GAAAAH!!!!

Akhirnya beres juga nih chapter…haduuuh…mana bahasanya aneh pula…

Maklum, lagi demam gara-gara kebanyakan tidur larut malem…

(demam kok sempet-sempetnya ngetik?) ah sudahlah…habis nganggur sih, kan bosen kalo tiduran terus..hehe..*GJ

Warning: lil bit yaoi…kiss scene 1827

...


Chapter 8. Confession


Hibari mengambil beberapa batang kayu kering yang tergeletak di tanah lalu menjatuhkannya ke dalam tumpukan kayu-kayu lain yang sudah ia kumpulkan bersama Tsuna. Ide Reborn untuk memberinya tugas yang sama dengan Tsuna membuka kesempatan bagi Hibari untuk bisa berduaan dengan boss kecilnya itu walau hanya sebentar, tapi usulnya itu berhasil mengubah mood Hibari secara drastis.

Tadi si rambut pirang sialan itu sudah bermain-main dengan emosinya, dan gara-gara dia, Hibari jadi memukul Kusakabe dengan alasan yang tidak logis di depan Tsuna. Hibari tahu Tsuna tidak suka kekerasan, ini yang membuatnya berpikir 2x kenapa Tsuna bisa menjadi boss mafia. Bukankah dunia mafia itu selalu identik dengan kekerasan dan pembunuhan? Yah, Hibari akan memikirkan hal itu lain kali. Sekarang, bagaimana cara dia mengembalikan imagenya yang sudah rusak di mata Tsuna?

"Kayu yang kau kumpulkan terlalu kecil." Komentar Hibari sambil memperhatikan kayu-kayu yang dikumpulkan Tsuna. "Selain itu masih banyak daunnya."

"Oh! M-m-maaf. Biar kucari lagi!"

Hibari memandangi Tsuna yang dengan panik berlari menjauhinya. Mungkin dia takut Hibari akan menghajarnya seperti yang ia lakukan pada Kusakabe karena telah membuat kesalahan. Tapi…dari tadi Tsuna terlihat menjaga jarak. Laki-laki itu hanya bisa menghela nafas.

"Kalau kau tidak setuju setugas denganku, seharusnya kau bilang dari awal, herbivore." Ujar Hibari sambil mendekati Tsuna yang sedang memilah ranting.

"Eh? A-aku bukannya tidak setuju." Sahut Tsuna, dia tampak gugup.

"Kalau begitu kenapa kau menghindar terus?"

"Aku tidak menghindar…" jawab Tsuna, tanpa sadar tubuhnya bergeser menjauh saat jarak antara dia dan Hibari kurang dari satu meter.

"…"

"…Baiklah, aku mengaku aku menjaga jarak darimu," kata Tsuna akhirnya. "Tapi itu kulakukan agar Chrome tidak cemburu."

Hibari diam, namun matanya sedikit melebar karena kaget. Apa katanya barusan? Chrome? Cemburu?

"Cemburu pada siapa?" tanya Hibari, sambil berusaha menyembunyikan ekspresi kaget di wajahnya.

"Tentu saja cemburu padaku, kalian ini pacaran tapi aku berduaan denganmu sekarang. Apa kau tidak takut akan melukai perasaan Chrome?"

Seketika mereka berdua membisu, bertatapan satu sama lain. Hanya suara gemerisik dedaunan dan suara air terjun yang terdengar.

Halooo!! Adakah dokter THT di sini??? Aku butuh mengecek telingaku karena aku mendengar sesuatu yang ajaib keluar dari mulut herbivore ini…

Mungkin itulah yang ada di pikiran mantan ketua Komite Disiplin Nami-chuu itu sekarang.

"Kau-bilang-kami-apa-tadi?" tanya Hibari, terputus-putus namun penuh penekanan di setiap katanya.

"K-k-kalian… pacaran…kan?" ulang Tsuna takut-takut. Hibari mendekat lalu meraih kerah jaket yang dikenakan Tsuna, memaksanya untuk berdiri dan memandangi wajahnya, tapi Tsuna malah menutup matanya rapat-rapat karena ketakutan.

