Death Note Belongs to Tsugumi Ohba & Takeshi Obata
"May, coba panggil aku Otou-san."
Bayi berumur hampir 2 tahun itu menggerak-gerakkan bibirnya, berusaha menirukan suara yang ditujukan padanya tadi. "O.. to… ahn?"
"O-tou- san~" ulang sang pemuda keuturunan Asia.
"O… to…" namun belum sempat sang bayi mungil itu meneruskan ucapan yang ia keluarkan dengan susah payah, seorang gadis pirang menyela pembicaraan itu dengan menyikut kepala pemuda itu.
Yang bersangkutan hanya bisa meringis sambil mengelus kepalanya. "Sakit, Mello-kun~" keluhnya itu dengan nada dibuat-buat.
Mello mendengus. "Sudah kubilang berhenti mengajarkannya hal-hal seperti itu. Dan jangan panggil dia May. Kita tidak tahu kapan bahaya mulai mengintainya dan apa yang bisa terjadi hanya karena mereka tahu nama aslinya."
"Hmph, kan tidak masalah kalau hanya memanggilku dengan sebutan itu. Lagipula kau selalu luluh pada rengekan Matto-kun, kukira cara yang sama akan berhasil padamu. Mengecewakan sekali…"
Mata Mello menyirip. Dipunggunginya pemuda itu hanya untuk mencegahnya mengomentari wajah Mello yang jelas menyiratkan rasa sakit. "Sudah kuperingatkan berulang kali untuk tidak menyebut nama itu lagi," ucapnya dengan dingin.
Namun yang bersangkutan malah tersenyum jahil, baginya mengerjai Mello memang tidak akan pernah membosankan…
Sesekali Matt melirik Melt yang mendadak jadi diam terpaku memperhatikan boneka kucing yang baru diperolehnya itu.
"Kenapa Melt?" teguran Matt membuat Melt sedikit tersentak.
"Nggak apa-apa kok…" Jawabnya sambil menggelengkan kepala mungilnya. Ia merasa hal yang mengusik pemikirannya saat ini bukan sesuatu yang perlu diperbincangkan dengan walinya itu.
Matt sebenarnya merasa aneh, bagaimana bisa Melt mendapatkan sebuah boneka dari orang asing yang ditemuinya secara tidak sengaja? Apa mungkin tadinya boneka itu untuk orang lain namun karena alasan tertentu malah diberikan pada Melt? Tapi kenapa?
Dugaan Matt mengatakan tidak akan ada posibilitas bahaya dari boneka itu, makanya pada akhirnya dia memutuskan untuk tidak memusingkan berbagai pertanyaan yang terlintas di benaknya tadi. Lagipula anak perempuan seumuran Melt suka boneka kan? Yah, biasanya sih…
Walaupun sebenarnya aneh jika dibandingkan dengan Mello kecil yang lebih suka memainkan Matt sebagai 'boneka'nya... Bahkan sampai mereka dewasa, iya kan?
"Wammy's Academy?" ulang Matt pada Near yang berbicara dengannnya melalui telepon.
"Ya," jawab Near yang jelas memakai suara sintetis seperti biasanya. "Jangan bilang kau tidak tahu di daerah ini ada cabang akademi untuk anak jenius yang juga dibangun Watari."
"Well, kau kan tahu aku sudah tidak ada kontak samasekali dengan hal-hal yang berkaitan dengan Wammy's, L, dan hal-hal semacam itu," Matt beralasan.
Terdengar helaan nafas Near. "Terserah, aku akan mengirimkan informasi mengenai sekolah itu melalui e-mail. Kau belum menemukan sekolah yang cocok untuk anak itu 'kan? Kurekomendasikan sekolah itu untuknya."
Matt mengerutkan kenignya, entah kenapa dia sedikit merasa enggan jika Near mulai membahas tentang Melt. "Makanya, sebenarnya kenapa sih kau begitu peduli pada…"
Namun Near yang merasa sudah menyampaikan semua yang menurutnya perlu langsung memutuskan sambungan tanpa mendengar secara lengkap pertanyaan Matt.
"Cih," dengus Matt. Tak lama terdengar quote 'Mama mia~' milik Mario Bros dari laptopnya, pertanda e-mail masuk. Seperti dugaan Matt, itu adalah e-mail dari Near yang tadi dijanjikannya.
Mata Matt menyusuri barisan kalimat berisi prospek-prospek yang akan sangat menjanjikan bagi masa depan seorang anak yang dibahas disitu. Well, sejujurnya ia juga tidak terlalu peduli akan keunggulan- keunggulan sekolah itu. Baginya asalkan Melt bisa menemukan sekolah baru yang cocok dengannya, itu sudah cukup.
Tapi apa Wammy house bisa menjadi tempat yang cocok untuk Melt?
