Astaga…akhirnya jadi juga ini chapter, gila…tengah malam, mana besok ada TO, parah nih author...lebih mentingin fanfic daripada tes. Tapi ya namanya juga masa muda... wahahahha

Mudah-mudahan nilainya gak bajret deh…

Yah…enjoy This…

.


Chapter 9. Truth or Dare?!


"Dari mana saja kalian?"

Itulah pertanyaan yang pertama kali menyambut Tsuna dan Hibari saat mereka baru saja kembali dari 'dunia-milik-berdua'. Semua orang sudah menunggu dengan makanan di tangan mereka masing-masing, mengelilingi api unggun yang entah bagaimana cara mereka membuat apinya. Hanya Lambo dan I-pin yang tidak ada, Tsuna berani bertaruh kalau anak-anak itu sudah tidur di dalam mobil yang masih utuh sekarang, setelah menghabiskan makanannya tentu saja.

Gokudera langsung datang menyerbu Tsuna dan menjauhkan bossnya tercinta dari sisi Hibari sambil mulai menuding kalau Carnivore itu telah melakukan sesuatu pada Juudaime-nya. Hibari yang batas kesabarannya sangat pendek, tentu saja langsung membalas kata-kata Gokudera dengan kalimat khasnya...kami korosu.

Sementara Yamamoto mulai tertawa, Mukuro mengambil kesempatan menggoda Tsuna, sialnya…belum juga lima detik, cowok mesum nan malang itu sudah kena hajar Gokudera feat Hibari sampai jatuh tersungkur babak belur. Kali ini Chrome hanya menghela nafas, dia sudah sering memperingati Mukuro agar tidak menganggu sang boss, namun laki-laki berambut zig-zag itu masih saja bandel. Sekarang, terimalah akibatnya!

"Mereka itu sepertinya selalu saja bikin keributan." Komentar Giotto, langsung disetujui oleh Chrome dan Kusakabe yang mengangguk pelan.

Reborn yang duduk agak jauh memandangi Tsuna dan Hibari bergantian lalu menatap Giotto yang seakan-akan tidak peduli.

"Nampaknya dia sungguh-sungguh melakukannya." Gumam Reborn.

Beberapa saat kemudian, keributan sudah teratasi dengan 'senyuman maut' Tsuna yang sukses menembus jantung mereka satu persatu. Para guardian yang sempat menggila itu pun sekarang duduk manis mengitari api unggun sambil mulai makan hasil buruan Gokudera, dan Giotto. Buruan Mukuro tidak dihitung karena berbagai alasan, salah satunya adalah karena Mukuro hanya menangkap serangga air dan bermain-main dengan air terjun.

"Silakan, Kyo-san." Ujar Kusakabe sambil memberikan ikan bakar yang ditusuk kayu sebagai pegangannya. Hibari menerimanya namun tidak mengucapkan terima kasih. Kusakabe sudah terbiasa, masih untung atasannya itu mau menerima makanan yang tidak jelas asal-usulnya.

"Juudaime, silakan cicipi hasil tangkapanku!" kata Gokudera girang sambil memberikan setusuk ikan bakar yang lebih besar daripada milik Hibari. Tsuna menerimanya lalu berterima kasih, dia semakin kegirangan saat Tsuna memujinya.

"Kau hebat sekali, Gokudera-kun!"

"Aahaa...tidak, aku hanya amatiran, Giotto-sama yang mengajariku."

Tsuna melirik Giotto dan tersenyum ke arahnya, Giotto membalas senyuman laki-laki itu sambil melambaikan tangan. Sedangkan Hibari berdecak sebal melihat mereka berdua. Tapi apa boleh buat, Giotto sudah berjasa dan membuat Hibari menyatakan perasaannya pada Tsuna. Meski 'jasanya' itu dinilai menyebalkan.

"Cicipi milikku juga, Tsunayoshi-kun!" Mukuro tiba-tiba nongol sambil menyodorkan sesuatu yang....terlihat hangus.

"A-apa ini?" tanya Tsuna, ragu apakah dia harus menerimanya atau tidak. Masalahnya, sesuatu yang disodorkan Mukuro terlihat aneh, panjang dan...hangus.. "U-ular bakar?"

"Kufufu, ini namanya belut Tsunayoshi-kun." Jawab Mukuro nyengir.

