No Title
By: Y.E
Disclaimer: Natsume
**********
Jill mendekati Claire dan menamparnya dengan keras. "Pengkhianat!!" serunya dan kembali memukul Claire.
Claire memegangi pipi kanannya yang merah dan terasa panas. "Jill? Ada apa? Apa maksudmu pengkhianat?"
"Tidak usah pura-pura bodoh! Aku tahu kamu munafik! Kenapa kau merebut Blue!!??? Blue milikku!!!!" ucap Jill histeris sambil mendorong Claire.
Claire terjatuh dan air mata mulai mengalir dari mata birunya. "Tidak! Aku tidak melakukan apapun! Jill, aku tidak menyukai Blue!"
"Pembohong!!!!!!" Jill menendang Claire, membuat gadis itu kesakitan dan menjerit tertahan. "Aku benar-benar menyesal berteman denganmu! Kau munafik! Kau mengkhianatiku! Sahabat macam apa kau ini!? Dasar sampah! Mulai sekarang aku tidak mau menjadi sahabatmu lagi!!!"
Claire terbelalak dan dengan perlahan, ia merangkak ke arah Jill dan berlutut seraya menggenggam rok Jill dengan erat. "Aku mohon, Jill.... Aku mohon... Jangan...."
Jill kembali menendang Claire. "Jangan dekat-dekat aku lagi!!!" Kemudian ia mendekati Claire yang terbaring tidak berdaya di tanah dengan seragamnya yang sudah kotor. Ia menarik rambut Claire dengan sangat kasar sehingga perempuan itu kembali menjerit. "Dengar, ya!! Aku akan membuatmu menyesal telah mengkhianati aku! Kita lihat saja, nanti," ujarnya sinis. Kemudian ia meludahi wajah Claire dan mendorong Claire secara kasar sehingga Claire kembali terpuruk di tanah.
Hujan turun tak lama kemudian, membasahi tubuh Claire yang berlumpur dan berdarah. Claire berjalan terseok-seok. Air mata yang mengalir tak berhenti dari matanya bercampur dengan air hujan.
Jill.....
Teman....
Sahabat.....
Claire mendongak ke atas, memandangi langit hitam yang sedang meneteskan tetes-tetes air dingin ke arahnya. Tak lama kemudian, bahunya mulai gemetar, terdengar isakan pelan dan kemudian meledaklah suara tangis bersamaan dengan jatuhnya tubuh itu ke tanah. Claire menangis di bawah guyuran hujan deras yang mengalahkan suara tangisnya.
Kenapa harus aku?
Kenapa kita harus berteman?
Kenapa kita harus bersahabat?
Dan kenapa ini bisa terjadi?
**********
Claire membuka matanya perlahan. Disekanya air mata yang keluar dari sudut matanya. Ia menatap sekelilingnya. Masih gelap dan Jack juga masih terlelap di tempat tidurnya. Namun Claire tidak berniat untuk tidur kembali.
Ia menghirup napas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan keras. Kemudian ia bangkit dan segera menuju kamar mandi.
Setelah selesai dengan kegiatan mandinya, Claire beranjak mendekati tempat tidur Jack. Dilihatnya wajah terlelap Jack yang terlihat tenang. Namun ekspresi Jack itu segera berganti ketika Claire dengan tidak berperi-kemanusiaan menepuk dahi Jack dengan sangat keras.
"Adaaaaaw!!!!!" teriak Jack yang langsung terduduk sambil memegangi dahinya. "Aduh, sakit sekali. Apaan sih, Claire!!??"
"Bangun, sudah pagi," kata Claire sambil menunjukkan jam weker kecil tepat di depan batang hidung Jack.
"Hah? Jam 5? Masih pagi buta begini?" Jack menatap jam weker di hadapannya dengan mata membulat. "Tumben kau bangun pagi!!! Ada apa nih!!!!??? Pasti ada yang tidak beres!!!!"
Claire menghadiahi Jack dengan sebuah jitakan keras. "Enak saja. Kebetulan saja aku bangun. Mungkin karena kemarin aku terlalu cepat tidur. Sekarang, cepat mandi dan beres-beres."
