Death Note belongs to Tsugumi Ohba & Takeshi Obata


"Jadi, kita sudah sepakat."

"…Ya…"

"Apa kau sudah memberitahukan hal ini padanya?"

Gadis itu tertunduk. "Percuma saja, dia tidak mencintaiku."

'Kalau dia tidak punya perasaan apapun padamu, tidak mungkin ia menerima imbalan yang kautawarkan,' namun hal ini tidak disampaikan secara lisan, hanya terakumulasi dalam benak sang L kedua.


"Apa gaji Mail cukup untuk membeli sebuah bayi?" sebuah pertanyaan yang terlontar dari mulut mungil Melt pada suatu ketika.

"Jangan menyebut makhluk hidup dengan sebutan 'sebuah', Melt. Dan lagi bayi tidak dijual," jawab Matt tenang tanpa menghentikan game Harvest Moon (?) yang dimainkannya dengan PS2.

"Kalau begitu, dimana pabrik yang memproduksi bayi? Apa itu pabrik rahasia yang letaknya jauh dan terpencil? Tidak… jika pabriknya seperti itu pasti akan sulit untuk mendistribusikan makhluk hidup yang rentan seperti bayi…" Melt menjawab pertanyaannya sendiri.

Matt melengos, mem-pause gamenya dan menjelaskan "Bayi berasal dari rahim seorang Ibu, Melt. 'Masa kau masih tidak mengerti?"

"Kalau soal itu, aku mengerti… Tapi kenapa mendadak bisa ada bayi di dalam perut seorang wanita? Sebelum kehamilan pasti ada seusatu yang membuat tubuhnya berubah… Jadi sebenarnya faktor apa yang bisa membuat bayi terbentuk dalam tubuh manusia? Apa ada semacam ramuan tertentu yang bila disuntikkan bisa membentuk organ manusia dalam tubuh? Tunggu dulu, hal itu tidak mungkin, mengingat zaman dahulu kala tidak ada suntikan atau ilmu pengetahuan mengenai kimia, jadi hal itu mustahil…" Melt kembali membuat dan mengkoreksi teorinya sendiri.

Sebelum membuat teori yang lebih melenceng lagi, Matt segera berkata, "Bayi itu akan terbentuk dengan sendirinya, jika… ehm… seorang wanita menikah. Jika kau masih tidak begitu mengerti, anggap saja itu salah satu trik Tuhan."

"Jika seperti itu bagaimana aku bisa lahir padahal Mutter tidak menikah?"

Hening.

"…Mail?"

Tetap tak ada jawaban dari pemuda itu.

Merasa Matt enggan menjawab pertanyaannya, Melt kembali ke kamar Matt dan menutup pintunya.

Matt mendesah lega, tanpa tahu di dalam sana gadis kecil itu sedang mencari 'asal-usul bayi' via internet.

'Pasti akan tiba waktu yang tepat untuk mengetahui hal itu, Melt…,' pikit Matt sambil melanjutkan aktivitas menyiram pertaniannya yang tertunda.


"AKU TAHU!" teriak Melt sambil membuka pintu, membuat jantung Matt serasa melonjak karena terkejut. Matanya berbinar, menunjukan kepuasan dari jawaban atas pertanyaannya melalui internet.

"Perempuan secara alami akan memproduksi sel telur dalam tubuhnya, dan akan membentuk embrio yang bisa menjadi bayi jika bersatu dengan sel sperma dari tubuh laki-laki!" jelas Melt yang sedikit terengah-engah karena terlalu bersemangat.

Matt terbelalak membaca apa yang ditampilkan layar laptop mini yang dibawa Melt; Biology for 10th grade.

"Uhh… kau benar…" Matt tidak tahu harus berekasi apa lagi.

"Tapi yang belum kutemukan…" ujar Melt, "Bagaimana bisa sel sperma dari laki-laki ada di rahim perempuan?"

Uh-oh, ini akan jadi masalah yang rumit… begitulah kira-kira kalimat yang terlintas dalam pikiran Matt.


Melt melangkah menyusuri trotoar jalan menuju kedai es krim. Begitu pertanyaan mengenai 'sperma' yang mengganjalnya tadi ia utarakan pada Matt, berharap pemuda itu bisa menjawabnya, ia malah disuruh pergi ke toko es krim dengan dibekali 2 dollar untuk membeli triple scoop.

'Ya sudahlah… kalau triple scoop, kurasa aku akan memilih chocolate, strawberry, chocolate dan diberi topping chocolate chip atau M&M's' pikir Melt. Kelihatannya trik Matt untuk membuat pikiran Melt teralihkan dari masalah 'sperma' dengan menyuruhnya membeli es krim cukup berhasil.

Sementara itu, Matt kini tengah sibuk mengikuti event lomba ayam dalam gamenya. Soal masalah kenapa mendadak Matt ingin main Harvest Moon diantara game-game lainnya, itu akan dijelaskan lain kali, karena sekarang…

Suara ketukan pintu membuat perhatian Matt teralihkan sesaat hingga ayamnya kalah. Sambil menggerutu dalam gumamannya Matt bangkit untuk membuka pintu. Dan reaksinya ketika mengetahui siapa tamunya kali ini adalah…

"Near…?"


