Eaaa, chapter 5 nih… lama banget yah update nya? Haha maaf, internet di rumahku mati jadinya aku harus…

Reader: udah buruan mulai!!! Gak pake Basa-basi!

Author: Hiii!!! Ok..ok.. enjoy this…


Chapter. 5 Your Feelings


Dalam kegelapan, Tsuna bisa mendengar burung-burung bekicauan, salah satu dari mereka samar-samar namun menyanyikan lagu yang tak asing di telinga Tsuna: Mars Namimori. (Kalian pasti sudah bisa menebak siapa yang berkicau). Tsuna juga merasakan sebuah cahaya hangat menimpa wajah pucatnya, angin sepoi-sepoi yang membawa hawa musim semi perlahan mengelus rambutnya yang berantakan. Inilah sensasi Italy di pagi hari.

Ah, sudah pagi ya? Pikir Tsuna dalam hati. Tsuna tahu dia harus bangun, namun perasaan damai yang dirasakannya ini membuatnya nyaman. Sudah lama sekali dia tidak merasakan perasaan seperti ini. Biasanya tiap pagi Tsuna selalu dibangunkan oleh suara khas Reborn yang kemudian menghantamnya dengan palu-Leon seberat satu ton.

"…Tsuna."

Ng? Ada suara yang memanggilnya. Siapa ya? Tidak bisakah dia melihat bahwa sekarang Tsuna sedang sibuk bersantai dengan tenang? Mumpung Reborn sedang tidak ada, dia harus tidur sampai puas. Reborn sang spartan tutor tak pernah membiarkannya bangun siang seperti ini.

"Tsuna!"

Loh? Aneh. Tsuna memikirkan Reborn dan dia bisa mendengar suranya barusan. Apa dia masih bermimpi?

"Oi, Tsuna bangun!"

Lagi-lagi suara Reborn. Kenapa suaranya terdengar begitu jelas sih? Tsuna membalikan badannya, berharap suara Reborn tak terdengar lagi kali ini.

"Oi, bangun sekarang! Dame-Tsuna!!" teriak Reborn nyaring hingga Tsuna terperanjat dari tempat tidur. Tsuna menggosok-gosok matanya dan melihat sosok Reborn yang berpakaian serba hitam berdiri di depannya dengan kedua tangan di masukkan ke dalam saku celana. Sejak Reborn kembali ke bentuk asalnya karena kutukan Arcobaleno hilang, Reborn jadi terlihat lebih dewasa, jauh lebih tinggi, dan jauh lebih sadis di mata Tsuna. Di topi Fedora hitamnya masih bertengger Leon, entah makhluk apa Leon itu? Tsuna tak pernah menanyakannya. "Cepat bangun!" teriak Reborn lagi, kali ini dia menambahkan penalty kick ke perut Tsuna yang sukses membuat Tsuna terjatuh dari tempat tidur.

"Aduduh! Reborn!" rintih Tsuna sambil mengusap kepalanya yang sakit, ah….perutnya juga sakit, semakin lama tendangan Reborn semakin kuat. Tapi terima kasih, berkat Reborn dia sadar sepenuhnya sekarang. "A-ada apa?"

"Bukan 'ada apa' idiot!" bentak Reborn lagi, masih dengan gaya misteriusnya yang cool. "Aku tak peduli kau mau tidur di kamar Mukuro, di kamar Hibari, atau di kamar mandi sekalipun, tapi aku tidak memberimu toleransi untuk bangun jam sebelas!"

"Eh?" Tsuna mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali. Apa katanya tadi?

Tsuna mencoba mengingat kejadian tadi malam (atau tadi subuh). Kalau tidak salah Tsuna sedang berada di kamar Mukuro, dan saat bangun pun…dia berada di kamar Mukuro. Apa itu artinya…dia tidur di sini? Bersama Mukuro??

"EEEH?!!" Tsuna melirik jam dinding yang bersebrangan dengan tempat tidur. Pukul 11.03! Tsuna cepat-cepat turun dari tempat tidur Mukuro dan berlari ke kamarnya. Reborn hanya menghela nafas lalu pergi mengikuti Tsuna.

"Apa yang kau lakukan sampai bangun sesiang ini?" tanya Reborn ketika Tsuna membasuh wajahnya di kamar mandi.