"Wammy's Academy hebat sekali!" seru Melt begitu menemui Matt yang menjemputnya di pintu gerbang akademi sepulang sekolah dari hari pertamanya.
Matt tersenyum. "Baguslah kalau kau merasa begitu."
"Pelajarannya keren sekali! Psikologi kriminal, hukum liberalisme, analisis Spatial, Code Breaker, aku suka semuanya! Ah, tapi yang paling kusukai itu pelajaran tambahannya, mereka mengajarkan membedakan jenis dan keunggulan berbagai jenis senjata api! Cara membidiknya juga!" ucap Melt riang sambil mempraktekan cara membidik senjata yang diajarkan padanya tadi, dengan senjata imajiner tentunya.
"Baguslah kalau… EH? SIAPA YANG MENGAJARIMU HAL SEPERTI ITU, MELT?"
Bagaimanapun juga, Matt juga alumni Wammy's House, meskipun cabangnya berbeda. Pelajaran yang diberikan Wammy's memang sedikit 'berbeda'. Kurikulumnya fokus pada pelajaran yang membantu para muridnya meraih profesi seperti detektif, menjadi agen setingkat FBI atau CIA, atau semacam itu. Tapi seingatnya tak pernah ada pelajaran seekstrim mengajari muridnya menggunakan senjata api… Setidaknya tidak untuk anak setingkat Melt. Apa karena kurikulumnya sudah berubah?
Tapi melihat Melt yang tampak bersemangat mengikuti pelajaran di Wammy House, Matt memutuskan untuk tidak ambil pusing.
"Tadi seorang alumni bernama Beyond Birthday mengajariku secara khusus," terang Melt. Ups, sepertinya memang masih ada yang harus dipusingkan Matt.
"Lalu? Sudah mendapat teman baru?" Matt bertanya, memutuskan untuk tidak membahas soal daftar panjang kriminalitas guru Melt pada anak itu.
Dalam sekejap kegirangan Melt seakan diberi jeda. Mulutnya bungkam untuk beberapa saat, sampai pada akhirnya ia menggeleng.
Matt mengerutkan kening. "Kenapa? Sulit bagimu untuk bersosialisasi?"
Kali ini Melt yang mengerutkan kening. "Harus ya?"
"…Apa?"
"Aku memang harus bersosialisasi? Mencari teman?" ulang Melt dengan nada yang lebih aneh dari yang sudah digunakan Matt barusan.
Matt menghela nafas. Ia sendiri juga sebenarnya anti-sosial; namun seharusnya itu tak menjadi alasan untuk menyulitkannya mendorong Melt mencari teman…
"Melt, sekolah memang tempat untuk mencari ilmu, tapi bergaul dan mencari banyak teman juga penting," Matt mencoba menjelaskan.
"Untuk apa?" Melt balik bertanya.
"Ehh, well…" dan kali ini, statusnya sebagai anti-sosial menyulitkan Matt untuk mendorong Melt mencari teman. Karena ia sendiri tidak terlalu paham gunanya teman. Jika sedang bosan, konsol gamenya selalu setia di sisinya. 'Untuk dijadikan anak buah,' begitulah kira-kira jawaban Mello yang diperkirakan Matt jika dilontarkan pertanyaan yang sama. Tapi tentu saja Matt tidak bisa memberikan jawaban macam itu pada Melt kan?
"…Mail? Lagi-lagi kau bengong~" protes Melt sambil menggembungkan pipinya, membuyarkan lamunan Matt.
"Ah, maaf," tukas Matt yang masih memikirkan pertanyaan di kepalanya. Ia memang berpendapat akan lebih baik bagi Melt seandainya anak itu punya banyak teman, tapi kenapa? Ia sendiri tidak pernah menganggap pergaulan itu sesuatu yang berguna di masa kecil; ehm, sebenarnya sih sampai sekarang. Kecuali untuk beberapa 'urusan' seperti penyelidikan atau semacamnya…
Akhirnya Matt memutuskan untuk kembali membujuk Melt setelah ia sendiri bisa menjelaskan padanya manfaat dalam bergaul. Digiringnya gadis kecil itu untuk masuk ke Camaro-nya. Setelah Melt memposisikan dirinya di kursi penumpang depan, barulah Matt menyadari…
"Melt, kau membawa boneka itu sampai sekolah?" tanya Matt begitu melihat boneka kucing hitam yang tempo hari didapatkan Melt bersandar di pangkuan anak itu.
Sesaat Melt terlihat tegang, sebelum akhirnya ia mengangguk singkat. "Pihak sekolah mengizinkannya selama tidak menganggu kegiatan belajarku kok~" sungutnya.
"Bukan itu masalahnya. Kenapa kau membawa-bawanya sampai sekolah?" tanya Matt.
