Yup, jumpa lagi! Aaa~ saya tidak tahu mau ngomong apa, selain MINAL AIDIN WAL FAIDZIN aja ya. Jaga-jaga kalau nanti aku gak sempet ngucapin pada hari H-nya :)

Yosh, selamat membacaaa!

Naruto © Masashi Kishimoto

Story © Kira Desuke

Warning : OOC, AU, typo?

Genre : Romance/Angst

Pairing : SasufemNaru

Flames NOT ALLOWED and that won't work with me

.

.

ANSWER

CHAPTER 3 : DO YOU UNDERSTAND?

Sejak dari tadi aku terdiam memikirkan perasaanku ini. Aku berpikir, harus secepatnya aku menghilangkan perasaan aneh ini sebelum terlambat. Aku tidak mau mati dalam keadaan menderita karena tidak bisa bersamanya. Aku harus bisa!

"Sasuke-sama,"

Deg!

"Ah Na-Naruto, kau mengagetkanku saja," ucapku sambil mengelus dadaku yang tadi serasa berhenti berdetak sesaat. Dan, itu terjadi hanya karena aku mendengar suaranya? Benar-benar gila.

"Gomen, ini obatnya," Naruto memberikan beberapa bungkusan obat padaku. Aku hanya mengangguk dan menerimanya. Setelah itu, aku langsung mengambil air putih dan saat hendak meminumnya—

—Naruto mencengkram tanganku yang memegang obat.

"Apa-apaan kau?" hardikku sedikit kesal karena gelas berisi air putih di tanganku hampir saja tumpah. Aku sedikit tertegun melihat mata biru sapphire Naruto menatapku tajam.

"Manusia harus meminum obat sesuai aturan," ucapnya memulai penjelasan, "menurut aturan, obat itu harus diminum setelah makan. Tapi, Sasuke-sama belum memakan apa-apa dari tadi," jelasnya tegas. Aku ingin membantah, tapi entah kenapa lidahku terasa kelu.

"Tunggulah, saya akan membuat makanan baru lagi," ucapnya bebarengan dengan tangannya yang melepaskan tanganku. Aku terus terdiam, mata onyxku tidak bisa lepas dari mata biru sapphirenya yang selalu bisa menatapku dalam. Jauh ke dalam.

Setelah Naruto keluar dari kamarku, aku menarik nafas panjang. Pikiranku benar-benar berkecamuk hari ini. Menyebalkan sekali. Kutatap obat tablet yang ada di tanganku dan kucengkram erat hingga kurasakan tablet itu hancur di tengah kepalanku. Aku merasa tidak enak hari ini, rasanya ada sesuatu yang akan mendatangiku. Ingin rasanya aku keluar, berteriak sekencang mungkin mengeluarkan penat di dada. Aku melirik pigura fotoku bersama Sakura di samping tempat tidur.

Aku mengeluh, kenapa ya perasaanku mengatakan kalau aku tidak akan bisa melihat pigura itu lagi untuk selama-lamanya. Aku.. ingin berziarah ke makam Sakura lagi, tapi begitu kulihat jam rupanya sudah jam 10 malam, aku mengurungkannya. Kalau ada Itachi, aku yakin dia tidak akan mengizinkanku dan memarahiku habis-habisan seperti biasa.

Itachi, kenapa aku jadi merindukannya? Padahal belum sehari juga Itachi meninggalkanku. Sudah lama aku tidak merasakan perasaan ini. Perasaan dimana aku ingin Itachi berada di sampingku, mengelus rambutku, mendengarkan keluh kesahku, lalu memelukku. Uh, seperti anak kecil memang, aku akui itu. Tapi gara-gara Itachi yang selalu memperlakukan aku seperti itu tanpa mempedulikan umur, malah membuatku terbiasa. Yeah, Itachi berhasil menjadi tipe kakak yang 'gampang dirindukan adiknya'. Mungkin?

Lama-lama memikirkannya membuatku tak tahan juga. Segera aku ambil Hp di samping tempat tidur dan menelpon kontak Itachi. Nada tunggu terdengar dari sana, sambungan pertama terputus. Begitu kucoba yang kedua, akhirnya Itachi mengangkatnya.