Belut?!! Memangnya di Italy ada belut?

"Aku menangkapnya saat melihat dia meliuk-liuk di dekat kakiku sewaktu aku di sungai tadi." Ungkap Mukuro.

INI NAMANYA ULAR AIIIR!! Jerit Tsuna dalam hati.

"Ah, T-terima kasih, Mukuro. Tapi ikan ini saja sudah cukup, ha-hahaha."

"Wah, jangan begitu! Aku yang membakarnya sendiri loh."

Pantas gosong... batin Tsuna.

"Hei kau kepala nanas! Jangan menyodorkan Juudaime makanan yang aneh-aneh! Kau mau meracuninya hah?" Gokudera tiba-tiba menyambar ular (atau belut?) bakar yang ada di tangan Mukuro.

"Akh! Itu belut khusus untuk Tsunayoshi-kun!! Kembalikan!"

Telinga Hibari seketika menjadi panas saat mendengar kalimat khusus Tsunayoshi-kun dari mulut Mukuro. Tidak boleh ada orang yang memberikan barang khusus untuk Tsuna selain dirinya, apalagi dari si kepala nanas mesum. Maka dengan cepat Hibari merebut benda aneh menjijikan itu dari tangan Gokudera dan melemparnya ke api unggun.

"HUWAA! Belutnya!!" pekik Mukuro sambil berusaha menyelamatkan lauk hasil tangkapannya itu. Namun sayang sekali korban tidak selamat. "Pa-padahal sudah susah payah kutangkap..."

Gokudera tertawa senang melihat nasib ul..err..belut Mukuro yang terbakar hangus, sementara Hibari kembali duduk di sebelah Tsuna tanpa berkata apa-apa.

"Wah, sayang sekali ya Tsuna? Padahal belut tadi kelihatan enak." Komentar Yamamoto. Tsuna hanya bisa memperlihatkan senyum terpaksa setelah mendengar komentar sahabatnya itu. Dia benar-benar tidak mengerti selera Yamamoto. "Oh ya, mumpung kita sedang di hutan, bagaimana kalau kita bermain game?" usul Yamamoto. Semua orang menatapnya dengan penuh tanda tanya kecuali Hibari dan Giotto.

"Eh?"

"Yah, sekedar mengisi waktu saja." Lanjutnya.

"Game apa?"

"Apa ya?" Yamamoto terlihat berpikir sebentar. "Bagaimana kalau cerita seram?"

"HEEE?" Tsuna langsung panik. Dia tidak bisa membayangkan berapa hari dia tidak akan bisa tidur bila mendengar cerita-cerita seram di gunung yang sepi. "K-kalau bisa jangan itu."

"Benar, cerita seram sudah terlalu sering, lagipula itu akan membuat Tsunayosahi-kun ketakutan." Komentar Mukuro. Sejak kapan dia berhenti berduka tentang belutnya itu? "Lebih baik adu nyali saja."

ITU JUGA SAMA SAJAAA!!

Tsuna jadi bingung, Mukuro itu sebenarnya niat membelanya atau malah menakut-nakutinya sih? Kalau misalnya dia memang ingin menakut-nakuti Tsuna, cukup tersenyum mesum saja Tsuna sudah kabur.

"Hmm..." Yamamoto dan Mukuro sama-sama berpikir, Gokudera yang (sepertinya) paling dewasa di antara ketiganya hanya memalingkan wajah.

"Cih, pasti game bodoh lagi." Gerutu Gokudera. Sementara itu Giotto dan Hibari sama sekali tak peduli.

"Kita akan bermain game 'jujur atau berani'" kata Reborn tak lama kemudian, kali ini semua kepala menghadapnya, termasuk duo Carnivore yang sedari tadi tidak peduli itu. Intuisi Tsuna segera bereaksi dan mengatakan sesuatu yang buruk akan terjadi kalau dia bermain game yang diusulkan Reborn. Sesuatu yang diusulkan Reborn pasti selalu membuatnya kerepotan dan hanya akan menambah masalah.

"'Jujur atau berani' ya? Kedengarannya menarik." Komentar Yamamoto. Ah, game apa yang tidak menarik menurutnya?

"Kufufu, ide bagus."

