No Title

By: Y.E

Disclaimer: Natsume

**********

Hari sudah mulai pagi, namun Claire masih duduk tegak di atas tempat tidurnya dalam balutan selimutnya, menggigil tapi bukan kedinginan dan dengan air mata yang sesekali menetes. Kantung matanya hitam kelam, pertanda bahwa ia memang belum tidur semalaman.

Terdengar suara pintu kamarnya yang diketuk. "Claire? Kau sudah bangun 'kan? Cepat siap-siap. Kamu kan harus sekolah."

Ya, itu suara Jack. Claire menggeleng di dalam kamarnya dan ketika ia menyadari Jack tidak dapat melihat gelengan kepalanya, ia berkata, "Aku tidak mau sekolah....."

"Kau mengatakan sesuatu, Claire?"

Claire menarik napas berat dan menghembuskannya perlahan. "Aku turun sebentar lagi, Kak...."

"Oke." Terdengar langkah kaki menjauhi kamarnya, menuruni tangga dan menghilang di ujung lorong.

Dan Claire menepati perkataannya. Ia turun ke bawah dengan seragam yang lengkap. Namun tetap saja ia tidak bisa menyembunyikan sesuatu dari bibi dan kakaknya.

"Claire...? Kenapa kantung matamu hitam sekali...?" tanya Lyla khawatir. Jack hanya memandangi adiknya itu dengan alis terangkat tinggi.

"Tidak apa... Mungkin hanya kurang tidur," jawab Claire sambil berlalu pergi.

"Eh? Sudah mau pergi? Tidak sarapan dulu?"

"Aku..... tidak lapar...."

Claire berlalu dari sana dengan diiringi tatapan penuh curiga dari Jack.

(In School)

Claire berjalan menunduk, menghindari tatapan mata sinis dari teman-temannya yang lebih parah dari kemarin. 'Bisakah mereka tidak memperhatikanku secara langsung seperti itu.... Bisakah mereka berhenti berbisik-bisik secara langsung seperti itu.... Bisakah mereka mencari tahu jika aku memang tidak bersalah....'

Tiba-tiba ia tersentak. Ada yang melemparinya dari belakang. Ia menoleh ke belakang namun ada lagi yang melemparinya dari arah depan.

Akhirnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca, ia berlari tanpa tujuan dan arah. Hanya kakinya yang membimbingnya berlari. Claire baru berhenti saat ia menabrak seseorang dan terjatuh.

"Aduuuh..." keluh orang itu. "Hati-hati dong.... Kau ini benar-benar tidak punya mata, ya..."

Mata Claire terbelalak melihat Gwen yang ternyata telah ditabraknya. Ia buru-buru bangkit dan berlari ke arah sebaliknya, namun disanalah Jill muncul.

"Lari, huh?" ujarnya tersenyum sinis sambil menghantamkan tasnya tepat di wajah Claire.

Claire terjatuh ke belakang. Ia merasa hidungnya sakit bukan main, namun ini bukan saat yang tepat untuk memikirkan hal itu. Ia mendongak dan melihat sekeliling. Sepi. Berarti tidak akan ada yang menolongnya.

Mata Claire masih terbelalak panik saat Jill dan kawan-kawannya mengepungnya membentuk lingkaran. Ia baru menyadari kalau lokasi ini sama seperti lokasi kemarin.

"Bawa dia, teman-teman," suruh Jill seraya tersenyum sinis.

Katie dan Gwen menarik tangan Claire secara kasar dan menyeretnya menuju toilet perempuan tempat penyiksaan Claire kemarin. Jill mengikuti dari belakang bersama Dia dan Gina.

"Tunggu!!!! Kumohon, hentikan!!!! Aku minta maaf, tapi aku benar-benar tidak tahu apa-apa!!!!!!!! Aku tidak menggoda Blue!!! Jill, aku mohon percayalah padaku!!!!!!!!!" seru Claire. Air matanya mulai mengalir dan ketakutan yang selalu ia rasakan setiap hari mulai merayap di tubuhnya sekarang.

Air muka Jill berubah. Wajahnya mengerut marah dan dengan berang, ia menghampiri Claire –yang masih dipegangi oleh Katie dan Gwen- dan menamparnya dengan sangat keras. Saking kerasnya tamparan itu, Claire terjatuh ke belakang dan pegangan Katie serta Gwen terlepas.

