Wokeeee!!! Kita ketemu lagi… tadinya aku mau nge update besok, tapi karena aku nganggur n gak ada kerjaan, mendingan aku lanjutin ficku… hahaha
Nah, daripada suasana menjadi GJ, langsung kita mulai aja deh…
Chapter 6. Kiss of Conflicts
Aaah...pagi yang tenang…
Lagi-lagi dimulai dengan pagi hari di mana Tsuna, boss muda Vongola kita baru bangun dari tidurnya yang nyenyak. Tsuna meregangkan tubuhnya sambil menghirup udara segar. Dia menoleh dan di sampingnya terbaring Giotto yang masih tertidur.
"Selamat pagi," gumam Tsuna sambil tersenyum. Tsuna turun dari tempat tidur dan berjalan ke arah kamar mandi, kemudian ia membasuh wajah seperti biasanya dan menyikat gigi sambil bersenandung pelan.
Selesai menyikat gigi, Tsuna perlahan memutar keran bathtub mewahnya, air panas yang menguap keluar dari mulut keran itu. Tapi suhunya terlalu panas, Tsuna pun memutuskan untuk mencampurnya dengan air dingin.
Oh, pas..
Air hangat sudah siap, sekarang Tsuna hanya tinggal membuka baju, maka ia tanggalkan piyama hijau mudanya dan membiarkannya terletak begitu saja di lantai. Tubuh Tsuna merinding saat ia mencelupkan kaki kanannya ke dalam air, merasakan sensasi hangat yang segera menyelimuti tubuhnya yang terlihat rapuh. Tsuna bersandar pada ujung bathtubnya, ia merilekskan diri sejenak, menikmati kehangatan dan aroma terapi yang semerbak dari lilin-lilin kecil di sampingnya.
Vongola Head Quarter juga sedang sangat tenang sekarang, tidak ada ledakan, suara barang-barang pecah, atau suara dentuman keras yang terkadang menjadi 'jam weker' Tsuna di pagi hari. Lalu mengapa hari ini begitu tenang dan mengapa ketika Tsuna terbangun, Giotto sudah berada di sebelahnya? Sebenarnya itu bermula saat kejadian kemarin siang, salah satu kejadian yang pasti masuk sejarah Vongola sampai beberapa tahun ke depan. Tsuna pun mulai melamun membayangkan kejadian kemarin.
.
.
-Flash Back-
Tsuna berlari menuju ruang kerja dengan top speednya. Dia tidak memikirkan apapun lagi selain keselamatan storm dan mist guardiannya yang saat ini mungkin sedang berada di ujung tanduk. Umm..sepertinya agak berlebihan..Tsuna tahu perkelahian di antara guardian memang selalu serius, namun tidak pernah sampai membahayakan nyawa mereka.
Suara ledakan dinamit Gokudera dan dentingan trident Mukuro sudah terdengar bahkan dari kejauahn, beberapa orang terlihat berkerumun di ambang pintu ruang kerjanya. Tsuna menambah kecepatan larinya, dengan nafas terengah-engah dia meminta semua orang yang berkerumun itu untuk memberinya jalan.
"Maaf, huff huff.. tolong..minggir sebentar!" kata Tsuna begitu tiba di sana.
"Ah! Decimo-sama!" beberapa dari mereka berteriak dan segera membungkuk hormat saat melihat Tsuna datang. Mereka langsung menyingkir dari ambang pintu. Tanpa pikir panjang lagi, Tsuna langung masuk dan Oh…ruang kerjanya bagai kapal pecah yang dilempar dari atas tebing sekarang.
Gokudera dan Mukuro diam di sudut ruangan yang berbeda sambil berusaha mengatur nafas, pakaian mereka kotor dan sobek-sobek, tubuh mereka penuh luka dan berdarah. Sedangkan Yamamoto berada di sisi Gokudera untuk menenangkannya, dia juga terluka meski tidak sebanyak Gokudera dan Mukuro. Yang lebih parah lagi, mereka bertiga sama sekali tidak menyadari kehadiran Tsuna!
