No Title
By: Y.E
Disclaimer: Natsume
Perjalanan mengunjungi penduduk Mineral Town pun dimulai. Jack dan Claire –yang tampangnya ogah-ogahan- mampir ke Blacksmith terlebih dahulu.
Jack membuka pintu dengan bersemangat. Tidak lupa mengucapkan salam ramah. "Selamat siang~~~"
Pas sekali saat pintu terbuka, seorang kakek sedang berteriak sehingga Jack terlompat mundur dan Claire dengan beraninya (karena penasaran) melangkah maju untuk melihat apa yang terjadi.
"Dasar cucu bodoh!!! Harus kubilang berapa kali kalau ini terlalu hampa!! Orang yang melihatnya akan mengira ini barang imitasi tahu!!" bentak kakek tersebut sambil mengancungkan sebuah kalung berbandul bulat dan berwarna seperti pelangi pada anak laki-laki yang ternyata adalah cucunya sendiri.
"Heh, dasar kakek aneh! Aku 'kan sudah menanyakannya dari kemarin-kemarin. Salah sendiri dong, tidak mau menjelaskan!" balas sang cucu tidak mau kalah.
Claire melihat kalung itu dengan tatapan terpesona dan entah setan apa yang merasukinya sehingga ia berani membuka mulut untuk bersuara di antara adu mulut kakek dengan cucu itu dengan berkata, "Kalung yang bagus, kok."
Spontan saja, kakek dan cucu yang sedang adu teriak itu menghentikan kegiatan saling mencela mereka dan memandang asing pada Jack dan Claire, terutama Claire. Jack sendiri melotot takjub pada adiknya yang masih menampakkan ekspresi datar-datar saja. Secara bersamaan pun kakek dan cucunya itu bertanya, "Siapa kalian?"
"Ah.." Jack memulai perkenalan dirinya. "Aku Jack. Orang baru yang sekarang mengurus pertanian di sana itu. Ini... adikku Claire," ujar Jack sambil menunjuk ke arah Claire yang bahkan tidak berusaha untuk tersenyum ramah pada mereka walaupun Jack sudah mencoba tersenyum selebar-lebarnya dengan maksud agar Claire mengikutinya.
Di luar dugaan, kakek itu tertawa keras. "Hahahaha! Orang baru, toh. Senang menerima kalian di sini. Aku Saibara," tunjuknya pada diri sendiri, "dan dia cucuku, Gray," tunjuknya pada Gray yang sedikit membungkuk pada mereka.
Saibara beranjak dari konternya dan menyalami Jack. Ia pun mendekati Claire dan mengulurkan tangannya. Betapa terkejutnya Jack saat melihat kalau Claire hanya memandangi tangan itu dan tidak menggubrisnya sama sekali. 'Sial. Jadi ini ya taktik Claire. Dia mau ikut denganku tapi tidak mau menggubris orang-orang yang akan berkenalan dengannya. Mau membuatku malu ya?' pikirnya kesal. Dilihatnya Gray yang memandang Claire takjub dan Saibara yang memandang Claire dengan jengkel.
Jack langsung memasang senyum tidak enak dan berkata sesopan mungkin yang ia bisa. "Maaf, ya. Dia ini anaknya agak pemalu.... Jadi... mohon dimaklumi saja. Dia memang suka begitu kok... ahaha.."
"Begitu ya?" kata Saibara sambil menarik lagi uluran tangannya. "Tapi tidak terlihat pemalu ya dari wajahnya. Apalagi ucapannya tadi," katanya lagi yang membuat Jack mau pingsan di tempat saking kesalnya.
"Ah.. Kalau begitu kami pamit dulu. Masih harus berkenalan dengan yang lainnya lagi. Permisi.." kata Jack yang sebenarnya memang ingin buru-buru pergi dari tempat itu saking tidak enaknya.
Tiba-tiba, saat mereka sudah keluar (disertai omelan-omelan Jack dan dengusan napas Claire) si cucu alias Gray keluar dan memanggil Claire. "Tunggu!"
Jack menoleh sedangkan Claire hanya melihat sekilas dan mulai berjalan lagi. "Ada apa?" tanya Jack pada Gray.
"Aku nggak ada urusan sama kamu," ujar Gray pada Jack yang sebenarnya tidak bermaksud tidak sopan pada Jack. Namun Jack terlanjur jengkel duluan. "Claire! Namamu Claire 'kan?"
Claire menoleh. Tampangnya masih datar-datar saja. "Ada apa?" tanyanya dengan nada yang seperti mengajak berkelahi.
"Ini..." Gray menyodorkan kalung yang tadi sempat membuat Claire terpana sesaat. Claire menatap kalung itu. Antara bingung dan menginginkannya. "Ini untukmu. Anggap saja tanda perkenalan dariku," lanjut Gray sambil menarik topinya menurupi wajah. Semburat pink muncul di pipinya. Eh? Ada apa gerangan dengan Gray?
