Akhirnyaaaaa~~~! Akhirnya setelah SNMPTN bisa kembali hidup ke dalam dunia fanfic yang menggila XDD horeeee...
Yap, sesuai janji, habis SNMPTN (yang laknat itu), Chel update Mine Only chapter baru...*ehem* jujur sih gara" kelamaan gak update, terus gara" ada insiden chapter 12 ini kehapus virus, Chel terpaksa ngetik dari awal, plotnya mungkin agak berbeda dari aslinya...(tapi GJ nya tetep sama aja) Cerita aslinya sih lebih dari 3000 kata...gak tw tuh Chel nulis apa aja, samar" inget dikit lah...nyahaha~ (author gila)
Okaaaay~! Here we go! XD
.
Chapter 12. Dilemma
-Tsuna's POV-
"Tsunayoshi, tutup telingamu sebentar."
Ah..benar juga...
Giotto sudah mengatakan hal itu padaku, dan waktu itu seharusnya aku menurut saja, bukannya mengikuti keinginan hati dengan ego yang tinggi. Dasar bodoh! Kalau saja waktu itu aku benar-benar menutup telinga, sekarang pasti tidak akan muncul perasaan yang merepotkan seperti ini. Semuanya seperti mimpi saja. Kata-kata Giotto itu seperti membawaku ke luar dari kenyataan.
"Alasanku adalah—karena aku mencintai Tsunayoshi."
Aku sama sekali tidak mempercayai telingaku yang menangkap kata-kata Giotto dengan jelas, sampai-sampai kedua tanganku yang hanya sekedar 'menempel' di telinga pun terasa bergetar karena terkena dampak kalimatnya yang barusan. Sungguh aku tak menyangka bila ia akan mengatakan hal seperti itu. Dari awal aku memang tak mengerti Giotto, tindakannya selalu di luar dugaanku dan ia sulit ditebak.
"Aku memang menyukai Alaude...tapi aku mencintai Tsunayoshi."
Nah, dari sanalah perasaan aneh itu datang, jantungku berisik sekali, seperti baling-baling helikopter yang tiba-tiba saja berputar, terdengar dag-dig-dug yang keras bahkan tanpa menggunakan stetoskop sekalipun. Lagipula...memangnya suka dan cinta itu beda ya? Padahal menurutku sama saja. Intinya juga kan sama. Di mana sih letak bedanya? Uukh, membingungkan. Kalau sudah seperti ini, aku pasti tidak bisa berpikir jernih dan pandanganku sering kali menatap sesuatu yang abstrak. Salahkan Giotto!
...
Bukan...
Bukan salahnya. Semua ini gara-gara aku yang nakal tidak menutup telingaku dengan benar. Sekarang aku tahu perasaan mereka berdua sama terhadapku. Dan kenapa pula mereka mengatakan hal itu di hari yang sama? Janjian kah? Ah konyol. Apa mereka mencoba mempermainkanku? Entahlah. Toh, aku memang sering dijadikan mainan, terutama oleh Mukuro dan Reborn. Tapi kalau mereka memang benar-benar mempermainkanku, mereka sudah keterlaluan! Sampai membuatku pusing seperti ini...
Hhh...Tapi sejujurnya, dari dulu aku memang ingin mendengar kalimat pernyataan itu dari mulut Hibari. Aku menyukainya...sangat menyukainya. Hibari adalah orang yang benar-benar 'paling' bagiku. Paling kusayangi, paling kukagumi, juga termasuk paling kutakuti.
Yah, aneh juga sih kalau seorang laki-laki menyukai laki-laki lagi, ah tak masalah bagiku, selama orang itu memang benar-benar orang yang kusukai.
Eh, tapi bagaimana kalau ternyata aku menyukai dua orang?
. . .
Tunggu! Dua orang? Giotto maksudnya? Ah, ayolah jangan bercanda! Mana mungkin aku menyukai Giotto. . .