"Gokudera-kun! Mukuro!" teriak Tsuna, masih terengah-engah. Keduanya serempak menoleh dan memasang tampang shock di wajah mereka masing-masing, begitu pula Yamamoto. "Apa yang kalian la…AAAH!! Kertas kerjaku!" Tsuna berteriak histeris saat ia melihat kertas kerjanya yang menggunung berceceran di lantai, terinjak-injak dan berantakan, bahkan beberapa di antaranya terbakar hangus.
"Aaah, Tsuna, akhirnya kau datang!" kata Yamamoto lega.
"Maaf Juudaime! Ini semua gara-gara nanas keparat itu! Dia tiba-tiba menyerangku saat aku tengah mengerjakan laporan!" jelas Gokudera, Tsuna spontan melirik Mukuro yang hanya tersenyum mengangkat bahu.
"Habis, aku ingin membalas perbuatanmu tadi pagi, suruh siapa lempar dinamit ke arahku?"
"Berisik! Itu karena kau bilang Juudaime tidur denganmu!" gertak Gokudera dengan suara keras hingga membuat Yamamoto dan kerumunan orang di belakang Tsuna saling berbisik dan bergumam-gumam. Sepertinya akan ada gossip heboh di Vongola.
"Kufufu, tapi yang kukatakan itu benar kok, tanya saja pada Tsunayoshi-kun." Dalam detik itu juga, semua mata tertuju pada sang boss Vongola.
"Benarkah itu Juudaime? Kau tidur bersama nanas busuk ini?"
Semua orang diam menunggu jawaban Tsuna.
Aduh, apa yang harus kukatakan? Oh Tuhaaan, beri aku petunjuk!!
"Tsuna, apa itu benar?" Yamamoto juga ikut-ikutan bertanya.
"Juudaime?"
Tsuna menghela nafas, nampaknya dia tidak punya pilihan lain selain mengakuinya.
"Baiklah, itu memang benar, tapi— "
"Tuh kan, apa kubilang?" potong Mukuro.
"Brengsek! DASAR BAJINGAN! Berani-beraninya menodai kesucian Juudaime!" Gokudera segera berdiri dan menyiapkan 8 dinamit yang sudah menyala dan siap dilmpar.
"K-k-kau salah paham Gokudera-kun, Mukuro dan aku tidak—"
Terlambat, Gokudera sudah melempar dinamitnya.
"Bahaya, Tsuna!" Yamamoto dengan profesional bak aktor-aktor film action, mendorong Tsuna dengan tubuhnya untuk melindungi sang boss dari ledakan . Mukuro dengan tangkas menghindar. Dinamit Gokudera menghancurkan jendela besar di belakang meja kerja Tsuna yang sekarang sudah terbelah dua, serpihan-serpihan kaca berterbangan di seluruh ruangan yang mulai hancur setengahnya.
"Wah, wah, situasinya semakin gawat." Komentar Yamamoto, dia menyempatkan diri untuk menyunggingkan senyum di saat-saat seperti ini. Yamamoto segera membantu Tsuna untuk berdiri.
"Sudah kalian berdua! Hentikan!" teriak Tsuna.
"tapi Juudaime, si brengsek ini sudah—" kata-kata Gokudera terpotong oleh serangan Mukuro. Gokudera refleks membalas dengan melempar beberapa dinamit lagi dan kali ini sukses menghancurkan dinding yang membatasi antara ruang kerja dan kamar Tsuna. Semakin lama perkelahian mereka semakin sengit , mungkin sekarang mereka berdua benar-benar niat membunuh satu sama lain. Yamamoto pun mulai khawatir.
Melihat teman-temannya yang berharga saling melukai seperti itu membuat Tsuna tidak bisa tinggal diam. Dia tidak tahan lagi! Kapan ini semua akan berakhir kalau tidak ada yang sanggup melerai mereka berdua? Secepat kilat Tsuna berlari ke kamarnya lewat lubang besar yang ditimbulkan Gokudera, ia menyambar pil dan sarung tangan bercorak 27 nya di atas meja, lalu dalam seketika Tsuna sudah berada dalam Hyper Dying Will mode.