"Eh?" Claire ragu-ragu sesaat sebelum akhirnya secara perlahan-lahan mengambil kalung yang diberikan Gray. "Te... Terima kasih..." ucapnya kaku.
Jack yang sedari tadi menonton hanya bisa menaikkan sebelah alisnya. 'Kok kayaknya ada background bunga-bunga gitu ya? Kenapa wajah Gray agak memerah? Tumben sekali Claire mengucapkan terima kasih? Walaupun wajahnya masih dingin sih, saat mengatakannya. Wah...?' pikirnya, sibuk mengira-ngira dalam hati.
"Ng.. Aku kembali bekerja dulu ya. Bisa dimarahi kakek. Daah..." kata Gray seraya tersenyum tipis dan belalu dari sana, masuk kembali ke dalam Blacksmith.
"Kak," tegur Claire yang melihat kakaknya itu masih sibuk dengan pikirannya sendiri. Dimasukkannya kalung pemberian Gray tadi ke saku celananya. "Mau lanjut? Atau aku pulang?"
"Eh!" seru Jack tersadar dari lamunannya. "Mau kabur ya? Tidak boleh! Ayo kita lanjut!" ujarnya sambil menyeret Claire menuju tempat yang bernama Poultry Farm. "Selamat siang~!" sahutnya sambil membuka pintu Poultry Farm tersebut.
"Selamat datang," sapa seorang perempuan berambut pink. "Eh? Aku baru pertama kali melihat kalian. Turis?" tanyanya.
"Bukan kok! Kami orang baru dan sekarang tinggal di perkebunan di sana. Namaku Jack. Dan ini adikku, namanya Claire. Dan dia juga orang yang pemalu. Sangat pemalu malah," jelas Jack sebelum perempuan itu mengajak berjabat tangan. Tidak dipedulikannya pelototan Claire. Daripada ia malu lagi seperti tadi? Lebih baik memperingatkan lebih dulu 'kan?
"Ah.. Aku Lillia. Pengurus Poultry Farm ini. Ah..." kata-katanya terhenti begitu melihat dua sosok yang turun dari lantai dua. "Mereka berdua anak-anakku. Yang membantuku mengurusi Poultry Farm ini juga. Dia Popuri," tunjuk Lillia pada gadis berbando berambut pink yang sedang menatap mereka bingung, "dan dia Rick," tunjuk Lillia lagi pada pemuda berkacamata yang memandang mereka sama bingungnya dengan adik perempuan di sebelahnya. "Rick, Popuri, mereka ini orang baru. Dia Jack dan dia Claire. Claire ini katanya orangnya pemalu."
"Oh! Halo! Senang berkenalan!" sapa Popuri sambil menghampiri Jack dan menjabat tangan Jack. Kemudian ia beralih ke Claire. Claire sudah tersenyum sinis dalam hati sedangkan Jack menatap nanar kepergian Popuri yang semakin mendekati Claire dalam waktu 2 detik itu. Diraihnya tangan Claire dan diayun-ayunkannya ke atas-ke bawah, mengajak bersalaman. "Salam kenal!" serunya ceria. Claire hanya bengong menatapnya sedangkan Jack mati-matian menahan tawa melihat ekspresi Claire yang tidak menduga kalau Popuri akan menjabat langsung tangannya.
"Hahaha. Kau terlalu bersemangat Popuri," tawa Rick. Ia mendekati Popuri yang masih mengayun-ayunkan tangan Claire dan menghentikan kegiatannya itu. "Lihat, dia sampai terdiam begitu. Maafkan adikku yah," ujar Rick sambil menghadap Claire.
"Ng..." Claire hanya bergumam tidak jelas. Akhirnya Jack lah yang menjawab. "Tidak apa-apa kok. Adikku yang satu ini memang pemalu sih. Hahaha. Kami pamit dulu, ya. Harus mengunjungi yang lain lagi."
Mereka berdua pun keluar setelah mengucapkan salam perpisahan diiringi tatapan dari Popuri yang tidak lepas dari sosok Jack dan tatapan Rick yang tidak lepas dari sosok Claire sampai pintu tertutup. Di luar, saat perjalanan menuju rumah lain, Jack sudah terkekeh-kekeh geli sendiri. Claire hanya bisa memandanginya geram dengan tatapan 'Mau-Kubunuh-Heh?'. Pemberhentian selanjutnya: Mineral Beach.
