UGHHH~ Mine Only lama banget ya update nya... Mine Only aja lama, apalagi fic yang lain =_= Tapi emank sekarang berusaha fokus dulu ke Mine Only sih, habis itu baru lanjutin fic XS... eheehehe, gag tw kenapa akhir" ini mesum terus mikirin XS (halah) padahal lagi puasa. Dan chapter ini yang paling sedikit dibanding yang lainnya, huhuuh gomen m(_ _)m
Udah deh pembukaannya cukup sekian dulu, please enjoy this~ ^^
.
Chapter 15. Got Better, Got Worse
Beberapa hari kemudian, Tsuna kembali sehat dan kamarnya pun selesai diperbaiki, segalanya mulai membaik satu persatu. Pekerjaannya yang menggunung cepat terselesaikan dalam tempo singkat berkat bantuan dari semua guardiannya,Tsuna juga mendengar kabar bahwa keadaan Kyuudaime sudah pulih seperti semula, benar-benar orang tua yang tangguh ya?
Selain itu, akhir-akhir ini sikap Reborn mulai melunak, ia memperbolehkan Tsuna beristirahat lebih awal atau bermain-main sebentar sebelum pekerjaannya selesai. Terkadang ia juga menegurnya untuk makan dulu sebelum menuntaskan semua kewajibannya. Dengan kata lain, ia jadi lebih 'perhatian' daripada sebelumnya.
Yah, hampir semuanya membaik, namun di sisi lain ada satu hal yang memburuk...
Hari demi hari, Tsuna melihat keakraban Dino dan Hibari semakin menjadi saja, Dino selalu main peluk tiap kali ia melihat Hibari, lelaki itu juga sudah mulai berani menggoda cloud guardiannya di depan orang-orang. Saat sedang makan bersama contohnya, Dino secara terang-terangan menarik perhatian Hibari dengan mencuri makanannya, hal itu membuat selera makan Tsuna menghilang dan pergi meninggalkan meja makan sambil berkata...
"Aku sudah kenyang..."
Ada pula di saat Tsuna sedang bercakap-cakap berdua bersama Hibari, Dino selalu muncul dan mengambil semua perhatian Hibari darinya, maka Tsuna akan segera pergi dari sana, dengan alasan...
"Aku baru ingat kalau aku ada urusan..."
Yang lebih parah adalah saat di mana Tsuna tengah menerawang ke luar lewat jendela di ruang kerjanya, secara tak sengaja matanya menangkap sosok Dino yang tengah berbaring di pangkuan Hibari, mungkin mereka tengah beristirahat setelah melakukan sparing atau semacamnya. Dan saat itu juga, Tsuna ingin sekali menutup jendela besar itu dengan tembok Cina.
Sekarang Tsuna selalu menghindari Hibari, karena tiap kali ia melihat lelaki itu bersama Dino, perasaan Tsuna selalu tidak nyaman dan merasa tersisihkan. Daripada ia melihat Hibari dan menahan perasaan yang mengganjal, Tsuna memutuskan untuk menjaga jarak darinya.
Di saat seperti itu, tempat pelarian Tsuna adalah taman tempat ia berciuman pertama kali dengan Giotto. Entah mengapa ia mulai senang berada di sana, tapi bukan berarti ia menyukai tindakan Giotto yang seenaknya waktu itu, walau jauh di lubuk hati Tsuna ia ingin berterima kasih pada sang Founder.
Tsuna merebahkan diri di atas rerumputan, memandangi langit dengan pandangan sayu, atau lebih tepatnya tak bersemangat.
Aaah, langitnya sedang cerah...sebentar lagi musim panas ya?
"..."
Berpikir tentang langit...
Seharusnya langit selalu ditemani sang awan kan? Seperti langit yang sedang ia lihat saat ini. Tapi awan bagi langit Tsuna sedang bersama langit lain...
"Boss?"
Tsuna terbangun saat suara seseorang yang familiar memanggil namanya.
"Ah, Chrome..."
"Maaf, apa aku mengganggumu?"
"Eh, tidak..."
Chrome menunduk lalu duduk tak jauh dari bossnya, sementara Tsuna memperhatikan buku ukuran A4 yang dibawa gadis berambut ungu itu.
"Yang ditanganmu itu buku apa?" tanya Tsuna.
"Buku gambarku."
Oh ya, waktu itu Mukuro memberitahuku kalau Chrome sering menggambar.
"Kau datang kemari untuk menggambar?"
Chrome mengangguk pelan lalu ia bertanya, "Boleh aku menggambar boss?"
Tsuna sempat terkejut namun ia memperbolehkannya, "Te- tentu saja."
