Death Note belongs To Tsugumi Ohba & Takeshi Obata


" 'Melt'? Kamu itu bodoh atau polos sih?" sindir pemuda asia itu diiringi tawa.

Meskipun begitu, raut gadis pirang itu tidak menunjukkan akan adanya kemarahan, dengan tenang ia menjawab, "Anak itu adalah harapanku. Jika Near adalah es maka aku ingin memiliki sesuatu untuk melelehkannya."

Gelak tawa kembali terdengar dari sang pemuda, kali ini lebih keras. "Mel, Mell… Kau pikir jika salju meleleh akan jadi apa?"

Mello mengerutkan kening, merasa sedikit dibodohi. "Tentu saja jadi salju."

"Fufu… sudah kuduga kau akan menjawab begitu… Tapi itu salah."

"Kau itu bodoh ya? Memangnya jadi apa lagi selain air?" tanya Mello, kali ini sedikit kesal.

Sang lawan bicara tersenyum. "Tentu saja jadi musim semi."

Bagaimana pun prosesnya, code name 'Melt' telah resmi melekat pada anak itu.


"Mail~" panggil Melt dengan nada ceria yang tidak biasa. Dengan berlari kecil ia menubruk punggung Matt yang sibuk mengutak-atik komputernya. Sikap yang tidak biasa pula bagi seorang Melt.

Matt hanya membalas panggilan Melt dengan gumaman tak jelas acuh tak acuh, konsentrasinya sudah terfokus pada komputernya itu.

Tidak bergeming atas tanggapan dingin Matt, Melt dengan riang berkata, "Aku sudah tidak sabar pergi ke Disneyland besok~"

Matt terhenyak. "Disneyland?" ulangnya ragu.

"Mail kan sudah janji untuk mengajakku kesana akhir pekan ini sejak minggu lalu!" tuntut Melt sambil menggembungkan pipinya.

"Ehm…" Matt tergagap, mencoba menyusun kalimat sambil mengingat-ingat janji yang diungkit Melt tadi. "Maaf, Melt. Besok aku ada urusan."

"Tapi… tapi Mail sudah janji!" teriak Melt.

"Aku benar-benar minta maaf… Minggu depan saja bagaimana? Tidak akan kulanggar lagi, sungguh…" Matt mencoba meyakinkan gadis kecil itu.

"Tapi… Tapi besok 'kan…" Melt menjawab dengan suara serak bagai menahan tangis yang siap pecah. "Sudahlah, Mail bodoh!" lanjutnya dengan teriakkan sebelum akhirnya melesat ke kamar dan mengunci pintu setelah membantingnya.

Matt mendesah. Sungguh, ia benar-benar merasa tidak enak karena terpaksa melanggar janjinya itu. Apalagi Melt sepertinya sangat menantikan saatnya pergi ke tempat yang belum pernah dikunjunginya itu. Tapi…

Matt melirik komputernya, dimana monitornya menampilkan isi e-mail terbaru dari inbox yang baru dibacanya…

Dear Matt,

Aku sudah tidak sabar pergi ke bioskop besok, soalnya aku sudah sangat menantikan kencan kita itu^^ Jangan sampai telat lho.

P.S.: Jangan beralasan lupa seperti waktu itu ya~

E-mail itu dikirim oleh Sayu, salah satu muridnya yang cintanya ia terima hanya karena sekedar iseng. Walaupun tidak serius, bukan berarti Matt bisa seenaknya melanggar janjinya pada gadis itu... kan?


Esok paginya, Matt mengetuk kamar Melt yang dulunya merupakan ruangan khusus perangkat komputer yang masih terkunci rapat akibat kekesalan sang gadis kecil itu.

Dari balik pintu Matt berkata, "Melt, aku benar-benar minta maaf. Tapi aku harus pergi sekarang, akan kuusahakan untuk pulang secepatnya. Kau mau oleh-oleh apa? Coklat?"

Tidak ada jawaban sepatah katapun dari Melt. Matt hanya bisa mendesah dan berkata, "Kalau begitu aku pergi dulu."

Setelah itu terdengar suara langkah kaki, suara pintu yang dibuka lalu ditutup. Lalu sekarang... hening.

Beberapa menit kemudian, Melt yang sedari tadi membenamkan kepalanya pada bantal yakin Matt benar-benar telah pergi.

Perlahan ia membuka pintu dan menyalakan komputer yang ada pada ruang tengah. Mengurung diri di kamar yang hanya ada kasur dan pretelan perangkat komputer seharian memang sangat membosankan, jadi dia memutuskan untuk refreshing dengan cara melanjutkan pencarian atas pertanyaan mengenai 'sperma' yang jawabannya belum juga ia temukan.

