Death Note belongs to Takeshi Obata & Tsugumi Ohba
"Honey, I'm home~!!" kata Matt riang saat membuka kamar apartemen yang ia bagi dengan Mello.
Mello yang tengah berkutat dengan folder-folder berisi data-data kasus Kira menyambutnya dengan tampang kusut. "Apa katamu tadi, Matt? 'Honey'? Apa kau segitu inginnya mati dengan peluru yang kutembakkan di tengkorakmu itu, heh?".
Tapi Matt hanya tersenyum jahil sambil berjalan santai ke arah gadis temperamental itu, ia tahu Mello bahkan takkan berani menggores kulitnya sedikitpun. Ehm, bekas cakaran di punggungnya itu pengecualian. Dan kalau diingat-ingat lagi, ratusan kali pun Mello mengomeli Matt, ia tak pernah sekalipun benar-benar mengucapkan kata-kata kasar padanya.
Perlahan Matt melingkarkan tangannya di leher gadis blonde itu. Dan barulah Mello benar-benar mengerti apa yang terjadi saat mengendus aroma tubuh pemuda itu.
"… Matt, kau mabuk".
"Hmm, yeah. Mungkin… sedikit…".
Mello menghela nafas. "Aku memberimu waktu luang dari tugas penyelidikan Kira dan kau malah memanfaatkannya untuk pergi ke bar? Benar-benar deh… Alkohol, nikotin, junk food… coba beritahu aku satu saja makanan sehat yang kau konsumsi sebulan ini. Tanpa kasus Kira pun pasti kau akan mati muda, Matt".
Matt tersenyum. Ia menyukai Mello yang selalu mengeluh mengenai kebiasaan buruknya. Itu berarti gadis itu peduli padanya kan?
Sang pemuda bergoggle mempererat pelukannya pada kekasihnya. "Mello manis sekali~".
Dan tiba-tiba... DHUG!! Matt merasakan nyeri di pipinya akibat tendangan Mello kecil. Heh? Mello kecil?
"Apaan sih?! Mengigau sambil menyebut-nyebut nama Mutter-ku… menjijikan tahu!!" teriak Melt yang barusan melayangkan tendangan di wajah Matt.
Matt meraba pipinya yang masih terasa sakit itu. Mimpi? Ya, yang dialaminya bersama Mello barusan memang hanya ilusi belaka… Hanya sekedar mimpi mengenai kilas balik yang terjadi di masa lalu...
"Jangan seenaknya memimpikan Mutter yang sudah meninggal, dia bukan milikmu lagi, tahu!!" Omel Melt dalam posisi menindih Matt yang belum juga bangkit dari posisi tidurnya.
Matt mendengus. ' Justru karena sudah meninggal itulah, setidaknya dalam mimpi biarkan dia jadi milikku dong!' dumel Matt dalam hati.
Matt melirik jam yang di handphonenya. Jam 12 malam tepat. Samasekali bukan waktu yang tepat untuk terbangun dari mimpinya. Matt membalikkan badannya, berniat untuk kembali memuaskan kantuknya. Terserah saja bocah itu mau main, ngoceh sendiri atau apa, yang penting dia bisa istirahat sekarang…
Dan kali ini pun sebenarnya Matt benar-benar berniat melanjutkan tidurnya kalau saja Melt tidak mulai mengacak-acak map dari tas Matt.
"Jadi profesimu itu guru, Mail?" tanya Melt yang masih asyik melihat-lihat lembaran kertas yang berhubunga dengan pekerjaan Matt.
"Hei, jangan sentuh sembarangan," Matt beranjak dari ranjangnya dengan malas dan menyusun ulang lembaran itu ke tempatnya. "Dan jangan panggil aku Mail. Matt saja," tambahnya.
"Oke, Mail".
"… Terserahlah. Oke, Melt, sekarang katakan, jam berapa biasanya kau tidur?".
