Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
Bleach © Tite Kubo
Setting : Kota karakura
Note : Hanya kehidupan biasa tanpa hollow dan kekuatan shinigami
"Ya, sesuai perintah Byakuya-sama, aku akan mengawasi Rukia." ucap laki-laki berambut perak itu sambil membetulkan kacamatanya. Tangan kanannya masih memegang handphonenya sambil tetap mengawasi dari balik pepohonan.
"Kau yakin bisa mengatasinya?" tanya Byakuya.
"Tentu saja. Aku tidak akan membiarkan suatu hal yang buruk terjadi pada Rukia." Kabuto meyakinkan.
"Baiklah... aku percayakan ini padamu,... Kabuto..." Byakuya memutus konunikasinya.
"Kau selalu bersikap dingin, Byakuya-sama," Kabuto memasukkan handphone ke sakunya. Dalam hitungan detik, senyumnya tergambar diwajahnya. Ia yang sebagai mata-mata sepertinya merencanakan sesuatu.
Seminggu sudah berlalu. Rukia merasa sangat tenang berteman dengan teman-teman barunya. Ia juga sudah merasa tidak canggung lagi. Sakura juga merasa senang, bukan hanya dirinya yang sering memukuli kepala Naruto jika Naruto berbuat ceroboh dan seenaknya. Tapi Rukia juga bahkan pernah memukulnya, bahkan kelewat keras. Ada Hinamori yang selalu baik dan lembut padanya. Ada juga Ino yang banyak bicara diantara mereka. Suasana kelas mereka benar-benar ramai.
"Rukia-san!" panggil anak laki-laki berambut oranye, berlari kecil menghampiri Rukia yang berjalan tepat didepan gerbang sekolah bersama Sakura, Sasuke, Hinata dan Naruto.
Semua menoleh, "Ichigo-kun? Ada apa?"
Ichigo hanya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. "Aaah, sebenarnya begini, Anko-sensei menyuruhku mengajarimu untuk beberapa pelajaran yang tertinggal. Sebentar lagi ada ulangan umun, jadi ia memintaku untuk mengajarimu. Jadi boleh aku kerumahmu?" pinta Ichigo sambil berusaha menyembunyikan warna wajahnya yang memerah.
"Bagaimana kalau besok saja diperpustakaan? Soalnya aku sudah janji pada Naruto, Hinata, Sakura dan Sasuke untuk pergi bersama hari ini." Rukia tersenyum.
"Jadi begitu ya?" Ichigo menghela nafas.
"Aaah soal pergi bersama kami nanti saja Rukia-san, belajar 'kan yang lebih penting, benar bukan Hinata-san?" Sakura buru-buru mengibas-ngibaskan tangan dan melemparkan pandangannya mengangguk.
"Be-benar..." jawab Hinata sambil mengangguk dan menyunggingkan senyum.
"Aaah belajar sih nanti saja, lagipula 'kan kita sudah janji..." Naruto menyeletuk.
"Naruto..." Sakura memukul kepala Naruto dan mengunci kepalanya. "Benar kok tidak apa-apa," lanjut Sakura sambil berusaha tersenyum.
"Dasar bodoh," gumam Sasuke pada Naruto.
"A-Apa katamu Sasuke?" Naruto mengepalkan tangannya pada Sasuke dan dipukul Sakura lagi.
"Kalau begitu sampai jumpa nanti," Sakura segera membawa teman-temannya pergi.
Rukia menatap bingung namun tetap tersenyum.
"Kita ke rumahmu kan?" tanya Ichigo memastikan.
"Ya, ayo ke rumahku" Rukia tersenyum.
"Tidak! Kaien-nii" teriak Rukia.
Dihadapannya, laki-laki berambut hitam itu bersimbah darah. Darahnya mengalir deras seperti layaknya hujan yang membasahi tubuhnya.
Rukia terlihat sangat shock. Laki-laki yang dipanggil Kaien yang merupakan kakak kelasnya dan juga orang yang disukainya selama ini, sekarat dipangkuannya.
"R-rukia...aku tidak apa-apa" jawab Kaien sambil berusaha menyunggingkan senyum dibibirnya. Nafasnya terdengar sudah tersengal-sengal.
"Sudah! Kaein-nii jangan bicara lagi," Rukia menumpahkan air matanya, air matanya jatuh ke pipi Kaien.
"Kau... jadilah anak yang baik Rukia... dan... sebenarnya aku..." Belum sempat kata-katanya keluar dari bibirnya, Kaien menghembuskan nafasnya yang terakhir.
"Dan? Dan apa Kaein-ni? KAEIN-NII!" teriak Rukia sambil memeluk Kaein.
"KAIEN-NII!" teriak Rukia.
Dia bangun dari tidurnya. Keringatnya bercucuran dan nafasnya tak beraturan. " Mi-mimpi..." gumam Rukia ketika sadar ia sedang berada dikamarnya.