"Heeeh? Masih pagi, 'kan...." ujar Jack dengan nada memelas. "Aku mau tidur lagi saja ah..."
"Tidak." Claire menarik baju Jack hingga pemuda itu terduduk kembali. "Sekarang, kau mandi lalu kerja. Setelah selesai, mau kau tidur kek, mau sampai mati kek, aku tidak akan peduli."
"Ugh... Jahatnya...." ujar Jack sambil berpura-pura sakit hati dan memasang wajah ingin menangis. Namun Claire menendangnya hingga kamar mandi.
A few minute later.
Jack keluar dari kamar mandi dan melihat Claire yang sedang meletakkan Raisin Bread di atas piring. Wangi harum kismis dan anggur menyebar ke seluruh ruangan. Jack tersenyum pada Claire yang sekarang sedang menyiapkan Grape Juice di atas meja.
"Kenapa senyum-senyum begitu?" tanya Claire yang merasa aneh pada Jack.
Jack yang masih tersenyum mendekati meja makan dan langsung duduk. "Wangi. Kau ternyata bisa masak juga, ya?"
Claire menatap tajam pada Jack. "Apa maksudmu? Mau kutarik piringmu?"
"Tidak, jangan!!" seru Jack dan mengambil posisi seakan melindungi piringnya.
"Kalau begitu jangan berisik dan bicara yang aneh-aneh." Claire beranjak dari tempat duduknya dan keluar kemudian mengisi tempat makan anjing kecil peliharaan mereka dan masuk kembali.
"Heh? Ngomong-ngomong anjingnya belum diberi nama, ya?" tanya Jack.
Claire menggeleng. "Dasar bodoh. Masa begitu saja tidak ingat?"
Jack mengabaikan celaan Claire dan meneruskan pembicaraan. "Kalau begitu kita beri nama Lyla! Aku kangen padanya...."
Claire menatap Jack dengan pandangan menghina –seperti biasanya-. "Dasar Jack bodoh. Anak anjingnya itu jantan loh..."
Jack mematung dan sedetik kemudian tertawa hambar. "Hahahaha... A...Aku hanya mengetes kamu saja, kok, Claire."
Claire hanya memandang kakaknya seolah mengatakan 'Kau-Ini-Benar-Benar-Sangat-Bodoh-Ya?'
Jack tidak menggubrisnya dan kembali melanjutkan pembicaraan. "Jadi sebaiknya namanya siapa, dong?"
"Mana kutahu."
"Setidaknya bantu pikir, dong...."
"Bukan urusanku."
Setelah adu mulut dan perdebatan yang tidak penting, sesi sarapan pagi Jack dan Claire akhirnya berakhir dengan damai. Mereka sudah bersiap melakukan aktivitas mereka sebelum Jack menyadari sesuatu.
"Claire, apa itu?" tanyanya seraya menunjuk ke arah kalung yang sedang dikenakan Claire. "Oh! Aku ingat! Itu kalung yang waktu itu diberikan oleh anak laki-laki yang kalau tidak salah namanya Gray itu, 'kan?"
"Sudah tahu kok masih tanya?"
Jack menggeram sebentar namun ia memutuskan untuk mengacuhkan kejengkelannya dan mulai bekerja.
Jack mulai dengan mencangkul lahan. Setelah semua lahan selesai dicangkul, ia, dengan dibantu oleh Claire, mulai menanam bibit yang sudah dibeli oleh Claire kemarin. Setelah itu mereka mulai menyirami benih-benih tersebut bersama-sama.
"Claire," panggil Jack memecah kesunyian di antara mereka. Kemudian hening lagi. Yang terdengar hanya suara air yang mengalir dari alat penyiram tanaman.
"Ya?" jawab Claire akhirnya.
"Apa kau suka tinggal di sini?"
"Tidak."
"Mulai suka?"
"Tidak."
"Tidak sedikit pun?"
"Iya."
Helaan napas. "Kenapa?"
