Disclaimer : Saya tidak punya dan tidak akan punya yang namanya Hunter X Hunter. BUKAN MILIK SAYA.

Warning : Transgender, rada OOC, AU, aneh dan sebagainya. You've been warned!

A/N : Masih dari PoV-nya Kurapika. Oh iya, saya mau ingetin aja, nih. Yang pada saat Kurapika nanyain jam ke Killua di chapter 2, itu sebenernya jam 10:25 malam. Omong-omong, saya baru sadar kalau chapter dua itu kurang mendetail =_=; Yah, sudahlah, On with the story! :D

I'm Not Alone This Night-Chapter Three

31 Desember 2010

"Bagaimana rasa buburnya?" Tanya seorang lelaki berambut putih yang duduk di sampingku, Killua. Dia masih memegangi mangkuk dan sendok, menyuapiku.

"Hmph, tidak buruk." Jawabku sambil berusaha menelan bubur yang disuapkan kepadaku. Aku bohong lagi. Sebenarnya rasa buburnya sangat enak. Tapi, kalau aku bilang enak, nanti cowok ini ke-PD-an lagi.

Aku melihat dia kemudian terdiam, mematung setelah mendengar komentarku akan bubur buatannya.

1 detik…

2 detik…

3 detik…

Kenapa dia masih diam saja? Apa dia marah karena aku bilang buburnya tidak buruk? Aduh… Atmosfirnya jadi terasa canggung. Aku kemudian memutuskan untuk melihat-lihat lukisan yang ada di dinding kamar ini, menghindari tatapannya.

"Masa, sih buburnya terasa biasa saja?" Akhirnya dia bicara juga. Akupun menolehkan kepalaku ke arahnya. Dia memasang wajah orang yang terheran-heran akan sesuatu. Aku lalu melihatnya menyendokkan buburnya lalu memasukkannya ke dalam mulutnya. Aku bisa merasakan mulutku sedikit menganga saat melihat dia melakukan hal itu. Aku lalu mengerutkan dahiku sedikit. Apaan, sih dia ini? Kenapa dia memakan buburnya pakai sendok bekasku makan?

"Mmmhhh… Enak sekali, kok." Katanya sambil berusaha menelan bubur yang memenuhi mulutnya.

"Kau…" Astaga… Baru pernah sekali seumur hidupku bertemu dengan cowok seaneh ini. Apa, sih yang ada dipikirannya itu?

Aku lalu melihatnya menengadahkan kepalanya ke arahku. "Hm?" Bubur yang berada di mulutnya sekarang sudah tertelan bulat-bulat olehnya

"Kenapa kau makan bubur itu pakai sendok bekasku?" Aku berusaha menunjukkan ekspresi kesal yang kurasa tidak begitu berhasil aku utarakan kepada cowok satu ini. Aku tidak tahu, tapi, aku rasa aku mulai menikmati keberadaannya di sampingku. Walaupun dia menyebalkan.

"Kenapa? Karena aku ingin memastikannya sendiri. 'Kan tidak ada sendok lain. Masa mau makan pakai tangan? 'Kan tidak sehat." Jelasnya enteng dengan wajah yang kurasa dibuat-buat polosnya.

"…" Aku terdiam, tidak tahu harus membalas perkataannya dengan apa. Aku lalu memutuskan untuk menyeka keringat yang ada di dahiku dan membenarkan poniku sambil menghela nafas dalam-dalam. Rasanya aku, kok jadi salah tingkah begini, sih?

Aku lalu mendengarnya tertawa cekikikan. Aku menoleh ke arahnya lalu menemukannya tertawa terbahak-bahak. Tangannya yang memegang mangkuk mulai goyang dan bergetar karena tawaannya itu. Kenapa, sih dia? Apanya yang lucu coba?

"Apa?" Tanyaku heran.

"Ti… Tida… Ahahahaha." Dia tertawa lagi. Tangan kanannya yang tidak memegangi mangkuk memegang perutnya, menahan tawa. Apa-apaan, sih?

"Dasar stress!" Aku lalu membuang muka darinya. Sedangkan dia masih asyik tertawa seperti orang gila baru keluar RSJ. ?

"Ma… Maaf…" Aku menolehkan kepalaku ke arahnya. Mangkuk Bubur yang dipegangnya tadi telah berada di atas meja samping tempat tidur dan tangan kirinya mengusap air mata yang keluar dari matanya akibat tertawa tadi.

Aku hanya mendengus kesal mendengar maaf darinya.

"Kau… Kau harusnya melihat ekspresi wajahmu saat aku makan bubur itu pakai sendok bekasmu. Dan… Dan… Pfft… Kau kelihatan salah tingkah sebelumnya." Dia lalu melanjutkan tawaannya yang terdengar menyebalkan ditelingaku. Dan aku hanya memasang tampang kesal campur malas sebagai responnya.