. . .
Atau jangan-jangan memang iya?
Ahhh, kepalaku pusing sekali! Cinta itu benar-benar gila dan tidak pandang bulu. Benar-benar 'sesuatu' yang kejam. Kalau kutulis hal ini dalam sejarah Vongola, generasi-generasi penerusku yang selanjutnya pasti akan tertawa terbahak-bahak; Ternyata masalah terberat yang pernah dialami oleh Vongola Decimo adalah dilema cinta? Ha-ha, lucu sekali.
Akan kutegaskan hal ini! Aku, Sawada Tsunayoshi, tidak pernah mengalami dilema cinta dan tidak akan pernah. Sejak awal pun sudah kuputuskan untuk terus bersama Hibari-san. Satu-satunya yang kusukai adalah Hibari-san dan begitu pula sebaliknya. Mungkin ini akan berat bagi Giotto, tapi...
Aku harus memilih salah satunya kan?
-Normal POV-
". . .Tsunayoshi.."
Oh?
Hibari-san?
Rasanya sudah lama sekali aku tidak mendengar suara Hibari-san yang memanggil namaku dengan lembut seperti tadi.
". . .Hei, Tsunayoshi, ayo bangun!"
Tsuna membuka matanya perlahan, pandangannya yang belum fokus menangkap siluet seseorang yang berada di sampingnya, menutupi sebagian cahaya silau yang datang dari sebuah jendela besar bertirai merah. Dia tersenyum, kemudian membelai rambut Tsuna dengan lembut. Ah, sentuhan yang familiar."Selamat pagi..."
"Giotto?" Sambil mengerjap-ngerjapkan mata tak percaya, Tsuna bangun dan menatap Giotto yang masih saja menyunggingkan senyum di wajahnya yang segar."Se-selamat pagi, sedang apa kau di kamarku?"
"Ini kamarku, Tsunayoshi." Sahut Giotto sambil tertawa pelan. "Kau masih mengigau?"
Eh?
Oh, benar. Ini memang kamar Giotto. Apa kamarnya yang hancur itu belum selesai diperbaiki hingga dia harus tidur dengan pemuda itu lagi?
Tidur bersama Giotto...
Awalnya Tsuna menganggap hal itu biasa-biasa saja, tapi kenapa sekarang jadi terasa aneh ya?
"Tsunayoshi? Wajahmu memerah, kau sakit?" Giotto menaikkan tangannya hendak menyentuh wajah Tsuna, namun Tsuna yang baru tersadar dari lamunannya spontan menepis. Hanya refleks. Dia tidak bermaksud seperti itu.
"Ma-maaf." Ujar Tsuna cepat, takut kalau-kalau Giotto tersinggung. Ah, tapi sepertinya tidak, walau dia sempat terlihat agak terkejut tadi.
"Kau kenapa?"
"Tidak apa-apa." Entah kenapa Tsuna tidak ingin disentuh oleh Giotto. Sentuhannya membuat perasaan lelaki itu tidak nyaman. Hening sesaat, masing-masing benak mereka terisi oleh sesuatu yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Namun tak sampai lima menit kemudian, keduanya mengeluarkan suara bersamaan.
"Giotto, aku—"
"Tsuna—"
Setelah bertatapan satu sama lain, baik Tsuna maupun Giotto, keduanya sama-sama tertawa.
"Kau dulu." Ujar Tsuna.
"Tidak, kau saja."
"Baiklah, aku hanya mau berterima kasih karena kau sudah menyelamatkanku kemarin malam." Tsuna berkata seperti itu namun tak berani memandang wajah Giotto, tertunduk lurus menatap selimut tebal yang menutupi kakinya. Dia mencoba mengangkat wajah, hanya sekilas melihat sosok Giotto yang masih saja tersenyum. "Ja-jadi, terima kasih."