"Cukup sampai di sana!" kata Tsuna kalem namun tegas. Gokudera dan Mukuro berhenti ketika menyadari aura murka dari boss mereka. Tsuna memanfaatkan momen itu untuk membanting mereka sekuat tenaga hingga mereka terkapar di lantai yang penuh kepingan kaca sampai tidak bisa bergerak lagi. Yamamoto dan orang-orang yang masih berkerumun terlihat shock, mereka tak menyangka Tsuna akan menghajar mereka sampai seperti itu. Mungkin Tsuna sudah benar-benar tidak mentoleransi perkelahian mereka yang keterlaluan, namun mereka tahu satu hal yang pasti: Boss mereka sedang sangat marah sekarang.
Setelah Tsuna merasa situasinya sudah aman, Dying Will Flame di dahi Tsuna menghilang dan dia kembali menjadi normal, namun amarahnya masih meluap-luap seperti air mendidih.
"KENAPA KALIAN BARU MENDENGARKU SETELAH AKU MARAH!!" teriak Tsuna, melepaskan emosi yang bergemuruh di dadanya.
"Sungguh, maafkan aku Juudaime, maafkan aku! Maaf! Maaf! Maaf!" Gokudera mulai bersujud sambil membentur-benturkan kepalanya ke lantai, dahinya berdarah karena serpihan kaca namun kali ini Tsuna tidak menghentikannya.
"Kufufu…"
"DIAM KAU!" Seru Tsuna sambil menunjuk Mukuro.
"…"
"Maa, maa, Tsuna sebaiknya kau ten—"
"Kubilang DIAM!"
Yamamoto langsung menutup mulutnya rapat-rapat.
"KALIAN!" Tsuna menunjuk segerombolan orang yang masih berkumpul di ambang pintu. Mereka semua bergidik merinding. "KENAPA KALIAN DIAM DAN BERDIRI SAJA DI SANA? CEPAT AMBILKAN KOTAK P3K!"
"Ba, baik!" seru mereka serempak lalu segera pergi dari tempat itu.
Suasana yang tadinya kacau sekarang menjadi sunyi senyap, tak ada yang berani mengeluarkan sepatah katapun. Tsuna dengan lemas mengelilingi ruang kerjanya yang tinggal sejarah. ¾ hancur total. Dia menginjak foto berfigura kecil. Itu adalah foto Tsuna bersama Ayah dan Ibunya. Merasa sakit hati, Tsuna melempar foto itu ke luar, kemudian ia terduduk lemas sambil memegangi kepalanya lalu bergumam sedih.
"Kenapa kalian seperti itu?"
Tak ada satupun yang menjawab. Yamamoto juga hanya diam tertunduk.
"Ma, maaf Juudaime." Kata Gokudera sambil mulai berusaha bangun dengan sisa tenaganya yang ada. Yamamoto langsung bereaksi dan membantunya. "Kami akan…memperbaiki semua kerusakan dan memebereskan ruang kerjamu seperti sedia kala."
Tsuna tersenyum pedih.
"Aku tidak peduli dengan ruang kerjaku." Kata Tsuna, matanya mulai panas dan ia seperti ingin menangis.
Jangan menangis Tsuna, kau sudah berumur 19 tahun ingat? Lagipula kau ini laki-laki! Laki-laki! Batin Tsuna mengingatkan. Namun pada akhirnya ia tetap meneteskan air mata.
"Melihat kalian bertarung seperti tadi membuat dadaku sesak!" Tsuna mulai terisak. Baik Gokudera, Mukuro, maupun Yamamoto, semuanya menundukkan kepala, termenung. Faktanya, mereka telah menyakiti perasaan Tsuna. Kapan mereka akan tumbuh dewasa? Beberapa menit kemudian segerombolan orang tadi datang dan membawa kotak P3K. Beginilah kalau tidak ada Sasagawa Ryouhei sang Sun Guardian yang selalu menyembuhkan kapan pun di manapun saat mereka terluka.
Yamamoto berbaik hati mencoba mengobati Gokudera, dia sempat merasa aneh…kok tumben Gokudera tidak protes? Tapi ya...biarlah...
"Decimo-sama apa anda terluka?"