"Percaya padamu katamu....? Hah??? Hahaha... HAHAHA!!!!! Apa aku tidak salah dengar!????" Jill menjambak rambut Claire dan memaksa gadis itu menatap matanya. "Kau pikir aku buta...? Kau pikir adegan kalian di ruang kesehatan kemarin hanya ada dalam mimpiku saja...? Kau pikir aku tidak melihat Blue memelukmu, HAH!!????"

Jill mendorong kepala Claire sehingga membentur dinding. Darah mengalir dari kening Claire sedangkan Claire hanya menutup mata, menangis dan gemetar.

"Pegangi dia lagi!!!" suruh Jill, kali ini dengan nada marah. Katie dan Gwen buru-buru memegangi tangan Claire.

Claire membuka matanya perlahan. Pandangannya agak kabur karena air mata yang bercampur dengan darahnya sendiri. "Mau.... apa..... kau..... Jill......"

Jill memberi isyarat pada Gina dan dengan sigap, Gina menyerahkan sebuah kantong plastik hitam pada Jill.

Mata Claire menyipit untuk melihat lebih jelas. Hanya perasaannya saja.... atau memang kantong itu bergerak-gerak....? Apapun yang ada di dalam kantong hitam itu, pastilah itu tidak baik. "Ma... Mau apa kau, Jill??" tanya Claire sekali lagi, kali ini dengan nada panik. "A-Apa isi kantong itu..!!???"

Jill menyeringai jahat, seringaian yang selalu ditakuti Claire. "Kau mau tahu isi kantong ini...? Tenang saja...... Akan aku perlihatkan....." Jill mengeluarkan pinset dari sakunya, membuka kantong dan merogoh ke dalamnya. Selanjutnya, sudah ada 'sesuatu' yang terjepit di pinsetnya.

Makhluk itu.... Jill tahu Claire paling takut dan benci pada makhluk menjijikkan itu. Memiliki banyak kaki menjijikkan dan warna yang menjijikkan pula. Kecoak.

"Hiii!!!!" Claire bergidik ngeri. "A-A... Apa... Apa yang mau kau lakukan dengan makhluk menjijikkan itu, Jill.....!??"

"Ini...?" tanya Jill seraya memutar-mutar kecoak yang dijepit di pinsetnya. "Kemarin kau belum menelan jarum, 'kan?" tanyanya dengan nada polos yang dibuat-buat. "Jadi..... Aku ingin menyuruhmu memakannya," ujarnya sambil tersenyum. Dan detik berikutnya ia menerjang cepat ke depan Claire.

Claire menunduk. Ia berusaha menutup mulutnya rapat-rapat. Sampai mati pun ia tidak akan mau membuka mulutnya. Dibiarkannya rasa sakit karena rambutnya ditarik oleh mereka. Yang pasti, jangan sampai... jangan sampai makhluk menjijikkan itu masuk ke mulutnya!!!

**********

Claire terbangun dengan mata terbelalak, keringat dingin dan napas memburu. Ia buru-buru mengatur kembali napasnya dan mengerjapkan mata untuk disesuaikan dengan kegelapan.

'Gelap.... Sepertinya masih tengah malam.....' ujarnya dalam hati. 'Mimpi lagi..... Itu kejadian yang paling tidak ingin aku ingat....'

Claire menghela napas berat sebelum akhirnya bangkit, mengambil selimut untuk menutupi dirinya dan berjalan ke luar rumah. Ia berusaha agar langkahnya tidak membangunkan Jack.

Memang masih tengah malam dan walaupun bukan musim gugur atau dingin, angin malam di Mineral Town selalu cukup dingin, membuat Claire semakin merapatkan selimut ke tubuhnya. 'Ini yang kubutuhkan..... Jalan-jalan malam dengan angin dingin yang akan membersihkan otakku.....'

Langkah Claire terhenti di dekat pohon apel milik mereka. Ada sesosok tubuh di sana. Claire mengernyit. 'Hantu...?' Sesosok tubuh itu kelihatannya sedang tertidur. 'Mana mungkin.... Maling, ya?'

Ternyata orang itu tidak tidur. Ia berbalik dan terkejut mendapati Claire yang tiba-tiba ada di belakang sisi pohon yang lain. "Gyaaaa!!!! Kaget aku!!!!!!!"

"Ternyata memang maling, ya...." ujar Claire. "Sedang apa kau disini, Tuan Maling...?"