"Aku tidak bisa tidur semalam." Jawab Tsuna sambil meraih handuk yang tergantung di dinding dan mengelapkan ke wajahnya. "Lalu aku pergi ke kamar Mukuro dan mengobrol dengannya sampai ketiduran."

Reborn tak bereaksi dengan jawaban Tsuna. Mungkin sebenarnya dia sudah mendengar alasannya dari Mukuro.

"Omong-omong kapan kau pulang?" tanya Tsuna seraya menyimpan kembali handuk yang kini sudah basah.

"Barusan." Jawab Reborn singkat. Tsuna hanya mengangguk dan berkata "Oh" pelan, dia tidak menanyakan apa-apa lagi karena Tsuna yakin Reborn tidak akan memberitahunya mengenai apa saja yang ia lakukan di tempat Vongola Nono. Dia memang selalu begitu. Selalu berusaha untuk menjaga sisi misteriusnya walau sudah 5 tahun bersama.

"Reborn, kalau tidak keberatan tolong ke luar sebentar, aku mau ganti baju." Kata Tsuna saat dia membuka lemarinya yang tertanam di tembok.

"Sejak kapan kau mulai malu ganti baju di depanku?" tanya Reborn iseng. Tsuna membalikkan badannya untuk menatap mata hitam Reborn.

"Aku sudah sembilan belas tahun sekarang, wajar saja kan?" Reborn hanya menyeringai. Tsuna tidak suka itu, saat Reborn menyeringai ke arahnya seperti itu…Dia seolah-olah meledeknya.

"Heh, kau bilang umurmu sudah sembilan belas, tapi kelakuanmu masih seperti anak umur lima belas." Komentar Reborn. Wajah Tsuna memerah, entah karena malu atau marah. Tsuna ingin sekali membalas kata-kata Reborn, namun dia tahu hal itu hanya membuang-buang waktu dan tenaga saja. Faktanya dia tidak pernah menang bersilat lidah dengan Reborn, sekeras apapun usahanya.

"Terserah!" gerutu Tsuna yang kemudian membuka kemejanya di depan Reborn. Reborn tertawa kecil melihat muridnya mengalah. Dia duduk di kursi sambil memperhatikan tubuh Tsuna dari kejauhan dengan tangan yang disilangkan di depan dadanya.

"Kau kurus sekali." Komentar Reborn yang lagi-lagi membuat wajah Tsuna memerah. Baiklah, sejak kapan Reborn suka menggodanya seperti itu?

"Aku tak butuh kom--"

"JUUDAIME!" Gokudera dengan nafas terengah-engah tiba-tiba membuka pintu kamar Tsuna dengan kasar. Ini untuk pertama kalinya. Biasanya dia selalu dengan sopan mengetuk pintu terlebih dahulu. Wajah blasterannya langsung memerah, saat mata Gokudera menangkap sosok Tsuna yang masih setengah telanjang, mengexspose dadanya yang bidang. "M-m-m-ma-maafkan aku!" seru Gokudera lalu cepat-cepat menutup pintu dengan suara 'BLAAM' yang keras, hingga nyaris membuat foto berfigura yang tergantung di dinding jatuh.

Tsuna hanya menghela nafas panjang sementara Reborn tersenyum lebar.

"Kenapa lagi Gokudera-kun?" desah Tsuna.

"Dari tadi pagi katanya dia mencarimu, tapi kau tidak ada di kamar." Jawab Reborn sambil membetulkan posisi duduknya. "Lalu bagaimana dengan Giotto?"

"Baik-baik saja," jawab Tsuna, tangannya bergerak cepat memilah kemeja yang akan ia pakai. Semenjak jadi boss mafia, Tsuna banyak memiliki koleksi kemeja dan koleksi kaos serta jaketnya berkurang. Penampilan Tsuna juga sekarang semakin dewasa, dia tidak pernah lagi berada dalam Dying Will Mode dan berlarian di muka umum dengan hanya memakai boxer bermotifnya. Walau terkadang Tsuna masih sering terjatuh dari tangga, dia juga masih sering terpeleset di kamar mandi, dan masih payah dalam olahraga.

"Aku tidak menanyakan kabarnya, idiot!" Kata Reborn. "Aku tanya apa saja yang dilakukan Giotto?"

"Aku dan Giotto hanya berkeliling lalu saling bercerita tentang masa lalu dan masa depan Vongola." Jawab Tsuna seraya mengambil kemeja putih dan celana jeans hitam.

"Kau tidak menceritakan konflik yang terjadi kan?"

