Oke, pertama-tama Chel minta maap gara" telat sekali update, ah kayanya bukan telat lagi deh T^T Huhuh, ini gara" Chel masih sibuk pindahan dan sibuk nyari Univ baru, bulak-balik Bandung-Bekasi nyari info sana-info sini, tanya sana-tanya sini, (padahal buat apa ada internet).

Pokoknya mohon maaf yaaaaaaang sebesar-besarnya (Hipebola mode: ON). Mudah"an Chel update cepet deh lain kali (kok lain kali?)

Ahah, udah ah, enjoy this...

.


Chapter 14. In Fear


Sewaktu Tsuna masih bersekolah dulu, hari di mana ia jatuh sakit adalah hari yang sangat ia tunggu-tunggu, karena hal itu akan menjadi alasan praktis agar ia tidak perlu pergi ke sekolah dan ditertawakan sepanjang hari, atau juga karena dia akan dibiarkan beristirahat oleh Reborn tanpa harus menjalani latihan berat lagi.

Tapi kali ini, bagi Tsuna demam adalah malapetaka. Bagaimana tidak? Saat Reborn dikabari oleh Giotto bahwa boss Vongola ke sepuluh itu jatuh sakit setelah mereka jalan-jalan, sang hitman langsung 'berteleport' ke base dan tanpa bertele-tele berpidato di depan Tsuna dengan sadisnya.

"Kau mengerti apa yang kukatakan, Dame-Tsuna?" tanya Reborn. Tsuna mengangguk lemah sambil menghela nafas. Matanya yang masih agak berat melirik jam weker di samping tempat tidur.

Pukul 11:23.

Berarti Tsuna sudah diceramahi selama kurang lebih 2 jam sejak Reborn datang dan membangunkannya dengan cara 'biasa'. Gokudera yang duduk di belakang Reborn pun tak mampu mengatakan apa-apa. Sementara Giotto dan Hibari, dua tersangka lain yang juga kena cipratan amarah si Arcobaleno hanya duduk berjauhan di kursi dekat jendela.

"Kau mengerti tidak?" tanya Reborn lagi dalam sebuah bentakan.

"Iya..." jawab Tsuna lemas. "Intinya aku tidak boleh bersenang-senang sebelum menyelesaikan tugas."

"Ya, selain itu?"

Tsuna sedikit terkejut. Sejujurnya ia tidak terlalu memperhatikan kata-kata Reborn yang panjang barusan, cepat-cepat ia berpikir mencari jawaban random yang pertama kali tersirat di benaknya, "E-mm...di-dilarang naik jet coaster?"

Reborn terdiam sesaat, tersenyum sinis lalu menghampiri Tsuna yang masih berbaring di tempat tidur. Dengan kecepatan blitz, tangannya menarik bantal yang dipakai Tsuna kemudian menghantamkannya dengan kuat ke arah wajah uke(?)nya .

"Mau sehat, mau sakit, sifat idiotmu tetap saja ada, dame-Tsuna!" teriaknya kesal. Tsuna terbatuk-batuk keras sebelum kembali membetulkan posisi duduknya. "Selain itu juga perhatikan kesehatanmu!"

Uuukh, ini dia...Kalau sudah menyangkut kesehatan sang boss, Reborn pasti benar-benar marah. Bukan karena ia mengkhawatirkan keadaannya, melainkan gara-gara dia khawatir kalau tugas Tsuna yang sudah menggunung jadi terbengkalai seperti waktu itu.

"Juudaime, kau baik-baik saja?"

"I-iya, terima kasih Gokudera-kun."

"Kalian semua keluar dulu sebentar, ada hal yang perlu kubicarakan berdua dengan Tsuna." Jelas Reborn. Gokudera, Hibari, dan Giotto beranjak dari posisinya masing-masing tanpa banyak bicara. Sebentar kemudian ruangan itu menjadi sepi, hanya tinggal Reborn dan Tsuna yang kembali berbaring dengan lelahnya.