"Bagaimana menurutmu Tsuna?" tanya Reborn sambil melirik Tsuna dengan tatapan kau-harus-setuju-kalau-masih-sayang-nyawa! Tsuna mau tak mau menganggukkan kepalanya dengan cepat.

"Kalau Juudaime setuju, aku juga setuju." Kata Gokudera. Reborn tersenyum penuh kemenangan lalu menghadap Hibari.

"Bagaimana denganmu Hibari?"

"Konyol." Dengus Hibari sambil memalingkan wajahnya.

"Kau tidak berani, Hibari?" Sindir Giotto.

"Kufufu, kalau kau takut bilang saja!" timpal Mukuro.

Hibari men-deathglare mereka berdua, namun keduanya sama-sama tidak bergeming, Giotto dari awal memang sudah tahan dengan death glare Hibari, kalau Mukuro sih cuma pura-pura gak lihat. Merasa hal ini tidak akan ada gunanya, akhirnya Hibari setuju untuk ikut bermain.

"Lalu bagaimana denganmu Chrome?"

"Kalau boss dan Mukuro-sama ikut, aku juga ikut." Sahut Chrome.

"Kusakabe, karena kau bukan Guardian, kau boleh berpartisipasi atau tidak, terserah padamu."

"Ah, aku tidak ikut, aku akan menjaga anak-anak saja." Jawab Kusakabe. Reborn mengangguk.

"Ok, ini peraturannya." Kata Reborn. Entah sejak kapan di tangannya sudah ada Leon dalam bentuk botol bir. Leon memang praktis di segala kondisi. "Aku akan memutar botol, dan orang yang ditunjuk oleh botol ini harus memilih apakah dia akan jujur atau berani. Sekali memilih, tidak boleh ada orang yang tidak menyanggupi."

Semuanya mengangguk. Kemudian mereka pindah ke tempat yang tanahnya lebih rata dan duduk membuat lingkaran. Reborn mulai memutar botol itu di tengah tengah kerumunan, namun sepertinya hanya Tsuna yang terlihat deg-degan. Dia menelan ludah saat putaran botol mulai melambat, melambat, melambat...daaaaann..

Deg!

Berhenti di Yamamoto.

"Fiuuh!" Tsuna menghela nafas lega. Setidaknya dia aman untuk saat ini.

"Ahahah, aku deh yang kena." Yamamoto malah kegirangan karena dia menjadi korban pertama. Maklum, dia memang selalu positif thinking. Padahal game ini tidak seperti yang dibayangkannya.

"Nah Yamamoto, jujur atau berani?" tanya Reborn yang terdengar seperti sedang menantang.

"Hmm, berani sepertinya lebih menarik."

"Baiklah," Reborn berpikir sejenak, lalu tersenyum tipis sambil berkata, "Kau berani menampar Gokudera?"

"A-APAAA!!" Gokudera spontan protes. Mendengar tantangan Reborn barusan, raut wajah Yamamoto yang biasanya selalu nyengir-nyengir gak jelas itu mendadak berubah serius.

"Bisa diganti tidak?" tanya si maniak baseball, tapi laki-laki bertopi itu meggelengkan kepalanya.

"Peraturannya tidak boleh ada orang yang tidak menyanggupi."

"T-tapi kalau korbannya Gokudera, aku…"

"Tidak perlu ragu Yamamoto, hajar saja sekalian!" Celetuk Mukuro. Gokudera langsung menyemburnya dengan keras.

"Diam kau kepala nanas brengsek!"

Yamamoto terlihat ragu sesaat, kemudian merangkak menghampiri Gokudera, sebenarnya Gokudera baru saja akan protes, dia tidak sudi kalau wajahnya harus ditampar, apalagi dengan orang idiot macam Yamamoto. Namun melihat ekspresi serius di wajah si yakyu-baka itu entah kenapa membuat otaknya blank.

"Maaf Gokudera," kata Yamamoto, nada suaranya terdengar sangat terpukul. "Aku akan bertanggung jawab."

"Apa maks—"

'PLAAK'

Belum sempat bertanya, pipi kanan Gokudera sudah ditampar, rasanya ternyata tidak sesakit yang dibayangkan walau suara tamparannya tadi terdengar keras. Belum sembuh dari shock akibat tamparannya, Gokudera dikejutkan dengan Yamamoto yang mencium pipi kanan laki-laki berambut octopus itu.

