No Title

By: Y.E

Disclaimer: Natsume

Sebenarnya, kehidupan Claire dulu normal-normal saja. Biasa-biasa saja. Ia bersekolah dengan baik. Hanya saja... hal itu mulai terjadi saat Claire berusia 14 tahun. Claire dipindahkan dari sekolahnya yang dulu ke sekolah yang baru.

**********

Claire duduk diam di bangkunya. Hari ini hari pertamanya di sekolah barunya. Tidak ada yang dikenalnya sampai seorang anak perempuan yang manis menghampirinya.

"Hai, kamu anak baru di sekolah ini? Siapa namamu?" tanya anak perempuan itu dengan ramah. "Namaku Jill." Jill mengulurkan tangannya pada Claire.

"Ah... Aku..." Claire menerima uluran tangan Jill. "Aku Claire..."

"Claire ya..." ulang Jill. "Claire! Mulai sekarang kita teman ya!!"

Claire tersenyum dan mengangguk. Jill. Teman pertamanya yang dikiranya akan selalu berteman dengannya.

Jill lalu memanggil seorang pria. Jill memperkenalkan pria itu pada Claire. Pria itu ternyata adalah pacar Jill. Namanya Blue. Sejak itu, Blue mulai menjadi teman Claire juga. Mereka sering bermain bertiga. Kemudian menjadi berempat saat Rock, salah satu teman Blue bergabung bersama mereka. Claire merasa inilah saat-saat menyenangkan hidupnya.

Aku sayang teman-temanku. Aku menyayangi mereka karena mereka adalah harta yang tak terhingga untukku.

"Aku dan Claire sudah jadi sahabat lho, teman-teman!" ujar Jill bangga di depan kelas pada teman-temannya yang lain sambil merangkul Claire. "Iya 'kan, Claire?"

"He-eh..." Claire salah tingkah sendiri.

"Dan kita akan selalu sama-sama!!!!" lanjut Jill.

Tapi......

"Claire," panggil Blue yang saat itu sedang melakukan piket dengan Claire. "Apa ya, yang belum? Buku absent sudah... Jurnal juga sudah..."

Claire yang sedang memeriksa buku jurnal menoleh dan tersenyum pada Blue. "Tidak ada. Sudah semua kok." Saat Claire hendak memasukkan pensilnya ke kotak pensil, pensil itu terjatuh. Reflek Claire langsung menangkapnya dan ujung jari telunjuknya tertusuk ujung pensil mekanik yang runcing. "Ach!" pekiknya.

Blue buru-buru mendekati Claire dengan raut khawatir. "Kenapa?" tanyanya memandangi jari telunjuk Claire. "Kau berdarah!" serunya.

"Tidak apa-apa. Hanya... tergores. Luka kecil kok... Haha... A..." Kalimat Claire terputus saat ia mendongakkan wajahnya dan mendapati wajah Blue sedang menatap dalam-dalam matanya. Dan wajah mereka... terlalu dekat. "Blue?"

Blue tidak menghiraukan panggilan Claire. Ia terus menatap Claire. Perlahan tapi pasti, ia memperpendek jarak antara wajahnya dengan wajah Claire. Dan selanjutnya... ia mengecupnya.

Claire memberontak. Namun ia tetap tidak kuat melawan cengkraman Blue yang menahannya. Saat akhirnya Blue berhenti sesaat dan membisikkan sesuatu yang di luar dugaan Claire, air mata Claire sudah jatuh bergiliran.

"Aku menyukaimu, Claire..." bisiknya. Claire terbelalak mendengarnya. Ia baru ingin bertanya bagaimana dengan Jill, namun Blue kembali mendaratkan bibirnya di bibir Claire.

Dan mimpi buruk dimulai saat itu....

**********

Claire membuka matanya. Sinar matahari masuk melalui jendela. Ia mendengar suara cipratan air di kamar mandi kecilnya. Mungkin Jack sedang mandi. Claire pun enggan beranjak dari tempat tidurnya. Sambil berbaring, ia memikirkan mimpinya tadi. Blue. Jill. Ia tidak akan bertemu mereka lagi. Iya 'kan? Perasaannya langsung tidak enak. Ia tidak mau mengingat masa lalu itu lagi. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia bangun dan duduk di tepi ranjang sambil memeluk dirinya sendiri yang mulai menggigil ketakutan. 'Tidak akan apa-apa.... Aku sudah pindah.... Di sini tidak ada mereka.... Aku selalu bersama Jack....'

Pintu kamar mandi terbuka bersamaan dengan turunnya satu butir air mata di pipi Claire. Cepat-cepat dihapusnya air mata itu sebelum terlihat oleh Jack. "Jack?"panggilnya.

