Disclaimer : Saya tidak punya dan tidak akan punya yang namanya Hunter X Hunter. BUKAN MILIK SAYA.

Warning : Transgender, rada OOC, AU, aneh dan sebagainya. You've been warned!

A/N : Di sini ada flashback-nya juga. Flashback-nya saya italic, yah. Saya rasa itu saja. Yak, mari mulai dengan ceritanya!

I'm Not Alone This Night-Chapter Two

31 Desember 2010

"Sial!" Umpatku kencang-kencang.

Sudah sendirian di malam tahun baru, tidak mendapatkan novel yang selama ini kutunggu-tunggu, bertemu dengan cowok sialan yang kurang ajar dan sekarang… Aku tersesat pula!

"Sial! Sial Sial!" Aku ambil sebongkah salju di tanah kemudian kulempar ke arah danau yang membeku di depanku. Bongkahan salju itu kemudian pecah menjadi keping-keping kecil di atas danau.

Ya, aku sekarang tersesat dan berada di depan sebuah danau yang membeku. Danau ini berada di tengah-tengah daerah yang mirip dengan hutan. Tapi, ini bukan hutan. Hanya banyak pohon-pohon yang tumbuh mengelilinginya sehingga membuatnya kelihatan seperti di hutan.

Aku tidak mengerti kenapa aku bisa berakhir di tempat ini. Karena aku hanya mengikuti ke mana kakiku membawaku setelah aku keluar dari toko buku itu.

Aku menghela nafas dalam-dalam dan jongkok sambil menutup kedua mataku. Aduh! Malah saljunya masih turun, membuat udara sekitar semakin dingin saja. Aku kemudian mengangkat lengan bajuku untuk melihat jam tangan yang berada pada pergelangan tangan kananku. Jam 19:46. Benar-benar bagus.

Aku menengadahkan kepalaku ke atas untuk melihat langit sampai tiba-tiba rasa dingin mulai merasuk ke dalam tubuhku dan membuatku bersin-bersin.

HACHI!

"Aduh…" Batinku rasanya ingin menangis sekarang. Ini benar-benar menyedihkan.

HACHI!

Aku bersin lagi. Sial… Kepalaku sekarang terasa pusing dan badanku terasa agak lemas. Apa aku akan sakit? Oh, tidak, kumohon jangan sakit sekarang. Tapi, sepertinya badanku tidak bisa kuajak untuk berkompromi. Buktinya saja, badanku terasa semakin lemas dan kepalaku terasa berat.

Di sela-sela kepalaku yang pusing dan berat ini, aku mengingat kejadian di toko buku tadi, yang mana membawaku pada memory-ku saat aku berusia 9 tahun. Pada saat malam tahun baru, tepat 2 hari setelah kepergian kedua orangtuaku ke luar negeri, aku kabur dari rumah kemudian tersesat di depan sebuah danau. Dan bibiku, Pakunoda kalang kabut mencariku.

Aku menutup kedua mataku, menyenderkan kedua tanganku di atas lututku dan membaringkan kepalaku di sana. Rasanya… Aku akan pingsan…

Hiks… Hiks…

"I… bu, Ayah…"

Hiks…

"Hei! Kenapa kau menangis?"

Hiks…

"Apa kau tersesat?"

"I… Iya, aku mencari ke…dua orangtuaku…Hiks"

"Udara di sini sangatlah dingin dan kau bisa kena flu jika kau terus-terusan menangis di sini. Aku akan mengantarkanmu ke kantor polisi terdekat. Mungkin saja orangtuamu sudah ada di sana."

Hiks… Hiks…

"Hei! Ayolah! Jangan menagis terus! Mari kuantar!"

"… Hiks …"

"Baiklah, kemari, aku akan menggendongmu sampai ke kantor polisi."

Aku ditolong oleh seorang anak lelaki yang usianya kurasa sebaya denganku. Dia berambut dan juga berkulit putih. Dan kurasa, itu menjelaskan perasaan familiar-ku terhadap cowok sialan di toko buku tadi.

Kejadian itu sudah cukup lama dan aku tidak begitu mengingat wajah lelaki yang menolongku pada waktu itu. Aku bahkan tidak tahu namanya. Karena yang kulakukan hanyalah menangis dan menangis di gendongannya sampai kami tiba di kantor polisi dan ternyata bibiku sudah berada di sana. Bibiku kelihatan benar-benar panik saat itu. Dia bahkan sampai menangis dan memelukku saat melihatku tiba di sana. Tapi, saat aku menoleh untuk melihat lelaki yang menolongku itu, dia sudah pergi. Hilang begitu saja.