"Ah, kupikir kau sudah berterima kasih dengan cara lain waktu itu." Sahut Giotto sambil menepuk kepala Tsuna dan tertawa. Tepukan Giotto membuat perasaan Tsuna semakin tidak nyaman. Kepalanya terasa pusing dan sesuatu mengganjal di hatinya. Kenapa...?
"Memangnya dengan cara apa?"
Giotto tidak menjawab, lama bertatapan dia malah meraih tangan kanan Tsuna dan menempelkan jari telunjuknya ke bibir Giotto sambil tersenyum lembut.
Tsuna sendiri tidak bereaksi, hanya diam memperhatikan telunjuknya yang masih menempel di bibir Giotto yang lembab dan terasa agak dingin, terpaku sampai ia teringat kejadian kemarin malam: Fakta bahwa dialah yang menciumnya. Mencium Giotto. Dia yang memulainya duluan.
"Tsunayoshi? Hei, kau baik-baik saja?"
"Ah! Eh? I-iya, aku tidak apa-apa." Buru-buru karena canggung, Tsuna menarik kembali tangannya.
"Wajahmu memerah lagi." Ujar Giotto, sedikit terkekeh. "Kau malu?"
"Jangan dibahas!" Tsuna menarik selimut untuk menutupi sebagian wajahnya yang sekarang terasa panas. "Tadi kau mau bilang apa padaku?"
"Oh benar, sebenarnya kemarin—" Giotto meraih sesuatu dibalik punggungnya kemudian memberikannya pada Tsuna. "Aku ingin memberikan ini padamu."
"Eh?"
Sang Vongola Decimo hanya bisa melongo melihat sesuatu yang diberikan Giotto ternyata adalah foto yang pernah ia buang ke luar jendela saat Gokudera dan Mukuro berkelahi dua hari yang lalu. Foto yang melampirkan potret Tsuna dan kedua orang tuanya itu seharusnya sudah rusak, tapi kini benda itu berada di tangannya dalam keadaan utuh, bahkan lebih baik.
"Terima kasih, Giotto!" seru sang Decimo, wajahnya dihiasi senyum bahagia yang lebar. Senang karena mungkin benda itu adalah satu-satunya yang selamat dari insiden tersebut. "Kupikir aku tidak akan pernah melihat foto kedua orang tuaku lagi."
"Maaf, sebenarnya aku mau memberikan ini padamu kemarin, tapi aku baru sempat memperbaikinya tadi."
"Tidak apa-apa, aku senang sekali."
Mereka berdua bertukar senyum, agak lama sampai kemudian Giotto mendekatkan wajahnya. Seketika Tsuna mengetahui maksud pemuda itu, terkejut namun ia tak kuasa menolak. Sesuatu membisikkan kalimat "Jangan ditolak!" berulang-ulang dibenaknya ketika mata mereka bertemu. Dag-dig-dug yang meraung di jantungnya semakin keras saja saat Giotto meraih pipi kiri Tsuna dan jarak antara kedua bibir mereka nyaris terhapus.
"SAWADAAAAAAA!"
"Hah?" kedua boss Vongola itu menoleh bersamaan ke arah pintu masuk yang terbanting keras. Di ambangnya, berdiri seorang laki-laki berambut putih menatap Tsuna dengan pandangan mengerikan.
"O-Onii-san?" Cepat-cepat ia menjauhkan diri dari Giotto. "Ka-kapan kau pulang dari Jepang?"
"SAWADA! AKU SUDAH MENGETAHUI SEMUANYA!" teriak sang Sun Guardian sembari berjalan masuk, mengacuhkan Giotto yang memandanginya dengan keheranan.
"T-Tahu apa?"
"Aku sudah tahu," gumam Ryouhei, memandangi Tsuna dengan serius. "Kau tidak perlu menyembunyikannya."
"Eh? A-a-apa maksudmu, Onii-san?"
