Death Note belongs to Tsugumi Ohba & Takeshi Obata


Menara kartu tarot tersusun rapi mengelilingi pemuda yang lebih tampak seperti seorang bocah. Sesekali ia mengelung rambutnya yang sewarna dengan salju.

"Near," seorang wanita tegap berambut pirang memanggil namanya, membuatnya menoleh ke arah asistennya tersebut. "Aku sudah mengecek lokasi kejadiannya dan membuat laporan mengenai itu. Namun jika diselidiki pun, tidak ada bukti otentik mengenai kejadian yang menimpa orang itu."

"Hmmfh," Near jelas menunjukan ia rasa tidak puas. Ia memang harus menyelidiki tempat itu untuk menyelesaikan kasus yang diterimanya, namun tetap saja yang ia incar hanyalah informasi mengenai orang itu; yang pada akhirnya tetap tak bisa didapatkan. "Lalu bagaimana dengan anak perempuan itu?"

Lidner, sang asisten mengerutkan dahi. "Anak perempuan?"

"Ya, anak itu…". Keduanya terdiam sejenak hingga Near kembali membuka mulutnya , "Lidner, aku tahu kau lelah. Tapi bisakah kau mengecek sebuah kamar apartemen untukku?"


Matt baru saja tiba di apartemennya setelah menyelesaikan tugas mengajarnya hari itu. Ditemukannya Melt sudah terlelap di kamarnya, meski matahari belum sepenuhnya kembali ke peraduannya di sebelah Barat. 'Mungkin dia capek dengan aktivitasnya di sekolah?' pikir Matt seraya melempar furry vest-nya ke sofa.

Sudah seminggu semenjak hari pertama Melt sekolah. Matt langsung memasukkannya ke kelas 3 karena yakin anak pewaris darah Mello pasti bisa langsung menerima pelajaran meskipun harus melompati tahap-tahap sebelumnya. Lagipula rasanya Melt sudah lancar membaca… dan dengan kemampuannya memecahkan berbagai rubik secara sempurna dalam sekejap, mestinya matematika bukan masalah bagi logika Melt.

Bunyi ketukan pintu memecah keheningan ruangan apartemen itu.

Matt terburu-buru melangkahkan kakinya untuk membuka pintu. Siapa sih, yang mau bertamu ke tempat tinggal guru SMU nyentrik maniak game dengan anak kecil anti sosial yang menyebalkan sore-sore begini? Pikir Matt yang tidak pernah menerima tamu selain asisten Near, itupun kejadian yang bisa dibilang langka sekali.

Membuka kenop pintu, Matt menemukan sesosok wanita muda berpakaian seperti kemeja rapi dilengkapi pita dan rok hitam pendek.

Matt mengernyitkan dahi. Penampilan seperti ini biasa ditemukan pada guru sekolah swasta. Apa mungkin wanita ini salah satu guru di SMA yang dia ajar? Tapi rasanya Matt belum pernah melihat orang seperti ini… sepertinya. Yah, kita semua tahu tingkat sosial skill dan kepedulian Matt kan? Mendekati nol.

"Ya?" hanya itu yang meluncur dari mulut Matt pada wanita yang (sepertinya) tak ia kenal itu. Basa-basi memang bukan salah satu keahlian Matt.

"Maaf, mengganggu. Apa anda orang tua dari Melt Keehl?" tanya wanita itu dengan sopan. 'Melt Keehl' adalah nama yang tertera pada akte kelahiran palsu Melt yang dibuat Matt karena anak itu bersikeras tak menyebut nama aslinya.

"Ya. Ah, ehm… aku… walinya. Ada yang bisa kubantu?"

"Saya wali kelasnya, Emma Theodore. Ada yang ingin saya bincangkan dengan anda mengenai anak itu. Bolehkah saya masuk?"

Sebenarnya Matt enggan mengizinkan seorang wanita; siapapun itu memasuki apartemennya yang pastinya menjadi sarang berbagai konsol game, macam-macam jenis laptop, dan jenis-jenis perlatan elektonik yang tak lazim dimiliki orang sipil. Namun toh pada akhirnya Matt tidak bisa menolak… "Ya, silakan masuk."