"Apa yang ingin kau bicarakan, Reborn?" tanya Tsuna sambil mengusap dahinya yang berkeringat. Rasanya letih sekali berkonsentrasi mendengar semua ceramah Reborn selama 2 jam.

"Nah, sekarang katakan padaku apa yang membuatmu stres sampai seperti ini?" tanya Reborn seraya menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Tsuna menoleh pelan dan menatapnya dengan penuh tanda tanya.

"Apa maksudmu?"

"Aku sudah lima tahun bersamamu, dame-Tsuna. Tiap kau sedang stres, kau pasti jatuh sakit."

...Hah? Masa sih?

"Tidak tahu, mungkin aku hanya kurang istirahat." Jawab Tsuna pendek. Tapi kemudian dia teringat akan kejadian saat berada di jet coaster kemarin. "Eh, Reborn, yang namanya kutukan itu benar-benar ada tidak?"

"Tentu saja ada, kau pikir aku yang berwujud bayi itu gara-gara apa? Itu kutukan arcobaleno." Jawab Reborn.

"Be-begitu ya?"

"Kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal itu? Ada orang yang mengutukmu?"

"Tidak...aku hanya... kebanyakan nonton film horor."

Kalau kubilang jet coaster yang mengutukku, Reborn pasti tertawa... batin Tsuna.

HP Reborn berdering, langsung saja ia angkat dan mulai berbicara dalam bahasa Italia di sudut ruangan, sesekali dia mengangguk, sesekali memperlihatkan ekspresi terkejut dan menatap wajah Tsuna. Sayang sekali Tsuna tidak begitu mahir berbicara bahasa Italia, dia hanya tahu basic nya saja, itu juga terkadang lupa dan kalau keadaan mendesaknya untuk menggunakan bahasa Itali, ia sering sekali mengeluarkan kata 'eemm'.. 'eeeuh..' atau 'err...'

"Aku harus pergi." Kata Reborn seraya memutuskan sambungan dan memasukkan kembali Hpnya ke dalam saku celana.

"Ke mana?"

"Ke tempat Kyuudaime, katanya Kyuudaime sakit parah."

"EEEH? Kyuudaime? A-aku juga ikut!"

"Bodoh! Kondisimu saja masih seperti itu, istirahat dulu sampai pulih." Reborn menghampiri Tsuna lalu meletakkan telapak tangannya ke dahi sang murid seraya berkata pelan, "Cepatlah sembuh..." Setelah itu ia langsung beranjak ke luar, meninggalkan Tsuna yang menatapinya dengan heran tanpa berkata apa-apa.

Tumben bilang cepat sembuh...

Tak lama setelah Reborn keluar, Hibari masuk tanpa permisi lalu duduk di kursi dekat tempat tidur.

"A-ada apa Hibari-san?" tanya Tsuna.

"Tidak ada apa-apa, aku hanya sedang ingin di sini." Jawab Hibari singkat.

Tumben...

Lama mereka berdua saling diam, sesekali Tsuna memandangi guardiannya itu, namun cepat-cepat mengalihkan pandangan begitu mata mereka bertemu. Diperhatikan oleh Hibari membuat Tsuna salah tingkah.

"Oi, herbivore..." gumam Hibari.

"I-Iya?"

Hening sesaat ketika mata mereka kembali bertemu, kali ini Hibari yang mengalihkan pandangan, dan untuk yang pertama kalinya dalam seumur hidup, Tsuna melihat Hibari tampak ragu.

"Bagaimana dengan tawaranku waktu itu?" tanya Hibari.

Eh? Tawaran?

"Y-yang mana?"

"Waktu di hutan..." Hibari menatap wajah Tsuna sebelum melanjutkan kata-katanya. "Aku tanya, mau tidak...kalau kau jalan denganku?"

"Jalan ke mana?"

"..."

