Aaaaah~! Chel minta maaf ya kalau Update nya lama buangeeet. Ya habis mau gimana lagi... sibuk terus huhuhuh....Oh ya, maap di sini lum ada pairingnya...rencananya di Chapter 11 nanti Chel adain G27 scene...Gomenasai...DXX

Warning: sekarang keluar OC, tapi cuma di chapter ini doank mungkin ama di Chapter 11 nya..gomen, butuh char bantuan soalnya...(tadinya mw pake char khr tapi gak ada yang cocok)

Yah...mulai aja deh...

.


Chapter 10. Illusions


Laki-laki itu terus berlari di tengah kegelapan sambil membawa obor, tidak peduli bahwa dia sudah kelelahan atau karena tenggorokannya mulai kering karena terus berteriak-teriak memanggil nama yang sama. Terkadang ia berhenti untuk mengambil nafas panjang dan mengusap peluh di dahinya kemudian mulai berlari lagi menembus jejeran pepohonan.

Di tangan kirinya terdapat jaket putih yang sudah kotor dan basah milik seorang herbivore yang benar-benar membuatnya susah seperti ini. Herbivore yang benar-benar membuatnya paranoid untuk pertama kalinya semenjak dia menyandang gelar Carnivore bertahun-tahun yang lalu. Siapa lagi kalau bukan...

"TSUNAYOSHIII!" Suaranya sudah agak serak, Hibari berdehem keras untuk memperbaiki tonenya sebelum mulai berlari lagi. Dia benci suasana seperti ini, jauh lebih benci dibandingkan dengan ketika ia dikelilingi segerombolan herbivore yang merusak pemandangan, suasana yang seperti ini menimbulkan perasaan yang membuat hatinya berdebar-debar karena takut akan kehilangan sesuatu. Hibari yang selalu tenang dan cuekan itu sama sekali belum pernah merasakan perasaan ini sebelumnya. Rasanya benar-benar…

Mengganggu!

Ke mana herbivore itu? Kalau ketemu nanti akan ku-kami korosu! Umpat Hibari sambil berhenti dan mengatur nafasnya.

"Hibari!" yang bersangkutan menoleh, dan lagi-lagi dia kembali melihat laki-laki berambut pirang menyebalkan menghampirinya dengan tergesa-gesa, "Tsuna tidak ada disana." Kata Giotto.

"...Aku juga tidak menemukannya." Sahut Hibari dingin. Kalau dipikir-pikir lagi, secara tidak langsung Giotto lah yang menyebabkan Tsuna menghilang. Gara-gara dia menyuruh Tsuna mengambilkan air di sungai, mereka jadi kewalahan mencarinya. Tapi sekarang bukan saatnya untuk menyalahkan orang lain. Keselamatan Tsuna lebih penting dan Hibari sedang tidak ingin ribut. "Aku hanya menemukan ini."

Giotto mencoba mengenali kain basah yang ada di tangannya, "Jaket Tsuna?" dia menatap jaket itu agak lama sampai Hibari menariknya kembali.

"Mungkin seseorang menyerangnya, dia pasti belum jauh!" gumam Hibari sambil melihat ke sekeliling. Api di obornya mulai melemah. "Aku akan mencarinya ke sana!"

"Tunggu Hibari!" teriak Giotto sebelum sang Carnivore berlari terlalu jauh. Giotto merebut jaket Tsuna dan memandanginya dengan wajah serius.

"Kenapa?"

Dia tidak menjawab, laki-laki itu malah memejamkan matanya rapat-rapat. Hibari tidak mengerti apa yang Giotto lakukan namun dia tahu Giotto pasti punya alasan.

Harus punya alasan! Kalau tidak, berarti waktunya terbuang percuma.

Seteleh agak lama, Giotto membuka mata dan mengangkat wajahnya. "Aku tahu di mana dia."

-----o0o-----

"CUKUP! AKU SUDAH TIDAK BISA MENUNGGU!" Gokudera yang dari tadi duduk sambil menunggu Juudaime-nya kembali mulai tidak sabar dan berteriak dengan frustasi sambil mengacak-acak rambutnya. "Aku akan mencari Juudaime!"

