No Title
By: Y.E
Disclaimer: Natsume
**********
Claire berjalan lesu memasuki halaman sekolahnya. Tiap langkah terasa begitu berat seakan ada besi yang menggantung di kakinya dan menghambat langkahnya. Saat memasuki sekolah, tidak ada lagi sapaan selamat pagi dari teman-teman yang lain maupun Jill di sampingnya. Semua memandang hina ke arahnya.
Ya, gossip telah tersebar. Bisik-bisik mulai terdengar samar.
"Itu yang namanya Claire?"
"Iya. Yang merebut pacar Jill."
"Tega, ya. Menusuk teman sendiri dari belakang..."
"Kasihan Jill...."
"Dia memanfaatkan kebaikan Blue."
"Untuk apa dia masih datang ke sekolah ini?"
"Berani sekali dia, ya. Sudah mengkhianati orang...."
Claire berusaha sedapat mungkin untuk menulikan telinganya dan tidak menggubris semua komentar pedas yang ditujukan untuknya.
"Wah, wah, lihat siapa ini..."
Claire mendongak untuk melihat siapa orang yang ada di hadapannya dan matanya terbelalak begitu melihat orang itu. "J... Jill..."
"Aku tidak menyangka kalau kau masih berani datang ke sekolah Claire," ucap Jill dengan nada sinis. Teman-teman Jill yang saat itu sedang berdiri di sekitar Jill pun ikut memandang Claire sinis.
Claire perlahan-lahan mulai berjalan mundur. "A.. ah.. A.. aku...."
Tiba-tiba salah satu teman Jill menahannya dari belakang. Dia mencengkram kerah kemeja seragam Claire dan melempar gadis itu ke arah toilet perempuan yang kebetulan berada di samping mereka. Jill dan kawan-kawannya ikut masuk dan mengunci pintu tersebut.
Claire mengamati satu-persatu teman-teman Jill. Yang ia tahu, mereka bernama Katie,Gina, Dia dan Gwen.
"Nah..." Jill berjalan perlahan-lahan ke arah Claire yang masih duduk di lantai dengan tubuh gemetar. "Aku rasa kau ingat ucapanku kemarin 'kan, Claire?"
Claire terdiam. Matanya membelalak ketakutan dan tubuhnya terus gemetar.
"Nah, teman-teman...." ucap Jill dengan nada rendah. "Sebaiknya... apa yang kita lakukan pada anak ini?"
Gwen menyahut dari belakang Claire. "Sebaiknya di apakan, ya, anak tak tahu malu ini?" ujarnya sambil menyodokkan kain dari kain pel di atas kepala Claire.
Katie bergerak ke belakang Claire dan berdiri tepat di samping Gwen. Setelahnya ia menginjak kepala Claire sehingga membuat Claire tertunduk dan dahinya bertabrakan dengan lantai toilet yang keras dan dingin."Soal itu sih... Lebih baik kalau Jill sendiri yang menentukan."
"Hmm...." Jill memasang tampang berpikir sebelum akhirnya tersenyum licik. Ia mengeluarkan sesuatu dari saku kemeja seragamnya. Sebuah kantong berukuran saku berwarna merah. Ia berjongkok dan mengangkat dagu Claire untuk mendongak ke arahnya.
"A... J...Jill...." Claire benar-benar ketakutan. Ia menatap mata Jill yang sekarang dipenuhi kilatan kekejaman.
"Claire-chan...." ucap Jill dengan nada lembut. "Tahukah kau...? Bahwa sahabat yang berbohong pada sahabatnya sendiri harus menelan 1000 jarum? Tidak? Oh... betapa kasihannya dirimu.... Kau tahu salahmu padaku?"
Air mata Claire mulai menetes.
"Kau... mengkhianatiku!" seru Jill, kali ini dengan nada keras dan penuh penekanan. Ia membuka kantong berwarna merah dan mengambil isi di dalamnya yang ternyata adalah.... jarum.
Mata Claire membelalak begitu melihat Jill mengarahkan jarum itu ke arah mulutnya. Ia meronta-ronta melepaskan diri, namun Gwen dengan sigap memegangi tangan kirinya dan Dia memegangi tangan kanannya. Katie sendiri masih menekan kepala Claire dengan kakinya. Gina tersenyum mengejek di sampingnya.
"Kenapa!? Kau takut? Kau sudah mengkhianati aku tapi kau tidak berani menerima hukumannya!!??? Buka mulutmu!!!" Jill menarik rambut Claire dengan kasar. "Makan!!!"
Claire tidak mengacuhkan semua teriakan Jill. Yang dilakukannya hanyalah menutup mata dan mulutnya rapat-rapat. Air mata masih mengalir deras dari matanya. Dia berusaha sedapat mungkin menunduk walaupun Jill masih menarik-narik rambutnya secara kasar, dibantu oleh Katie yang sekarang menarik rambut bagian belakang Claire. Namun Claire masih tetap menunduk dan tidak mendongak sedikit pun.
Bel kelas mereka pun berbunyi.
"Jill, sudah bel. Pelajaran selanjutnya Bob-sensei. Aku tidak mau cari masalah dengan guru itu..." ujar Dia mengingatkan.
