Chapter 2 nih... agak bingung juga masang plotnya, _ tapi mw gimana lagi??

duh, maaf kalau mengecewakan...


Chapter 2. Giotto


"Maaf, apa aku salah kamar?" tanya laki-laki asing itu. Spanner dan Tsuna bertatapan satu sama lain.

"Hmm, bagaimana cara menjelaskannya ya?" kata Spanner sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, memikirkan cara terbaik untuk menjelaskan situasi rumit ini. "Entah kau akan percaya atau tidak tapi…"

Kemudian Spanner dan Giannini mulai menceritakan kejadian dari awal, dari mulai Giannini yang merusak TYL Bazooka sampai Spanner yang salah tembak. Tapi di luar dugaan, laki-laki itu mengangguk-angguk mengerti walau terkadang memperlihatkan ekspresi terkejut.

Sementara Tsuna hanya memperhatikan laki-laki asing itu sebentar. Sebenarnya dia mirip sekali dengan Tsuna. Hanya saja laki-laki itu lebih tinggi, dengan rambut pirang dan mata biru seperti langit.

Tunggu sebentar, rasanya pernah kulihat, di mana ya?

Saat Tsuna tengah mengingat siapa laki-laki itu, tiba-tiba pintu laboratorium terbuka keras.

"Suara ledakkan apa tadi?" teriak laki-laki berambut silver. Semua orang di ruangan itu menoleh.

"Gokudera-kun!" seru Tsuna.

"Juudaime!" Gokudera langsung berlari menghampiri Tsuna. "Kau baik-baik saja? Apa yang terjadi?"

"S-sebenarnya…" Tsuna menoleh ke arah laki-laki asing tadi, Gokudera juga ikut menoleh dan terkejut bukan main, matanya melebar, mulutnya terbuka hendak mengatakan sesuatu, namun seperti tertahan di tenggorokannya. Dia menunjuk laki-laki yang masih duduk di atas meja itu dengan gemetaran sambil mulai bergumam.

"V-V-Vo-Vo-Vongola Primo!" pekik Gokudera seperti baru saja melihat hantu. Laki-laki yang dipanggil Vongola Primo itu menatap Gokudera dengan tatapan tak percaya. Mungkin dia keheranan karena Gokudera mengenalinya.

"Eh? Vongola…Primo…?" ulang Tsuna, dia diam sebentar untuk berpikir lalu…

3…

2…

1…

"EEEEEEHHHH!!!" Tsuna menjerit sejadi-jadinya saat otaknya baru saja 'konek' dan di saat yang bersamaan dia juga ingat siapa laki-laki ini. Dia pernah muncul membantunya saat dalam pertempuran melawan Byakuran. Pantas saja Tsuna merasa pernah melihat sosoknya.

"Orang ini Vongola Primo?" tanya Spanner yang juga tak percaya. Dia memang tidak begitu tahu tentang Vongola karena dia anggota baru, dan dia baru bertemu dua pemimpin Vongola, Tsuna dan Timoteo. Namun satu hal yang pasti, Vongola Primo seharusnya sudah meninggal beratus-ratus tahun yang lalu.

"Vongola Primo? Aku tak percaya Bazooka yang kuperbaiki sanggup membawa orang dari ratusan tahun yang lalu." Celetuk Giannini.

"Huff, jadi kalian tahu siapa aku? Kalau begitu kalian bukan orang sembarangan." Kata Vongola Primo sambil turun dari meja, "Namaku Giotto."

"Namaku Giannini."

"Aku Spanner."

Me-mereka malah memperkenalkan diri masing-masing?!

Batin Tsuna.

"Juudaime, apa yang terjadi? Kenapa Vongola Primo bisa ada di sini?" tanya Gokudera bingung. Namun Tsuna bisa jawab apa? Dia juga sama bingungnya. Tsuna hanya bisa mengangkat bahu.

"Jadi, menurut cerita kalian, sekarang aku berada di masa depan?" tanya Giotto. Spanner dan Giannini mengangguk bersamaan. Giotto diam sebentar, lalu menoleh ke arah Tsuna dan Gokudera. "Lalu siapa kalian?"

"Ah, aku…namaku Sawada Tsunayoshi." Kata Tsuna canggung.

"Aku tangan kanannya, Gokudera Hayato." Kata Gokudera sambil membungkuk sopan.

Giotto mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali sebelum bertanya,

"Tangan kanan?"

"Orang ini adalah Vongola Decimo." Sambung Gokudera sambil menepuk bahu Tsuna. Giotto nampak sangat terkejut.

"Jadi, kau adalah generasi ke sepuluh penerusku?" tanya Giotto tak percaya. Tsuna mau tak mau mengangguk dengan berat hati.