Dia tahu aku salah tingkah? Apa aku benar-benar kelihatan jelas saat aku begitu? Aku merasakan wajahku sedikit memanas. Tapi, kurasa bukan karena demam. Karena demamku sudah turun dari tadi.

Aku kemudian memutuskan untuk diam saja, menunggunya sampai berhenti tertawa. Dan akhirnya, dia–pun menghentikan tawaannya yang menyebalkan (semua darinya terasa menyebalkan buatku). Tapi, di satu sisi, aku juga merasa senang bisa berada di sampingnya saat ini. Aneh…

"Hm." Dia mengatur suara sambil mengambil kembali mangkuk berisi bubur itu. "Nah, mari lanjutkan makannya." Katanya sambil tersenyum puas.

"Tidak mau." Aku ngambek. Melanjutkan makan sambil disuapi olehnya setelah dia mengolok-olokku tadi? Yang benar saja!

"Baik, baik, aku minta maaf."

"…" Setelah itu, ada keheningan sejenak di antara kami berdua. Tapi, pada akhirnya, Killua-lah yang mulai bersuara duluan.

"Kurapika." Tampangnya kini terlihat sedikit serius. Huh?

"Kenapa kau sendirian di malam tahun baru ini?" Pertanyaannya membuatku kaget. Aku dengan refleks membulatkan kedua bola mataku. Kenapa? Kenapa rasanya dia bisa tahu apa yang aku alami dan yang kurasakan?

Baru saja aku mau membuka mulutku untuk menjawab pertanyaannya dengan jawaban 'bukan urusanmu', tapi, dia langsung menimpalku dan berkata, "Jangan bilang kalau ini bukan urusanku. Ini sudah menjadi urusanku karena kau s'karang berada bersamaku."

"…" Aku tidak tahu harus bilang apa. Aku merasa sedikit canggung, tegang? dan tidak nyaman dengan pembicaraan ini. Aku memutuskan untuk diam dan menatap Killua.

Dia tiba-tiba tersenyum dengan jahil lalu berkata, "Aneh sekali kalau gadis manis sepertimu menghabiskan malam tahun barunya sendirian. Untung saja kau bertemu denganku."

Aku tidak tahu harus menganggap itu sebagai pujian atau sindiran. Tapi, aku rasa dia mengatakan hal seperti itu hanya untuk membuat suasana hatiku tidak begitu tegang? dan canggung. Aneh sekali rasanya…

Aku menghela nafas dalam-dalam. Aku rasa aku akan berterus terang kepadanya. "Aku biasanya menghabiskan malam tahun baruku bersama dengan dua sahabatku, bibiku dan kedua orangtuaku."

Aku berhenti sebentar kemudian mengalihkan pandangan mataku ke bawah. "Tapi… Mereka semua ada urusan yang tidak bisa mereka tinggalkan."

"Dan itulah sebabnya kau berjalan seperti orang lesu hingga tersesat sampai ke depan sebuah danau beku." Aku menoleh ke arahnya lalu menemukan dia yang sedang berusaha untuk menahan tawa.

Satu lagi hal menyebalkan darinya. Tapi, aku memutuskan untuk melupakan itu. Aku-pun menaikkan kedua alisku lalu bertanya, "Kau mengikutiku?"

Dia masih berusaha untuk menahan tawaannya. "Hm, yah, begitulah." Jawabnya enteng. "Kau pikir kenapa aku bisa menemukanmu? Aku bukan orang yang suka berjalan tanpa arah dan tujuan, kau tau." Dia lalu menyeringai.

Cowok ini… Menyebalkan! Entah sudah berapa kali aku mengatakan bahwa dia itu menyebalkan. Aku lalu membuang muka. "Oh, yah? Lalu ngapain kau pakai acara membuntutiku seperti penguntit begitu?" Aku tidak mau kalah.

Dia lalu mengangkat bahunya. "Entahlah. Aku mungkin hanya sedang bosan." Jawabnya enteng. Aku kemudian menoleh ke arahnya dan memandang wajahnya. Aku tidak yakin kalau dia hanya bosan. Tapi, aku memutuskan untuk tidak bertanya lebih lanjut.

"Dan, omong-omong, dilihat dari ekspresi bodohmu saat aku memakan bubur pakai sendok bekasmu itu, aku bisa melihat kalau itu adalah ciuman pertamamu. Iya, 'kan? Walaupun tidak langsung." Dia menyeringai seringaian licik. Menyebalkan!

"A-"

Baru saja ingin bicara, dia langsung memotongku. "Kenapa kau tidak punya pacar?"

Apa-apaan, sih dia ini? Seenaknya bertanya dan menilaiku. MENYEBALKAN! Tapi, semua yang dikatakan olehnya memang benar. Aku lalu memutuskan untuk diam saja daripada marah-marah tidak jelas dihapadannya.

"Kurapika?"