Jack keluar dari kamar mandi. Wajahnya sudah segar dan harum sabun tercium sampai hidung Claire. Jack mengernyit saat Claire memanggilnya. "Apa? Sejak kapan kau memanggilku dengan nama?"

Claire mengangkat bahu. "Hanya memastikan kalau itu kau."

"Memangnya siapa lagi yang ada di sini selain kita berdua?" kata Jack lagi sambil mendekati Claire dan mengacak-acak rambutnya. "Lho? Kenapa? Sakit? Kok wajahmu pucat?"

Reflek, Claire memegang kedua pipinya. "Masa sih? Aku baik-baik saja...." jawabnya dengan nada yang sedikit bergetar.

Untungnya Jack tidak menyadari nada aneh itu. "Oh... Ya sudah, mandi saja kau sana. Hari ini kita harus membersihkan ladang."

"Iya, Kak." Claire beranjak mengambil handuk serta pakaian bersih lainnya dan masuk ke kamar mandi. Ia menyalakan shower. Bunyi gemericik air mulai membuatnya sedikit rileks. Saat membuka pakaian kotornya, sesuatu jatuh dari saku celananya. Claire mengernyit dan membungkuk mengambil 'sesuatu' itu.

Kalung yang kemarin. Kalung yang sempat membuat Claire terpesona bahkan sampai saat ini. Bandul berbentuk bulat kecil dengan diameter yang kira-kira dua setengah cm. Dan lagi warnanya... Satu warna sekaligus berbagai warna. Seperti warna pelangi hanya saja tidak teratur. Claire memang menyukainya sejak melihatnya. Disimpannya kalung itu di dalam kantung celananya yang masih bersih yang ia gantung di pintu kamar mandi dan ia sendiri mulai membersihkan diri.

Ingatan Claire melayang saat kemarin ia mendapatkan kalung itu. 'Laki-laki itu... Kalau tidak salah namanya Gray ya?' Claire mengingat-ingat bagaimana wajah lelaki itu. 'Kalau diingat-ingat, ternyata mirip Blue juga ya....' Ingatan tiba-tiba tentang Blue membuat Claire mengingat lagi masa lalunya. Tubuhnya mulai menggigil lagi di bawah shower yang menumpahkan air hangat. Ia berjongkok, memeluk bahunya yang gemetaran dan menggigit bibir bawahnya.

Jack menatapi hasil karyanya yang ia letakkan di meja kecil yang disiapkan khusus untuk mereka makan. Setelah senyum-senyum bangga pada diri sendiri, ia beranjak mengetuk pintu kamar mandi. "Claire. Mandinya kok lama??" tanyanya. "Aku sudah selesai masak lho. Ayo makan."

Bunyi shower terdengar berhenti. 30 detik kemudian Claire keluar dengan kaos longgar warna putih dan celana pendek pink. Jack memperhatikannya dengan seksama. "Kau menangis?"

Dua kata yang baru saja dilontarkan Jack spontan membuat Claire tersentak. "Eh? Tidak. Jangan bicara yang aneh-aneh," sahutnya. Namun dilihatnya Jack yang masih memperhatikan area di sekitar matanya.

"Tapi matamu agak sembab..." lanjut Jack yang sepertinya tidak mempercayai Claire.

Claire mengalihkan wajahnya dari tatapan Jack. "Paling karena kurang tidur." Tanpa sengaja, Claire memandangi hidangan yang ada di atas meja. "Heh? Kau masak tempura untuk sarapan?" tanya Claire, berharap pertanyaannya dapat mengalihkan perhatian Jack.

Beruntungnya Claire karena perhatian Jack benar-benar teralihkan. "Memangnya kenapa kalau aku masak tempura? Enak 'kan?"

Claire mendengus dan menutar kedua bola matanya. "Tak bisakah kau memasak yang lain? Yang lebih ringan seperti sandwich atau dinner roll?"

"Kalau tidak mau..." Jack beralih hendak mengambil piring Claire. "...ya untukku saja!"

"Jangan coba-coba!" seru Claire berusaha mempertahankan piringnya seraya mengacungkan tinjunya.

Jack terkekeh melihat kepalan tangan Claire yang diarahkan ke arahnya. "Kau tidak akan berani, Claire."

In Poultry Farm

"Kak Rick!!" sapa Popuri pada kakaknya yang dari tadi kerjaannya hanya mondar-mandir di sekitar kandang ayam. Rick menatap malas pada adiknya sedangkan Popuri melanjutkan kalimatnya. "Apa kakak sedang sibuk?"