"Ng...? Kau sendiri sedang apa disini, malam-malam begini belum tidur? Malah mukamu pucat begitu. Kupikir hantu."

"Ini ladangku, Tuan Maling. Jadi aku bisa disini kapanpun aku mau."

"Kau belum menjawab pertanyaan kedua. Dan, oh... berhentilah memanggilku 'Tuan Maling'..... Aku 'kan punya nama dan aku sudah memberitahunya di pertemuan pertama kita. Jangan bilang kau lupa."

Claire menggeleng pelan dan duduk di sebelah pemuda itu. "Aku tidak lupa. Sedang apa kau disini, Skye?"

"Menurutmu?" tanya Skye balik sambil menggeser sedikit (lebih dekat, bukan lebih jauh) posisi duduknya kearah Claire.

"Mana kutahu...." jawab Claire. Kemudian gadis itu berbalik dan menatap Skye penuh curiga, "Kau mau merampok rumahku, ya?"

Skye menggeleng cepat. "Nggak. Enak saja... Aku sama sekali tidak punya niat merampok rumah petani miskin seperti ka... umph~"

"Kami tahu kami miskin. Jangan bilang secara langsung begitu dong...... Kan malu...." ujar Claire sambil melipat kedua tangan di dadanya.

Skye meringis sambil memegangi pipinya yang baru saja dicubit Claire. "Aduuuh....."

"Memangnya sakit, ya?"

"Nggak! Geli! Coba saja aku cubit pipimu, sini!"

Claire tertawa pelan. "Yah... Kehadiranmu malam ini lumayan membuatku tenang....."

"Eh?" Skye mengerutkan alis tanda tidak mengerti. "Ah.... Jangan-jangan kau bangun malam-malam karena habis mimpi buruk, ya?"

Tepat sasaran. Hening, hanya terdenganr suara gesekan rumput yang tertiup angin malam yang dingin.

"Heh...." Claire mendengus. "Jangan bercanda. Mimpi buruk apanya....."

"Tebakanku benar, 'kan? Kau pasti habis mimpi buruk. Pertama aku melihat wajahmu tadi, aku mengira kau hantu karena wajahmu pucat. Memangnya kau sedang sakit, ya...?"

Claire menggeleng dan menunduk. "Mmm-hmm..... Aku memang habis mimpi buruk, sih....."

Skye menatap gadis dihadapannya yang kini kelihatan pucat dan sedih dengan tatapan yang sulit diartikan. Perlahan, ditepuknya kepala gadis itu. "Mimpi buruk tentang apa...?"

Claire mendongak dan menatap langsung mata sang pencuri. Selama beberapa detik mereka hanya bertatapan seperti itu. Pelan-pelan, Claire mulai membuka mulutnya, "Aku mimpi...."

"Mimpi....?"

"...Rumahku akan dirampok...."

"Hegh...?"

"Ternyata itu hanya pertanda kalau kau akan datang, ya...." ujar Claire sambil menunduk lagi.

"Kau ini.... Jangan bercanda dengan wajah serius begitu, dooong!!!" seru Skye sambil membalikkan wajahnya kearah lain. Jangan sampai Claire melihat wajahnya yang merah ini. Apa kata orang nanti? Skye yang biasanya menaklukkan perempuan kini ditaklukkan perempuan???

"Hei, Tuan Pencuri...."

"Ahem!"

"Ah... Maksudku, Skye.... Kau belum membalas pertanyaanku. Sedang apa kau disini?"

Skye terdiam sebentar dan kemudian tersenyum. Ia mendekatkan wajahnya kearah Claire. "Bagaimana kalau aku bilang...." Jari-jarinya bergerak ke leher belakang Claire. "....jika aku tidak bisa melupakanmu...." Ia mengelus pelan leher belakangnya. "...sejak pertemuan pertama kita hingga sekarang?" Dan jari-jari itu pindah ke rambut halusnya dan memainkannya dengan lembut.

Claire terdiam dengan tatapan datar. Jangankan tersipu malu. Tersenyum pun tidak. "Geli...." ujarnya datar.

'Ternyata gadis ini memang tidak bisa digoda....' pikir Skye jengkel. Jari-jari Skye masih memainkan rambut Claire.

Angin malam kembali menerpa tubuh mereka, seakan menyuruh Skye untuk bermain kata lagi dan menyuruh Claire mematahkan gombalannya kembali.