"Aku tidak tahu kau dapat gossip dari mana, tapi akan kuluruskan masalah ini!" geram Hibari di depan wajah bossnya itu. "Aku tidak pacaran dengan perempuan itu, dan tidak akan pernah! Walau dia adalah perempuan terakhir di bumi!" Setelah mengatakan hal itu, Hibari melepaskan genggamannya dan mendorong Tsuna hingga ia terjatuh, Tsuna merintih 'aduh' pelan lalu segera berbalik menghadap Hibari.

"Kalau begitu kenapa kau mengajaknya ke pesta sebagai pasanganmu?" tanya Tsuna, sedikit membentak. Hibari memicingkan matanya.

"Memang kenapa kalau aku mengajaknya?"

"Aku yang bertanya duluan, kau jawab dulu pertanyaanku!"

Hibari hampir saja lost control dan memukul Tsuna, berani-beraninya seorang herbivore memberinya perintah. Tapi dia memutuskan untuk bersabar, kalau dia memukul laki-laki yang satu ini, tak akan ada lagi kesempatan untuk mendekatinya. Setelah menarik nafas dalam-dalam, untuk menangkan hatinya sejenak, dia berkata…

"Tadinya aku mencarimu, tapi aku tidak menemukanmu bahkan setelah kutanya-tanya pada segerombol herbivore yang merusak pemandangan. Aku mengajak Chrome karena kupikir kau sedang keluar." Tutur Hibari, mati-matian menjaga nada bicaranya agar tidak terdengar emosi. Bukannya terkejut, Tsuna malah memperlihatkan ekspresi bingung dan mata coklat karamelnya itu bekedip beberapa kali.

"U-untuk apa kau mencariku, Hibari-san?" tanya Tsuna, jelas bahwa dia tidak mengerti.

Oke, Hibari tahu kalau Tsuna itu lemot. Tapi lemotnya ini benar-benar sudah KRONIS! Kenapa Tsuna tidak bisa sedikit lebih sensitif atau setidaknya dia mengerti apa yang dikatakannya barusan? Apa kabar kalau Tsuna memiliki Hyper Intuition itu hanya bualan belaka?

Dia benar-benar sudah tidak sabaran, di satu sisi Hibari ingin memukul Tsuna yang tidak segera menyadari perasaannya, dan di sisi yang lain, dia ingin sekali memonopolinya. Tapi otaknya itu terlalu…aaakh! Parah…! Bikin di jengkel saja.

"Kau ini…pura-pura bingung atau memang bingung sungguhan?" tanya Hibari memastikan.

"A-aku benar-benar bingung, kalau Hibari-san sudah berniat mengajak Chrome, kenapa harus mencariku segala?" tanya Tsuna. Hibari sudah kehabisan akal, apa karena saking seringnya kepala Tsuna terbentur akibat latihan dan bertarung, maka dia jadi lemot seperti ini? Kesabarannya juga sudah habis sekarang, killer instinct nya mulai bangkit dan dia ingin menghajar seseorang, meng-kami korosu-nya sampai dia puas. Siapapun, asalkan bukan Tsuna.

"Tsunayoshi!" sebuah suara memanggil nama herbivore itu. Tsuna dan Hibari sama-sama menoleh. Senyum Hibari yang sinis mengembang begitu melihat Giotto datang dengan nafas sedikit terengah.

Ah, waktunya pas sekali…

"Giotto? Ada apa?" Tsuna cepat-cepat berdiri dan membersihkan kotoran yang menempel di celananya.

"Kemari sebentar!" Pinta Giotto. Tsuna segera menghampiri Giotto tanpa banyak tanya. Senyum sinis Hibari segera menghilang saat dia melihat Giotto membisikkan sesuatu ke telinga Tsuna. Mau apa dia? Memanas-manasinya lagi?