"Menurut penglihatanmu?" jawab Rick sedikit malas. Dipikirannya, paling-paling Popuri hanya ingin mengajaknya bermain zombie-zombiean lagi. Membayangkan dirinya harus menemani Popuri berjalan-jalan sambil berpura-pura menjadi zombie membuatnya bergidik ngeri.

Popuri mengembungkan pipinya. "Aku 'kan menanyai kakak baik-baik..."

"Iya, iya, maaf," kata Rick. "Tapi saat ini aku sedang malas bermain zombie-zombiean. Aku sedang tidak berminat menjadi zombie."

"Hah? Siapa bilang aku mau mengajak kakak main zombie-zombiean?" ujar Popuri yang mendapatkan pandangan kaget dan heran dari Rick.

"Heh?" tanya Rick dengan heran. Ia juga memastikan tidak ada kotoran yang ada di dalam telinganya. "Serius? Lalu kau memanggilku untuk apa??"

"Hehe... Hari ini 'kan hari Minggu." Rick mengangguk. "Dan Poultry Farm tutup saat hari Minggu 'kan?" Rick mengangguk lagi. "Jadi..." Popuri meneruskan kalimat selanjutnya dengan wajah bersemu, "...Aku mau mengajak kakak mampir ke pertanian kakak beradik Jack dan Claire itu."

Rick memikirkan pendapat Popuri tadi sambil memiringkan kepalanya. "Hem..." Kemudian wajahnya jadi ikut bersemu seperti Popuri. "Kurasa bukan ide buruk. Ayo kita ke sana!"

"Hore!!!!!" teriak Popuri, tidak dapat menyembunyikan kesenangannya lagi.

Back to Jack and Claire's Farm

Jack sedang sibuk membersihkan batang-batang pohon kering dan bebatuan sedangkan Claire membersihkan rerumputan yang tumbuh di ladang tersebut. Sesekali terdengar bunyi kapak Jack yang memukul batang pohon atau bunyi palu yang menghantam bebatuan serta bunyi pemotong rumput yang digunakan Claire.

"Jack!!! Claire!!!!" panggil Popuri. Jack dan Claire sama-sama menoleh ke arah sumber suara yang saat itu sedang melambai pada mereka. Claire langsung membuang muka dan meneruskan pekerjaannya sedangkan Jack tersenyum ramah dan menyambut mereka.

"Hai Popuri dan Rick. Ada apa??" tanya Jack begitu Popuri dan Rick berjalan mendekatinya.

"Hanya mampir. Hehehehe. Kalian baru mulai membersihkan ladang ya?" Popuri mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ladang. "Wah, kalian memang hebat. Hari masih siang, tapi pekerjaan kalian sudah hampir selesai."

"Hahaha. Tidak juga, terima kasih atas kunjungannya," balas Jack ramah. Ia melirik Claire yang sepertinya sengaja menjauh dari mereka bertiga.

"Jack? Ada apa dengan pipi kirimu?" tanya Popuri sambil menunjuk pipi kiri Jack yang sedikit merah. Jack jadi mengingat adegan sarapan tadi pagi saat ia dengan penuh percaya diri mengatakan bahwa Claire tidak akan berani memukulnya dan berakhir dengan mendaratnya tinju Claire di pipi kirinya.

"Ah.. Ini.. Bukan apa-apa kok. Hahahahahaha," jawab Jack sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.

Setelah itu Jack dan Popuri jadi berbincang-bincang riang dan kesempatan itu digunaka Rick untuk meninggalkan mereka berdua saja dan mendekati Claire.

Anjing -yang sampai saat ini belum diberi nama- menyalak begitu Rick mendekati Claire. Claire melirik melalui bahunya dan melihat cowok berkacamata itu agak takut dengan anjing yang dari tadi pagi selalu mengikuti Claire dan berada di samping Claire. Claire mengelus kepala anak anjing itu untuk menenangkannya dan membiarkan anjing itu berlari lepas mengejar kupu-kupu yang baru saja lewat. Anjing itu berlalu dengan mainan barunya, meninggalkan Claire yang kembali menekuni pekerjaannya dan tidak memperdulikan Rick.

"Claire..." panggil Rick ingin mencoba membuka percakapan. Sang pemilik nama tetap tidak menoleh sehingga membuat Rick semakin gugup dan canggung. "Ng..." Rick sendiri bingung memutuskan apa yang ingin dibicarakannya dengan Claire.

Claire tetap diam dan tidak menoleh sedikit pun pada Rick sampai akhirnya rumput terakhir telah dibersihkannya. Tanpa sengaja, ketika Claire berbalik, rambut panjangnya telah menampar wajah Rick.

