Chapter 4 nih...berarti dalam sehari aku bikin 4 chapter, pegel banget ni badan...mana GJ lagi ceritanya.. -_-

Sudahlah, daripada mikirin hal-hal GJ lainnya, mending langsung aja mulai fanfic GJ nya...ok..


Chapter 4. The Boy In The Picture


Saat tengah malam, Tsuna sama sekali tidak bisa tidur memikirkan percakapannya bersama Giotto tadi siang. Dia masih merasa malu sekali! Kalau ada lubang besar yang dalam, Tsuna pasti sudah masuk ke sana dan berteriak-teriak sampai suaranya serak.

Tsuna membalikkan badannya ke sisi lain di tempat tidurnya dan menutupi wajahnya dengan bantal, berguling-guling sebentar, lalu diam di posisinya semula.

"Aaah! Aku tidak bisa tidur!" teriak Tsuna, masih dengan wajah yang ditutupi bantal berenda sehingga teriakannya tidak terdengar keras. Kemudian Tsuna membetulkan posisi tidurnya, dan mencoba menutup mata.

Bayangan kejadian saat Tsuna mengakui bahwa dia menyukai Hibari masih menghantui kepalanya, dia juga tak habis pikir kenapa dengan mudahnya Giotto bertanya "kau menyukai laki-laki itu kan?"

Kalau boleh jujur, Tsuna memang sudah sejak lama menyukai Hibari, mungkin sejak dia kembali dari masa depan lima tahun yang lalu, dan perasaannya ini selalu ia rahasiakan. Dia tak pernah memberi tahu siapapun tentang perasaannya, tidak pada Kyoko, pada Ibunya, atau pada ayahnya. Bahkan Gokudera yang Tsuna akui sebagai tangan kanannya pun tidak ia beritahu tentang hal ini.

Aaaah! Kenapa Giotto bisa tahu sih!

Benar, kenapa orang yang baru Tsuna temui dua hari yang lalu bisa mengetahui perasaannya terhadap Hibari hanya dalam sekali lihat? Apakah Intuisi Giotto jauh lebih kuat dibanding dengan Intuisinya? Atau secara tidak sadar Tsuna memperlihatkan perasaan kecewa saat dia melihat Hibari pergi menjauhinya? Apapun itu, Giotto sepertinya lebih baik dalam hal percintaan. Yah, dia beberapa tahun lebih tua dari Tsuna, berapa umurnya ya? Hmm, sekitar 20-22. Kalau umur segitu, Giotto pasti sudah punya pacar kan? Mungkin bukan ide yang buruk kalau misalnya Tsuna meminta sedikit nasihat dari Giotto.

Tsuna bangun dan melirik jam di meja di samping tempat tidurnya.

Pukul 02.11 dan Tsuna masih belum bisa tidur juga?

Setelah meregangkan tubuh, Tsuna turun dari tempat tidurnya dan berjalan keluar kamar. Percuma kalau sekarang dia tidur, ujung-ujungnya dia akan bangun kesiangan dan kena tonjok Reborn lagi.

Tsuna berjalan di lorong yang gelap, satu-satunya pencahayaan di sana adalah cahaya bulan yang menembus jejeran jendela di samping kirinya. Beberapa saat kemudian Tsuna sudah melewati kamar Giotto yang memang tak jauh dari kamarnya.

Giotto pasti masih tidur sekarang.

Dari kemarin Giotto dan Tsuna berkeliling melihat-lihat Italy dengan menggunakan mobil. Giotto tampaknya terlalu bersemangat sehingga setelah wisata kecil mereka selesai, Giotto langsung tertidur.

Tsuna berbelok setelah menuruni tangga, kemudian ia mendengar suara beberapa orang yang sedang bercakap-cakap tak jauh dari posisinya sekarang.

"Siapa di sana?" tanya salah satu orang dari kerumunan itu saat Tsuna datang mendekat. Dia mengarahkan lampu senter pada Tsuna dan terbelalak. "Decimo-sama!" seketika juga, laki-laki itu menurunkan senternya dan berjalan cepat ke arah Tsuna, diikuti beberapa orang di belakangnya.

"Apa yang sedang anda lakukan di sini, Decimo-sama?" tanya laki-laki itu.

