Yo minna! Saya nggak mau banyak omong, soalnya takut dihajar karena endingnya tidak memuaskan ._. #dihajar bersama#

Yup, happy reading!


Naruto © Masashi Kishimoto

Story © Kira Desuke

Warning : OOC, AU, chara death, typo?

Genre : Romance/Angst

Pairing : SasufemNaru

Flames NOT ALLOWED and that won't work with me

.

.

ANSWER


LAST CHAPTER : FOREVER IN MY SIDE

Normal POV

"Sasuke-sama?" suara bening itu menggema di dalam ruangan berbentuk persegi dengan beberapa dekorasi yang didominasi biru tua. Suara itu berasal dari seorang gadis yang tak lain adalah sebuah robot yang tengah terduduk, di atas pahanya yang terlipat terlihat kepala seorang manusia menyandar.

Gadis dengan rambut pirang panjang dan dikuncir kembar itu mendekatkan wajahnya pada wajah majikan yang tergeletak di bawahnya, "Sasuke-sa—"

Triiit Triiit

Naruto—nama gadis itu menoleh dan melihat Hp sang majikan yang bergetar di atas meja di samping ranjang. Program komputer di kepalanya menganalisa sesaat sampai akhirnya dia mengerti bahwa benda itu adalah handphone dan dia harus mengangkatnya. Mata biru saphirenya menjelajah tiap tombol handphone hingga akhirnya berhenti di tombol dengan gambar gagang telpon berwarna hijau. Naruto segera menekannya dengan jempolnya.

'Halo, Sasuke?' sapa suara dari seberang sana. Naruto masih tidak menjawab, dia hanya diam mendengarkan apa yang ada di seberang.

'Maaf ya aku tidak menelponmu secepat mungkin, tadi Hpku jatuh dan rusak. Akhirnya aku pinjam Hp Hidan deh,' jelas Itachi di seberang sana, 'Sasuke? Kau mendengarku kan?' Naruto seperti tersadar lalu membuka mulutnya.

"Emm ya?" jawab Naruto dengan kikuk.

Lawan teleponnya terlihat tertegun sesaat, 'Lho? Ini Naruto kan? Sasuke mana?' tanya Itachi. Naruto menatap Sasuke yang masih berada di atas pahanya.

"Dia sedang tidur di atas paha saya," Naruto terdiam sesaat, "tadi beliau tiba-tiba jatuh tertidur saat berbicara dengan saya," jawab Naruto seadanya.

'Eh?' Itachi terlihat kaget mendengar jawaban Naruto, 'di-dia baik-baik saja kan? Mukanya pucat tidak?' tanya Itachi panik. Naruto kembali menatap wajah Sasuke.

"...Sepertinya iya,"

'Ga-Gawat, Naruto tolong bawa Sasuke ke rumah sakit Konoha yang terdekat. Aku sangat mengharapkanmu Naruto. Aku akan segera menyusul, cepat!' dan Itachi pun langsung menutup handphone.

Naruto terdiam sesaat. Wajahnya masih menatap Sasuke tanpa ekspresi. Sesaat kemudian dia menggendong Sasuke dengan bridal style.

"Sepertinya lebih baik saya menuruti Itachi-sama,"

.

.

Terlihatlah di sepanjang koridor ini orang-orang berlalu lalang. Sibuk mengurusi masalah mereka masing-masing. Namun tidak bagi gadis dikuncir kembar itu, dia terlihat berdiri menyandar pada tembok di belakangnya. Berkali-kali mata biru saphirenya yang menenangkan itu melirik papan nama di atasnya. Wajahnya datar dan sulit diekspresikan. Dia lalu berjalan dan menatap pintu coklat di depannya.

"Sudah satu jam lebih lima menit Sasuke-sama di dalam sana," gumamnya entah pada siapa, "Apa Sasuke-sama baik-baik saja? Kalau terjadi sesuatu dengan beliau, Danzo-sama pasti akan memarahi Naruto," ucapnya polos pada dirinya sendiri. Dia terlihat seperti menghela nafas.

"Naruto!" teriak seseorang dari kejauhan. Naruto mengangkat kepalanya lalu menoleh ke sumber suara, "Sasuke, apa dia baik-baik saja?" tanya Itachi, keadaannya sangat berantakan. Naruto kembali terdiam.