Ini dia...penyakit kronis Tsuna kambuh lagi. Dasar, penyakitnya ini menghancurkan suasana saja. Kesal jadinya. Apa satu-satunya cara harus ngomong terang-terangan?

"Jalan ke mana, Hibari-san?" Tanya Tsuna lagi.

"Lupakan."

"Eh?"

Tsuna menyadari mood Hibari berubah, tapi ia tak mengerti apa yang membuatnya seperti itu. Kemungkinan terbesar adalah karena Tsuna banyak tanya.

Lamunan Tsuna dibuyarkan oleh kedatangan Dino yang langsung main nyelonong sama seperti Hibari. Kemarin Dino memang menginap di Vongola HQ, ia juga diberitahu perihal mengenai Giotto dan kecelakaan di laboratorium oleh Gokudera. Syukurlah Dino cepat mengerti sehingga mereka tidak perlu membohonginya seperti kasus Ryouhei.

"Yo, Tsuna! Bagaimana omelan Reborn tadi?" tanyanya dengan seringai lebar khas sang Don Cavallone.

"Seperti neraka." Jawab Tsuna pendek. Dino tertawa, padahal tadi Tsuna menjawabnya dengan serius.

"Jangan terlalu dipikirkan, yang penting kau cepat sembuh."

Tsuna mengangguk pelan. Sebagai mantan muid Reborn, Dino juga pasti pernah merasakan hal yang sama dengannya, yah, mungkin tidak separah yang ia alami sih. Sepertinya gara-gara lima tahun penuh selalu bersama sang tutor membuat hubungan mereka sudah seperti keluarga sungguhan dan membuat laki-laki itu bisa memperlakukan dia seenaknya.

"Hey, Kyouya, kau ada waktu tidak?" tanya Dino sembari menghampiri Hibari.

"Tidak ada." Jawab Hibari tanpa menyempatkan diri untuk berpikir.

"Lho? Memangnya habis ini kau ada acara?"

"Tidak ada."

"Lalu kenapa kau tidak punya waktu?" tanya Dino bingung. Tsuna juga kebingungan, mungkin sikap judes Hibari juga karena pengaruh moodnya.

"Aku tidak ada waktu untuk menemanimu."

"Ayolah, temani aku makan siang..." Dino memeluk Hibari dari belakang sambil bergelayutan seperti anak kecil. "Dari kemarin aku belum makan apa-apa nih."

Melihat sikap Dino yang menurut Tsuna terlalu akrab membuat perasaannya sedikit tidak nyaman. Apalagi reaksi Hibari tidak berontak atau memberikan penolakan, seolah-olah Hibari memang sering dipeluk Dino.

"Kenapa harus denganku?" protes Hibari.

"Kemarin saat di perjalanan kemari, aku melihat restoran Jepang baru dibuka, Kyouya senang dengan hidangan ala Jepang kan?"

Hibari menoleh, sepertinya perkataan Dino berhasil menarik perhatiannya. Sekarang Tsuna mulai khawatir, bagaimana kalau Hibari menerima tawaran Dino? Bagaimana kalau dia lebih memilih bersama Dino ketimbang bersamanya?

"Lain kali saja." Sahut Hibari. Tsuna tanpa sadar menghela nafas lega, tapi rupanya Dino tidak menyerah juga.

"Ayolah, Kyouya, habis makan siang kita sparing deh...sekarang aku lapar sekali...aku kangen makan bareng denganmu..."

Sesak...

Rasanya sesak sekali melihat Dino memeluk Hibari, ia sudah tidak tahan melihat keakraban mereka yang menurutnya sudah diuar batas pertemanan. Ditambah lagi, mereka mengacuhkan Tsuna yang memandangi kedua orang itu dengan perasaan tidak nyaman.

"Sudahalah Hibari-san, temani saja Dino-san makan siang." Gumam Tsuna, samar-sama terdengar nada kekesalan pada intonasinya. Hibari dan Dino menoleh bersamaan, "Aku ingin istirahat, jadi kalian pergi saja."