"Tidak." Tsuna mengancingkan kemejanya dan mulai membuka celana jeansnya, memperlihatkan boxer putih bergaris-garis merahnya. Reborn kemudian bangkit dari kursi dan berjalan ke arah pintu.

"Terus awasi Giotto." Itu adalah kata-kata terakhir Reborn sebelum dia menghilang di balik pintu. Tsuna melanjutkan berpakaian sambil memikirkan kata-kata Reborn barusan. 'Terus awasi Giotto' katanya? Tsuna tidak bisa terus-terusan mengawasi Giotto, dia juga punya pekerjaan yang sekarang pasti sudah menggunung dan membukit di meja kerjanya. Lalu kapan Giannini akan selesai memperbaiki Bazooka Lambo dan memulangkan Giotto? Benar, dia harus mengeceknya sekarang. Semakin cepat Giotto pulang, semakin baik.

Setelah selesai berpakaian, Tsuna mengambil dasi hitam yang tergantung di kursi tempat Reborn duduk tadi. Tsuna memakai dasi dengan cepat dan terburu-buru, dia bahkan tidak melihat cermin sama sekali. Yang ada di otaknya sekarang adalah Giannini dan Bazooka Lambo. Begitu membuka pintu, Tsuna disambut oleh Gokudera yang bersujud di depannya.

"G-Gokudera-kun!" pekik Tsuna kaget. Dia hampir saja menginjak Gokudera.

"Maafkan aku Juudaime! Maaf! Maaf! Maaf!" teriak Gokudera sambil membentur-benturkan kepalanya ke lantai beberapa kali.

"Hentikan Gokudera-kun! Kenapa kau minta maaf?" Tsuna segera menarik lengan Gokudera untuk membantunya berdiri. Beginilah Gokudera kalau dia merasa tidak becus sebagai tangan kanannya.

"Aku—aku telah masuk dengan lancang dan melihat Juudaime sedang berpakaian. Juudaime, tolong hukum aku dengan menggunakan ini!" kata Gokudera, penuh perasaan bersalah. Dia menyodorkan salah satu dinamitnya pada Tsuna.

Dia merasa bersalah hanya karena melihatku ganti baju? Pikir Tsuna.

"Kalau Juudaime tidak bisa melakukannya, biar aku yang—"

"UWAA!! Sudahlah, sudahlah, aku mengerti. Berhenti melukai diri sendiri, ya?" Tsuna memperlihatkan angelic smile nya, salah satu senjata andalan Tsuna dalam membereskan perkelahian-perkelahian sesama Guardian, melihat bossnya tersenyum seperti itu membuat hati Gokudera tenang seketika dan lupa kalau tadi ia hendak bunuh diri.

"Juudaime.." Aaah, tak ada senyum yang lebih terang daripada senyum Juudaime, pikir Gokudera. Kemudian Gokudera melihat dasi Tsuna yang masih berantakan. "Juudaime, izinkan aku." Gokudera langsung membetulkan dasi Tsuna. Tsuna sedikit kaget karena wajah Gokudera sekarang begitu dekat. Sedetik yang gila membuat Tsuna berpikir kalau tadi Gokudera hendak menciumnya.

Otakku pasti sudah tidak beres, batin Tsuna dalam hati.

Setelah selesai membetulkan dasi Tsuna, Gokudera menceritakan kenapa dia datang tanpa mengetuk pintu dulu tadi. Sebenarnya sang Storm Guardian itu berniat membangunkan Tsuna untuk sarapan jam delapan pagi, tapi tak ada jawaban dari dalam kamar Tsuna, begitu masuk, kamar Tsuna sudah kosong, dia berkeliling mencari keberadaan sang boss, menanyakan kepada setiap orang yang ditemuinya, namun tak ada yang melihat Vongola Decimo pagi itu. Saat Gokudera bertanya pada Mukuro, Mukuro bilang…

"Oya, semalam aku dan Tsunayoshi-kun tidur di kamarku."

Gokudera tak percaya. Setelah melempar dinamit ke wajah Mukuro, dengan kecepatan luar biasa tinggi, Gokudera berlari ke kamar si Mist Guardian tersebut, membuktikan apakah yang dikatakan Mukuro benar atau tidak. Namun tak ada siapapun di sana. Saat Gokudera bertanya pada salah satu mafioso yang lewat, katanya Decimo-sama tadi berlari ke kamarnya.