"Entahlah," Naruto menjawab, "sudah satu jam lebih sepuluh menit beliau ada di sana," lanjutnya sambil menunjuk pintu coklat di depannya. Namun sepertinya jawaban Naruto sama sekali tidak dapat menenangkan Itachi. Uchiha sulung itu terus berjalan bolak-balik. Sementara Naruto tetap teguh berdiri di depan pintu coklat.

Krieet

Suara pintu dibuka membuat Itachi berhenti dan mata biru saphire Naruto membulat melihat dokter yang muncul di depannya. Itachi langsung berlari dan berdiri di samping Naruto dan menatap sang dokter cemas.

"Do-Dokter, bagaimana Sasuke? Apa penyakitnya tambah parah? Apa yang terjadi dok?" tanya Itachi tanpa memberi kesempatan untuk dokter itu menjawab. Tapi sepertinya sang dokter memang tidak berniat menjawab. Dia hanya menatap Itachi dengan tatapan yang sepertinya berarti 'maafkan-saya'

Itachi tidak mau. Dia tidak mau menatap pandangan sedih dokter itu. Dia menggertakan giginya sampai sang dokter menjawab, "Kami sudah berusaha semampunya tapi—"

Tanpa mempedulikan jawaban, Itachi langsung berlari melewati dokter dan menghampiri Sasuke yang terbaring. Naruto bisa melihat mulut majikannya yang memakai vacum. Dia tidak mengerti. Ya, Naruto tidak mengerti apa-apa. Pandangan polosnya tidak bisa diartikan. Semua pertanyaan melayang di program komputernya.

Kenapa Sasuke-sama terbaring?

Kenapa Itachi-sama memeluk Sasuke-sama yang sedang tidur?

Kenapa Itachi-sama menangis?

Sebenarnya ada apa di sini?

Kenapa Itachi-sama berteriak memanggil Sasuke-sama? Bukankah sudah jelas kalau Sasuke-sama sedang tidur? Bukankah Itachi-sama sendiri yang bilang padaku bahwa tidak boleh mengganggu tidur Sasuke-sama?

Sebenarnya kenapa ini?

Aku tidak mengerti..

"Naruto," panggilan Itachi membuyarkan lamunan gadis robot tersebut. Merasa ditatap, sesuai program chip di kepalanya Naruto tersenyum. Itachi hanya membalas tatapan Naruto itu dengan sedih.

"Sasuke," Itachi menatap adiknya yang terbaring, "dia ingin bicara denganmu," lanjutnya. Naruto hanya mengangguk dan berjalan ke samping Sasuke.

Merasa ada orang yang berdiri di sampingnya, Sasuke dengan susah payah berusaha membuka mata. Onyx yang mulai redup itu kini berhadapan dengan sang blue saphire. Entah apa arti dari tatapan itu.

.

Sasuke POV

Sesuai yang kuharapkan sesaat sebelum kematianku datang, aku melihat mata itu. Mata orang yang kusayangi lebih dari apapun. Err mungkin bukan orang, robot ya dia robot. Meski begitu aku menyayanginya. Tatapan polosnya, mata biru saphirenya, bibir tipisnya, kulit coklat manisnya, coretan seperti kumis kucing di pipinya, semuanya. Aku suka semua yang ada di dirinya. Aku tidak mengerti kenapa aku merasakannya. Perasaan ini membuatku... tidak rela meninggalkan dunia yang fana ini.

"Sasuke-sama," suara indahnya yang bagaikan nyanyian merdu bergema di telingaku. Aku kembali menatapnya. Meski susah, senyum tipis berusaha kukeluarkan untuk robot yang kukasihi ini.

"Naruto," panggilku. Aku berusaha mengangkat tanganku yang kaku dan berhasil memegang pipinya yang lembut. Naruto masih menatapku dengan tatapan tidak mengerti.

"Mana senyum yang biasanya kau tunjukkan padaku?" tanyaku lirih. Dia menatapku polos. Dan sedetik kemudian dia menurutiku, senyum tanpa dosa dan tanpa beban miliknya berhasil keluar. Ah, lega sekali rasanya.