Jill mengangkat kepalanya. Ia memberi isyarat pada teman-temannya. Satu-persatu dari mereka melepaskan cengkraman pada bagian tubuh Claire.
"Sayang permainan kita selesai lebih cepat, Claire...." ujar Jill seraya memasukkan kembali jarumnya dan melepaskan rambut Claire dari cengkramannya.
Claire tetap terdiam dengan posisi duduknya. Masih menangis dan tetap menunduk.
"Tapi..." Jill melanjutkan. "..kurang seru, ya, kalau tidak ada penutupnya..." Dan ia langsung memberikan tamparan keras pada Claire.
Claire terlempar dan kepalanya membentur dinding toilet. Begitu keras dan dingin. Seperti perlakuan Jill padanya sekarang.
Jill serta teman-temannya tertawa. Sebelum keluar, Gwen sempat memberikan tendangan telak di perut Claire. Membuat gadis itu menjerit dan terbatuk.
Bunyi suara tawa masih terdengar meskipun Jill dan kawan-kawannya sudah beranjak jauh dari pintu masuk toilet.
Claire diam dalam posisi berbaring. Bel telah berhenti berdering. Kelas telah dimulai. Claire hendak menggerakkan tubuhnya, namun rasa sakit membuatnya mengurungkan niatnya. Yang dilakukannya hanyalah menangis.
Sampai semuanya berubah menjadi gelap.
**********
"...ire... Claire.... Claire!!"
"Kyaaaaaaa!!!"
"Waaaaa~~!!!!!!!"
"Eh?" Claire membuka matanya. Dilihatnya ia dalam posisi duduk dan tangan terkepal serta Jack dalam posisi tidak elit, seperti terjatuh dari atas tempat tidur. "Kenapa kau, Kak?"
"Huh!" Jack bangkit dari posisi jatuhnya. "Kau yang kenapa! Aku baru saja mau membangunkanmu. Tapi tiba-tiba kau berteriak dan memukulku sampai aku jatuh! Huh... Niat baik berbuah petaka..."
"Maaf... Yang penting sekarang aku sudah bangun, 'kan?" ujar Claire cuek sambil bangkit dari tempat tidurnya.
"Eh, eh, Claire, Claire..." panggil Jack pada adiknya itu. "Kenapa kau bisa berteriak begitu? Mimpi buruk, ya?"
Hening. Suara Claire menutup pintu kamar mandi. Hening kembali.
".....Iya..." jawab Claire dari dalam kamar mandi.
"..... Oh, ya....?" Jack mulai memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang ada. 'Apa jangan-jangan Claire bermimpi tentang dulu..?'
"Mimpi Kak Jack berubah menjadi monyet betina," ujar Claire lagi, masih dari dalam kamar mandi.
Jack langsung memajukan bibirnya. Beberapa detik kemudian, ia meledak. "Eeeeeeh!!??? Apa maksudnya itu!!???? Monyet!!!????? Dan lagi...... kenapa betina!!!!!!???????" serunya, histeris sendiri sedangkan Claire hanya tersenyum tipis dari dalam kamar mandi.
Setelahnya, Claire keluar dari kamar mandi dan sarapan pagi bersama Jack. Kali ini, Jack ternyata membuat sandwich beserta segelas susu hangat.
"Pintar, pintar..." ujar Claire sambil mengusap-usap kepala Jack,
"Heh!" Jack menepis tangan Claire. "Jangan perlakukan aku seperti anjing begitu dong, Claire."
"Ya, ya, ya... Whatever... Kak, anjingnya sudah kau beri makan?"
Jack mengangguk sambil melahap sandwich-nya. "Huhaaah...Heharaang... hamanya Hruaaa..."
"Eh?" Claire menaikkan sebelah alisnya, tidak mengerti. "Apa? Bicara yang jelas, dong!"
Jack mengangkat tangannya, mengisyaratkan tanda 'tunggu-sebentar'. Setelah menelan makanannya, ia baru mengulangi. "Sekarang namanya Chua."
"Heh???" Alis Claire mengerut sekarang. "Dapat nama dari mana? Lagipula apa tidak terlalu feminim???"
"Tidak!" ujar Jack mantap. "Daripada memikirkan nama lain. Itu saja sudah cukup. Nah, hari ini, jadwal kita adalah membeli sapi dan domba, juga beberapa ayam. Mengerti?"
"Tentu saja mengerti. Kau pikir aku anak balita?"
"Bagus. Sekarang cepat habiskan sarapanmu, ya."
"Jangan menyuruh-nyuruh aku."
"Aku tidak menyuruh, tapi..."
"Jangan memerintah aku."
Akhirnya Jack diam sambil memonyongkan bibirnya.
In Yodel Farm.
Barley menyambut kedatangan Jack dan Claire dengan ramah. "Selamat datang kakak-beradik petani. Ada yang bisa kubantu?"
"Ah.. Pagi, Sir... Kami mau membeli beberapa sapi dan domba untuk peternakan kami," balas Jack ramah. Claire malah sibuk memperhatikan sekeliling rumah.
