ichigo yang tahu tentangku dan Kakashi itu hanya tertawa kecil.
"Ada apa?" tanya Rukia pada Ichigo.
"Aaah tidak apa-apa….Ayo kita makan sampai puas! Kakashi-sensei akan mentraktir kita" ucap Ichigo.
Aku tertawa lagi. Sementara Rukia dan Kakashi tersenyum, Ya walaupun senyum Kakashi memang sedikit dipaksakan.
Disela tawa kami, dibalik pepohonan yang tidak jauh dari kantin itu, ada orang yang terus memperhatikan dari kejauhan dan memperlihatkan raut wajah yang tidak senang. Siapakah dia?
-TO BE CONTINUED-