Untungnya Mrs. Emma cukup sopan (atau tidak peduli?) untuk tidak berkomentar mengenai berbagai electronic device yang bergeletakan dalam ruangan apartemen itu.

"Jadi, ada apa dengan Melt?" tanya Matt setelah mempersilakan wanita itu duduk.

"Saya tidak akan berbasa-basi. Sebenarnya sedikit berat mengatakannya. Tapi putri anda telah banyak bermasalah di sekolah. Kami bahkan telah berkali-kali memberikannya surat peringatan untuk anda tanda tangani, namun ia tak pernah membawanya."

Matt bahkan tidak fokus untuk menyangkal Melt adalah putrinya. "Dia… tidak pernah menyampaikan surat apapun padaku…"

Wanita itu, yang namanya tidak begitu diingat Matt karena ia merasa itu bukanlah hal penting membetulkan kacamatanya bersamaan dengan helaan nafas dari mulutnya. "Seperti dugaan saya. Melt memang anak nakal yang sulit diatur."

Matt memutar bola matanya. Untungnya ia memakai goggle, jadi sang guru takkan melihat perilaku tidak sopannya. Yang pasti dari sikap wanita ini, mudah ditebak bahwa ia orang yang mengutamakan norma kesopanan dan kedisiplinan. Dan sejauh yang bisa diingat Matt, sejak kecil ia selalu membenci tipikal orang seperti itu. Kalau makan harus begini, kalau memberi salam harus begitu… menyusahkan saja… Memangnya ada manfaat dari melakukan hal itu? Selama kita tak menyinggung ataupun menyusahkan orang banyak, tak ada masalah berbuat semaunya kan?

Entah bisa dibilang benar atau tidak, begitulah prinsip Matt.

"Mail?" Melt keluar kamarnya sambil mengucek-ucek matanya yang baru terbuka setelah tidur kilat selama sekitar 1 jam. Sepersekian detik kemudian Melt terbelalak melihat wanita menyebalkan yang selalu menceramahinya dengan omongan tidak penting yang ia identifikasi sebagai gurunya, duduk berhadapan dengan Matt.

"Kebetulan sekali, Melt. Duduklah, banyak yang ingin kubicarakan dengan Ayahmu. Dan kamu."

Begitu sebal dan bingungnya Melt sehingga ia menghempaskan pada sofa di sebelah Matt tanpa menyangkal bahwa Matt adalah ayahnya.

"Apa kamu mengerti kenapa Ibu sampai mendatangi kediamanmu untuk bicara dengan ayahmu, Melt?"

"Saya tak merasa melakukan kesalahan tertentu," jawab Melt tak acuh.

Mrs. Emma kembali menghela nafas, mencoba untuk tetap tenang. "Pertama dan yang paling fatal, kau telah melecehkan gurumu."

Pandangan Melt pada gurunya tampak semakin sinis, "Melecehkan? Saya rasa saya tidak..."

"Coba ingat jam pelajaran Mr. Watson kemarin lusa," sela Mrs. Emma.

Pikiran Melt melayang, membuka kembali ingatan saat itu…

Ketika gurunya sedang membacakan kisah Maria und das Lämmlein atau Marry and the little Lamb dalam bahasa Jerman, Melt tengah asyik menyelesaikan Trace Memory dari DS Matt yang diam-diam ia bawa. Hingga ketika ia sadar, gurunya sudah berdiri di samping mejanya dengan wajah tertekuk dan tangan melipat ke dada.

"…Apa?" tanya Melt tanpa rasa bersalah.

"Keehl, apa kau sudah merasa begitu pintar hingga merasa bermain PSP lebih penting ketimbang mendengar pelajaran bapak?" tanya Mr. Watson, sang guru bahasa Jerman.

'Ini DS, bodoh!! Bukan PSP!!' batin Melt. Dan sebagai jawaban atas teguran gurunya tadi... "Ya, saya rasa saya sudah menguasai materinya tanpa harus mendengar penjelasan bapak," ujarnya dengan tenang, tanpa keraguan sedikit pun.

Hal ini kontan membuat urat amarah pada dahi gurunya semakin jelas. "Sombong sekali, Keehl… Coba maju dan selesaikan pertanyaan di papan tulis". Mr. Watson memang sudah menulis pertanyaan-pertanyaan mengenai kisah Maria und das Lämmlein yang tadi dibacakan.