Rukia menarik nafasnya, berusaha menenangkan pikirannya.
"Rukia. Kau tidak apa-apa?" tanya seseorang dari balik daun pintu kamarnya, suara Byakuya.
Rukia segera meraih pintu dan membukanya, "Ti-tidak apa-apa Nii-sama," jawabnya sambil berusaha tersenyum.
Ia segera melangkahkan kakinya lebih cepat, mengambil air dari lemari es, meneguk habis isinya.
"Kau... jangan memikirkannya lagi," ucap Byakuya.
Rukia menunduk. "Maaf Nii-sama," ujarnya sambil melangkahkan kakinya ke kamarnya.
"Tadi siang temanmu datang berkunjung?" tanya Byakuya.
"Ba-bagaimana Nii-sama tahu?" Rukia bingung. Seingatnya tidak ada yang memberitahu siapapun pada Byakuya.
"Sebaiknya kau jangan terlalu dekat dengannya," perintah Byakuya sambil beranjak.
"Ta-tapi..." Langkah Byakuya terhenti dan kemudian menoleh.
"Jangan membantah," tegas Byakuya pergi meninggalkan Rukia seorang diri.
Rukia menghempaskan tubuhnya ditempat tidurnya. Pandangannya menerawang, menatap langit-langit kamarnya, sebenarnya itu bukanlah sekadar mimpi, itu kenyataan. Kenyataan dimasa lalunya. Inilah alasannya kenapa Rukia harus pindah ke kota Karakura. Byakuya sangat mempedulikan Rukia. Karena Rukia satu-satunya anggota keluarganya yang amat ia sayangi. Byakuya tidak tega adikknya terlarut dalam kesedihan, mengajaknya pindah ke kota yang baru dan sekolah yang baru, berharap adiknya dapat melupakan Kaien dan masa lalunya yang suram. Sejak meninggalnya Kaien, Rukia tidak mau makan bahkan sampai sakit berminggu-minggu. Bahkan ketika ia masuk sekolahpun, masih terlihat jiwanya terlihat rapuh. Itulah alasnnya sekarang Rukia pindah ke SMU Karakura. Tapi apakah karena kejadian itu dirinya tidah boleh berteman akrab dengan Ichigo. Ichigo sangat baik. Tidak seharusnya persahabatan mereka dilarang.
Rukia menghela nafas sejenak dan tanpa sadar kemudian tertidur.
"Rukia-san!" Ichigo memanggil Rukia ketika sampai dikelasnya.
"Jangan berisik! Tidak perlu teriak-teriak juga sudah kedengaran bukan?" geram Rukia. Dikepalanya ada sudut siku-siku yang terbentuk.
Ino, Hinamori dan Hinata yang memperhatikan Ichigo langsung tertawa.
"Ichigo bersemangat sekali ya bertemu Rukia," Ino berpendapat.
"Eh?" Rukia menoleh pada Rukia.
"Ayo cepat! Kita harus ke perpustakaan!" Ichigo langsung menarik tangan Rukia.
"Hei! Hei" Rukia berteriak namun tangannya tetap ditarik Ichigo sambil keluar menuju ruang kelas.
"Apa yang mereka sedang lakukan itu?" Hinamori menggumam.
"Biarkan saja mereka," ucap Sakura sambil mengibas-ngibaskan tangannya pada Hinamori
"Hei kalian buru-buru sekali," tegurku ketika melihat Ichigo dan Rukia berlari melewatiku.
"Ini mau jam masuk kelas,"
"Ya, sensei. Kami akan cepat datang kok," ucap Ichigo sambil terus berlari sambil menoleh padaku.
"Uhmm... dasar" gumamku sambil berbalik, namun langsung terkejut ketika melihat Kakashi sudah ada didepanku.
"Whoa~ Kakashi-kun! Kau mengagetkan saja..." ucapku gelagapan.
"Hn? Konsentrasimu buruk sekali,"
"Enak saja! Kau yang tiba-tiba berdiri dihadapanku!" nadaku sedikit meninggi.
Kakashi tertawa sambil menggaruk-garukkan kepalanya, " Aku bercanda... Sebenarnya aku hanya..."
"Kakashi-kun!" suara Genma dari arah Kakashi mengejutkan kami.
"Kau dipanggil Pak Yamamoto," Genma memberitahu.
"Ya, aku akan segera kesana, Arigatou Genma-kun" Kakashi menjawab. Genma mengangguk.
"Kau tadi mau bilang apa?" tanyaku.
"Aaah tidak, nanti saja. Sampai jumpa lagi Anko-san," Kakashi melambaikan tangan dan kemudian pergi bersama Genma.
"Uhmm..." gumamnku sambil berjalan kembali menuju kelas.
"Ichigo-kun? Rukia-san?" Kabuto menyapa mereka berdua sewaktu Ichigo sedang duduk bersama Rukia di perpustakaan.
"Boleh aku bergabung bersama kalian?" tanyanya.
TO BE CONTINUED