"Eh, m-memangnya ada apa?" tanya Tsuna setelah Giotto selesai berbisik. Entah apa yang ia katakan, tapi Hibari jelas tidak suka.

"Coba saja ke sana." Jawab Giotto sambil tersenyum. Setelah itu, Tsuna langsung pergi. Sebentar kemudian sosok Tsuna menghilang di balik semak-semak, Giotto berpaling ke arah Hibari yang dari tadi sudah bersiap-siap menghajarnya, kedua tonfanya sudah ia genggam erat-erat, dan wajahnya memperlihatkan aura kebencian yang parah. "Nah, sekarang aku akan mengurus yang satu ini."

Tanpa banyak basa-basi, Hibari langsung maju dan mengayunkan tonfanya dengan cepat ke arah wajah Giotto, namun Giotto berhasil memblokir serangan itu. Tak mau menyerah, laki-laki itu mengubah sasarannya ke arah perut Giotto yang lagi-lagi berhasil ditepisnya. Tak ada satupun serangan Hibari yang berhasil mengenainya. Belum dalam Hyper Dying Will mode saja Giotto sudah sekuat ini, apalagi kalau dia serius melawan Hibari? Dalam satu serangan, Giotto berhasil membuat Hibari terpental, namun dia mendarat dengan sempurna.

"Bisakah kau diam sebentar? Aku datang ke sini bukan untuk berkelahi." Ujar Giotto. Menyadari bahwa Giotto tidak melawannya dengan serius, membuat sang Cloud Guardian semakin merasa jengkel.

"Apa maumu?" geram Hibari.

"Ada yang ingin kubicarakan." Jawab Giotto singkat.

"Aku tidak menerima negosiasi apapun!" Hibari mulai berlari dan hendak menyerang lagi, sampai kata-kata Giotto yang selanjutnya membuat langkahnya terhenti.

"Ini tentang Tsunayoshi."

"…!!"

Tubuhnya berhenti secara otomatis begitu mendengar nama Tsuna keluar dari mulut orang brengsek di depannya itu. Namun kata-kata Giotto yang berikutnya membuat Hibari makin terkejut lagi.

"Apa kau tahu kalau Tsuna sudah lama menyukaimu?"

Hibari memandangi Giotto dengan tatapan apa-katamu-tadi? Dia menurunkan tonfanya dan memutuskan untuk mendengarkan kata-katanya sebentar.

"Aku juga tahu kalau kau menyukainya." Sambung Giotto. Hibari kembali tersenyum sinis dan tatapan matanya berubah merendahkan.

"Kau pikir aku akan percaya padamu setelah aku melihat kalian berciuman?"

"Oh, jadi kau melihatnya?"

Nafsu membunuh Hibari semakin kuat, tidak hanya itu, serangannya pun bertambah cepat. Beberapa kali Giotto hampir tidak sempat menghalau serangannya yang brutal itu.

"Apa kau tahu kau pernah membuat Tsuna menangis?" tanya Giotto di tengah-tengah perkelahian mereka. Hibari tetap menyerangnya, pura-pura tidak mendengar. "Hei! Kau mendengarku tidak?"

"Omong kosong! Aku tidak pernah melakukan apapun pada herbivore itu!"

Giotto menghantam perut Hibari dengan tinjunya hingga dia jatuh tersungkur setelah terpental beberapa meter. Damage yang ia terima cukup kuat sampai membuatnya terbatuk sebelum bangkit lagi. Namun saat Hibari melihat Giotto, ekspresi laki-laki pirang itu telah berubah total. Tanpa intuisi sekuat Tsuna pun, Hibari tahu Giotto sedang marah.

Tapi untuk apa Giotto marah? Seharusnya dialah yang marah karena Giotto sudah mengambil perhatian Tsuna darinya, Giotto juga sudah memeluk dan mencium Tsuna seenaknya, Giotto sudah membuatnya cemburu sampai-sampai dia ingin sekali membakarnya hidup-hidup!