"Tunggu Gokudera!" Yamamoto langsung menarik lengan Gokudera sebelum lelaki itu pergi. "Kalau kita terpisah nanti malah makin sulit!"

"Jangan coba-coba menghentikanku!" gertak Gokudera sambil menarik lengannya. Mukuro dan Chrome diam memperhatikan mereka berdua tanpa berkomentar. Duo Mist Guardian itu sudah terbiasa melihat pemandangan seperti ini setiap hari.

"Siapa yang mau menghentikanmu?" tanya Yamamoto, kening Gokudera spontan berkerut bingung. "Aku kan bilang 'tunggu', kalau kita berdua terpisah nanti aku akan kesulitan mencarimu."

"Eh?"

"Aku juga akan ikut mencari Tsuna." Lanjut Yamamoto sambil tersenyum. Untuk pertama kalinya selama 5 tahun, Gokudera membalas senyum Yamamoto dengan senyumnya, bukan senyum yang manis memang, tapi sanggup untuk membuat sang maniak baseball itu sedikit tercengang keheranan. Padahal dia sudah menduga kalau Gokudera akan membentaknya dengan kata-kata pedas seperti: 'Bukannya dari tadi kek, yakyu-baka!' atau 'Aku tidak butuh bantuanmu, idiot!' dan sindiran-sindiran lainnya.

Nah, ini baru pemandangan yang tak biasa,pikir Mukuro, entah kenapa dia ikut-ikutan tersenyum juga melihat mereka berdua.

"Kenapa kau menatapku seperti itu, idiot?" tanya Gokudera yang seketika sudah kembali ke mode galaknya seperti biasa. Yamamoto hanya tertawa pelan. Sayang sekali dia hanya bisa melihat senyum Gokudera yang super langka itu dalam waktu 5 detik saja.

"Ah, tidak." Sahutnya.

"Kalau begitu aku juga akan ikut mencari." Ujar Mukuro sambil berdiri. "Ayo, Chrome!" Mukuro menjulurkan tangannya untuk mengajak Chrome, baru saja gadis itu akan menyambutnya, tiba-tiba Reborn berkata dengan serius di belakang mereka.

"Kalian semua tetap di sini!"

Mukuro dan Chrome menoleh, dilihatnya Reborn sedang berdiri sambil memperhatikan sesuatu yang tak terlihat di kejauhan, di tangan kanannya tergenggam pistol yang ia gunakan untuk menembaki ban mobil mereka sewaktu mereka tiba di hutan. Gokudera dan Yamamoto juga diam memperhatikan sang Arcobaleno, ekspresi lelaki misterius itu nampak terganggu karena sesuatu.

"Ada apa Reborn-san?" tanya Gokudera yang mendadak berubah serius juga. Reborn menempelkan telunjuk kiri ke bibirnya, mengisyaratkan mereka semua untuk diam. Mendadak sekali atmosfer di sekitar mereka langsung menegang dalam keheningan. Tanpa menunggu perintah dari sang Arcobaleno, seluruh Guardian segera bersiap-siap dengan senjata mereka masing-masing, kecuali Yamamoto yang kebetulan tidak membawa pedang wasiatnya dan Gokudera yang dilarang menyulut dinamitnya.

"Kau merasakannya juga ya, Arcobaleno?" tanya Mukuro. Reborn tak menyahut, dia terus-terusan memandangi spot yang paling gelap di hutan itu sambil membidikkan pistolnya. "Sejak datang ke sini, aku memang sudah merasakan firasat aneh. Ada 'sesuatu' di hutan ini." Sambung Mukuro.

"Sesuatu?" tanya Yamamoto tanpa menoleh, pandangan matanya tetap fokus ke depan. "Sesuatu apa?"

"Sesuatu yang tidak beres dan tidak bisa dijelaskan dengan akal sehat."

Sekejap kemudian angin berhembus kencang sampai memadamkan api unggun dan menerbangkan dedauanan kering, beberapa burung berterbangan ke segala arah, sesuatu telah membuat hewan-hewan kecil itu kabur ketakutan.