"Aw!" seru Rick. Claire sendiri hanya memperhatikan tanpa berinat meminta maaf. Tidak tampak tanda-tanda penyesalan di wajahnya.

"Sedang apa?" tanya Claire dingin pada Rick yang masih menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Seketika itu juga, Rick langsung mendongak menatap Claire.

"Eh...? He... Sedang apa ya...?" Bukannya menjawab, Rick malah menanyai balik. Claire menatap Rick seraya mengernyit. Akhirnya ia memilih membuang muka dan melihat Jack yang sedang asyik bercanda dengan Popuri. Alisnya semakin mengerut.

"Apa sih, tujuan kalian ke sini?" Claire bertanya pada Rick tanpa mengalihkan tatapannya dari gadis berambut pink dan kakaknya. 'Ngomong-ngomong kalian ini siapa?' tambahnya dalam hati.

"Eh? Tentu saja ingin mampir." Rick mulai kebingungan menghadapi Claire yang dingin, angkuh dan terkesan egois. Akhirnya ia memberanikan diri bertanya. "Kau ini kenapa sih?"

Pertanyaannya itu mendapat hadiah tatapan menghina dari Claire. "Kau bertanya 'kenapa' padaku?"

Rick yang tidak menyadari tatapan merendahkan dari Claire segera tersenyum. "Iya! Sikapmu aneh. Kau ini memang pemalu atau kau punya masalah? Kau bisa menceritakannya padaku."

Claire mendengus menghadapi manusia kelewat polos di hadapannya. "Tidak perlu repot-repot. Jika seandainya aku punya masalah juga aku akan menceritakannya pada Jack, bukan padamu." Kemudian Claire berjalan menjauhi Rick yang mengikuti di belakangnya dengan tatapan bingung serta kecewa.

Jack melihat Claire hendak menghampirinya dan melihat Rick berjalan di belakangnya dengan raut wajah muram. 'Wah... Barusan apa yang diperbuat Claire pada Rick ya? Aduh...' pikir Jack sambil menggaruk pipinya.

"Heh, Kak," ujar Claire begitu tiba tepat di sebelah Jack. "Apa kau sudah menyelesaikan pekerjaanmu?" tanyanya dengan nada pelan namun terdengar keras dan memerintah di telinga Jack.

"Uh.. Belum sih..." jawab Jack takut-takut sambil sesekali melirik ke arah Popuri yang sedang memasang wajah innocent.

"Jadi... sekarang kerjakan kerjaanmu," lanjut Claire dengan nada lembut namun Jack tahu bahwa Claire sedang memerintahkannya. "Dan kalian..." Claire berputar menghadap kedua kakak beradik yang kakaknya sedang berwajah masam dan adiknya sedang berwajah innocent. "...kalau mau mampir, silahkan mampir lain kali. Kami masih sibuk membersihkan ladang ini," ujarnya sopan namun Jack dapat mendengar nada pengusiran dari suara Claire.

"Oh, baiklah!" ujar Popuri –yang tidak jauh beda kepolosannya dengan kakaknya- dengan ceria dan merangkul tangan Rick. "Kami pulang dulu, ya. Kapan-kapan kami datang lagi!"

Rick hanya mengikuti adiknya yang menyeretnya keluar dari pertanian itu sambil tersenyum dan melambai kecil pada Claire yang tentu saja, tidak dibalas sama sekali oleh Claire.

Jack menghela napas seperti biasanya dan menghampiri Claire sambil memanggul kapaknya. "Hei, Claire, mereka akan menjadi tetangga kita lho. Merekalah yang nantinya akan membantu kita kalau kita sedang butuh bantuan."

"Aku bahkan tidak ingat siapa mereka."

"Hah!!?? Yang benar saja!!?? Mereka kakak beradik Rick dan Popuri dari Poultry Farm! Yang baru kita temui kemarin! Astaga, Claire.... Kau ini...makin lama makin parah saja... Kau tidak boleh seperti itu..."

Claire menatap Jack dengan tatapan yang sulit ditebak. Sesaat, Jack mengira bahwa Claire akan tersenyum manis dan menggaruk pipinya sambil berkata 'Iya,ya. Aku minta maaf ya, Kak...' Namun yang terlontar dari mulut Claire adalah, "Kerjakan kerjaanmu dan jangan mengomentari aku."

Jack langsung terdiam di tempat. Ia menatap Claire dengan tatapan jengkel. "Dasar Iblis Betina..." gumamnya pelan. Namun kalimat itu terdengar oleh Claire yang langsung memberikan death-glare pada Jack.