"Aku baik-baik saja." Tsuna berusaha menghapus sisa-sisa air matanya, dia merasa malu sekali. Benar apa yang dikatakan Reborn, walau Tsuna sudah berumur 19, kelakuannya masih seperti anak berumur 15. Hanya karena hal seperti ini saja dia menangis? Ha! Memalukan!
"Boss! Mukuro-sama!" tiba-tiba sekali Chrome datang dengan berpakaian formal, bukan formal karena dia mengenakan jas hitam dan rok spannya, tapi pakaian formal seperti gaun putih panjang dengan renda-renda di bawahnya, dia mengenakan septu berhak silver dan bando putih berpita di kepalanya, nampak cantik bak seorang puteri.
"Chrome sayang?" tanya Mukuro yang kemudian berdiri, dibantu dengan Chrome tentu saja. Tak lama kemudian Hibari dan Kusakabe datang. Hibari juga berpakaian formal, dia nampak seperti seorang Pangeran di mata Tsuna. Ah tidak, Hibari selalau nampak seperti seorang Pangeran kapan pun Tsuna melihatnya.
"Wao, tampaknya aku melewatkan sesuatu yang menarik di sini." Komentar Hibari saat dia melihat oh-betapa-indahnya-ruang kerja-Tsuna. Kusakabe tidak bertanya apa yang telah terjadi, hanya dengan melihat Mukuro dan Gokudera saja, dia sudah bisa menebak.
"Mukuro-sama, apa yang terjadi di sini?" tanya Chrome khawatir.
"Oya oya, kami hanya terlalu bersemangat bemain-main." Jawab Mukuro tersenyum, dia melirik Gokudera yang membalasnya dengan tatapan 'cih'. "Omong-omong kau dari masa saja Chrome?"
"Oh, tadi pagi Kyo-san mengajak Dokuro-san pergi ke pesta ulang tahun salah satu bekas anggota Komite Disiplin Nami-chuu. Maaf kami tidak memberi tahu soal ini." Jawab Kusakabe segera.
"Pergi ke pesta? Kenapa harus dengan Chrome?" tanya Yamamoto, dia masih membalut lengan Gokudera.
"Apa boleh buat, undangannya mengatakan kalau harus pergi dengan pasangan masing-masing, Tapi Kyo-san hanya di sana beberapa menit kemudan mengantar pulang Dokuro-san."
Entah apa yang tiba-tiba membuat dada Tsuna serasa seperti tertusuk-tusuk. Mengapa dia tidak senang saat mendengar Hibari mengajak Chrome? Tsuna tidak suka saat Gokudera dan Mukuro bertengkar, hal itu membuat dadanya sesak, namun mengetahui bahwa Hibari dan Chrome pergi berdua… hatinya terasa pedih dan lebih sesak lagi, seolah-olah Tsuna tidak akan bisa bernafas.
"Kenapa kau tidak bilang-bilang Chrome?" tanya Mukuro, dia mengelus rambut Chrome yang sekarang sudah mulai panjang dan mencium dahinya. "Kau terlihat cantik, bagaimana pestanya?"
"Aku senang sekali!" kata Chrome sambil tersenyum lebar. Melihat Chrome tersenyum seperti itu, Tsuna tak bisa menahan diri lagi, dia segera berlari keluar, melewati Hibari tanpa menoleh sedikit pun.
"Kenapa Sawada-san?" tanya Kusakabe. Tak ada satupun yang menjawab.
Tsuna berlari kencang, dia tidak menghiraukan apapun yang ada di sekitarnya. Bahkan saat beberapa mafioso membungkuk dan memberinya salam, Tsuna tidak berhenti atau menoleh, dia hanya berlari. Tsuna tahu ini artinya kabur dari kenyataan, dia tahu ini tandanya dia adalah seorang pengecut. Biarlah, toh dari awal juga dia memang pengecut…Tsuna tidak berani mengatakan pada Hibari kalau dia menyukainya. Hahaha…menyukai Hibari adalah hal terbodoh yang ia lakukan selama ini.