"K-kenapa—anginnya tiba-tiba mengencang?" teriak Gokudera sambil melindungi matanya.

Sial, angin ini membuatku tidak bisa melihat ke depan!

"Lihat ke sekeliling kalian, jangan lengah!" seru Reborn, namun suaranya diredam oleh angin yang semakin mengganas seperti badai. Beberapa batang kayu bekas api unggun berterbangan ke arah Chrome, untung saja Mukuro langsung beraksi dan menghadang kayu-kayu itu sebelum mengenai 'kembarannya'.

"Dia datang." Bisik Mukuro.

Anginnya semakin bertambah kencang, bahkan sampai membuat Yamamoto bergeser dari tempatnya. Sementara Mukuro memeluk Chrome kuat-kuat untuk melindungi gadis itu sambil menancapkan Trident-nya ke tanah sebagai pegangan. Sedangkan Gokudera tiarap di tanah sambil melindungi kepalanya.

'DORR!'

Keempat orang itu berpaling, jelas mereka mendengar Reborn menembak sesuatu. Apapun itu, tembakan Reborn yang barusan membuat angin kencang tadi berhenti seketika, batang-batang kayu yang hilir mudik pun langsung jatuh ke tanah dan suasana kembali tenang seperti sedia kala.

"Meleset!" ujar Reborn sambil mengisi ulang peluru pistolnya lalu meraih Leon yang masih berbentuk botol, dalam sekejap ia mengubahnya menjadi kacamata inframerah.

"Apa-apaan angin tadi? Ilusi?" tanya Gokudera sembari membersihkan baju dan rambutnya dari dedauanan yang menempel.

"Bukan, yang tadi itu benar-benar angin." Sahut Chrome, gadis itu menggenggam erat lengan baju Mukuro dengan ketakutan. "Ada seseorang selain kita di hutan ini."

"Cih, musuh ya?"

"Bukan juga," kali ini Mukuro yang menyahut. "Aku sama sekali tidak merasakan aura pembunuh."

'SRAAAAK—SRAAAK-SRAAK!'

"S-suara apa itu?" tanya Chrome. Mukuro kembali memeluk gadis itu lalu berbisik pelan ke telinganya.

"Ssst, jangan berbicara." Chrome mengangguk patuh, sementara Gokudera dan Yamamoto mempertajam pendengaran mereka.

'TEP'

Suara yang barusan terdengar sangat dekat. Keempat orang itu menoleh bersamaan, mereka tahu seseorang telah mendekat.

"Oi Yamamoto, belakangmu!" teriak Gokudera yang menyadari ada bayangan hitam di belakang si maniak baseball. Yamamoto berputar sambil melayangkan tinju ke arah seseorang di belakangnya.

'BUUGH' kena telak.

"Kurang ajar! Menyerang dari belakang!" geram Gokudera ke arah orang asing yang sekarang terkapar di tanah sambil merintih kesakitan.

"I-ini aku, Gokudera-san." Kata orang itu sambil berdiri kepayahan. Baik Gokudera dan Yamamoto, keduanya terkejut setelah menyadari siapa laki-laki yang telah telah dihajarnya, begitu pula dengan Mukuro dan Chrome.

"K-kau…"

"Kusakabe?" tanya Yamamoto memastikan. Laki-laki itu mengangguk pelan sebagai jawaban. "Ah, maafkan aku, kupikir kau musuh." Ujar Yamamoto merasa sangat bersalah.

"Tidak apa-apa, aku datang kemari karena tadi mendengar su— "

'DOORR!'

Sebuah peluru bersarang di jantung Kusakabe. Empat orang yang menyaksikan tembakan itu terkejut shock saat melihat tubuh bawahan Hibari itu tumbang dan berubah menjadi sekumpulan dedaunan kering.

"A-apa-apaan ini?" teriak Gokudera. "S-setan gunung?"

"Bukan, itu sejenis ilusi." jawab Reborn seraya memasukkan pistolnya yang masih berasap ke balik jas lalu mengubah Leon kembali menjadi seekor bunglon(?).