Dari situ secara otomatis google chrome yang biasa ia gunakan meng-recover tab dari berbagai web yang Matt buka kemarin, salah satunya…

"Account e-mail Mail?" (e-mail Mail, LOL XD) Melt mengerti seharusnya ia tidak membuka sesuatu yang pribadi walaupun sekedar akun e-mail, tapi rasa ingin tahu untuk mendorongnya untuk tetap melakukan hal itu.

Matanya tertuju pada e-mail terbaru atas nama khas Jepang milik seorang perempuan.

From: Sayu Yagami | Subject: Kencan^^! | Date: Fri 4/30, 06.34 PM


"Matto, bagaimana kalau kita nonton yang ini saja?" tukas Sayu ceria sambil menunjuk salah satu poster besar berisikan film yang sedang diputar di bioskop.

Matt hanya mengangguk dan memaksakan sebuah senyum.

"Kalau begitu biar kubeli tiketnya, kau tunggu saja, ya!" Sayu pun melesat ke arah antrian loket.

Matt hanya melengos. Matanya menerawang menatap jadwal film yang diputar hari itu. Sebenarnya tidak ada yang menarik perhatiannya, tapi…

Movie Schedule

Saturday, 5/1/2010

Matt tertegun. Satu Mei? Rasanya ada sesuatu… Ya, sesuatu yang penting…

Tidak, Matt ingat dengan jelas bahwa ia sudah mengisi laporan murid-murid sebelum tenggat waktu. Tapi…

"Tiketnya sudah kubeli… Hei, Matto…?" Sayu memanggil guru sekaligus 'kekasih'nya itu beberapa kali, namun tak sekalipun yang bersangkutan memberikan reaksi. Ia terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri.

'…Aku lahir 1 Mei 7 tahun lalu…'

…Shit.

Melt memang hanya mengatakan hal itu sekali saja saat pertemuan pertama mereka, tapi tidak seharusnya seorang dengan ingatan fotografis seperti Matt bisa melupakannya.

Secara reflek, Matt berlari meninggalkan gedung bioskop. Teriakan Sayu yang terus memanggil namanya seakan tidak terdengar olehnya.

'Pantas saja… Walaupun dia selalu egois, tapi dia tidak pernah bertindak seegois ini untuk dirinya… Kenapa tidak bilang saja kalau ini hari ulang tahunnya?'

Matt menggerakkan gagang pintu apartemennya dan menyadari pintu itu dalam keadaan tidak terkunci. Seketika ia punya firasat buruk…

"MELT!" panggil Matt begitu pintu apartemennya dibuka. Baru saja ia hendak melangkah ke kamar Melt, disadarinya komputer di ruang tengah dalam keadaan menyala. Dan keterkejutannya bertambah begitu melihat isi e-mail dari Sayu yang terlihat di monitor.

Pintu yang tidak terkunci… Komputer yang bahkan tak ia matikan… Semuanya lebih dari cukup bagi Matt untuk menarik sebuah kesimpulan.

'Sial… Bodohnya aku… Pergi kemana kau, Melt…?'


Melt yang tidak punya tempat tujuan berlari menuju apartemen reyot tempatnya dan sang Mutter bernaung sebelumnya. Nafasnya tersengal, keringat membasahi bajunya, dan kakinya pegal karena berlari menuju tempat yang jaraknya sedikit berat untuk anak seumurnya. Meskipun begitu tak sekalipun ia berhenti ataupun menoleh ke belakang.

Ia menghentikan langkahnya tepat di depan halaman apartemennya. Melt menunduk dan mencoba mengatur nafasnya kembali. Mengangkat kepalanya, Melt terhenyak melihat cahaya lampu yang menyala dari dalam kamar apartemen lantai dua paling ujung, tempatnya tinggal sebelumnya…

Matanya tercengang… Tidak… tidak mungkin… Seharusnya ia sudah berhenti berharap begitu ia mendapati Mail yang menjemputnya saat sesuatu terjadi pada Ibunya, seperti yang pernah diajarkan Mello, tapi…

"Mutter…" bisiknya lirih. Secepat mungkin ia berusaha mencapai tangga, tapi kakinya terasa lemas. Entah karena ia terlalu lama berlari atau karena…

Mendadak seorang anak laki-laki berlari melewati Melt. Dengan cepat ia menaiki tangga dan membuka pintu kamar apartemen yang juga menjadi tujuan Melt.