Claire merapatkan selimutnya ke tubuh dan memegang kedua pipinya.

"Dingin?" tanya Skye pelan. Jari-jarinya kini mengelus rambut gadis itu.

Claire menggeleng. "Nggak juga...."

"Tapi kau kelihatannya kedinginan," ujar Skye lagi.

"Memang kenapa kalau aku kedinginan? Kau mau memelukku?"

"Iya, kok tahu?"

Alis Claire terangkat. "Apa?"

Dalam sekejap, Skye sudah menarik bahu Claire mendekat padanya dan memeluknya.

"Kyaaaa! Maling mesum!!!!!" seru Claire.

Skye mengerucutkan bibirnya. "Berterima kasih, dong...."

"Untuk apa?" tanya Claire jutek.

"Kan aku sudah menghangatkanmu...." jawab Skye tak kalah jutek.

"Aku tidak minta. Eh.... Kenapa jantungmu detaknya cepat sekali, Maling Mesum?"

"Eh? Salah dengar, kali. Dan jangan panggil aku seperti itu!"

"Terus kenapa mukamu merah begitu?"

"Masa, sih?" balas Skye sambil memalingkan mukanya kearah lain. 'Yah... Kelihatan.....'

"Kayaknya kau mau kena demam musim semi, Maling Mesum," ujar Claire seraya menaikkan sebelah alisnya.

"Memangnya ada? Dan sudah kubilang berhenti memanggilku seperti itu!" balas Skye dengan nada jengkel main-main.

"Ada. Tuh, kau orang yang paling pertama kena, Maling Mesum."

"Berhenti memanggilku begitu."

"Kalau aku tidak mau?"

"Kucium nanti."

Claire mendongak menatap Skye dengan tatapan tidak percaya. "Kau berani?"

"Kenapa tidak?" jawab Skye sambil tersenyum. "Mau bukti?" Skye merapatkan pelukannya, menutup matanya dan mendekatkan wajahnya kearah Claire.

"Tidak-tidak!!!" Claire buru-buru mendorong Skye menjauh. Akhirnya Skye menghentikan aksinya.

"Makanya lain kali jangan macam-macam padaku!" ujarnya bangga sambil memeluk Claire lagi.

"Eeee.... Kenapa kau memelukku lagi, Ma... S-Skye...?"

"Memangnya kenapa?"

"Aku tidak mau."

"Tapi aku mau."

'Dasar maling egois, pemaksa...' Claire mengomel dalam hati. Kemudian ia menghela napas dan pasrah saja. Ia mengulangi lagi pertanyaannya yang tadi, "Kenapa kau ada disini, Skye?"

"Eh...? Jawabanku yang barusan bukan bohong, kok."

"Hah?"

Skye mengangguk. "Iya. Aku memang tidak bisa melupakanmu sejak pertemuan pertama kita. Dan ada satu hal yang ingin kuketahui darimu. Makanya malamnya aku suka ke sini, untuk menunggu keberuntungan seperti ini."

"Hah? Yang benar saja? Yaah...., kau memang beruntung malam ini. Tapi kalau seandainya aku tidak pernah bangun malam dan keluar begini, apa kau selamanya akan menungguku?"

Skye mengangkat bahu. "Aku pernah menunggumu di pantai, tapi kau nggak datang-datang lagi. Ya sudah, karena setiap malam aku memang tidak ada kerjaan, kupikir nggak masalah aku menunggumu keluar malam."

"Dasar kalong...."

"Biarin."

"Sudah berapa hari kau menunggu begini?"

"Ini malam ketiga. Dan aku beruntung hari ini kau keluar. Mungkin aku harus berterima-kasih pada Tuhan yang sudah memberikanmu mimpi buruk."

Claire mendengus. "Lucu. Memangnya apa sih yang mau kau tahu dariku?"

"Namamu."

"Lho...?" Claire (yang masih dipeluk Skye) memiringkan kepalanya sedikit. "Kau nggak tahu namaku?"

"Nggak. Aku pernah bertanya di pertemuan pertama kita, tapi kau nggak jawab. Jangan bilang kau lupa," ujar Skye jutek.

"Kenapa tiba-tiba jutek begitu?" tanya Claire sambil menaikkan sebelah alis.

"Nggak," jawab Skye sambil memalingkan wajah (lagi). "Sebel aja. Masa kau nggak ingat kejadian-kejadian waktu pertemuan pertama kita?"