"Syukurlah, aku kira Juudaime benar-benar tidur bersama nanas mesum itu." Kata Gokudera, penuh perasaan lega.

"Ha, ha-ha-ha…"

S-sebenarnya, aku memang tidur bersamanya… jerit Tsuna dalam hati.

"Sebagai tangan kananmu, aku juga bertugas untuk melindungi kesucian Juudaime."

Tsuna serta merta menghentikan langkahnya, lalu dengan wajah naas dan shock menolehkan kepalanya ke arah Gokudera yang ikut berhenti. Gokudera memperlihatkan raut muka penuh dengan tanda tanya.

"Ada apa Juudaime?"

"Ti,tidak ada apa-apa." Jawab Tsuna lalu kembali berjalan.

Bagus, kali ini telingaku yang tidak beres.

Tsuna berjalan ke arah Laboratorium B2 diikuti Gokudera dari belakang. Saat Tsuna baru saja akan membuka pintu, intuisinya mengatakan kalau dia harus pergi dari sana. Ada yang tidak beres lagi.

Apa lagi sekarang?

Tsuna mengacuhkan intuisinya, dia membuka pintu labroratorium dan dalam detik yang sama sesuatu meledak dari dalam. Tanpa sempat Tsuna sadari, beberapa bongkah besi dan seng terbang cepat ke arah Tsuna.

"BAHAYA!" Gokudera langsung bereaksi melindungi bossnya dengan Sistema C.A.I. (Kok sempat ya?) Baik Tsuna dan Gokudera, dua-duanya terbatuk-batuk karena kepulan asap dan debu menyerang kerongkongan mereka. Tsuna menyesal karena tadi dia tidak mempercayai Intuisinya, ledakan tadi membuatnya susah bernafas, masih untung dia selamat. Coba kalau tadi tak ada Gokudera, sekarang kepalanya pasti sudah bocor.

"Oi, kalian baik-baik saja?" Spanner berlari ke arah Tsuna dan Gokudera yang masih terbatuk-batuk.

"Dasar gila! Kau hampir saja membunuh Juudaime!" teriak Gokudera di tengah batuknya. "Juudaime kau tidak apa-apa?" Gokudera dan Spanner membantu Tsuna berdiri. Dasi dan kemeja Tsuna berantakan lagi sekarang.

"I-iya, terima kasih Gokudera-kun." kata Tsuna sambil menepuk-nepuk debu yang menempel di kemeja dan celananya. Ledakan ini pasti karena penemuan gagal lagi. Hal seperti ini memang sering terjadi, makanya Vongola menyediakan banyak ruangan untuk dijadikan laboratorium. "Apa yang sedang kau lakukan Spanner-san?"

"Oh, itu…"

"Tsuna! Kau tidak apa-apa?" Giotto berlari menghampiri Tsuna. Dia mengenakan seragam teknisi yang biasa Spanner pakai lengkap dengan kacamata pelindung matanya.

"Giotto! Kenapa kau ada di sini?"

"Aku coba membantu Spanner menyelesaikan mesin ruang dan waktu, tapi ada sedikit kekeliruan kecil tadi." Kata Giotto dengan watadosnya. Tsuna menerawang ke arah mesin yang sekarang hanya tinggal sekumpulan besi tak beraturan. "Sepertinya aku harus tinggal di sini lebih lama lagi sampai orang yang bernama Souichi itu pulang." Giotto melepaskan kacamata pelindung dan kostum teknisinya lalu melemparnya ke arah Spanner yang menangkapnya dengan sempurna. "Baiklah sampai di sini dulu, nanti aku akan datang membantu lagi."

Giotto mengajak Tsuna dan Gokudera pergi dari laboratorium. Dia bercerita tentang guardian-guardian Tsuna yang ia temui tadi pagi sebelum Tsuna bangun. Giotto bilang mereka semua mirip dengan guardiannya. Baik sifat maupun kelakuan mereka.

"Terutama guardianmu yang bernama Lambo," kata Giotto sambil tertawa ringan. "Dia benar-benar seperti Lampo, hanya saja warna rambut mereka berbeda."

Giotto kemudian memberitahu kalau dia sudah bertemu dengan tutor Tsuna yang bernama Reborn itu.

"Dia terlihat seperti orang yang sangat baik dan berwibawa." Komentar Giotto sambil mengingat-ingat sosok Reborn. Baik Tsuna maupun Gokudera, dua-duanya memikirkan hal yang sama:

BAIK DARI MANAAAA??

