No Title
By: Y.E
Disclaimer: Natsume
*********
Perlahan-lahan Claire membuka matanya. Ia masih berbaring, namun kali ini bukan di lantai kamar mandi yang keras dan dingin. Ia bangkit untuk duduk dan sedikit meringis sakit saat mencobanya. Matanya menerawang sekelilingnya.
"Jangan khawatir, kau sedang di ruang kesehatan."
Claire menoleh untuk menatap orang yang sedang berbicara padanya walaupun ia sudah tahu siapa orangnya.
Claire bertanya dengan nada penuh kewaspadaan. "Kenapa... aku bisa ada di sini?"
"Kau ditemukan oleh seorang adik kelas tidak sadarkan diri di toilet perempuan."
"Dan kenapa kau bisa ada di sini, Blue!?" tanya Claire dengan penuh penekanan.
"Kebetulan saat itu aku sedang lewat, jadi......"
"Kau yang membawaku ke sini?"
Blue tidak menjawab, namun lelaki itu memberikan anggukan singkat.
"Terima kasih kalau begitu." Claire beranjak berdiri dan hendak pergi namun ditahan oleh Blue.
"Tunggu, Claire... Kau belum sepenuhnya pulih. Kau bahkan pingsan selama hampir dua jam tadi."
"Apa?" Langkah Claire terhenti. "Kau..... menungguiku?" tanya Claire perlahan pada Blue yang ada di belakangnya tanpa menoleh.
"Iya......" jawab Blue. Claire bisa mendengar langkah kaki Blue yang mendekatinya perlahan. Ia ingin pergi, namun ia tak bisa menggerakkan kakinya.
"Jangan.... mendekat......" ujar Claire lirih.
Blue merangkul Claire dari belakang. "Claire..... Aku benar-benar mencemaskanmu tadi......"
"Lepas......"
"Aku... merindukanmu... Kenapa kau menghindariku?"
"Lepaskan aku......"
"Aku sudah putus dengan Jill...."
"Kumohon, Blue....."
Secara perlahan, Blue membalikkan tubuh Claire menghadapnya dan menghapus air mata yang entah kapan mengalir turun di pipi Claire dengan jari telunjuknya. "Apa Jill berbuat sesuatu yang buruk terhadapmu?"
Claire menggeleng. Ia menutup matanya dan mulai terisak.
Blue menarik Claire ke dalam pelukannya. "Jika ia memang berbuat sesuatu... Tolong, Claire.... ceritakanlah padaku." Blue menutup matanya dan mempererat pelukannya. "Aku ingin melindungimu....."
Claire makin terisak dalam pelukan Blue. "Ke..napa...."
"Karena aku mencintaimu....."
Claire membuka matanya dan betapa terkejutnya ia mendapati Jill di depan jendela, sedang menatap ke arah mereka berdua dengan tatapan garang, terutama pada Claire. Tentu saja Blue tidak melihatnya karena posisinya membelakangi jendela ruang kesehatan yang ada di lantai dasar itu.
Mulut Jill bergerak membentuk kata-kata. Walaupun tidak bersuara, namun Claire masih dapat membaca gerakan mulutnya.
Kubunuh kau.
Claire mematung ketakutan dalam pelukan Blue. Jill sudah tidak terlihat lagi dari pandangannya. Air mata masih mengalir, namun kali ini bukan karena perlakuan lembut Blue, melainkan karena neraka baru..... yang sudah menunggunya.
**********
Claire dan Jack terbangun karena suara berisik jam weker mereka.
"Berisiiiiiik....." ujar Claire sambil menutup telinganya dengan bantal.
Jack meraih jam tersebut dengan ogah-ogahan dan mematikannya. "Kayaknya kemarin ini nggak bunyi, deh..."
"Itu karena kemarin-kemarin kita bangun sendiri. Jadi jam wekernya kita matikan dulu..." sahut Claire dari balik bantalnya.
Jack malah ikut-ikutan tidur lagi.
"Kak.... Kenapa malah tidur lagi.........? Bangun, sana........."
"Hheeeeee...?? Ngantuk........... Kenapa bukan kau saja yang bangun???"
"Yang lebih tua harus mengalah pada yang lebih muda..... Aku juga masih ngantuk....."
"Eeeeennngggg....."
Kedua kakak-beradik pengantuk itu pun tanpa sadar tertidur kembali.
(Knock...knock...)