Bosan melihat Jack yang sedang bekerja, Claire memutuskan berjalan-jalan saja walaupun sebenarnya ia tidak menyukai keputusannya ini. Berjalan-jalan berarti bertemu orang lain. Bertemu orang lain artinya Claire harus berinteraksi atau sekedar beramah-tamah. Dan ia tidak menyukainya.

"Claire! Mau ke mana?" panggil Jack begitu melihat Claire yang melangkah ke luar pertanian.

Claire tidak menoleh dan terus melangkahkan kakinya menjauh.

"Titip beli bibit, ya!!!"seru Jack sebelum Claire terlanjur semakin jauh.

Ternyata perkataan Jack barusan memperoleh respon dari Claire. Claire berbalik dengan tatapan malas menghadap Jack. "Kenapa aku? Kau kan bisa pergi membelinya sendiri nanti?"

Jack mengeluarkan cengiran khas-nya. "Kan sekalian..." ujarnya santai.

Claire menghela napas perlahan dan melanjutkan niatnya utnuk berjalan-jalan.

In Supermarket.

"Hai, Claire!" sapa Karen begitu melihat siapa pengunjungnya kali ini. "Mau belanja?" Claire menundukkan sedikit kepalanya pada Karen. "Ah, tidak usah formal begitu," ujar Karen. "Kita 'kan sekarang sudah teman."

Claire berusaha mengacuhkan kata-kata 'teman' itu yang membuatnya kembali diserang ketakutan pribadi. 'Ngomong-ngomong, gadis ini namanya siapa ya?' pikirnya berusaha mengingat-ingat. "Aku hanya membeli bibit yang dititipkan Jack."

"Ooooh, bibit apa?" tanya Karen, masih dengan ramah.

"Turnip, potato, cabbage dan cucumber," jawab Claire seraya melihat ke arah rak bibit. "Masing-masing lima, ya."

"Hem.. Semuanya 2.250 G." Karen menyerahkan kantong-kantong bibit tersebut yang langsung dimasukkan Claire ke dalam ransel serba gunanya. "Em... Karena kau sekarang temanku, maka aku akan memberimu diskon, Claire!! Kamu boleh hanya membayar 2.000 G saja!!"

Claire yang saat itu sedang merogoh saku celananya untuk mengambil uang pun menghentikan kegiatannya dan mendongak menatap Karen. Ia menatap Karen dengan tatapan terkejut juga bingung. "Kenapa tadi kau bilang?"

"Karena kau sekarang temanku," ulang Karen sambil tersenyum. Claire mengernyit melihat Karen yang tersenyum sembari mengatakan kata 'teman'. Mengingatkannya pada seseorang yang justru paling tidak ingin diingatnya.

"Tidak perlu repot-repot," ujar Claire. Ia menyerahkan uang pas dan langsung beranjak pergi dari sana.

"Eh?" Karen terheran-heran sendiri melihat uang di tangannya. "Masa iya dia tidak mau kuberi diskon?" Karen menatap pintu supermarket yang kini tertutup. Kemudian gadis itu terkekeh pelan. "Hehehe. Dia benar-benar pemalu. Tapi aku yakin dia dan aku pasti dapat berteman baik."

Claire bergegas keluar dari supermarket. Ia sedikit berjalan cepat namun kembali memelankan langkahnya begitu mengetahui gadis itu tidak berusaha mengejarnya atau bahkan memanggilnya. Ia menghela napas lega.

"Eh? Claire?" Claire sedikit tersentak saat seseorang menepuk bahunya. Ia langsung berbalik dan mendapati bahwa yang menepuknya adalah seorang gadis berkuncir yang tak lain tak bukan adalah Ann. Ann tersenyum ramah padanya. "Hai! Mau kemana?"

'Ya ampun.. Siapa lagi ini? Kenapa aku bisa lupa namanya...' batin Claire kesal. Claire menjawab pertanyaan itu dengan nada jengkel yang disembunyikannya dengan baik. "Mau pulang."

"Oh... Kau sehabis dari mana, Claire?" tanya Ann, masih ramah.

"Supermarket."

"Oh.... Apa yang kau lakukan di sana?" tanya Ann, ramah.

"Belanja."

"Oh.... Belanja apa?" tanya Ann, ramah.

"Bibit."

"Oh.... Bibit apa?" tanya Ann, masih berusaha mati-matian untuk ramah.

"Bibit tanaman," jawab Claire, berusaha mati-matian menyembunyikan kejengkelannya.

"Oh...." sahut Ann yang sudah mulai kehilangan ke 'ramahan' nya. "Kenapa sih kau selalu menjawab pendek-pendek? Aku 'kan sudah berusaha ramah padamu."

