Ini chapter 3...

Duh lum ada kemajuan yaa.... _

Tsuna: habisnya Chel bikin fanficnya tengah malam sih, makanya aneh

Chel: uuukh...=_= sudahlah, jangan banyak omong, kita mulai saja...


Chapter 3. Conversation


Dalam waktu sehari saja, kabar mengenai kedatangan Giotto sang Vongola Primo langsung menyebar. Banyak mafioso Vongola yang ingin melihat wajahnya sampai-sampai beberapa dari mereka sering sekali mengerumuni Tsuna dan Giotto seperti wartawan yang mengincar selebriti. Nampaknya sekarang Vongola menambah satu lagi koleksi cowok populer mereka.

Pada awalnya, Yamamoto mengira Giotto adalah sepupu Tsuna, karena dia bilang wajah mereka mirip sekali. Setelah Tsuna menerangkan semua rentetan kejadiannya pada Yamamoto, dia hanya tersenyum seperti biasanya sambil berkomentar,

"Apa ini game baru lagi?"

Tsuna memutuskan untuk tidak menjawab pertanyaan itu, karena dia sudah tahu seperti apa Yamamoto. Tak lama kemudian, Mukuro datang bersama Chrome dan menanyakan hal yang sama. Tsuna lagi-lagi harus menceritakan kejadian yang ia alami. Dan tahu apa komentar Mukuro?

"Oya oya, ini akan menarik."

Tsuna dan Chrome menatap Mukuro dengan pandangan aneh. Dia bisa menebak apa yang ada di kepala Mukuro sekarang, tapi mencoba untuk menepis pikiran-pikiran aneh yang merasuki kepalanya.

Giotto banyak belajar cara menggunakan fasilitas-fasilitas canggih yang ada di sana dari Tsuna. Tsuna memberinya handphone agar bila Giotto tersesat, dia bisa menelepon Tsuna. Awalnya dia sedikit kebingungan, tapi lama kelamaan Giotto mulai terbiasa.

Tsuna juga belajar banyak tentang Giotto. Ternyata Giotto enak untuk diajak ngobrol dan orangnya cepat bersosialisasi. Bahkan Giotto tahu bagaimana cara menghadapi Gokudera yang sering berteriak-teriak, sehingga Giotto adalah orang yang dihormati Gokudera setelah Tsuna.

"Jadi, apa saja yang terjadi pada Vongola sampai sekarang?" tanya Giotto suatu hari saat mereka sedang makan siang bersama.

"Semakin lama keluarga Vongola semakin besar, terutama sejak kepemimpinan Juudaime." Jawab Gokudera bangga. Tsuna merasa malu, dia memutuskan untuk diam dan menghabiskan makanannya.

"Kalau begitu kau pasti jadi boss yang baik, Tsunayoshi." Kata Giotto sambil tertawa kecil. Yamamoto ikut tertawa. Sementara Tsuna hanya tersenyum.

Sebenarnya aku sama sekali tidak ingin menjadi boss

"Lalu, apa pernah terjadi konflik?"

"Ya," jawab Yamamoto. "Ada saat di mana kita me-umph!" Gokudera yang duduk di sebelahnya dengan tangkas menutup mulut Yamamoto sebelum dia melanjutkan kata-katanya.

"A-ada saat di mana kita sering bertengkar satu sama lain, hahaha." Sambung Tsuna cepat. Giotto sedikit memicingkan matanya. Mungkin hyper Intuitionnya sedikit menemukan keganjalan di sana.

"Apa yang kau lakukan Gokudera?"

"Diam Yakyu-baka! Tak ada yang menyuruhmu berbicara!" bentak Gokudera.

"Tuh kan? Sedikit-sedikit mereka bertengkar." Komentar Tsuna. Giotto tersenyum melihat Gokudera dan Yamamoto yang masih juga beradu argumen.

"Mereka akrab sekali." Kata Giotto.

"Kami tidak akrab!" bantah Gokudera cepat.

"Ayolah Gokudera, kita kan sudah lama sekali akrab seperti ini." Goda Yamamoto.

"Kubilang kita tidak akrab! Aku tak sudi!" bentak Gokudera. Giotto malah tertawa.