"Zzzzzz..... zzzzz"
(Knock...knock...)
"Kakaaaaak.... Itu ada yang dataaaaang....."
"Heeeem......."
(Knock... knock...)
"Kakaaaaaak....... Ada yang mengetuk pintu......."
"Heeeem.... Krrrrrr......"
(Knock.. knock...)
"Kaaaaaakkkkkkkk........."
Jack bangun dengan tampang berantakan dan mata masih tertutup. Ia berjalan ke arah pintu dan membukanya.
"Selamat pagi, Ja..... Astaga, apa aku mengganggu tidur nyenyak kalian?"
Jack yang masih setengah bangun dan setengah tidur itu masih dengan santainya menggaruk-garuk bokongnya. "Haaaaa... da apppphaaaa....?" tanyanya santai sambil menguap lebar.
"Hahahaha. Kalian pasti lelah bekerja sebagai petani. Aku maklum kalau kalian bangun siang."
Kali ini Jack benar-benar membuka matanya. "Astaga, Barley!!!! Maaf, maaf!!!! Aku tidak sadar, ya ampun...." ujar Jack agak malu juga.
"Hahahahahaha! Tidak masalah, Jack. Aku ke sini hanya ingin menawarkan sesuatu," ucap Barley ramah.
"Eh? Sesuatu...?" Dan terlihatlah oleh Jack, seekor anak kuda. "Wah, lucunya....."
"Aku ingin memberikannya padamu. Mungkin suatu saat nanti akan dibutuhkan.... Siapa tahu?"
"Terima kasih banyak!!!!" kata Jack dengan nada ceria.
"Kalau begitu aku pulang dulu, Jack. Semoga harimu menyenangkan," ujar Barley sambil berlalu.
Jack cepat-cepat membawa kuda itu ke kandang bagian kudanya dan masuk kembali ke rumah.
"Claire! Claire! Kita dapat kuda!!!!"
"Iyaa, berisik....."
"Eh, heh! Ayo bangun! Sekarang sudah siang! Mau tidur sampai kapan!??"
"Sampai Kakak selesai mandi...."
"Benar, ya?"
"Iya, janji..."
Akhirnya Jack beranjak ke kamar mandi, sedangkan Claire melanjutkan tidurnya yang sempat tertunda.
**********
Claire melepaskan pelukan Blue dengan mendorong Blue pelan. Blue terheran-heran dengan sikap Claire yang tiba-tiba berubah.
"Ada apa?" tanya Blue lembut seraya mengelus rambut panjang Claire.
"Jangan bersikap baik lagi padaku......."
"Claire? Kau ini bicara apa? Kenapa tiba-tiba...."
"Jangan mencariku lagi...."
Blue terdiam memandangi Claire.
"Kembalilah pada Jill...."
"Claire, kalau ini kau lakukan untuk Jill, maka aku...."
"Tidak! Aku melakukannya untuk diriku sendiri!" bantah Claire. Air mata masih mengalir membasahi pipinya.
"Aku mohon, Claire... Aku tidak bisa kalau bukan kamu...."
"Hentikan!!!" Claire menutup kedua telinganya. "Jangan bicara yang tidak-tidak! Jangan bersikap baik padaku! Jangan peduli padaku! Aku...."
Blue terdiam lagi. Kali ini Claire dapat melihat sinar kekecewaan dan kesedihan dari mata Blue.
"Aku pulang," ujar Claire cepat sambil melangkah pergi.
"Tunggu, Claire..." panggil Blue. "Kuantar..."
"Tidak! Aku tidak mau!"
Claire pergi meninggalkan Blue yang menatap terpaku pada kepergiannya.
**********
"Claire!! Claire!!!" Jack menepuk-nepuk pipi Claire untuk membangunkan gadis itu.
"Ngh?" Claire bangun dan mengambil posisi duduk. Ia menggosok matanya seraya menguap. 'Satu lagi mimpi tentang Blue...' batinnya.
"Hayo, bangun, dasar pemalas. Sana mandi," ujar Jack sambil mengeringkan rambutnya.
Tanpa banyak omong, Claire menurut saja dan pergi ke kamar mandi.
Mereka baru mulai beraktivitas saat mulai menjelang siang. Tentu saja karena keterlambatan bangun mereka. Akhirnya mereka hanya bisa sarapan segelas susu hangat.
"Menyebalkan sekali kita jadi kesiangan begini...." ujar Jack saat mereka sedang menyiram tanaman.
