Death Note belongs To Takeshi Obata & Tsugumi Ohba


"Bisakah kau memenuhi permintaanku? Ini mengenai F…"


Melt tidak habis pikir. Kesal, kecewa, dan resah berkelut menjadi satu di pikirannya. Baru beberapa hari yang lalu Matt meyakinkannya bahwa gadis kecil itu bukanlah pengganggu baginya, bahwa ia bisa tinggal bersama pemuda itu selama yang ia mau…

Tapi apa? Kini Matt malah meninggalkannya. Dengan alasan sebuah misi, ia menitipkan Melt pada Near.

"Aku pasti kembali," Matt membelai rambut Melt, berusaha meyakinkan anak itu. Melt, masih dengan ekspresi cemberut menghindari tatapan Matt.

"...Mutter juga mengatakan hal itu, tapi ia tidak pernah pulang."

Matt terhenyak.

"…Melt, aku pasti akan kembali. Pasti, secepat mungkin," Didekapnya Melt erat-erat. Karena ia tahu, sebenarnya ia tidak benar-benar bisa menjamin keselamatan nyawanya sendiri pada misi ini. Tapi dia akan berusaha. Pasti.

"Aku pasti akan kembali. Bersama ayahmu," bisiknya.

Matt pun melangkah pergi, meninggalkan Melt tertegun dengan sejuta pertanyaan.

Ayah…

... 'Otou-san'?


"Otou-san artinya ayah… kan?" ujar gadis kecil itu, lebih menyerupai pernyataan daripada pertanyaan.

Pemuda itu tersenyum sembari mengangguk singkat.

"...Kalau begitu, apa kau adalah ayahku?"

Pemuda itu terhenyak. May menjaga mulutnya tetap bungkam, dengan tenang menunggu respon dari lawan bicaranya.

Senyuman pahit terukir pada wajah F. "Alangkah baiknya kalau memang begitu. Tapi aku samasekali tak punya hubungan darah denganmu."

May menunduk kecewa. "Kalau begitu selama ini aku yang salah 'kan? Aku tidak boleh lagi menganggapmu 'ayah'?"

"...Tidak jika kau tidak keberatan dengan 'Ayah palsu'" F membelai rambut pirang gadis kecil itu dengan lembut.

May menyandarkan kepalanya di pangkuan pemuda itu. "Bagiku tidak apa-apa. 'Ayah palsu' pun tidak apa-apa…"

Mello selalu menyibukkan diri dengan tumpukan kasus yang menjadi tanggung jawabnya sebagai detektif swasta sekaligus ketua mafia, dua profesi yang saling bertolak belakang. Dan May selalu menahan dirinya untuk mengeluh. Ia tidak ingin beban ibunya bertambah hanya gara-gara keinginan egoisnya untuk bermanja-manja padanya.

Dan disaat ia sendirian, 'Ayah palsu' akan datang dan menemaninya seharian.

Bukankah itu berarti 'Ayah palsu' jauh lebih baik dari pada ayah biologis yang tidak pernah mau bertemu dengannya?


"Tidak ada…" ucap Melt dengan suara parau seakan menahan tangis.

Near menoleh sekilas untuk melihat raut kusut Melt. Mendesah, Near pun bangkit dari kursinya untuk meladeni anak itu. Toh sudah berjam-jam ia berkutat dengan data-data kasus tanpa istirahat samasekali.

"Ada apa, May?"

"Boneka itu… tidak ada..." bulir-bulir mulai air mata mulai mengalir dari pelupuk matanya.

Near mengernyit. Boneka? Putri Mello yang dirawat oleh seorang techno nerd macam Matt suka bermain boneka? Dan lagi… Sampai menangis karena kehilangannya? Dari kabar yang didengarnya dari Matt, Melt bahkan tidak menangis sewaktu tahu orang tua tunggalnya meninggal. Tentunya ada saat-saat yang membuat gadis kecil itu depresi, tapi itu lain soal.

Tapi toh akhirnya Near tetap berusaha menghibur Melt. Disekanya air mata pada pipi gadis kecil itu. "Menangis tidak akan menyelesaikan apapun. Carilah jika menurutmu itu memang penting."

Setelah terisak beberapa kali, Melt mengangguk. Pancaran matanya kembali mengeras seperti biasanya.