Saat Tsuna melihat gambar Chrome, seharusnya dia sadar. Laki-laki di gambar itu adalah Hibari. Selama ini Chrome selalu memperhatikan Hibari, bukan begitu? Seharusnya Tsuna tidak pernah memberi tahu Giotto kalau dia menyukai Hibari. Konyol rasanya, sekarang semuanya sudah terlambat.
Giotto… dia ingin bertemu Giotto. Mungkin sekarang dia masih berada di taman. Tsuna berlari ke tempat dia meniggalkan Giotto saat menerima telepon dari Yamamoto. Namun tak ada sosok yang ia cari di sana. Di mana dia? Di saat Tsuna membutuhkannya, Giotto malah tidak ada.
"Uuuh…Giotto.."
"Tsunayoshi?"
Tsuna menoleh, Giotto berdiri di hadapannya…di tangannya terdapat setangkai bunga teratai yang masih basah. "Ada apa? Kau menangis?"
Tsuna benar-benar tidak bisa menahan diri lagi, dia segera berlari memeluk Giotto tanpa pikir panjang. Giotto segera mengerti situasi yang terjadi, dia menjatuhkan bunga teratai yang baru dipetiknya dan membalas pelukan Tsuna.
Tsuna menangis tertahan sambil terisak, air matanya mengalir deras, membasahi kemeja Giotto yang bersih. Dia menuangkan semua emosinya di sana, emosi saat dia marah karena Gokudera dan Mukuro, emosi karena dia sedih ketika melihat mereka terluka, emosi saat melihat Chrome tersenyum…semuanya…
"Aku…b-bodoh..seka…li!!" gumam Tsuna sambil terisak, kata-katanya tidak begitu jelas namun dapat ditangkap Giotto dengan baik. Giotto mengusap-usap kepala belakang Tsuna seolah-olah dia mengerti perasaannya. "D-d-dari a..wal aku…tidak… punya harapan. Aku memang…bodoh."
Giotto memejamkan matanya.
"Sudahlah, berhenti menangis dan ceritakan padaku apa yang terjadi." kata Giotto, mempererat pelukannya. Namun Tsuna tidak bisa tenang.
"Ti..tidak bisa! Dadaku terasa sakit. Air mataku tidak bisa berhenti." Kata Tsuna, masih juga terisak dan tersedu-sedu. Giotto kemudian melepaskan pelukannya, lalu secara tiba-tiba menempelkan bibirnya pada bibir Tsuna. Tsuna terbelalak kaget, namun tidak berontak karena otaknya yang agak lemot sedang memproses situasi yang sedang terjadi.
Eh..? Apa? UWAAH!! Giotto…!! Giotto…dia menciumku?!
Beberapa detik kemudian Giotto melepaskan ciumannya dan menatap Tsuna sambil tersenyum.
"Tuh, berhenti." Katanya. Wajah Tsuna memerah bukan main, dia kembali membenamkan wajahnya ke dada Giotto. Dia memang sudah berhenti menangis, tapi tidak sanggup mengeluarkan kata-kata. Apa yang harus ia katakan? Bilang terima kasih? Itu seolah-olah Tsuna menyukai ciumannya. Bertanya 'apa yang kau lakukan?', itu pertanyaan bodoh!! Situasi seperti ini membuat Tsuna kebingungan.
Apa-apaan sih Giotto? Untuk apa dia menciumku?? UWAAAA! Wajahku pasti merah lagi.
Giotto tetawa pelan, tapi dia kembali memeluk Tsuna yang sekarang sudah sedikit tenang. Tanpa mereka sadari, beberapa meter dari Tsuna dan Giotto yang masih berpelukan, Hibari berdiri dengan tatapan penuh kebencian. Dia melayangkan tinjunya ke arah tembok hingga timbul retakan besar di tembok beton itu. Lalu dengan langkah cepat, Hibari pergi menjauh.
"Kyo-san, kau sudah menemukan Sawada-sana?" tanya Kusakabe yang baru datang. Hibari terus berjalan melewatinya begitu saja. Dia telah melihat semuanya...pelukan itu…ciuman itu… persetan!! "Kyo-san?"