"Halo,"

'Ah Sasuke? Ada apa?' tanya Itachi dari seberang sana. Suara berisik melatar belakanginya. Aku terdiam, sebenarnya aku bingung mau bicara apa dan apa tujuanku menelponnya. Kalau aku bilang karena aku kangen, aku yakin dalam hitungan detik setelah mendengar itu Itachi akan tertawa terbahak-bahak.

"Tidak, hanya ingin menelpon saja," aku menarik nafas, "apa yang sedang kau lakukan? Kenapa berisik sekali?" tanyaku kaku.

'Oooh, wajar dong! Aku sedang berada di pabrik nih,' jawab Itachi. Sesekali kudengar dia berteriak memberi perintah pada para bawahannya, 'Sasuke? Bagaimana kalau nanti kutelpon lagi? Sekarang aku sibuk sekali,' pinta Itachi dari seberang.

Aku terdiam sesaat, "Hn, baiklah," setelahnya aku langsung mematikan sambungan telpon. Aku membaringkan diriku menatap langit-langit kamar.

Ah, Naruto lama sekali sih?

.

Normal POV

"Ya ya, betul. Tempatnya bukan di sana! Nanti terkena sinar matahari, taruh saja di gudang. Oh ya, baik. Hei hati-hati memegangnya!" seorang laki-laki berambut panjang hitam dan dikuncir ke bawah terlihat sibuk mengatur orang-orang yang bolak-balik di dalam pabrik. Meski sudah malam dan dingin, keringat sesekali mengucur di pelipisnya karena berada di dalam pabrik yang sedikit pengap.

Itachi Uchiha, nama pemuda itu. Selaku pengawas buruh pabrik pembuatan gelas kaca, tentunya tak mudah harus terus berteriak seharian memberi perintah. Mata onyx Itachi selalu awas, dari tadi dia sama sekali belum mendapat istirahat. Waktu yang menunjukkan pukul jam 11 malam pun mendukung rasa kantuk di dalam dirinya. Hingga seseorang menepuk bahunya dari belakang.

Itachi menoleh, "Ah Hidan, ada apa?" tanya Itachi. Hidan menatap mata onyx Itachi yang sesekali meredup dan dia mengerti.

"Kau istirahat dulu saja Itachi. Sana duduk dulu," ucap Hidan dan menunjukkan kursi panjang di pojokan. Itachi yang memang sudah kelelahan akhirnya setuju saja dan dengan goyah dia berjalan lalu mendudukkan dirinya.

Itachi menatap Hp yang digenggamnya, "Ah ya, aku berjanji untuk menelpon Sasuke," setelah menaruh kertas di sampingnya. Itachi hendak menekan kontak Sasuke, tapi tangannya tiba-tiba licin hingga—

Dhaak

"Yah, jatuh deh," keluh Itachi kecewa. Dengan segera Itachi mengambil Hpnya yang jatuh di bawahnya. Ditatapnya layar Hp yang sudah menghitam itu, menandakan bahwa Hp itu kini sudah mati, atau dengan kata lain rusak.

Itachi masih menatap layar Hpnya. Tiba-tiba terbesit wajah Sasuke di benaknya. Itachi mengerutkan kembali alisnya. Perasaannya tidak enak. Dan dia ingin menelpon Sasuke secepat mungkin. Gelisah menghantui pikirannya, penyakit Sasuke juga menjadi pikirannya.

"Sasuke, kau baik-baik saja kan?"

.

Sasuke POV

Aku ingin menutup mataku untuk tidur terlelap, tapi tetap tidak bisa. Meskipun mengantuk, aku merasa harus tetap menunggu Naruto walau sudah satu jam berlalu. Aku menghela nafas saat pintu kamarku terbuka.

"Makanan sudah datang Sasuke-sama," ucap Naruto sambil memasang senyum termanisnya—mungkin. Aku ber'hn' ria dan menerima makanan itu dari Naruto.

Aku lagi-lagi hanya diam menatap makanan di depanku. Naruto juga masih tetap memandang juga menungguku seperti biasa. Dengan berani, aku menatap Naruto dengan mata onyxku. Tak apa kan? Toh Naruto juga tidak akan merasa terganggu. Saat menatap matanya, aku merasa aku tidak akan pernah melihatnya lagi. Kenapa? Aku sangat tidak tenang, dadaku bergemuruh. Aku ingin memeluk semua orang yang kusayangi, terutama.. Naruto.

"Hei," Naruto masih menatapku, "bisa kemari sebentar?" Naruto mengangguk dan berjalan mendekatiku.