"Ini 'kan salahmu, Kak," ujar Claire sambil meletakkan pot penyiramannya.
Jack juga menaruh potnya dan mengikuti Claire menuju kandang ayam. "Lho? Salahku?"
"Tentu saja." Claire membuka pintu kandang ayam. Ia masuk diikuti Jack dan mulai mengeluarkan makanan untuk ayam-ayam mereka. "Siapa yang mematikan wekernya?"
Jack membantu Claire meletakkan satu-persatu makanan-makanan tersebut di tempatnya. "A.. Aku..."
"Nah.... Jadi gara-gara Kakak kita jadi kesiangan begini."
"Lho? Tapi 'kan kau yang bilang berisik. Makanya kumatikan saja."
"Siapa suruh mendengar ucapanku?" Claire melempar makanan ayam terakhir ke tempat makan ayamnya yang terakhir dan beranjak pergi.
"Eh? Kau ini bagaimana, sih... Kalau tadi tidak kumatikan juga, kau pasti akan marah-marah. Daripada kau rusak jamnya nanti. Lebih baik kumatikan dulu," ujar Jack sambil mengikuti Claire yang sedang berjalan menuju kandang sapi.
"Setelah itu kenapa kau malah kembali tidur?" tanya Claire sambil membuka pintu kandang.
"Aku 'kan juga masih ngantuk..... Kau juga! Kenapa masih tidur?" balas Jack.
"Hem... Aku juga masih mengantuk, sih...." jawab Claire sambil mengambil sebuah sikat yang sudah disediakannya dan mulai menyikat sapi-sapi dan domba-domba milik mereka.
"Nah, berarti salahmu juga," ujar Jack seraya mengisi tempat makanan sapi dan dombanya dengan makanan yang telah dibelinya kemarin.
Beberapa menit berikutnya, mereka saling terdiam satu sama lain.
"Hei, Claire...." panggil Jack, masih sibuk menaruh makanan.
"Hn?" balas Claire yang tidak mengalihkan pandangannya dari sapi yang sedang disikatnya.
"Kemarin... kau pergi dengan Cliff, kan? Dan kemarinnya lagi.... kau pergi dengan Gray, 'kan???"
"Yaa... benar."
"Jadi.... yang mana yang sudah jadi pacarmu?"
Detik berikutnya sebuah sikat melayang indah dan menabrak wajah Jack.
"Aduh!!!!! Hei! Aku 'kan cuma tanya!!!!!!!!" seru Jack, protes.
"Maaf, tanganku licin," balas Claire sambil mengambil kembali sikatnya dan kembali menekuni pekerjaannya.
"Hu-uh. Jadi mereka bukan pacarmu?" tanya Jack lagi.
"Tentu saja bukan, Jack.... Oh, iya. Kau sendiri bagaimana? Dengan gadis yang agak tomboy itu. Siapa namanya? Ah, ya. Ann."
"Ann? Hah?" Jack memasang tampang bodohnya. "Ada apa denganku dan Ann?"
"Yaaaah.... Sudahlah....."
Akhirnya mereka sampai pada pekerjaan terakhir mereka. Yaitu Jack menyikat kuda mereka sedangkan Claire mengisi piring makanan Chua.
"Yiiiihaaaa~~!!! Pekerjaan selesai!!!!!!!!!!!!!" teriak Jack.
"Berisik!" sahut Claire dari belakang sambil menggetok kepala Jack.
"Aduh! Ehehehehe. Sekarang kau mau ke mana, Claire?"
"Menyendiri di tempat yang sepi dan tenang," ujar Claire, kemudian berlalu begitu saja.
"Eh? Ke mana!!!????" teriak Jack, namun Claire tidak menjawab dan terus berlalu. "Ugh!!! Dasar anak sopan!!!!!!!!!" seru Jack yang lebih menyerupai sindiran. Dan selanjutnya ia sendiri juga berlalu pergi entah kemana.
In Lake Mine, around Mother's Hill.
Claire duduk diam di hamparan rumput menatap ke arah sebuah gua yang ada di tengah-tengah danau. Bukan karena penasaran dan ingin melihat ke dalam gua itu, melainkan karena ia bosan dan sedang melamun ke arah sana.
Suara langkah kaki pelan dan sebuah panggilan halus membuyarkan lamunannya. "Claire?"