Claire mendengus. "Aku memang begini."

"Tapi tak bisakah kau mencoba membalas keramahan yang diberikan orang lain kepadamu dengan bersikap lebih hangat?" Ann mulai jengkel dengan sikap Claire yang menurutnya sangat menyebalkan. Sudah ia yang menyapa lebih dulu, Claire bahkan tidak balas menyapanya atau sekedar berkata 'Hai'. Ann juga sudah mencoba lebih akrab dengan Claire dengan bertanya basa-basi, namun yang didapatnya hanyalah jawaban-jawaban pendek yang dijawab sambil membuang muka.

"Kalau kau menyesal telah berlaku ramah padaku...." Claire mendekatkan wajahnya pada Ann yang membuat wajah gadis itu merah saking kesalnya ia pada wajah Claire yang menyeringai mengejek padanya. "....lain kali, jangan berlaku ramah padaku," lanjutnya dan pergi begitu saja.

Ann menghentakkan kakinya di tanah. "Ugh! Menyebalkan sekali!!!! Apa-apaan sikapnya itu!!??" gerutunya. Kemudian ia kembali berjalan menuju Inn. Masih dengan menggerutu dan berwajah masam.

Claire mengarahkan kakinya ke arah pantai. Di sana, Claire segera menuju dermaga dan berdiri di sana. Matanya menerawang ke arah laut. Memandanginya seakan ingin menghentikan laju ombak yang bergulung-gulung nakal saling mengejar satu sama lain.

Hari semakin sore dan apa yang ditunggu Claire sedari tadi akhirnya muncul juga. Ia terpana menatap langit yang sekarang sedang menampilkan pemandangan yang paling disukainya.

Matahari terbenam.

Claire tersenyum tipis (sangat tipis dan tidak kasat mata) saat mengagumi detik-detik di mana langit menampakkan warna terindahnya yang menenangkan hati. Campuran antara warna oranye, merah, ungu dan warna abstrak lainnya benar-benar membuat Claire terkagum-kagum dari dulu. Namun ketenangannya terganggu saat ia menyadari ada seseorang berjalan ke arah dermaga, tempatnya berdiri sekarang. Ia segera berbalik.

Seorang pemuda berdiri di hadapannya sekarang. Pemuda itu sedikit menyipitkan matanya dan menggunakan tangannya untuk melindungi matanya dari silau cahaya matahari terbenam yang masih sedikit menusuk mata. Dan tanpa aba-aba, rona merah bersemu di pipi sang pemuda yang terkagum-kagum dengan pemandangan gadis cantik yang berlatar-belakang laut dengan kilau matahari terbenam. Ia terpesona.

"Ha.. Hai..?" sapa pemuda itu. Claire mengacuhkannya dan kembali memunggungi pemuda itu. "Hei... Aku bicara padamu, lho..." katanya lagi. "Kau orang baru? Aku tidak pernah melihatmu."

"Hh... Bukan urusanmu," jawab Claire dingin.

Pemuda itu terdiam seper-sekian detik dan akhirnya mengambil inisiatif untuk memperkenalkan dirinya sendiri. "Aku ini pencuri paling handal di muka bumi ini. Namaku Skye, atau Phantom Skye. Jadi...." Pemuda bernama Skye itu berjalan mendekati Claire, mengangkat beberapa helai rambut Claire dan mengecupnya. "...kau harus hati-hati agar hatimu tidak tercuri olehku," katanya sambil mengedipkan sebelah matanya.

Jika seandainya Claire wanita 'normal' seperti gadis-gadis lainnya, mungkin saat ini wajahnya sudah semerah tomat. Namun yang terjadi adalah sebaliknya. Ia melempar tatapan menghina andalannya. "Jadi maling kok bangga..."

Pernyataannya itu dengan sukses mendaratkan berton-ton besi pada inner Skye. Skye tercengang di tempat dan selama beberapa menit ke depan hanya bisa diam mematung di tempatnya berdiri dengan tatapan takjub pada Claire yang masih menikmati pemandangan matahari terbenam.

Matahari hampir tenggelam seutuhnya dan sebelum hari benar-benar gelap, Claire memutuskan untuk pulang. Ia melihat pemuda pencuri itu sedikit menampakkan raut kecewa saat melihatnya melangkah pergi.

"Aku belum tahu namamu," kata Skye.

"Tidak perlu tahu," ujar Claire sambil terus melangkah pergi.

"Apa menurutmu kita bisa bertemu lagi?"

Claire menghentikan langkahnya. Ia berbalik menghadap sang pencuri -yang terlihat kaget saat ia tiba-tiba berbalik- dengan tatapan heran. "Kau tidak tinggal di sini?" tanya Claire.