"Ilusi yang sangat sempurna." Komentar Mukuro, "Sampai-sampai aku sama sekali tidak menyadarinya. Bagaimana kau bisa tahu kalau dia palsu, Arcobaleno?"

Reborn menyeringai. "Mudah saja, Kusakabe yang asli kukunci di mobil bersama kedua bocah yang selalu berisik itu, mana mungkin dia bisa keluar."

". . ."

Secepat itu dia menyimpulkan..batin Mukuro.

"Kalau begitu, jangan-jangan Tsuna juga diserang mereka?" tanya Yamamoto khawatir.

"Aku tidak tahu, tapi ada kemungkinan benar."

"Kita harus cepat-cepat mencari Juudaime sebelum me—"

"Tidak perlu!" sanggah Reborn cepat. "Kalau kita terpencar, itu akan memudahkan mereka untuk menyerang kalian satu persatu dengan menggunakan penyamaran seperti tadi."

"Tapi…"

"Jangan bertindak bodoh! Kita semua akan tetap di sini sampai mereka kembali! Serahkan saja pada Hibari dan Giotto."

Mau tak mau Gokudera duduk di tanah dengan kesal dan tak sabaran, Yamamoto hanya menghela nafas lalu duduk di sampingnya. Sedangkan Reborn masih tetap berdiri sambil menatap bulan purnama yang setengahnya tertutup awan di langit.

Kau harus cepat kembali, dame-Tsuna! Batinnya.

------o0o------

"Ke sini!"

Hibari berjalan setengah berlari ke arah Giotto yang memanggilnya dari kejauhan. Entah karena apa Giotto tiba-tiba mengetahui keberadaan orang yang mereka cari-cari setelah menerawang jaket milik Tsuna. Apa Giotto memiliki kemampuan seperti anjing pelacak? Ah, dia tak peduli, yang penting Tsuna cepat ditemukan.

"Kenapa herbivore itu pergi jauh sekali?" tanya Hibari yang sudah berlari menyusul Giotto. Jarak antara mereka berdua dan yang lainnya mungkin sudah 1km sekarang. Tidak masuk akal untuk seorang Tsunayoshi yang takut berada di tempat gelap pergi ke tempat sejauh ini sendirian.

"Aku tidak tahu, mungkin dia berusaha kabur dari penyerangnya." Jawab Giotto seraya kembali berjalan. Penerangan di tangan Hibari mulai mengecil, merasa obor itu sudah tak berguna lagi, dia pun memadamkannya. Semakin ke dalam semakin gelap pula hutan yang mereka telusuri, cahaya bulan nyaris tak bisa menembus pepohonan yang tinggi. Tapi lama kelamaan mata mereka mulai terbiasa.

"Kenapa kau merasa Tsunayoshi ada di sekitar sini?" tanya Hibari, akhirnya dia menanyakan hal itu karena penasaran. Giotto hanya mengangkat bahu.

"Intuisi." Sahutnya datar.

Hibari berdecak sebal. Dia tahu Giotto tidak menjawab pertanyaannya dengan serius. Dia memang tidak pernah serius menghadapinya, kecuali kalau sudah menyangkut Tsuna, baru dia mengeluarkan sifat Carnivore-nya yang asli.

Orang yang menyebalkan…kalau semua ini sudah selesai, kubunuh dia!

Setelah cukup lama mereka menelusuri hutan yang lebih dalam itu, mata Giotto yang tajam menangkap sosok seseorang yang tergeletak di dekat rawa-rawa.

"Tsunayoshi!" pekik Giotto sambil buru-buru menghampiri Tsuna yang diam tak bergerak, diikuti oleh Hibari. Begitu Giotto membalikkan tubuh Tsuna, mereka berdua terbelalak kaget karena separuh wajahnya tertutup darah. Giotto yang mulai panik mengguncang-guncangkan kepala Tsuna dengan pelan agar laki-laki itu tersadar."Tsunayoshi! Kau kenapa? Hei!"

Sementara itu Hibari melihat ke sekelilingnya, antisipasi kalau-kalau ini jebakan. Tapi tak ada tanda-tanda keberadaan musuh di sana.