"Ng... Tidak ada alasan khusus, sih..."
"Kalau begitu kenapa?"
"Kak....." Claire mengambil jeda sesaat sebelum meneruskan. "....please deh yah... Kita baru tiba sekitar dua sampai tiga hari yang lalu dan kau menyuruhku untuk menyukai 'apa?'!?"
"Aku ingin kau menyukai semuanya...."
"Semuanya? Termasuk tempat ini, semua penduduk dan termasuk kepindahan kita?"
Jack tertegun sesaat. "Aku tidak tahu kalau kau.... tidak suka kalau kita pindah."
"Sekarang kau tahu, 'kan?"
Hening kembali. Mereka melanjutkan pekerjaan dalam diam dan saling sibuk dalam pikiran masing-masing. "Aku sudah selesai dengan bagianku," ujar Jack. Ia meletakkan alat penyiram tanaman miliknya dan berjalan ke luar perkebunan, meninggalkan Claire yang terdiam dan tidak membalas ucapannya sama sekali.
In library.
'Huuuh... Kenapa sih Claire itu...? Aku pikir ia akan senang apabila kuajak dia pindah bersamaku. Kupikir ia akan senang karena ia tidak akan bertemu dengan mereka lagi...' keluh Jack dalam hati. Sampai-sampai ia sendiri tidak sadar bahwa dirinya sudah memasuki perpustakaan dan terus berjalan sampai menabarak seseorang.
"Waduh!" serunya. "Eh? Ah!! Maaf, ya!!!" ujarnya setelah tersadar dari lamunannya. "Maaf, aku sedang melamun... Kau tidak apa-apa, 'kan, Mary???"
"Eh.. Tidak... Maaf... Aku juga.. sedang melamun..." balas Mary terbata-bata. "A..Anu... Jack.... Kau... ingat.... namaku..?"
"Heh?" Jack terheran-heran dengan pernyataan Mary. Anehkah kalau ia mengingat nama gadis itu? "Tentu saja aku ingat. Memangnya kenapa?"
"Ah.. Bukan apa-apa..." jawab Mary malu-malu. Wajahnya sudah terlihat memerah. "A... Anu... Te.. Terima kasih sudah berkunjung ke perpustakaan ini, ya..."
Jack memperhatikan sekelilingnya. Sepi. Bahkan sepertinya hanya ada mereka berdua. "Haha. Sama-sama.... Ini tempat yang tenang, ya.... Kurasa aku akan suka berlama-lama di sini..."
Mary mengamati Jack sesaat dan akhirnya memberanikan diri bertanya. "A.. Ada apa, Jack? A.. Apa ada...yang mengganjal... di hatimu...?"
Jack menghela napas sesaat. Ia duduk di salah satu bangku yang berada tepat di depan rak-rak buku tentang dongeng dan cerita-cerita, kemudian ia memberi isyarat pada Mary untuk duduk di sebelahnya. Mary menurutinya.
"Ja... Jadi...?" tanya Mary, masih terbata-bata. "Kau... mau menceritakannya... padaku?"
Jack mengangguk. "Sebenarnya tadi aku dan Claire.... Yah...., bukannya bertengkar sih... Hanya.... Bagaimana bilangnya, yah...? Ng... Kami sedikit berselisih pendapat.... Claire sedikit mendapat masalah di kota tempat tinggal kami yang dulu. Dan.... masalah itu.... ng.... membuatnya... agak.... trauma..."
"Trauma?" ulang Mary. "Aku pernah membacanya di buku. Tapi setahuku, penyebab trauma itu biasanya masalah besar. Masalah yang betul-betul menyeramkan sampai-sampai orang tersebut tidak ingin mengingatnya lagi... Yah... walaupun ada juga yang karena hal sepele sih... Boleh kutahu apa masalah itu?"
Jack nampak berpikir sesaat. "Kurasa kau harus berteman dengan Claire dan menanyakan sendiri masalah itu...."
"Oh.... Lalu? Apa yang terjadi?"