"Oh, baiklah. Akan kuantarkan nanti ke kandang yang ada di perkebunan kalian. Berapa yang mau kau beli, Jack?"
Jack mengangkat tangannya. "Masing-masing lima."
"Semuanya 50.000 G. Terima kasih."
"Sama-sama, Sir... Kami tunggu antaran sapinya, ya!!" ujar Jack ceria. Ia melangkah keluar diikuti Claire yang sedikit membungkuk pada Barley sebelum keluar.
"Tugas sekarang, apa?" tanya Claire sesampainya mereka di luar.
"Ehm... Beli ayam, 'kan?"
Tanpa banyak omong, mereka berjalan ke arah Poultry Farm yang ada tepat di sebelah Yodel Farm.
In Poultry Farm.
Lillia tersenyum hangat begitu melihat Jack dan Claire memasuki toko mereka. "Selamat datang!"
Rick menoleh. Popuri langsung berseru riang. "Waaaaiii!!! Jack dan Claire!!! Apa kabar, Jack??" ujarnya sambil mendekati Jack dan memeluk cowok tersebut. "Hai, Claiiiire!!!!" serunya lagi seraya mendekati Claire dan memeluk gadis itu.
Dari wajah Claire, terlihat bahwa ia risih dipeluk seperti itu. Namun ia tidak mendorong Popuri menjauh darinya. Jack hanya tertawa kecil dan mulai mengobrol dengan Lillia.
"Hai... Claire..." sapa Rick takut-takut. Sejak kejadian 'berkunjung', mereka memang belum saling bertemu dan berbicara. Wajar saja jika Rick takut kalau Claire tiba-tiba seketus waktu itu.
"Hai juga."
Rick tertegun. Dirasakannya pipinya mulai memanas dan timbul warna merah di atasnya. 'Dia membalas sapaanku. Dia membalas sapaanku. Dia membalas sapaanku. Dia membalas sapaan~kuuuuu!!!!!!' batinnya berulang-ulang.
"Claire....!" panggil Popuri yang sekarang tidak memeluk Claire lagi melainkan merangkulnya. "Bagaimana kabarmu? Hari yang cerah, ya!!"
"Hn..."
"Eh, eh.... Apa kami sudah boleh mampir ke perkebunan kalian, sekarang?"
"Hah? Terserah..."
"Horeeee!!!!" Popuri melepas rangkulannya dan berjingkrak-jingkrak riang. "Aku pasti mampir kalau aku senggang atau toko libur!! Ya? Ya? Ya?" Popuri memajukan wajahnya pada Claire sehingga gadis itu dapat melihat tatapan mata Popuri yang berbinar-binar.
"Uuh... Yah.... Terserah...."
"Yiipppy~~!!!!!" Dan Popuri pun kembali bersorak-sorai seraya melompat riang kesana-kemari.
"Baiklah, Jack... Aku akan menyuruh Rick mengantarkan pesananmu nanti. Tentu saja beserta makanan ayamnya juga," kata Lillia sambil tersenyum ramah.
Jack balas tersenyum ramah. "Baiklah. Kalau begitu kami permisi dulu! Terima kasih, ya!"
"Terima kasih kembali. Datang lagi, ya..." ujar Lillia.
"Byeee, Jaaaack~~!!!!! Byeeee, Claiiiireee~~!!!! Kapan-kapan aku pasti akan mampir!!!" ujar Popuri riang sambil melambai-lambaikan tangannya kelewat semangat.
Jack melangkah keluar toko. Saat Claire akan menyusul, Rick mulai berbicara lagi.
"B.... Bye... Bye-bye.... Claire....."
Claire menoleh. "Ya," sahutnya datar dan melangkah pergi.
Rick tertegun lagi. Dapat dirasakannya kalau wajahnya bertambah merah. 'Dia membalas ucapanku! Dia membalas ucapanku! Dia membalas ucapanku! Dia membalas ucapan~kuuuuuu!!!!' batin Rick berulang-ulang.
Out from Poultry Farm –Just in Street-
"Mmmngghh..." Jack merenggangkan tubuhnya dan berbalik menatap adik perempuannya. "Apa yang akan kau lakukan sekarang?"
Claire mengangkat bahu. "Entahlah. Sudah tidak ada kerjaan lagi, ya?"
Jack membalasnya dengan sebuah gelengan. "Piring Chua sudah diisi makanan. Sapi, domba, ayam serta makanan-makanannya sudah dibeli. Tanaman sudah kita siram tadi sebelum pergi... Intinya sudah semua."
"Ooh...." Claire mengangguk. "Kau sendiri mau apa?"
Gantian Jack yang mengangkat bahu. "Jalan-jalan mungkin. Sekaligus menghapal jalanan di sini."
"Kalau begitu kita pisah... Aku sedang ingin ke suatu tempat," ujar Claire sambil berbalik pergi.
Jack tidak susah payah memanggil Claire dan ikut berbalik dan berjalan ke arah yang berlawanan dengan Claire. Namun tak lama kemudian ia berbalik. "Claire! Apa kau akan pulang setelat kemarin??"