Sesampainya di Mineral Beach, mereka disapa seorang pria yang tubuhnya kekar berotot. Jack dan Claire sampai melotot dibuatnya. "Hahaha! Jadi kalian yang dikatakan Mayor Thomas, eh? Orang baru dari perkebunan? Jack dan Claire, eh? Aku Zack! Salam kenal. Aku yang akan mengangkut hasil pertanian kalian nanti dari shipping bin. Hahahaha. Di sana ada Kai Seaside Lodge dimana orang yang namanya Kai selalu datang saat summer. Di sana, ada Won. Tukang jualan yang aneh-aneh dan mahal..."
"Kedengaran Zack!!" teriak Won dari dalam rumah. "Jangan bicara yang jelek-jelek pada orang yang akan menjadi pelangganku!!!" lanjutnya.
"Ya, kira-kira begitulah," ujar Zack, menyudahi kalimatnya dengan cengiran.
"Euh? Eh.... He.. Hahahaha. I-iya, kami masih harus mengunjungi yang lain. Da.. dadah Zack!" seru Jack sambil menyeret Claire dan berlari tunggang-langgang dari tempat itu.
"Kak. Sudah jauh nih. Berhenti saja," ujar Claire dengan nada datar. Kelihatannya dia tidak merasa kecapekan sama sekali.
Lain Claire lain pula dengan Jack yang napasnya tersengal-sengal. "Hosh..hosh. nyesel juga lari-lari. Kok kamu nggak capek sih!!??" tunjuknya ke arah Claire. Yang ditunjuk hanya mengangkat bahu. "Uuuh. Lari-lari jadi lapar. Kita belum makan siang yah? Eh?" Jack terdiam memandangi tempat yang ada di hadapannya dan mulai tersenyum. "Inn! Kita bisa makan di sini!! Ayo, Claire!" ajaknya sambil lagi-lagi menyeret Claire masuk ke dalam Inn.
"Selamat datang," sapa seorang pria yang berdiri di belakang konter begitu mendengar bunyi pintu terbuka. "Ah, kalian pasti Jack dan Claire ya??" tanyanya antusias.
"Eh? Anda tahu kami?" tanya Jack yang sebenarnya mau mulai memperkenalkan diri.
"Tentu saja aku tahu. Mayor Thomas pernah memberitahuku soal kalian. Namaku Doug," ujarnya dan tersenyum ramah. "Ah, iya, tunggu sebentar, akan kupanggilkan putriku. Ann!! Kemarilah, nak!"
Seorang gadis turun dari lantai dua. Gadis yang bernama Ann itu tersenyum begitu melihat sosok Jack dan Claire. "Mereka yah, orang baru dari perkebunan itu?" tanyanya pada sang ayah. Doug mengangguk dan Ann kembali tersenyum pada mereka. "Hai. Senang bertemu kalian."
Setelah berbincang sambil makan (Yah, tidak sopan memang kalau berbicara sambil makan. Tapi Doug dan Ann mengajak berbicara terus) akhirnya mereka pamit. Jack bersendawa yang diakhiri dengan celaan Claire. Claire sendiri merasa aneh dengan anak Doug yang bernama Ann itu karena Ann selalu mengajak Jack mengobrol tadi dan matanya tidak pernah lepas dari tiap gerakan Jack. Tapi apa pedulinya? Hari masih siang, namun semakin mendekati sore. Jack langsung membawa Claire ke rumah yang bertuliskan Aja Winery.
"Selamat siang!" ujar Jack begitu membuka pintu. Wangi anggur langsung menyeruak begitu pintu terbuka. Jack menikmatinya. Ia suka wine, tentu saja. Dan terus terang, Claire menyukai bau-bauan ini. Mungkin ia mulai menyukai kepindahannya di sini? Entahlah...
Kedua suami istri pemilik toko dan kebun anggur ini menoleh untuk melihat siapa yang sudah mempir ke rumah mereka. "Ah, kalian pasti yang diceritakan Mayor Thomas," kata yang laki-laki.
"Kau tahu mereka, Duke?" tanya yang perempuan.
Sang suami yang ternyata bernama Duke itu mengangguk. "Yap! Mereka ini kakak beradik Jack dan Claire yang akan tinggal dan mengurus perkebunan itu," jawab Duke pada istrinya. "Nah, kalian. Kenalkan, aku Duke, dan ini istriku, Manna."
Manna tersenyum cerah melihat mereka berdua. "Wah, wah. Selamat datang di Mineral Town ini kalian berdua!" sambutnya. "Apa kalian sudah mengunjungi semua penduduk Mineral Town?"
"Eh.. Belum," jawab Jack.
"Kapan kalian sampai?"
"Er... Kemarin sore."