Hibari membuka mulut hendak mengatakan sesuatu namun sebelum ia sempat berkata sesuatu, Tsuna memaksakan diri untuk bangkit dan mendorong mereka berdua ke arah pintu yang masih terbuka, "Cepat kalian pergi, kasihan Dino-san belum makan dari kemarin!"

"Herbivore, kau ini kena—"

"Selamat bersenang-senang!"

'BLAM'

Tsuna bersandar pada pintu lalu mengusap wajahnya seraya menghela nafas panjang.

...bodoh! Aku bodoh sekali...

Pelan-pelan tubuhnya merosot kehilangan tenaga dan akhirnya jatuh terduduk. Rasa pusing yang ia rasakan tidak sebanding dengan perasaan tidak nyaman yang masih menghantui hatinya. Ini yang pertama kalinya ia tidak ingin melihat Hibari.

Terdengar suara ketukan pintu. Sepertinya Hibari ingin minta penjelasan, tapi ia sedang tidak ingin menjelaskan sesuatu sekarang.

"Sudah kubilang kau pergi saja!" teriak Tsuna, suaranya serak dan tenggorokannya sakit.

"Eh? Baiklah, tapi aku harus mengambil beberapa baju untuk kuganti di dalam." Sahut seseorang.

Giotto!

Tsuna bangkit lagi, membuka pintu dengan cepat lalu buru-buru menarik Giotto masuk ke dalam, setelah itu ia mengunci pintunya dalam sekali gerakan.

"Ada apa?" tanya Giotto kebingungan, ya jelas saja, karena gelagat Tsuna barusan seperti sedang menyelundupkan seorang teroris ke dalam kamar.

"Tidak ada apa-apa." Suaranya masih serak, dengan sempoyongan ia kembali berjalan dan berbaring di atas tempat tidurnya, terbatuk-batuk.

"Sudah minum obat?" tanya Giotto sembari mengukur suhu tubuh Tsuna dengan tangannya. Tsuna hanya bisa mengangguk.

"Giotto, tolong temani aku sebentar."

"Baiklah, tapi sekarang kau perlu istirahat." Sahutnya seraya menepuk kepala Tsuna. Giotto berjalan ke arah lemarinya lalu mulai mengambil beberapa kemeja. Kemudian perlahan sang Primo mulai membuka kancing kemeja yang ia pakai.

"Kau akan ganti baju di sini?" tanya Tsuna.

Giotto menoleh lalu menjawab, "Ya, kenapa?" Ia menggantung kemeja yang selesai dibukanya lalu berjalan ke arah Tsuna seraya membuka ikat pinggang. Tsuna bisa melihat tubuh sang Vongola Primo dengan proporsi sempurna, membuktikan fakta bahwa ia sering bertarung dan beradu kekuatan.

"Ti-tidak apa-apa, tapi aku bisa melihatmu." Jawab Tsuna canggung. Kenapa pula ia harus canggung?

Giotto terkekeh pelan, "Memangnya kenapa kalau kau bisa melihatku?"

Entah mengapa Tsuna merasa kalau Giotto seperti sedang menggodanya sekarang.

"K-kau tidak malu kalau aku memperhatikanmu ganti baju?"

Giotto menggeleng, "Kalau aku pernah membuka semua pakaianku di depan seorang wanita, untuk apa aku malu mengganti baju di depanmu?"

Mata Tsuna melebar, "Kau—pernah telanjang di depan perempuan?"

"Yah, tapi tidak telanjang bulat seperti yang kau pikirkan." Jawab Giotto sembari tertawa. Wajah Tsuna sedikit memerah karenanya.

Kenapa ia tahu kalau aku membayangkan dirinya sedang telanjang bulat...?

"L-lalu, untuk apa kau telanjang di depan perempuan?"