Chrome pun mulai mengeluarkan sepaket krayon dari saku blazernya dan mulai menggambar Tsuna yang duduk bersandar pada pohon. Tsuna agak geli melihat keseriusan pada wajah Chrome, namun ia mati-matian menahan agar tidak tersenyum mencurigakan.
"Ano...kau suka menggambar di sini, Chrome?" tanya Tsuna.
"Emm, iya kadang-kadang." Jawab Chrome sambil terus menggoreskan krayonnya, sesekali ia menoleh ke arah Tsuna.
Hening sesaat sampai kemudian Chrome bertanya, "Boss, apa kau sedang sedih?"
"Ehh?"
"Aku selalu melihat boss menghela nafas akhir-akhir ini, seperti sedang memikirkan sesuatu yang berat."
Tsuna sama sekali tidak sadar kalau ia sering menghela nafas, dia juga tidak sadar kalau Chrome sering memperhatikannya.
"Bukan sesuatu yang berat kok." Jawab Tsuna sambil tersenyum lirih. Chrome dengan polosnya percaya apa yang dikatakan sang boss. Tak sampai 10 menit kemudian...
"Sudah jadi."
Hah? Cepat sekali...
"Coba kulihat."
Chrome menyerahkan hasil gambarannya yang menampakkan sosok seorang anak laki-laki, memakai seragam berdasi merah, memiliki rambut berwarna ungu dan model rambut seperti Hibari yang sedang duduk tersenyum bersandar pada sebuah pohon.
Tsuna yakin pernah melihat gambar anak laki-laki ini sebelumnya. Dia anak yang selalu muncul di gambar-gambar Chrome lainnya waktu itu.
J-jadi...anak laki-laki itu adalah aku?
Batin Tsuna tak percaya. Habis mau dilihat dari sisi manapun, sama sekali tidak mirip dengan dirinya.
"Emm—gambarmu bagus," komentar Tsuna, "Tapi kenapa rambutnya warna ungu?"
"Ma-maaf, soalnya, ungu itu warna kesukaannku..."
..."Laki-laki di gambar itu adalah orang yang disukai Chrome..."
Kata-kata Mukuro tiba-tiba terbesit selama beberapa detik. Memang benar bahwa Mukuro pernah menyebutkan hal itu, tapi Tsuna sama sekali tak menyangka bahwa laki-laki yang ia maksud adalah dirinya.
Ternyata selama ini orang yang disukai Chrome adalah Tsuna, bukan Hibari. Mengapa kesalah pahaman ini baru terungkap sekarang? Padahal ia sudah terlanjur cemburu pada Chrome waktu itu. Sekarang ia jadi diliputi perasaan bersalah.
"Boss tidak suka dengan gambarku?" tanya Chrome sedikit kecewa.
"A-ah! Tidak, aku suka sekali...sangat suka..." jawab Tsuna cepat-cepat.
Chrome menghela nafas lega mendengarnya, "Kalau boss suka, gambar itu untuk boss saja..."
"Untukku? Terima kasih! Ah, sebentar..." Tsuna merogoh semua isi sakunya, mencari-cari sesuatu yang bisa ia serahkan kepada gadis itu sebagai ganti gambar yang telah ia buat.
Tsuna mengeluarkan HP, kunci lemarinya, pulpen, tiga buah permen, sarung tangan bercorak 27 dan pil andalannya, lalu...
"Kalau begitu, ini untukmu..." katanya seraya menyerahkan sebuah bunga. Bunga perak pemberian Ficus.
"Emm, terima kasih." Chrome malu-malu menerima barang pemberian Tsuna, wajahnya sedikit memerah dan menunduk.
Mereka agak lama bercakap-cakap di taman itu, membuka diri dan membicarakan kebiasaan-kebiasaan Mukuro. Tsuna baru tahu kalau Chrome ternyata punya selera humor juga, dia tertawa manis saat Tsuna memberitahunya cerita-cerita lucu. Selama beberapa jam kedepan, Tsuna sanggup melupakan Hibari yang selalu ada di pikirannya, tergantikan oleh tawa sesaat. Namun saat ia tengah berjalan ke kamarnya sambil terus memperhatikan gambar buatan Chrome...
"Herbivore!"
Tsuna mengalihkan pandangan, di depannya berdiri Hibari yang menghampirinya dengan langkah cepat.
"H-Hibari-san?" Tanpa sadar kakinya berjalan mundur, tapi kalah cepat dengan langkah Hibari yang sekarang sudah berada tepat di hadapannya. Hibari dengan kasar mendorong tubuh Tsuna hingga punggungnya merapat ke dinding dan menjaga posisi laki-laki itu agar tidak kabur dengan kedua tangannya.