"Kalau begitu, mulailah mencari," usul Near. Ia memutuskan untuk tidak membantu anak itu samasekali, meskipun besar kemungkinan Melt akan tersesat jika berkeliling sendirian di gedung penyelidikan yang besar itu. Tapi dari situ Near bisa mengetahui, sejauh manakah kepintaran anak yang mewarisi darah rivalnya?

"Daripada repot-repot kucari, bagaimana kalau melihat dari laptop Nate? Laptop itu sudah dihubungkan ke CCTV di seluruh ruangan gedung ini kan?"

… Benar-benar anak hasil didikan Matt. Kelihatannya Near terlalu meremehkan.


Tentunya dengan cara itu, dalam hitungan menit Melt sudah mendapatkan bonekanya kembali. Wajahnya langsung kembali cerah, hampir tidak terlihat bahwa Melt baru saja menangis.

"Aku detektif nomor 1 di dunia, dan masih tidak paham kenapa anak perempuan suka sekali dengan kain tidak bernyawa berisi kapas yang dibentuk menyerupai binatang," celetuk sang pemuda albino.

Melt tidak merespon komentar itu dengan kemarahan. Dengan ceria ia menjawab, "boneka ini istimewa, kadang aku bisa mendengar suara Mutter darinya."

Near terhenyak. Direbutnya boneka itu dari dekapan Melt.

"Hei, apa yang kau…!" Belum selesai Melt memprotes, Near merobek kain boneka itu dengan cutter, benda tajam terdekat yang bisa diraihnya. Jika dugaannya benar, maka didalam boneka ini ada sesuatu, seperti…

Sebuah Walkie Talkie.

Bingo.


Kasus penyelundupan berton-ton narkoba ke Jepang. Melibatkan mafia dari berbagai negara, termasuk mafia yang dulunya dipimpin Mello. Sedikitnya bukti dan rencana operasi yang rumit mempersulit para polisi. Sekelompok penyelidik illegal menunjukan hasil yang pesat dalam mengobservasi kasus itu, bahkan melebihi polisi Jepang. Namun tindak-tanduk mencurigakan serta identitas mereka yang misterius membuat mereka dicurigai pihak kepolisian dan menyebabkan terhambatnya mereka dalam menyelidiki kasus itu lebih lanjut. Tak hanya itu, ancaman dari pembunuh yang berasal dari para mafia juga setiap saat bisa menyergap.

Itulah rangkuman isi data-data misi Matt yang dibacanya sambil berjalan di bandara Jepang setelah berjam-jam waktu perjalanan dengan pesawat. Sebenarnya ia samasekali bukan orang yang mau mengorbankan diri menjadi pion Near dalam memecahkan kasus. Tapi misi kali ini berbeda… Ia melakukannya juga untuk kepentingan dirinya. Ada sesuatu yang harus ia pastikan dengan mata kepalanya sendiri…

Dengan segera diambilnya ponsel miliknya begitu merasakan getaran dari kantong Vest bulunya.

"Seperti dugaanku, dengan mencocokkan frekuensinya kita bisa mengetahui posisinya…" ujar Near di seberang sana dengan suara sintetis, lebih seperti bicara pada dirinya sendiri daripada memberi tahu Matt.

"Apa?"

"Walkie Talkie ini… Melt yang… Tidak ada waktu untuk menjelaskan, Aku sudah mengetahui lokasinya, pergilah kesana secepat yang kau bisa."


Ia mendesah. "Dasar… Hanya karena 5-6 orangku berkhianat jadi repot seperti ini. Aku harus bergerak lebih cepat dari polisi dan menghentikan mereka bagaimanapun caranya, Jika mereka sampai tertangkap hukum, organisasiku jugaakan terkena resikonya."

Ditekannya detonator bom di tangannya. Selang beberapa detik terdengar suara ledakan disertai kepulan asap dan api yang menyala-nyala dari gedung yang kini telah hancur menjadi puing-puing. Lidah api menyambar-nyambar, dalam hitungan menit mungkin akan melenyapkan tempat itu sampai tak bersisa, bersamaan dengan barang bukti dan orang-orang di dalamnya.

Mission clear.

