Death Note belongs to Tsugumi Ohba & Takeshi Obata


Perlahan darah menetes dari luka sayatan yang ia buat sendiri. Matt meringis pelan. Sakit… Tapi ia tetap melakukannya lagi. Lagi. Dan lagi. Setelah luka lamanya mulai mengering beberapa hari kemudian, ia akan mulai menyayat kulitnya lagi. Terus terulang seperti itu. Kini seluruh lengannya sudah dipenuhi luka sayatan hingga Matt harus selalu mengenakan pakaian lengan panjang untuk menutupi semua bekas lukanya.

Tapi toh akhirnya Mello tetap mengetahuinya…

"Masochist…" desisnya.

"Yeah, I am," jawab Matt sambil tersenyum walau masih menahan rasa sakit dari beberapa luka sayatan baru yang masih belum kering di lengannya.

"Kenapa?" tanyanya.

"… Aku tidak tahu apakan aku memang mengharapkan kematian dengan cara ini atau hanya menginginkan rasa sakit menggerogotiku".

"Kau ingin mati, Matt?"

"… Aku tidak berniat melanjutkan hidup".

"Aku tidak bertanya mengenai 'hidup'. Kubilang, kau ingin mati, Matt?"

"Aku tidak punya alasan untuk mati. Dan untuk hidup".

"Kalau begitu tundalah kematianmu. Gunakan hidupmu untukku".

Dari situlah kebiasaan masochist Matt terhenti. Memang tidak langsung berhenti, tapi secara bertahap makin berkurang. Karena Mello selalu mengawasi agar ia tak mengulangi menyakiti dirinya sendiri, meskipun tampaknya bukan karena ia mengkhawatirkan Matt...

Dan dari situlah semua berawal. Di mata anak-anak penghuni Wammy House lain, Matt terlihat seperti anjing yang patuh pada Mello, bersedia melakukan apa saja untuknya. Padahal bukan seperti itu. Matt hanya membantu seadanya melakukan sesuatu yang takkan merugikannya, sementara Mello menjalankan rencana utamanya, menanggung beban yang paling beresiko. Selalu seperti itu.

Meskipun begitu, kenyataanya tetap sama saja. Matt selalu menerima apapun tugas yang diserahkan Mello padanya.

Give and take. Matt memberikan dirinya sendiri, dan Mello memberikannya alasan tetap untuk hidup.


"Sekolah?" tanya Melt yang menunda sejenak aktivitasnya dengan rubik kubus setelah mendengar kalimat yang baru saja dilontarkan Matt.

"Ya, bagaimana dengan sekolahmu? Anak seumuranmu harusnya sekolah, 'kan?" ulang Matt sambil memakai sepatu bootsnya. Guru yang akan berangkat mengajar dengan Strippes shirt plus furry vest dilengkapi dengan jeans dan combat boots memang hanya Matt seorang.

"Entahlah, Mutter tidak pernah menyekolahkanku. Dialah yang mengajariku segalanya," jawab Melt. Pandangannya kembali teralih pada rubik kubus di tangannya.

Mello tidak menyekolahkan anaknya sendiri? Bukankah itu aneh? Kukira ia akan menyekolahkan anaknya dan memacunya untuk jadi peringkat pertama… Begitulah kira-kira pikiran Matt.

"Hmm, baiklah. Aku pergi dulu Melt. Ingat, jangan sentuh peralatan elektronik, dapur dan jangan keluar apartemen. Mengerti?"

Melt yang duduk di lantai membelakangi Matt hanya mengangguk singkat.

Matt bangkit berdiri sambil memandang anak itu. Rasanya ada yang aneh padanya, tidak seperti biasanya…


Bodoh. Bodoh. Bodoh…. Hanya kata-kata itulah yang terus terngiang di pikiran Matt dalam langkahnya kembali pulang ke apartemennya sore itu.

Ia pulang sekitar jam 5, dan selama itu bisa-bisanya ia meniggalkan Melt dengan perut kosong… Apalagi Melt tidak sarapan atau makan coklat sama sekali hari itu.

"Tapi mungkin saja ia sudah memakan sisa pizza yang ada dikulkas…" gumam Matt berusaha menenangkan dirinya.

Jika sampai Melt sakit, Matt pasti akan mencaci maki dirinya sendiri yang bahkan tidak becus hanya untuk mengurus seorang anak kecil.

Begitu membuka pintu apartemen, Matt melihat Melt sedang duduk menghadap jendela dengan tatapan kosong. Kelihatannya pikirannya begitu melayang hingga tak menyadari kepulangan Matt.

"Melt…" panggil Matt.

Melt menoleh. "Gott sei Dank, können Sie sich," ucapnya menyambut kepulangan Matt.

