No Title
By: Y.E
Disclaimer: Natsume
Gerakan Jill semakin kasar. Ia mengerahkan segala kekuatannya untuk menarik rambut Claire. Gadis itu sendiri juga tak mau kalah. Ia kerahkan segenap tenaganya untuk menunduk. Claire bisa merasakan rasa sakit yang bukan main dari kulit kepalanya. Mungkin ada beberapa rambutnya yang rontok, entahlah. Claire tidak peduli akan hal itu.
Namun kejadian yang tidak terduga pun terjadi. Gwen menendang bagian kiri perut Claire. Tendangan itu otomatis membuat Claire kesakitan sehingga mendongak tanpa ia sadari. Saat itulah benda yang ada di pinset Jill bersentuhan dengan bibirnya.
Hanya bersentuhan. Benda atau mungkin bisa disebut makhluk itu tidak sampai masuk ke mulut Claire. Namun tetap saja hal itu membuat gadis tersebut muntah seketika.
Jill dan teman-temannya yang ikut menarik Claire segera melompat mundur. "Kyaaaa! Dasar jorok! Kau ini benar-benar menjijikkan!" umpat Jill.
Claire menunduk dalam diam. Tenggorokannya pahit dan matanya berkunang-kunang. Bau amis menyeruak dalam penciumannya, membuatnya ingin muntah lagi.
Jill melirik arlojinya. Sesaat ia nampak seperti sedang berpikir, kemudian menyeringai jahat dan membisikkan sesuatu pada teman-temannya. Setelah itu, mereka mulai menunjukkan seringaian yang sama.
Katie beranjak mendekati Claire. Gadis itu tidak menyadari apapun sebelum Katie menarik kerah seragamnya secara tiba-tiba disusul gerakan Jill yang sangat cepat.
Apa yang dilakukan Jill?
Sederhana, ia menuangkan seluruh isi yang ada di kantong plastik hitam itu ke dalam kemeja seragam Claire.
Claire menjerit histeris.
Tubuhnya berguling-guling ke kiri dan kanan, membentur tembok beberapa kali dan terkadang juga membentur pintu toilet. Ia menjerit sampai suaranya serak. Air mata mengalir deras. Claire benar-benar panik sampai tidak menyadari Jill dan teman-temannya telah berlalu dari sana dengan suara tawa yang membahana.
Tolong... Kenapa tidak ada yang menolongku...?
"... dak..."
"... ire...?"
"...Tidak..."
"Hei, Claire?"
Claire membuka matanya. Ia merasa pusing dan mual. Rambutnya basah. Matanya berair dan tenggorokannya sakit. Apa ia menjerit dalam tidurnya?
"Kau tidak apa-apa?" tanya Jack seraya mengelap keringat di dahi Claire dengan telapak tangannya.
"Ada apa?" tanya Claire pelan dan terdengar serak.
"Kau mengigau sambil menangis," jawab Jack. "Apa kau bermimpi sesuatu?" tanyanya lagi dengan nada khawatir.
Claire diam tak menjawab. Napasnya sesak. "Aku pusing..."
Jack meletakkan sebelah telapak tangannya di kening Claire sedangkan yang sebelah lagi di keningnya sendiri. "Kau demam."
Claire tetap diam dan menutup mata. "Aku akan bangun sebentar lagi."
Jack mengernyit. "Nggak usah. Mana mungkin kau bisa kerja kalau keadaannya kayak gitu?"
"Nggak apa-apa kerja sendirian?"
"Nggak masalah. Kau istirahat saja, ya. Ganti baju dulu. Bajumu basah sekali."
Claire beranjak berdiri. Kepalanya benar-benar pusing saat ia melakukannya. Claire berjalan dengan langkah diseret menuju kamar mandi.
Setelah selesai berganti baju, Claire mendapati bahwa Jack sudah tidak ada di dalam rumah. Mungkin sudah keluar bekerja. Ia juga melihat semangkuk bubur di atas meja dan obat serta air mineral di sebelahnya. Terlalu malas untuk itu, Claire memilih kembali ke tempat tidurnya dan tidur.
Beberapa menit setelah Claire mulai tertidur, ia terbangun kembali karena tepukan pelan di pipinya.
"Jack...?" ujarnya seraya membuka mata. Namun yang ada di hadapannya bukanlah sang kakak. Gadis itu membulatkan matanya.
"Terkejut?"
"Doctor? Mau apa kau ke sini?"