"Mungkin..." sahut Claire, setengah berteriak dan tanpa berbalik.
Setelahnya, Jack kembali berbalik dan meneruskan langkahnya.
In Church.
Claire memasuki bangunan gereja itu tanpa suara. Ia menutup kembali pintu gereja itu tanpa membuat bunyi sedikitpun. Matanya menjelajahi tiap sudut bangunan gereja yang begitu menentramkan sampai pandangannya berhenti pada seseorang yang duduk di bangku gereja terdepan.
Didorong oleh rasa penasaran, Claire mendekati orang tersebut. Dilihatnya orang itu sedang menunduk. Mungkin berdoa. Yang pasti, orang itu terperanjat kaget saat Claire menepuk bahunya, bahkan sampai melompat.
"Waaaaaaa!!!!!!!"
Claire juga tersentak kaget dan mundur satu langkah.
"E... eh???? K... Kamu... 'kan...." Orang itu menatap Claire, lalu menunduk. Menatap lagi, lalu menunduk lagi.
Claire menaikkan sebelah alisnya. "Aku 'kan hanya menepuk bahumu. Perlukah kau sekaget itu?"
"E...Eh.. I..itu..."
"Bicara yang benar bisa, tidak?"
"Eh.. Ng..."
Sunyi.
Hening.
Claire mendudukkan dirinya di bangku panjang yang ada di sebelahnya, tempat sebelumnya orang itu duduk. Claire memberi isyarat pada orang itu agar ikut duduk di sebelahnya. Orang itu menuruti walau masih takut-takut. Ia masih menunduk.
"Di mana Pendeta...... itu?" tanya Claire. 'Aku lupa namanya...' tambahnya dalam hati.
"Eh..? Ca.. Carter ada di.. di bilik pengakuan dosa.... J.... jam segini memang.. biasanya dia di sana...." jawab orang itu.
"Lalu kau?"
"Ng.. Hanya berdoa...."
"Itu juga aku tahu," jawab Claire cepat. "Waktu pertama kali aku ke sini, seingatku kau juga ada di sini dan duduk di sini. Sekarang kau ada di sini dan duduk di sini lagi, melakukan kegiatan yang sama sepanjang hari."
Hening.
"Kurasa aku sudah minta maaf saat pertemuan pertama kita."
"A..Ah.. I..itu... Be... Belum...."
Hening.
"Maaf kalau begitu."
"Eh..?? Ti... Tidak apa-apa kok......"
Hening.
"Kau pendiam ya..."
"K... Kau juga....."
"...dan pemalu."
"O..Oh... M..memang."
Hening.
"Biasa saja. Aku tidak akan memakanmu."
"Aku...."
"Apa?"
"Eeerrrr...."
"Hem?"
"Aku benar-benar pemalu. Dan aku ini pemalu yang parah. Aku bahkan tidak berani mendekati orang lain hanya sekedar untuk mengajak bercakap-cakap. Aku terlalu... malu..."
"Oh.. iya, ya. Kelihatan, kok. Memang kau pemalu sekali, ....eh... siapa namamu?"
"Cliff...."
"Oh, iya. Cliff. Maaf. Aku punya masalah dalam mengingat nama orang."
"Hahaha. Tidak apa-apa, Claire."
"Ingat namaku?"
"Tentu saja. Nama dan rambut pirangmu itu gampang diingat tahu."
"Masa?"
Sebagai jawaban, Cliff hanya mengangguk. Tidak disadarinya bahwa cara bicaranya sudah tidak gagap lagi. Claire yang menyadarinya pun hanya diam dan sedikit mengulum senyum.
"Cliff."
"Ada apa?"
"Boleh bertanya, 'kan?"
"Silahkan tanya apa saja. Kalau bisa kujawab, akan kujawab."
"Apa yang kau doakan di sini, kalau aku boleh tau?"
Jeda sesaat. "Aku... hanya mendoakan masa lalu dan masa depanku, kok."
Claire mengernyit. "Untuk apa mendoakan masa lalu? Itu 'kan sudah lewat. Yang harusnya di doakan adalah sekarang dan masa depan, 'kan?"
Cliff tersenyum simpul. "Yaaah... Hanya sebagai tambahan. Aku hanya berharap kesalahan-kesalahanku di masa lalu tidak membawa masalah besar bagi orang-orang yang aku sayangi. Semua masa lalu yang aku doakan adalah untuk diubah saat ini."
"Hn?" Claire menaikkan sebelah alisnya. "Maksudnya....."
"Apa kau tidak mengerti? Ng... Aku juga agak bingung menjelaskannya sih..."
"Bukan..." Claire menggeleng pelan sambil menatap Cliff. "Bukannya aku tidak mengerti. Tapi.... aku lumayan kagum dengan pemikiranmu,"
Cliff terpana. Wajahnya memerah. "Apa kau benar-benar Claire yang menegurku waktu itu...?"
"Tentu saja, memangnya kenapa?" tanya Claire heran.
"Kau.. berbeda sekali dari yang waktu itu...." Cliff makin menunduk, berusaha menyembunyikan wajahnya yang semakin terasa memanas.