Claire menoleh dan mendapati seseorang yang tidak ia ketahui namanya. "Hei, kenapa kau tahu namaku?"
"Tentu saja. Mana mungkin lupa," jawab orang itu.
Claire memperhatikan orang itu. 'Bahkan saat di luar seperti ini pun, ia masih saja mengenakan pakaian itu....' pikirnya.
"Boleh aku duduk di sini?" tanya orang itu sambil menunjuk tempat di sebelah Claire.
Diiringi anggukan singkat dari Claire, orang itu duduk –tepat- di sebelah Claire.
"Sedang apa kau di sini, wahai Tuan Doctor?" tanya Claire.
"Hari ini hari Rabu dan klinik tutup hari Rabu. Aku memang suka ke sini untuk jalan-jalan," jawab Doctor tanpa ekspresi.
Claire menaikkan sebelah alisnya. "Jadi.... aku harus memanggilmu apa?"
"Doctor saja juga boleh...."
"Tidak enak saja.... Masa aku harus memanggilmu 'Doc'...? Rasanya seperti memanggil anjing."
Hening.
"Kau..... punya pribadi yang cukup berterus-terang sebagai seorang wanita, Claire..."
"Namamu?"
"Aku tidak pernah memberitahu nama asliku. Semua orang di sini memanggilku Doctor. Itu sudah cukup."
Claire menghela napas. "Baiklah kalau kau tidak mau memberitahu. Aku tidak memaksa."
Hening kembali. Kemudian Claire mengambil sebuah bungkusan berisi kotak bento dan membukanya kemudian memberikan sebagiannya pada Doctor.
"Apa?" tanya Doctor.
"Untuk makan siang. Aku lapar. Tadi aku sempat ke Inn untuk membelinya"
"Tidak usah repot-repot."
"Memangnya kau sudah makan siang?"
"Tapi kau tidak perlu repot-repot."
"Kata siapa repot? Sudah, ambil saja. Kau harus mau."
"Kalau tidak?"
"Kutendang kau ke sungai." Dan dengan berkata begitu, Claire menjejal paksa kotak bento itu ke tangan Doctor.
Doctor hanya diam dan pasrah saja menerima kotak bento itu. Mereka pun makan siang bersama dalam keheningan.
Near the Clinic, -Just in Street-.
Terlihat Jack sedang menggendong anak kecil di pundaknya. Anak kecil itu sendiri sedang tertawa-tawa senang.
"Jadi, Stu.... Apa kau mau pulang sekarang??" tanya Jack pada anak kecil itu.
"Aku mau ke tempat Kak Elli...." jawab si anak kecil.
"Dimana kakakmu itu sekarang?"
"Setahuku, ia maacii di Clinic..!!"
"Ya sudah... Kubawa kau ke sana, ya!"
Inside Clinic.
Elli mengerutkan dahinya. Di hadapannya sudah menanti obat-obatan baru yang siap dimasukkan ke rak-rak obat lainnya. Namun menurutnya, itu terlalu banyak dan Doctor tidak akan membantunya bekerja jika hari libur seperti hari Rabu ini.
"Kak Ell~~~li!!!!!!!!"
Elli tertegun sesaat saat mendengar namanya dipanggil. Ia menghela napas dan memutar kedua bola matanya. Pekerjaannya belum selesai dan kedatangan adiknya ini hanya akan menambah pekerjaannya saja.
Tanpa membalikkan badan, Elli mulai menggerutu pelan. "Sudah kubilang jangan menggangguku saat kerja, Stu!" Gadis itu memutar tubuhnya sambil mengerutkan keningnya. "Apa maumu ke si... si... sini..... J.... Jack!!??"
"Hehehe. Hai, Elli. Apa aku sudah mengganggu kerjamu? Maaf kalau begitu."
Elli menggeleng cepat. "Tidak, tidak, tidak. Tidak sama sekali, kok. Hei! Kau bersama Stu?"
Jack melirik Stu yang masih berada di gendongannya. "Iya. Malah dia yang minta untuk diantar ke sini."
"Aduh, Stu..." Elli mengangkat tubuh Stu dari gendongan Jack. "Kamu nakal. Maaf jadi merepotkanmu, Jack."
"Tidak masalah, kok! Dia anak baik." balas Jack santai.