"Ehm… Mutter memberiku kebebasan untukku tidur kapanpun, selarut apapun selama aku bisa bangun disaat harus bangun".
"Oke, itu menurut Mello. Dan karena ini rumahku, ikuti aturanku. Sekarang, TIDUR!!" perintah Matt. Satu-satunya cara untuk membuatnya dapat tidur dengan tenang tanpa gangguan Melt yang terlintas di benaknya adalah dengan menidurkan anak itu lebih dulu.
"Kau boleh tidur di kamarku, aku bisa tidur di sofa". Setelah membaringkan Melt di ranjangnya, Matt pun melangkah ke pintu kamar.
"Aku tidak mau tidur…!" ucap Melt sambil menggembungkan pipnya.
Matt melengos. "Oke, kalau begitu apa yang bisa membuatmu mau tidur?" Matt lebih memilih bernegosiasi daripada mengomeli dan memaksa Melt untuk tidur, mengingat anak itu mewarisi sifat Mello yang akan semakin melawan jika ditekan.
"Ehh… nyanyikan lagu nina bobo".
Matt bengong. "Apa biasanya Mello melakukan itu untukmu?".
"Tidak, biasanya Mutter menyanyikan lagu kebangsaan Russia atau Jerman tengah malam".
Matt tambah bengong. Melt hanya bisa merengut. " kalau tidak mau juga tidak apa-apa kok. Sebagai gantinya… cerita dongeng saja!" pintanya.
"Hm… cerita dongeng…". Bercerita dongeng memang jauh lebih baik ketimbang disuruh menyanyikan lagu nina bobo atau apalah, tapi Matt tidak punya satu pun kisah dongeng yang bisa ia ceritakan. Sejak dulu ia memang tak pernah tertarik dengan cerita omong kosong semacam itu, kalaupun sempat dengar juga paling akan lupa lagi. Cerita Cinderella saja ia nyaris tidak ingat.
"Ayo, cepat~!" desak Melt.
"Ehh… apa ya… Oh iya! Jadi, zaman dahulu kala ada seorang gadis bangsawan bernama Putri Salju…"
"Interupsi!!" kata Melt sambil mengangkat tangannya layaknya dalam sebuah rapat. "Aku yakin namanya bukan putri Salju, mana ada orang tua yang menamai anaknya seperti itu? Kecuali orang tuanya adalah orang yang sangat tidak kreatif dan kebetulan melihat salju saat anak itu masih dalam kandungan".
Matt hanya bisa menghela nafas menghadapi celotehan itu. "Oke, nama gadis ini Sebenarnya Natasha Alfroskaya Elizaveta Herdevary, tapi karena sudah diingat, akhirnya dipanggil 'Putri Salju'," jawab Matt mengada-ada kisah dongeng yang sebenarnya memang sudah mengada-ada.
Melt mengangguk-angguk. "Lalu?".
"Karena alasan tertentu, dia tinggal bersama Ibu tirinya saja. Namun, sang Ibu tiri ini berniat membunuhnya karena iri dengan kecantikannya…"
"Tanya lagi!" Melt kembali mengangkat tangannya. "Kenapa harus membunuh kalau ingin cantik? Dia kan kaya, pakai operasi plastik saja".
"Di zaman itu belum ada yang namanya operasi plastik, Melt," jawab Matt sabar, berusaha menenangkan diri.
Dan Matt pun kembali melanjutkan ceritanya, "Ibu tiri ini pun menyuruh salah satu pengawalnya untuk membawa putri salju ke hutan dan membunuhnya disana. Namun karena tidak tega, akhirnya si pengawal itu pun menyuruh Putri Salju kabur. Sang pengawal membawa jantung rusa sebagai ganti jantung Putri Salju untuk membuktikan bahwa ia benar-benar telah membunuhnya seperti yang telah diperintahkan si Ibu tiri".