Selanjutnya Giotto menceritakan Mukuro, katanya Mukuro terlihat keren karena sebelah matanya berwarna merah dan sebelahnya lagi berwarna biru, namun mata merahnya terlihat jahat, nah kali ini Tsuna setuju. Giotto juga menceritakan I-Pin dan Yamamoto. Dari obrolannya dengan Yamamoto, Giotto mengetahui kalau dia dan Gokudera sering bertengkar hanya gara-gara masalah sepele. Mendengar cerita Giotto, Gokudera langsung menyalahkan Yamamoto.

"Itu semua karena si Yakyu-baka itu adalah orang idiot!" gerutu Gokudera. Tsuna dan Giotto tertawa. Obrolannya dengan Giotto membuat Tsuna lupa menanyakan Bazooka Lambo. Giotto persis seperti yang dikatakan Reborn dulu,

"Ada yang bilang Vongola Primo itu memiliki pengaruh yang besar, memahami dan menerima segalanya bagaikan langit yang luas."

Memang benar, Giotto seperti langit yang cerah di mata Tsuna. Laki-laki itu selalu tersenyum hangat, mungkin selevel dengan angelic smilenya, sejak dia datang ke masa depan pun, Tsuna belum pernah mendengar Giotto mengeluh atau mengumpat. Giotto selalu menerima apapun. Kalau dipikir-pikir lagi, apa itu juga sebabnya Giotto bisa mengetahui kalau dia menyukai Hibari? Karena Giotto selalu bisa memahami? Apakah dia memang paham dengan perasaannya?

"G-Giotto..." Kata Tsuna dengan wajah serius. Giotto berhenti tertawa, namun tetap tersenyum.

"Ya?"

"Ada yang ingin kubicarakan denganmu," Tsuna menatap Gokudera yang juga memasang tampang serius. "Empat mata." Tambah Tsuna. Gokudera mengerti itu tandanya dia harus pergi.

"Kalau begitu, aku permisi dulu, Juudaime, Giotto-sama." Kata Gokudera sambil menunduk sopan dan berjalan menjauhi Tsuna dan Giotto. Tsuna membawa Giotto ke taman bunga tempat kemarin mereka bertemu dengan Hibari. Udara begitu panas di luar sini. Tsuna pun mengambil tempat yang teduh di bawah pohon dan duduk bersila di rumput, diikuti oleh Giotto.

"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Giotto. Tsuna mengambil nafas panjang, ada perang batin di dalam hatinya. Apa dia harus meminta pendapatnya mengenai Hibari? Ataukah biarkan saja takdir yang menentukan? Kalau dia meminta nasihat Giotto, mungkin saja…yah, mungkin…hubungannya dengan Hibari bisa lebih dekat, tapi bagaimana kalau Giotto malah menertawakannya? Ah, tapi sepertinya Giotto tidak akan tertawa.

Bagaimana ya? Kenapa di saat-saat seperti ini intuisiku malah tidak membantu sih?

"Kalau kau ingin minta nasihat padaku soal Hibari, aku bersedia membantu." Ujar Giotto kalem. Tsuna yang sedari tadi sedang perang batin menoleh ke arahnya dengan tatapan tak percaya.

B-Bagaimana dia bisa tahu? Apa dia bisa membaca pikiranku?

Giotto tertawa melihat wajah Tsuna yang kebingungan.

"Aku hanya menebak." Kata Giotto lagi. "Apa tebakanku salah?" Tsuna menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat, Giotto mulai tertawa lagi, kali ini lebih keras.

Aaah, dia menertawakanku!! Sudah kuduga, seharusnya aku tidak mengajaknya bicara!

Wajah Tsuna mulai memerah, dia berusaha menutupinya dengan kedua tangannya. Giotto menyadari kalau dia telah membuat Tsuna malu, maka dia pun berusaha mengehentikan tawanya walau agak sulit.

"Ma, maaf habis kamu lucu sekali." Kata Giotto, masih terdengar sedikit tawa, di balik kedua tangannya, Giotto bisa melihat wajah Tsuna masih merah. Giotto pun mulai mengatur nafas lalu berdehem keras, tawanya sudah hilang total sekarang. "Nah, jadi… kau ingin aku mendekatkan hubungan kalian?" tanya Giotto, kali ini ia terdengar serius.