"Tidak, dia nakal." Elli menurunkan Stu dan menepuk pelan dahi adiknya. "Dengar, ya. Sekarang kakak sedang sibuk. Kamu pulang saja dan tunggu kakak di rumah, ya? Jadilah anak baik selama menunggu kakak pulang dan jangan lupa jaga Nenek Ellen. Mengerti?" tanya Elli lembut sambil tersenyum.
Stu mengangguk kecil. Kemudian ia menarik Elli supaya lebih mendekat dan membisikinya sesuatu. "Aku akan jadi anak baik dan pulang. Jadi... Kakak baik-baik cama Kak Jack yaaaa...."
Wajah Elli langsung memerah. "Apa-apaan sih, Stu!!!" serunya jengkel. Namun Stu sudah berlari keluar Clinic sambil tertawa riang.
Jack menggaruk pipi kanannya dengan telunjuknya. "Apa yang dikatakannya?"
"Kau tidak akan mau mendengarnya, Jack," jawab Elli, masih dengan wajah yang memerah. "Ngomong-ngomong..... Terima kasih kamu sudah menemani adikku hari ini."
"Sama-sama. Aku senang, kok!" ujar Jack. Kemudian ia melirik ke arah meja kerja Elli. "Kubantu, ya?"
Wajah Elli yang sudah kembali seperti semula kini mengeluarkan semburat merah. "E.. Eh??? Ti... Tidak usah..!!! Tidak apa-apa... Bi... Bisa kukerjakan sendiri, kok....."
"Tidak apa-apa." Jack mendorong punggung Elli pelan menuju ke arah meja kerjanya.
"Kau yakin Jack? Apa ini tidak merepotkanmu...?"
Jack menggeleng dan memberikan cengiran hangatnya. "Aku senang bisa membantumu."
Elli memalingkan wajahnya. Bukan karena senang, tapi karena malu. Dan sekarang, wajahnya benar-benar memerah. Andai saja Doctor melihatnya, ia pasti akan diberi cuti karena dikira sakit.
Akhirnya Elli setuju-setuju saja dibantu oleh Jack. Mereka mulai membaca label yang tertera pada obat-obatan itu dan mulai meletakkannya semua ke rak yang sesuai.
Elli sedang meraih obat-obatan lain saat dirasakannya ia menggenggam sesuatu yang lain. Dengan pipi yang sudah bersemu pink, ia berbalik dan mendapati sedang menggengam tangan Jack yang saat itu sedang menggenggam obat yang hendak diraihnya.
Hening.
(Twenty seconds later...)
Mereka masih dalam posisi yang sama.
"Ng... Elli??"
Elli masih diam. Matanya menatap mata Jack dengan pandangan menerawang. Semburat pink telah berganti menjadi semburat merah.
"Hallo....? Elli?"
"Ya, Jack......"
"A.. Anu.... Tanganmu...."
Bagai terbangun kembali, Elli menunduk dan betapa terkejutnya ia bahwa mereka masih dalam posisi itu. Ia cepat-cepat menarik kembali tangannya dengan gerakan panik. "Kyaaaaa!!! Maafkan aku, Jack!!!!!!! Aku tidak sengaja, sungguh!!!!"
"Eh?? Tidak apa-apa, kok..." ujar Jack yang agak bingung dengan sikap panik Elli yang tiba-tiba. "Kau tidak apa-apa?"
"Nggak!!!! Maaf ya, Jack.... Eh? Kenapa kau menanyai aku?"
"Habis.... tadi tiba-tiba kau jadi mematung begitu... Dan wajahmu merah sekali. Apa kau sakit?" tanya Jack seraya menempelkan telapak tangannya ke dahi Elli.
"Tidaaaak!!!!" Tanpa sadar Elli melompat mundur. "Ma... Maaf... Ta.... Tapi aku tidak apa-apa...."
Jack memperhatikan wajah merah Elli yang terlihat memelas. Entah karena malu atau karena hal lainnya. 'Manis juga.....' batin Jack. "Kalau begitu di lanjutkan saja, ya?"
Elli yang masih merasa bingung dengan perubahan sikapnya sendiri hanya bisa mengangguk canggung dan kembali menekuni pekerjaannya.
In Lake Mine.
Doctor membuka matanya. Rupanya ia ketiduran tadi. Dan ia tidak terkejut mendapati dirinya tertidur dipangkuan Claire. Karena Doctor sendirilah yang tadi merebahkan kepalanya di sana dan Claire tidak keberatan. Mungkin karena keheningan yang ada atau hembusan angin sejuk, tanpa sadar Doctor malah tertidur.