"Apa kau sadar kau telah melukai perasaan Tsuna?" tanya Giotto, nada bicaranya dingin dan dalam. Persis seperti suara Tsuna saat dalam Hyper Dying Will mode, hanya saja suara Giotto terdengar lebih tajam. Hibari tidak berkata apa-apa, mendengar suara Giotto yang barusan membuatnya berpikir bahwa Giotto adalah satu-satunya Carnivore yang mungkin pantas menandinginya.

"Hmmf, jangan membuatku tertawa." Sahut Hibari masih tersenyum sinis. "Kapan aku pernah menyakiti perasaan Tsunayoshi?"

"Kau benar-benar tidak sadar? Menyedihkan! Bahkan Mukuro yang sering melakukan sexual harrasment saja lebih pantas mendapatkan Tsuna ketimbang dirimu." Ledek Giotto.

"CUKUP!" Baiklah, mungkin tidak apa-apa kalau Giotto menjadi penyebab hancurnya image Hibari di depan mata Tsuna. Tapi merusak citranya dengan mengatakan kalau dia lebih rendah dari Mukuro membuatnya semakin tidak sabar! Kalau saja dia membawa box weaponnya, dia pasti sudah membunuh orang itu sekarang!

"Hentikan omong kosongmu!"

Kali ini Giotto yang mengambil langkah duluan untuk menyerang, dia mendorong tubuh Hibari kuat-kuat hingga keseimbangan laki-laki itu goyah dan ambruk ke tanah. Giotto menindih Hibari dengan tubuhnya agar ia tidak bergerak, tak peduli apa dia terlalu berat atau tidak, kemudian Giotto menarik kerah kemejanya seperti yang Hibari lakukan pada Tsuna.

"Omong kosong katamu?" dengus Giotto di depan wajah Hibari. Mata mereka saling bertatapan dalam kebencian. "Kau pikir dengan mengajak Chrome ke pesta bodoh itu sebagai pasanganmu tidak melukai perasaannya? Dia menceritakan hal itu padaku sambil menangis!"

Heeh…Apa katanya? Dia telah melukai perasaan Tsuna dengan mengajak Chrome sebagai pasangannya ke pesta? Hibari tak percaya dengan apa yang dikatakan Giotto namun ia kembali teringat kata-kata Tsuna barusan..

"Kalau begitu kenapa kau mengajaknya ke pesta sebagai pasanganmu?"

Ah benar juga, Hibari sendiri tidak peka. Dia malah terus-terusan menyalahkan Tsuna yang berotak lemot, sementara dia tidak sadar kalau saat itu Tsuna cemburu padanya. Seharusnya dia memaklumi kalau Tsuna tidak bisa sedikit lebih sensitif, itu karena Hibari tidak bisa dengan lembut mengatakan perasaannya pada Tsuna. Berarti dari awal dia memang sudah salah langkah.

"Aku menjaga jarak darimu, tapi itu kulakukan agar Chrome tidak cemburu."

"…kalian ini pacaran tapi aku berduaan denganmu sekarang, apa kau tidak takut akan melukai perasaan Chrome?"

Kepalanya segera dipenuhi semua perkataan Tsuna barusan. Kemudian dia bisa membayangkan seluruh ekspresi laki-laki berambut cokelat itu di benaknya. Memorinya memutar ulang seluruh kejadian yang sudah ia alami bersama Tsuna.

Heh, herbivore itu masih saja selalu memikirkan orang lain walau dia sendiri terluka.

Meski salah paham, Tsuna sebenarnya peduli. Dia memang begitu. Selalu saja jadi korban pertengkaran, selalu yang jadi disalahkan, selalu yang menanggung semuanya sendirian. Dia selalu….

selalu ada di dalam pikiran Hibari, dan ia tidak bisa menyangkalnya.

Menyadari perubahan ekspresi pada lawannya, Giotto segera bangkit dan berjalan menjauh, sementara Hibari masih terbaring di tanah, menutupi matanya dengan lengan kirinya.