Matt mengernyit. Karena sudah cukup lama bersama Mello ia jadi sedikit memahami bahasa Jerman, tapi…

"Apa Mello yang mengajarkanmu menyambut orang dengan 'syukurlah, nyawamu selamat' begitu?"

Melt mengangguk. Matt sedikit ngeri membayangkan apa saja hal-hal yang sudah diajarkan sang bos mafia itu pada anaknya sendiri, seakan melatihnya meneruskan jejaknya menjadi 'detektif' pada jalur gelap.

Tapi Matt membuyarkan pikirannya barusan, "Melt, apa kau sudah makan sesuatu?".

"Belum".

Matt terhenyak. "Kau pasti lapar 'kan? Kenapa tak kau ambil saja makanan dari kulkas?"

"Mail 'kan melarangku mendekati dapur karena takut terjadi apa-apa".

Matt menepuk kepalanya. Yang dimaksud 'terjadi apa-apa' itu ialah jika Melt tak sengaja membakar rumah karena kompor, peralatan makan yang pecah akibat tersenggol, atau bahan makanan yang tumpah berserakan.

"Kau pasti mengerti tidak akan terjadi apapun hanya karena kau membuka pintu kulkas kan, Melt?"

"Bagaimanapun, Mail melarangku untuk dekat-dekat dapur… Bukan begitu? Ini adalah rumah Mail, maka aku harus ikuti aturan Mail".

Matt tertegun pada kesubmisivan yang tak ia duga dimiliki oleh anak pewaris darah Mello yang pembangkang. Sekaligus ia merasa begitu kejam telah menyebabkan seorang anak kecil tidak makan dalam waktu berjam-jam. Tentu saja, di berbagai belahan dunia banyak anak yang tidak makan untuk jangka waktu lama karena tidak mampu… Tapi Matt jelas bukan orang 'tidak mampu'.

Dan Matt menyadari rubik kubus yang tergeletak begitu saja dilantai semua warnanya sudah tersusun dengan benar sesuai tempatnya.

"Apa kau menyusun rubik kubus itu seharian ini?" tanya Matt.

"Tidak, aku menyelesaikannya tak lama setelah Mail berangkat tadi pagi".

"Kalau begitu apa yang kau lakukan dari tadi?"

"Memandang langit".

Matt kembali terhenyak. Bukan hanya membiarkan Melt kelaparan, ia juga telah membuat anak itu bengong seharian menatap langit tanpa bisa melakukan apa-apa. Perintah Matt untuk tidak menyentuh peralatan elektronik pasti diartikan tidak boleh menyalakan komputer, lampu, TV, maupun pemanas sekalipun. Bisa dirasakan dari sunyi, gelap, dan dinginnya ruangan apartemen saat ini karena di penghujung musim gugur itu matahari telah beranjak ke peraduannya.

"…Mail…"

"Hng?"

"Aku ingin… menemui Mutter…".

... Tidak bisa. Melt tidak bisa dibiarkan sendirian selama Matt bekerja, meskipun selanjutnya ia takkan lupa menyiapkan makanan untuk anak itu.

Jika Melt terus dibiarkan sendirian, ia akan makin tenggelam dengan perasaanya sendiri dan bukan tidak mungkin akan sama seperti Matt saat masih menyimpan luka batin dan dendam mendalam karena kematian orang tuanya dulu… menjadi seorang masochist...

"Melt, jangan katakan hal seperti itu".

Melt tak membalas ucapan Matt sepatah katapun. Ia hanya memandang Matt dengan tatapan sayu.


Malam itu, Matt mendengarnya. Isakan pelan dari Melt yang sedang tertidur. Mengigau? Mungkin.

Yang pasti, kelihatannya Melt sudah mendekati 'batas'nya. Jika kemarin ia masih bisa sok kuat, sekarang tidak lagi. Matt juga begitu. Pada awal kedatangannya di Wammy House ia berusaha menyatakan pada dirinya sendiri ia akan baik-baik saja meski sebatang kara, dan berharap ia akan segera menyesuaikan diri dengan kehidupannya yang baru. Namun nyatanya, kian hari makin sulit baginya untuk tetap mempertahankan alasan untuk hidup.

Sendirian. Sebatang kara. Tak ada seorang pun yang peduli.

Seandainya bukan karena kecerdasannya, Matt tidak mungkin masuk Wammy House. Ia juga tak punya sanak saudara yang bersedia merawatnya. Mungkin ia akan jadi anak panti asuhan yang kumuh atau bahkan menggelandang di jalanan hingga mati.

Mati. Ia yakin tak seorang pun peduli seandainya ia mati saat itu juga.

Di Wammy House Matt punya banyak kenalan, tapi tak seorang pun yang ia anggap sebagai teman.