"Bagus," gumamku. Aku menarik nafas, mungkin ini yang terakhir kalinya. Air mataku mengalir, padahal tidak biasanya aku seperti ini. Heh, mungkin Itachi akan menertawakanku melihat aku kembali cengeng seperti dulu.

Dadaku mulai sesak, mungkin sudah waktunya. Aku ingin jawaban yang sempat tertunda. Aku menginginkannya, aku tidak mau mati dengan menanggung banyak pertanyaan yang belum terjawab.

Tidak mau.

"Naruto," ini yang terakhir kali, "apa kau mencintaiku?" pertanyaan bodoh yang sama seperti sebelumnya.

Naruto terdiam menatapku. Tolong mengertilah Naruto! Waktuku sudah tidak banyak! "Jangan diam saja," aku menatap tajam kedua bola mata biru di sampingku, "Jawab aku Naruto!"

"Sasuke-sama,"

"Tidak, itu bukan jawaban!"

Aku mulai kehabisan kesabaran.

"Saya—"

Aku menarik kedua wajahnya mendekat dengan wajahku.

"Beri aku jawaban, ya atau tidak," kesakitan semakin menggerogoti tubuhku, "JAWAB, NARUTO!" teriakku akhirnya. Bisa kulihat Itachi menatapku dengan pandangan yang tidak percaya. Ya, dia pasti akan berpikir aku gila. Mengharapkan jawaban dari sebuah robot yang tidak mengerti apa itu namanya perasaan. Bertahun-tahun sampai badanmu hancur pun kau tidak akan bisa menerima jawabannya.

Aku menatap mata biru saphire di depanku. Air mata kembali menggenang di mata onyxku. Kenapa aku harus menderita? Kenapa? Kenapa aku tidak bisa bersama orang yang kusayangi? Kena—

"Anda kenapa menangis, Sasuke-sama?"

Aku tertegun. Begitu pula Itachi dan para dokter. Naruto, dia tersenyum di depanku. Senyum yang kupuja itu untuk yang terakhir kalinya bagaikan pisau yang menusuk jantungku. Sudah kuduga Naruto tidak akan bisa menjawabnya. Apa yang kuharapkan dari dia?

Aku tersenyum kecut, "Aku tidak apa," jawabku seadanya. Pandanganku mulai memudar.

Mungkin sudah waktunya.

"Naruto, ini permintaanku yang terakhir," aku membaringkan diriku di atas kasur sambil tetap memandang kedua biru saphire yang tidak pernah mau kutinggalkan itu, "walau kau tidak akan pernah membalas perasaanku..."

"...aku ingin kau berada di sampingku selamanya," itulah kata-kata terakhir yang kuucapkan pada gadis di depanku, juga kata-kata terakhir yang kuucapkan di dunia ini. Namun lagi-lagi Naruto hanya mengangguk sambil tersenyum.

Aku tersenyum tipis, kutatap semua yang ada di sana. Kak Itachi, dokter, suster, Naruto. Kurasakan kepalaku mulai terasa berat. Perlahan tapi pasti kelopak mataku menutup. Pandanganku sudah sepenuhnya gelap.

Selamat tinggal semuanya...

Selamat tinggal..

Naruto...

.

.

Normal POV

PIP PIP PIIIIIP

"SASUKEEE!" teriakan Itachi menggema di kamar pasien 210 ini. Para dokter dan suster sibuk mencoba memberi tegangan pada Sasuke, jikalau saja Sasuke bisa kembali hidup meski kemungkinannya sedikit. Naruto hanya terpaku berdiri di pinggir ruangan. Mata biru saphirenya tak lepas memandangi suster dan dokter yang berjalan hilir mudik.

Program komputer di kepalanya masih sibuk berputar mencari alasan semua yang terjadi di sini. Itachi menangis makin keras, tubuhnya bergetar hebat. Sekarang keadaan mulai tenang, hanya sedikit terdengar isakan-isakan kecil Itachi. Naruto dengan ragu berjalan mendekati mantan majikannya tersebut. Wajah majikannya terlihat damai namun sedih.

"Sasuke-sama?" panggil Naruto. Tapi tetap, Sasuke tidak akan bangun selamanya. Perlahan tangan Naruto memegang tangan Sasuke di menunduk.