"Tadi... dia bilang padaku dia tidak suka dengan kepindahannya ke sini... Padahal kupikir, ia akan senang karena jauh dari....masalahnya...." ujar Jack dengan murung.
Mary menjadi iba begitu melihat wajah murung Jack. Diusapnya punggung Jack dengan lembut. "Sabar, ya.... Apa Claire orangnya selalu seperti itu?"
Jack mengangguk. "Dulunya tidak."
"Aku mengerti..." ujar Mary lembut. "Aku tahu kau sangat peduli padanya... Aku juga mengerti kalau kau membawanya pindah agar dia bisa kembali seperti semula dan melupakan masalahnya. Benar, 'kan?"
Jack mengangguk lagi. "Ya.. Padahal aku sebenarnya banyak berharap dengan kepindahan ini...."
Lagi-lagi Mary hanya mampu mengusap punggung Jack.
"Mary..." ujar Jack dengan nada yang tidak bersemangat. "....kalau kau ada di posisiku.... Apa yang akan kau lakukan?"
Mary terdiam. Ia mengangkat tangannya dari punggung Jack dan menunduk. "Eenng.... I..itu...." jawabnya terbata-bata karena bingung. "A... Aku juga bingung... a... apa yang harus aku lakukan... jika... aku ada di posisimu.... Ta..tapi...."
Jack memandang Mary, menunggu lanjutan dari kalimat gadis itu.
"A... aku akan tetap menjadi diriku sendiri.... Dan... a... aku juga... tidak akan menyerah... untuk.... mengembalikan Claire... seperti semula... Karena... dia... adikmu.... 'kan...." Wajah Mary benar-benar memerah saat mengatakan hal itu. Kemudian ia menunduk.
Jack tersenyum lebar setelah mendengar pernyataan Mary. Gadis itu benar. Mereka memang baru pindah... Masih ada waktu untuk membuat Claire menyukai kepindahan mereka. Pikiran-pikiran positif mulai berlalu-lalang di pikiran Jack dan itu membuatnya merasa lebih baik.
Jack menepuk kepala Mary. "Terima kasih banyak, ya. Aku lega sekali bicara denganmu." Tidak disadarinya wajah Mary yang sudah merah menjadi lebih merah lagi.
"Sa... sama-sama.... Se... Senang bisa membantu...." jawabnya.
"Baiklah!" seru Jack dengan nada yang kembali bersemangat. "Aku benar-benar berterima kasih padamu, Mary. Kapan-kapan aku akan mampir lagi. Sampai jumpa, Mary!!" katanya sambil berlalu dari perpustakaan.
In Mother Hill Peak.
Claire sedang bersantai di Puncak Gunung Mother. Memang hawa di sana sejuk dan pemandangan perkampungan yang terlihat dari sana terlalu sayang untuk tidak dinikmati. Namun Claire memilih untuk berbaring di hamparan rumput dan menatap awan-awan yang berada di atasnya. Sesekali, belaian angin menggerakkan rumput dan rumput-rumput tersebut mulai bergoyang menggelitik penggung Claire dan pipinya. Namun gadis itu tetap diam di tempatnya.
Terdengar suara langkah kaki dan bunyi rerumputan yang bergemerisik. Claire sedikit menoleh melalui sudut matanya. Seseorang berjalan mendekatinya.
"Eh? Kau Claire, 'kan? Sedang apa di sini??" tanya orang itu.
"Menurutmu?"
"Hmm.... Melihat awan?"
"Jawaban yang bagus...."
"Boleh duduk di sini?"
"Silahkan."
Orang itu duduk tepat di sebelah Claire yang masih berbaring. Hening.
"Hei...." panggil Claire pada orang tersebut.
"Aku punya nama."
Hening kembali.
"Gray..." panggil Claire lagi.
"Apa?"
"Tidak jadi...."
Hening.
"Claire..." panggil Gray.
"Ya?"
"Sedang apa kau di sini?"
Claire sedikit mengernyit heran. "Jawabanmu yang tadi tepat, kok..."