"Waktu itu kami sedang melakukan hubungan seks." Jawab Giotto sambil membuka ritsleting celananya tepat saat ia mengucapkan kata 'seks'.

"Hah?"

Giotto melirik Tsuna yang menampakkan ekspresi terkejut berlebihan, kemudian ia tertawa karena melihat betapa polosnya reaksi dari sang Decimo. 19 tahun bukanlah umur yang harus terkejut bila mendengar hal-hal berbau seksual. Nampaknya pikiran anak yang satu ini masih bersih. Semakin polos korban tindakan asusila, maka nafsu untuk menggoda pun semakin besar, bukan begitu?

"Kenapa kau terkejut seperti itu?" tanya Giotto sambil naik ke tempat tidur lalu memposisikan dirinya sehingga berada di atas Tsuna, senyum nakalnya terlihat jelas saat ia menatap wajah Tsuna yang mulai memerah, entah karena malu atau gara-gara demamnya, "Apa kau ingin melakukan hubungan seks denganku?"

Kata-kata Giotto jelas saja membuat Tsuna semakin terkejut dan wajahnya semakin memerah, apalagi karena sekarang ia sedang berada di atas dan mempersempit ruang geraknya. Selain itu...

...DIA SETENGAH TELANJANG!

"Gi-Giotto, t-tolong jangan bercanda!" Tsuna mencoba menyingkirkan kedua lengan Giotto yang menghimpit bahunya, namun ia tak bergeming. "Ka-Kalau ada orang yang melihat kita, nanti mereka salah paham."

"Tidak ada yang akan melihat, bukankah tadi kau mengunci pintunya?"

Tsuna merasa bodoh akan hal itu. Lagipula ia tidak tahu untuk apa ia mengunci pintu tadi.

"Ta-tapi...tolong jangan berada di atasku, aku mulai kepanasan..."

"Oohh..." Giotto mulai membuka kancing piyama Tsuna satu persatu tanpa seizinnya.

"A-apa yang kau lakukan?"

"Tadi kau bilang kepanasan?"

"Iya, tapi maksudku kau harus menying—hei!" Giotto tidak mendengar Tsuna dan tetap membuka kancing, kemudian salah satu tangannya menyelinap, tangan dingin Giotto membelai pinggangnya perlahan. "G-Giotto! Tolong hentikan!"

Namun sayang sekali Giotto tidak menggubris, sekarang tangannya sudah mencapai leher dan Tsuna tidak kuasa menghentikannya. Pegal-pegal dan rasa pusing yang ia rasakan membuatnya tak bertenaga. Jantungnya berpacu cepat seiring belaian tangan Vongola Primo yang sekarang menyentuh bibir bagian bawahnya.

Giotto benar-benar 'berpengalaman'. Sudah berapa kali ia melakukan hubungan seks? Sudah berapa kali ia berciuman? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu sempat menghantui pikiran Tsuna. Bagi Giotto, merebut kehormatan Tsuna itu bagai merebut sebuah permen dari anak kecil.

Dengan senyum nakal yang masih bertahan dan tangan yang masih bergentayangan, Giotto bergumam, "Kau terlihat lebih seksi kalau sedang sakit Tsunayoshi..."

Alhasil wajah Tsuna semakin merah dibuatnya, "Jangan berkata seperti itu!"

Giotto terkekeh lagi, menggoda seorang uke itu adalah hal yang menyenangkan ya...?

"Tapi aku berkata jujur..." senyum nakal Giotto melebar.

"Baiklah Giotto, kau mulai membuatku takut sekarang..."

Giotto menurunkan tubuhnya dan beradu kulit, ia bisa merasakan detak jantung Tsuna yang mengencang, berarti dia sudah berhasil menyeret laki-laki (malang) itu ke dalam permainannya. Tapi tentu saja tidak cukup hanya sampai di sana. Tangannya yang sedari tadi hanya menggeluti 'bagian atas' pun mulai lari ke 'daerah bawah'. Di balik celana Tsuna, tangan kiri Giotto meraba-raba sesuatu yang kau-tahu-apa dengan skill mengagumkan, seolah-olah jemarinya sedang bermain piano. Sementara ia menciumi leher Tsuna dari samping.