"Sesuai perintah Sasuke-sama, saya akan terus berada di samping Sasuke-sama,"

.

Dua minggu sudah, waktu berlalu dengan cepat. Itachi mulai terbiasa dengan kehidupannya sejak ditinggal Sasuke, walau kadang kesedihan masih terpeta jelas di hatinya. Namun saat ini bukan itu yang menjadi pikiran Itachi, melainkan kuburan adiknya. Memang tidak ada masalah dengan itu, hanya saja setiap Itachi ke sana...

"Naruto.." Itachi berdiri di depan makam adiknya. Di sampingnya lagi, sebuah robot duduk dengan tenangnya, bagaikan penjaga kuburan yang sudah terbentuk sejak dua minggu yang lalu itu.

Naruto menengadah, menatap laki-laki berambut panjang di depannya, "Ya, Itachi-sama?" tanya Naruto. Dia tetap tidak bergeming dari tempatnya. Itachi menghela nafas perlahan, dia berjongkok untuk menaruh seikat bunga di atas gundukan tanah di depannya.

Itachi berjalan memutar, mendekati Naruto, "Kau masih belum pulang?" tanya Itachi hati-hati. "Kau tahu Danzo menunggumu kan?" tanyanya lagi.

Robot itu menggeleng, "Danzo-sama memerintahkan saya untuk selalu menuruti apa kata Sasuke-sama," dia memberi jeda sesaat, "dan perintah Sasuke-sama adalah agar saya selalu berada di sisinya," lanjutnya lalu menatap Itachi polos.

Itachi menarik nafas, "Begitu," dia memandang keadaan Naruto dari bawah sampai atas. Kacau sekali, wajahnya yang kusam, bajunya yang acak-acakan, pastilah selama dua minggu ini Naruto tidak pergi ke mana-mana seperti apa yang dikatakannya.

Tanpa mau banyak bicara lagi, Itachi pergi meninggalkan Naruto dan menaiki mobilnya. Lama-lama dia tidak tahan juga melihat Naruto yang seperti orang kikuk menunggui kuburan adiknya siang malam selama dua minggu non-stop. Kali ini tujuannya satu, rumah Danzo. Kakek tua itu sebenarnya sudah tahu masalah ini, dia hanya menunggu apa yang harus dilakukannya sesuai perintah Itachi. Namun sepertinya itu membuatnya sedikit terkejut.

"Tolong reparasi Naruto," pinta Itachi tegas, membuat mata hitam Danzo membulat.

"Apa? Kau tidak kasihan melihat keadaan Naruto yang sudah setia menunggu di samping kuburan adikmu itu?" tanya Danzo sedikit panik.

Itachi menajamkan onyxnya, "Justru karena itu," dia menggertakan giginya, "aku tidak tahan melihat Naruto yang terus menderita seperti ini. Biarpun robot, aku melihatnya sebagai makhluk hidup,"

Sang Uchiha sulung menghela nafas, "Melihat Naruto seperti ini, aku jadi ingat saat Sasuke terus-terusan menunggu di samping kuburan Sakura bagaikan orang tak punya tujuan hidup," Itachi menggebrak meja kerja Danzo, "kumohon, sekarang juga cepat perbaiki Naruto! Buang semua memori tentang Sasuke di kepalanya! Buat dia kembali menjadi seperti robot yang baru. Berapapun biayanya akan kubayar," pinta Itachi lagi.

Danzo menutup matanya perlahan, "Hhh apa boleh buat," wajahnya menunjukkan ketidak relaan. Bagaimana pun juga Naruto, adalah robot kesayangannya.

"Saya akan mengambil Naruto,"

.

.

.

.

.

.

Setahun kemudian...

Sebuah mobil sport berwarna hitam terlihat memarkirkan dirinya dibantu sang supir di depan gedung putih yang besar. Terlihat dari mobil sport hitam itu, seorang laki-laki tampan berambut panjang turun. Dia memakai kacamata hitam, hingga akhirnya dia membukanya dan memperlihatkan kedua mata onyxnya. Dia menatap gedung di depannya dengan papan reklame bertuliskan, 'Robot Place'.