"Selamat datang," seorang wanita yang tampaknya Ibu anak itu menyambutnya dengan senyuman hangat, dan keduanya pun masuk ke dalam apartemen.

Melt tertunduk. Ia merasa begitu bodoh, berpikiran Mutternya akan kembali hanya karena lampu apartemen yang menyala.


'Aku sudah… tidak punya tempat untuk pulang…' Begitulah pikirnya berulang-ulang. Baru disadarinya kaki kecilnya telah mengantarnya ke tempat yang tak ia ketahui. Bunyi ombak membuatnya menoleh, melihat gelombang yang saling berseteru pada laut yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri sekarang.

Langit telah gelap, membuat Melt merasa gundah. Tapi ia tidak tahu lagi harus pergi ke mana…

Disandarkannya kedua tangannya pada pagar besi yang memisahkannya dengan ombak laut yang menderu di bawahnya. Ia merasa… pernah melihat tempat ini…

"Taiyaki-nya enak?"

Melt tidak bisa menjawab dengan mulut yang sibuk mengunyah makanan manis yang pertama kali dicicipinya tersebut, maka ia hanya mengangguk singkat. Mulutnya bahkan belepotan akibat taiyaki yang dimakannya secara terburu-buru itu.

Dan pemuda itu tertawa ringan melihat tingkahnya.

Melt menoleh ke belakang. Pada trotoar di seberang jalan itu… Ya, seingatnya dulu disitulah gerobak penjual taiyaki itu berada.

"Gadis kecil," Melt tersentak mendengar teguran dalam logat bahasa Inggris yang agak aneh jelas ditunjukkan padanya, karena tidak ada orang lain disitu. Tampak sesosok pria mengenakan jaket bertudung hingga wajahnya hanya terlihat samar-samar dibalik bayangan.

Pemuda itu tertawa melihat kewaspadaan Melt padanya. Dibelahnya roti melon yang ia bawa dan memberikan separuhnya pada Melt, yang diterimanya dengan ragu-ragu.

Ibunya selalu mengajarkan untuk tidak menerima makanan dari orang asing, bagaimanapun rupanya. Namun melihat orang itu dengan santai melahap setengah bagian rotinya sendiri, Melt yang memang kelaparan pun turut memakan rotinya dengan cepat.


Matt mencari anak itu kemana-mana, kedai es krim, toko permen, toko mainan, dan berbagai tempat yang mungkin dikunjunginya termasuk apartemen Mello.

"Tidak mungkin anak itu pergi ke Disneyland… Ia sama sekali tak membawa uang sepeser pun dan untuk pergi kesana dibutuhkan paling tidak kendaraan, jadi ia tak mungkin pergi jauh…"

Disingkirkannya segala rasa lelahnya, Matt kembali berlari mencari Melt.


"Mau kuantar pulang?" tawar pria itu dengan senyuman. Namun tentunya senyuman itu membuat Melt makin waspada.

"Aku tidak boleh menerima ajakan dari orang asing," jawab Melt tegas sambil menggelengkan kepalanya dengan khas layaknya anak kecil.

Gelak tawa pria itu terdengar. "Kalau kau begitu waspada padaku, kenapa tidak lari saja sekalian?"

"Bu... Bukan begitu...!" serunya dengan wajah merona. "Lagipula aku tidak punya tempat untuk pulang," tambahnya lirih.

"...Bagaimana dengan ayahmu? Pasti saat ini dia sedang mencemaskanmu. Apa kau pergi dari rumah?"

Melt terbayang akan sosok Matt, orang yang paling mendekati peranan 'Ayah' baginya. "Dia sudah tidak peduli lagi padaku. Saat ini dia sedang bersenang-senang dengan pacarnya."

Pria itu hanya bereaksi dengan 'hmm' pendek.

"Lagipula sejak awal dia juga merawatku hanya karena kewajiban…" Melt menggantungkan kalimatnya. Memang, hanya kewajiban kan? Karena itu jika suatu saat nanti Matt punya wanita yang ia akan nikahi, dan berkeluarga, maka takkan ada tempat lagi untuknya...

Nafasnya terasa begitu sesak hingga sulit baginya hanya untuk mengeluarkan kata-kata. Setetes air mata membasahi pipinya. "A… Aku… su…dah ti…tidak punya… tem… pat untuk… pulang!" seru Melt di sela isakannnya.