Hanya dengan 'BOOM' dan semuanya beres. Kenapa sulit sekali untuk menemukan lokasi mereka? Ia mencaci dirinya sendiri atas kelambanannya dalam menyelidiki hal itu. Jika saja ia punya kemampuan manghacking sehebat pemuda itu…

Tidak. Digelengkan kepalanya. Lupakanlah… Orang itu tidak akan pernah lagi masuk ke kehidupanmu… ucapnya dalam hati pada dirinya sendiri.

Yang penting sekarang semuanya sudah beres. Ia bisa pulang dan menjemput anak itu. Meyakinkannya semuanya akan baik-baik saja. Tunggu… anak itu… bagaimana keadaannya sekarang?

Posibilitas yang paling mungkin adalah Near segera mengambilnya begitu mendengar orang yang merawatnya telah tiada, posibilitas kedua… bahwa pesannya telah tersampaikan dan Matt benar-benar mau merawat anak itu…

Ia sendiri menyadari kemungkinan posibilitas kedua terjadi tidak sampai 50%, tapi bagaimanapun juga hati kecilnya tidak bisa berhenti berharap.

Untuk mengetahui kondisi anak itu ia sudah mengirimkan F tak lupa membekalinya sebuah alat komunikasi. Dan sekarang? Tak ada satupun kabar darinya. Mengingat pemuda itu sangat ceroboh untuk hal yang sangat remeh sekalipun, ia takkan heran lagi seandainya entah bagaimana Walkie Talkie itu tercebur ke samudra Pasifik. Berkali-kali ia menghubunginya, tak ada jawaban dari pemuda itu.

Reflek, ia langsung memijit dahinya begitu pandangannya makin mengabur.

Langkahnya terasa makin berat. Kepalanya penat dan fisiknya semakin sulit untuk menuruti otaknya. Ia sudah tidak ingat kapan terakhir kali tidur atau makan sesuatu yang bergizi. Kasus ini memaksanya untuk bekerja ekstra keras, sama seperti kasus Kira dulu… meskipun levelnya jauh berbeda.

Bagaimanapun juga ia ingin kasus ini cepat selesai, agar ia bisa segera pulang…

Karena kali ini, ia tidak sendirian. Kali ini, ada orang yang pasti masih berharap ia akan kembali meskipun ia mengkamuflasekan dirinya sendiri dengan kematian…

Pandangannya mengabur, kelihatannya fisiknya benar-benar terasa begitu lemah. Dan disaat ia merasa tak kuat menopang dirinya sendiri, sepasang tangan dibungkus sarung tangan hitam dengan sigap menahannya.

"Shit, sudah berulang kali kuperingatkan... kau menghancurkan dirimu sendiri, kau tahu?"

Suara itu… kondisi itu…semuanya mengingatkannya pada kejadian 8 tahun lalu…

Markas mafia, ledakan, rasa panas dan sakit luar biasa menjalari tubuhnya. Dan disaat terakhir, ketika ia pikir ia akan mati karena salah taktik…

"Matt…"

Pemuda itu tidak membalas, hanya menunjukan senyum yang memancarkan rasa lega sekaligus kekhawatirannya.

Hal itulah yang terakhir Mello lihat, sampai pandangannya menjadi gelap samasekali.


Finally, once again I've found you...


"...Maaf."

Hanya itu yang keluar dari mulutnya setelah rentetan kejadian panjang yang membuatnya tersadar dalam sebuah ruangan di rumah sakit disambut dengan ceramah panjang lebar dari Matt.

"Maaf? Hanya itu yang kau ucapkan setelah meninggalkan anakmu, huh? Dan berpura-pura mati! Apa kau tidak memikirkan perasaannya? Dia anakmu sendiri, kau tahu..!"

Mello mengerutkan keningnya, memberi isyarat agar Matt memelankan suaranya sambil menunjuk Melt yang tengah tertidur dengan kepala bersandar di kasur rumah sakit tempat Mello dirawat. Anak itu sudah menunggui Ibunya semalaman selama ia pingsan, dan jatuh tertidur pada pagi hari. Bukan main senangnya begitu gadis kecil itu tahu keluarganya satu-satunya tidak benar-benar meninggal.

"Aku minta maaf jika sudah merepotkanmu dengan menitipkan Melt. Menurut dugaanku,akan lebih baik jika kau yang merawatnya, bukan Near. Makanya aku mengirimkan pesan itu begitu tahu tidak bisa kembali dalam jangka waktu panjang."