"Apa-apaan ini, Hibari-san?"
"Kenapa kau menghindariku terus?" tanya Hibari tajam, langsung to the point tanpa basi-basi. Tsuna tak menjawab dan ia berusaha untuk menghindari kontak mata dengannya. "Kau benci padaku?"
"Aku tidak—"
"Kalau begitu jawab pertanyaanku!" gertak Hibari.
"Aku tidak menghindarimu!" Tsuna balas menggertaknya.
"Kau selalu pergi bila melihatku, apa itu namanya bukan menghindar?"
Tsuna diam seribu bahasa, reaksi Tsuna yang demikian malah membuat Hibari semakin tidak sabaran, ia menodongkan salah satu tonfa ke dagunya, memaksa Tsuna untuk menatap mata hitam Hibari yang menahan emosi.
"Jangan paksa aku untuk menggunakan kekerasan padamu," geram Hibari dengan penekanan dingin di setiap katanya.
"Oya oya, ada apa ini?" Mukuro yang kebetulan lewat hendak menyerahkan laporan, berhasil mengalihkan perhatian Hibari dari Tsuna. "Kau sedang merampok Tsunayoshi-kun, Kyouya?"
"Jangan mengganggu!" geram Hibari sambil mengeluarkan death glare.
"Kufufu, bukan aku yang akan mengganggu kalian, tapi mereka..." katanya seraya menunjuk ke arah yang berlawanan, Hibari dan Tsuna menoleh bersamaan.
"HIBARI! Singkirkan tanganmu dari Juudaime, brengsek!" Gokudera, Yamamoto, Ryouhei, dan Giotto tampak berlari menghampiri mereka. Hibari yang benci berkumpul bersama para herbivore dan orang-orang idiot tentu saja melepaskan Tsuna sembari berdecak sebal. Ia sempat melayangkan tonfanya ke arah dinding hingga menimbulkan retakan besar sebelum pergi melewati Mukuro.
Tsuna yang masih agak shock langsung merosot dan terduduk lemas. Tatapan Hibari tadi...tatapannya saat berkata 'Jangan paksa aku untuk melakukan kekerasan padamu'
...Barusan itu adalah tatapan seorang pembunuh.
"Kau tidak apa-apa Juudaime?" Gokudera berhenti di depan Tsuna, langsung memeriksa keadaan bossnya.
"Mukuro, aku tidak apa-apa, sekarang hilangkan ilusimu." Gumam Tsuna. Kemudian 'Whuuuuss' Gokudera, Yamamoto, Ryouhei, serta Giotto segera berubah menjadi asap, menghilang begitu saja.
"Kufufu, sepertinya kalian memiliki masalah serius." Mukuro mengulurkan tangannya untuk membantu Tsuna berdiri.
"Bukan masalah apa-apa," jawab Tsuna seraya meraih uluran tangan Mukuro, "Terima kasih telah menolongku."
"Kertasmu jatuh, ng?" Mukuro terdiam sebentar saat ia melihat gambar buatan Chrome di kertas yang diraihnya barusan, kemudian memberikannya pada Tsuna sambil mengangkat sebelah alisnya, "Dari mana kau mendapat gambar Chrome?"
"T-tadi Chrome menggambarku saat sedang di taman, kemudian ia memberikannya padaku."
"Hoo...Jadi kau sudah tahu siapa laki-laki di gambar itu?"
Tsuna mengangguk.
"Ini laporan untuk misi kemarin," Mukuro menyerahkan beberapa helai kertas lain.
"Terima kasih untuk kerja kerasmu." Sahut Tsuna. Dia memaksakan diri untuk tersenyum padahal sedang tak bersemangat. Tsuna membaca sekilas hasil laporannya. Tulisan Mukuro masih tidak rapi, seperti biasa.
"Dan ini untukmu..." dia menyerahkan setangkai bunga mawar merah. Tsuna memandangi mawar itu dengan heran. Ilusi kah? Bukan, kalau ilusi dia pasti menyadarinya.
"Untuk apa?"
"Untukmu..."
"Maksudku, untuk apa kau memberikan bunga ini padaku?"
"Kufufu, aku hanya ingin memberikannya padamu."
Hah?
Tsuna memandangi mawar itu sekali lagi. Apakah Mukuro punya maksud tertentu? Apa ini adalah salah satu siasatnya untuk menyembunyikan kesalahan pada misinya? Tumben sekali dia memberinya bunga.
"Terima kasih," gumam Tsuna seraya menerima mawar itu, agak aneh rasanya menerima sebuah bunga, tapi Mukuro sudah memberinya, tidak enak kalau ditolak, "Tapi— kenapa padaku? Seharusnya kau memberikannya pada orang yang kau cintai..."