Doctor memutar kedua bola matanya sambil menghela napas. Kemudian ia mengukur panas Claire dengan telapak tangannya. "Panas sekali. Kenapa bisa sampai demam, sih? Ini 'kan masih musim semi."
Claire mengingat percakapannya kemarin dengan Skye. Ternyata yang kena demam itu dia, bukan sang maling. "Nggak tahu juga ya..."
"Dasar, kau ini memang gadis aneh."
Sunyi sesaat. Doctor sibuk dengan barang bawaannya. Sepertinya sedang memilah-milah obat.
"Kenapa kau bisa ada di sini?" tanya Claire pada Doctor, tak bisa menahan rasa penasarannya lagi.
"Jack yang memanggilku," jawab Doctor singkat. Ia melihat ke arah meja. "Kau belum makan? Nggak minum obatmu juga?"
"Malas..."
"Kalau begitu bagaimana mau sembuh?"
Claire menyembunyikan wajahnya di balik selimut.
Doctor menarik selimut Claire. "Makan dulu, sana."
Claire terdiam sesaat sambil mengerutkan alisnya.
"Doc..."
Doctor yang sedang mengambilkan mangkuk tersebut dan berjalan ke arah Claire mengamatinya dengan tatapan bingung. "Apa?"
"Terima kasih."
"Hah?"
-Outside House-
"Jack, apa makanannya segini saja sudah cukup...?"
"Oh, iya, sudah. Terima kasih banyak, Elli."
"Sama-sama, Jack."
"Aduh, nggak enak nih jadi ngerepotin. Padahal kamu ke sini kan hanya untuk menemani Doctor," ujar Jack sambil menggaruk bagian belakang kepalanya.
"Nggak apa-apa," jawab Elli dengan memasang senyumannya. "Daripada Jack kerja sendiri, Doctor juga tidak melarang. Aku senang bisa membantu."
"Wah, aku benar-benar berterima kasih padamu, Elli! Senang kau ada di sini!"
"A-Aku juga kok, Jack..."
"Ayo kita kembali ke dalam. Aku jadi tidak enak nantinya kalau meninggalkan adikku yang merepotkan bersama Doctor," ujar Jack sembari menarik tangan Elli pelan menuju rumah.
"E-eemm..." Elli bergumam salah tingkah ketika tangannya bersentuhan dengan tangan Jack.
"Claire~" Jack berseru riang sambil membuka pintu. Ia yakin jika Claire pasti sudah bangun. Namun pemandangan yang ditangkap matanya membuat ia dan Elli terdiam dan mematung.
Terlihat Doctor memeluk Claire yang sedang sesenggukan.
Hening.
Jack menatap Doctor. Yang ditatap menatap balik ke arahnya. Tidak, Jack tahu penyebab Claire menangis bukanlah Doctor. Tapi Jack tidak tahu penyebab yang sesungguhnya. Dengan pelan, ia berjalan mundur, memberikan isyarat pada Elli untuk berbalik, dan kembali menutup pintu.
"J-Jack...?" panggil Elli, merasa khawatir.
"Hmm... Kurasa... Kita harus membiarkan Claire bersama Doctor dulu?" ujar Jack dengan nada tidak yakin.
Elli tersenyum pada Jack. "Ayo kita ke klinik. Di sana, kita bebas mengobrol sesuka hati."
Jack merasa sedikit perasaan aneh menggelitik hatinya saat melihat senyum Elli. "Kurasa bukan ide buruk," balasnya sambil menunjukkan cengirannya yang biasa.
Kembali ke dalam rumah, Doctor berujar pelan pada Claire. "Kakakmu sudah pergi."
"Aku... tahu..." balasnya pelan dan hanya menyerupai bisikan kecil. Bahu gadis itu gemetar dan air bening masih turun dari matanya.
"Dia bisa menghajarku nanti."
"Tidak... Dia–"
"Sudahlah," potong Doctor. "Itu tidak penting."
Suara tangis Claire kembali menjadi satu-satunya latar belakang bunyi di antara mereka.
Doctor sendiri benar-benar tidak mengerti dengan gadis yang satu ini. Yang dia tahu, setelah selesai meminum obatnya, Claire terlihat jatuh tertidur. Namun tiba-tiba gadis itu bangun dengan mata terbelalak ngeri dan wajah pucat pasi dengan keringat dingin mengalir dari wajahnya. Lalu sang gadis mulai mengeluarkan isak tangis.