"EEEH?"

Tidak hanya Gokudera, tapi Tsuna, Mukuro, Chrome, bahkan Hibari juga membelalakkan matanya karena kaget. Hanya Reborn dan Giotto yang menganggap kalau pemandangan langka itu wajar-wajar saja.

"A-APA YANG KAU LAKUKAN? YAKYU-BAKA!!" teriak Gokudera sambil memegangi pipinya yang baru saja dicium, suara nyaringnya nyaris membuat telinga Yamamoto berdengung. Wajah Gokudera memerah, entah karena malu atau emosi.

"Kubilang aku akan bertanggung jawab, jadi aku mencium pipimu yang sudah kutampar." Jawab Yamamoto watados.

'PLAAAAK'

"EEEEHH!!?"

Kali ini giliran Gokudera yang menampar pipi kiri Yamamoto. Lagi-lagi, semua penonton dikejutkan dengan pemandangan yang seperti kekerasan dalam rumah tangga di dalam sinetron. Yamamoto hanya tertawa pelan dan kembali ke tempat duduknya semula. Sedangkan Gokudera menggerutu dan menyumpah-nyumpahi laki-laki berambut spiky hitam itu. Mukuro senyum-senyum sendiri ketika melihat Gokudera yang berusaha menghapus bekas kecupan Yamamoto sambil terus mengumpat.

"Kufufu, ini baru dimulai tapi sudah seru."

"Kau baik-baik saja Yamamoto?" tanya Tsuna khawatir.

"Ah, iya. Aku sudah menduga ini akan terjadi." Jawab Yamamoto nyengir.

Ja-jadi dari awal dia sudah berniat mencium pipinya? Batin Tsuna tak percaya.

"Kalau begitu, sekarang kau yang memutar botolnya, Yamamoto."

Yamamoto mengangguk dan memutar botol hijau didepannya. Tsuna kembali merasa deg-degan melihat botol panjang itu berputar-putar, kemudian melambat...melambat...melambat...dan...

Berhenti di Gokudera.

Fiuuhh...

Rupanya kali ini juga dia selamat.

"Wah, ini namanya jodoh." Komentar Mukuro.

"Ehehe, sepertinya ini hari keberuntunganku." Yamamoto tesenyum tipis sementara Gokudera melempar pandangan jijik ke arahnya. "Ayo Gokudera, jujur atau berani?"

"Huh, aku tidak sudi kalau harus melakukan hal bodoh seperti tadi, jujur!"

"Oooh, baiklah...emmm..." Yamamoto diam sebentar, kemudian mengangkat kepalanya menghadap Gokudera, "jujur Gokudera, apa kau marah karena aku mencium pipimu?"

"Pertanyaan macam apa itu? Ganti!"

"Maaf, tidak bisa. Peraturannya bilang--"

"Ok, ok, akan kujawab!" Gokudera menarik nafas panjang dan penonton diam menyaksikan, setelah agak lama, lelaki itu menundukkan kepalanya dan berbisik sangat pelan. "Tidak."

"Apa? Aku tidak mendengarmu?"

"Kubilang...AKU TIDAK MARAH, YAKYU-BAKA!" teriak Gokudera dengan wajah yang merah, suaranya menggema di hutan itu. Yamamoto menghela nafas lega kemudian tersenyum, sementara Giotto dan Reborn tertawa kecil melihat mereka berdua. Dasar remaja jaman sekarang.

"Hooo, mungkin dia malah senang." Goda Mukuro.

"Aku tidak senang! Sudah! Sekarang giliranku!" alih-alih malu, Gokudera memutar botol sekuat tenaga, dan untuk yang sekian kalinya Tsuna merasa deg-degan, dia terus memperhatikan 'roda nasib' di depannya itu. Kali ini mulut botol berhenti di....

Hibari Kyouya...

"Jujur atau berani? Hibari!" dengus Gokudera galak.

"Jujur." Jawab Hibari tanpa menoleh.

"Heh, bagus!" Gokudera tersenyum licik, mendadak saja karakternya menyebarkan aura misteri. "Sejak dulu memang ada yang ingin kutanyakan padamu."

