AAAAAH! Banzai! Laptop Chel dibawa papa ke Jakarta! TT^TT

Ukh, maap reader semua, sepertinya Chel bakal telat update lagi akhir-akhir ini, soalnya kalo tanpa Bubun (nama lappie Chel) susah banget nih ngetiknya...Chel kan sering dapet insprisarinya tengah malem (biasalah, makhluk malem sih), paling cuma bisa pake komputer depan, tapi harus pelan", tutup pintu rapet", dengerin mp3 nya pake headphone, neken keyboard harus lemah lembut biar gak kedengeran suara, harus nyogok nii-san biar gak bocorin rahasia..auuuh nggak bgt..DX

Ah, kebiasaan deh, maaf curhat mulu, yuk ah langsung aja...

.


Chapter 13. Legendary Spiral


"Jadi, kenapa kau ada di sini?" tanya Hibari dengan aura death glare yang memancar ke mana-mana. Seisi cafe sampai dibuatnya bisu dan merinding ketakutan melihat seorang lelaki berambut hitam yang duduk di dekat jendela lebar. Kedua lengannya terlipat di dada, membuat Hibari tampak sama dengan sosok seorang boss arogan.

Sementara Tsuna, objek yang juga menjadi pusat perhatian beberapa orang di sana hanya bisa menjawab dengan perasaan takut dan suara bergetar. "Hi-Hibari-san yang memintaku untuk datang kan?"

"Baca pesanku baik-baik herbivore, apa aku juga menuruhmu membawa orang lain?" tanya Hibari lagi sembari melayangkan tatapan mautnya ke arah Giotto yang duduk di sebelah Tsuna.

"Maaf Hibari-san, tapi—"

"Aku pergi." Dengan mood yang jelas langsung memburuk, sang Skylark pun angkat kaki dari tempat duduknya lalu pergi ke luar dengan langkah cepat, tanpa berbaik hati untuk mendengar penjelasan Tsuna.

"Tunggu Hibari-san!" Tsuna segera menyusul guardiannya sebelum ia pergi jauh, meninggalkan Giotto sendirian di dalam cafe dengan semua mata yang sekarang tertuju ke arahnya.

Hh, lagi-lagi aku berada di antara mereka berdua. Gumam Giotto dalam hati sambil ikut beranjak pergi. Mengacuhkan beberapa kerumunan orang dan pegawai cafe yang sedikit riuh membicarakan mereka.

"Hibari-san, tunggu! Biar kujelaskan!"

Akhirnya Hibari memutuskan untuk berhenti dan membalikkan badan setelah mereka menjauh dari cafe, jauh dari herbivore-herbivore pengganggu lainnya, dan jauh dari Giotto.

"Kalau penjelasanmu tidak masuk akal, aku tidak akan segan-segan." Ujar Hibari, masih dengan aura death glare yang terlihat jelas di sudut matanya.

"Ba-baiklah, sebenarnya—"

Duh, apa yang harus kukatakan?

"Sebenarnya apa?" tanya Hibari tak sabaran.

"Se-sebenarnya sebelum Hibari-san menyuruhku datang, aku sudah janji untuk mengajak Giotto jalan-jalan, jadi—"

Mata Hibari memicing dan tatapan tajamnya semakin berbahaya saja. "Kau mengajak orang itu jalan-jalan?" tanya sang Carnivore. Saat itu juga Tsuna tahu kalau dia sudah salah ngomong barusan.

"Iya, tapi itu karena Giotto tidak per—"

"Aku tidak ingin mendengar alasan lain lagi." Hibari baru saja akan pergi, namun Giotto terlanjur datang menghampiri mereka berdua, atau lebih tepatnya menghampiri Tsuna, yah walau ia sempat melirik Hibari selama beberapa detik.

"Jadi Hibari ikut jalan-jalan tidak?"

"Sepertinya tidak." Jawab Tsuna, kecewa namun tetap memaksakan untuk tersenyum. Setidaknya, ia tidak ingin membuat mood Giotto jadi buruk juga.

"Oh?" Giotto kembali melirik Hibari, lagi-lagi terjadi perang dingin di antara keduanya yang sama sekali tidak disadari oleh Tsuna, mereka saling melempar death glare sampai kemudian Giotto menyeringai, melingkarkan tangan kanannya ke bahu Tsuna sambil berkata, "Sayang sekali, kalau begitu kita kencan berdua saja, Tsunayoshi."