Kini, mata biru sapphirenya tepat berada di depan mataku. Mata yang menenangkan, begitu pikirku. Aku sangat menyayangi gadis ini. Oh ralat, maksudku robot ini. Tapi perasaan ini bukan perasaan yang mudah, aku mencintainya. Ya, mencintainya.

"Boleh aku bertanya?" aku ingin sekali mendengar jawabanmu, "apa kau mencintaiku, Naruto?" tangan pucatku pun terangkat, menelusuri tiap lekuk wajahnya.

Naruto masih memandangku dalam, "Apa maksudnya, Sasuke-sama?" tanyanya balik. Aku mendengus tertahan.

"Itu bukan jawaban, Naruto," kekehku. "Jawabannya antara ya dan tidak. Nah, kau pilih mana? Yang paling meyakinkan saja," jelasku. Sepertinya aku sudah gila, harusnya aku tahu kan? Bertahun-tahun aku menunggu jawaban dari dia pun, dia tidak akan bisa menjawabnya.

Naruto menatapku polos. Dan program di kepalanya menyuruh dia kembali tersenyum, "Gomen ne, saya tidak mengerti Sasuke-sama," aku membalas senyumannya dengan senyuman tipis yang pahit. Naruto, Naruto, kau benar-benar robot yang terlalu polos.

"Kalau begitu," aku menarik kepala Naruto. Dan selanjutnya, adalah hal paling gila yang pernah aku lakukan.

Aku menciumnya, ya menciumnya. Mencium bibir seorang gadis itu mungkin hal yang biasa, tapi ini mencium robot. Bibirnya lembut, tapi dingin. Naruto hanya menatapku tanpa mengerti apa yang kulakukan padanya. Dia tidak membalas ciumanku, tapi aku tidak mengambil protes untuk itu. Hanya aku yang menikmati ciuman itu, ciuman pertama dan terakhir untuk gadis robot ini.

Perlahan tenagaku menghilang. Aku tidak tahu apa yang terjadi, yang kurasakan hanya tanganku tiba-tiba merosot dari wajah Naruto. Dan aku merasakan sekitarku gelap.

Ah, apa yang terjadi?

.

Normal POV

Lama kedua insan itu berciuman. Satu menit, dua menit, hingga sekarang tiga menit sudah berlalu. Naruto menatap wajah majikan yang menyentuh bibirnya tanpa berkedip. Menatap wajah majikannya yang terlihat menikmati dan matanya yang tertutup.

Naruto tidak merasakan apapun. Dia bingung, kenapa wajah majikannya terlihat sedih? Kenapa wajah majikannya bertambah pucat? Kenapa? Biar Naruto mensearch pertanyaan itu pada komputer di kepalanya, tetap saja dia tidak menemukan jawabnya.

Naruto terdiam, hingga akhirnya kedua tangan majikannya yang berada di kedua pipinya merosot ke bawah. Bukan cuma itu, bibir Sasuke yang tadi di bibirnya pun ikut merosot. Naruto mengerutkan alisnya. Kepala Sasuke kini terjatuh di pangkuannya.

"Sasuke-sama?" panggil Naruto perlahan. Tangannya menyentuh pipi Sasuke yang memucat dan dingin. Mata Sasuke terpejam, kedua tangan Naruto memegang wajah Sasuke, pandangannya mulai khawatir.

"Sasuke... sama?"

To Be Continued

Hiaaah, lega banget bisa nyelesein chapter ini. Yosh minna! Chap depan adalah final chapter. Cepet? Iya, soalnya lagi gak ada ide lagi =_= *ditampar*

Sasuke OOC ya? Maaf deh, susah banget bikin tuh cowok (sok) cool gak OOC *dihajar Sasu FC* dan typo? Kemaren katanya banyak ya? Maaf (TT,TT)

Yosh, special thanks for :

Shard Vlocasters, HaMaki Sana, sugarplums1393, VamPs 9irl, TakonYaki, Ka Hime Shiseiten, Lavender Hime-chan, Kaori a.k.a Yama, White, cute apple, Vipris, Uzumaki Winda, Dhevitry Haruno, Kaze or wind, Miku Hanato, narunarunaru

Makasih deh buat semuanya baik yang review maupun silent reader, maaf gak bisa bales lagi karena sudah tengah malam =='

Boleh minta review? X3