Dengan enggan Melt menutup DSnya untuk mengaktifkan sleep modenya dan melangkah ke arah papan tulis.

Soal itu bisa dibilang cukup sulit untuk anak kelas 3 SD, karena memakai banyak kosakata baru. Karena itulah sebenarnya soal-soal itu dibuat untuk dibahas bersama. Jelas sekali sebelum menghukum Melt sang guru ingin mempermalukan anak kurang ajar itu didepan teman-temannya. Walaupun sebenarnya tak ada satupun murid di sekolah itu yang Melt anggap teman.

Melt menatap soal-soal di papan tulis sekilas. Mestinya, bagi dirinya yang dididik Ibunya dengan berbagai macam bahasa asing bisa menjadi landasan untuk Melt menjawab soal-soal dihadapannya tanpa kesulitan.

"Soal ini… ada ejaan dan grammar yang salah. Aku tidak mau menjawabnya," tukas Melt.

Guru itu terhenyak. Ia memandang tulisannya sendiri dan menyadari memang ada sedikit huruf yang kurang lambangnya, dan soal grammar… "Mengenai grammar, memang sengaja dibuat memakai kata kerja sekarang, Melt. Tolong kau jangan merasa sombong hanya karena mengetahui beberapa jenis kata kerja saja."

"Justru itu," ujar Melt. "Mungkin rata-rata kemampuan otak anak kelas 3 di sekolah ini belum mampu memahami bentuk-bentuk grammar secara menyeluruh, tapi apa anda sebagai guru dengan bodohnya tertukar antara penggunaan adjektif dan subjektif?" tantang Melt sambil menunjuk kata mana saja yang menurutnya salah.

Dan meskipun pernyataan Melt benar, sudah jelas ia langsung dihukum berdiri di koridor karena telah melecehkan guru. Melt pun menyesal… ia belum sempat menamatkan chapter 4 pada game yang ia mainkan tadi.

Kembali ke ruang tamu apartemen Matt, sekarang. "Saya tidak merasa melecehkan Mr. Watson. Saya hanya ingin memberi tahunya untuk meralat kesalahannya."

"Tapi bukan dengan cara yang tidak sopan begitu, Melt. Dan lagi, kau mestinya tahu benar mengenai larangan membawa game apapun ke sekolah kan?" Mrs. Emma berusaha menahan diri untuk tidak membentak Melt sambil membetulkan posisi kacamatanya untuk kesekian kalinya.

"Sudah kubilang pada Mr. Watson aku sudah mengerti materinya tanpa mendengar penjelasannya, bukankah hanya buang-buang waktu jika saya tetap mendengarnya? Makanya saya pikir lebih baik mengasah otak dengan game."

"Jangan terus melawan dengan alasan yang tak masuk akal!! Kau pikir apa yang bisa kau dapatkan dari game?!" amarah Mrs. Emma mulai keluar hingga suaranya meninggi, tanpa sadar telah menyinggung 'ayah' Melt juga. Alis yang mengerut dan sorot mata Matt yang berubah tampaknya luput dari perhatian wanita itu.

Melt hanya bisa mengumpat dengan suara rendah, tahu akan sia-sia jika terus melawan wali kelasnya itu.

Mrs. Emma berdehem sebelum kembali melanjutkan, "Selain itu, banyak yang harus kau pelajari mengenai sopan santun. Dan, Mr. Keehl…"

"Err… ya?" Matt memutuskan untuk tidak mengkoreksi dan membahas lebih jauh mengenai panggilannya itu.

"Putri anda tidak pernah duduk dengan benar, biasanya kakinya melipat didepan dada atau bahkan bersila. Selain itu, dia juga tidak pernah berkomunikasi dengan teman-temannya selain mengeluarkan kata-kata ejekan atau makian. Jika tidak dididik, anak ini tidak akan kapok. Kau juga mestinya mengerti, Melt."

Merasa dilirik Matt, Melt pun menjawab, "Susah sekali bicara dengan orang yang kemampuan menangkapnya rendah. Maaf saja, saya sulit berkomunikasi dengan anak-anak yang kurang memakai logika seperti mereka; selain dengan cara menggunakan kata-kata kasar."