"E-EEH?"

Kita kencan berdua saja Tsunayoshi. Kita kencan berdua saja. Kita kencan berdua saja...Kencan berdua. Kencan berdua...

Entah mengapa kalimat itu terus menggema di pikiran Hibari berkali-kali seperti sebuah kaset yang diputar ulang dan volume suaranya diperbesar beberapa kali lipat dengan menggunakan toa.

"Siapa yang bilang aku tidak akan ikut?" geram Hibari sambil menarik Tsuna dari tangan Giotto.

"Oh? Berubah pikiran?" tanya Giotto sambil tersenyum tipis seolah-olah baru saja memenangkan sebuah pertaruhan. Hibari sangat membencinya, kenapa dia selalu tersenyum mengejek seperti itu? Kenapa orang itu selalu bermain-main dengan emosinya sih? Selalu jadi pengganggu di saat Hibari sedang ingin bersama Tsuna.

"Berisik..." desisnya.

Sementara Tsuna memandangi duo Carnivore di sampingnya itu bergantian. Ia mulai merasakan aura permusuhan di antara mereka berdua yang membuatnya pusing.

"Ada apa dengan kalian berdua?" tanya Tsuna dengan kening yang berkerut.

"Bukan apa-apa Tsunayoshi." Sahut Giotto sembari mempertahankan senyum tipisnya, sementara Hibari malah memalingkan muka. "Nah, kita mau pergi ke mana sekarang?"

—o0o—

Beberapa jam kemudian, setelah mengadakan rapat kecil-kecilan untuk menentukan tempat yang bisa dipakai hang-out bertiga, Tsuna, Giotto, dan Hibari, berdiri di depan sebuah tempat hiburan: taman bermain untuk keluarga.

Papan reklame yang besar memuat tulisan Mondo de Fantastico dengan huruf yang terang di depan gerbang tinggi. Di dalamnya penuh benda-benda warna-warni seperti dunia fantasi. Banyak permainan yang terlihat seru walau ada juga yang terlihat menyeramkan (di mata Tsuna). Suasananya ramai sekali, kebanyakan pengunjung adalah keluarga atau pasangan kekasih yang saling merangkul satu sama lain. (Bayangkan saja seperti Dufan di Jakarta)

Hibari yang tidak suka keramaian memasang tampang ih-ogah-banget begitu melihat segerombolan anak kecil berlarian di hadapannya sambil berteriak-teriak senang.

"Siapa yang mengajukan tempat ini?" tanya Hibari sambil men-death glare Tsuna dan Giotto.

"Su-supir taksi."

Oh benar juga. Karena kebingungan mencari tempat tujuan mereka, ketiganya memutuskan untuk naik taksi dan membiarkan sang supir yang menentukan tempat jalan-jalan yang asyik. Tapi siapa yang akan menyangka kalau 'tempat asyik' itu ternyata adalah sebuah taman bermain?

"Aku tidak mau masuk." Jelas Hibari.

"Tapi kita terlanjur membeli tiga karcis, Hibari-san." Kata Tsuna sembari menunjukkan tiga tiket emas di tangannya. "Sayang kan kalau tidak digunakan?"

"Sudahlah Tsunayoshi, jangan paksa dia." Tangan Giotto kembali merangkul bahu Tsuna dan matanya yang biru jernih melirik Hibari saat ia membisikkan kata, "Kita naik bianglala berdua yuk?"

Kita naik bianglala berdua yuk... Naik bianglala berdua yuk... Naik bianglala berdua... Berdua...Berdua...

"Berikan padaku!" Hibari menyambar salah satu tiket di tangan Tsuna dan menarik lelaki itu bersamanya menuju ke pintu masuk. Lagi-lagi meninggalkan Giotto yang hanya tersenyum sendirian sambil mengikuti kedua orang itu dari belakang. Namun siapa yang tahu kalau ada sekelebat rasa puas yang tidak bisa dijelaskan di hatinya.

-o0o—

Hei, coba tebak wahana apa yang pertama kali mereka kunjungi! Rumah hantu? Bukan, Tsuna mati-matian membujuk kedua orang itu untuk tidak dekat-dekat dengan rumah hantu. Rumah boneka? Tidak, mereka sadar usia kok. Arung jeram? Ah, Hibari tidak ingin membasahi pakaiannya. Kalau begitu apa dong?

