Jumpa lagi minna~ :)
Haha kali ini saya tidak bisa banyak bacot *halah* oke, sekarang selamat membacaaa XD
Naruto © Masashi Kishimoto
Story © Kira Desuke
Warning : OOC, AU, typo?
Pairing : SasufemNaru
Genre : Romance/Angst
Flames NOT ALLOWED and that won't work with me
.
.
ANSWER
CHAPTER 2 : WHO ARE YOU?
"Emm Naruto?" panggilku ragu ketika sedari tadiku memperhatikan, Naruto sama sekali tidak berkedip menatapku. Walau sudah terbiasa diperhatikan dengan gadis normal, tapi nyatanya tetap saja risih lama-lama diperhatikan dengan gadis robot.
Naruto kembali menatapku, "Ya, Sasuke-sama? Ada yang bisa saya bantu?" tanyamu sambil tersenyum lagi. Hahh, sepertinya robot yang satu ini memang diprogram untuk selalu tersenyum. Tapi harus kuakui, ini kedua kalinya aku kalah dan luluh dengan senyum perempuan, tepat setelah Sakura pastinya.
Ah, aku jadi teringat lagi.
Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Jadi teringat dengan pikiranku tadi. Pikiran yang mengatakan bahwa Naruto sangat mirip dengan Sakura. Uuh, berpikirlah lebih jernih Sasuke! Dia hanya robot! Mana mungkin bisa menyamakan atau bahkan mengalahkan Sakura yang notabene manusia asli dan normal.
"Sasuke-sama?" tanyanya lagi membuatku kembali tersentak. Dengan agak gugup aku menoleh dan menatap mata biru langitnya.
"Ambilkan obat yang ada di samping tempat tidurku," akhirnya perintah yang dari tadi susah kukatakan keluar juga dari mulutku. Naruto terlihat mengangguk dan segera berlalu meninggalkanku.
Aku mengeluarkan nafas lega. Dari tadi detak jantungku tidak beraturan. Entah karena penyakit yang sudah lama kuderita ataukah karena Naruto? Ah, kalau begini aku jadi tidak yakin sebulan ke depan. Oh Itachi, mungkin ini pertama kalinya aku menginginkanmu untuk segera pulang. Aku membaringkan diriku di atas sofa. Tch, Naruto lama sekali mengambil obatku. Sudahlah, lama-lama aku mengantuk juga saat kepalaku terkena bantal yang ada di sofa. Perlahan tapi pasti, kubiarkan driku terhanyut di alam bawah sadar...
.
Normal POV
"Sasuke-sama, saya sudah membawakan obatnya," Naruto berjalan mendekati tuannya yang terbaring di atas sofa. Karena mata onyx Sasuke tertutup dengan tangannya, sehingga Naruto tidak tahu bahwa saat itu sang tuan sudah tertidur nyenyak, "maaf saya terlambat 5 menit 2 detik untuk mengambilnya, karena ada banyak sekali obat di samping tempat tidur tuan. Dengan kata lain saya harus membaca satu-satu nama obat yang ada di sana," jelas Naruto dengan detil. Namun Sasuke tetap tidak menjawab.
"Sasuke-sama?" Naruto akhirnya memegang sekilas tangan Sasuke. Namun itu cukup untuk membuat tangan itu terjatuh hingga menampakkan kelopak mata Sasuke yang menutupi bola mata onyxnya, membuat Naruto menatapnya polos.
Gadis robot berkuncir kembar itu menatap Sasuke dari bawah sampai atas, "Ini sofa, dan bukan tempat untuk tidur Sasuke-sama," gumam Naruto sambil berusaha menggoyangkan tubuh Sasuke perlahan, namun laki-laki raven itu sama sekali tidak bergeming, "bangunlah Sasuke-sama," panggil Naruto lagi, tapi hasilnya tetap nihil.
"Apa boleh buat," Naruto memposisikan dirinya dan segera menjulurkan tangannya untuk menggendong Sasuke dengan bridal style. Aneh memang, mengingat Naruto adalah perempuan, masa' menggendong laki-laki dengan bridal seperti itu? Tapi, itu bukan hal mustahil untuk Naruto yang sudah diprogram memiliki tenaga yang sama dengan seekor kuda.
Naruto membawa Sasuke perlahan menuju kamarnya, "Ini tempat yang benar untuk manusia tidur, Sasuke-sama," bisik Naruto pelan saat dia melihat kasur di depan matanya. Naruto mulai membaringkan Sasuke di atasnya.
"Oyasumi masuta..."
.
.
Sasuke POV
Kubuka mataku perlahan. Berkali-kali kukedipkan mataku, untuk membiasakan diri setelah bangun dari tidur. Aku tertegun saat melihat langit-langit kamarku yang berwarna biru muda. Untuk memastikan, aku menoleh ke sana kemari melihat semua perabotan yang ada. Ah memang benar, ini kamarku. Tapi kenapa aku bisa di sini? Seingatku tadi aku ada di atas sofa. Siapa yang membawaku? Masa' Naruto?