Alis Claire mengerut. "Hah? Kenapa aku harus ingat? Seperti orang pacaran yang harus mengingat kencan pertama saja....."

"Memangnya kenapa kalau bukan pacaran?"

"Hah?" Alis Claire mengerut makin dalam. "Kau ini ternyata kayak anak kecil, ya."

"Ngomong sekali lagi, coba," ujar Skye sambil mengeratkan pelukannya.

"Sakiiiiiiit!!!! Maaf, maaf!!!!!"

Skye kembali melonggarkan pelukannya. "Siapa namamu?"

"Lho, kenapa kau masih memelukku?????"

"Jangan mengalihkan pembicaraan, deh! Beritahu aku namamu."

"Siapa yang mengalihkan pembicaraan? Lepas dulu, baru kuberitahu!"

"Tidak. Beritahu sekarang atau aku akan menciummu," ancam Skye dengan nada menggoda.

"N-namaku Claire," jawab Claire cepat.

"Claire..... Nama yang bagus," kata Skye. Dan tindakan Skye selanjutnya benar-benar tidak diduga oleh Claire sebelumnya. Skye mendaratkan ciuman di keningnya.

Hening. Suara gemerisik rumput yang bertabrakan dengan angin malam kembali terdengar, seperti menertawakan Claire atas adegan tersebut.

"Ma... Ma..."

"Ma apa?" tanya Skye bingung. "Mau lagi?"

"Ma... Maling Mesuuuum!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!"

"Waduh....."

Dan adegan yang tercipta selanjutnya adalah adegan kejar-kejaran antara seorang pencuri dengan gadis angkuh.

"Jangan lari kau! Dasar Maling Mesuuuum!!!!!!!!!!!!!!!!!!"

"Tu-tunggu...!!!! Kenapa kau jadi marah-marah begitu!!!???"

Bersyukurlah tidak ada penduduk yang terbangun dengan seruan-seruan mereka.

"Bagaimana mungkin aku tidak marah, dasar tidak sopan!!!!!!!!!!!!!" seru Claire. Terdengar jelas nada jengkel dari seruannya.

"Kenapa!!!!!!!????? Aku 'kan hanya menciummu di kening!!!!!!!!!!! Bukan di bibir!!!!!!!" seru Skye, membalas seruan Claire.

"Sama saja!!!!!!!! Aku tidak suka!!!!!!!! Jangan lari!!!!!!!!!!" seru Claire sambil mengancungkan kepalan tangannya.

"Tapi aku suka!!!!!!!!!" seru Skye sambil menjulurkan lidahnya.

"Tungg....." Claire berhenti tiba-tiba. 'Tunggu.... Apa yang kau lakukan, Claire?' tanyanya pada diri sendiri. 'Kau tidak pernah berbuat sekonyol ini. Ya, kejar-kejaran tengah malam dengan seorang maling adalah hal yang konyol. Dan kau tidak pernah berbuat konyol, untuk apa kau berlaku konyol sekarang, Claire?"

"Ada apa, Claire?"

Claire terperanjat kaget dan menoleh ke belakang. "Jangan mengagetkan begitu!" katanya dengan nada sebal. "Kenapa tiba-tiba kau ada di belakangku?"

Skye tertawa. "Aku ini 'kan pencuri ulung. Soal kecepatan, tentu saja aku nomor satu."

Claire memperhatikan pemuda dihadapannya dengan tatapan luar biasa jengkel. "Nggak capek?"

"Mana mungkin," jawab Skye enteng. "Sepertinya kau lelah," katanya, melihat Claire yang napasnya terengah-engah. "Mau dilanjutkan? Kalau mau, kurasa kau butuh istirahat."

Claire benar-benar tidak tahan untuk tidak menjitak pemuda itu. 'Tenang, Claire. Kalau kau memukulnya, berarti kau masuk ke dalam permainannya. Kalau kau masuk dalam permainannya, berarti kau masuk ke dalam perangkapnya. Dan masuk ke dalam perangkapnya sudah cukup untuk membuktikan kau sukses menjadi manusia konyol...'

"Eeeeeh? Tidak dilanjutkan?"

'Tunggu dulu....' Claire menatap Skye. 'Orang ini.....sebenarnya kehadirannya tidak kuharapkan. Tapi.... harus kuakui... Kehadirannya malam ini..... membuatku melupakan mimpi buruk yang tadi...'