"G-Giotto! Hentikan! Kumohon!" Tsuna menjerit tapi mengatur agar suaranya tidak terlalu keras dan terdengar sampai ke luar. Bisa bahaya nanti kalau ada orang yang mendengar dan berpikiran macam-macam.

Namun Giotto tidak berhenti, malah mengubah senyum nakalnya menjadi seringai licik, kemudian ia menjilat daun telinga Tsuna dan berbisik setengah mendesah, "Tsunayoshi..."

Tsuna menutup mata rapat-rapat, sedikit air mata mulai meleleh. Oh, apakah ini hari di mana ia akan melepas status keperjakaannya?

"...Kena kau!"

"Eh?"

Giotto seketika tertawa keras, kemudian ia segera menyingkir dari Tsuna yang sudah hampir menangis. "Ekspresimu lucu sekali!" komentar Giotto di tengah tawanya. Tsuna spontan saja memasang raut wajah cemberut dan kesal. Apa-apaan dia? Mempermainkannya seperti itu, tidakkah Giotto sadar kalau ia telah membuat Tsuna ketakutan?

"Dasar bodoh! Kupikir kau akan benar-benar melakukan itu!" teriak Tsuna sambil menghapus sedikit air mata di sudut matanya.

"Aku hanya menjahilimu," sahut Giotto, tawanya sudah agak reda sekarang, "Tapi aku akan melakukannya kalau kau tidak menolakku."

"Hah?"

"Ehe...bercanda..." Giotto mengambil kemeja yang ia lepas lalu memakainya kembali, kemudian meraih kemeja baru yang dipilihnya seraya beranjak pergi ke arah pintu, "Aku akan ganti baju di laboratorium saja."

"Laboratorium?"

"Ya, tadi aku bertemu dengan orang bernama Shouichi, aku janji akan membantunya menyelesaikan mesin waktu supaya aku bisa cepat pulang."

"Kau tidak jadi menemaniku?"

"Ah, maaf Tsunayoshi, aku sudah janji, nanti aku akan kemari lagi."

"Oh... ya, baiklah."

Sepeninggalan Giotto, Tsuna bangun terduduk lalu mengancingkan kembali piyamanya yang setengah terbuka gara-gara ulah Giotto, untung saja tadi ia belum (benar-benar) terangsang sehingga ia tidak perlu mengganti celananya.

Setelah itu Tsuna kembali berbaring sambil memeluk guling. Perasaannya bercampur aduk jadi satu, rasa kesalnya pada Hibari, rasa deg-degan saat Giotto menyentuhnya, tapi yang paling dominan adalah perasaan takut dan khawatir yang tiba-tiba saja datang.

Tsuna sedang ketakutan...

Hari ini, baik Hibari maupun Giotto sama-sama tidak menemaninya. Tsuna takut kutukan itu menjadi kenyataan. Bagaimana kalau benar-benar terjadi? Bahwa selamaya ia tidak akan bisa bersama Hibari atau Giotto? Apakah ini permulaan dari kutukan itu?

Tsuna memeluk gulingnya erat-erat dan menutup matanya rapat-rapat. Bagaimana rasanya ditinggalkan oleh orang yang kita sayangi?

...aku takut sekali...


.

Yap, cukup sampai di sana dulu. Haduh, asalnya mau ngeluarin Muku-chan di Chapter 14, tapi gak sempet kebagian skenario .. kayanya nanti di Chapter 16, giliran Muku-chan yang bakal beraksi dan tampil paling keren... (halah) Chapter 15 aja baru setengah...=w=

Ok, mind to review please? XD