"Oh ya? Berbeda apanya?"
"Entah ya...." Cliff menggaruk bagian belakang kepalanya. "Mungkin jadi..... lebih ramah...?"
"Masa?"
"Iya... Ya, begitulah...."
Tiba-tiba Carter keluar dari balik bilik pengakuan dosa. Dan beliau tersenyum lebar saat melihat Cliff sedang berbincang dengan Claire.
"Ah... Pak Pendeta..." sapa Cliff saat melihat Carter. Claire hanya menganggukkan kepalanya ke arah Carter.
Carter menyapa balik pada Cliff. "Hai, Cliff." Kemudian pandangannya beralih pada Claire. "Selamat siang dan selamat datang, Claire," ujarnya sambil tersenyum.
Claire diam saja, tidak membalas sapaan dan senyuman Carter.
"Ng... Apa aku sudah mengganggu kalian, ya?" tanya Carter, masih dengan senyumannya.
"Ah! Tidak, kok. Hahaha. Claire juga belum lama sampai..." jawab Cliff seraya menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Kalian terlihat akrab, ya..." goda Carter. Tidak disangkanya bahwa gurauannya akan membuat wajah Cliff memerah.
"Ah... Pendeta ini bicara apa sih... Hahahahaha.... Kami 'kan baru berteman. I.. iya 'kan Claire?"
Claire duduk membungkuk sambil meletakkan siku kirinya di atas paha kiri dan menopang dagunya. "Yah..... Aku tidak keberatan kalau dibilang akrab denganmu."
Dan dengan pernyataan itu, wajah Cliff pun sempurna merah semerah tomat.
In Hot Spring.
Jack saat itu sedang asyik menikmati hembusan angin seraya duduk di tepi kolam Harvest Goddess ketika tiba-tiba dikejutkan oleh seruan dari belakangnya.
"Hayooooo!!!!!!!"
"Waaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!"
"Hahahahahahaha!" Seseorang yang baru saja mengangetkan Jack tertawa lepas begitu mengetahui targetnya berhasil dikagetkan dengan baik.
"Ann! Aku kaget beneran tahu! Aduuuh....." Jack menghela napas lega sambil mengelus-elus dadanya. "Kukira apa...."
"Hahahaha... Haha... Ehm..." Ann berusaha menghentikan tawanya dan berkata, "Tahu tidak, Jack? Ekspresimu tadi.... hmph.... lu.. lucu sekaliiii.... Hahahahahaha!!!!"
Jack hanya bisa memonyongkan bibirnya dan menunggu sampai gadis itu selesai tertawa. Akhirnya Ann beranjak duduk di sebelahnya, masih sambil tertawa kecil.
Jack mulai membuka percakapan setelah tawa Ann sedikit mereda. "Ternyata suaramu cempreng sekali."
"Apa!?" seru Ann dan meninju lengan Jack main-main. "Tidak sopan berkata dengan wanita seperti itu, tahu..."
"Tapi serius. Mungkin suaramu bisa dikategorikan suara jenis sopran. Tinggi sekali. Dan juga cempreng," ujar Jack sambil tertawa.
Ann mendengus sebal namun ikut tertawa bersama Jack. "Sedang apa kau di sini Jack?"
"Hem? Hanya berjalan-jalan. Dan sampai di sini. Kelihatannya tempat ini enak untuk bersantai," jawab Jack.
"Jadi kau ke sini hanya untuk bersantai? Haaah... Khas-mu sekali," ujar Ann sambil tersenyum simpul.
"Masa? Tahu dari mana kalau ini 'khas-ku' sekali?" tanya Jack agak bingung.
Muncul semburat pink samar di pipi Ann. "I.. Itu... Memang benar, kok. Kelihatan dari wajahmu!"
"Hmp.. Haha... Oh ya?"
"I...Iya...."
"Kau sendiri sedang apa di sini, Ann?"
"Aku memang suka ke sini, kok. Tempatnya sunyi dan menenangkan karena memang biasanya di sini sepi. Aku selalu senang menyendiri di sini."
Setelah Ann berkata begitu, Jack malah menatap Ann dengan tatapan yang sulit ditebak. Ann mengerutkan alisnya.
"Kenapa kau melihatku seperti itu, Jack?"
"Berarti aku mengganggu waktu menyendirimu sekarang, dong?" tanya Jack dengan nada yang kedengarannya seperti menyesal.
"Eh!!?? T... Tentu saja tidak!!!!!" jawab Ann agak panik. "Tidak, kok, tidak...."
"Yang benar?" tanya Jack tidak yakin. "Aku akan pergi kalau kau memang mau menyendiri," ujar Jack seraya bangkit berdiri.
"Jangaaaaaaaan!!!" seru Ann seraya memeluk lengan Jack, membuat pria itu terduduk kembali. "Ja.... Jangan pergi..... Di sini saja bersamaku...."
Jack memandangi Ann yang saat itu pipinya sudah benar-benar memerah. "Ann...."
"Jack...."
"....Sakit nih...."