Melt terlihat sedikit gelagapan. "Ng… itu… eh, nggak apa-apa kan?"
Menyadari akan sia-sia saja jika ia memaksakan Melt menjawab pertanyaan itu lebih lanjut, Matt hanya bisa mengerutkan alisnya.
Apa Melt memang begitu menyukai boneka itu?
Entah kenapa Matt merasa bersalah memikirkan hal itu. Selama ini Matt hanya bisa meminjami Melt game-game lama miliknya untuk menghibur gadis kecil itu. Sekarang hanya ialah satu-satunya tempat bersandar Melt, harusnya Matt lebih bertanggung jawab pada segala kebutuhannya.
Melt masih kecil. Dan bukankah tugas utama seorang anak-anak itu adalah untuk bermain dan bersenang-senang? Minimal, Matt tidak ingin Melt menjadi orang yang hancur akibat obsesinya sendiri seperti Mello…
Kesadaran Melt sudah semakin samar, tubuh mungilnya terbaring diatas ranjang yang nyaman didalam kamarnya. Malam yang semakin larut mengantarkannya ke alam mimpi, namun…
"… Kau bisa mendengarku? Jawablah…"
Dan dalam sekejap mata, kesadarannya telah kembali terkumpul. Digerakkannya tubuh mungilnya dengan kecepatan yang jarang ia keluarkan ke arah terdengarnya suara itu; suara serak yang seperti berasal dari radio tua. Namun ia takkan salah mengenalinya, suara milik seseorang yang paling ia rindukan, suara yang paling ia kenali sepanjang usianya yang bahkan belum menginjak tahun ke-sepuluh…
"Mutter…"
Ini adalah kali kedua ia mendengar suara itu, pertanda kemungkinan itu bukan hanya khayalannya semata makin besar. Dengan erat didekapnya boneka kucing hitam itu dalam pelukannya.
"Mello-kun."
Tanpa menoleh lagi Mello sudah tahu siapa yang memanggilnya. Satu-satunya orang di seluruh penjuru Wammy House yang memanggilnya seperti itu hanyalah seorang pemuda Asia yang berusia beberapa tahun diatasnya.
"F…" Mello bangkit berdiri dan menjauh dari Matt untuk berbicara dengannya, membuat bocah berambut merah itu sedikit gusar karena merasa waktunya dengan Mello jadi terganggu.
"Duluan ya, Matt. F mengajakku bermain basket," ucap Mello pada akhirnya. Matt hanya melambaikan tangannya meskipun sebenarnya hatinya dongkol. Lagi-lagi F merebut apa yang seharusnya miliknya; setidaknya menurut pemikirannya.
F adalah anak dengan otak cemerlang didukung kemampuan motorik yang menjanjikan, namun dia bukanlah anak dalam jalur penerus L. Dia dididik menjadi 'orang dibalik layar' yang akan menjadi observator, sekaligus pion bagi L.
F. Feel. Code name unik yang dianugerahkan padanya atas kemampuannya memanipulasi perasaan orang-orang.
Dan sudah pasti Mello lebih suka bermain dan berolah raga dengannya ketimbang menghabiskan waktu dengan Matt yang lebih suka mengurung diri di kamar dengan konsol-konsol gamenya. Seharusnya Matt mengerti sekali soal itu, namun tetap saja perasaan kesal yang memenuhi sudut hatinya tiap Mello lebih memilih meninggalkannya tidak bisa hilang.
Itu… apa namanya cemburu?
Mimpi Matt terputus begitu pemuda itu membuka matanya pada tengah malam. Ia menyentuh pelipisnya yang sedikit basah karena bulir keringat. Mimpi itu…
Jika memikirkannya lagi, hatinya bertambah galau. Terakhir kali ia mendengar tentang F adalah saat usianya menginjak 13 tahun, yang ia ingat F terjun ke daerah Asia Tenggara dan menyelesaikan berbagai kasus disana.
Jika ada orang yang bisa dipercayai Mello sepenuh hati selain dirinya, itu pastilah F.
Jika dugaannya benar… Dan jika F memang masih meneruskan hidupnya entah dimana… Matt bisa saja langsung mencari lokasi pemuda itu untuk mengetahui jati diri ayah Melt yang sebenarnya...
To be Continued
F itu sebenernya bukan OC, melainkan tokoh yang muncul di movie 'L change the World', tapi itupun cuma sebentar dan langsung matek. Jadi informasi mengenai dia disini saya manipulasi demi alur cerita fic, termasuk kenyataan bahwa sebenarnya umurnya jelas jauh lebih tua daripada Mello. Jadi selain dia emang keturunan Asia, tolong jangan mempercayai info mengenai F disini ya... :P
Review, ne?