"Aku memang memberikannya pada orang yang kucintai, Tsunayoshi-kun," jawab Mukuro sambil tersenyum. Tsuna terhenyak sekejap mencerna maksud dari kata-kata Mukuro. Dia bilang dia memang memberikan bunga itu pada orang yang dicintainya, itu berarti Mukuro...
"K-kau bilang apa tadi?" tanya Tsuna, untuk memastikan bahwa dirinya tidak salah dengar atau sedang tidak melamun gara-gara banyak pikiran.
"Aku mencintai Tsunayoshi-kun," jelas Mukuro. Wajah Tsuna tiba-tiba memerah, mungkin menyaingi mawar yang sedang dipegangnya. Jantungnya juga mulai deg-degan tak karuan. Satu hal yang ia harapkan adalah...bahwa Mukuro hanya bercanda.
"Ap—apa kau sadar dengan apa yang kau ucapkan tadi?"
"Dengan sepenuh hatiku," jawab Mukuro, senyum di bibirnya masih bertahan.
Bingung dengan respon yang akan diberikan, Tsuna malah berteriak "Dasar bodoh!" sambil melempar bunga mawarnya ke wajah Mukuro lalu berlari meninggalkan mist guardiannya yang terpaku di tempat.
"Oya oya, dia salah tingkah," gumam Mukuro sambil tertawa kecil. Ia memungut mawar yang dilempar Tsuna kemudian memandanginya dengan sorot mata sedih, "Ternyata memang ditolak ya..."
"...Dasar bodoh!"
Kata-kata Tsuna yang terakhir entah mengapa membuat Mukuro agak terpukul, dia yang biasanya tidak pernah menggunakan hatinya dalam situasi seperti apapun malah merasa tertusuk.
Sebenarnya wajar saja kalau Tsuna kabur, karena Mukuro memang sering menggoda dan merayu bossnya dengan hal-hal vulgar dan agak mesum, tapi mungkin juga karena itu ia menolaknya. Tsuna pikir Mukuro hanya bercanda lagi.
"Padahal aku benar-benar mencintainya..." gumam Mukuro lirih. Digenggamnya mawar berduri itu kuat-kuat hingga tangannya berdarah kemudian ia hempaskan begitu saja ke lantai. Rasanya sia-sia sekali ia membuang waktu untuk memetik mawar dan menghiburnya, kalau pada akhirnya Tsuna tidak menerima perasaannya yang tulus.
Sepertinya hati Tsuna sudah terpaut pada Hibari, tapi melihat gelagat mereka tadi, mungkin hubungan mereka sedang memburuk dan kacau karena keberadaan Dino di tengah-tengah mereka. Bagus deh, Mukuro jadi punya kesempatan untuk mendekatinya.
Tapi bagaimana dengan Vongola Primo?
Benar. Tsuna juga sepertinya sangat dekat sekali dengan Giotto. Level Mukuro dan Giotto jelas berbeda, baik dalam hal kemampuan fisik, maupun otak, sepertinya Giotto lebih unggul, makanya ia sanggup mendekati Tsuna dalam waktu dekat, dan problem dengan Hibari juga, meski Dino hadir di antara mereka, tapi Tsuna pasti masih menyukai orang itu.
Apa aku tak punya harapan?
Mukuro memandangi tangannya yang masih berdarah, beberapa tetes jatuh ke lantai dan berbaur dengan karpet merah delima.
Tidak, pasti ada...
Ia menutup mata sambil membuat ilusi untuk menutup lukanya sehingga tangannya terlihat bersih dan baik-baik saja. Kemudian dengan penuh keyakinan Mukuro bergumam sambil menyeringai,
"Pasti masih ada harapan kalau aku bisa menyingkirkan mereka berdua dari sisi Tsunayoshi..."
.
OKEEEEE~ Karena Chel lagi libur, jadi selesein chapter 15 deh nyahahha. Nah, mulai dari sini Mukuro mulai ikut campur, jadi nanti Tsuna bukan lagi dilema, tapi trilema ahiaQ~ (emank ada?) Dilema aja Tsuna udah bingung apalagi trilema ya? XD
Maaf ya buat reviewers yang belum Chel bales review nya... Gomenasai, soalnya ternyata dunia kuliah di politeknik gag kaya di univ, dikit" Drop Out, kan serem...huhuhu..Tapi yah, pasti Chel selesein Mine Only lah...hoho (author muali GAJHEEEE!) OKE OKE, Chel pamit dulu~ bye"..
EH tungguuuuu! Minta review, kritik atau saran dooonk~ (ini anak bisanya cuma minta")*Slapped* X3