Yah, kalian tak akan percaya ini, wahana yang pertama kali mereka naiki adalah...

"Jet coaster?" pekik Tsuna di tengah sebuah antrean panjang. Beberapa orang segera menoleh ke arahnya, termasuk Hibari dan Giotto. "Bi-bisa tidak kalau kita ganti?"

"Jangan bercanda herbivore, kau bilang kita ganti wahana setelah mengantri selama setengah jam?" kata Hibari dengan bonus death glare level tinggi. Hal itu cukup untuk membuat Tsuna bungkam mulut.

"B-Baiklah, kita akan naik."

"Kau yakin?" tanya Giotto yang berada di belakangnya. "Kalau kau tidak mau, kita batalkan saja."

"Iya, tidak apa-apa. Kita naik saja."

Akan kuberi tahu kalian satu hal, sebenarnya Tsuna sama sekali tidak berniat untuk naik jet coaster lho. Dia hanya melihat kalau wahana yang satu ini memiliki antrean terpanjang. Semakin menarik suatu wahana, tentu semakin panjang pula antreannya, bukan begitu?

Tapi...Tsuna yang malang sama sekali tidak tahu kalau ternyata dia dan kedua 'pendampingnya' itu telah ikut berbaris di antrean menuju jet coaster.

Aaah, seperti sedang menuju neraka saja. Batin Tsuna sedih.

Enam menit kemudian, tibalah giliran mereka bertiga untuk menikmati wahana 'istimewa' itu. Kenapa kusebut istimewa? Karena jet coaster di Italy memiliki lintasan putaran 360 derajat tiga kali berturut-turut yang melegenda, beberapa orang menyebutnya legendary spiral.

Legendary spiral apanya? Yang ada malah dangerous spiral. Pikir Tsuna seraya mengambil tempat duduk di samping Hibari (karena Hibari yang menyuruhnya) . Seorang petugas yang agak tua membantu Tsuna memakaikan sabuk pengaman.

"Te-terima kasih."

"Ah, sama-sama." Sahut si petugas sambil tertawa. Tsuna sedikit kaget karena dia bisa membalas ucapannya dengan bahasa Jepang, walau dengan logat yang aneh. "Ng? Nampaknya kau terlihat tegang, apa ini pertama kalinya kau naik jet coaster ini, nak?"

"Iya." Jawab Tsuna pendek.

Petugas itu tertawa lagi. Sekilas ia tampak seperti Yamamoto.

"Kalau begitu akan kuberitahu sesuatu yang menarik."

"Eh?"

"Lihat lintasan spiral yang di sana?" tanya si petugas sambil menunjuk lintasan spiral yang terlihat menakutkan.

"I-Iya."

"Sebelum melewati lintasan itu, tutup matamu pelan-pelan lalu katakan Ho potuto superare la mia paura. Kalau kau mengatakan kalimat itu dengan yakin, sebagai hadiahnya satu harapanmu akan terkabul."

"Eh?"

"Cepat jalankan jet coaster nya, petugas yang di sana!" geram Hibari pelan. Ah, dia memang selalu tidak sabaran.

"Baiklah..."

Sebentar kemudian kereta kecil yang Tsuna tumpangi mulai berjalan. Tapi bukannya tegang, Tsuna malah kebingungan dengan kata-kata si petugas barusan.

"Ingat nak! Hanya satu harapan! Dan katakan dengan yakin!" teriak si petugas sebelum kereta mulai menaiki tanjakan tinggi.

Hanya satu harapan katanya? Padahal dia memiliki banyak harapan. Dia ingin sekali merubah sifat dame-ness nya. Dia ingin melindungi teman-teman dan keluarganya. Dia ingin menjadi kuat. Tsuna tidak bisa kalau harus menentukan salah satunya.

Berpikir tentang harapan membuat Tsuna lupa kalau keretanya sekarang sudah mencapai ketinggian maksimum dan meluncur dengan cepat ke bawah. Suara teriakan segera terdengar riuh di telinganya.

Tak lama kemudian kereta akan memasuki lintasan spiral.

Oh, mantra! Aku harus mengucapkan mantranya! Apa mantranya?