"Eh?" Tsuna dan Mukuro sedikit penasaran, apa yang ingin ditanyakan Gokudera sejak dulu?

"Hehe. Sayang sekali, tapi kau harus menjawab pertanyaanku. APA KELEMAHANMU YANG SEBENARNYA? HIBARI!" teriak Gokudera sambil menunjuk Hibari bak seorang detektif yang baru saja menemukan tersangka pembunuhan.

K-kelemahan Hibari-san?

"Oya oya, pertanyaan bagus, aku juga ingin tahu." Mukuro terlihat antusias, begitu juga Giotto.

Hibari men-death glare Gokudera, tapi Gokudera tidak goyah. Apa karena ia terlalu sering mengeluarkan death glarenya, maka sekarang senjatanya itu sudah tidak mempan lagi pada mereka?

"Ayo cepat jawab!" gerutu Gokudera gak sabaran. Hibari menggertakan giginya kemudian menjawab sambil memalingkan muka.

"Cih. Benda-benda imut."

Suasana seketika membeku.

"...." Mukuro terbelalak.

"...." Gokudera jawsdrop.

"...." Yamamoto tak percaya.

"...." Tsuna sweatdrop.

"...." Giotto mengangkat sebelah alisnya.

"...." Chrome terlalu terkejut.

"...."Reborn menahan senyum.

Kemudian...

"WAHAHAHAHAHAHA!!"

Suara tawa terbahak-bahak meledak begitu saja, semuanya tertawa, bahkan Reborn yang terkenal mempunyai image sadis, kejam, dan cool itu berusaha mati-matian menahan tawanya. Di antara mereka, Mukuro lah yang paling keras.

"T-tidak kusangka!" komentar Mukuro sambil memegangi perutnya yang mulai sakit karena kebanyakan tertawa. "Hibari Kyouya ternyata memiliki sisi imut juga! Aahahahah."

Satu sabetan tonfa berhasil mengenai dagu Mukuro sampai sang illusionist jatuh tersungkur. Namun Mukuro masih saja tertawa geli. Hibari sebenarnya ingin sekali meng-kami korosu mereka satu persatu, namun hal itu hanya akan membuang-buang tenaganya saja. Untuk menghentikan tawa mereka yang mulai menggila, Hibari mulai memutar botol. Satu persatu dari mereka mulai berhenti tertawa dan memperhatikan botol yang terus berputar, kemudian melambat...melambat...melambat...dan...

Kali ini Mukuro.

"Hnn, sepertinya hukum karma memang berlaku." Komentar Hibari sambil menyeringai ke arah Mukuro.

"Oh..tidak.."

"Baiklah kepala nanas brengsek, jujur atau berani?"

"Kufufu, berani."

"Heh, pilihan bagus, aku minta kau bersujud di depanku."

Suasana kembali sunyi, para penonton memalingkan wajahnya ke arah Mukuro sambil menunggu respon darinya. Bersujud di depan rival adalah hal yang paling tabu bagi seorang laki-laki, karena itu berarti mereka seolah-olah kehilangan kehormatannya.

"Emm, kalau begitu aku ganti jujur saja deh."

"Peraturan tetap peraturan, herbivore!"

Hibari-san seraaaaam... batin Tsuna.

"Oya...sepertinya aku tidak punya pilihan lain." Desah Mukuro sambil merangkak mendekat ke arah Hibari. Gokudera memperhatikan Mukuro sambil terkekeh-kekeh. Aaah, seandainya saja dia bawa kamera.

"Aku akan menyerahkan kejantananku." Ujar Mukuro sambil bersujud lalu cepat-cepat bangun lagi. "Tapi aku tidak akan menyerahkan Tsunayoshi padamu."

Suara 'DUAAK' dan 'BLETAK' yang keras terdengar jelas sebelum Mukuro ambruk dengan gusi dan keningnya yang berdarah.

"Mukuro-sama!" Chrome dengan panik menghampiri Mukuro dan mengelap darah di keningnya.

Tsuna tahu kalau gusi Mukuro berdarah karena terkena ciuman tonfa kembar Hibari, tapi dari mana luka di keningnya itu?

"Oh maaf, tanganku licin lagi." Ujar Giotto. Nah, sekarang Tsuna tahu siapa pelakunya. Apa lagi yang dilemparnya kali ini?