Ia menoleh dan melihat bahwa Claire juga sedang terlelap. Wajahnya tenang dan damai. Doctor tersenyum sedikit sambil mengangkat sehelai rambut yang jatuh menutupi wajah Claire. Seketika itu juga ia baru menyadari betapa dekat wajahnya dengan gadis itu. Ia mundur perlahan, namun suara gesekan rumput yang timbul karenanya membangunkan Claire.
Gadis itu menguap dan merenggangkan tubuhnya. "Enak sekali tidurku..... Mungkin lain kali aku akan menjadikan tempat ini sebagai tempat tidur siangku..."
"Atau tempat tidur sore...." gurau Doctor.
"Iya, itu boleh juga. Hei.... Sudah lama kau bangun?" tanya Claire pada Doctor yang kini duduk di sebelahnya. Mereka berdua duduk bersandar di sebuah pohon besar yang rindang. Daun-daun pohon itu sesekali rontok dan berbaur dengan rumput-rumput yang ada di sana.
"Lumayan...." Doctor menatap mata biru Claire. "Ngomong-ngomong......"
Claire memandang Doctor balik sambil menaikkan sebelah alisnya. "Apa?"
"Tadi saat kau tidur...."
"Ya?"
"Ilermu kemana-mana..."
"Eh????" Mata Claire membulat. Secara spontan, ia menutup mulutnya dengan tangannya. "Ma.... Masa sih...??"
Doctor menatap Claire dengan tatapan yang sulit ditebak. Ia beringsut mendekati wajah gadis itu sampai benar-benar dekat sekali. Kemudian ia berbisik lembut di telinga Claire. "Bo-Hong...."
Urat kemarahan muncul di kepala gadis itu.
"Hahaha.... Maaf..." ujar Doctor begitu melihat wajah jutek Claire. "Aku tidak tahu kau akan percaya begitu saja..."
Claire tetap diam, tidak menganggapi Doctor dan masih memasang tampang sebal. Secara diam-diam, ia memegang dadanya. Masih berdebar-debar. Kali pertama ia berdebar sejak sampai di Mineral Town ini. 'Gara-gara orang ini....' batinnya seraya melirik sebal ke arah Doctor yang masih terkekeh pelan. 'Padahal sebelumnya tidak pernah begini.... Kupikir dia mau menciumku tadi....'
"Oke, oke..." Doctor mengangkat kedua tangannya menghadap Claire. "Aku benar-benar minta maaf. Jangan memandangiku seperti itu, oke?"
Claire masih diam. Ia memandang sekeliling. Langit sudah mulai berubah warna menjadi oranye. Tapi dari sana tidak terlihat pemandangan favoritnya. Dalam hati ia mendengus kecewa. Hanya dalam hati.
"Aku dimaafkan tidak?" tanya Doctor lagi.
"Tidak," jawab Claire cepat.
"Lho? Kenapa?"
"Tidak apa-apa," sahut Claire cuek sambil bangkit berdiri.
Doctor juga ikut berdiri. "Kalau begitu artinya aku dimaafkan, 'kan?"
Claire menggeleng mantap. "Ngomong-ngomong, aku lapar."
"Mengalihkan pembicaraan.... Kau sudah lapar?"
Claire menatap Doctor sambil mengernyit. "Memangnya kau tidak?"
"Tidak juga, sih.... Tapi karena hari ini clinic tutup, Elli pasti makan malam di rumahnya. Jadi....."
"Kau biasanya tidak makan malam karena tidak ada yang memasak?" tebak Claire.
"Bingo!"
Claire memutar kedua bola matanya. "Pria aneh. Ayo kita ke temaptmu."
"Heh??" Doctor mengikuti Claire yang mulai melangkah pergi. "Ke clinic maksudmu?"
"Kemana lagi?"
Outside Clinic.
"Terima kasih banyak atas bantuanmu, Jack..." ujar Elli sambil sedikit membungkukkan badannya. Sikapnya sudah tidak secanggung tadi.
Jack nyengir lebar. "Tidak perlu. Aku senang bisa membantumu."
"Bagaimana kalau malam ini kamu makan malam di rumahku?" ajak Elli sambil tersenyum.
Mana mungkin Jack sanggup menolak tawaran itu? Apalagi Elli memintanya sambil tersenyum manis. Maka itu, tanpa berpikir dua kali, Jack mengangguk dan mengikuti Elli menuju rumahnya. Dasar, Jack...