"Benar? Sepertinya wajahmu tidak berkata begitu," jawab Gray seraya memperhatikan raut wajah Claire. "Mendung," ujarnya.
"Masa? Kau sendiri sedang apa di sini?"
"Bersantai. Jam kerjaku di Blacksmith sudah selesai dan itu artinya bebas dari teriakan kakek."
Tanpa sadar, Claire tersenyum tipis. "Hmm... Kalian kadang tidak akur, ya?"
"Bukan hanya 'kadang' lho..."
"Tapi kau senang, 'kan?"
Gray memandang Claire dengan tatapan yang sulit ditebak. "Darimana kau tahu?"
"Kelihatan, kok, dari wajahmu...."
"Masa?"
"Ya..."
"Ngomong-ngomong, Claire... Kau punya waktu??"
"Aku free sampai malam nanti. Tidak ada kerjaan."
"Bagaimana kalau... kita mengobrol sebentar di sini?"
"Heh...? Tidak masalah sih..." Claire bangkit dan mengambil posisi duduk. "Aku juga mau bertanya banyak hal tentang Mineral Town ini..."
"Oh ya?" tanya Gray dengan nada senang yang tidak dapat disembunyikannya. "Tanya saja."
Claire menaikkan sebelah alisnya. "Kenapa senang begitu?"
Gray membenahi topinya. "Masa? Perasaanmu saja mungkin..."
"Eh, Gray..." Claire memulai. "Ini desa, 'kan?"
"Tentu saja. Kenapa tanya?"
"Kenapa kalian menyebut tempat ini 'Mineral Town'?"
"Maunya sih, 'Mineral Heaven'..."
"Serius, Gray..."
"Aku serius, Claire.... Tempat ini seperti surga."
"Lalu 'Town'-nya?"
"Itu sih.. Punya arti tersendiri. Tempat ini memang desa. Tapi kekeluargaan semua penduduk di sini lebih besar daripada apapun. Yang dimaksud 'Town' di sini bukanlah Kota Mineral, tapi kekeluargaan kami yang begitu besar melebihi desa dan sebesar kota."
Hening. Yang terdengar hanya suara hembusan angin dan tarian rerumputan yang tertiup angin.
"Apa... hubungannya?" tanya Claire akhirnya.
"Haha.. Tidak tahu, tapi kata Mayor Thomas begitu."
"Nggak nyambung, Gray..."
"Begitu menurutmu??"
Claire terdiam. Sebenarnya ia mengerti arti kalimat Gray barusan. Tapi entah kenapa, hatinya menolak kebenaran itu.
"Gray..."
"Hn..."
"Kau suka tinggal di sini?"
"Tentu."
"Kenapa?"
"Orang-orang di sini ramah. Semua saling membantu. Selalu ada yang bisa diandalkan kalau kau sedang membutuhkan bantuan."
"Oh, ya....."
"Boleh bertanya, Claire?"
"Silahkan."
"Kau suka pindah ke sini?"
"..... Mungkin..... belum....."
Gray melihat sedikit raut sedih saat Claire menjawab pertanyaannya. Ia menepuk kepala Claire dan mengelusnya pelan. "Kau butuh waktu..."
Claire mengangguk dan lagi-lagi tersenyum tipis tanpa sadar. "Makasih..."
Semburat merah mucul di pipi Gray. "Nothing to thank's..."
"Mukamu merah. Kenapa? Sakit?" tanya Claire seraya meletakkan punggung tangannya di dahi Gray.
"Waaaaaa~~!!!!!!!!!" seru Gray histeris sambil melompat berdiri, membuat Claire kaget dan sedikit terlonjak ke belakang.
"Eh? Kenapa?" tanya Claire bingung.
"Eh...? Ah... I.. itu... Itu tadi... a... a... ada.... ulat! Iya, ulat! Tadi... ada ulat...Ehe...." jawab Gray gugup. Ia kembali duduk –tepat di- di sebelah Claire.
"Ulat?" Claire memandang sekeliling. "Aku tidak lihat... Kenapa kau jadi gugup begitu?"