"Kalau kau sudah mengerti, cepat berdiri!" perintah Giotto. Hibari tidak bergeming, dia tetap membisu dalam posisi seperti seorang pecundang yang baru saja dihajar habis-habisan. Untuk pertama kalinya dalam seumur hidup, dia memang merasa seperti seorang pecundang kali ini. "Baiklah terserah kau mau berbaring di situ sampai kapan, tapi kalau kau tidak cepat-cepat berdiri dan menyusul Tsuna, Mukuro akan mendahuluimu."

Mata Hibari terbelalak dan bangkit dalam sekejap.

"Apa katamu?"

"Tadi aku berbisik begini pada Tsunayoshi," kata Giotto sambil menyeringai, atau lebih tepatanya tersenyum licik. "Tsuna, Mukuro ingin bicara berdua denganmu di sungai dekat air terjun."

"Ck!" Mendengar kata-kata Giotto yang barusan, tanpa banyak tanya Hibari segera berlari ke arah Tsuna pergi barusan. Ke balik semak-semak berduri. Dia melangkahkan kakinya dengan cepat mengikuti suara air terjun yang semakin terdengar jelas. Ketika dia baru saja sampai di tepi sungai, matanya segera berkeliling mencari sosok Tsuna, namun tidak ada siapapun di sana. Apa Mukuro sudah mengajaknya pergi?

"Tsunayoshi!" Hibari memanggil namanya dengan sedikit panik. Takut kalau-kalau Mukuro sudah melakukan sesuatu pada Tsuna. Dia berlari menelusuri sepanjang sungai, namun tetap tidak menemukan orang yang dicarinya.

Sial, ke mana mereka pergi?

Nafas Hibari mulai tersenggal-senggal, dia juga menahan sakit yang menyerang ulu hatinya. Serangan Giotto yang mengenainya beberapa saat yang lalu itu sepertinya sungguh-sungguh.

"Tsunayoshi!" teriak Hibari sambil mulai berlari ke dalam hutan. Hari sudah agak gelap, dan kemungkinan terburuk bisa saja terjadi pada herbivore kesayangannya itu. Dia berhenti di sebuh pohon Oak untuk mengambil nafas. Setelah ini, ke mana lagi dia harus mencari? Kenapa herbivore yang satu ini benar-benar menyusahkannya luar dalam? "Tsunayoshi! Jawab aku atau kami korosu!" teriak Hibari.

"Hibari-san?"

Hibari menoleh ke sekelilingnya, dia yakin dia mendengar suara Tsuna barusan, namun ia tidak bisa menemukan anak itu.

"Di mana kau?" teriak Hibari lagi.

"D-di atasmu."

Hibari mendongak, dan matanya menangkap sosok Tsuna yang sedang duduk di atas salah satu dahan pohon Oak yang cukup tinggi sendirian.

Tunggu! Sendirian? Mana si kepala nanas bodoh itu? Bukankah seharusnya ia bersama Tsuna?

...

Ah, sudahlah, untuk apa memikirkan hal itu sekarang.

"Apa yang kau lakukan di atas sana?" tanya Hibari, masih dengan nafas tersenggal.

"Aku menghindari serangan hewan buas, bukannya mereka selalu menyerang di malam hari?"

Hibari hanya menghela nafas, dia lupa kalau Tsuna takut berada di tempat gelap sendirian, dia juga takut dengan beruang dan semacamnya.

Dasar herbivore…

"Baiklah, sekarang kau turun!"

"A-anu..emmm"

"Ada apa lagi?"

"Aku lupa bagaimana caranya turun."

"…"

"M-maaf, aku memanjat tanpa sadar saat mendengar suara burung hantu."

Dia ini aneh sekali, padahal kalau dalam Hyper Dying Will mode, dia bisa terbang ke sana ke mari seperti lalat yang susah ditangkap, tapi tanpa kedua sarung tangan dan pil ajaibnya itu Tsuna benar-benar payah. Lagipula mana ada laki-laki yang sudah berumur sebilan belas tahun tidak bisa turun dari atas pohon?