"Eh?" Pandangan Ann beralih pada kedua tangannya yang sedang memeluk lengan Jack erat-erat. Ia pun segera menarik tangannya. "Kyaaaaaaaa!!!! Maa.... Maaf, Jack...!!!!!" seru Ann panik. Saat ini bukan hanya pipinya, melainkan seluruh wajahnya mulai memerah.
"Ahahaha, tidak apa-apa, kok," ujar Jack sambil membenarkan posisi duduknya. "Kau yakin tidak apa-apa? Aku tidak mau mengganggumu," ujar Jack lagi.
Ann menggeleng dan tersenyum. Wajahnya masih terlihat agak merah. "Hari ini saja.... aku ingin kau menemaniku di sini."
Jack ikut tersenyum.
'Bahkan kalau bisa.... Besok, lusa, tiga hari lagi, sampai tahun depan pun, aku mau ditemani olehmu di sini, Jack...' tambah Ann dalam hati. Selanjutnya mereka hanya duduk dalam diam sambil menikmati angin sejuk yang berhembus menerpa tubuh mereka.
In Church.
Cliff dan Claire masih saja asyik mengobrol. Membicarakan apa saja yang bisa mereka bicarakan. Karena mereka sama-sama pendatang baru, mereka hanya bisa saling bercerita tentang tempat asal masing-masing.
"Aku tidak percaya kau seorang pengelana, Cliff," ujar Claire.
"He..? Kenapa?" tanya Cliff yang mulai merasa nyaman berada di dekat Claire.
"Habisnya... kau terlalu pemalu."
"Hahahahaha. Yah, tapi begitulah kenyataannya. Kau sendiri, kenapa mau pindah ke sini?"
"Kakak yang mengajakku. Sayang juga kalau perkebunan kakek dibiarkan begitu saja. Padahal tanahnya masih subur."
"Hmmm.... Benar juga sih... Lalu... apa waktu dulu kau senang saat tinggal di kota? Sekarang? Apa kau tidak rindu pada saudara atau teman-temanmu?"
Claire tidak langsung menjawab perkataan Cliff. Ia terdiam dengan tatapan menerawang. Cliff sampai bingung sendiri.
"Claire? Hei..."
Claire menatap Cliff dan seolah tidak ada apa-apa, ia melanjutkan obrolan mereka yang sempat terhenti beberapa detik itu. "Biasa saja. Aku tidak merindukan siapa pun."
"Oh, begitukah?" Sebenarnya Cliff masih agak bingung dan penasaran kenapa Claire sempat terdiam tadi. Namun ia belum berani untuk bertanya. "Lalu, kau senang tinggal di sini?"
Claire mengangkat bahunya. "Entah, ya.... Kau sendiri?"
"Aku sih... sangat senang di sini."
"Kenapa bisa secepat itu?"
Cliff tertawa renyah sebelum mengangkat bahu. "Entah ya. Tapi tempat ini bisa membuat siapapun merasa nyaman dan senang tinggal di sini."
"Oooh, ya.....?"
Cliff mengangguk. "Jangan khawatir. Kau pasti senang tinggal di sini kok. Aku yang baru dan belum begitu lama saja sekarang sudah betah."
Claire terdiam lagi.
"Kenapa?" tanya Cliff dengan nada yang terdengar ragu-ragu. "Aku... salah bicara, ya??"
Claire menggeleng kecil. "Tidak, kok. Hanya saja...... kemarin juga ada orang yang bilang begitu padaku. Katanya aku butuh waktu."
Cliff tersenyum dan mengangguk. "Kalau begitu, orang itu benar dan aku sependapat dengan orang itu. Yang kau perlukan hanya waktu, Claire."
"Hem.... Sepertinya begitu."
Dari sisi lain, Carter memperhatikan mereka seraya tersenyum penuh arti.
"Eh.. Ngomong-ngomong sudah berapa lama yah, kita ngobrol begini...?" ujar Cliff sambil melihat sekeliling gereja. "Sepertinya sudah sore, ya...."
Claire berdiri. "Duuh.... Lapar....."
Cliff ikut berdiri sambil tertawa kecil. "Hahahaha. Aku juga. Mau makan ke Inn?"
"Yaah.. Bolehlah."
"Ya sudah, ayo. Sir. Carter, kami pergi dulu, ya. Aku akan kemari lagi besok."
"Tak usah kau bilang aku juga tahu kau akan ke sini lagi, Cliff," kata Carter dengan senyuman yang selalu terpampang di bibirnya. "Sampai besok, Cliff. Sampai jumpa, Claire."
Setelahnya, Cliff dan Claire melangkah keluar gereja dan menuju Inn.
In Hot Spring.
Jack dan Ann masih saling terdiam satu sama lain sampai akhirnya Ann memanggil Jack. Sebenarnya Ann memang ingin mengajak Jack berbicara daritadi hanya saja tiba-tiba ia tertular panyakit malu Cliff.
"Jack....."
"Yo?"
"Itu.... Apa kau tidak punya pekerjaan lain? Kenapa kau masih di sini?"
"Kau 'kan memintaku menemanimu di sini. Jadi aku akan menemanimu sampai kau menyuruhku untuk tidak menemanimu lagi. Lagipula pekerjaanku sudah selesai semua."