Mendengar teriakan nyaring dari orang-orang yang berada di barisan depan membuatnya lupa untuk mengucapkan password yangharus ia ucapkansebelum mencapai legendary spiral.

Ho potaru...? Ho potato...? Bukan! Apa ya? Ho poto...Ho puto...?Ayo ingat-ingat dame-Tsuna!

"Ho potuto superare la mia paura..." tiba-tiba saja bayangan si petugas saat membisikkan kalimat itu terbesit di benaknya.

"H-Ho potuto..."

Tidak, aku harus yakin...

Tsuna menutup matanya pelan-pelan lalu berteriak sekeras mungkin, "Ho potuto superare la mia paura!"

Tepat waktu! Dia sudah ada di lintasan spiral sekarang, setidaknya itulah yang ia rasakan karena kepalanya mulai pusing. Tapi, apa yang harus dia lakukan? Langsung memohon?

.

.

.

[Katakan...]

.

.

.

"Eh?"

[Katakan keinginanmu...]

"Siapa ini?"

[Katakan keinginanmu...]

Keinginan? Oh iya, harapanya! Aku harus memohon sesuatu...

"Aku ingin..." Sesaat sebelum Tsuna baru saja akan berkata 'aku ingin melindungi keluargaku', wajah Hibari yang sedang tersenyum saat mereka sedang berada di hutan tiba-tiba saja lewat seperti iklan. Maka berubahlah keinginannya menjadi... "Aku ingin terus bersama Hibari-san."

.

.

.

[...Baiklah...]

Tapi ternyata dibenaknya bukan hanya ada Hibari, di samping Hibari berdiri Giotto yang juga memperlihatkan senyum khasnya yang lembut.

"A-aku juga...ingin terus bersama Giotto!" teriak Tsuna lagi. Tsuna tahu kalau dia sangat egois. Bukannya mmohon sesuatu demi kepentingan family-nya, Tsuna malah meminta sesuatu untuk dirinya sendiri. Tapi apa mau dikata? Itulah keinginan Tsuna yang selama ini selalu ia pendam dalam-dalam.

.

.

.

[...]

Suara itu tidak terdengar lagi, maka Tsuna mulai membuka matanya perlahan.

"Ah?"

Alangkah terkejutnya dia ketika kereta yang ia tumpangi sudah berada di tempatnya semula, sama ketika ia naik tadi dan dalam keadaan diam tak bergerak. Beberapa orang mulai turun dengan wajah terhibur dan tertawa-tawa riang, termasuk Hibari dan Giotto, hanya saja mereka tidak tertawa sama sekali.

"Tsunayoshi?" tanya Hibari ketika ia melihat Tsuna masih duduk di tempatnya. "Ayo cepat turun."

"Eh? Memangnya sudah selesai?"

"Kau ini ngelindur? Ayo ke mari!" Hibari mengulurkan tangannya. Dalam keadaan bingung, Tsuna menyambut uluran tangan itu lalu turun mengikuti Hibari dan Giotto dari belakang. Apa yang terjadi? Dia merasa waktu begitu singkat. Padahal Tsuna yakin kalau ia hanya melewatkan waktu selama beberapa detik saja saat mendengar suara ajaib itu. Ukkh, kalau dipikirkan lama-lama kepalanya terasa pusing dan tubuhnya mulai menggigil.

"Bagaimana nak?" tanya seorang pria yang menepuk pundak Tsuna dari belakang, si petugas tadi! "Kau bisa mendengar suaranya?"

Suara? Oh, mungkin maksudnya suara aneh barusan...?

"Ya." Jawab Tsuna sambil mengangguk. "Dia memintaku menyebutkan satu permintaan."

"Dan kau benar-benar hanya menyebut satu permintaan kan?"

Sebenarnya sih, Tsuna tidak yakin apa permintaannya yang barusan dihitung satu atau dua. "Emm...iya."

Petugas itu mulai tertawa lagi, "Baguslah, kalau kau menyebut lebih dari satu, maka semua permintaan itu tidak akan pernah terkabul nantinya."

Tsuna terbelalak, "A-apa?"

"Itu adalah kutukan, nak. Untuk menguji apakah seseorang memiliki hati yang baik atau tidak. Kalau kau serakah dan menyebutkan permintaan lebih dari satu, maka semua permintaan itu akan dikutuk, tidak akan pernah terkabul selamanya."