Dia tahu apa? Tahu kalau aku tadi hendak berciuman dengan Giotto?Oh kumohon jangan! Lebih baik dia tahu kalau dulu aku menyukai Kyoko-chan daripada dia tahu aku mau berciuman dengan laki-laki yang bahkan tidak ia kenal!
"Aku tahu kemarin kau mengadakan piknik selagi aku sedang tugas di Jepang, BENAR KAN SAWADA?"
"Hah?"
"OI! Bodoh! Kubilang jangan mengganggu Juudaime!"Belum sempat keheranan karena kata-kata Ryouhei yang mendadak, Tsuna dan Giotto sudah dikejutkan oleh suara Gokudera yang tiba-tiba muncul dari pintu masuk.
"KEPALA GURITA! KENAPA KALIAN PIKNIK TIDAK BILANG-BILANG HAH?"
"UNTUK APA AKU MEMBERI TAHUMU? LAGIPULA KAU SEDANG DI JEPANG BODOH, MANA MUNGKIN BISA IKUT!"
Tsuna semakin terasa pusing saja mendengar mereka berteriak-teriak di depannya. Vongola HQ memang selalu berisik tiap pagi. Tapi kali ini lebih berisik dari biasanya.
"Onii-san, Gokudera-kun, sudah hentikan. Kalian membuatku pusing." Keluh Tsuna sambil memijat keningnya yang terasa berdenyut-denyut. Gokudera langsung berpaling dan bersujud minta maaf seperti biasa. Sementara itu Ryouhei baru sadar ada seseorang yang duduk di samping bossnya.
"Ng? Hei kau orang yang wajahnya mirip Sawada!"seru Ryouhei sembari menunjuk Giotto.
"Aku?"
"Benar, kau! Aku belum pernah melihatmu, siapa kau?"
"Bodoh! Yang sopan kalau bicara, dia adalah—"
"Kakakku." Potong Tsuna cepat-cepat sebelum Gokudera menyelesaikan kalimatnya. "Kakakku yang baru pulang dari Amerika."
Giotto dan Gokudera bertukar pandang.
Amerika?
"OOOH! Negara yang extreme! Siapa namamu?"
"Aaah, yes, It's Giotto..." jawab Giotto sambil mencoba berakting seperti bule asli (padahal emang bule). "My name is Giotto, I decided to visit my beloved brother at his headquarters since I'm in a long vacation now. Err…Well, I usually use English as my daily languange, but I love Japanese too, so I'll talk using Japanese from now on." Giotto berdehem kecil sebelum melanjutkan kata-katanya, "Senang bertemu denganmu."
Trio Vongola itu hanya bisa melongo, Tsuna tidak pernah menyangka kalau Vongola Primo sangat pintar berbahasa. Benar-benar seorang boss mafia sejati.
"Aku tidak mengerti apa yang kau katakan, hanya mengerti di bagian senang bertemu denganmu-nya saja, tapi aku tahu namamu Giotto! Nama yang extreme!" seru Ryohei sambil menjabat tangan Giotto begitu saja. "Namaku Sasagawa Ryouhei! Aku tidak tahu kalau Sawada memiliki seorang kakak."
"Ha-haha. Aku juga tidak tahu kalau aku punya adik." Sahut Giotto dengan senyum terpaksa.
"Pe, permisi!" dari arah pintu tiba-tiba muncul seorang perempuan yang mengenakan seragam pelayan membungkuk dengan sopan. "Maaf saya mengganggu, Decimo-sama. Ada telepon untuk Sasagawa-sama."
"Untukku? Dari siapa?"
"Nona Kyoko, katanya koper anda ketinggalan di rumah."
"APAAA?" Ryouhei yang mendadak panik langsung angkat kaki ke luar ruangan sambil berteriak keras di lorong. "BENAR-BENAR GAWAT SAMPAI EXTREME!"
"Cih, dasar guardian bodoh yang satu itu! Dia memang selalu melupakan hal-hal penting."