"A-aku hanya ingin minta nasihat, sebaiknya apa yang kulakukan agar Hibari-san… yah.. setidaknya dia melihat ke arahku?" kata Tsuna malu-malu. Dia tak berani menatap wajah Giotto. Giotto tampak berpikir sebentar.

"Kalo begitu sih gampang, hanya dengan bikin keributan saja, nanti juga dia akan melihat ke arahmu." Kata Giotto.

"Oh Giotto, aku serius!" kata Tsuna, kali ini dia memberanikan diri menatap mata biru Giotto secara langsung. "Bukan melihat ke arahku dalam artian seperti itu."

"Lalu apa yang akan kau lakukan kalau dia sudah melihatmu?"

Tsuna diam, dia tidak bisa menjawab pertanyaan yang satu ini. Apa yang akan ia lakukan kalau Hibari melihat ke arahnya? Yang ia lakukan…apa yang akan ia lakukan? Giotto menepuk kepala Tsuna pelan, sepertinya dia mengerti pertanyaannya tadi membuat Tsuna kebingungan setengah mati.

"Coba pikirkan perasaanmu baik-baik." Kata Giotto. "Bedakan antara perasaan suka, sayang, cinta, dan kagum. Mana perasaanmu terhadap Hibari?"

Tsuna termenung sebentar. Dia menyukai Hibari seperti dia menyukai semua guardiannya, dia menyayangi Hibari sama seperti dia menyayangi ayah dan ibunya, dia mencintai Hibari seperti dia pernah mencintai Kyoko sebelumnya, tapi dia juga mengagumi Hibari sama seperti dia selalu mengagumi Reborn. Mana? Kalau begitu yang mana perasaan Tsuna yang sesungguhnya terhadap Hibari?

"A-aku bingung," kata Tsuna, tangan kanannya menggenggam beberapa helai rumput di tanah. "Aku tidak bisa membedakannya."

"Kalau begitu, coba beritahu aku apa yang kau rasakan saat Hibari melihat ke arahmu?"

Lagi-lagi Tsuna termenung. Saat Hibari menatapnya?

"Emm, saat Hibari-san menatapku…emm…" Tsuna mencoba membayangkan sosok Hibari dengan kemeja ungu dan jas blue-black berdasi, dia berjalan dengan gagah, kedua tonfa di tangan kiri dan kanannya. Kemudian Tsuna mencoba memanggilnya dari belakang dan Hibari pun menoleh, dia menatapnya…mata mereka bertatapan satu sama lain… lalu tiba-tiba saja Tsuna membayangkan Hibari mengeluarkan death glare sambil berkata: "herbivore, kami korosu!!" "HIEEE!! Aku merasa aku akan mati!!!" jerit Tsuna.

"Hah?" mulut Giotto terbuka saking kagetnya. Dia tak sanggup berkata-kata atau memberi komentar.

"Setiap Hibari-san melihat ke arahku, dia selalu mengeluarkan death glare seolah-olah dia ingin membunuhku!!" kata Tsuna, setengah ketakutan setengah sedih. Dia bersujud membenamkan wajahnya ke rerumputan dan memukul-mukul tanah dengan kedua tangannya.

Giotto menghela nafas yang saaaangat panjang. Tsuna adalah boss yang hebat, tapi dia payah dalam hal percintaan. Kali ini dia kebingungan bagaimana caranya dia akan menyatukan Tsuna dan Hibari kalau baru menatap Hibari saja, Tsuna sudah ketakutan setengah mati? Baiklah, ini akan menjadi tantangan yang cukup berat.

Handphone Tsuna tiba-tiba berdering, Tsuna cepat-cepat mengatur nafas dan meraih handphone di saku celananya.

Dari Yamamoto?

"H-halo?" sapa Tsuna.

"Halo? Tsuna!" suara Yamamoto terdengar jelas di sebrang sana, begitu pula dengan suara ledakan di sekitarnya. Eh? Ledakan?

"A-ada apa Yamamoto? Suara apa itu?"

"Maaf harus mengganggumu, tapi... situasinya sedang gawat di sini. Gokudera dan Mukuro berkelahi, aku tak bisa menghentikan mereka, UWAA!!"

Kemudian terdengar ledakan yang keras.

"Yamamoto!"

"Aku baik-baik saja, salah satu dinamit Gokudera nyasar ke sini tadi. Hahaha…"

D-dia sempat-sempatnya tertawa?!!