"Ehhhh...!?" Wajah Ann kembali memerah. "Bisa saja, kau ini!" ujarnya seraya meninju lengan Jack. tapi sepertinya, tinjunya itu kelewat keras.
"Adaaaawww!!!" seru Jack. "Dasar cewek tomboy!" ledek Jack sambil memberi cengiran usil khas-nya.
"Apaaaa!?" Ann bangkit berdiri. "Berani ya, kau Jack???"
"Huwaaaa, toloooooooongg....!!" seru Jack dan mulai berlari.
"Enak saja! Mau lari, ya!!!!?" Ann mulai ikut berlari mengejar Jack.
Beberapa menit mereka habiskan dengan kejar-kejaran. Entah yang mana yang dikejar dan yang mana yang mengejar. Yang pasti, orang yang melihat mereka –antara saling mengejar dan saling dikejar- akan mengira mereka orang bodoh.
Akhirnya mereka kembali ke samping kolam dan merebahkan tubuh mereka di sana dengan napas terengah-engah.
".......Caaaaapeeeeeekkk....." ujar Jack sambil melepas topinya dan menyeka keringatnya.
"I... Iya.. ya....." sahut Ann, menyetujui ucapan Jack.
"Jadi lapar...."
"Aku juga. Kita ke Inn, yuk! Mau tidak?" tawar Ann sambil bangkit dari posisi berbaringnya.
Jack ikut bangkit dan memakai topinya kembali. "Boleh juga. Yuk!"
Mereka pun berjalan ke arah Inn. Kali ini tidak pakai lari.
In Inn.
Seperti biasa, Inn tidak terlalu ramai. Hanya ada Harris dan Mayor Thomas yang sedang berbincang-bincang di meja dekat tangga. Claire dan Cliff duduk di meja dekat pintu masuk, meja yang kemarin juga dipakai oleh Claire dan Gray.
"Hei... Ann tidak ada?" tanya Cliff pada Doug yang sedang mendekati meja mereka.
"Yup. Dia pergi jalan-jalan keluar. Mungkin sebentar lagi baru pulang," jawab Doug sambil menyerahkan buku menu pada Cliff. "Hai, Claire. Kita ketemu lagi," sapanya pada Claire.
Claire hanya menunduk sekilas.
Pintu Inn terbuka dan muncullah Ann dan Jack. "Hai Ayah! Aku pulang. Hai Cliff. Hai Claire."
"Halo, Nak. Hai Jack. Apa kabar?" sapa Doug pada Jack dengan ramah.
"Baik. Terima kasih," jawab Jack. Kemudian ia melihat Claire dan detik berikutnya ia tersenyum lebar. "Ehem, ehem.... Ada apa nih kalian berduaan begini????"
Pertanyaan itu membuat wajah Cliff memerah sedangkan Claire hanya memutar kedua bola matanya dan mendengus. "Kau sendiri, Kak? Sedang apa berduaan begitu?"
Gantian Ann yang sekarang wajahnya merona sedangkan Jack hanya memberi cengirannya.
Kemudian Jack segera mengambil tempat di sebelah Claire. Ann mengikuti dan duduk di sebelah Jack. Karena mereka duduk di meja bundar, maka yang ada di samping Ann adalah Cliff dan yang ada di samping Cliff adalah Claire yang sedang melotot pada Jack karena keusilan Jack.
"Aduh, jangan tarik rambutku, Kak," ujar Claire datar pada Jack namun dengan tatapan sinis.
"Ups.... Tidak sengaja," balas Jack sambil nyengir seperti biasa.
"Hei, hei, hei! Kalian ini..." tegur Ann pada Jack dan Claire. Mau tidak mau ia merasa lucu juga pada dua kakak-beradik itu.
"Diluar dugaan, kalau kalian sedang bersama-sama begini, jadi ramai yah...." kata Cliff sambil terkekeh pelan.
"Cuih...." jawab Claire.
"Eh! Kurang ajar!" sahut Jack.
"Sudah, sudah!" seru Ann sambil menahan tawa. "Kapan kita pesan makanan kalau begitu?"
"Hahahahahahahahahahahaha!" Tawa Doug meledak begitu saja. "Dasar anak muda...."
Dan hari itu, Inn menjadi lebih ramai karena kejahilan Jack, teriakan-teriakan kesal Ann yang dijahili Jack, dengusan Claire dan suara tawa Cliff serta Doug.
Setelah makan malam yang diwarnai saling lempar salad dan menertawakan Jack yang terpeleset dan jatuh dengan tidak elitnya –semua tertawa kecuali Claire yang memberikan tatapan mengejek-, akhirnya Jack dan Claire memutuskan untuk pulang.
"Daaah Jack. Daaaaah, Claire!!!" seru Ann di depan pintu masuk Inn. Saat ini, dirinya dan Cliff sedang mengantar Jack dan Claire sampai depan pintu. "Kapan-kapan main lagi, ya. Terima kasih telah menemaniku hari ini, Jack..." ujar Ann malu-malu.