Skye jadi salah tingkah sendiri. "Eeh... Jangan menatapku seperti itu terus-menerus, dong......"

"Hmph... Hahaha....." Untuk pertama kalinya sejak sampai di Mineral Town, Claire tertawa. Benar-benar tertawa lepas. Dan Skye adalah pria beruntung pertama yang melihatnya. "Te... Terima kasih, Skye...."

Wajah Skye sudah memerah. "Eh?? Eh?? Untuk apa????"

"Bukan untuk apa-apa. Makasih aja."

"Eh? Dasar, kau ini gadis yang aneh. Baru kali ini aku bertemu gadis sepertimu," ujar Skye.

"Oh, ya...?" tanya Claire sembari menguap.

"Kau mengantuk?"

"Mmm-hmm.... Nggak juga."

"Kelihatannya kau ngantuk."

"Mungkin......"

"Sebaiknya kau pergi tidur lagi, Claire."

"Tapi....." Dan saat Claire membuka matanya, Skye sudah lenyap dari pandangan matanya. "Skye....?"

Hening, tak ada jawaban.

Angin malam kembali menerpa tubuh Claire. Gadis itu merapatkan selimutnya dan berjalan kearah rumah mungilnya untuk melanjutkan aktivitas tidurnya. 'Apa dia hantu, ya? Kenapa bisa menghilang begitu saja???'

Di sisi lain, Skye mengintip dari atas batang sebuah pohon besar. Kenapa dia bisa sampai di sana dalam waktu singkat? Entahlah..... Yang pasti ia membisikkan sesuatu kepada malam sebelum akhirnya menghilang bagai tertiup angin.

Good night, My Angel...Have a nice dream...

.

..

...

....

.....

......

.......

........

.........

..........

TBC~~~~~~~~~


--Behind The Scene--

"Kayaknya kau mau kena demam musim semi, Maling Mesum," ujar Claire seraya menaikkan sebelah alisnya.

"Memangnya ada? Dan sudah kubilang berhenti memanggilku seperti itu!" balas Skye dengan nada jengkel main-main.

"Ya adaa dunn, masa ada layy??? Nama anak tetangga aja Adunnn, bukan Alayyyy. Kyahahahahahaha!" jawab Claire sambil tertawa histeris.

"CUT!!!!!!!"

--Behind The Scene-- END


Kappa: libur udah slese, libur udah slese.

Y.E: huwaaaa! huwaaaa!!! huwaaaa!!!!

Kappa: terus gimana? buku sama tasnya kan udah dibakar sama dibuang.

Y.E: aduuuuh, maleeeeess..... besok udah masuk sekolah.... Aaaaaa!!! *jeritan gaje dari seorang anak gaje*

Kappa: *nunjuk batang hidung Y.E* manusia yang nggak patut dicontoh.

Y.E: makasih banyak untuk Anisha Asakura (saya nggak bajak lagu Tasya, siapa yang bajak? *celingak-celinguk bego*), eri[.]the[.]nuts (maunya sih, ngejelasin dulu mereka ngapain aja, karena males jadi di skip deh...*nyengir gaje*), Xpxpxpxpxp (lho, nggak irit-iritan lagi? iya, Doctor genit *disuntik rabies sama Doctor*), and teacupz' (iya sih... lupa dicantumin kalo Doctornya ternyata OOC, maaf *sembah sujud*)

Kappa: sama Xoxoxoxoxo (kok nggak irit-iritan lagi...? *ditampol gara-gara nanya mulu*), Melody-Cinta (oww, pair itu akan dimunculkan di chapter lain kayaknya *nyengir gaje lagi*), GreenOpalus (iya, pairnya gimana ya? waduh, penggemar Gray banyak amat sih *Gray: iya dong, gue gitu!*), and heylalaa (bingung? sama dong *digetok* makasih)

Y.E: *baca ulang* Skye OOC ya....?

Kappa: *ikutan baca* iya kayaknya.

Y.E: oh, iya!!!! sebelum kelupaan, Eri-chan!!!!! *teriak pake toa* masa kemarin si Kappa senyam-senyum gituuu!!! pas Y.E nanya kenapa, katanya dia abis ditembak Eri-chan!!!! oh my God.... Kappa botak gendut buntelan begitu... *ngelirik Kappa* *vomit*

Kappa: *blushing nggak jelas* jadi malu..... okok dah, review tidak diwajibkan apabila merepotkan.