"Oooh, pantas saja kalian belum menemui semua penduduk. Tenang saja, penduduk di sini tidak terlalu banyak kok. Kalian tidak akan kesulitan mengingat letak toko-toko dan terutama nama-nama kami semua. Dan lagi kami semua senang dengan kedatangan orang baru seperti kalian. Yah, maklumlah, Mineral Town ini penduduknya terlalu sedikit. Tapi udara di sini bagus dan menenangkan. Kalian pasti akan betah di sini. Apalagi kalian mengurus pertanian. Berarti kalian senang dengan alam dong? Wah, hebat anak muda kota zaman sekarang ya? Lalu bla-bla-bla-bla...."
"Eh? Iya. Oh.. Ng.. Begitu ya? Hahaha..." Jack mulai kelabakan menghadapi ocehan Manna yang tidak berhenti-berhenti. Claire hanya diam seperti biasa dan memasang wajah dinginnya yang kelihatan angkuh itu.
Duke yang tidak enak kepada mereka berdua langsung menengahi 20 menit kemudian. "Sudahlah Manna, mereka sibuk 'kan? Mereka masih harus menyapa penduduk lainnya. Kalau sekedar mengobrol saja 'kan masih bisa lain waktu."
"Ah, iya ya..." Manna yang menyadari kesalahannya segera minta maaf. "Maafkan aku ya? Aku memang suka cerewet sendiri. Ahahahaha..."
"Tidak apa-apa kok. Hahahaha," jawab Jack sopan."Kami akan mengunjungi penduduk yang lain. Terima kasih, permisi..."
Claire menggerutu setelah mereka keluar dari tempat itu. "Huh, apa-apaan itu. Bawel sekali. Apa suaminya tahan punya istri seperti dia?"
"Hush! Claire! Jahat sekali sih mulutmu itu," tegur Jack walaupun ia tahu, itu percuma saja untuk Claire yang sekarang. Ya, Claire yang dulu sudah hilang entah kemana. Tinggal Claire yang sekarang dan Jack masih harus sering mengelus dada menghadapi tingkah, kelakuan dan sifat Claire yang berbeda ini.
Mereka memasuki sebuah rumah dan disambut hangat oleh keluarga di rumah itu. "Wah, ada tamu. Siapa kalian? Aku tak pernah melihat kalian sebelumnya. Orang barukah?" tanya seorang wanita dengan ramah.
"Wah, orang baru ya?" sahut yang laki-laki tak kalah ramah.
"Iya, kami yang sekarang tinggal di perkebunan. Namaku Jack dan ini adikku yang agak pemalu, Claire," kata Jack mengenalkan dirinya dan Claire.
"Wah. Putriku juga pemalu. Aku Anna dan dia suamiku, Basil. Ini putri kami yang pemalu. Namanya Mary," kata Anna mengenalkan satu per satu anggota keluarganya.
"Oh. Hai, Mary. Salam kenal!" sapa Jack. Dan seperti yang sudah dibilang Ibunya, Mary yang memang pemalu itu langsung menunduk. Tapi dengan semburat merah di kedua pipinya. Claire mengernyit ketika melihatnya.
'Kenapa tuh anak?' pikirnya heran melihat Mary yang masih menunduk dan sekali-sekali curi-curi memandang Jack yang masih asik mengobrol dengan Anna dan Basil. Ketika pandangannya dan Claire bertabrakan, ia tersenyum malu-malu pada Claire, masih sambil setengah menundukkan wajahnya. Claire membalasnya dengan berkacak pinggang dan mengangkat dagunya. Mary menatapnya dengan pandangan bingung.
Akhirnya tak lama kemudian mereka pamit dan menuju rumah selanjutnya. Claire memandangi Jack dengan wajah penuh tanda tanya. Masih bingung dengan reaksi Ann dan Mary tadi yang jauh berbeda namun kira-kira sama. Jack memandanginya balik. "Kenapa?" tanyanya. Yang ditanya hanya menggeleng. Jack memandangi adiknya dulu sambil mengira-ngira dalam hati dan akhirnya ia mengangkat bahu kemudian mulai mengetuk pintu rumah seseorang.
Pintu terbuka dan seperti biasa, Jack langsung mengucapkan salam 'selamat siang'nya yang bersemangat. Namun ia tidak melihat siapapun saat pintu terbuka. "Heh?" Dia jadi bingung. Claire pun jadi ikut bingung tapi tentu saja itu tidak ditunjukkan di wajahnya.
"Kalian ini siapa ya?" kata sebuah suara, mirip suara anak kecil.
"Heee...?" Jack dan Claire secara bersamaan menoleh ke bawah dan melihat anak kecil dengan rambut model jamur yang lucu. Claire mendengus meremehkan sedangkan Jack berjongkok mendekati anak kecil tersebut. "Hai, adik manis. Kami orang baru dan ingin berkenalan dengan penduduk sekitar saja kok. Bukan orang jahat."