"Tapi bukan berarti kau harus mengirimkan pesan seperti surat wasiat begitu kan?" sungut Matt, kali ini dengan volume suara yang lebih kecil.

"Selain dengan cara itu, aku ragu kau akan merawatnya."

Matt tercekat.

Ingin ia menepis kata-kata itu. Namun mulutnya seakan terkunci, karena ia tahu kalimat itu tidak sepenuhnya salah.

Mello menghela nafas. "Bagaimanapun aku mengambil alih sepenuhnya tanggung jawabku pada Melt. Kau tidak perlu lagi memikirkan anak ini."

Entah kenapa, Matt merasa emosinya kembali memuncak. "Daritadi… Selalu saja... kenapa kau merasa seakan Melt itu membebaniku? Kau pikir aku tipe orang tidak punya hati yang menerima tanggung jawab macam ini dengan terpaksa? Jika aku memang tidak suka, sudah sejak awal ia kukirimkan ke panti asuhan, kau tahu! ...Aku… Aku juga menyayangi Melt…" Matt tertunduk.

Mello tertawa kecil. "Yeah? Kukira kau benci anak-anak."

Matt memaksakan senyumnya. "...Seharusnya memang begitu..."


Hari itu, 26 Januari 2010, Matt bertekad untuk menyampaikan perasaannya pada Mello setelah aksi terakhirnya menuntaskan kasus Kira berakhir. Mereka memang pernah melakukan... ehm... hal-hal 'tertentu' yang ganjil jika dilakukan bukan oleh sepasang kekasih, tapi hingga detik itupun belum pernah Matt menyatakan perasaannya pada Mello secara literal. Sayang semuanya tidak berjalah seperti seharusnya begitu beberapa peluru yang ditembakan para pengawal Takada berhasil menembus tubuhnya. Untungnya Tuhan masih berbaik hati mau memanjangkan sisa hidupnya; karena tidak ada satupun dari belasan peluru itu yang menembus bagian-bagian vital tubulnya.

Meski kondisi tubuhnya belum pulih benar, Matt memutuskan utnuk segera pulang setelah beberapa hari menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Kala itu pun tak sekalipun Mello menjenguknya. Matt mengerti Mello tidak mau mengambil resiko dengan berada di tempat umum yang membuat identitasnya mencolok seperti rumah sakit. Saat ini yang menanggung biaya dan registrasi yang diisi dengan data-data palsu adalah Near.

Matt memacu Camaro-nya semakin cepat, tak sabar untuk betemu Mello. Selama ini, hubungan mereka mungkin terlihat seperti hubungan kekasih, tapi itu hanya dari luar. Matt sendiri menyadari bahwa Mello menganggap hubungan mereka hanya berdasar dari hasrat belaka.

Karena itu hari ini ia akan menyampaikan perasaannya yang sebenarnya, menahan Mello untuk tidak lagi mempertaruhkan nyawanya dalam kasus bodoh hanya untuk mengalahkan Near. Agar gadis tidak menghilang lagi dari Matt, seperti dulu…

Karena jika hal itu sampai terulang kembali, Matt sudah tidak tahu lagi bagaimana caranya melanjutkan kehidupannya yang terasa begitu kosong seperti saat Mello meninggalkan Wammy's House.

Setelah memarkirkan Camaronya di halaman apartemen, dengan langkah tergesa-gesa menuju kamar yang ditujunya... hanya untuk menemukan selembar kertas memo bertuliskan 'Good Bye'.

Semua barang-barang Mello pun telah menghilang.

Ia terlambat…. Lagi.

Selama 3 tahun Matt tidak pindah dari kamar apartemen reyot itu. Meski uang yang diperolehnya dari membantu 'pekerjaan kotor' perusahaan-perusahaan besar dengan kemampuan hackingnya sudah sangat cukup untuk menyewa apartemen yang jauh lebih baik, namun ia selalu menundanya. Hari-hari berlalu, tak peduli bagaimanapun pikirannya memaksanya untuk melupakan Mello, hati kecilnya tidak pernah berhenti menunggu; berharap Mello akan kembali dan mengucapkan 'Aku pulang' seperti saat ia pertama membuka mata setelah pingsan akibat ledakan di markas mafia begitu melihat Matt.