"Kalian mirip sekali dengan Guardianku." Kata Giotto di tengah tawanya. "Aku juga punya Guardian yang sama-sama sering bertengkar seperti kalian."

Kalau Tsuna perhatikan, ini pertama kalinya dia melihat Giotto tertawa lepas seperti tadi sejak insiden di laboratorium itu. Jauh di dalam hatinya, Tsuna sedikit bersyukur karena Giotto tidak membuat keadaan menjadi lebih buruk.

"Oh ya Giotto, apa yang sedang kau lakukan saat kami secara tak sengaja membawamu ke masa depan?" tanya Tsuna.

"Apa yah?" Giotto mencoba mengingat. "Kalau tidak salah aku dan Alaude sedang makan malam di hotel, lalu G datang mengacau."

Tsuna tidak tahu siapa itu Alaude atau G, tapi entah kenapa di benaknya dia membayangkan Hibari dan Gokudera.

"Karena sudah terlalu malam, kami memutuskan untuk menginap di hotel itu," sambung Giotto sambil menghabiskan makanannya. "Aku juga sudah kecapean karena perjalanan yang jauh, saat aku tiduran di tempat tidur kamarku, begitu sadar aku sudah berada di sini."

Tsuna mengerti sekarang kenapa Giotto bertanya "Maaf, apa aku salah kamar?" saat pertama kali ia datang.

Setelah makan siang, Tsuna mengajak Giotto untuk berkeliling. Giotto dengan senang hati menerima tawaran Tsuna. Mereka pun mulai menyusuri lorong dan menuju main hall, beberapa mafioso yang berpapasan dengan Tsuna dan Giotto menyapa mereka dengan sopan.

"Selamat siang, Decimo-sama, Primo-sama!"

"Siang!" jawab Tsuna dan Giotto bersamaan.

"Kau populer sekali, Tsunayoshi." Komentar Giotto saat mafioso-mafioso itu lewat.

"Kau juga, dalam sehari saja mereka sudah mengenalmu." Balas Tsuna.

Dari main hall, Tsuna menunjukkan lorong-lorong menuju kamar para Guardian, menuju halaman belakang, garasi, tempatnya berlatih, dan ruangan yang biasa digunakan untuk mengadakan pesta.

"Luas sekali ya?" komentar Giotto saat mereka melihat halaman belakang. Tsuna hanya tersenyum, dia jarang sekali main ke halaman belakang karena terkurung di ruang kerjanya seharian bersama tugas yang menumpuk. Ah, bicara tentang tugas, sekarang pasti tugasnya semakin menggunung.

"Hei, ini bunga kesukaan Spade." Kata Giotto saat dia melihat bunga teratai yang mengapung di kolam.

"Spade?"

"Mist Guardianku, dia memiliki banyak tanaman seperti ini di kolamnya."

Sejenak Tsuna membayangkan Mukuro, kalau tidak salah Mukuro juga sering menggunakan teratai sebagai ilusinya. Tapi dia sudah lama sekali tidak melihat Mukuro mengeluarkan ilusinya lagi.

Mereka berjalan-jalan melihat taman bunga, Tsuna bahkan baru pertama kali melihat ada taman bunga di sana, saking jarangnya ia berkunjung ke halaman belakang.

Beberapa meter dari taman bunga, Tsuna dan Giotto melihat seseorang yang sedang beristirahat di bawah pohon yang rindang. Tsuna menyipitkan matanya untuk melihat lebih jelas. Laki-laki itu nampak sangat familiar dengan burung kecil kuning yang bertengger di atas kepalanya.

"Hibari-san?" gumam Tsuna. Hibari yang merasa seseorang memanggil namanya bangun, dan melihat Tsuna berdiri memperhatikannya bersama Giotto. Tsuna menyadari ia telah membangunkan tidur siang Hibari dan langsung meminta maaf. "M-maaf Hibari-san! Aku tak bermaksud untuk membangunkanmu."

"Herbivore? Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Hibari, masih dengan tatapan mengantuk dia mendelik ke arah Giotto yang terus memperhatikannya. "Siapa kau?"