"Jadi... Apa kau mau menceritakan kenapa tiba-tiba kau menangis?" tanya Doctor. Sebenarnya, pria itu tidak benar-benar niat untuk bertanya. Hanya saja keheningan dan suara gadis menangis itu membuatnya tidak tenang. Ia juga tidak berharap Claire akan bercerita padanya. Ia hanya berharap gadis itu berhenti menangis. Tidak apa walau Claire tidak bisa tersenyum. Tidak apa bila Claire mencelanya atau apapun sejenisnya. Entah kenapa membiarkan Claire manangis adalah kejadian yang paling ditakuti olehnya, entah sejak kapan.
"Aku capek..." Claire mulai bergumam dengan cepat. "Aku lelah... Mimpi itu tetap datang.. Bahkan saat aku tidak terlelap pun, bayang-bayang masa lalu itu tetap menelanku, menari-nari di depanku. Sebesar apapun usahaku untuk melupakannya, mereka tetap datang... Aku takut...Aku terlalu letih untuk berlari... Kenapa mimpi itu masih datang... aku–"
"Sudah, sudah," sela Doctor cepat. Claire terdiam. Isak tangisnya mulai berhenti, namun matanya menatap kosong. "Kurasa kau depresi," guman Doctor, tidak kepada siapapun karena ia memperkirakan jika Claire tidak mendengarnya.
Claire –antara sadar dan tidak sadar jika ia masih berada di pelukan Doctor– mulai membalas pelukan itu dengan melingkarkan tangannya di atas pundak Doctor. Jelas saja pria itu langsung terkejut. Namun keterkejutannya itu digantikan perasaan tidak enak begitu melihat air mata yang kembali turun dari mata gadis tersebut.
Tidak pandai mengendalikan situasi. Doctor ingat Elli selalu menyebutnya seperti itu. Orang yang kaku dan hanya pandai dalam menyembuhkan penyakit namun buta sama sekali soal perasaan. Dan di saat-saat sepeti ini, Doctor sendiri juga bingung harus berbuat apa.
Perlahan, ia mengelus pelan pundak gadis itu, dengan gerakan canggung tentunya. "Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan," mulainya. "Semua tentang mimpi dan semua tentang masa lalu itu. Mungkin kau punya pengalaman pahit dulunya. Walaupun kejadian itu pernah menimpamu, harusnya kau tahu bahwa itu hanya masa lalu."
Ucapan itu bagaikan tamparan telak untuk Claire. Kenapa ia tidak pernah berpikir begitu sebelumnya? Kenapa ia malah terus tenggelam dalam kesedihan masa lalu?
Doctor kembali melanjutkan, "Dan lagi, harusnya kau tahu kalau itu tidak akan terjadi lagi. Karena kau sudah di sini sekarang. Dengan kakakmu yang akan selalu menjagamu. Dan aku–"
"Kau apa?" tanya Claire cepat sambil melonggarkan pelukannya dengan Doctor dan mendongak menatap pria itu. Tidak ada lagi air mata. Hanya ada bekas air mata di wajahnya yang kembali menunjukkan ekspresi arogan.
Doctor tercengang di tempat. "Wah... Kau memulihkan dirimu sendiri dalam kecepatan yang cukup... singkat..."
"Kau apa?" ulang Claire penasaran. "Tadi kau mau bilang apa?"
"Bukan apa-apa," sahut Doctor sambil melepaskan pelukannya dan duduk di sebelah Claire sambil mengusap wajah lelahnya.
"Kau lelah?" tanya Claire sambil menunduk dan berusaha menatap mata Doctor.
Doctor balik menatapnya. "Sekarang kau bertingkah aneh. Kau belum pernah seperti ini sebelumnya. Apa kau sudah gila?" tanyanya dengan wajah datar.
Claire menyandarkan dirinya di atas tempat tidurnya sementara Doctor masih duduk di sebelahnya.
"Pikiranku benar-benar kacau tadi. Tiba-tiba saja aku menangis tidak jelas sambil bergumam aneh begitu. Tapi terima kasih, ya. Kau sudah mau mendengarkan aku."
"Hmm. Kau berubah."
"Tidak juga."
Hening.
Doctor mendaratkan telapak tangannya pada kening Claire. "Panasmu sudah turun. Mungkin aku bisa kembali ke klinik sekarang."
"Hem? Ngomong-ngomong, aksimu memelukku tadi boleh juga."