"G-Giotto...?" gumam Tsuna lemah, dia mulai membuka mata dengan pelan. Sekejap intuisi Giotto bereaksi mendeteksi kehadiran musuh, namun ia mencoba menghiraukannya. Sekarang Tsuna lebih penting. "Giotto!"

"Bertahanlah! Kami akan membawamu." seru Giotto. "Hibari, tolong bawa Tsuna, aku akan menunjukkan jalannya!"

Tanpa banyak protes, Hibari mengangkat tubuh Tsuna yang ringan dengan kedua tangannya. Sebenarnya dia tidak suka kalau Giotto memerintahnya seperti tadi, tapi kalau dipikir-pikir lagi, dia lebih tidak suka kalau Giotto yang menggendong Tsuna."Kau ini selalu cari masalah, herbivore!" bisik Hibari.

"Aku ingin pulang." Tsuna membenamkan wajahnya yang berdarah ke bahu Hibari, mengotori kemeja bersihnya dengan noda merah yang menetes-netes.

"Kita akan pulang." Sahut Hibari setengah menghela nafas. "Tapi sebelumnya kita harus kembali ke teman-teman idiotmu yang sudah khawatir itu."

"Tidak! Aku ingin pulang sekarang!" bantah Tsuna cepat. "Aku tidak ingin berada di sini!"

Mendengar kata-kata Tsuna, mata Hibari menyipit curiga. Dia menjatuhkan tubuh Tsuna begitu saja kemudian menginjak dadanya agar tidak bisa bergerak. Serta merta Tsuna merintih kesakitan.

"Apa yang kau lakukan, Hibari?" teriak Giotto saat melihat adegan kejam itu. Seakan tak mempedulikan Giotto, Hibari memperkeras pijakan kakinya.

"Kau bukan Tsunayoshi!" geram Hibari dingin. Giotto yang tadinya hendak menghajar Hibari malah diam terkejut. "Herbivore itu tidak pernah memikirkan dirinya sendiri. Siapa kau?"

Tsuna tersenyum sinis lalu tertawa cekikikan, beberapa saat kemudian tubuhnya berubah menjadi sesosok makhluk hijau yang kecil pendek seperti alien, telinganya panjang seperti peri, matanya biru seperti air, dia memakai pakaian yang terbuat dari rangkaian dedaunan. "Itu benar, aku memang bukan sang pewaris! Aku bukan sang pewaris!" kata makhluk itu, suaranya yang kecil dan cempreng membuat Hibari jijik.

"Katakan padaku, di mana Tsunayoshi?"

"Aku tidak akan mengatakannya! Aku tidak akan mengatakannya!"

'BUUK' dengan satu gerakan cepat kaki kiri Giotto ikut-ikutan menginjak perut makhluk itu hingga dia terbatuk dan mulai meronta-ronta.

"Sakit! Sakit!" jerit makhluk itu.

"Sebaiknya cepat kau katakatan!" geram Giotto sambil memasang tampang murka yang lebih menakutkan daripada death glare Hibari. Merasa ngeri karena tatapan tajamnya, akhirnya makhluk itu mau membuka mulut.

"Ficus tidak akan membebaskan sang pewaris! Ficus tidak akan membebaskan sang pewaris!" teriak makhluk itu sambil berusaha menyingkirkan kaki Hibari dan Giotto. Dua orang itu menatap satu sama lain, pertanyaannya...kenapa makhluk tengik ini menyebut Tsuna sebagai sang pewaris? Lagipula...

"Siapa itu Ficus?" tanya Hibari lagi.

"Ficus sang penguasa hutan! Ficus sang penguasa hutan!" Makhluk hijau itu mulai menangis karena kesakitan dan kesulitan bernafas. Dia terus meronta-ronta, memukul-mukul kaki yang menekannya ke tanah. "Sakit! Sakit! Lepaskan Leucas! Lepaskan Leucas! Azalea! Azalea! Tolong Leucas! Tolong Leucas!" tangis si makhluk hijau.