"Oh, aku lupa memberitahumu, kami semua adalah keluarga Vongola generasi ke sepuluh pimpinan Tsuna." Tutur Giannini.

"Siapa Tsuna?"

"Itu aku." Tsuna mengangkat tangannya.

"Ah, ya…benar…Tsunayoshi." Kata Giotto linglung. "Aku tak percaya! Tapi intuisiku mengatakan kalau kalian benar." Giotto mulai mengacak-acak rambutnya karena frustasi. Sementara Giotto meminta penjelasan kembali dari Spanner, Gokudera mendekati Tsuna lalu berbisik.

"Juudaime, apa Reborn-san perlu diberitahu mengenai hal ini?" mata Tsuna melotot membayangkan betapa marahnya Reborn bila dia mengetahui kekacauan ini. Namun Reborn pasti lebih marah lagi kalau Tsuna tak memberitahunya.

"Kau benar, sebentar, aku akan menghubungi Reborn." Kata Tsuna sambil keluar dari laboratorium yang berisik dan menghubungi Reborn dari ponselnya.

"Ada apa Tsuna? Aku sedang sibuk sekarang." Sahut Reborn saat dia mengangkat teleponnya. Samar-samar Tsuna dapat merdengar keramaian di sebrang sana.

"Reborn! Kau tak akan percaya ini, Giotto ada di sini, di Labroratorium B2, saat ini juga!" Ungkap Tsuna.

"Giotto?"

"Vongola Primo!"

"Sebentar."

Nampaknya Reborn pindah tempat ke tempat yang lebih sepi, karena suara keramaian yang tadi didengar Tsuna sudah hilang sekarang.

"Apa maksudmu?" tanya Reborn kemudian.

"Aah! Begini! Giannini, memperbaiki TYL Bazooka milik Lambo yang rusak, lalu secara tak sengaja Spanner menembakkan Bazooka itu ke cincin Vongola, dan sekarang Giotto muncul!"

"Sehari saja tak ada aku, kau sudah mengacau! Dame-Tsuna!"

"Hei! Itu bukan salahku!"

"Berikan telponnya ke Giannini, aku mau bicara!" Tsuna menuruti permintaan Reborn. Giannini menerima teleponnya dan pergi ke luar laboratorium.

"Apa kata Reborn-san?" tanya Gokudera penasaran.

"Dia marah. Katanya di ingin bicara dengan Giannini." Jawab Tsuna. Tsuna kembali memperhatikan Giotto yang terus-terusan minta penjelasan dari Spanner. Untunglah Spanner orangnya sabar, dan Giotto juga sepertinya mau menerima penjelasan Spanner.

"Kalau diperhatikan, Vongola Primo itu mirip dengan Juudaime." Gumam Gokudera.

"Kau juga berpendapat seperti itu?"

"Hanya saja, Vongola Primo kelihatan lebih tinggi."

Dia juga berpikir sama denganku!

jerit Tsuna dalam hati.

"Ah, tapi…tentu saja Juudaime tetap lebih baik!" tutur Gokudera canggung. Tsuna diam sebentar, dia bisa merasakan pipinya memerah dengan kata-kata Gokudera barusan.

"T-Terima kasih." Gokudera yang menyadari perubahan ekspresi pada Tsuna jadi salah tingkah dan memalingkan wajahnya, berharap bossnya tercinta tidak melihat ekspresinya yang konyol sekarang.

Sesaat kemudian Giannini muncul dan mengembalikan ponselnya dengan air mata berlinang. Tsuna menduga Reborn pasti memojokkannya dengan kata-kata sadis seperti yang biasa dia lakukan terhadapnya.

"Re-Reborn-san i-ingin bicara." Kata Giannini sambil terisak.

"Oi, kenapa kau menangis seperti itu?" tanya Gokudera. Bukannya memberi penjelasan, Giannini malah memperkeras tangisannya dan meraih jas Gokudera untuk dijadikan tissue.

"Apa yang kau lakukan, brengsek! Bajuku jadi kotor! Hei! Lepaskan aku!" teriak Gokudera sambil berusaha melepaskan Giannini yang ngotot. Tsuna menedesah pelan lalu pergi ke luar laboratorium.

"Halo..Reborn?"

"Tsuna, ada siapa saja di markas?"

"Aku, Gokudera-kun, Spanner-san, Giannini, hanya berempat, sisanya mafioso lain."

"…"

"?"

"Kenapa hanya ada orang-orang idiot di sana?"

"Apa maksudmu orang idiot?"

"Mana yang lain?"

"Yamamoto katanya pergi mengajak Kojirou jalan-jalan, Mukuro dan Chrome makan siang di luar bersama Ken dan Chikusa, Onii-san masih di Jepang, Lambo mengunjungi Boss keluarga Bovino, I-pin kerja mengantarkan pesanan mie, dan aku tidak tahu dimana Hibari-san."