"Oh.. Orang baru yaaa.." sahut anak itu ceria. "Masuklah," katanya polos.
Dari dalam, terdengar suara seorang wanita tua yang memanggil anak kecil itu. "Stu? Ada tamu?"
Anak kecil yang bernama Stu itu melirik kedua orang yang sudah masuk ke rumahnya dan menjawab neneknya. "Katanya mereka orang baru, Nek."
Jack dan Claire kemudian melihat seorang nenek tua yang sedang duduk di kursi goyangnya dan juga sedang tersenyum pada mereka. "Kalian yang diceritakan Mayor Thomas ya? Jack dan Claire yang akan tinggal di pertanian 'kan? Namaku Ellen. Dan ini cucuku, Stu."
"Ya, salam kenal Nek Ellen..." balas Jack.
"Salam kenal yah, Kak Jack dan Kak Claire!!!" kata Stu ceria.
"Oh iya.... Apa kalian sudah mengunjungi semua penduduk yang ada di sini?" tanya Ellen dengan senyuman yang senantiasa selalu terpampang di bibirnya.
"Be... Belum, sih... Kami masih akan berkeliling lagi kok..." jawab Jack sambil menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Nanti sesampainya kalian di klinik, di sana kalian akan bertemu cucuku yang satu lagi. Dia kakak perempuan Stu, namanya Elli. Tolong sampaikan pada Elli untuk makan malam di sini, ya..."
"Huh... Memangnya tidak bisa suruh sendiri apa..." gerutu Claire dengan sangat pelan, namun masih terdengar di telinga Jack. Jack memelototi Claire yang dibalas Claire dengan tatapan tidak peduli.
"Baiklah," kata Jack, tersenyum pada Ellen. "Kalau begitu kami pamit dulu. Daaah Stuuu!!" ujarnya sambil mengacak-acak rambut Stu sebelum pergi.
Sesampainya di luar, Jack langsung menegur Claire, "Kau ini benar-benar deh... Apa salahnya sih kalau kita membantu mereka???" Claire tidak menjawab dan pura-pura tidak mendengar Jack. Jack menghela napas. Sudah keberapa kalinya ya, hari ini?
Mereka berjalan memasuki sebuah toko yang ternyata adalah Supermarket. Di sana, mereka melihat sang pengelola supermarket yang wajahnya lesu dan kelihatan tidak bersemangat.
"Selamat dataaaaang..." sapanya agak lesu. Begitu melihat siapa yang masuk, wajahnya berubah sedikit lebih cerah. "Aku belum pernah melihat kalian. Kalian pasti kakak beradik Jack Claire itu 'kan? Kenalkan, aku Jeff, pengelola supermarket ini."
Kemudian terdengar suara derit pintu dan dari dalam ruangan yang pintunya baru saja dibuka itu, keluarlah dua orang wanita. "Siapa Ayah?" tanya wanita yang lebih muda.
"Mereka yang kemarin diberitahukan Mayor Thomas. Kakak beradik Jack dan Claire itu lho..." jelas Jeff. "Nah kalian, kenalkan, ini istriku Sasha dan anakku, Karen."
Sasha membungkukkan badan dan tersenyum pada mereka. Karen juga melemparkan senyum ramah pada mereka berdua, tapi bagi Claire, senyum Karen itu lebih ditujukan untuk kakaknya, Jack.
Jack berbincang-bincang sesaat dengan Sasha dan Jeff. Menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan padanya yang kebanyakan adalah tentang kota tempat tinggalnya. Selama itu pula Claire memelototi Karen yang sedang memperhatikan Jack. Sadar akan pelototan Claire, Karen jadi salah tingkah karena tertangkap basah sudah memperhatikan kakak dari gadis yang sedang memelototinya itu.
"Kak, nanti tidak keburu menyapa semua penduduk lho." Claire menarik tangan Jack dan membungkuk pada Sasha dan Jeff. "Maaf tidak bisa lama-lama," katanya. Saat keluar, ia sempat memberikan tatapan dingin pada Karen dan menutup pintu Supermarket itu.
"Wah... Tumben kau bisa bicara yang sopan. Dan lagi tadi kau bilang apa? 'Tidak keburu menyapa semua penduduk?' Itu yang kauinginkan?" ujar Jack sekeluarnya mereka dari Supermarket.
"Tentu saja bukan," jawabnya acuh. "Aku tidak betah lama-lama di sana."
Mereka sampai di Clinic dan mendapati satu-satunya perawat yang ada di sana. Jack mendekatinya dan bertanya ramah. "Kau Elli ya?"
Sang perawat mengangkat wajah dari botol obat-obatan yang sedang dipisahkannya. "Iya. Kalian.... Kakak beradik Jack Claire? Mayor Thomas sempat memberitahuku soal kalian lho..." kata Elli tersenyum ramah.