Pria asing itu membelai kepala Melt. "Tenanglah, Oujo-chan. Begini, apa ayahmu berambut merah dan suka memakai goggle aneh?"

Meskipun bingung atas pertanyaan itu, Melt mengangguk singkat. Air mata masih mengalir di pipinya.

"Kalau begitu kau harus yakin dia sangat menyayangimu sampai-sampai mengejarmu sampai kesini."

Melt terhenyak, ditengokkannya kepalanya ke arah yang dipandang pria itu dan melihat sosok pemuda dengan pakaian bergaris-garis yang sudah begitu familiar baginya berlari ke arahnya.

"Mail…?"

"Kau punya ayah yang baik ya…" Pria itu kembali tersenyum. Dikeluarkannya sesuatu dari tas ranselnya dan diserahkannya pada Melt.

"Paman… ini…?" Melt menatap sebuah boneka kucing hitam berbulu lebat dalam pelukannya dengan bingung.

Pria itu berbalik dan melangkah menjauhi Melt.

"Paman…!". Namun pria itu tetap makin jauh dari pandangan, hingga akhirnya menghilang ditelan kegelapan malam.

"Melt!" dalam sekejap Melt merasakan dua lengan melingkar di lehernya, mendekapnya semakin dekat dengan Matt.

"Syukurlah… Aku takut sekali tidak bisa menemukanmu lagi…" ucapnya dengan ritme tak beraturan akibat nafasnya yang tersengal karena berlari tadi.

Gerakan Melt yang ingin melingkarkan salah satu tangan mungilnya di punggung Matt terhenti, ia ragu untuk menyentuh pemuda itu.


"Kenapa Mail mencariku? Padahal aku kan hanya mengganggu hidupmu saja," tukas Melt yang duduk di kursi penumpang Camaro merah Matt.

Matt yang sedang menyetir melengos. "Dengar Melt, jika aku memang menganggapmu sebagai pengganggu, aku sudah mengirimmu ke panti asuhan sejak awal."

"Tapi bukankah kehadiranku hanya akan mengusik hubungan Mail dengan pacarmu itu? Pasti repot kan kalau mau menikahinya dengan melibatkan anak sepertiku."

Matt tertegun sejenak, sebelum akhirnya tertawa. "Pernikahan? Yang benar saja, Melt. Aku tidak serius berpacaran dengan Sayu…"

Melt malah tampak semakin cemberut. "Begitu? Kau ternyata playboy rupanya… Kalau begitu berapa gadis yang kau pacari saat masih tinggal bersama Mutter?"

"Tidak, tidak ada. Kalaupun ada, itu kan tidak masalah? Aku juga tidak punya hubungan khusus dengan Mello," Matt kembali tertawa kecil.

Melt mengerutkan keningnya. "Bukankah Kau pernah bilang Mutter orang yang berharga bagimu?"

"Yeah, bagiku. Aku tidak tahu bagaimana dengannya."

"… Dengar Mail, aku sudah pasti orang yang sangat disayangi Mutter. Dan pasti ada alasan kenapa dia menitipkanku padamu."

"Tentu saja, ia tak punya lagi orang yang bisa diminta tolong."

"Kalau hanya karena itu, Mutter pasti menitipkanku pada orang berambut putih yang datang tempo hari. Jadi kurasa Mail juga pasti penting bagi Mutter."

Pipi Matt menunjukan sedikit rona merah. "Heh, mungkin kau benar. Yah, semoga saja…"

Melt tersenyum kecil. Tiba-tiba ia teringat akan boneka kucing yang hingga kini masih ada dalam dekapannya. Diamatinya boneka itu.

Sebenarnya untuk apa boneka itu diserahkan padanya? Apa tadinya Paman itu mau memberikannya untuk seseorang, tapi karena suatu alasan malah diserahkan padanya?

Tidak mungkin terselip bom atau semacamnya didalamnya kan? Jika pria itu memang berniat membunuhnya pasti sudah dilakukan saat mereka hanya berdua tadi. Lagipula untuk apa seorang pria membunuh anak kecil yang hanya kebetulan bertemu dengannya?

Pikiran Melt buyar ketika dilihatnya selembar kartu tergantung pada choker boneka itu. Ya, sebuah kartu bertuliskan:

Happy Birthday, May.


To Be Continued


Ngemeng2, saya mau minta pendapat readers tentang Melt... saya sendiri sebenernya gak suka OC, tapi buat cerita ini mau gimana lagi... =.=;a Jadi bagaiman menurut kalian? Apakah karakter Melt sudah cukup enjoyable?

Review nyooooi~!