Skye menggeleng. "Aku sih.. tinggalnya di..."

"Nggak nanya," sahut Claire dan berbalik pergi lagi, meninggalkan Skye yang lagi-lagi terdiam di tempat seraya menatap kepergian Claire.

Skye terkekeh begitu Claire menghilang ke arah belokan. "Gadis aneh... Belum pernah aku bertemu gadis seaneh itu... Hehehe. Sayang sekali aku tidak tahu namanya." Kemudian ia melangkah pergi entah kemana. Masih sambil terkekeh dan terkadang, tersenyum penuh arti.

In Jack and Claire's Farm

"Lamaaaaaa!!!!!!" teriak Jack saat adiknya dengan santai dan berlagak cuek memasuki rumah dan menjatuhkan diri di sofa.

"Yang penting 'kan pulang," sahutnya seraya melemparkan kantong berisi bibit pada Jack. Jack langsung menangkapnya.

"Besok kau harus membantuku!" katanya sambil mengacungkan kantong bibit itu. Claire hanya mengangguk. "Baiklah kalau begitu. Sudah mulai malam. Ayo makan malam, lalu tidur."

"Habis makan langsung tidur?" tanya Claire yang beranjak dari sofa menuju kamar mandi untuk mencuci muka sekaligus tangannya. "Seperti babi saja."

"Terserah aku, 'kan!" sahut Jack sambil tertawa dan hendak mengacak-acak rambut Claire, namun gadis itu sudah lebih dulu menutup pintu kamar mandi.

Claire membasuh wajahnya dengan air dingin yang mengalir dari keran. Didengarnya suara Jack yang menanyainya dari depan.

"Jadi, hari ini kau bertemu siapa saja, Claire?"

Claire terdiam sebentar, mengingat kembali pertemuannya tadi dengan gadis supermarket dan gadis berkuncir yang tidak ia ingat namanya. Juga dengan pencuri aneh bernama Skye. "Tidak ada..."

"Oh..." Jack tidak bertanya lebih lanjut. Ia menunggui Claire keluar dari kamar mandi dan setelah gadis itu keluar, mereka memulai makan malam dengan candaan dari Jack yang berkata bahwa Claire harus segera mencari pacar dan pelototan tajam dari Claire.

Setelah makan malam dan mencuci piring mereka sama-sama (dimana Jack bermain-main dengan busa sabun dan dihadiahi benjolan indah di kepalanya oleh Claire) mereka pun bergegas untuk tidur. Namun mereka mengurungkan niat mereka saat mendengar ketukan pintu.

"Heh? Siapa malam-malam begini?" Jack menatap pintu rumah mereka dengan tatapan bingung.

"Aku saja yang buka," sahut Claire sambil bergegas membuka pintu sedangkan Jack berlalu ke kamar mandi untuk menggosok gigi.

Pintu terbuka dan nampaklah seorang gadis yang terlihat malu-malu saat ia mengetahui Claire yang membuka pintu. "Hai, Claire...." sapa gadis itu.

"Sedang apa malam-malam ke sini?" tanya Claire sambil melihat ke arah sekitar. Tidak ada yang bersama gadis itu. Gadis itu seorang diri.

"Ng.. Boleh aku masuk ke dalam? Aku ingin bicara sebentar denganmu..." Gadis itu bertanya.

"Tidak," jawab Claire. "Di sini saja. Hanya sebentar, 'kan? Apa yang mau kau bicarakan?"

"Eh? Baiklah, di sini saja." Gadis itu menarik napas dan menghembuskannya perlahan. "Aku mau minta maaf atas hal yang tadi..."

"Apa? Yang mana?"

"Yang tadi, lho... Masa kau tidak ingat..?"

"Untuk apa minta maaf?"

Gadis itu memandangi Claire. Claire balas menatapnya dengan pandangan dingin. "Aku..." Gadis itu menunduk, "...merasa bersalah setelah berkata begitu denganmu tadi. Seharusnya aku mengerti bahwa sifatmu memang begitu. Aku benar-benar bukan teman yang baik. Maafkan aku ya?"

"Teman?" ulang Claire. "Sejak kapan kita jadi teman?"

Mata gadis itu membelalak tidak percaya. "Ya ampun, jadi kamu nggak menganggap aku temanmu?"

Claire menggeleng dan kemudian bertanya lagi. "Aku... Kau...benar-benar menganggapku teman, ya?"