"A-aduduh...sakit." Mukuro merintih saat ia mengusap keningnya yang sekarang mungkin agak benjol. "tapi semakin menarik saja. Kufufu, sekarang giliranku kan?"

Mukuro memutar botol setelah Chrome kembali ke tempatnya semula. Roda nasib kembali berputar dan suasana semakin menegang. Kali ini botol itu menunjuk...

Reborn...

"Oya oya...rupanya sang arcobaleno yang kena. Jujur atau berani?"

"Kalau kau yang memutar botol, pilihan jujur lebih aman." Jawab Reborn.

"Hooo." Mukuro diam sebentar, "Arcobaleno, karena kau sudah dewasa, ada hal yang sebenarnya memang ingin kutanyakan. Tolong jawab dengan jujur."

"Baiklah." Sahut Reborn menyanggupi. Dia terlihat tenang dan sama sekali tidak tegang. Tapi begitu banyak misteri yang dimiliki laki-laki bertopi fedora hitam itu, kesempatan untuk menguak rahasia Reborn mungkin hanya sekali dalam seumur hidup.

Suasana bertambah tegang saat Mukuro mengeluarkan evil smile-nya. Kira-kira apa yang akan ditanyakan Mukuro?

"Arcobaleno...Jujur, apa kau pernah melakukan hubungan sex?"

"Pernah." Jawab Reborn datar bahkan tanpa berpikir terlebih dahulu.

"EEEH!" Tsuna terkejut bukan main, bagaimana mungkin Reborn menjawab pertanyaan sinting dengan enteng seperti itu? Game ini mulai gila.

"Hmm, sudah kuduga, Reborn-san pasti sudah pernah melakukannya." Komentar Gokudera, sama sekali tidak terlihat terkejut. Begitu pula Yamamoto, Hibari, dan Giotto. Semuanya ringan-ringan saja, bahkan Chrome juga terlihat biasa saja. Apa hanya Tsuna yang berlebihan?

Mereka juga sudah gila! Jerit Tsuna.

"Kufufu, sudah berapa kali?" tanya Mukuro lagi, lagaknya seperti wartawan mengincar gossip.

"Aku tidak tahu, aku tidak pernah menghitungnya." Jawab Reborn yang lagi-lagi dengan suara datar.

"Oya oya...dengan siapa saja?"

"Dengan wanita-wanita yang menarik perhatianku. Beberapa di antaranya mantan pacarku dulu."

"Suka gaya yang bagaimana?"

"Gaya apapun aku suka. Tergantung mood."

"Di mana biasanya kau melakukannya?"

"Di ho—"

"STOOOOP! STOP! STOP!" potong Tsuna sambil menutup kedua telinganya rapat-rapat. Obrolan ini semakin diluar batas kewajaran. Lagipula kenapa Reborn mau terus-terusan menjawab pertanyaan bodoh Mukuro?

Reborn dan Giotto tertawa geli melihat wajah Tsuna memerah karena membicarakan hal-hal dewasa seperti itu. Hmm, mungkin ini salah satu ciri kalau Tsuna memang masih belum dewasa.

"Hentikan pertanyaannya!"

"Kenapa Tsunayoshi-kun? Padahal sedang seru." Ujar Mukuro. Yamamoto tertawa.

"Aku tak peduli! Reborn, cepat putar botolnya!"

Reborn memutar botol sambil tersenyum senang. Botol laknat itu terus berputar-putar mencari korban berikutnya. Kemudian melambat...melambat...lambat...dan...

Sekarang giliran Giotto.

"Jujur atau berani, Giotto?" tanya Reborn.

"Jujur."

"Ok, siapa orang yang kau sukai?"

Giotto sedikit tersentak mendengar pertanyaan Reborn. Kalau tahu Reborn akan menanyakan hal ini, seharusnya dia memilih berani tadi. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Semua orang diam menunggu reaksi Giotto, sebenarnya mereka juga penasaran siapa orang yang disukai Vongola Primo? Karena sejarah Vongola tidak pernah menyebutkan tentang hal itu sedikit pun.

Giotto melirik Tsuna yang juga terlihat penasaran. Sebentar kemudian dia menghela nafas sambil kembali menghadap Reborn.