"Anda sudah bangun Sasuke-sama?" tanya seseorang di luar pintu yang kini terbuka sedikit dan kepala seseorang mengintip ke dalam. Aku menatap kedua bola mata biru sapphirenya, oh Naruto.
"Ya," jawabku singkat, padat, dan jelas. Lalu Naruto masuk dan membawakan nampan yang di atasnya ada piring yang—kalau kucium dari baunya—berisi nasi goreng, "saatnya makan malam Sasuke-sama," ucapnya dan aku hanya mengangguk lalu segera memposisikan diriku senyaman mungkin di atas tempat tidur.
"Silahkan,"
"Hn," aku menjawab malas saat Naruto menyerahkan nampan itu di atas tubuhku. Aku membukanya penutupnya perlahan, malu mengakuinya tapi bau nasi goreng itu menandakan kalau rasanya sangat enak. Perlahan tapi pasti aku mulai memegang sendok dan menyuapi perlahan.
Aku terdiam melihat Naruto yang terus memandangiku saat makan, ah menyebalkan pandangannya itu membuatku risih, "Ngg, Naruto," panggilku. Matanya membulat menanggapi panggilanku, "Bisakah... Kau berhenti menatapku seperti itu?" tanyaku.
"Kalau begitu, apa yang harus saya lakukan Sasuke-sama?" tanya Naruto. Aku merasakan wajahku menghangat melihat senyumnya. Ah Sasuke, kenapa lagi kau?
"Ngg ah apa ya," aku melirik ke sana kemari, berusaha melihat yang lain agar aku tidak bertatapan dengan mata biru langitnya yang terang itu, "err mungkin membereskan kamar tidurku agar jauh lebih rapi?" akhirnya perintah itu sukses keluar dari mulutku.
Naruto mengangguk, "Baik Sasuke-sama," dan dalam hitungan menit berikutnya terlihat Naruto berlalu lalang di depan kasurku. Meskipun tak mau, mata onyxku terus mengekori ke arah dia pergi. Aku menggelengkan kepalaku berusaha fokus dengan nasi go—
Praang
—rengku.
"Shit," umpatku kesal setelah sukses menjatuhkan piringku yang berisi nasi goreng hingga nasinya dengan mubazir tercecer di lantai kamarku. Kudengar Naruto melangkah mendekatiku sementara kepalaku masih tertunduk melihat ke bawah.
"Biar saya yang bereskan Sasuke-sama," gumam Naruto dan segera membungkuk. Namun tanganku masih di bawah. Naruto menjulurkan tangannya hingga, jari-jarinya yang lentik itu sukses menyentuh tanganku.
Aku tertegun dan reflek kepalaku terangkat untuk menatap Naruto di depanku. Tapi Naruto sama sekali tidak bergeming, dia tetap fokus pada tugasnya mengambilkan butiran-butiran nasi yang jatuh di lantai. Aku hanya bisa menatap rambutnya yang berwarna pirang dan dikuncir kembar itu. Sepertinya dia tidak merasakan apa-apa saat menyentuh tanganku.
Oh aku lupa, dia kan robot!
Hahh beapa bodohnya aku. Wajar saja Naruto tidak merasakan apapun saat menyentuhku. Dia robot dan lagi dia tidak mempunyai perasaan. Sasuke, sebenarnya apa yang kau harapkan dari robot ini? Kenapa? Kenapa aku berdebar dengan hanya melihatnya? Menatap mata biru langitnya? Kenapa? Padahal dia tidak merasakan apapun. Apa mungkin aku menyukainya?
Menyukai 'robot' itu?
Jangan bodoh Sasuke! Hidupmu hanya tingal menunggu dan menghitung waktu. Kau tidak boleh mengharapkan apapun, apalagi dari robot yang tidak mempunyai perasaan seperti ini.
"Saya sudah selesai, Sasuke-sama," ucapan Naruto membuyarkan lamunanku. Aku menatap mata birunya. Lagi. "Mau saya buatkan makanan lagi?" tanya Naruto sambil tersenyum. Oh tidak, jangan tunjukkan senyum itu.
"Ngg," wajahku menghangat atau bahkan mungkin memerah melihat senyum tulusnya. Sial! Aku tidak pernah begini sebelumnya selain bersama Sakura, "tidak usah," kata-kataku keluar juga setelah aku menarik nafas.
Naruto tersenyum dan mengangguk, "Baik," gumamnya. Dan lagi-lagi dia hanya berdiri dan menatapku dengan mata biru langitnya. Ah, aku jadi merasa serba salah. Aku harus segera mencairkan suasana yang jadi menyesakkan dan membuatku risih ini.
"Naruto," gadis robot itu menoleh, "apa kau tahu dengan perasaan yang dinamakan cinta?" tanyaku. Ukh, aku benar-benar merasa gila setelah menanyakan ini.
Naruto terdiam sesaat lalu menunduk, "Gomen ne, saya tidak tahu Sasuke-sama," jawabnya pelan, dia menatapku dengan perasaan yang amat bersalah, "kata 'cinta' tidak dapat saya temukan di dalam komputer yang ada di kepala saya," gumamnya lagi dengan polos. Aku mengangguk mengerti, perasaan kecewa sedikit terlintas di benakku.