Pria itu menaikkan sebelah alisnya. "Kurasa itulah yang dinamakan refleks."
"Kurasa," Claire mengangkat dagunya, "refleks yang bagus."
Doctor mulai merasa gusar. "Kau berubah."
"Tidak juga..."
"Iya, kau berubah."
Hening meyambut setelahnya.
"Katanya kau mau kembali ke klinik?"
"Benar juga." Doctor bangkit berdiri. "Sampai nanti, Claire."
"Kau berharap bertemu denganku lagi?"
Doctor melempar tatapan jengkel. "Lihat kan? Kau berubah."
-In Clinic-
"Berarti Claire memang terlihat tidak beres saat kau membangunkannya pagi ini, ya?" tanya Elli sambil menyodorkan secangkir teh untuk Jack.
Jack menerima cangkirnya sambil mengangguk. "Begitulah. Anak itu mengigau tidak jelas dan.. mengeluarkan air mata. Aku tidak tahu itu efek dari mimpi atau sakitnya."
"Oh, aku mengerti," gumam Elli sementara Jack menyesap tehnya. "Apa kau tahu apa yang dimimpikannya?"
Jack terdiam. Elli mengerutkan alisnya. Apa gadis itu salah bertanya?
"Paling tentang masa lalu, atau yang lainnya..." jawab Jack akhirnya.
"Oh... Memangnya ada apa dengan masa lalu?" tanya Elli penasaran.
Jack terdiam lagi. Kali ini Elli benar-benar merasa ia sudah salah menanyakan privasi orang lain.
"Maaf," ujar gadis itu. "Maaf ya, tanpa sadar aku sudah banyak tanya."
"Tidak apa," balas Jack dengan senyuman. "Aku juga... tidak terlalu tahu, kok. Anak itu jarang bercerita padaku."
Kali ini giliran Elli yang terdiam sejenak. "Jarang?" ulangnya hati-hati.
"Iya... Hampir tidak pernah malah."
Elli mengelus singkat lengan Jack. "Aku tahu kau pasti kecewa."
"Oh ya?"
"Iya. Kelihatan dari raut wajahmu, Jack."
"Oh, ya..."
"Tapi aku tahu, hal itu tidak menutupi keinginanmu untuk menjadi kakak yang baik baginya, kan?"
Jack tersenyum singkat. "Orang tuaku sudah tidak ada. Claire satu-satunya hartaku sekarang. Tapi rasanya mustahil mengangkat harta yang terlalu berat karena keras kepala dan arogansi. Mungkin satu-satunya yang bisa kulakukan hanya diam di sebelah hartaku ini dan menemaninya. Menjaganya. Melindunginya..."
Elli tersenyum. "Itu benar. Tapi kurasa bukan hal mustahil untuk mengangkat harta itu."
"Hah?"
"Iya. Barang seberat apapun, jika diangkat bersama-sama pasti bisa terangkat juga, kan? Kau terlalu terpaku pada dirimu sendiri. Padahal kau tidak sendirian Jack. Kau tinggal di Mineral Town sekarang, di mana semua tetanggamu adalah keluargamu."
Jack tertegun. Memang ia tidak pernah memikirkan perkataan Elli sebelumnya. Ingatannya melayang pada saat Claire makan malam bersama Cliff dan Gray. Bukankah itu artinya Claire sudah mulai sedikit berubah? Ya ampun! Jack menepuk dahinya sendiri. Benar juga, kenapa pria itu tidak pernah berpikir tentang hal ini?
"Ha.. Hahaha." Jack tiba-tiba saja tertawa. Dan dari suara tawa itu, terdengar jelas bahwa ia merasa sedikit lega sekarang.
"Emm... Jack?" panggil Elli was-was. "Kenapa kau tiba-tiba tertawa seperti itu?"
"Tidak, tidak." Jack menggeleng perlahan. "Terima kasih banyak, Elli. Karena kata-katamu tadi, aku jadi belajar sesuatu hari ini," Jack berkata sambil mengeluarkan cengiran khasnya.
Elli merasa wajahnya itu memanas. "Tidak masalah. Aku senang bisa membantumu, Jack."
"Hehe, baiklah. Kurasa aku akan kembali sekarang. Sampai nanti, Elli," ujar Jack yang mulai kembali ceria dan melangkah keluar klinik.
"Fyuhh." Elli menghela napas dan memegang dadanya. "Senang bisa melihatmu kembali ceria, Jack..." gumamnya pada diri sendiri dengan pelan sembari tersenyum.
