Eyeshield 21© Yusuke Murata & Inagaki Riichiro
Winter and Spring© Me
For Eyeshield 21 Award September: Season
WARNING: Gaje, abal, norak, sok romance, maksain humor, bahasa gaul nyelip, tema dimasuk-masukin, typo nggak jamin, paragraf berantakan, super OOC, dan segalanya yang nista.
Don't Like? Don't Read!
.
.
Kau seperti musim dingin. Selama apapun, sedingin apapun, sebeku apapun.
Musim semi pasti datang sebagai hasil jerih payah.
Pasti.
.
.
Jam menunjukan pukul 4 pagi. Hawa dingin menusuk tulang berhembus setiap saat. Salju turun lebat pagi itu. Meski sudah melapisi tubuhmu dengan jaket setebal apapun, meski sudah merasa sedikit hangat. Dingin masih terasa kental. Darah-darahmu akan membeku dengan cepat, wajahmu akan memerah, tanganmu akan membiru karena beku, nafasmu tak hangat lagi. Itulah keadaan orang yang sedang berlari dengan giat di pinggir sungai yang setengahnya sudah mengeras.
"Hosh… Hosh…" nafas Shin terengah-engah. Seperti yang telah dikatakan raja psikolog kita, Hiruma Youichi,
"Tidak ada orang yang tidak terkalahkan didunia ini."
Kalau di dunia ini tidak ada seorang pun manusia yang bisa mengalahkan orang yang paling kuat di dunia, maka orang itu pasti akan kalah oleh alam.
"Suhu ini… gila," gumam Shin dengan bibir yang sudah biru total. "Padahal sudah bulan Maret…"
Kaki-kakinya yang sudah dioleskan minyak hangat, dibalut tape tebal-tebal, dialasi oleh kaus kaki yang tebal jua, ditambah sepatu training sebagai alas kaki. Tapi tetap saja kaki emas yang menembus batas kecepatan manusia itu membeku.
Tak lama kemudian, Shin menghentikan langkahnya. Bukan. Bukan karena ia tak tahan dengan sensasi dingin musim dingin yang ekstrim, tapi karena ia melihat―
"Shin! Kamu baik-baik saja?"
―Wakana.
"Untuk apa kamu kesini, manajer?"
"Eh? Aku kebetulan lewat sini," jawab Wakana, berdusta. 'Aku khawatir…makanya aku datang.'
"Kamu baik-baik saja? Pasti dingin, ya?" gadis yang wajahnya sudah agak membiru ini membuka thermos yang dibawanya, "Ini susu panas, kalau kau mau?"
Tadinya Shin hanya diam, tapi pada akhirnya ia terima dan meminumnya.
"Minum saja. Biar aku urus kakimu," Wakana membuka kotak P3K yang dibawanya lalu mengurus kaki Shin.
Seraya meneguk minuman hangat yang mengalirkan kembali darahnya itu, Shin membatin, 'Kebetulan lewat, tapi penuh persiapan begini.'
"Musim semi," kata Shin.
"Apa?" tanya Wakana.
"Meski kau bilang suka musim dingin, kau mirip musim semi," lanjut Shin.
Wakana bengong. "Ahaha," ia pun kembali mengurus kaki Shin yang membiru.
Terjadi keheningan yang panjang disaat Wakana yang sedang menggulung tape di betis Shin dan Shin sendiri yang sibuk meneguk susu hangat pemberian Wakana.
"Nah, selesai!"
"Terima kasih, manajer," kata Shin seraya menyerahkan thermos kembali.
"Sudah tugasku, Shin," sahutnya dengan senyum. Shin balas lagi dengan senyum—tunggu dulu. Apa?
'S-Shin tersenyum!' jerit Wakana dalam batin lalu melihat Shin yang juga sedang memandangi langit. Senyum yang hangat, seperti melelehkan musim dingin. Pernahkah kau berpikir kehangatan tercipta dari sesuatu yang dingin?
"Wakana."
"Apa lagi?"
"Jawab aku. Kalau aku adalah musim dingin, kau akan jadi apa?"
"Hah?" Wakana syok.
'Ka―kalau aku jawab yang bagus, sama saja pernyataan SUKA 'kan?' Wakana berdebat dengan kewajiban untuk menjawab dan rasa malu yang ingin meruntuhkan kewajibannya untuk menjawab itu.
"A―ahahaha…" Wakana malah tertawa garing, bingung.
"Jawab aku, manajer," kata Shin lagi. Benar-benar pemaksaan.
Lalu, kalau aku jadi musim dingin, kau jadi apa?
"Tadi, Shin bilang 'kan kalau aku mirip musim semi…" gumam Wakana.
Aku akan jadi musim semi!
"…Ya! Aku jadi musim semi!" kata Wakana lagi, mantap dengan jawabannya.
Pria berotot itu tersenyum lagi.
SRUK
"WAAH!" Sesuatu yang gelap menimpa gadis mungil itu.
"Pakai saja. Wajahmu membiru," kata Shin, menjawab apa yang ada di pikiran Wakana, tanpa perempuan mungil itu bertanya terlebih dulu. Rupanya ia membungkus Wakana dengan jaket yang tadi ia pakai, lalu kakinya yang hidup kembali pergi melangkah melanjutkan jogging.
"Lalu... Shin bagaimana? Jaketnya.."
"Tidak apa-apa…," kata Shin sambil berlari. "…Lihatlah," lanjutnya sambil mengacungkan jari telunjuknya ke langit.
Wakana menengok ke langit. Warnanya tak lagi hitam kelabu, warnanya biru cerah. Matahari pagi mencairkan salju yang menumpuk sedikit demi sedikit. Udara beku berubah menjadi hangat. Sang musim semi tersenyum.
"Musim semi… sudah datang!"
.
.
Kenapa?
Ya, karena kalau salju mencair akan jadi musim semi! Selama apapun, sedingin apapun, sebeku apapun, musim semi pasti datang!
.
.
~Fin~
.
.
Dengan gantungnya *duaak*
A/N: Bingung? Sama *plak* Endingnya super gantung TT^TT Gomenasai kalau jelek…
Pada akhirnya saya kembali ke ShinWaka XDD Oh iya, tolong vote poll-ku…juga review? *puppy eyes*