"Gokudera-sama, anda dicari-cari Yamamoto-sama." Ujar si pelayan lagi. "Katanya motor untuk jalan-jalan sudah siap, anda ditunggu di garasi sebelah utara. Baiklah, saya permisi dulu."
Sepeninggalan si pelayan, Tsuna dan Giotto melirik Gokudera. "Kau berencana jalan-jalan bersama Yamamoto, Gokudera-kun?"
"Te-Tentu saja tidak, Juudaime!" sanggah Gokudera yang tiba-tiba saja jadi salah tingkah. Rona merah samar-samar terlihat di wajah blasterannya. "Dia yang memaksaku, padahal sudah kukatakan padanya kalau aku tidak bisa, aku masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan."
"Kalau kau memang ingin jalan-jalan, akan kuberi izin. Urusan pekerjaan kan bisa dilakukan nanti."
"T-tapi Juudaime—"
"Tidak apa-apa, pergilah, Yamamoto sudah menunggumu." ujar Tsuna dengan angelic smile -nya yang jelas membuat Gokudera tak mampu menyangkal lagi.
"Ka-Kalau itu yang dikatakan Juudaime—baiklah, aku akan segera kembali!" Gokudera langsung berlari ke luar. Sejak awal sebenarnya dia memang berniat jalan-jalan kan? Sampai bersemangat seperti itu.
"Jadi itu Sun Guardian-mu?" tanya Giotto sambil berdiri dari tempat tidur.
"Guardian? Bi-bisa dibilang begitu. Tahu dari mana?"
"Yamamoto menceritakannya padaku waktu itu."
"O-oh…"
"Tapi kenapa kau bilang kalau aku kakakmu, Tsunayoshi?"
"Kalau aku bilang kau adalah Vongola Primo, akan butuh waktu yang lama untuk menjelaskannya pada Onii-san. Dia agak sedikit—umm—sulit menangkap kata-kata orang lain."
"Begitu kah?" Giotto tertawa kecil, hanya sekejap saja kemudian ia berhenti dan memandangi Tsuna yang masih duduk menekuk lutut di tempat tidur. "Kau selalu mengambil keputusan dengan bijak. Membiarkan para guardian bersenang-senang adalah hal yang tak pernah kulakukan sebagai seorang boss."
"Eh? Kenapa?"
"Kami semua terlalu sibuk karena waktu itu Vongola baru saja terbentuk. Kami selalu mengemban tugas yang tak henti-hentinya berdatangan sampai-sampai tidak punya waktu untuk bersenang-senang. Jangankan untuk bersenang-senang, untuk beristirahat sejenak pun rasanya tidak sempat." jawab Giotto sambil memperlihatkan senyum lirih. Tsuna tidak menduga kalau ternyata jalan yang Giotto lalui sebagai boss mafia terasa lebih berat dari pada jalan yang ia lalui sekarang. Kendati sibuk pun, Tsuna selalu diperbolehkan bersenang-senang oleh Reborn.
"Kalau begitu, ayo kita bersenang-senang!" ajak Tsuna, tiba-tiba saja bersemangat.
"Eh?"
"Giotto jarang sekali bersenang-senang kan? Mumpung kau sedang di masa depan, aku akan mengajakmu main berkeliling."
"Main? Ke mana?"
"Ke tempat kesukaanku, tunggu, aku siap-siap dulu!" Tanpa menunggu jawaban dari Giotto, Tsuna bangun dan berlari ke kamarnya (yang masih agak hancur). Dia membuka lemari pakaian, memilah-milah baju dengan cepat.
"Ehm...baju apa yang harus kupakai? Ini saja?" Tangannya menarik kemeja putih yang ia kenakan sehari-hari, kemudian berpikir sebentar. "Hei, aku mau jalan-jalan! Bukan mau meeting!" Dilemparnya kemeja itu ke belakang kemudian mulai memilah lagi. "Ini saja?" baju yang kedua adalah kaos belang berlengan panjang. "Jangan deh, nanti panas di sana." Kaos yang tidak lulus 'audisi' itu pun ia lempar lagi ke belakang.