"Ah, tunggu dulu!!" Melt kembali menyela. "Jantung rusa dan manusia itu kan cukup berbeda, mestinya sang Ibu tiri langsung tahu si pengawal telah menipunya untuk melindungi Putri Salju… kecuali ia tidak tamat SD dan tidak sempat mempelajari anatomi tubuh manusia…".
Matt tak mampu berucap sepatah katapun lagi. Anak ini hanya ingin menguji kesabarannya atau bagaimana sih? Oke, jika ia menantang adu otak…
"Kalau begitu, si pengawal ini memakai jantung simpanse. Bukankah organ tubuh manusia sangat mirip dengan milik primata?" tantang Matt, merasa Melt tidak akan mampu menyanggahnya lagi.
"Tapi cerita ini berlangsung di Eropa kan? Disana tidak ada simpanse, tahu".
"Arrrgh!! Ya sudah!! Anggap saja si Ibu tiri ini memang tidak sempat lulus SD dan tidak bisa membedakan anatomi tubuh manusia!! Puas?!" Matt sudah frustasi.
Melt tertawa puas. "Kalau begitu, lanjutkan ceritanya".
"Lalu…" Matt berusaha menahan amarah. "Akhirnya Putri Salju ditolong oleh 7 kurcaci di hutan yang bersedia menampungnya asal Putri Salju bersedia mengerjakan pekerjaan rumah tangga".
"Dengan kata lain, menjadi pembantu?"
"Ya, sebenarnya semacam itu. Namun pada akhirnya ratu mengetahui Putri Salju masih hidup setelah ehm… mempelajari ulang buku anatomi untuk anak SD, dan berniat membunuhnya dengan apel beracun yang ia berikan pada Putri Salju dalam wujud nenek-nenek agar tidak dicurigai. Kali ini ia merasa harus melakukannya sendiri karena tak percaya lagi pada pengawalnya untuk melakukan tugas ini." Rupanya Matt benar-benar melupakan keberadaan 'cermin ajaib' dalam cerita ini…
"Kalau memang mau membunuhnya, kenapa tidak langsung dibacok dan dimutilasi saja? Kalau potongan tubuhnya disebar di hutan pasti kan tidak ketahuan. Apalagi keamanan pada zaman itu tidak begitu ketat, tak ada kepolisian, FBI, atau CIA".
Matt kembali bengong. Jangan-jangan anak ini putri Beyond Birthday? Tidak, hentikan pikiran irasional semacam itu, Matt…
"Ehm, dia memilih apel beracun soalnya… eh… kenapa ya… karena... Putri Salju ahli dalam bela diri capoeira!! Ya, karena itulah sebelum sempat membacok Putri Salju, Ibu tiri sudah memperkirakan ia yang akan babak belur duluan akibat dihajar Putri Salju. Karena itu ia memilih menggunakan media apel karena tahu Putri Salju takkan curiga pada makanan," jawab Matt asal.
"Tapi...".
Matt tidak memberikan Melt kesempatan untuk menyela, " Setelah itu, Putri Salju pun pingsan karena apel beracun tersebut. Untungnya ada pangeran buta arah yang kebetulan tersesat di hutan dan membangunkan Putri Salju dengan ciumannya. Tamat." Matt menyelesaikan ceritanya dengan terburu-buru, sudah lelah menanggapi segala bentuk pernyataan maupun pertanyaan dari Melt.
"Ceritanya nggak logis, ah~" protes Melt yang memasang tampang cemberut. "Hutan itu kan luas sekali, rasanya aneh kalau pangeran bisa pas tersesat di dekat situ. Yang namanya pangeran itu kalau kemana-mana pasti dikawal paling tidak selusin pasukan kan? Dan lagi apa pangeran itu tidak tahu kita bisa tertular AIDS dengan ciuman? Kenapa dia langsung saja mencium Putri Salju yang tidak jelas asal-usulnya? Kalau dipikir lagi sebenarnya alasan pangeran mencium putri salju juga tidak jelas…".