Apa aku bisa bertemu dengan penolongku lagi? Aku tersenyum membayangkan kejadian itu sambil memeluk erat sesuatu yang hangat yang berada di depanku. Tunggu, sesuatu…?

Aku juga merasa seperti digendong oleh seseorang, digendong persis seperti kejadian waktu aku digendong oleh penolongku. Rasanya benar-benar hangat. Tapi, aku berasumsi bahwa itu hanyalah bayanganku saja karena pada saat ini, aku sedang memikirkan masa laluku yang persis dengan hal ini.

-cmR-

"Ungh…"

Kenapa cuaca di sini terasa hangat? Dan… Kenapa aku berkeringat? Kepalaku… Badanku… Rasanya aku sudah merasa sedikit membaik…? Tunggu, aku masih ada di depan danau beku itu, 'kan?

Aku membuka kedua mataku perlahan. Langit-langit? Kenapa ada langit-langit di depan sebuah danau? Aku kemudian merasakan sesuatu yang nyaman dan empuk di bawah badanku. Tempat tidur…? Aku juga menyadari bahwa aku diselimuti dengan selimut krem tebal. Dan… handuk basah yang berada di atas dahiku. Aku mengambilnya dari kepalaku kemudian bangun.

Mataku menerawang keadaan sekitarku. Aku sepertinya berada di sebuah kamar. Ya, sebuah kamar milik orang kaya karena luasnya kamar ini dan luasnya ukuran ranjang tempat aku duduk sekarang.

Aku melihat ke arah langit-langit dan menemukan sebuah lampu gantung yang kurasa adalah lampu kristal menerangi ruangan kamar ini. Ada beberapa rak buku dan lemari berukuran besar yang tampak mewah mengisi ruangan kamar ini. Juga ada beberapa lukisan indah dengan berbagai ukuran menghiasi dinding kamar ini.

Click!

Mataku kemudian mengalihkan perhatiannya ke arah sumber suara yang ternyata adalah suara pintu kamar dibuka. Dari balik pintu itu, masuk seorang pemuda berambut putih, agak acak-acakan, bertubuh tinggi dan tegap serta berkulit putih. Dia memakai pakaian dingin serba hitam. Dia membawa sebuah nampan yang di atasnya berdiri semangkuk yang aku tidak tau apa isinya dan segelas air putih.

Aku menaikkan sebelah alisku secara skeptis. "Cowok kurang ajar yang di toko buku tadi?"

"Cewek dengan celana dalam berwarna putih." Dan itu terdengar lebih seperti pernyataan buatku. Aku mendengus mendengar itu keluar dari mulut cowok kurang ajar ini.

"Ahahaha. Aku hanya bercanda, kok."

Aku hanya membuang muka mendengar penjelasannya.

"Hei, hei… Apa itu respon yang tepat ditujukan bagi orang yang sudah menolongmu?"

Aku berbalik ke arahnya. Dia yang menolongku? Mengejutkan. Aku kemudian melihat dia berjalan mendekati tempatku dengan nampannya itu. Dia duduk di tepi ranjang yang aku tempati sekarang dan menaruh nampannya di meja kecil sebelah ranjang.

"Sepertinya obat itu memang benar-benar manjur." Katanya sambil menaikkan kedua alisnya. Obat…? Aku meminum obat? Bagaimana? Ah, itu akan kutanyakan kepadanya nanti. Yang penting sekarang adalah menanyakan bagaimana dia bisa membawaku ke tempat ini.

"Bagaimana keadaanmu sekarang?" Dia lalu menoleh ke arahku.

"Sudah jauh lebih baik kurasa."

"Baguslah kalau memang begitu." Katanya sambil tersenym tipis.

"Bagaimana kau bisa menolongku?"

"Tidak ada ucapan terima kasih dulu buatku?" Katanya sambil menaikkan sebelah alisnya.

"Terima kasih. Sekarang, bisakah kau beri tahu aku?"

"Bisakah kita berkenalan dulu?" Cowok ini… Benar-benar menyebalkan!

"Aku lebih suka kalau kita langsung ke inti permasalahannya."

"Kalau tidak mau berkenalan dulu, aku tidak akan memberitahukanmu." Katanya sambil membuang muka dan menutup sebelah matanya dengan jahil.

Aku mengambil nafas dalam-dalam, (perlu kesabaran tinggi untuk menghadapi cowok macam ini) lalu membuangnya.

"…"

"Aku Killua, 16 tahun. Salam kenal." Katanya dengan gembira sambil mengacungkan tangan kanannya yang kurasa dia lakukan supaya aku menjabat tangannya. Ternyata hanya lebih tua setahun dariku.