"Tak apa," aku hanya membalas. "Kalau gitu, apa yang kau tahu tentang perasaan?" Naruto kembali menggeleng.
"Saya ingat Danzou-sama pernah mengatakan pada saya, kalau saya tidak memiliki perasaan. Tapi sampai sekarang saya tidak mengerti apa itu perasaan," jelasnya dengan wajah polos yang..
Manis.
Ukh, sadarlah Sasuke!
"Be-Begitu, ah ya tolong ambilkan obatku di luar," perintahku. Naruto mengangguk dan segera berjalan menuju keluar pintu.
Mendengar suara pintu ditutup, aku menghembuskan nafas lega dan segera memegang kepalaku yang tiba-tiba terasa pening. Ah, aku jadi ingat hidupku yang tinggal menghitung waktu karena penyakit kanker otakku ini. Aku sedikit kecewa. Aku tahu perasaan apa yang dari tadi menyelimutiku ini. Karena aku pernah merasakannya saat Sakura ada di sampingku. Ini perasaan khusus. Aku senang aku bisa merasakannya lagi. Padahal kupikir dulu, aku sudah mati rasa sehingga aku bisa menerima kematianku nanti.
Tapi sekarang berbeda. Aku kembali merasakannya. Perasaan yang mengatakan aku harus tetap hidup agar bisa terus disampingnya meskipun dia tidak tahu perasaanku. Namun, setiap aku berpikir aku ingin tetap hidup, rasa sakitku malah semakin bertambah. Seolah mengingatkan aku tidak mempunyai kesempatan lagi. Kenapa? Apakah aku tidak ditakdirkan untuk bahagia? Kami-sama, kenapa kau begitu kejam padaku? Benteng pertahananku yang dingin ini pun hancur. Air mata meleleh, mengalir di pipiku saat aku menunduk. Merasakan rasa sakit yang amat sangat di kepalaku.
"Aku mencintainya.."
To Be Continued
Oke, special thanks for :
Lavender Hime-chan, Ka Hime Shiseiten, Uzumaki Winda, Snow of Priscila, Pet pet pet, moonmu3, Azuka Kanahara, Kaori a.k.a Yama, TakonYaki, Cendy Hoseki, Queliet Kuro Shiroyama, popoChi-moChi, cute apple, Michiru No Akasuna, Athrun-GothicLolita, Dhevitry Haruno, Vipris
Lavender Hime-chan : Hehehe maaf maaf XD tapi slight banget kok tuh. Sakuranya aja udah mati ==v *dihajar* hehe makasih dah review ya Cici~ X3
Azuka Kanahara : Nee gomen say, Itachinya muncul di awal dan akhir cerita doang hohoho~ *kicked* tapi emang slight SasuSaku mengingat saya adalah big fans of that pairing wkwkwk *plak* thanks udah review! XD
Kaori a.k.a Yama : He? Kayaknya aku pernah baca komik kayak gitu juga deh. Tapi aku lupa judulnya apa, mungkin emang itu kali ya ahaha *innocent -dibakar* betul betul Naru cewek cantik banget, saya sampai jatuh cinta (?) *dlempar* hehe makasih banyak udah revieeew!
TakonYaki : Iya, sebenarnya aku juga pernah baca komik tentang robot gitu. Dan aku memang mengambil konsepnya dari situ hehe *plak* tapi aku lupa judul dan jalan ceritanya, makanya aku berharap cerita yang kubuat ini gak sampai mirip komik tersebut ==v *berdoa di pojokan* btw, thanks udah review! :D
Cendy Hoseki : Wah terima kasih sudah mau ngefavee XD Iya, di sini Naruto robot beneran kok, hanya aja dimodifikasi tubuhnya seperti manusia biasa. Makanya Sasuke kepincut (?) *dilempar tomat* thanks udah revieew! :3
Cute apple : Sama-sama hahaa XD aku juga minta maaf soalnya telat :3 *puppy eyes (?)* hehe sengaja Sakuranya kuhilangkan, agar menghindari bash. Mengingat saya juga Sakura fans X3 *meluk mayat Sakura (?)* sebenarnya gampang kok, teh biasa yang tinggal ditambahin kayu manis secukupnya. Cuma takaran kayu manisnya itu yang susah untuk menyenangkan selera *halah* aku dapat ide ini dari komik Detective Yakumo hahahaha *dihajar* thanks udah review! :D
Athrun-GothicLolita : Ne? MAAF! DX sumpah aku juga gak tahu kok. Karena idenya numpang lewat, makanya langsung aku ketik. Bener-bener gomen yaa m(_,_)m terserah Rii-chan kalau mau publish juga. Toh kata Rii-chan beda inti ceritanya kan? :3 Santai aja hehe, thanks udah review!
Dan terima kasih untuk semuanya yang sudah membaca fic ini. Thank you very much, I'll very appreciate it XD
Boleh minta review lagi? :D
NB : Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan~