"Iya, sama-sama," jawab Jack sambil mencubit kedua pipi Ann.
"Adududuuh... Kau ini..." Ann kembali meninju lengan Jack untuk yang ketiga kalinya hari ini. Dan mereka pun tertawa bersama.
"Sampai jumpa, Claire.... Hari ini... aku senang sekali," kata Cliff pada Claire. Sebenarnya dalam hati, ia agak menyayangkan karena tidak bisa mengantar Claire pulang. Padahal ia ingin lebih lama berada dekat gadis itu. "Kau yakin tidak mau kuantar?"
"Tidak perlu repot-repot. Untuk apa ada si bodoh itu?" jawab Claire sambil menunjuk Jack yang masih tertawa bersama Ann. "Tapi... Terima kasih untuk tawarannya, Cliff."
"Ahaha. Hati-hati ya, Claire..."
Claire berbalik dan berjalan ke arah Jack. Mereka berdua pun berjalan pulang dan Ann serta Cliff kembali masuk ke Inn.
In Jack and Claire's Farm.
"Hore, sampai!!!!" seru Jack sambil menjatuhkan dirinya di sofa. "Ngantuk...."
"Cuci muka dulu, baru tidur," sahut Claire yang saat itu sedang menuju kamar mandi.
Setelah Claire keluar kamar mandi, gantian Jack yang masuk kamar mandi untuk mencuci muka, kaki dan tangannya.
"Waaaaaah! Segarnya!!! Jadi nggak ngantuk lagi...." seru Jack begitu keluar dari kamar mandi.
"Mana mungkin," kata Claire yang saat itu sudah berbaring di atas tempat tidurnya.
Jack nyengir dan mematikan lampu. Kemudian ia juga merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya sendiri.
"Selamat malam, Claire...."
"Malam, Jack....."
"Panggil aku 'kakak'..."
"Dasar banyak maunya. Aku 'kan baru kali ini memanggilmu dengan nama."
"Waktu itu juga sudah pernah sekali. Masa tidak ingat???"
"Berarti baru dua kali."
"Sama saja, tidak boleh dibiasakan. Nanti jadi terbiasa dan ka...."
"Berisik!!!! Sudah diam dan tidur saja!"
"Huuuuh.. Iya, iya. Selamat tidur, Claire."
"Selamat tidur, Jack..."
"Panggil aku...."
"Iyaaaa! Selamat tidur, Kak!!!"
Good night... Have a nice dream...
.
..
...
....
.....
......
.......
........
.........
..........
TBC~~~~~~~~
Y.E: hiiiiiiaaaaaaat~~!!! chap lima sutrah di apdet..... ! *joget-joget nggak jelas*
Kappa: *ikutan joget-joget sambil kappa walk*
Y.E: eh, iya... mari kita mengobrol sebentar dengan Owly bros !!!!!!!
Kappa: makasih buat The owl en The lonely owl yang sudah repot-repot meriview. juga untuk Djatmikokun yang sudah manggil-manggil The owl sama The lonely owl ini. tinggal pilih mau hadiah apa, di peluk sama saya, atau mau dicium sama saya?
Y.E: hadiah kalo nggak mau diambil juga nggak apa-apa, kok. saya ngerti.... xDD eh-eh... sebenernya angel's diary itu..... cerita apaan sih..?
..krik, krik.... krik, krik.....
Y.E: yang barbie itu bukan?? saiia nggak inget..... ,
Kappa: buuuodoooh~~!!!
Y.E: dan lagi..... saiia lupa password account FS saiia.... jadi nggak bisa log in.... T____T
Kappa: dasar buodoh part dua~~!!!
Y.E: kalau The owl sama The lonely owl mau... coba bikin dulu aja list chara-nya.... nanti Y.E bikin ceritanya kalau sempet... mungkin bisa lama sih.... *digaplok*
Kappa: intinya dia mau-mau aja bikin ceritanya.....
Y.E: tapi beneran angel's diary yang barbie itu bukan sih...???
Kappa: *sweatdropped*
Y.E: and then, many thank's buat Eri (horeeee, saiia cinta Eri-chan!!! *digiling*), Xoxoxoxoxo (maap nih, apdet nah lama... maklum, orang sibuk gitu...*sok sibuk mode on*), Xpxpxpxpxp (saiia SHOCK waktu liat riview kamu..*krik, krik.... krik, krik....*.. tapi belakangannya bikin saiia lega..), xXChubbyGirlXx (hohoho, nggak perlu repot-repot riview kalau memang lagi sibuk, Baby-chan xD), Anisha Asakura (xD nggak ada yang liat Anisha-chan, tapi jadi pada tau kalo Anisha lompat-lompat xP ), Owly bros, Melody-Cinta (iia dhe... makasih ya Melody-chan... ^^) dan teacupz' (iialah, kualitasnya beda jauh... wong fic senpai kan jauuuuu lebiiii baguuuuuuuuuus xDD)
Kappa: riview tidak diwajibkan kalau merepotkan. tapi kalau mau meriview, silahkan pilih hadiahnya, mau dipeluk saya atau dicium saya?