"Tsuna tolong bantu aku melerai mereka sebelum mereka benar-benar menghancurkan ruang kerjamu!"

"EEEH?! MEREKA BERKELAHI DI RUANG KERJAKU???"

"Begitulah. Aku tidak tahu siapa yang memulainya. Uwaah! Mereka menghancurkan rak bukumu!"

"Cukup! Aku segera ke sana!"

Tuut..tuut…tuut…

"Ada apa?" tanya Giotto yang dari tadi menyaksikan Tsuna berteriak-teriak di teleponnya.

"Gokudera dan Mukuro berkelahi di ruang kerjaku." Jawab Tsuna sambil berdiri dan buru-buru memasukkan kembali handphonenya ke dalam saku. "Maaf Giotto, nanti aku lanjutkan!" Tsuna segera berlari meninggalkan Giotto yang masih duduk sendirian. Giotto mengusap wajahnya dengan lesu lalu mulai berbaring di rumput. Beberapa menit kemudian, Hyper Intuisinya merasakan kehadiran seseorang di belakangnya, namun tak ada aura membunuh.

"Siapa?" tanya Giotto tanpa bangkit.

"Ini aku." Giotto mendongak, dia menangkap siluet seseorang berjas dengan topi fedora hitam memandanginya. Giotto bangkit untuk melihat orang itu dengan jelas.

"Oh, Reborn?" Reborn mendekati Giotto dan duduk di sampingnya, sedangkan Giotto kembali berbaring sambil memandangi langit. Suasana hening sesaat sampai Reborn membuka pembicaraan.

"Kenapa kau memilih membantu Tsuna?" tanya Reborn. Aura misteriusnya terlihat jelas, terutama saat Reborn menurunkan topinya sedikit. Menutupi bayangan matanya.

"Itu karena dulu juga aku sama seperti dia." Jawab Giotto, dia mulai menutup matanya. "Saat aku melihat Tsuna dan Hibari, sebenarnya aku langsung tahu mereka saling menyukai. Mereka berdua mengingatkanku pada sosok diriku dan Alaude dulu."

Reborn tersenyum tipis seolah-olah dia sudah menduga jawaban Giotto.

"Lalu bagaimana Tsuna menurutmu?" tanya Reborn lagi. Giotto membuka matanya dan bangun untuk melihat mata Reborn yang tersembunyi di bawah topinya.

"Apa maksudmu?" tanya Giotto dengan alis terangkat sebelah.

"Bagaimana perasaanmu terhadap Tsuna?" Reborn memperbaiki pertanyaannya.

"Perasaanku?" Giotto menoleh dan berpikir sebentar, "Aku melihat Tsuna seperti adikku, tidak ada yang spesial."

"Hmmh." Reborn menyeringai lebar. Giotto saat itu juga menyadari kalau Reborn mengetahui sesuatu, atau menyembunyikan sesuatu yang berkaitan dengan dirinya.

"Maaf, ada yang lucu?" tanya Giotto memastikan, karena dia yakin tak ada hal yang perlu ditertawakan dari kata-katanya barusan.

"Tidak ada," jawab Reborn seraya berdiri dan pergi, Giotto menatap kepergian Reborn dengan penuh tanda tanya besar di bawah pohon yang rindang. Reborn masih menyeringai dan menurunkan topinya lagi. Kemudian ia berbisik pada angin dengan pelan, hanya Leon yang bisa mendengar kalimatnya. "Tidak ada orang yang tidak pernah menyimpan perasaan spesial pada Tsuna."

Setelah itu sosok Reborn segera menghilang dari pandangan Giotto, dan Giotto kembali berbaring memandangi langit.


Uwaaah, ini Chapter 5 nya… Uuuh agak GJ yaa?

Reader: bukan 'agak' lagi malah!

Chel: huhuh, Gomeeen..

Giotto: ...tumben lebih panjang?

Chel: Uwaa! Giotto nongol! Iya nih, sesekali agak panjangan dikit lah..

Giotto: btw mana janjimu bikin aku keren?

Chel: ...

Giotto: ...

Chel: Nah sekain dulu pembaca, demi peningkatan ke arah yang lebih baik, tolong review yah!

Giotto: Oi! Jawab dulu pertanyaanku!

Chel: Chapter 6 nya mudah-mudah keluar lusa..bye-bye!! *kabur*

Giotto: WOOI!!