"Emm, aku hanya berkeliling sebentar." Jawab Tsuna. "Lalu apa yang kalian lakukan?"

"Kami berpatrol seperti biasanya."

"Ohh..ya." Tsuna lupa kalau tengah malam memang selalu ada beberapa mafioso yang berpatrol di sekitar kamarnya. Hal ini sudah dimulai sejak Tsuna pindah ke Italy. Terkadang Tsuna bisa mendengar langkah kaki mereka yang melewati kamarnya di pagi buta seperti ini.

Mereka bercakap-cakap sebentar, saat Tsuna baru saja akan kembali ke kamarnya, dia mendengar suara musik mengalun tak jauh dari sana.

"Suara apa itu?" tanya Tsuna.

"Oh, itu pasti Mukuro-sama, beliau memang sering memainkan harmonikanya tengah malam." Jawab laki-laki yang paling tinggi.

"Mukuro?" tanya Tsuna keheranan. Tsuna mendengarkan lagu itu sebentar, nadanya terdengar sedih, seolah-olah Tsuna bisa membayangkan Mukuro memainkan harmonikanya sambil menangis. " Apa setiap hari dia memainkan lagu ini?"

"Tidak juga, Mukuro-sama memainkan lagu yang berbeda tiap harinya."

Tanpa pikir panjang, Tsuna berjalan ke arah kamar Mukuro. Pintu kamar Mukuro terbuka sedikit, sehingga Tsuna bisa mengintip dari celahnya. Dia melihat sosok Mukuro duduk di ambang jendela yang terbuka, rambutnya yang panjang dipermainkan angin seiring dengan permainan harmonikanya. Walau samar karena gelap, Tsuna dapat melihat ekspresi Mukuro saat memainkan lagu sendu itu. Wajah mukuro seperti sedang terluka. Matanya yang merah-biru itu bersinar sedih memantulkan cahaya bulan.

"Mukuro…" gumam Tsuna tanpa sadar. Merasa diperhatikan, Mukuro berhenti memainkan harmonikanya dan menoleh.

"Kau boleh masuk, Tsunayoshi-kun." Kata Mukuro sambil tersenyum. Tsuna tidak terkejut, dia menampakkan dirinya dan berjalan mendekati Mukuro. "Tidak bisa tidur?"

Tsuna mengangguk pelan. Matanya terus memperhatikan harmonika yang dipegang Mukuro. Dia tidak pernah melihat atau mendengar Mukuro memainkan alat musik tiup itu sebelumnya. Bahkan Tsuna tidak tahu kalau Mukuro bisa memainkan alat musik. Satu-satunya alat yang sering dimainkan Mukuro paling trident-nya tercinta atau garpu sendok saat dia makan.

"Kau sedang patah hati?" tanya Tsuna. Mukuro tidak menjawab, dia hanya tersenyum sambil meletakkan harmonika itu di atas meja bundar kecil di samping vas bunga. Sesaat kemudian Mukuro menyuruh Tsuna duduk di tempat tidurnya, Tsuna mau tak mau menurut, daripada berdiri tak jelas dan membuat kakinya pegal.

Mukuro meraih beberapa helai kertas yang ia taruh di tempat tidurnya dan memberikannya pada Tsuna. Tsuna memperhatikan kertas-kertas itu. Itu adalah gambar seorang anak laki-laki berpakaian seragam dan berdasi merah yang sedang duduk sendirian di ayunan. Gambar yang terbuat dari krayon itu memang tidak begitu rapi, tapi Tsuna bisa mengerti apa yang berusaha disampaikan si pelukis. Di lembaran lain, dengan tokoh yang sama, seorang anak laki-laki duduk sendirian sambil menatap bulan dari jendela kamarnya, tampak kesepian. Di lembaran berikutnya, lagi-lagi Tsuna melihat seorang anak laki-laki berseragam dan berdasi merah, kali ini ia bersama beberapa teman-temannya dan saling bergandengan tangan. Begitu pula di lembaran-lembaran lainnya, Tsuna selalu menemukan gambar laki-laki kecil yang sama. "Gambarmu?" tanya Tsuna.