"Arrgh!! Terserah! Anggap saja memang sudah TAKDIR!! Pokoknya dongengnya sudah selesai dan kau harus tidur! Sekarang!!" bentak Matt.
"Nggak mau!! Pokoknya aku akan terus bangun sampai Mail menceritakan dongeng yang logis untukku!!"
Matt berusaha sepenuh hati untuk menahan amarahnya. 'Kalau logis, namanya bukan dongeng, bodoh!!' Batinnya. Matt mulai curiga, apa jangan-jangan dulu Mello bisa sampai di Wammy House karena dibuang orang tuanya akibat tingkahnya yang seperti 'ini' saat masih kanak-kanak?
Melt berbisik lirih, "Ceritakan tentang… ngg… ". Ia menarik nafas sebelum melanjutkan kalimatnya, "Mutter…".
Matt mengangkat sebelah alisnya. "Tentang Mello?"
"Aku ingin tahu sisi lain Mutter yang tidak kuketahui. Dan lagi… aku membutuhkan seseorang untuk mengingatkanku bahwa Mutter… pernah hidup… dan akan selalu hidup dalam ingatan…" tambahnya dengan tatapan sendu.
'Benar juga….' Pikir Matt, 'Bagaimanapun Melt juga anak kecil yang pastinya akan sedih jika Ibunya meninggal'.
Matt pun mulai membuka mulutnya... "Mello itu gadis yang temperamental, obsesif, childish… yah sebut saja semuanya," Matt tertawa kecil. "Namun ia bisa menerimaku yang egois, pembosan, dan pemalas ini. Ia juga senantiasa mengkhawatirkan kebiasaan merokokku, walaupun selalu dilakukannya dengan meneriakiku…".
Melt mendengarkan Matt dengan sungguh-sungguh.
"Sebenarnya saat masih di panti asuhan pun kami tidak bisa dibilang teman yang akrab, namun hubungan kami diungkapkan seperti mutualis simbiolisme. Aku bisa mengandalkannya dalam hal tertentu, dan begitu pula sebaliknya. Berawal dari hubungan yang saling menguntungkan inilah membuat Mello memintaku membantunya menyelesaikan kasus Kira."
"Lalu, mulai saat itulah…" pandangan Matt menerawang jauh entah kemana. "Entah kenapa, dia menjadi orang terpenting bagiku…".
Melt menatap pemuda berambut merah itu lekat-lekat. "Apa kau… masih mencintai Mutter?".
Matt tertegun. "…Kau tahu, aku tidak bisa mendefinisikan perasaanku sendiri padanya, entah bisa disebut 'cinta' atau tidak. Tapi seperti yang kubilang tadi, dia orang terpenting bagiku. 'Teman'ku yang pertama dan satu-satunya, my partner in crime, sekaligus entah sejak kapan, juga menjadi 'kekasih'ku".
"...Ngomong-ngomong Mail, kenapa kau membantu Mutter? Bukankah kau bilang tadi hubungan kalian mutualis simbiolisme? Lalu imbalan apa yang diberikan Mutter agar kau mau membantunya dalam kasus Kira? Bukan uang, 'kan? Mail pasti bisa mendapatkan upah lebih tanpa harus mempertaruhkan nyawamu seperti jika membantu Mutter..."
Matt terhenyak. Rona merah mulai menyapu wajahnya. "Egh… So… soal itu tidak bisa kuceritakan padamu. Ehm… mungkin nanti… suatu saat, jika… umm, jika kau sudah lebih tua," Matt gelagapan.
Melt tampak cemberut. "Kenapa~? Kenapa Mail tidak bisa memberitahukannya sekarang saja?"
"Ada hal yang sebaiknya belum diketahui anak kecil," jawab Matt yang pipinya masih menunjukkan semburat merah sambil berdeham pelan. "Sekarang tidurlah."
Kali ini Melt menurut dan membaringkan dirinya di ranjang sementara Matt mematikan lampu.
"Nee, Mail…" panggilnya dengan suara lirih.