Melt menjilati es krim coklatnya sembari melangkah pulang. Dalam ingatannya, Mello jarang sekali mengajaknya jalan-jalan keluar, apalagi jalan sendirian. Mungkin ini ada sangkut pautnya dengan resiko menjadi ketua mafia yang bisa membahayakan orang-orang yang berhubungan dengannya.

Melt juga sebenarnya tidak keberatan. Selain karena ia memang lebih suka mendekam di rumah, matanya yang tidak terbiasa dengan cahaya matahari yang terik secara langsung bisa membuatnya sedikit pusing.

Tapi kadang-kadang orang itu datang dan mengajaknya keluar. Mello juga sepertinya tidak keberatan jika Melt pergi bersama orang itu. Kadang ia juga membawakannya makanan yang aneh-aneh seperti… apa ya namanya? Rasanya mirip sejenis roti kering, bentuknya ikan dan di dalamnya ada saus yang manis… kacang merah? Ah, iya… makanan itu… taiyaki kan?

Dan masih banyak lagi yang diajarkan orang itu padanya, terutama yang berhubungan kebudayaan Jepang.

Melt menghentikan langkahnya sejenak dan menatap langit biru yang terbentang luas.

'Orang itu… sekarang ada dimana ya?'


"Tumben sekali kau ikut datang kesini," tukas Matt pada Near yang datang bersama Lidner.

"Ada beberapa hal yang perlu kubicarakan," kata Near yang duduk di sofa sambil mengelung rambutnya.

Matt mengerutkan keningnya, mencoba memikirkan posibilitas alasan Near mengunjunginya. Jika hanya untuk meminjam kemampuan hackingnya maka Near hanya akan menghubunginya melalui media komunikasi atau meminta asistennya untuk menemuinya. Dan selain karena itu… rasanya Near tak punya alasan lain untuk bertemu dengannya.

"Ini mengenai May. Dia ada disini 'kan?" Near memastikan.

"… May? Siapa itu? Jangan bilang dia adalah kriminal sedang berkeliaran di dekat sini…" Matt bergidik membayangkan Melt akan menguji cobakan pistol Mello pada orang yang dianggap kriminal.

"… Begitu rupanya. Tampaknya Mello sudah menanamkan dasar-dasar melindungi identitasnya sejak kecil… Anak perempuan itu, aku tidak tahu code namenya… tapi dia bersamamu 'kan?"

Matt tertegun. "Anak perempuan… Melt?"

"Anak perempuan dari Mello, bagaimanapun kau biasa memanggilnya… memang dia yang kucari," tukas Near.

"Ba… bagaimana kau bisa tahu tentang…?"

"Aku adalah orang yang pertama mengetahui keberadaan anak itu," potong Near bahkan sebelum Matt menyelesaikan pertanyaannya. "Waktu itu aku tidak menyangka Mello memilih untuk tidak mengaborsi anak itu. Dilihat dari profesi dan kegiatannya, akan lebih menyulitkan dengan keberadaan anak itu. Mello menyadari hal ini, tapi tetap tidak ingin membuang nyawa yang tengah dikandungnya. Makanya kami membuat kesepekatan."

Near menatap mata Matt lurus-lurus. "Setelah dia bisa bicara cukup lancar, aku akan mengambil tanggung jawab atas anak itu. Dengan begitu dia bisa kembali leluasa menjalankan perannya sebagai detektif ilegal sekaligus ketua mafia. Dan keuntungan bagiku, aku bisa mendapat calon L yang cukup menjanjikan, mengingat dia mewarisi darah Mello."

Matt terbelalak. Ternyata begitu? Ternyata diantara mereka bertiga ialah yang paling akhir mengetahui tentang Melt… dan lagi, jika memang ada perjanjian seperti itu, kenapa Mello malah memintanya untuk mengurus Melt?

Tunggu… kalau dipikir lagi, pesan itu hanya mengatakan untuk 'ambil alih tanggung jawabku', jadi sebenarnya bisa dibilang tanggung jawab sebagai mengurus Melt hanyalah berdasar dari persepsinya sendiri…

Tidak. Melt pernah mengatakan secara langsung bahwa Mello pernah menceritakannya sebagai sosok yang bisa dipercaya. Sudah pasti ia memang diberikan tanggung jawab untuk merawat Melt.

"Tapi setelah hampir 2 tahun, waktu yang kuperkirakan dibutuhkan untuk seorang anak dengan logika diatas rata-rata bisa bicara, Mello malah menolak untuk menyerahkan anak itu padaku," Near melanjutkan.

"Kalau begitu, mestinya kau memang tidak perlu mengambil Melt. Dia sudah menjadi tanggung jawabku sekarang," balas Matt tegas.

"Mail?" mendadak pintu apartemen terbuka, menampakkan sosok mungil Melt di baliknya.