Mendadak ia teringat ekspresi marah Mello saat itu. "Maaf saja kalau aku sudah seenaknya menganggapmu teman," ucapnya sinis.

Dan saat itu Matt mulai berpikir. Untuk pertama kalinya setelah orang tuanya tiada, bahwa mungkin… mungkin ada seseorang yang mau peduli padanya. Tapi sepertinya itu hanya perasaannya saja. Mello tidak punya alasan untuk peduli padanya... kan?

Suatu ketika, Matt menguping di depan ruangan Roger dimana Mello sedang diceramahi oleh pria tua itu karena berkelahi dengan seorang anak.

"Mello tiba-tiba memukulku," Matt mendengar suara anak laki-laki selain suara Mello yang sudah diingatnya. Itu pasti suara anak yang dihajar Mello.

"Mello, coba jelaskan kenapa kau memukul Justin," kali ini terdengar suara Roger.

"Dia menyebalkan," jawab Mello singkat.

"Dan kenapa kau sampai menganggapnya seperti itu? Apa dia pernah berbuat buruk padamu?" Roger kembali bertanya.

"Tidak. Tapi dia menyebalkan".

Roger menghela nafas.

"Justin, kau boleh keluar. Mello tetap disini. Banyak yang ingin kubicarakan denganmu," ucapnya kemudian.

Kemudian, Matt melihat sosok 'Justin' yang baru saja keluar ruangan. Matt mengingatnya sebagai anak yang telah menyembunyikan kacamatanya. Ya, kacamata. Alasan Matt memakai goggle adalah adalah sebagai pengganti kacamatanya yang hilang itu. Lensa gogglenya saja merupakan lensa khusus untuk penderita miopi seperti Matt. Dan kalau ditanya kenapa Matt sengaja memilih goggle ketimbang kacamata, jawabannya simpel. Karena mirip dengan karakter game favoritnya.

Kembali ke masalah sekarang. Matt kembali menguping dan tahu dari situ Mello samasekali tak punya alasan atau sesuatu yang membuatnya dendam pada Justin sehingga menghajarnya.

"Matt? Sedang apa kau?" tanya Mello begitu ia keluar dari ruangan Roger setelah diberi seribu satu petuah untuk lebih bijaksana dan tak melakukan kekerasan pada siapapun.

"… Itu tidak penting. Mel, apa kau menghajar anak itu karena aku?".

"… Karena kau membantuku menyelesaikan tugas powerpoint".

Matt menyeringai. Mungkin ini bukan masalah peduli atau tidak, tapi... "Give and take, huh?".

Mello pun tersenyum. "Yeah, give and take".


"Melt, bagaimana kalau kau bersekolah?" tawar Matt keesokan harinya.

"Terserah". Jawab Melt pendek.

"Kalau begitu di Mauville Academy saja? Sekolah itu bagus untuk melatih kedisiplinanmu," ...dan untuk mencegah agar kau tidak tumbuh menjadi meledak-ledak seperti Mello… tambah Matt dalam hati.

"Terserah," lagi-lagi hanya itu yang diucapkan Melt masih dengan tatapan kosong karena baru bangun tidur.

"Oke, sudah diputuskan".

"Tunggu, sekolah?!" akhirnya Melt benar-benar tersadar setelah tadi otaknya masih setengah kosong karena tak terbiasa bangun pagi.

"Yup. Kau bilang tadi tidak keberatan kan?"

"Kenapa aku harus sekolah?" tanya Melt yang kini tampak cemberut.

"Supaya kau punya banyak teman dan tidak jadi hikkimori".

"Hikkimori?"

"Orang yang kerjanya hanya main game, makan junk food, dan membaca manga di rumah seharian," jelas Matt yang kelihatannya sudah lupa saat ia masih kecil pun pasti takkan berangkat sekolah seandainya tidak diseret Mello.

"Che... Aku tidak mau pergi ke tempat membosankan seperti itu," sungut Melt.

"Kau ingat apa yang kukatakan Melt? Ini rumahku dan kau harus ikuti aturanku," Matt menunjukkan senyum kemenangan.

Setelah itu Melt tetap saja menggerutu dan mengeluh mengenai keputusan Matt itu, meskipun ia sadar benar mau tidak mau Matt pasti akan tetap menyekolahkannya.

Dengan menyekolahkan Melt, Matt berharap tidak perlu lagi mengkhawatirka Melt selagi ia mengajar dan terutama… agar Melt bisa teralihkan dari rasa kesepiannya dengan mendapat banyak teman.

Namun Matt sama sekali tak menyangka menyekolahkan Melt hanya akan membuat masalah baru…


To be Continued


Gomen kalo lebay. Chaps depan kayaknya ga bakal lebay2 amat deh...

Ayo, budayakan kebiasaan meng-review!! XO