In Clinic.
Begitu sampai, Doctor membawa Claire ke lantai dua dan mengantarkan gadis itu ke dapur miliknya.
"Hem...... " Claire bergumam saat ia sedang mengobrak-abrik isi lemari pendingin. "Banyak sayuran dan daging di sini.... Sayang sekali kau tidak bisa memasak..... Payah..."
"Tapi 'kan jadi menambah persediaan makanan..." sahut Doctor membela diri.
"Ya sudahlah. Kau diam dan tunggu saja." Claire mengambil sebuah karet rambut yang ada di sakunya dan mengikat rambutnya. Doctor masih saja belum beranjak dan terus memperhatikan Claire. "Apa?" tanya Claire yang merasa risih diperhatikan begitu.
Doctor menggeleng. "Aneh saja. Aku bahkan biasanya tidak pernah melihat Elli waktu sedang memasak."
"Kalau begitu kau juga jangan memperhatikan aku waktu memasak."
Doctor tersenyum tipis sebelum akhirnya ia berlalu dari sana. Membiarkan Claire berkutat dengan peralatan dapurnya dan bumbu-bumbu yang tidak ia mengerti.
Tak lama kemudian Claire keluar dari dapur membawa dua nampan di masing-masing tangannya. Saat itu Doctor sedang membaca buku tebal entah apa namanya. Ia mendongak dan bergegas membantu Claire.
"Waah... Sepertinya kau lebih hebat dari Elli," puji Doctor begitu melihat hasil karya Claire.
"Makasih," sahut Claire pendek sambil membuka ikatan rambutnya. Ia mengibaskan rambutnya dan mendapati bahwa Doctor sedang memperhatikannya lagi. Kali ini dengan rona merah di pipinya. "Kenapa melihatku seperti itu?"
"Engh..." Doctor memalingkan wajahnya. "Nggak.... Nggak apa-apa...."
Claire menaikkan sebelah alisnya, namun akhirnya ia memutuskan untuk tidak peduli. Mereka pun memulai makan malam mereka.
"Apa enaknya pekerjaanmu itu?" tanya Claire membuka percakapan makan malam mereka.
"Heh?" Doctor mengunyah udangnya sambil mengernyit tidak mengerti. "Kenapa tanya begitu?"
"Karena dari dulu aku tidak mengerti pekerjaan kalian," ujar Claire sambil mengangkat sumpitnya ke arah Doctor.
"Satu kata: menyenangkan."
"Oh, ya?"
"Iya. Aku tidak tahu kau mengerti atau tidak. Tapi yang kupelajari dari dulu adalah mengobati dan menyembuhkan orang. Dan ketika melihat mereka tertawa atau tersenyum karena tidak merasa kesakitan lagi dan sembuh adalah kebahagiaan dan kebanggaan tersendiri untukku."
Claire menganggukkan kepalanya. "Ya.... Kurasa aku mengerti....."
Tiba-tiba wajah Doctor memerah dengan sendirinya. Claire memang tidak memperhatikannya, tapi gerakan Doctor yang tiba-tiba terasa canggung mulai membuatnya heran. "Kenapa, sih?"
Doctor menggeleng kaku, namun cepat. "Rasanya.... seperti pengantin baru...."
Claire tertegun dengan sumpit yang masih menempel di mulut.
Hening menyusup di antara mereka berdua. Hanya suara detak jam dinding saja yang terdengar.
Tik-tok-tik-tok.....
Sejurus kemudian, Claire menurunkan sumpitnya dan menatap Doctor dengan mata bingung. "Hmmm...... Kau punya daya imajinasi yang tinggi, ya..... Apa itu termasuk salah satu yang dibutuhkan oleh semua dokter...?"
Ellen's House.
"Ayo, Stu, coba bilang 'aaaaa'.."
Stu membuka mulutnya lebar-lebar. "Aaaaaa~"
Terdengar suara tawa Ellen yang agak serak. "Stu manja sama Jack, ya....."
Elli juga ikut tertawa kecil. "Memang, anak yang satu ini..."
"Eh? Aku nggak keberatan, kok!!" ujar Jack sambil mengacak-acak rambut Stu, membuat anak itu tertawa.
"Ahaha. Terima kasih, Jack. Dan sepertinya Stu menyukaimu," kata Elli sambil mengelap bekas makanan yang masih menempel di mulut Stu.