"Ulatnya sudah pergi. Masa, sih? Perasaanmu saja mungkin..."
Claire menaikkan sebelah alisnya, namun diputuskannya untuk tidak memedulikan perubahan sikap Gray tadi.
Mereka mulai mengobrol lagi. Obrolan singkat karena keduanya memang sama-sama orang yang dingin dan tidak pedulian. Namun obrolan mereka mengalir lancar dan seolah tidak ada habisnya. Claire merasa senang karenanya. Gray apalagi.
Entah sudah berapa lama mereka mengobrol. Saat itu Claire sedang menyelipkan rambutnya ke telinga dan saat menoleh, terlihatlah pemandangan kesukaannya.
Gray memandangi Claire dalam diam. Mengagumi siluet gadis tersebut yang sedang memandang matahari terbenam. Ia tersenyum. "Kau suka?"
Masih sambil melihat pemandangan favoritnya, Claire menjawab, "Ya. Sangat." Kemudian ia beralih menatap Gray. "Bagus 'kan? Kau suka?"
'Dulu tidak...' batin Gray, 'Sekarang...' "Ya..." jawabnya.
Mereka kembali terdiam.
"Hh... Sudah mau malam ya.. Kau... masih ada waktu, 'kan, Claire?"
Claire mengangguk. "Tentu."
"Mau... makan malam denganku?"
Claire terdiam, berpikir sejenak. "Kenapa tidak?" jawabnya akhirnya.
"Kalau begitu ayo kita ke Inn."
Dan mereka berdua pun berjalan ke Inn. Masih sambil sesekali mengobrol sesuatu yang tentu saja singkat.
In Inn.
"Sini, Claire." Gray menarik Claire duduk di meja dekat pintu masuk, jauh dari meja konter. Inn sedang sepi. Hanya ada Harris yang sedang beristirahat di sana setelah berpatroli.
Claire menurut dan duduk di sebelah Gray.
"Hai, hai!!" sapa Ann pada mereka berdua. "Ehm? Waaaaah.... Gray belum apa-apa sudah mau akrab ya...." goda Ann yang membuat Gray harus menarik ujung topinya untuk menutupi wajahnya yang mulai bersemu.
Claire tidak merespon.
"Baiklah, kalian mau pesan apa nih??" tanya Ann sambil menyiapkan notes dan menyodorkan buku menu.
"Pizza."
"Aku tidak makan banyak, Gray."
"Jadi kau mau apa?"
"Hmmm...."
Ann menunggui dengan sabar sambil sesekali mencuri pandang dari balik notesnya. 'Mereka dekat sekali.... Kok Gray bisa ya...? Kenapa aku untuk akrab saja susah sekali....?' pikir Ann saat melihat Gray dan Claire yang sedang berdekatan saat melihat buku menu bersama-sama.
"Hnngg... Aku mau sashimi dan hot milk."
"Oke..." Ann mencatatkan pesanan Claire. "Kau Gray?"
"Sama saja. Aku mau wine."
"Oke... Eh?" Tangan Ann berhenti mencatat pesanan. "Kau minum wine, Gray?"
"Iyap," jawab Gray. "Kenapa?"
"Nggak sih.. Tapi..." Ann melirik ke arah Claire yang dibalas gadis itu dengan tatapan mengerti.
"Kau bisa mabuk tidak?" tanya Claire pada Gray. "Jangan sampai membuat keributan di sini."
"Tentu saja tidak," jawab Gray cepat.
"Bukan memuat keributan. Claire," kata Ann. "Dia 'kan tinggal di sini. Masalahnya, kalau dia mabuk.... ayah bisa marah. Kemungkinan kau bisa diusir, Gray."
"Pokoknya nggak akan, deh..." ucap Gray yakin sambil mengacungkan jempolnya.
Ann menghela napas. "Oke, oke.. Tapi untuk jaga-jaga, aku kurangi takaranya ya?" ujarnya sambil tersenyum usil.
"Heh? Aku 'kan bayar!" protes Gray.