Tsuna menceritakan semua yang terjadi pada Giotto, butuh waktu dua jam sampai ia menyelesaikan semua ceritanya dari awal sampai akhir. Dan Giotto…dengan setia mendengarkan.
"Kalau begitu kau bisa tidur di kamarku." Kata Giotto setelah Tsuna selesai bercerita.
"EEEH??! Ta, tapi…"
"Kau tidak mungkin tidur di kamarmu yang sudah hancur itu kan?"
"I, iya juga sih…"
Giotto tersenyum lalu menepuk kepala Tsuna. Tsuna membalas senyumnya, lalu tanpa sadar tubuhnya bergerak mendekat, menyandarkan kepalanya ke bahu Giotto.
-End of Flashback-
.
.
Wajah Tsuna memerah ketika dia mengingat ciumannya kemarin. Tsuna menempelkan jari ke bibirnya. Apakah ciuman kemarin benar-benar terjadi atau dia hanya bermimpi? Setalah cukup lama berendam, Tsuna meraih handuk putih berbentuk kimono yang tergantung tak jauh dari bathtub, lalu keluar dari kamar mandi setelah memasukkan pakaian kotornya ke dalam keranjang pakaian.
Dan di sana, di tempat tidur, Giotto duduk menatap Tsuna yang baru selesai mandi sambil tersenyum.
"Kau bangun pagi-pagi sekali." Kata Giotto, dia turun dari tempat tidur dan berjalan ke arah Tsuna.
"Aku harus membereskan ruang kerjaku yang berantakan, kalau tidak Reborn akan membunuhku." Jawab Tsuna. Dia membayangkan cara apa gerangan yang akan Reborn pakai untuk menyiksa Tsuna kalau dia menemukan kertas kerjaannya berantakan?
"Oh, benar juga. Itu tugas boss nomor dua." Kata Giotto.
"Nomer dua?" Alis Tsuna terangkat sebelah. "Kalau begitu apa nomor satunya?"
Giotto tertawa kecil sebelum dia berjalan semakin dekat.
"Kalau nomer satunya sih…" Tanpa memberi peringatan apapun, Giotto meraih dagu Tsuna lalu menempelkan bibirnya ke bibir Tsuna. Mata Tsuna melebar kaget, dan karena otaknya yang lemot, dia tidak sempat berontak sebab Giotto sudah melepaskan ciumannya. "tentu saja membahagiakan keluarganya." Tambah Giotto sambil tersenyum dia berjalan ke arah kamar mandi, meninggalkan Tsuna yang masih terpaku dengan ciumannya tadi. Semenit kemudian…
"A-APA-APAAN KAU!! GIOTTOOO!!!" teriak Tsuna keras hingga seluruh orang di Vongola Head Quarter bisa mendengarnya.
Sedangkan di dalam kamar mandi, Giotto tertawa senang sambil menyikat gigi.
Chel: Fuuuh…. Beres nih chapter 6, gimana menurut kalian?
Tsuna: ah…emmm…yah, begitulah..
Chel: …
Tsuna: ???
Chel: Gitulah gimana? Ngomong yang jelas donk!!
Tsuna: Hiie!!
Chel: Sudahlah, gimana menurutmu Hibari-sama?? XD
Hibari: no comment..
Chel: ….
Hibari: *death glare* apa? Mau protes? *nyiapin tonfa*
Chel: Hyaaaa!!! GOMEN!! K-kalau begitu, gimana pendapatmu, Giotto-sama?
Giotto: Hmmm, setidaknya aku agak-agak cool di chapter ini, yah…lumayan lah ada adegan hiburannya.
Chel: Oh gitu ya? Adegan yang mana?
Giotto: …Kiss…Tapi pasti lebih menghibur lagi kalau ada adegan s**nya
Chel: UWAAA!! Stop! Jangan gunakan bahasa yang aneh-aneh!!
Hibari: Huh, aku juga setuju,,,
Chel: H-hibari-samaaa….???!
Tsuna: Akh, mulai deh…aku pasti lagi-lagi jadi uke-nya..
Giotto&Hibari: takdir…
Chel: Stop! Waktu habis.!! Sampai jumpa di chapter berikutnya..byee ^^