-In Jack and Claire's Farm-
Claire sibuk mengutak-atik siaran di televisi. Gadis itu duduk mengangkat kaki di atas sofa sambil memakan sebuah puding labu. Memang sejak Doctor pulang, Claire sudah mulai mengisi perutnya dengan makanan-makanan yang ada di kulkas. Soal bagaimana kalau panasnya naik lagi tidak menjadi persoalan untuknya. Yang penting perutnya terisi.
Pintu terbuka dan Jack masuk sambil berseru, "Claire~!"
"Selamat datang,"
"Loh? Makan apa kau?" tanya Jack.
"Puding labu?" balas Claire dengan nada tanya.
"Memangnya boleh?" ujar Jack seraya mendekat dan meletakkan tangannya di kening Claire. "Hmm, sudah lebih baik," katanya lega dan mengacak-acak rambut Claire. Kemudian Jack beranjak duduk di sebelah Claire dan mulai bertanya lagi. "Jadi bagaimana kau dengan Doctor tadi?"
"Tidak bagaimana-bagaimana," jawab Claire cepat dengan ekspresi datar. "Kupikir kau tahu bahwa dia bukan penyebab aku menangis tadi."
"Iya, aku tahu kok. Tapi rasanya aneh saja melihat orang yang kaku begitu memelukmu. Hahaha, kurasa ia kaget melihatmu menangis. Walaupun aku lebih kaget lagi karena dia memelukmu."
"Setuju."
Claire mematikan televisi. Suasana berubah hening.
"Jadi... Kau memimpikan soal Jill lagi, ya?"
Tidak ada suara yang menganggapi pertanyaan Jack. hanya sebuah anggukan dan ekspresi yang tetap datar.
"Aku pikir kau sudah–"
"Melupakannya. Ya, aku memang sudah melupakannya. Itu masa lalu. Tidak akan terjadi lagi karena aku sekarang ada di sini dan kau akan selalu menjagaku."
Jack menatap Claire dengan pandangan takjub. "Apa kau bilang tadi?"
Claire balas menatap Jack. "Kau akan selalu menjagaku," ulangnya. "Benar, kan?"
Pria itu memeluk adiknya. Erat. "Tentu saja, bodoh. Dari dulu hal itulah yang paling kutekankan padamu."
Claire tersenyum tipis walaupun tidak membalas pelukan Jack. "Kita ini keluarga. Iya, kan?"
"Iya," jawab Jack. "Kita ini keluarga. Dan aku sayang padamu."
"Aku juga sayang padamu, kak..." bisik Claire.
"Apa!" Jack cepat-cepat melepaskan pelukannya dan menatap Claire. "Coba ulangi perkataanmu tadi."
"Tidak ada siaran ulang," ujar Claire sambil membuang muka. Wajahnya kembali berekspresi datar.
"Kau berubah..." ucap Jack sedikit terpana.
Kedua alis Claire saling bertaut. Ada apa dengan orang-orang yang bilang ia berubah hari ini? "Tidak juga."
"Iya, kau berubah. Kurasa aku harus berterima kasih pada Doctor? Atau ini bukan jasanya?"
Claire hanya diam. "Aku mau tidur. Selamat malam, kak."
"Cih, menghindar." Jack mengerucutkan bibirnya, namun detik berikutnya ia tersenyum lagi. "Ya, selamat malam, Claire."
Saat sadar, Claire sudah berada di rumahnya. Entah bagaimana caranya, gadis itu juga tidak ingat. Suara Jack yang menyambutnya membuat gadis itu sadar dengan utuh bahwa ia benar-benar sudah tiba di rumah.
"Claire? Kau sudah pulang?" seru Jack dari dalam. Ia beranjak ke ruang depan untuk menyambut adiknya. "Kenapa kau sudah pulang? Kau bolos ya?Ke–" Pertanyaan yang ingin dilontarkan oleh Jack langsung terhenti begitu saja. "C-Claire? Kau kenapa!" tanya Jack dengan nada khawatir.
Claire juga baru sadar saat itu kalau keadaannya begitu menyedihkan. Rambutnya berantakan dan kusut. Di dahinya terlihat darah yang sudah mengering, begitu juga di hidungnya. Tubuhnya penuh dengan lebam karena ia membentur-benturkan tubuhnya di tembok dan lantai toilet tadi. Kemeja seragamnya kusut dan kotor. Matanya bengkak karena air mata masih terus mengalir. Gadis itu terisak saat sang kakak memeluk tubuhnya.