"Hahahaha, jadi malu..." sahut Jack sambil menggaruk bagian belakang kepalanya.
"Neneeek~!!!! Kenapa cenyum-cenyum aja daritadi...??" tanya Stu sambil melambai-lambai ke arah neneknya.
Ellen tertawa pelan. "Bukan apa-apa, Stu.... Hanya saja, melihat Jack dan Elli seperti ini... Rasanya seperti melihat pasangan suami-istri..."
Jack terjerembap dari kursinya sedangkan Elli menjatuhkan mangkuk plastik yang sedang dipindahkannya.
"N.. Ne.. N-ne-ne... Ne... Nenek.. Nenek ngomong a-ppa..sih..~!!!!" sahut Elli gagap sementara Jack mengelus bokongnya yang tertimpa lantai.
Dan lagi-lagi Ellen hanya tertawa pelan, berkebalikan dengan Stu yang sudah tertawa keras sedari tadi.
(Skip) In front of Claire and Jack's home.
Claire memandangi lekat-lekat wajah pria yang sudah mengantarnya pulang itu.
"Jangan menatapku seperti itu. Kutarik matamu nanti baru tahu rasa," kata Doctor sambil mengernyit.
Claire menjulurkan lidah. "Kau tidak akan berani, Tuan."
Doctor menghela napas sebelum tersenyum. "Terima kasih untuk yang hari ini. Em... Aku suka masakanmu."
"Menurutmu apa gizi dari masakan tadi cukup baik untuk pertumbuhan tulang dan kesehatan tubuh?" gurau Claire sambil tersenyum tipis. Hmmm... Kemajuan berarti.
Doctor tertawa. "Setidaknya tidak akan membuatku terdampar di toilet selama berhari-hari."
"Baik..." Claire mengangguk singkat. "Selamat malam. Terima kasih antarannya."
Claire membuka pintu bersamaan dengan berlalunya Doctor.
"Heh? Sudah pulang? Selamat datang," sapa Jack yang saat itu sedang tidur-tiduran di sofa sambil menonton televisi.
Claire berlalu melewatinya menuju kamar mandi.
Selesai membersihkan diri, Claire menghampiri Jack dan duduk di sebelahnya. "Sudah makan malam?" tanyanya.
"Sudah, tadi diundang makan malam di rumah Elli," jawab Jack seraya mengalihkan pandangannya dari TV. "Kau sudah?"
"Iya.... Tadi aku makan malam di Clinic, bersama Doctor."
"Oooooh....."
"Tidur yuk..."
"Oke....."
Good night... Have a nice dream...
.
..
...
....
.....
......
.......
........
TBC~~~~~~
Y.E: libur telah tiba~~ libur telah tiba~~ hore~~ hore~~ hore~!!!!!!!!
Kappa: hore!!!
Y.E: lemparlah semua tasmu!!! bakarlah buku-bukumu~!!!! libur telah tibaaa~~ libur telah tibaa~~~
Kappa: hatiiiiiku gembiraaa~~aaaa
Y.E: *jingkrak-jingkrak autis*
Kappa: *tepuk tangan* gag penting banget sih, kita.....
Y.E: *ngangguk* emang....
Kappa: oooh ya.... makasih buat teacupz' (*ngomong ala infotaiment Insert* jangan-jangan Anda penyuka hal-hal sadis...), eri(.)the(.)nuts (sulit dipercaya kamu lebih milih digendong daripada dicium oleh saya, si Kappa nan ganteng, cute dan seksi ini.... *silahkan muntah*), Anisha Asakura (nyaris mengalami?? serem amat.......), The owl and The lonely owl (*sembah sujud* maap gag sempet nonton *pundung di pojokan*), shiramiu (masa kamu lebih milih payung en piring cantik dibandingkan pesona Kappa ini!!??)
Y.E: dan selanjutnya, makasih untuk xXChubbyGirlXx (makasih Baby-chan~), XoxoXpxp (woww!! teruskanlah menghemat ongkos dan duit~~! xD), Yuki Shirou - YN (hehe.. maab iiah, emang Blue-nya baru dimunculin di sini... eh... situ dah keburu ngamuk....) dan heylalaa (haloo ^^ *sok akrab* makasih ripiuw nyaaa)
Kappa: ripiuw tidak diwajibkan bila merepotkan~~ dadah......