Claire mengernyit. 'Bawel juga dia ternyata...' pikirnya.
"Hehehe. Hanya sedikit kok, Gray.. Sediiiikiiiit," balas Ann, masih sambil tersenyum usil. Kemudian ia berlalu ke arah dapur.
"Claire..." panggil Gray. "Bagaimana kehidupanmu di kota?"
"Hng...?" Sunyi sesaat. "Biasa saja."
"Biasa?" Gray menaikkan sebelah alisnya.
"Terlalu biasa malah..." jawab Claire sambil menopang dagu.
"Aneh... Padahal setahuku, orang-orang kota itu suka bersenang-senang dan memperluas pergaulan mereka seluas yang mereka mampu."
"Oh, ya? Tahu dari mana?"
"Ng... Gosip?"
"Oh...."
Hening.
"Claire, apa kau lebih senang tinggal di kota daripada di sini?"
"Eh? Maksudmu?"
"Yah... Kau mengerti maksudku, 'kan? Maksudku..... semua teman-temanmu dan keluargamu 'kan di sana. Kau tidak rindu pada mereka?"
Keluarga... Teman? "Tidak... Rindu untuk apa?"
"Jadi kau lebih suka di sini?"
Hening lagi.
"Mungkin saja, Gray... Mungkin......"
Selanjutnya, Claire dan Gray hanya bisa mengobrol singkat karena makanan mereka datang tak lama kemudian.
"Maaf lama menunggu!" seru Ann sambil membawakan pesanan mereka dan meletakkannya di meja. "Selamat menikmati!!" ujarnya dan berlalu ke dekat meja konter.
Dan dua orang itu pun memakan makan malam mereka dalam diam.
In Jack and Claire's Farm
Jack sedang berjalan mondar-mandir di dalam rumah mungilnya. Sesekali matanya menatap cemas ke arah jam dinding dan mulai berjalan mondar-mandir lagi.
"Aduuuh, Claire ke mana, yah...." gerutunya. "Aduuuuuh, kenapa belum pulang. Aduuuuuuh!" Jack menghempaskan tubuhnya ke sofa satu-satunya milik mereka. "Kutunggu sebentar lagi deh..."
Back to Inn.
"Ann!" Gray melambai memanggil Ann. Ann dengan sigap segera menghampiri mereka.
"Semuanya 15.000 G tuan dan nyonya pembeli," kata Ann sambil membungkuk hormat.
"Heh..." Gray sedikit tertawa melihatnya. "Nih. Sama bagian Claire juga."
Claire yang memang sudah menyiapkan uang pun langsung mendongak menatap Gray. "Hah?"
"Nggak apa-apa, 'kan? Anggap saja traktiran selamat datang. Heh?" Gray sedikit menyipit saat memandangi Claire dan wajahnya mulai bersemu. "Kau pakai 'itu', ya...."
"Hem?" Pandangan mata Claire beralih pada kalung yang sedang ia kenakan. "Iya. Aku suka, sih. Terima kasih untukmu yang mau memberikannya untukku."
Gray tidak menjawab dan malah menarik topinya untuk meutupi wajahnya. Ann sudah meninggalkan mereka dengan mengangkat piring-piring kotor ke arah dapur.
"Baiklah, Gray." Claire menepuk pundak Gray. "Sudah malam. Sebaiknya aku pulang. Terima kasih traktirannya."
"Oh, tunggu!" Gray menangkap pergelangan tangan Claire, membuat langkah gadis itu terhenti. "Aku antar."
"Eh? Serius? Tapi... Kau 'kan tinggal di sini... Kalau mengantarku lagi nanti, apa tidak capek?"
"Kurasa membiarkanmu pulang sendirian malam-malam begini bukan pilihan yang bijaksana."
Mereka mulai melangkah keluar dari Inn. "Tapi di sini 'kan sepi, Gray. Jadi tidak berbahaya kalau aku pulang sendiri."
"Aku tidak mau mengambil resiko."
In Jack and Claire's Farm.