Terdengar hening sesaat.

"Kenapa kalian malah bersenang-senang dan mengacau di saat aku sedang tidak ada hah!" sentak Reborn tiba-tiba.

"Kenapa kau selalu menyalahkanku sih? Lebih baik kau segera kemari dan bantu aku mengurus masalah ini."

"Aku baru pulang dua hari lagi, jangan menambah kekacauan lain sampai aku pulang!"

"Apa sih yang kau lakukan di sana? Kenapa lama sekali?"

"Tidak ada waktu untuk menjelaskan, aku sedang sibuk! Sekarang dengarkan aku baik-baik!"

"Hmmm…"

"Jangan beritahu mengenai apa saja perkembangan yang dialami Vongola pada Giotto, terutama pertempuran memperebutkan cincin Vongola dan kasus Millefiore, mengerti?"

"Kenapa?" tanya Tsuna sambil mengernyitkan alisnya.

"Kalau kau ceritakan, mungkin masa depan akan berubah, tugasmu hanya mengurus Giotto selama mesin yang Giannini katakan selesai dibuat!"

"Ok."

"Bagus, aku harus pergi sekarang. Sampai jumpa lusa nanti, dan bersiaplah!"

Tuut…tuut…tuut…

Reborn mulai bertingkah seperti seorang Ayah. Pikir Tsuna. Tunggu, apa katanya tadi? Bersiaplah?

Tsuna kembali ke laboratorium dengan malas, Giotto masih bertanya-tanya tentang era di mana ia berada sekarang, dan Spanner masih dengan setia menjawab pertanyaan-pertanyaannya. Giannini diam di pojok ruangan dengan aura hitam di sekelilingnya dan bergumam-gumam "Aku akan mati…aku akan mati…aku akan mati…". Sedangkan Gokudera segera menghampiri Tsuna yang baru saja kembali.

"Juudaime, apa kata Reborn-san?"

"Katanya kita disuruh jangan memberitahukan perkembangan Vongola pada Giotto, terutama pertempuran memperebutkan cincin dan kasus Millefiore."

"Begitu ya? Benar juga, mungkin kalau kita beritahu masa depan yang ada sekarang ini bisa berubah." Kata Gokudera sambil menggosok dagunya.

Tsuna menatap Gokudera takjub. Bagaimana dia bisa berpikir cepat seperti itu? Gokudera tak butuh penjelasan kenapa dia harus merahasiakan perkembangan Vongola dan menyimpulkan dengan tepat.

"Baiklah, aku paham sekarang!" seru Giotto, Tsuna dan Gokudera menoleh serempak. "Sebenarnya masih ada yang ingin kutanyakan lagi, tapi aku harus cepat-cepat kembali ke masaku. Nah, sekarang tolong kembalikan aku ke masa lalu." Pinta Giotto.

"Ah anu…mengenai hal itu…kami membawamu ke sini karena kecelakaan, jadi kami butuh waktu untuk memperbaiki ulang TYL Bazooka dan memulangkanmu." Tutur Spanner, tak terdengar nada bersalah sama sekali.

"Baiklah, kalian butuh waktu berapa jam?"

"Mungkin sekitar empat atau lima minggu."

"…Kau bercanda kan?"

"Apa boleh buat, membuat mesin ruang dan waktu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Lagipula kami kurang ahli dalam hal itu, satu-satunya Technician yang bisa cuma Souichi, dan kebetulan dia sedang ada di Jepang sekarang." Giotto menghela nafas panjang, nampak putus asa penjelasan Spanner yang terakhir.

"Anoo…Giotto, tadi aku sudah menghubungi Reborn, dan dia menyuruhku untuk mengurusmu, kenapa kau tidak tinggal di sini untuk sementara waktu sampai Souichi datang dan memperbaiki mesin untuk pulang?" kata Tsuna, berusaha memperbaiki suasana.

"Siapa Reborn?" tanya Giotto.

"Dia hitman Vongola nomor satu, sekaligus home tutorku." Jawab Tsuna. Dia merasa tidak yakin kenapa dia menambahkan kata home tutor tadi.

Giotto diam berpikir sebentar lalu mengangguk pelan.

"Baiklah," katanya. "Tapi sebelum itu, boleh kutanya di mana toiletnya?"


Giotto: cara munculku aneh banget sih?

Chel: habis di komiknya aja kamu cuma muncul sedikit, aku gak tau karakternya,

Giotto: Bikin sedikit cool donk...

Chel: ya, ya, ya...nanti di Chapter lainnya aku bikin kamu cool buanget deh.. tapi sebelumnya tolong review yah.. ^^