"Aku akan melepaskanmu kalau kau menjawab pertanyaanku!" geram Giotto yang malah makin murka karena tangisan makhluk bernama Leucas itu mulai membuat telinganya sakit. "Di mana Tsunayoshi? Di mana sang pewaris yang kau sebut tadi?"

"Sang pewaris bersama Ficus! Sang pewaris bersama Ficus!"

"Di mana Ficus?" tanya Hibari nyolot.

"Leucas tidak tahu! Leucas tidak tahu!"

"Bohong!"

"Azaleaaa! Azaleaaa! Tolong Leucas! Tolong Leucas!" tangisan Leucas semakin menjadi. Saat Hibari baru saja akan menginjak mulut alien yang berisik itu, sesuatu membelit kakinya dan menariknya hingga ia terjatuh.

Giotto menoleh karena intuisinya bereaksi, sebuah sulur mendekatinya dengan cepat di tanah namun Giotto berhasil melompat menghindar sebelum sulur itu meraih kakinya. Leucas yang terlepas segera mengambil kesempatan untuk bangun dan lari.

"Ck, dia kabur!" Giotto hendak berlari untuk mengejarnya, tapi tiba-tiba ia dihadang oleh seorang gadis berambut panjang yang berpakaian serba pink, matanya merah menyala di dalam kegelapan.

"Fuuuu..." gumam sang gadis, tidak terdengar seperti sebuah kata bagi Giotto.

"Maaf nona, aku buru-buru!"

Perempuan itu memasang wajah cemberut lalu menggerakkan tangan kirinya ke arah Giotto, beratus-ratus sulur segera membelit tubuhnya hingga ia tidak bisa bergerak sesenti pun.

Sial! Di saat-saat seperti ini!

Semakin Giotto mencoba bergerak, sulur-sulur itu semakin membelitnya erat, beberapa mulai mencapai leher Giotto dan membelitnya dengan kuat.

'ZRAAAT'

Giotto tercengang saat Hibari memutuskan semua sulur yang membelitnya hanya dengan menggunakan sepasang tonfa, yah... sepasang tonfa berduri.

"Kejar dia, biar aku yang hadapi perempuan ini!" Perintah Hibari. Giotto sedikit terkesima melihat tindakan Hibari tadi, dia tak menyangka Hibari akan menolongnya. "Apa lagi yang kau tunggu Carnivore bodoh? Cepat pergi dan temukan Tsunayoshi!" bentak Hibari.

Giotto mengangguk lalu pergi meninggalkan Hibari sendirian bersama perempuan aneh di depannya. Sebenarnya Hibari sedikit menyesal tadi, kenapa ia tidak memukul Giotto sebelum membebaskannya? Padahal dia masih menyimpan dendam atas perlakuannya tadi siang.

Ah sudahlah...toh sekarang dia punya sesuatu yang lain untuk dipukuli.

"Hmmf.." dengus Hibari yang sudah mulai tak sabar. "Kami korosu!"

-----o0o-----

Tidak butuh waktu yang lama bagi Giotto untuk mengejar Leucas. Makhluk hijau itu ternyata larinya sangat lambat, bahkan lebih lambat dari Tsuna.

"Berhenti!" seru Giotto. Leucas menoleh dan seketika meningkatkan speed-nya saat melihat Giotto berlari di belakangnya dengan kecepatan ninja.

"AAAH! Leucas di kejar! Leucas di kejar!" teriak Leucas ketakutan. Giotto juga mempercepat larinya. Beberapa saat kemudian ia berhasil menangkap si alien yang meronta-ronta minta dilepaskan. "Ficus, tolong Leucas! Tolong Leucas!" jeritnya. Telinga Giotto benar-benar terasa sakit mendengar Leucas menjerit-jerit dengan suara yang nyaring.

"Aku akan melepaskanmu kalau kau memberitahuku di mana Tsunayoshi!" sentak Giotto. Namun Leucas malah menjerit sambil menangis dan memanggil-manggil nama Ficus. Giotto tahu hal ini tidak akan pernah berakhir kalau terus-terusan seperti ini, sambil mencoba mengatur emosi, dia melepaskan Leucas yang masih menangis seperti anak kecil. "Dengar," kata Giotto tenang. "Aku mau tanya, apa Ficus adalah temanmu?"