"Kalau begitu lompat dari sana, aku akan menangkapmu!" ujar Hibari sambil mengangkat kedua tangannya dan bersiap-siap menangkap Tsuna.

"Eh? T-tapi tinggi sekali."

"Jangan banyak bicara dan cepat lompat!" sentak Hibari yang sudah tidak sabar.

Tsuna menelan ludah, dia menutup matanya rapat-rapat lalu melompat ke arah Hibari yang kemudian menangkapnya, tapi karena Hibari sedang terluka, keseimbangannya pun goyah dan mereka berdua jatuh tersungkur. Saat Tsuna membuka mata, tubuhnya berada di atas Hibari yang memeganginya erat-erat.

"Uwaaah! M-m-maaf, Hibari-san!" Tsuna baru saja akan bangun, tapi guardiannya itu menarik lengannya sehingga ia kembali terbaring di atas tubuh Hibari.

"Aku ingin seperti ini, sebentar saja." Gumam Hibari sambil memeluk tubuh Tsuna. Wajah Tsuna seketika memerah, namun ia tidak berontak atau mengatakan sesuatu. Tsuna bisa mendengar detak jantung Hibari dengan jelas, jantungnya berdegup kencang sama sepertinya. Setelah beberapa menit mereka berdua berpelukan seperti itu, Tsuna berusaha melepaskan diri.

"H-Hibari-san! S-s-s-sebaiknya, k-k-kita cepat kembali sebelum semuanya kha-khawatir!" ujar Tsuna salah tingkah, wajahnya masih merah. Melihat gelagat boss kecilnya yang kebingungan menghadapi situasi mereka, Hibari malah tertawa geli.

Tsuna memandangi Hibari dengan tatapan takjub tak percaya, seolah-olah dia baru saja melihat keajaiban dunia ke delapan di depannya. Merasa dipandangi terus, Hibari mengehentikan tawanya dan bertanya dengan serius.

"Kenapa kau melihatku seperti itu?"

"Ah, tidak." Jawab Tsuna, masih dengan tatapan takjub di kedua bola mata karamelnya. "Ini…pertama kalinya aku melihat Hibari-san tertawa seperti itu."

Mata Hibari sedikit melebar, dia juga sebenarnya tidak sadar kenapa dia bisa tertawa seperti tadi. Apa karena dia melihat wajah Tsuna yang menggemaskan itu?

"Jangan bicara lagi, ayo lekas kembali!" dengus Hibari, raut mukanya kembali pada ekspresi kakunya yang biasa. Dia bangkit lalu membantu Tsuna berdiri dan membersihkan dedaunan kering yang menempel di kepala laki-laki kecil itu.

"Hei herbivore, kau suka padaku?" tanya Hibari tiba-tiba. Spontan wajah Tsuna kembali memerah, bahkan lebih merah dari sebelumnya.

"EEEEEEEEEHHHH!!!" jerit Tsuna sambil cepat-cepat mundur beberapa meter sampai menabrak pohon yang ada di belakangnya. Kepalanya tiba-tiba saja mendadak pusing. "D-D-D-D-Dari mana…k-kau…?" tanya Tsuna, suaranya bergetar hebat.

"Hnn, jadi benar ya?" Hibari menyeringai, dan wajah Tsuna semakin memerah saja, dia cepat-cepat menutupi wajahnya saat Hibari mendekat. "Hei, kenapa kau menutupi wajahmu seperti itu?" tanya Hibari sambil menarik kedua tangan Tsuna yang ngotot menempel di wajah imutnya.

"H-habisnya aku malu!"

"Hmmf, kau tidak perlu malu, herbivore."

"Eh?" tangan Tsuna melonggar, entah ini hanya imajinasinya atau apa, tapi Hibari mengelus rambut Tsuna dengan lembut dan ia mendekatkan wajahnya.