"Ada apa?" tanya Jack pelan sambil menepuk-nepuk punggung Claire, berusaha menenangkan gadis itu. Beruntungnya, saat itu ia sedang sendirian menjaga rumah.
Claire tidak menjawab. Ia tetap menangis. Seluruh tubuhnya gemetar hebat. Merasa jika Claire tidak akan menjawabnya, Jack membawa adiknya ke kamar. Ia menyediakan air panas untuk Claire dan menyuruh gadis itu membersihkan tubuhnya. Claire menurut, walaupun ia masih sedikit sesenggukan.
Begitu Claire keluar dari kamar mandi, Jack dengan sigap mengobati lebam yang ada di tubuh adiknya. Air mata Claire sudah berhenti. Dan dia juga diam saja saat sang kakak mengobatinya. Saat itu, hatinya lebih sakit daripada semua lebam di tubuhnya.
Setelah selesai, Jack membaringkan tubuh Claire di tempat tidur. "Kau istirahat saja dulu, ya? Tidak usah takut, aku yang akan bicara dengan gurumu nanti."
Jack berbalik ingin pergi namun ia merasa bajunya ditarik oleh Claire. Ia menoleh dan mendapati adiknya itu mulai menangis lagi. "Jangan pergi dulu, kak... Temani aku..."
Merasa tidak tega, Jack berbaring di sebelah Claire dan memeluk gadis itu. "Tidak apa-apa. Tidak ada yang perlu kau takutkan, aku di sini."
Claire membenamkan wajahnya di pundak Jack.
Jack mengelus pelan kepala Claire. "Tidurlah, aku akan menjagamu."
Jack membuka matanya saat dirasakannya ada sesuatu yang menyeruak masuk ke selimutnya. Ia menyibakkan selimut itu dan terkejut meilhat Claire di dalam sana. "Waaaaa! Mati aku, sedang apa kau di sana, Claire! Uuh, hampir copot jantungku!"
Claire tidak menjawab. Gadis itu malah bergelayut di lengan Jack dan mulai memejamkan mata.
Jack menghela napas dan membelai rambut adiknya. Entah kenapa ia merasa rindu sekali dengan sikap manja Claire yang sudah lama tidak ditunjukkan oleh sang gadis. "Kenapa? Kau mimpi lagi?"
Claire mengangguk.
"Mimpi buruk lagi?"
Kali ini Claire menggeleng.
"Lalu apa yang sedang kau lakukan di tempat tidurku?"
Claire membuka matanya dan menatap Jack. "Memangnya tidak boleh?"
"Kalau kubilang tidak, memangnya kau mau kembali ke tempat tidurmu sendiri?" tanya Jack.
Claire menjawabnya dengan memeluk lengan Jack lebih erat.
Jack terkekeh pelan. "Dasar manja." Ia kembali membelai rambut Claire. "Tidurlah, aku akan menjagamu."
Saat itu, Claire merasa aman dan perasaannya menjadi lebih ringan.
Good night... Have a nice dream...
..
..
...
...
...
...
...
...
TBC~~~~~~
Y.E: jreng jreng~ Y.E kembali setelah lama tenggelam~ maaf lama~ hwa hwa... TwT
Kappa: iya, tenang aja, nggak ada yang menunggu situ kam bek kok *nepok-nepok jempol Y.E* (?)
Y.E: special thanks to eri(.)eri, Green-Chrystall, Anisha Asakura, Owly bros (The lonely owl and the owl), shiramiu, Melody-Cinta, Xpxpxpxpxp, teacupz', Xoxoxoxoxo, Shane L. Prochainezo, VodkaMelon, Satia Vathi, Shiori and Shiroi, heylalaa, ad3ka, dan Griezalys.
Y.E: kemarin-kemarin, karena suatu kecerobohan Y.E, akhirnya baru bisa update sekarang. hahaha - ketawa abal
Y.E: saiia juga baru sadar hampir 6 bulan sudah fic ene nggak di update. hiks, hikss, srroottt... sempet mikir mau di delete aja, tapi mungkin Y.E masih bisa ngelanjutin sedikit-sedikit
Y.E: kalo udah bener-bener nggak bisa, baru Y.E delete ya ceritanya, haha hihi mbahaha (?)
Kappa: review tidak diwajibkan apabila merepotkan~