Laki-laki itu menghela nafas sebelum akhirnya dia melangkah masuk. "Sudah lama aku tidak ke sini," gumamnya pada diri sendiri.

Betul, sudah lama dia tidak ke sini. Gedung yang menyimpan banyak kenangan akan adiknya dan robot yang mengabdi pada adiknya bahkan sampai akhir pembuatannya. Sudah sekitar setahun Itachi—nama laki-laki itu—tidak ke sini, dan sekarang dia bertambah sukses semenjak dia diangkat menjadi direktur pembuatan gelas kaca. Namun tetap saja, dia tidak pernah bisa merasa bahagia. Baginya, hidup tanpa adik kesayangannya sama saja dengan mati.

Itachi mengetuk salah satu pintu ruangan yang ada di sana, "Masuk," sahut suara dari dalam. Itachi menurut dan membukanya. Di dalam dia bisa melihat seorang kakek tua tersenyum lebar menyambut kedatangannya.

"Itachi! Lama tidak bertemu," ucap kakek itu dan berdiri dari tempat duduknya lalu menyalami Itachi. Laki-laki rambut panjang itu mengangguk dan tersenyum.

"Lama tak bertemu pak Danzo," kekeh Itachi. Dia duduk di kursi khusus tamu, "emm, sebenarnya aku datang untuk—"

"Naruto kan?" tanya Danzo, dia tersenyum pada Itachi di depannya, "dia baik-baik, hanya saja ada sedikit masalah," raut wajahnya berubah jadi sedih membuat Itachi mengerutkan alisnya.

"Kenapa?" tanya Itachi.

"Sejak kejadian Sasuke, sekarang Naruto..." Danzo terlihat menahan nafas, "dia tidak bisa mengucapkan nama majikan barunya, hanya Sasuke yang bisa diucapkannya. Meski aku sudah mereparasi dia berkali-kali," ucapnya agak keberatan.

Itachi terlihat masih bingung, dia mendengus, "Aku tidak mengerti maksudmu, lagipula kau bilang Naruto tidak punya perasaan. Mana mungkin kan?" komentar Itachi dengan nada sarkastik.

Danzo menggelengkan kepalanya, "Sebaiknya kau lihat sendiri saja kalau tidak percaya," setelah itu Danzo menelpon seseorang.

Beberapa saat setelah itu, pintu terbuka. Terlihat salah satu karyawan Danzo membawa robot di sampingnya. Itachi tersenyum menyadari siapa robot itu. Naruto. Dia lebih bersih sejak terakhir Itachi melihatnya di samping makam adiknya. Robot itu tersenyum, sesuai program yang ada di kepalanya. Senyum manis yang bahkan bisa meluluh lantahkan seorang Sasuke Uchiha. Kuncir kembarnya pun membuatnya terlihat semakin manis.

"Nah Naruto," Danzo berucap, "ini majikan barumu, namanya Itachi Uchiha. Perkenalkan dirimu, lalu panggillah dia dengan nama yang be-nar!" jelas Danzo dengan penekanan di kata 'benar'. Naruto terlihat mengangguk.

Itachi tetap tersenyum melihat Naruto mulai membuka mulutnya. Terlihat dari mata biru saphire gadis robot itu bahwa dia tengah berpikir. Namun, senyum Itachi hilang seketika, dan matanya sedikit terbelalak sementara Danzo berwajah pasrah—setelah mendengar nama yang diucapkan Naruto kemudian.

"Perkenalkan, saya Naruto.."

Senyum robot itu mengembang saat mengucapkan nama majikannya yang sudah tiada.

"..Sasuke-sama,"

.

THE END


Aaa, maaf kalau kelewat angst "orz

Special thanks for :

Lavender Hime-chan, Kaze or wind, Kaori a.k.a Yama, HaMaki Sana, White, Michiru No Akasuna, Ka Hime Shiseiten, naru3, Chiho Nanoyuki, Uzumaki Winda, Matsuo Emi, sugarplums123, Fi suki suki, Dhevitry Haruno

Udah ya, saya nggak banyak omong. Bye minna! See you in my next fic. Jaa nee~ :D

Sebelumnya, boleh minta review? :3 #kicked