"Terima kasih sudah mengantarku, Gray," ujar Claire dengan raut wajah datar begitu sampai di depan pintu rumahnya. "Dan juga untuk acara ngobrol-ngobrolnya, juga traktirannya."
"Ya, sama-sama. Kalau begitu, aku pulang sekarang?"
"Oh, silahkan."
"Sampai jumpa. Selamat malam, Claire."
"Daah."
Percakapan mereka pun berakhir dengan masuknya Claire ke dalam rumahnya dan perginya Gray.
"Aku pulang, Kak...." Claire menyalakan lampu dan dilihatnya Jack tertidur di sofa.
'Hn... Tidur?' Claire mendekati kakaknya dan menaikkan seutas poni yang jatuh menutupi wajah Jack. 'Lucu juga....' batinnya sambil mengusap kepala Jack. 'Halus...'
"Ng.... Grooooooook........"
'......Tidak lucu....' Claire sedikit menggoyang-goyangkan pundak Jack. "Kak, bangun. Kalau mau tidur, jangan tidur di sofa..."
"Grrrrooooooook, kkkrrrrrrrrr......."
Kali ini, Claire mengguncang-guncang tubuh Jack. "Hei! Jangan tidur di sofa, Kak!"
"Krrr... Hah? Eh? Ada apa? Gempa? Kebakaran? Hrrr...?" Akhirnya Jack bangun juga. Ia mengucek matanya dan menatap Claire. "Heh? Claire? Sudah pulang? Darimana saja kau? Dasar... Aku khawatir tau."
"Maaf. Tapi ini 'kan belum terlalu malam."
"Tapi sudah malam, 'kan? Kemana kau?"
"Hmm.... Hanya makan malam dengan teman."
"Astaga!??" seru Jack histeris. "Siapa?"
"Gray. Memangnya kenapa?"
Jack tidak membalas pertanyaan Claire. Ia malah melompat-lompat riang dan berseru-seru sendiri. "Horeee!!! Adikku mulai membuka hatinya untuk orang lain!!! Terima kasih Tuhan!!! Aku tahu Kau memang Maha Adil!!!"
"Berlebihan, Kak..."
"Hahahahaha! Akhirnya kau dapat teman juga, Claire."
"Ah, sudah ah. Aku ngantuk."
"Oh iya! Aku juga. Sudah malam juga. Tidur saja, yuk."
Claire beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelahnya, ia keluar dan mendapati Jack sudah pulas di tempat tidurnya. 'Dasar babi....' Kemudian ia mematikan lampu dan naik ke tempat tidurnya sendiri.
Good night... Have a nice dream...
.
..
...
....
.....
......
......
TBC..............
Y.E: euuuut~~!!!
Kappa: eetttttt~~~!!!!
Y.E: aaaaauuuuut~~~!!!
Kappa: eeeeuuuuutttt~~!!! eh, kita ngapain sih?
Y.E: membuat bunyi-bunyian aneh yang nggak masuk akal mungkin?
Heheheeheheheheheheeeeeeeee
Kappa: grrrrh~~!!!
Y.E: huaaah... nggak ada pertanyaan yang bisa dijawab.... ngomong-ngomong maab sangaaad kalau fic kemarennya banyak salah... males ngedit... *males mode on* ul umum bulan Desember pula... aaaargh~~!!! drag me to hell~~!!!
Kappa: apaaaa kali.....
Y.E: eh, eh, big thanks to Xoxoxoxoxo, Xpxpxpxpxp, The owl, The lonely owl, lagu Spongebobnya juga, eri(.)the(.)nuts (eh? ganti pen-name?), Melody-Cinta (maaf Senpai... makasih double deh buat anda ;D), Anisha Asakura (saiia ngetik aja ampe mimisan =p. huahaha) dan teacupz' (hehe, berguna koq, Senpai =3) saiia cinta mati sama kalian!!!!! (semua: kita enggak tuh!!!! *ngelemparin Y.E pake sampah*)
Kappa: riview tidak diwajibkan apabila merepotkan. hahahaha *ketawa Mbah Surip* I lopp yu pul~~!!!