Terpaku menatap wajah si petugas yang masih terawa pelan, kepala Tsuna mendadak diserang rasa pusing yang hebat, seperti masuk ke dalam tornado yang berputar-putar di atas laut. Harapannya untuk bisa bersama Hibari...dan juga untuk bisa bersama Giotto...hilang sudah tertelan tornado itu. Pandangan Tsuna mulai berayun-ayun.

Hibari-san...

Telinga Tsuna mulai berdengung dan nafasnya terasa tersekat-sekat.

Giotto...

"Nak? Kau baik-baik saja? Hei!" Tsuna bisa merasakan sebuah tangan menahan tubuhnya sebelum ia roboh. Ia juga bisa mendengar suara sang petugas yang berteriak keras, "Seseorang! Aku butuh pertolongan di sini!"

Terdengar sangat jauh...

Sangat jauh...

Jauh...

Jauh...

Ja...

uh...

-o0o-

"Bagaimana keadaanya?"

Ng? Itu...Suara Yamamoto kan?

"Sudah tidak apa-apa, setidaknya keadaan Juudaime jauh lebih baik daripada saat ia tiba di sini tadi."

Lho? Itu pasti Gokudera. Kenapa mereka ada di sini? Bukankah seharusnya mereka sedang jalan-jalan?

"Maaf, aku tidak menyadarinya saat kita berangkat tadi. Padahal Tsunayoshi baik-baik saja sebelum kita pergi."

Yang barusan suara Giotto.

"Kufufu~kalau si Arcobaleno itu tahu keadaan Tsunayoshi sekarang, dia pasti akan marah."

Yang tadi Mukuro...pasti Mukuro...siapa yang tidak mengenali suara tawanya barusan?

"Berisik, herbivore!"

Ng? Ada Hibari-san juga?

"Mu-Mukuro-sama, tolong jangan memulai pertengkaran, nanti boss terbangun."

Bahkan ada Chrome juga? Kenapa mereka semua berkumpul di sini sih?

Tsuna membuka matanya yang terasa berat. Apakah ini hanya perasaannya saja atau memang ruangan itu terasa panas?

"Oh! Tsuna sudah sadar!"

Penglihatan Tsuna masih blur, tapi ia yakin kalau semua orang yang ada di ruangan itu sedang menatapnya sekarang. Mata Tsuna berkeliling sedikit demi sedikit sambil mulai mengabsen wajah-wajah yang ia kenal satu persatu.

Gokudera-kun, Yamamoto, Hibari-san, Mukuro, Chrome, Giotto...

"Kenapa kalian menatapku seperti itu?" tanya Tsuna sambil berusaha bangkit, namun segera dicegah oleh Gokudera yang pelan-pelan memintanya untuk berbaring kembali.

"Tolong istirahat sampai keadaanmu benar-benar membaik, Juudaime." Ucap sang tangan kanannya. Tsuna memperhatikan sekelilingnya sekali lagi. Ruangan yang familiar...

"Memangnya kenapa aku?"

"Kau demam." Jawab Yamamoto. "Giotto dan Hibari membawamu dalam keadaan pingsan setelah kalian turun dari jet coaster."

"Oh.."

Pantas saja semenjak tadi pagi kepalanya terasa pusing, rupanya demam toh. Kenapa Tsuna baru sadar sekarang kalau ia sakit? Payah sekali.

"Nah, sekarang Tsunayoshi sudah siuman, ayo kita semua keluar dan biarkan dia beristirahat sejenak." Kata Giotto sambil mengajak semua orang yang ada di sana untuk keluar.

"Aku akan tetap di sini dan menjaga Juudaime."

"Urusan menjaga Tsunayoshi serahkan saja pada Hibari. Ayo kita keluar, aku butuh kalian untuk menjelaskan situasi ini pada Reborn."

"Tapi..."

"Ayo Gokudera, Giotto bilang kita harus keluar!" Belum sempat memberi penjelasan, si rambut perak itu sudah ditarik Yamamoto dan diseret keluar dengan paksa. Mukuro pun dipaksa Chrome untuk mengikuti perintah Giotto walau dengan lagak ogah-ogahan.