Claire mengangkat sebelah alisnya. Jack menjawab dengan ramah. "Wah, sudah tau soal kami ya. Ngomong-ngomong, tadi aku bertemu Ellen, nenekmu. Dia menyuruhmu makan malam di rumah."
Elli menganguk. "Terima kasih Pak Pengantar Pesan..." candanya.
Jack kemudian tertawa-tawa dengan perempuan itu dan Claire semakin menaikkan alisnya begitu melihat semburat pink yang sepertinya muncul di kedua pipi gadis perawat itu. Tiba-tiba sudut matanya menangkap gerakan sebuah sosok di belakangnya. Secepat kilat ia berbalik dan mendapati pria berambut hitam berpakaian dokter sedang memperhatikan mereka. Atau mungkin...memperhatikannya?
Pria itu terlihat kaget ketika Claire tiba-tiba menoleh ke belakang dan agak gugup sampai Elli menyadari keberadaannya dan menyapanya. "Ah... Doctor... Sudah selesai dengan pekerjaanmu, eh?"
Doctor mengangguk dan bertanya balik pada perawatnya. "Siapa mereka? Aku belum pernah melihat mereka? Turis kah?"
Elli menggeleng pelan. "Mereka ini kakak beradik Jack dan Claire yang diberitahukan Mayor Thomas kemarin lho... Yang tinggal di perkebunan sana. Masa Anda tidak ingat?"
Doctor sekali lagi menggeleng. Ia tidak tersenyum pada Jack yang masih saja memaparkan senyum ramah dan tidak tersenyum pada Claire yang juga tidak mau repot-repot tersenyum pada pria dokter itu. Matanya bertemu pandang lagi dengan Claire. Pandangan dingin Claire yang keras membuatnya mengalihkan pandangannya dari gadis itu. Akhirnya ia memilih kembali ke meja kerjanya. Sebenarnya, dalam hati ia agak terpesona pada tatapan mata Claire. Tapi pikiran itu segera dibuangnya jauh-jauh.
"Baiklah Elli, kami pergi dulu. Kami masih harus berkenalan dengan yang lain lagi," ujar Jack sedangkan Claire sudah melangkah ke pintu dan keluar lebih dulu.
"Hei, hei, Claire...." Jack memanggil Claire yang sudah keluar lebih dulu. Claire tidak menyahut dan terus saja berjalan, membuat Jack harus berlari kecil untuk mengejarnya. "Kenapa sih kau ini?"
Claire tidak menggubris pertanyaan Jack. Dilihatnya gereja yang ada di ujung jalan dan ia mulai melangkah masuk. 'Lumayan juga...' pikirnya santai.
Di dalam sana hanya ada dua orang. Salah satu orang yang memakai baju seperti pendeta mendekati Claire dan Jack yang baru saja masuk. "Hai. Saya pendeta Carter. Apa... kalian turis?"
Jack menggeleng dan mengeluarkan senyum ramahnya. "Kami orang baru dari perkebunan di sana. Aku Jack dan dia adikku, Claire."
"Ooh... Begitu ya... Di sana..." ucap Carter seraya menunjuk ke arah pemuda yang satu lagi, "...juga ada pendatang baru. Tapi dia terlalu pemalu. Lebih baik kalian berkenalan dengannya juga."
Maka Jack diikuti Claire pun mendekati pemuda itu sedangkan Carter masuk ke dalam bilik pengakuan dosa. Pemuda itu terlihat kaget dan menengok ke kanan dan ke kiri, memastikan kalau dirinyalah yang benar-benar didekati oleh mereka berdua. 'Benar-benar pemalu...' pikir Jack.
Jack pun mulai mencoba mengajaknya bicara duluan. "Hai. Aku Jack dan ini adikku Claire. Kau pendatang baru juga?"
Pemuda itu mengangguk malu-malu. "Na.. Namaku Cliff...." ujarnya pelan. Claire berdiri disebelahnya sambil berkacak pinggang dan mengernyit.
"Kau..." mulainya. "Jadi laki-laki berani sedikit dong."
Jantung Jack seakan mau copot mendengarnya. Cliff juga sepertinya begitu karena wajahnya mendadak berubah tegang. Jack jadi merasa tidak enak pada Cliff dan mencoba menegur Claire walaupun ia tahu itu percuma. "Claire.... tidak sopan kau ini.... Itu 'kan bukan urusanmu. Errr... Lagipula tidak ada salahnya kan kalau orang memiliki sikap pemalu... Eh... Maaf ya Cliff."
Dengan tatapan dingin dan tanpa ekspresi seperti biasa, Claire memperhatikan Cliff yang menunduk dengan wajah tegang dan Jack yang berusaha minta maaf pada Cliff. Akhirnya ia menghela napas, menggeleng-gelengkan kepalanya dan menepuk bahu Cliff. "Tidak usah dipikirkan. Maksudku bukan begitu."