Tapi, aku hanya melihat tangannya itu tanpa berniat sedikitpun untuk menjabatnya. "Aku Kurapika." Jawabku singkat, tidak kelihatan menunjukkan ekspresi bersahabat sama sekali.

Aku merasa seperti perempuan tidak tahu berterima kasih kepada orang yang telah menolongku. Tapi, aku belum bisa menentukan apa-apa dari cowok kurang ajar ini.

Dia lalu tersenyum lagi. "Tidak terlalu bersahabat rupanya."

"…"

"Aku menemukanmu di depan sebuah danau dan memutuskan untuk menggendongmu sampai ke rumahku. Aku tidak tahu di mana alamatmu atau nomor yang bisa kuhubungi. Karena pada saat itu kau tidak membawa sama sekali tanda pengenal. Hanya dompet berisi uang yang kutemukan. Tapi, tenanglah, aku tidak mengambil sepeser-pun."

Dia… Menggendongku? Jadi, hal yang tadi kurasakan bukanlah khayalan belaka?

"Bagaimana kau bisa menemukanku di depan danau itu?"

"Oh, kalau yang itu… Rahasia." Dia-pun menyeringai. Dasar cowok aneh.

Ada keheningan sejenak setalah itu. Aku merasa sedikit, hanya SEDIKIT bersalah karena tadi sudah terlalu jutek dan kasar kepadanya.

"Sudah jam berapa sekarang?" Akhirnya aku memutuskan untuk membuka suara duluan.

"Hm, jam 10:25." Jawabnya sambil melihat jam tangannya. Sudah jam segitu?

"Kenapa? Kau ingin pulang?"

"…" Pulang? Pulang dan sendirian di rumah pada malam tahun baru yang dingin ini? Kurasa tidak…

"Oh, iya, aku membuatkanmu bubur. Karena kupikir kalau orang yang sedang demam itu bagusnya makan makanan hangat, 'kan?" Ternyata, isi mangkuk yang dibawanya adalah bubur.

Dia lalu mengambil mangkuk berisi bubur itu, menyendoknya lalu mengarahkan sendok itu ke mulutku. "Ayo, buka terowongannya, kereta mau masuk."

Aku mengerutkan dahiku. A… Apa-apaan, sih dia ini?

"Tidak usah, terima kasih. Aku ingin pulang saja sekarang." Aku berbohong. Aku sebenarnya tidak ingin pulang. Aku tidak ingin sendirian. Tapi…

"Makan dulu."

"Tidak mau." Protesku.

"Baiklah." Dia meletakkan mangkuk itu kembali ke tempatnya lalu berdiri, melangkah menuju pintu kamar. Tunggu, mau ke mana dia?

"Kau mau ke mana?"

"Ke bawah. Kau 'kan tidak mau makan." Balasnya enteng.

"Aku mau pulang!"

"Makan buburnya dulu. Aku sudah capek-capek membuatkannya tau."

"Oke, aku makan." Aku cemberut. Tapi, masih mengambil mangkuk berisi bubur itu, ingin memakannya.

"Eits!" Dia berjalan mendekat ke arahku.

"Apa lagi?" Tanyaku sambil mengerutkan dahi. Apa, sih maunya?

"Aku akan menyuapimu." Katanya sambil menyeringai lebar. Dia mengambil mangkuknya dari tanganku, menyendokkan buburnya lalu menyuapiku.

"Tidak perlu."

"Ayo, buka terowongannya. Kereta mau masuk." Katanya bercanda lagi.

Dia ini… Benar-benar bodoh. Tapi, aku membuka mulutku dan memakan bubur itu. Sudah tidak begitu panas. Tapi, masih cukup hangat untuk dimakan. Rasanya juga enak.

Cowok kurang ajar ini-pun tersenyum lebar. Senyuman yang ia tunjukkan kali ini bukanlah senyuman licik dan semacamya, melainkan senyuman yang menunjukkan perasaan lega.

Aku lalu ikut tersenyum melihat tingkahnya itu. Kurasa… Dia tidak begitu… Buruk…

Chapter Two-End

A/N : Yak, inilah chapter dua. Tidak begitu bagus menurut saya =_=; Yah, tapi, mohon kritik dan sarannya aja, deh. Ahahahah.

Omong-omong, saya mau bahas soal review dari "KuroPika X". Terima kasih, terima kasih, terima kasih BANYAK telah mereview :D Yang soal legam dan mantap itu, kesalahan penulisan =_=; Saya lupa waktu itu. Maafkan saya, yah! DX Kalau yang soal alis Killua, saya ingatnya putih, eh? O.o XD Saya lupa. Maaf lagi. Yah, pokoknya terima kasih banyak atas kritik dan sarannya :D