"Nah, Hibari." Gumam Giotto sembari menepuk bahu Hibari dan tersenyum tipis. "Manfaatkan waktunya." Sehabis itu sosoknya menghilang di balik pintu dan ruangan yang sepertinya adalah kamar Giotto itu menjadi sunyi senyap.

Hanya suara detik jam dinding yang mengisi sela keheningan itu. Tsuna tidak mengatakan apa-apa, Hibari pun hanya duduk diam di kursi di samping tempat tidur, bahkan matanya sama sekali tidak menatap Tsuna.

"Hibari-san." Gumam Tsuna.

Hibari menoleh. "Hm?"

"Terima kasih."

"...Untuk apa?"

"Karena kau telah mengantarku sampai markas."

Hibari tidak menjawab dan suasana kembali beku selama beberapa menit.

"Hei, Hibari-san..."

"Hm?"

"Ini akan terdengar konyol, tapi—apa kau mempercayai kutukan?"

Hibari tampak berpikir sebentar sebelum ia menjawab, "Tidak."

"Hehe, sudah kuduga." Sahut Tsuna sambil tertawa kecil, dan untuk yang ke sekian kalinya atmosfer di sekitar mereka kembali monoton.

"Hibari-san..."

"Apa?"

"Tetaplah bersamaku, dalam situasi apapun."

Hibari menatap mata Tsuna lekat-lekat dengan pandangan curiga dan alis terangkat sebelah. "Kenapa kau berkata seperti itu?"

"Tidak kenapa-kenapa." Tukas Tsuna. Hibari masih tak memberikan respon sampai Tsuna bangun dan menatapnya dengan sedih. "Aku tak peduli walau kau terus memarahiku atau memberiku tatapan tajam, tapi aku minta kau selalu bersamaku, ya?"

Guardiannya itu hanya menghela nafas sesaat. "Sikapmu aneh sekali kalau sedang sakit."

Tsuna membalasnya dengan senyum, tapi bukan senyum yang sering Hibari lihat, melainkan senyuman pahit seperti menahan tangis. Ada apa dengan herbivore ini?

"Hei," gumam Hibari sambil menyentuh pipi kiri Tsuna. "Aku akan tetap bersamamu, jadi berhenti tersenyum seperti itu, aku tidak suka."

"Kau janji?"

"...Janji."

Tsuna tersenyum lagi, angelic smile-nya yang biasa. Melihat Tsuna sudah bisa tersenyum lebar seperti itu sedikit menenangkan Hibari. Setidaknya herbivore itu tidak kenapa-kenapa sekarang.

Lamunan Hibari yang singkat itu tersadarkan oleh suara ketukan pintu.

"Masuk!" seru Tsuna.

"Yo, Tsuna!" sapa laki-laki berambut pirang sambil sedikit nyengir.

"Dino-san?"

"Aku dengar kabar katanya kau sakit, jadi aku datang menjenguk. Bagaimana sekarang? Sudah baikan?"

"Emm, lumayan."

"Cavallone, mau apa kau ke mari?" tanya Hibari sinis.

"Ah Kyoya, galak sekali kau ini, sudah kubilang aku mau menjenguk Tsuna, sekalian melihatmu juga." Dino mengacak-ngacak rambut Hibari seperti anak kecil. Namun ajaibnya Hibari tidak berontak. "Bagaimana kabarmu?"

"Ck, setiap hari kau meneleponku dan menanyakan hal yang sama." Gerutu Hibari dan Dino meresponnya dengan tertawa pelan.

Tsuna senang karena kakak seperguruannya itu mau repot-repot meluangkan waktu yang sempit hanya untuk menjenguknya. Tapi—entah kenapa mendadak saja Tsuna merasakan firasat buruk saat melihat Dino datang. Sesuatu terasa sangat mengganjal. Apalagi ketika Dino senyum-senyum seperti itu terhadap Hibari.

Perasaan apa ini?

.


Yap, segini dulu deh...

Cie elah, makin GJ aja! Tapi gara" Dino udah dateng, bentar lagi mau klimaks nih...(baru mau...)

Oh iya Ho potuto superare la mia paura itu dari bahasa Italia, artinya aku bisa mengatasi rasa takutku

Ahay...*lebay* yang gituan malah dijadiin mantra...ah sudahlah...

Mind to review? X3