Leucas menghentikan tangisannya dan mengangguk pelan.

"Ficus adalah teman, Ficus adalah teman." Sahut Leucas, masih terisak.

"Lalu apa Ficus berharga bagimu?" tanya Giotto lembut. Leucas mengangguk lagi. "Kau tidak ingin kehilangan Ficus bukan?" Leucas menggelengkan kepalanya dengan cepat.

"Leucas tidak ingin—terpisah dari Ficus." Kata si makhluk hijau.

"Bagaimana kalau Ficus tiba-tiba menghilang dan meninggalkanmu sendirian?"

"Leucas—akan sedih."

Giotto tersenyum lalu menghela nafas. Sepertinya metode ini berjalan dengan baik.

"Nah, Leucas. Bagiku Tsunayoshi adalah teman yang berharga, kalau ia menghilang, maka aku akan sedih. Kau tahu bagaimana rasanya sedih karena ditinggalkan orang yang kita sayangi bukan?"

Leucas terlihat terkejut mendengar kata-kata Giotto.

"Sang pewaris—adalah—teman berharga?" tanyanya ragu.

"Ya, dia temanku yang berharga." Giotto menepuk kepala Leucas dengan pelan, seperti seorang ayah yang mengelus kepala anaknya.

"Kalau begitu, Leucas akan antar ke tempat Ficus." Kata Leucas akhirnya. Dia menarik tangan kiri Giotto lalu mengiringnya ke sebuah tempat di tepi sungai. Tempat itu dipenuhi dengan sesuatu yang kecil dan melayang-layang bersinar seperti kunang-kunang. Aneh sekali, bukankah kunang-kunang adalah serangga musim panas?

Setelah Giotto perhatikan lebih dekat, benda kecil yang terbang mengitarinya itu ternyata seekor peri. Peri yang sangat kecil sekali. Mereka berkerumun membentuk formasi seolah-olah menyambut kedatangan Giotto.

"Ficus ada di sana! Ficus ada di sana!" kata Leucas sambil menarik-narik lengan baju Giotto dan menunjuk sebuah pohon beringin yang tinggi besar. Giotto mendekati pohon itu dengan kebingungan. Dia seperti pernah kemari sebelumnya, tempat ini tampak tak asing.

Pohon ini...sepertinya aku pernah menegenalnya..

Saat jarak antara Giotto dan pohon itu sudah dekat, batang pohon beringin itu mengeluarkan cahaya yang terang. Giotto segera melindungi matanya karena terlalu silau.

Cahaya apa ini?

Sebentar kemudian cahaya itu mulai memudar, Giotto memicingkan matanya agar ia bisa melihat dengan jelas. Setelah cahaya itu benar-benar menghilang, berdirilah seorang perempuan yang mengenakan gaun panjang hingga menutupi kedua kakinya, rambut peraknya mengingatkan Giotto pada Gokudera, sementara senyumnya mengingatkan lelaki itu pada Tsuna. Tubuh perempuan itu bercahaya tertimpa sinar bulan, sosoknya seperti seorang bidadari.

Siapa dia?

"Aku sudah lama menunggumu, Giotto." Ujar perempuan itu sambil mendekati Giotto yang berdiri terpaku. "Namaku Ficus Coreana."

"Ficus?" Giotto hanya bisa menatap gadis itu kebingungan sementara Ficus terus mendekat.

"Giotto..." sambung perempuan itu pelan. "Aku ingin kau menjauhi sang pewaris."

.


.

Okeeeeeeeh~! Maap yah ceritanya ngegantung terus...

Btw Chel di sini pake nama OC nya dari nama-nama ilmiah loh hahaha

Leucas itu dari Leucas lavandulaefolia artinya Daun Setan, kalau Azalea Chel ambil dari nama bunga hias Azalea, terus nama Ficus diambil dari Ficus coreana artinya beringin Korea. Hahaha..gak kreatif yah...^^a Gomen...sibuk persiapan SNMPTN huhuh T___T

Arrivederci~