"Alaude." Jawab Giotto. Reborn menyeringai, sementara Hibari mengeluarkan suara 'hmmf' pelan.

"Baiklah, giliranmu memutar botol."

"Siapa itu Alaude?" tanya Mukuro, keningnya berkerut mendengar nama asing di telinganya.

"Dia orang yang kusukai." Jawab Giotto singkat sambil mulai memutar botol. Dia tidak terlalu menanggapi pertanyaan Mukuro.

DEG!

Intuisi Tsuna bereaksi, kali ini dia mendapat firasat buruk yang sangat kuat. Tiba-tiba sekali dia ingin bertukar tempat dengan Gokudera atau Yamamoto, dengan Mukuro pun boleh. Mata Tsuna memperhatikan botol yang sudah melambat.... lambat.... lambat... semakin pelan... dan...

Bingo!

Sudah kuduga.

"Kali ini giliranmu Tsunayoshi." Ujar Giotto sambil tersenyum. "Jujur atau berani?"

Nah, kalau Tsuna memilih jujur, terlalu banyak hal memalukan yang dimilikinya, tapi kalau Tsuna memilih berani, dia takut disuruh melakukan hal-hal aneh seperti Hibari yang menyuruh Mukuro bersujud atau Reborn menyuruh Yamamoto menampar Gokudera. Kalau begitu, apa yang harus ia pilih? Jujur artinya membuka aib, sedangkan berani justru menambah aib. Keduanya sama-sama merugikan!

"B-berani." Jawab Tsuna ragu. Giotto tersenyum nakal.

"Kau berani menciumku, Tsunayoshi?"

"E-EEEEEH?"

Gokudera yang pertama kali bereaksi. "G-Giotto-sama, tolong pikirkan kembali apa yang kau ucapkan tadi!"

"Benar, jangan seenaknya menyuruh Tsunayoshi-kun menciummu! Kalau begitu sih aku juga mau!" timpal Mukuro.

Giotto merasakan aura membunuh yang luar biasa dari Hibari, bahkan lebih kuat dari death glare. Jelas-jelas dia terlihat murka, kalau bukan karena jarak duduk mereka yang berjauhan, dia pasti sudah menghajar Giotto sekarang.

"Hehe, bercanda kok."

Tsuna, Gokudera dan Mukuro mengehela nafas lega, aura membunuh Hibari pun perlahan-lahan mulai lenyap. Tapi Reborn dan Chrome memandangi Giotto yang sekarang sedang tertawa dengan curiga. Mereka tahu barusan sebenarnya Giotto serius meminta Tsuna menciumnya.

"Kalau begitu, kau berani mengambilkanku air, Tsuna?"

"Eh, a-air?"

Kok permintaannya mudah sekali?

"Kalau air sih, aku bisa." Tsuna mulai berdiri dan membersihkan kotoran yang menempel di celananya. "Aku tinggal pergi ke sungai kan?"

"Kau yakin tidak takut?" tanya Giotto memastikan. "Kalau kau takut aku akan mengganti permintaanku."

"T-tentu saja aku tidak takut, aku sudah berumur sembilan belas tahun!" seru Tsuna dengan wajah merah dan bergegas pergi ke arah sungai. Semua orang tertawa melihat tingkah boss mereka. Walau Tsuna terlihat baik-baik saja, mereka semua sebenarnya tahu kalau ia ketakutan.

Tapi justru di saat-saat Tsuna memperlihatkan ekspresinya itulah yang membuat semua orang disekitarnya menganggap bahwa dia lucu. Mereka mulai membicarakan kelucuan-kelucuan Tsuna lainnya, sementara Gokudera justru malah tampak khawatir. Apakah ia bisa mengambil air sendirian?

Lima belas menit telah berlalu dan Tsuna belum juga kembali dari sungai. Aneh, padahal jarak antara tempat mereka berkumpul dengan sungai tidak terlalu jauh. Paling hanya membutuhkan waktu sekitar 3, paling lama 5 menit untuk sampai ke sana lalu kembali lagi.

"Kenapa Juudaime lama sekali?" tanya Gokudera yang mulai tampak gusar. Yamamoto menepuk bahu Gokudera dan mengatakan kalau Tsuna akan baik-baik saja. Tapi sebagai tangan kanannya, dia tidak bisa tenang sebelum benar-benar memastikan Tsuna tidak kenapa-kenapa.