Giotto tak menjawab, dia hanya menatap Hibari dengan tatapan dingin, dan hal ini cukup untuk membuat Hibari merasa terganggu.

"Menatapku seperti itu, kau pasti cari mati." geram Hibari sambil berdiri dan memegang tonfanya dengan posisi tempur.

"Tu,tunggu Hibari-san! Orang ini adalah Vongola Primo!" seru Tsuna cepat-cepat sebelum Hibari mulai menyerangnya.

"Minggir herbivore, atau kami korosu!" gertak Hibari, Tsuna tidak menyingkir walau dia tahu itu artinya cari mati. Hibari berdecak pelan sebelum berlari dengan kecepatan tinggi dan hendak menerjang Tsuna dengan tonfanya, namun Giotto meraih tangan Hibari sebelum sempat memberi satu pukulan dan mengunci seluruh gerakannya.

"Kau tidak perlu bertindak sejauh ini." Kata Giotto. Tsuna terkejut karena Giotto bisa menandingi kami korosunya Hibari yang tersohor itu. Hibari mendelik dengan tatapan "Cih!" dan Giotto melepaskan genggamannya.

"Tu, tunggu! Hibari-san!" Tsuna memanggil Hibari saat laki-laki berambut hitam itu pergi meninggalkan mereka berdua. Namun Hibari pura-pura tidak mendengar dan pergi tanpa menoleh sedikit pun. "Hhh, lagi-lagi seperti ini."

Giotto memperhatikan Tsuna yang menghela nafas panjang.

"Kau menyukai laki-laki itu?" tanya Giotto. Tsuna menoleh ke arah Giotto dengan muka merah dan matanya melebar tak percaya.

"A-apa katamu?"

"Aku tanya, apa kau menyukai laki-laki bernama Hibari itu?"

"AAH! I-itu…tidak mungkin, aku hanya…umm…eh..mengangguminya hahaha." jawab Tsuna sambil tertawa gak jelas untuk menutupi kecanggungannya. Giotto menatapnya dengan serius, sehingga Tsuna menghentikan tawanya. Percuma menutup-nutupi fakta dari Giotto, laki-laki itu adalah salah satu boss Vongola yang memiliki Intuisi kuat, dia pasti juga sudah tahu dari awal. Tsuna menunduk ke bawah lalu mendesah sedih.

"Ya, aku memang menyukainya." Kata Tsuna pelan, nyaris saja tidak terdengar oleh Giotto. Tsuna berusaha menyembunyikan wajahnya yang merah.

Aku tak percaya aku mengakui kalau aku menyukai Hibari-san pada orang yang baru saja kukenal!

Jerit Tsuna dalam hati.

"Kau sudah bilang kalau kau suka padanya?" tanya Giotto. Tsuna mendongak.

"A-aku tidak mungkin melakukannya." Jawab Tsuna, wajahnya tambah merah, mungkin semerah tomat sekarang.

"Kenapa? Kalau kau tunda lebih lama lagi, nanti terasa sakit."

"Hibari-san tidak akan menerimaku." Jawab Tsuna, "Lagipula, hanya melihatnya dari kejauhan pun aku sudah senang."

Giotto diam memandangi Tsuna yang mulai berjalan lagi, lalu tersenytum tipis.

"Io sono uguale a te troppo, Tsunayoshi." Gumam Giotto lalu segera menyusul Tsuna yang mulai menjauh.


Io sono uguale a te troppo = aku juga sama denganmu.

Aaaaa, aku gak bisa bahasa Italy, makanya aq translate aja secara otomatis, gak tau bener gak tau salah *author tak bertanggung jawab* digebuk warga salembur +_+

Giotto: Apaan nih? katanya mau bikin kartakterku cool...

Chel: Maaf, aku buru-buru bikinnya.. T__T

Giotto: mana fanficnya pendek pula... ck...

Chel: huhuhu, gomenasaai...Giotto-sama...

Giotto: kau kupecat jadi author kalo gini terus

Chel: huhu maaaf, janji deh, aku bakal bikin kamu cool _

Tsuna: Sampai jumpa di chapter 4... ^^