Mrs. Emma kembali merasakan darahnya naik. "… Melt, kau merasa begitu jenius hingga pantas merendahkan orang yang kau anggap bodoh?"

Melt tersenyum. Mungkin malah bisa dibilang seringai, yang diidentifikasi Matt sebagai seringai khas Mello; membuatnya tersenyum sendiri tanpa sadar. "…Ya. Bagiku orang bodoh itu tidak ada nilainya, hanya menyusahkan orang lain saja."

Wajah Mrs. Emma memerah karena amarah . "Kau terlalu percaya diri, Melt. Apa kau mengganggap dirimu orang paling jenius sesekolah? Kalau bagitu kalau begitu paling tidak harusnya kau mengerti sikapmu itu salah!!"

"Salah dan benar itu berbeda bagi tiap orang. Makanya bagaimanapun juga aku hanya akan bertindak menurut persepesiku sendiri. Selama aku tidak merugikan orang lain, apa itu masalah?" bahkan kini Melt tak lagi menggunakan kata 'saya'.

Secara reflek tangan Mrs. Emma melayang untuk mendarat keras di pipi Melt, namun dengan sigap gadis kecil itu menghindari tamparan gurunya.

"Mr. Keehl, kau harus benar-benar harus mengajari anakmu sopan santun!!" Mrs. Emma menoleh pada Matt, tak lagi peduli meskipun suaranya kini tinggi dan keras.

Matt tersenyum. "Untuk apa?"

Mrs. Emma tertegun, samasekali tak menyangka dengan pertanyaan yang dilontarkan Matt sebagai reaksi atas pernyataannya sebelumnya.

"Bisakah anda memberi tahu, fungsi dari sopan santun yang anda tekankan dari tadi?" Matt memperjelas pertanyaannya.

"Apa yang anda bicarakan?!Tentu saja agar dia bisa lebih diterima dalam masyarakat nanti!! Bagaimana caranya terjun ke masyarakat dan bekerja jika tidak punya sopan santun?! Pekerjaan apa yang bisa ia dapatkan?! Tidakkah anda sadari tanggung jawab sebagai orang tua untuk mendidik anak anda?!"

"Sopan santun tidak ada gunanya dibanding kemampuan otak. Apa gunanya orang bodoh yang mencoba mendapatkan nilai harga dirinya dengan topeng yang kalian sebut sopan santun?" Matt menjawab dengan tenang.

Mrs. Emma terbelalak. "Mr. Keehl, ternyata bukan hanya putrimu yang butuh sopan santun... Kuharap anda tidak maklum jika saya mengajukan surat kepada kepala sekolah untuk mengeluarkan Melt Keehl," Ucapnya dengan suara yang sedikit bergetar, berusaha menahan gejolak amarah.

Lagi-lagi Matt tersenyum simpul. "Tidak usah repot-repot, besok saya akan menyampaikan surat pengunduran diri untuknya."

Dan dengan kalimat itu, Mrs. Emma tanpa basa-basi lagi langsung keluar dengan membanting pintu apartemen.

Sejenak keheningan menyelimuti suasana ruangan itu.

"...Mail," panggil Melt pada akhirnya.

"Hng?"

"Mail sengaja membelaku?"

"Tidak juga. Habis rasanya mengerjainya menyenangkan sih," Matt tertawa kecil seakan tanpa dosa.

Melt pun tersenyum.

"Ah, tapi bagaimanapun… Aku harus mencari sekolah lain yang cocok untukmu."

Melt langsung tampak lesu.


"Aku sudah mengecek kamar apartemen sesuai perintahmu, Near. Kelihatannya anak yang kau cari sudah pergi dari situ selama beberapa minggu," lapor Lidner begitu sekembalinya ia dari tugas yang diberikan Near.

"Terima kasih, Lidner."

"Lalu bagaimana? Kau mau mencari anak itu?" tanya Lidner.

"Tidak perlu."

"Bukankah anak itu penting bagimu?"

"... Ya."

"Lalu?"

Near tersenyum. "Tidak perlu. Aku sudah bisa menduga dimana lokasi anak itu…"

To be Continued


Yosh~ Pendapat anda akan mempercepat update, so... REVIEW!!