Setelah dua puluh menit, yang lainnya pun mulai khawatir. Giotto dan Hibari juga merasa gelisah.

"Ke mana herbivore itu?" tanya Hibari yang mulai kesal menunggu tapi juga merasa khawatir bersamaan. Tak ada yang menjawab.

"Hmm…apa ia tersesat?" Mukuro mulai menduga-duga.

"M-mungkin sebaiknya seseorang menyusul boss." Usul Chrome. Gokudera mengangguk.

"Kalau begitu biar aku yang…"

"Biar aku saja." Hibari langsung berdiri dan mengambil salah satu kayu dari api unggun sebagai penerangan, kemudian berlari menuju sungai.

"Tenang Gokudera, Hibari akan menyusul Tsuna dan membawanya kembali." Yamamoto terus-terusan berusaha menenangkan Gokudera, padahal dia sendiri sebenarnya merasa khawatir. Giotto melirik Reborn. Bahkan Reborn juga terlihat tidak tenang, mungkin dia merasakan firasat buruk. Tanpa menunggu perintah, Giotto berlari menyusul Hibari.

"Giotto-sama!" Gokudera kaget ketika melihat Giotto melewatinya. "Aku juga harus mencari Juu--."

"Tunggu!" Yamamoto menghentikan Gokudera sebelum dia sempat berlari. "Kita percayakan saja Tsuna pada mereka berdua. Bahaya kalau nanti kita semua mencarinya dan terpencar."

"Tapi…"

"Tsuna akan baik-baik saja, percayalah padaku." Gokudera menggertakan giginya lalu kembali duduk, dia hanya bisa berharap semoga sesuatu yang buruk tidak menimpa bossnya, begitu juga Mukuro dan Chrome yang hanya bisa berharap hal yang sama.

Begitu sampai di tepi sungai, Hibari langsung melihat sekeliling. Tidak ada tanda-tanda keberadaan Tsuna di sana.

"Herbivore!" panggil Hibari. Tidak ada yang menyahut. Kenapa dia itu selalu saja bikin khawatir kalau ditinggalkan sendirian? Hibari berusaha menenangkan hatinya sambil mulai berjalan. Baru beberapa langkah saja, dia sudah merasakan seseorang mengikutinya dari belakang.

"Siapa?" Hibari menoleh dan mendapati Giotto yang baru saja sampai. "Kau rupanya."

"Kau sudah menemukan Tsuna?"

"Belum." Jawab Hibari sambil mulai berjalan dan melihat ke sekelilingnya lagi. Apa mungkin dia memanjat pohon lagi?

"Kalau begitu aku akan mencarinya ke sebelah sana." Giotto mulai berlari ke arah hutan yang lebih dalam, sementara Hibari masih menelusuri sungai.

"Herbivore!" panggil Hibari lagi. "Keluar sekarang juga atau kami korosu!"

Hibari diam menunggu respon, tapi suara yang terdengar hanya suara Giotto yang memanggil-manggil nama Tsunayoshi berulang kali dan suara air terjun. Kenapa situasinya jadi serumit ini?

Cloud Guardian itu mulai berlari sambil memegangi obornya. Kemudian langkahnya terhenti saat ia menangkap bayangan putih tergeletak tak jauh dari tepi sungai di depannya. Dengan cepat Hibari buru-buru menghampiri bayangan putih itu dan meraihnya.

"I-ini…"

Matanya terbelalak saat ia menyadari barang yang ia pegang. Itu adalah jaket Tsuna, sudah dalam keadaan kotor dan basah. Kenapa hanya jaketnya saja yang ia temukan? Mana Tsuna?

Hibari sekali lagi melihat ke sekeliling, kali ini dia tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya lagi saat ia tidak menemukan apapun di sana. Dengan marah, kesal, ketakutan, dan panik, laki-laki itu berteriak keras-keras setelah menarik nafas panjang.

"TSUNAYOSHIII!!!!"

.


Nyaaaaw~ gomenasaaii ..hontou ni… T____T

Chapternya kepanjangan jadi aku bagi dua…huhhuuh

Maaf yaa kalo ceritanya ngegantung dan GJ bangeeettt…mungkin juga banyak typo nya…tapi silakan review .