"Melt…"

Melihat adanya orang-orang tak dikenal yang ia identifikasi sebagai tamu, Melt menyimpulkan lebih baik ia tak mengusik pembicaraan dan segera masuk ke kamarnya.

"Tunggu," Matt menarik lengan Melt, mencegahnya untuk masuk. Ia merasa Melt perlu mendengar pembicaraan ini.

"Kenapa? Ada apa?" tanya Melt bingung.

Near tidak menghiraukan Melt, ia melanjutkan pmbicaraan, "Kenapa kau ingin tetap merawatnya? Bukankah kau bukan tipe orang yang terbiasa hidup dengan seorang anak?"

"Kau sendiri?" geram Matt.

"Aku bisa saja menyewa perawat dan guru privat untuknya. Kurasa itu yang terbaik untuknya… dan untukmu."

Matt terhenyak. Benar juga, ia tidak tahu cara mengurus seorang anak dengan benar. Waktu itu saja ia pernah membiarkan Melt kelaparan selama lebih dari 10 jam. Ia bisa saja berbuat kesalahan yang lebih fatal lagi. Jika sampai terjadi sesuatu pada anak itu...

"Mungkin kau benar…" ucap Matt lirih.

Kenapa ia jadi merasa ragu untuk menyerahkan Melt? Bukankah merawat anak itu sejak awal hanyalah kewajiban saja? Jika Near bisa menggantikannnya untuk itu secara lebih baik kenapa ia malah enggan untuk melakukannya?

Mata Melt terbelalak. Kini ia benar-benar mengerti arah pembicaraannya. Dia akan diserahkan…? Layaknya barang?

"Mail…!" Melt mencengkram lengan baju Matt sambil sedikit terisak, entah karena takut, sedih atau marah.

Menyadari hal itu, Matt tiba-tiba teringat sesuatu…

Musim dingin ke-2 yang dialaminya di Wammy House, ketika ia sedang berbicara dengan beberapa anak perempuan yang tampaknya menyukainya dan hendak memberikannya coklat valentine. Saat itulah Mello datang dan tanpa berbicara sepatah kata pun langsung menarik tangan Matt.

"Mello?"

Yang bersangkutan tidak menjawab sepatah katapun, hanya menarik tangan Matt lebih kuat. Dan Matt pun mengerti. Tidak selalu membutuhkan kata-kata untuk membuat perasaan gadis temperamental itu tersampaikan padanya.

"Aku menarik kembali kata-kataku. Aku ingin Melt tetap disini," ucap Matt tegas sambil memegang pundak Melt yang masih mencengkeram lengan bajunya dengan erat itu.

Ekspresi tegang pada wajah Melt melunak. "Mail…"

Near terdiam sesaat, ia berjongkok agar tinggi wajahnya setara dengan Melt.

"Kau tidak ingin tinggal bersamaku? Aku akan membuatmu mempelajari hal-hal baru, juga melakukan sesuatu yang lebih menyenangkan dibanding mendekam di apartemen dan bermain game seharian. Tapi Jika kau mau kau bisa saja memainkan game apapun yang kau suka disana," ucapnya.

Melt menggelengkan kepalanya dengan cepat dan mempererat genggamannya pada lengan Matt.

Near menghela nafas, "Baiklah kalau begitu, aku tidak berhak memaksamu. Tapi jika berubah pikiran, kapanpun kau bisa meminta Matt untuk menghubungiku."

Melt tidak membalas ucapan Near, hanya memandang pemuda albino itu dengan tatapan waspada.

Near pun bangkit berdiri dan keluar bersama asistennya.

"Mail… tidak apa-apa seperti ini? Aku mengerti, hidupmu akan lebih repot jika kau terus mengurusku kan?" tanya Melt dengan sedikit nada cemas terselip di dalamnya.

"Kau ingin tinggal disini kan?"

Melt buru-buru mengangguk.

"Kalau begitu tidak ada yang perlu dibicarakan lagi," Matt tersenyum dan membelai rambut honeyblond Melt dengan lembut.


"Near, kau yakin tetap membiarkan anak itu bersamanya?" tanya Lidner yang kini tengah menyetir mobil yang melaju di jalan raya menuju markas.

Near mengangguk. "Kurasa kecerdasannya akan lebih berkembang jika dia hidup seperti yang dia suka."

"Tapi, aku masih tidak mengerti," tukas Lidner. "Kenapa kau ingin mendapatkan anak itu? Apa memang hanya karena dia berpotensi menjadi calon penerus L?"

Near menyungginkan senyumnya yang khas, "Yah, anggap saja memang seperti itu."


"Ngomong-ngomong, Mail…"

"Hng?"

"Jadi sebenarnya bagaimana caranya sperma bisa masuk ke rahim perempuan?"


To Be continued


akhirnya apdet~ Udah ada beberapa skenario yang saya buat untuk chapter ini, tapi akhirnya malah nggak jadi... =w='a

Review ya? ya? ya? ya? ya? y... (ditabok)