"Bukan," jawab Mukuro sambil menggelengkan kepalanya. "Itu semua gambar Chrome. Setiap hari dia memberikan gambar-gambar itu padaku, dan aku membuatkan lagu yang sesuai untuk gambar-gambar itu."

"Ooh," Tsuna kembali memperhatikan gambar-gambar di tangannya, kali ini dengan seluruh penghayatan. "Siapa anak laki-laki yang digambar Chrome?"

Mukuro mengangkat bahu.

"Menurutmu siapa?" tanya Mukuro sambil tersenyum.

"Mmm…" Tsuna kembali memperhatikan gambar anak laki-laki itu dengan seksama. Dia sama sekali tidak mirip dengan siapapun yang Tsuna kenal. Rambut laki-laki di gambar itu berwarna ungu, namun memiliki model seperti rambut milik Hibari. Apa mungkin Hibari? Karakternya sih cocok, Hibari dan anak laki-laki di gambar itu selalu sendirian. Tapi …"Aku tidak tahu, mungkin ini orang yang disukai Chrome." kata Tsuna akhirnya.

Mukuro tertawa, membuat Tsuna menatapnya dengan kebingungan. Tumben bunyi tertawa Mukuro 'hahaha' biasanya tak jauh dari 'kufufu' atau 'hehehe'

"Apa yang lucu?" tanya Tsuna.

"Tidak," sahut Mukuro, masih sedikit tertawa. "Tebakanmu tidak salah kok, laki-laki yang digambar Chrome adalah orang yang disukainya."

"Nah, benar kan kataku?" Tsuna tersenyum penuh kemenangan sambil kembali merapikan gambar-gambar yang diacak-acaknya, kemudian menyimpannya di atas bantal. Tsuna memperhatikan Mukuro yang masih tersenyum, namun senyum itu bukan seperti senyum senang atau senyum karena ada sesuatu yang lucu. Mukuro tersenyum seolah-olah dia sedang terluka, sama seperti sorot matanya yang bersinar sedih. Dan Tsuna tahu apa yang membuat Mukuro sedih. "Mukuro, apa kau cemburu?"

"Ng?" Senyum Mukuro tidak memudar saat mata mereka bertemu. Tsuna menggosok-gosok bagian belakang kepalanya lalu dengan ragu mengulang pertanyaannya.

"Apa kau-- cemburu karena Chrome menyukai laki-laki lain?" tanya Tsuna, nada biacarnya terdengar sedikit rendah sekarang.

"Tidak." Jawab Mukuro tanpa berpikir terlebih dahulu. "Aku sama sekali tidak cemburu dengan laki-laki yang disukai Chrome."

Tsuna menatap Mukuro, sorot matanya masih sama.

"Kalau begitu kenapa kau terlihat sedih?"

Mukuro diam sebentar lalu menatap Tsuna. Mereka cukup lama bertatapan satu sama lain.

"Hmm…" Mukuro berjalan ke arah meja dan mengambil harmonikanya lagi. "Mungkin itu karena--laki-laki yang disukai Chrome sudah menyukai orang lain."

"Eh?"

Sehabis itu Mukuro tak berkata apa-apa lagi, dia kembali duduk di ambang jendela sambil memainkan musik yang sedih dengan harmonikanya. Tsuna diam mendengarkan.

Setiap nadanya, setiap nafas yang Mukuro hembuskan untuk lagu itu… terasa begitu menyayat hati, bahkan saat Tsuna mulai mengantuk dan tertidur pun… nada-nada yang sedih itu terus mengalun di ruangan yang gelap.

Setelah melihat Tsuna tertidur pulas, Mukuro berhenti memainkan harmonikanya. Dia duduk di tepi tempat tidur, memperhatikan wajah Tsuna yang damai agak lama.

"Selamat tidur, Tsunayoshi-kun!" gumam Mukuro sambil menyibakkan poni Tsuna dan mencium keningnya.


Hayah! Maaf cuma sedikit, soalnya ni udah malem banget pas bikin Chapter 4, mungkin juga pada bingung kenapa aq nyelipin 6927 di sini..

soalnya, kebetulan pas ngetik, aq sambil liat" 6927 di Youtube...hahaha *alasan GJ, author dilempar sendal*

Yo ah! Sampai jumpa di Chapter 5... xD