Setelah 20 menit berlalu, barulah Tsuna menemukan pakaian yang cocok; Kaos pendek berwarana biru langit dan celana jeans biru gelap panjang, sementara pakaian lainnya yang tidak lolos seleksi berceceran begitu saja di lantai. Dia hendak berbalik menghadap cermin, tapi sesuatu di dalam saku celananya berdering pelan.
"Sms..." Tsuna segera morogoh ponselnya lalu membaca isi pesan singkat itu dalam hati. Tak sampai beberapa detik saja, matanya terbelalak lebar.
From: Hibari-san
Tsunayoshi, hari ini pukul 10:00 kutunggu di cafe dekat stasiun. Tidak perlu banyak tanya, pokoknya datang saja!
P.S: Jangan terlambat!
"Mu-mustahil!" Tsuna melirik jam dinding. Pukul 9:35.
Apakah Tuhan sedang mengujinya? Apakah ini karma?
Kenapa..? Tangis Tsuna.
Dia melempar HPnya ke kursi, menjatuhkan diri di tempat tidur, lalu berteriak, "Kenapa aku harus selalu memilih antara Giotto dan Hibari-san?"
Gah, gak nyangka nyelip English di sini hahah, maksa banget, Chel ngetik mendadak, grammar-nya gak tw bener gak tw salah, kalo salah kasih tw yah, tar Chel benerin XD
Oh iya, ini ada sekilas kisah nyata hari ini:
Saat Chel keluar dari Fakultas Ekonomi UNPAD, dan menuju ke mobil kijang hitam jadul di tempat parkiran, seorang wanita yang usianya sekitar 40 tahunan bertanya dengan serius sembari melepas kacamata hitamnya.
"Gimana ujiannya?"
"Mantap banget, Ma.." jawab Chel sembari ngacungin jempol.
"Mantap…? Berarti bisa dong?"
"Bukan, maksudnya mantap banget susahnya, sukses bikin bengong kurang lebih 5 menitan lah.."
"…" Mama gak ngasih komentar mungkin gara-gara kasihan melihat anaknya yang udah kaya korban Tsunami itu. "Ya sudah, sekarang mau ke mana dulu? Makan atau pulang?"
"Pulang…" (lemes jawabnya) "Ada janji update fic sama temen…"
"Oke, kita makan dulu."
"Hah?"
Gak kuasa menentang keputusan sang ibu, Chel cuma bisa ngangguk dan pergi ke KFC terdekat.
"Mau pesen apa?" tanya mama.
(masi lemes) "Mau selesein pesenan temen buat update fic~"
"Ok, paket yang biasa aja ya, minumnya mau apa?"
"Mau update fiiiic~" (mulai ngaco)
"Ok, pepsi aja."
Hiks…
[Di jalan…jam 1 siang]
"Pulang yuuuk~" (ngerengek)
"Bentar, daftar ke POLBAN dulu…"
Hiks…
[Pulang dari kampus POLBAN: jam 4, sempet keliling" dulu gara" macet]
"Dah, pulang yah…"
"Iya, iya…*nengok kiri, ada Ciwalk* Eh bentar, mampir Ciwalk dulu…"
Hiks…
[Pulang dari Ciwalk yang ternyata cuma liat" doank: jam 6.15]
"Udah ah, jangan ke mana-mana lagi, Chel mau pulang!"
"Ok, oke…"
[Nyampe di rumah: jam 9 gara" macet]
Hiks…
Begitulah para reader semua, alasan kenapa Chel telat update sampe malem banget kaya gini…Atashi no Kaa-san…agak"…freak soal jalan" T-T
Mohon maaf semuanya *sujud* m(_ _)m
Kalau tidak keberatan tolong review nya XD