Setiap harinya ia isi dengan penyesalan, mengapa ia tidak mengatakan hal itu lebih cepat? Mungkin dengan begitu Mello tidak akan meninggalkannya, meskipun tidak ada jaminan pasti untuk itu.

Setelah 7 tahun berlalu, Matt telah menikmati kehidupan yang nyaman di Amerika dengan profesi guru yang ditekuninya setengah hati. Ia tak lagi merasa menderita hanya karena keabsenan Mello dalam kehidupannya, hingga…

'Mail, ayo bangun, dasar pemalas! Apa kata muridmu nanti kalau gurunya telat?'

Celetuk, omelah dan protesan Melt seakan mengantar Matt kembali ke masa lalu, dimana Mello selalu memarahi dan menceramahinya untuk tidak membolos, main game seharian, atau hal-hal remeh lainnya. Pada masa-masa itu Matt merasa bersama Mello adalah hal yang sangat lazim. Ingatan yang tercipta dari momen yang sepenuh hati ia coba enyahkan dari pikirannya untuk melarikan diri dari rasa sakitnya mengalir kembali secara alami.

Dan Matt sadar, selama ini ia telah berbohong pada dirinya sendiri. Bahwa ia akan baik-baik saja tanpa Mello, bahwa ia bisa meneruskan hari-harinya terlepas dari ada tidaknya gadis blonde itu dalam kehidupannya…

Mungkin benar kata pepatah, kita baru menyadari betapa berharganya sesuatu jika kita tidak memiliknya lagi.

Sosok Melt seakan bisa menjadi pengganti Mello, mengobati kerinduan dan rasa sakit yang ditahannya selama bertahun-tahun. Tidak sulit baginya menyayangi gadis kecil itu.


"Setelah ini… apa aku masih boleh menemui Melt?" tanya Matt dengan suara lirih.

Mello terdiam sejenak. "Kau... kenapa begitu menyayanginya?"

Lamat-lamat bibir Matt tertarik, melukiskan seulas senyum pahit di wajahnya. "Entahlah, mungkin karena dia mirip denganmu. Menyebalkan, egois, berisik, dan selalu saja ribut mengurusiku. Aku tidak yakin apa perasaan ini bisa disebut 'sayang', tapi yang pasti... aku peduli padanya."

Mello membelai kepala Melt yang masih terlelap. "Mirip denganku, huh? Kukira dia lebih mirip denganmu… cuek tapi sebenarnya cengeng, urakan,submisif, dan… aku yakin setelah beberapa bulan tinggal denganmu adiksinya pada game bertambah berkali-kali lipat… Aku tidak mengerti kenapa kecintaan game bisa menurun karena hubungan darah."

Matt tertawa kecil. "Tentu saja, bagaimanapun game itu… Tunggu, hubungan darah katamu?"

Mello mengerutkan kening. Ini sudah kesekian kalinya ia harus sabar menghadapi kepolosan (kebodohan?) Matt dalam menyimpulkan sesuatu yang seharusnya begitu mudah…

"Bukankah Melt itu anak F?"

Dan kali ini, Mello merasa bimbang antara tertawa sarkastis,menjitak Matt, atau membentaknya lebih dulu.

...Tapi akhirnya Mello memutuskan untuk menghela nafas dan menjawab,"F seringkali bekerja sama denganku setelah aku kembali menjalankan peran sebagai ketua mafia. Dulu Melt sempat menyangkanya sebagai ayahnya, jika ia menceritakan sesuatu mengenai itu padamu tak mengherankan kau juga jadi salah paham."

Matt menatap Melt yang masih menutup matanya itu lekat-lekat dengan pandangan tak percaya. Anak ini… anak yang sudah 3 kali menghapus save-an gamenya, 5 kali seenaknya melanjutkan dan menamatkan game yang ia mainkan seenaknya, dan 7 kali mengalahkannya dalam game fighting atau race ini adalah darah dagingnya?

"Dengan 'imbalan' yang kutawarkan padamu untuk membantuku dalam kasus Kira, bisa-bisanya kau tidak terpikir mengenai posibilitas Melt adalah putrimu sendiri… Dan kau pikir aku mau melakukannya dengan orang lain? Itukah pandanganmu tentangku, Matt? Kau benar-benar membuatku kecewa…" ujar Mello dengan seringai khasnya dan nada sedih yang jelas dibuat-buat.