"Karena, perasaanku juga sama sepertimu." Gumam Hibari sebelum ia melekatkan bibirnya ke bibir Tsuna. Awalnya Tsuna terkejut, tapi kemudian ia menutup matanya dan menerima ciuman Hibari. Mengetahui kalau Tsuna tidak berontak, Hibari mulai menjulurkan lidahnya, meraih apapun yang bisa diraihnya di dalam mulut Tsuna. Tsuna bisa mencium wangi parfum Clive Christian's X yang serasa membiusnya saat tubuh Hibari semakin merapat.

"Mmmm…" Tsuna mulai mengerang. Suasananya semakin panas sekarang, namun Hibari tidak melepaskan ciumannya. Setelah puas menjelajahi mulut Tsuna, barulah ia berhenti untuk mengambil nafas. Segaris saliva masih menghubungkan bibir Hibari dan Tsuna, maka Hibari pun menempelkan bibirnya lagi beberapa detik.

"Aaaah…" Tsuna mengerang lagi saat Hibari mulai menciumi leher Tsuna. Aroma tubuh tsuna seperti jeruk dan bunga jasmine, samar-samar juga tercium wangi kayu manis.

"Kau milikku sekarang…" gumam Hibari pelan, setengah mendesah di telinga Tsuna. Ia pun mulai menyelipkan tangan kanannya ke balik kaos Tsuna dan membuat Tsuna tersentak, merasakan sensasi yang aneh saat tangan Hibari yang dingin mulai menelusuri tubuhnya.

"Hibari-san…" desah Tsuna, boss kecil kita ini nampaknya sudah terlanjur terbawa suasana romantis. Hibari baru saja akan mencium Tsuna lagi saat ia mendengar suara yang benar-benar tak asing lagi.

'Kruyuuukkk...'

"…"

"…"

Suasana romantis itu tiba-tiba hancur begitu saja saat ia mendengar suara perut keroncongan.

"M-m-maaf!" seru Tsuna sambil mendorong Hibari dan membetulkan kaosnya. "Perutku...tiba-tiba saja terasa lapar."

Ah, benar juga, mereka berdua belum makan apa-apa dari tadi. Hibari tersenyum menatap Tsuna kemudian tertawa kecil. Tsuna juga tertawa. Tidak disangka suasana yang tadinya romantis itu bisa terganggu dengan suara perutnya.

"Ayo kita kembali." Ujar Hibari sambil berbalik dan mulai berjalan. Tsuna mengangguk lalu segera menyusulnya. Mereka berdua berjalan berdampingan, lalu tanpa seizin Tsuna, Hibari meraih tangan kiri Tsuna tanpa berkata apapun. Tsuna hanya tersenyum, jantungnya masih deg-degan, dan wajahnya mungkin masih memerah. Tapi dia senang sekali tadi, saat Hibari berkata "Karena perasaanku juga sama sepertimu." Seolah-olah itu adalah kata terindah yang blum pernah didengarnya.

Kedua orang itu terus berjalan bergandengan dalam hutan yang gelap, kemudian Laki-laki yang berambut hitam membisikkan sesuatu dengan pelan ke telinga seseorang di sampingnya.

"Ti amo, herbivore."

.


Hmmh…aneh yaa..gomenasai…authornya sedang dalam kondisi tidak fit, mungkin juga bakal banyak typo nya huhuh..

Btw nama parfum yang tadi aq sebutin itu (Clive Christian's X) katanya salah satu parfum khusus cowok termahal sedunia ciptaan Clive (desainer parfum terkenal). Mungkin peringkat no.12 setelah JAR Parfums' Bolt of Lightning sama Bulgari's Bulgari Pour Femme. Harganya US$695 atau sekitar 6,3 juta rupiah. (Gile, mahal yah? Mendingan beliin HP). Katanya Clive menamai parfumnya sebagai 'X' untuk menambah kesan misterius pada pemakainya.

Yap, thx for reading…jgn lupa review nya yaa…biar ceitanya lebih baik ^^

Bye~