Cliff mengangkat wajahnya bingung. Ketegangan sedikit memudar dari wajahnya. Jack juga memandangi Claire. Claire balas menatap Cliff langsung pada matanya seolah ia ingin menembus apa yang ada di sana tapi bagi Jack, tatapan Claire dapat diartikan sebagai 'Aku-Selalu-Benar' dan menurut Jack sendiri, Claire tidak berniat minta maaf.
"E... Eh? Maksudnya??" tanya Cliff ragu-ragu. Sepertinya takut mendapat kalimat pedas Claire yang lainnya lagi.
"Aku tidak bermaksud begitu. Masa nggak ngerti sih!?" ujar Claire tidak sabaran. Cliff menunduk lagi sedangkan Jack memandang Claire dengan tatapan 'Yang-Benar-Saja'. Claire menepuk lagi bahu Cliff dan berkata, "Santai saja kalau bertemu orang lain." Lalu dengan entengnya ia melangkah keluar dari gereja itu meninggalkan Jack dan Cliff yang terbengong-bengong.
"Oi! Claire! Tunggu aku!!" seru Jack yang ditinggal dan segera berlari menyusul Claire, meninggalkan Cliff yang masih menatap punggung Claire yang semakin menjauh dengan semburat merah di pipinya.
"Wah, Claire, aku tidak tahu ternyata kau peduli orang lain juga..." goda Jack saat mereka keluar gereja.
Claire membalasnya dengan tatapan mencela dan dengusan napas. "Siapa juga yang peduli? Sebal saja melihatnya. Eh? Jalan ke mana ini?"
Jack yang tadi sedang memonyongkan mulutnya pun menoleh ke arah yang baru saja ditunjuk Claire. Jalanan kecil yang ada di sebelah gereja. Mereka mengikutinya dan sampai di gubuk kecil. Perasaan bingung menyelimuti mereka.
"Eh?? Tempat apa ini??" Jack masih sibuk berpikir dan mengira-ngira sebelum ia kaget melihat Claire yang secara langsung –tanpa mengetuk pintu- membuka pintu gubuk itu dan masuk tanpa basa-basi. "Cla... Claire, tunggu!!" Jack menyusul masuk.
Dan betapa terkejutnya mereka mendapati makhluk-makhluk mungil yang tinggal di sana. Claire bahkan sampai menjerit. Reaksi langka yang sudah lama tidak dipertontonkan olehnya.
"Oh, oh? Kalian siapa? Kami tidak pernah lihat. Kalian orang baru ya?" kata salah satu makhluk mungil berwarna merah.
"Kyaaaaaa!! Bisa.... bisa bicara!!!" seru Claire dan lari bersembunyi di belakang punggung Jack.
"Eh.. TIdak sopan!" seru makhluk mungil yang satu lagi yang berwarna kuning.
Jack jadi panik. "Waaaa!! Jangan-jangan mendekat!! Eh, Claire, jangan pingsan di sini!!! Aduh! Siapa yang melempariku centong nasi!!!?? Aduh!! Berhenti melempariku!!"
Half hours later.
Akhirnya kepanikan pun dapat teratasi setelah Jack melambaikan bendera putih. Dengan damai, mereka berdua berkenalan dengan para makhluk mungil yang menyebut diri mereka sendiri dengan sebutan Harvest Spirites. Para peri Harvest itu juga berkata bahwa mereka bisa membantu pekerjaan Jack dan Claire apabila hari sedang badai dan ketika kondisi mereka tidak memungkinkan untuk bekerja. Akhirnya setelah mereka bercakap-cakap sebentar, Claire dan Jack pamit dari gubuk itu.
"Hei, kalian sudah mengunjungi Hot Spring?" tanya Chef, si peri merah saat ia mengantar Jack dan Claire ke luar pintu.
Jack menggeleng sedangkan Claire sudah jalan lebih dulu ke arah jalan pulang perkebunan mereka. "Sempatkan diri kalian ke sana, ya," ujar Chef ramah sambil menutup pintu gubuk.
Dengan sedikit banyak memaksa, Jack menyeret Claire ke tempat yang tadi disuruh Chef.
"Apa-apaan sih!?" protes Claire. "Aku capek! Pulang saja!"
"No way!" jawab Jack. "Lagipula sepertinya masih ada yang belum kita temui."
Singkat cerita, di perjalanan Jack dan Claire bertemu Harris, seorang polisi dan Gotz, yang berkata bahwa mereka bisa meminta bantuannya apabila ingin meng-upgrade rumah. Dan saat mereka sampai di Hot Spring, mereka bertemu seorang kakek ramah dan cucunya perempuannya yang manis, Barley dan May. Kebetulan saat itu Barley dan May sudah mau pulang, maka tinggallah mereka berdua saja di Hot Spring itu.