"…" Matt hanya bisa terdiam seribu bahasa dengan mata terbelalak. Ia merasa begitu terkejut… dan malu. Malu karena merasa begitu bodoh tidak menyadari hal yang seharusnya memang sudah jelas seperti yang sudah disinggung Mello tadi.

"Kenapa kau… tidak bilang padaku sejak awal? Mengenai kehamilanmu…"

Mello mendesah. "Aku sendirilah yang menawarkanmu 'imbalan' itu, maka ini adalah tanggung jawabku. Kukira hal semacam ini hanya akan membebanimu. Tapi melihat Melt sepertinya begitu mempercayaimu… Sepertinya dugaanku meleset, ya?"

Matt mendengus gusar ."Lagi-lagi… Che, kau benar-benar menganggapku orang yang tidak bertanggung jawab, huh? Kau pikir atas dasar apa aku menerima imbalan yang kautawarkan dan berkali-kali mempertaruhkan nyawaku untuk membantumu? Aku mencintaimu dan seharusnya kau tahu itu sejak awal, bodoh!"

Mello terhenyak. "Matt…"

"Mello..."

Matt menyentuh pipi Mello dengan salah satu tangannya, perlahan didekatkannya wajahnya pada perempuan yang setengah wajahnya tertutup luka bakar itu…

DHUAKK!

Suara benturan keras, diiringi ringisan dari Matt dan Melt yang baru terbangun dari tidurnya dan sukses membentur dagu Matt.

"Uhh… Kepala Mail ngapain diatas kepalaku? Sakit nih!" keluh Melt tanpa merasa berdosa atas momen yang telah ia hancurkan tanpa sadar.

"Kau sendiri kenapa tiba-tiba mengangkat kepalamu begitu?" Matt yang mengelus dagunya yang masih terasa sakit tidak mau kalah.

"Kalau bangun tentu saja mengangkat kepala, Mail bodoh, bodoh! Makanya jangan kebanyakan tidur, bangun saja kau tidak becus!"

Dan Mello hanya tertawa kecil mendengar pertengkaran yang ujung pangkalnya tidak jelas itu berlanjut.


"Mutter, setelah ini… kita akan tinggal sama-sama lagi kan?" tanya Melt setelah akhirnya membuat Matt bungkam dengan pertanyaan 'Sebenarnya tadi Mail mau ngapain?'.

Mello mengangguk singkat.

"Ng… tapi… Mail…" Melt melirik Matt.

Mello dan Matt bertukar pandang.

"Kita tinggal berdua… di apartemen Matt."

"… Hah?" hanya itu reaksi yang bisa dikeluarkan Matt.

"Apartemen kita sudah dipakai orang lain 'kan? Atau… kau keberatan, Matt?"

Matt menggeleng dengan cepat. Tentu saja ia tak keberatan, tapi…


Double Mello. Double psycho. Double obsessive, tricky bastard. What a troublesome 'family'… But it was a happy ending, wasn't it?


"Hey, Mail, apa aku perlu memanggilmu 'Vatti'?"

"Huh?"


-Fin-


Huwaah~ selesai! Akhirnya... TTATT. Gomen kalo ada typo~ Ini termasuk fic yang paling saya suka, semoga reader bisa menikmatinya juga :)

Bergembiralah bagi kalian yang tebakannya bener bahwa Matt itu ayah biologis Melt n Mello masih idup~ walaupun saya sedikit kesel ada beberapa reader yang bisa ngebaca alur cerita saya... *PLAK*

Thanks banget buat para reader yang udah meluangkan waktunya untuk membaca cerita ini, apa lagi meng-review~ :D maap saya nggak bisa membalas review satu-persatu...

Buat yang masih bingung sedikit, sebenernya F sengaja nyelipin Walkie Talkie itu karena dia sayang Melt dan mengingingkan 'keluarga yang utuh' untuk kebahagiannya. (SFX: oh~ so sweet~ *taboked*). Kalo ada yang berminat(?), saya usahain bakal ada satu chap tambahan lagi~

Akhir kata, seperti biasa... gimme your last review for this fic please~? ;)