"Hng?".
"… Aku… Aku ingin… ah, tidak. Sudahlah". Melt pun menutupi seluruh tubuhnya, termasuk wajahnya dengan selimut dan meringkuk di dekat tembok.
Tiba-tiba Matt teringat hari pertamanya di Wammy House. Karena saat itu kamar-kamar lain penuh, Matt terpaksa berbagi kamar dengan Mello meskipun mereka lawan jenis.
Malam itu Matt tidak bisa tidur, tidak bisa tenang, juga belum mampu berkata-kata. Di pikirannya masih melekat kuat bayangan Ayahnya yang menyayat-nyayat tubuh tak bernyawa Ibunya. Dan yang paling membuatnya shock adalah pisau yang masih berlumuran darah Ibunya itu bisa saja mencabut nyawanya juga jika detektif L tidak datang pada saat yang tepat untuk melindunginya.
Dan yang bisa Matt lakukan hanyalah membungkus dirinya dengan selimut. Berusaha untuk merilekskan pikirannya untuk tidur sementara tubuhnya masih juga gemetaran hebat. Usaha yang sia-sia, sebenarnya.
Kala itu Matt akhirnya bisa tetap tertidur setelah… Mello merangkak ke atas ranjangnya dan mendekapnya. Mello tidak mengucapkan apa-apa. Begitu juga Matt. Ia tidak mengerti mengapa Mello melakukannya, namun ia tidak ingin Mello menjauh. Ia merasa lebih aman dengan merasakan panas tubuh Mello, entah kenapa…
Hari berikutnya, dan hari berikutnya lagi Mello masih menemani Matt untuk bisa tidur. Begitu seterusnya hingga Matt bisa tertidur tanpa dihantui bayang-bayang pembunuhan Ibunya lagi. Meskipun begitu, setelah itu kadang ia sendiri yang tidur di ranjang Mello. Ia sudah terlanjur merasa nyaman tidur bersama gadis itu. Sampai akhirnya, saat usianya 12 tahun dan kebiasaan itu belum hilang juga, hal ini diketahui Roger yang kemudian memaksa Matt sekamar dengan Near.
"Seharusnya aku melakukannya lebih awal. Bagaimanapun juga 2 anak lawan jenis dibiarkan sekamar adalah hal yang riskan…". Ucapan Roger saat itu bahkan masih terukir jelas dalam ingatan Matt. Membuatnya ingin tertawa sendiri kala mengingatnya.
Melt terkejut merasakan ada sesuatu yang besar dan hangat mendekapnya dari luar selimut.
"Mail?!"
"Tidak apa-apa, kali ini kita tidur sama-sama saja. Bagaimana?"
Ekspresi sendu Melt melunak. "… He eh. Sebenarnya aku berusaha menunda-nunda waktu tidurku karena tidak ingin sendirian di kamar ini…" ucap Melt lirih sambil mencengkeram baju stripes Matt sebelum ia memejamkan matanya perlahan dan terlelap.
Matt tersenyum. Melt pastilah sangat resah dan sedih karena kematian Mello, meskipun ia menutupinya dengan sangat baik. Mello pasti sudah melatih mentalnya untuk mengahadapi hal semacam ini sebelumnya. Dan Matt sendiri hampir lupa kenyataan ini. Bagaimanapun juga, manusia pasti risau dan ketakutan saat mereka merasa sendirian.
Ia sendiri juga begitu. Sampai ia sadar ia ada Mello yang bersedia menjadi miliknya selama ia sendiri menjadi milik gadis itu...
-tsuzuku-
Maapkan saya yang sudah seenaknya memakai nama asli Hungary dan Belarus sebagai nama Putri salju disini. Sekedar mengingatkan, fic ini bukan humor lho... =_=' Drama, euy, DRAMA!! ( tereak pake toa mesjid terdekat)
Akhir kata, demi kelanjutan fic ini serta kesinambungan otak author, review!!