Jack berjongkok memetik bunga yang ada di dekat mulut gua, tepat di belakang Hot Spring. "Wah. Pedesaan memang beda. Cantik ya, Claire?" katanya, tertawa seraya menyerahkan bunga itu pada Claire.
Claire memandangi bunga itu dengan tatapan datar dan melemparnya ke dalam kolam yang ada di dekat sana. "Biasa saja ah."
Tiba-tiba muncul..er... perempuan(?) dari dalam kolam itu. "Terima kasih!!"
"Waaaaaaaaa!!" Claire terlonjak kaget ke belakang. "Apaan lagi nih!? Kak! Kau tidak bilang kalau ada banyak hal aneh di desa ini!!!!" omel Claire pada kakanya yang juga terlihat tak kalah kaget.
"Bagaimana mau bilang kalau aku sendiri juga baru tahu hari ini," omel Jack balik. "Siapa kau?"
"Ckckck..." Perempuan itu berdecak kesal. "Kalian tidak tahu aku? Aku ini Harvest Goddess. Ingat itu ya!"
Setelah bertanya panjang lebar sampai ke seluk beluknya pada perempuan yang mengaku sebagai Dewi Harvest, Jack dan Claire akhirnya pulang juga. Bukan karena mereka sudah lelah bertanya namun karena mereka dimarahi Harvest Goddess yang tidak senang waktunya diganggu oleh acara sesi tanya jawab. Padahal masih banyak yang ingin Jack dan Claire tanyakan pada si Dewi itu.
Begitu sampai di rumah mungil mereka yang baru, Claire langsung menghempaskan tubuhnya di tempat tidur sedangkan Jack melakukan hal yang tidak jauh beda dengannya. Tempat tidur mereka memang bertingkat, dimana Claire yang di atas dan Jack yang dibawah.
"Selamat tidur..." ucap mereka berbarengan padahal mereka masih belum melepas sepatu mereka. Saking lelahnya mereka, mereka jadi melupakan segalanya dan langsung terlelap begitu saja.
Good night... Have a nice dream...
.
..
...
....
.....
TBC......
Y.E: aduuuuh, pusiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiinkkkk~~~!!!!
Kappa: wkwkwkwkwkwkwk....
Y.E: curhat bentar ah~~ Y.E lagi suka pusiiiing, sampe-sampe pas pelajaran ekonomi ditegor thu~~!!!
Flashback
Y.E: (lagi bergaya ala James Bond lagi mikir sambil megangin jidat)
Guru ekonomi: kamu! (nunjuk Y.E ) coba jelasin elastisitas permintaan ama penawaran!
Y.E: (cengo di tempat)
G.E: makanya, kalau pelajaran itu, gurunya diperhatiin. Kalau nggak mau belajar, keluar aja...
(berikutnya, semua mata tertuju pada Y.E)
Y.E: huuuu~~ sebeeeeelllllll~~~~~~~~
Kappa: akoawkoawkoawkoawkoawkoawkoawkoawkoaw... hahaha... dah selese curhatnya?
Y.E: udah! berikut ini adalah balasan untuk para pembaca yang nggak log-in..
Kappa: tumben bales yang lain pake pm?
Y.E: ntar halamannya kepenuhan. Oon amat sih Kappa, masa gitu aja nggak bisa nebak?
For Xoxoxoxoxo
Y.E: halo juga... haaah..... saiia teh, lagi suka pusing... padahal dah minum panadol.. *ngancungin panadol extra warna merah* baydewei, makasih ripiuw nah
Kappa: otak lo rusak kali...
Y.E: heh! sembarangan ente! soal masa lalu Claire... hm.... hahahaha, nanti lama-lama juga anda tahu sendiri.
Kappa: huh, sok misterius..
Y.E: biar, yang penting eksis!! hahaha, btw, lemesnya nggak sampe nggak mampu pegang barang" koq... pegang hape masih bisa... wkwkwkwkwk. tapi sekarang sutrah baikkaaaaan~~nyahahahahahaha!!
Kappa: tuh, kan! beneran rusak kali tuh otak!!!
For Owly Bros
Y.E: makasih yah udah ripiuw, The owl dan The lonely owl. hahaha. karakter Claire disini memang angkuuh~~
Kappa: dasar, ngubah" karakter orang!
Y.E: sewooot sangat sih anda~~!! *nunjuk" ke Kappa*
Y.E: At last, makasih sudah repot-tepot membaca Fic aneh eneh~~^^
Kappa: ripiuw nggak diwajibkan kalau merepotkan....