Gadis itu tersenyum mendengar pertanyaan Claire. 'Wah, rupanya dia memang pemalu, ya... Bahkan dia saja sampai tidak percaya begitu kalau aku menganggapnya teman,' batinnya salah sangka karena memang sebenarnya Claire tidak berniat menjadi temannya. "Hahaha. Tentu kita teman. Jadi lain kali kau tidak perlu malu-malu lagi."

'Apa-apaan sih nih orang? Kenapa dia mengaku berteman denganku? Dia yang tadi siang ya? Siapa dia? Namanya saja aku tidak ingat," pikir Claire. "Siapa yang malu-malu?" Claire hendak membalas gadis itu dengan kata-kata tajam saat Jack tiba-tiba saja muncul di antara mereka.

"Ann? Kenapa malam-malam ke sini?" tanya Jack pada Ann.

'Oh...? Jadi namanya Ann?' batin Claire.

"Malam, Jack," sapa Ann malu-malu. "Aku tadi bicara sebentar dengan Claire. Tapi sudah selesai kok. Aku pulang dulu, ya. Daah Jack, daah Claire."

"Tunggu!" tahan Jack. "Aku antar, ya? Sudah malam, tidak baik perempuan pulang sendirian," lanjutnya sambil melangkah menyusul Ann.

Ann terlihat kaget. "Eh!? Tidak...Tidak perlu kok! Nanti merepotkan!"

"Tidak apa-apa. Tidak merepotkan kok," kata Jack dengan cengiran ramah khas-nya. Ann hanya terdiam dengan wajah bersemu. "Jaga rumah ya, Claire."

Claire langsung membanting pintu.

'Kenapa tuh anak?' pikir Jack sedangkan Ann masih sibuk menyembunyikan wajah merahnya dan memikirkan cara agar Jack tidak melihat wajahnya hingga ia sampai di Inn nanti.

Claire menopang wajahnya dengan telapak tangan kanannya sedangkan telapak tangan kirinya menopang siku kanannya. Pose yang selalu dilakukannya jika ia sedang berpikir. Kemudian ia beranjak dan berbaring di atas tempat tidur.

Claire termenung sendiri. Teman. Teman. Teman. Maaf...... Claire membenamkan wajahnya pada bantal.

"Ngantuk..... Ah, biarkan saja si Jack itu. Dia bawa kunci, 'kan?" gumamnya dan segera tertidur.

Good night... Have a nice dream...


Y.E: hip..hip... hore.....................

Kappa: tumben lemes..??

Y.E: emang lagi lemes~~~~ bayangin aja, Mate saiia 0~~!! saiia ulang nih, ENOL~~!!! NOL~~~!!!

Kappa: nyante aja sih~~ sekelas ini kan enolnya??

Y.E: tapi mate saiia GAK pernah enol~~ paling bontot aja 65~~ aaaaah~~~ guru mate sadiiiiiiis~~~ TT___TT

Kappa: errr... cuekin aja dia~~ kita bales ripiuw dari yang nggak log-in


For Owly Bros

Kappa: wakakakakak, penggemar JackxElli nih yaaaah~~

Y.E: makasih ya ripiuw nah, The owl sama The lonely owl~~~ nyahahahaha, kesalahan sudah di edidddddd~~~

Kappa: Jack banyak fansgirl?? nggak salah tuh? banyakan fansgirl gue lah~~ buahahahahahahahahahaha

Y.E: adududududuh, mati nggak lu.. pede gyle~~


For Xoxoxoxoxo

Kappa: eh, jemuran apa nih?? kalo ada kolor ijo, gue minta doooong~~

Y.E: cuekin aja lah si gila Kappa ini.... makasih atas ripiuw nah~~~ heh? permadani? wkwkwkwkwk (ditinju Jack). saiia juga nggak tau kok, istilah buat cowoknya ntuh apah...

Kappa: heh, ada adeknya/kakaknya nih~~


For Xpxpxpxpxp

Kappa: sekeluarga namanya unik yah..

Y.E: yap! you are datang~ makasih yah dah nge-ripiuw, wahai saudara dari Xoxoxoxoxo~~

Kappa: heh? Xoxoxoxoxo gila? sama kayak yang nulis cerita dooong?

Y.E: aih, Xoxoxoxoxo!!!!! dikatain tuh ama Kappa!!! hajaaaaarrrr!!!!

Kappa: eh? demen yang panjang-panjang yah?

Y.E: panjang-panjang?

Kappa: panjang.......

Y.E: makin nggak jelas deh......


Y.E: dan terakhir, terima kasih juga buat eRi-HiMe, Anisha Asakura, Yuki-Shirou - YN, dan teacupz' udah repot-repot nge-ripiuw~~ *membungkuk hormat*

Kappa: ripiuw tidak diwajibkan apabila merepotkan~~~ =D