"…"

"Aku yakin pasti banyak cowok yang menyukai gaids manis sepertimu."

"Aku tidak berminat." Hanya itu balasan yang aku utarakan. Aku tidak tahu mengapa, tapi, dia seperti bisa membaca pikiran dan isi otakku.

"Benarkah?" Tanyanya dengan nada main-main. Aku-pun mengerutkan dahiku. Aku merasa kalau dia pasti akan melakukan sesuatu yang menyebalkan lagi kepadaku.

"Hm, aku punya ide." Oh, tidak… Apapun ide yang berasal dari otak liarnya pasti tidak akan jadi ide yang bagus buatku.

"Bagaimana kalau kau kencan denganku malam ini?" Lanjutnya.

"Apa?" Dia ternyata benar-benar sudah gila! Sudah mau jam 11 malam, lalu dia mengajakku kencan? Terlebih lagi, kencan dengannya? Orang menyebalkan yang baru kutemui? Yang benar saja!

"Iya! Tidakkah kau lihat? Kau sedang sendirian di malam tahun baru ini dan aku sedang bosan. Kita saling melengkapi bukan?" Katanya dengan ekspresi sedikit girang dan mata yang berbinar-binar.

"…" Aku hanya terdiam, mematung di tempat serta kaget akan ajakannya barusan. Dia memang benar kalau dipikir-pikir. Tapi, berkencan malam-malam begini dengan orang asing yang menyebalkan? Kurasa bukan pilihan terbaik di dunia ini. Tapi, kenapa aku rasa dia bukan orang brengsek yang akan melakukan hal-hal jahat kepadaku?

"Aku tahu kau pasti berpikir bahwa aku adalah orang asing yang menyebalkan. Tapi, aku bukanlah sepenuhnya orang asing, kok." Dia meyakinkanku sambil tersenyum tipis.

Apa maksudnya bukan sepenuhnya orang asing?

Aku lalu melihatnya bangun dari tempat tidur, menaruh mangkuk berisi bubur yang baru termakan setengah, kemudian berjalan menuju salah satu lemari besar yang ada di ruangan kamar ini. Dia tampak sedang mencari-cari sesuatu di sana. Dan ternyata benda yang dicarinya adalah sebuah tas samping berukuran kecil berwarna coklat tua.

Dia kemudian berjalan menuju salah satu rak buku dan mengambil sebuah buku yang aku tidak tahu apa judulnya, tapi, terlihat… Familiar dimataku. Dia memasukkan buku itu ke dalam tas coklatnya lalu memakainya. Dia kemudian menoleh ke arahku dan berkata, "Ayo! Kita berangkat sekarang."

"…" Aku yang masih kaget-pun hanya bisa diam tanpa berkata apa-apa. Apa dia benar-benar serius?

Aku kemudian melihat dia berjalan ke arahku dan menarik salah satu tanganku. "Ayo, lah, Kurapika. Satu kencan denganku tidak akan membunuhmu, kok. Aku janji aku tidak akan melakukan hal-hal jahat kepadamu."

Aku-pun resmi ditarik olehnya sampai ke depan pintu kamarnya. Dia membuka pintu kamarnya lalu menoleh ke arahku sebelum keluar dan berkata sambil tersenyum meyakinkanku, "Kau tidak akan merasa sendirian malam ini. Aku janji."

Jantungku rasanya… Berdegup lebih keras. Aku lalu menundukkan kepalaku untuk menyembunyikan wajahku yang pada saat itu kurasa sudah mulai memanas dan memerah. Tapi, dalam hati aku tersenyum senang mengikuti Killua yang masih menggandeng tanganku menuju tempat kencan kami.

Chapter Three-End

A/N : Yak, inilah chapter 3. Ceritanya udah mau selesai karena saya cuman bikin fic special tahun baru. Maaf kalau ada beberapa yang membingungkan atau aneh. Ditanyain aja, entar akan kujelaskan di chapter 4. Dan… Seperti biasa, please, comment and rate ^^V

Dan seperti biasa lagi, saya akan membahas review dari orang. Bagi :

1 "Kim Geun Hyun" , makasih banyak udah mereview :D Saya akan update fic ini cepat-cepat soalnya ini fic special tahun baru. Jadi, rasanya ga nyambung kalo saya updatenya berbulan2/berminggu2 ^^; Yah, tapi, trima kasih sekali lagi atas reviewnya ;D

2 "KuroPika X" , makasih banyak juga udah mereview 2 chapter ini :D Saya nulisnya pas jam 10:30 malam kalau tidak salah. Wkwkwkwk. Nulis malem-malem rasanya chapter dua jadi abal =_=; Oh, iya, abisnya, Killua emang kliatan tipe2 orang jail XD Dan yang soal Pakunoda. Saya juga heran O.o Tiba2 itu ide muncul dipikiran saya. Tapi, begitulah *gaje*. Makasih lagi, yah buat reviewnya…