Disclaimer : Saya tidak punya dan tidak akan punya yang namanya Hunter X Hunter. BUKAN MILIK SAYA.

Warning : Transgender, rada OOC, AU, aneh dan sebagainya. You've been warned!

A/N : Masih dari PoV-nya Kurapika. Di sini ada flashback. Dan seperti biasa, saya italic :P

I'm Not Alone This Night-Chapter Four

31 Desember 2010

"Kenapa kau menatap keluar jendela terus?" Seorang cowok berambut putih yang duduk di kursi kemudi bertanya kepadaku tanpa memalingkan pandangannya dari jalanan.

Ya, Aku dan Killua sedang berada dalam mobil ferrarinya. Kami berdua sedang dalam perjalanan menuju tempat kencan kami. Dan aku sedang duduk di sampingnya sekarang.

"Aku hanya sedang berpikir." Aku masih terus menatap ke luar jendela. Aku tepatnya sedang berpikir kenapa aku berdebar-debar begini dan… Yang paling penting adalah kenapa aku setuju-setuju saja diajak kencan oleh cowok menyebalkan ini?

"Ki…Killua! Berhenti menarik-narik tanganku!"

"…"

"Killua! Aku bisa jalan sendiri!"

Saat keluar dari kamarnya, aku jujur saja kaget melihat isi rumahnya. Rumahnya benar-benar megah, bagaikan istana (Oh… Aku berlebihan… Aku sebenarnya tergolong keluarga yang berkelimpahan harta juga). Tapi, Rumahnya ini benar-benar persis seperti istana. Ada banyak pelayan dan bodyguard berdiri dan berbaris dengan rapi sesuai formasi (?). Saat Killua dan aku melewati mereka, mereka semua menunduk, memberi hormat. Terutama bodyguard-bodyguard-nya yang kelihatan benar-benar OVERPROTECTIVE!. Masa Killua yang sudah sebesar ini kalau mau pergi pakai acara dikawal segala?

"Tuan Muda, perlu kami kawal?"

"Tidak perlu. Aku hanya pergi sebentar. Lagipula, ini adalah kencanku. Jadi, aku tidak ingin diganggu."

"Baiklah, Tuan Muda. Biar kami antarkan anda sampai ke luar gerbang."

Ekspresiku saat melihat semua itu adalah kaget seperti orang bodoh. Sedangkan Killua, dia hanya berjalan lurus ke depan sambil tetap menarik tanganku. Dia sepertinya kelihatan kesal diperlakukan berlebihan seperti itu. Aku bisa membacanya dari nada dia bicara.

Tapi, aku merasakan banyak kejanggalan dari pertemuan kami. Rasanya semua ini terlalu ajaib kalau dibilang kebetulan. Terutama saat Killua memberitahu para bodyguard-nya soal kencan kami. Masa iya, anak orang kaya seperti dia boleh berkencan dengan sembarangan gadis?

Tapi, aku memutuskan untuk tidak menanyakan hal itu kepadanya sekarang. Aku takut kalau saja ia masih marah. Tunggu, kenapa aku peduli pada perasaannya? Ah!

Aku lalu tersadar dari lamunanku saat Killua bertanya, "Memikirkan apa?"

"…" Aku terdiam sejenak. Aku rasanya tidak mau menanyakan soal yang kupikirkan tadi. Jadi, aku-pun berbohong (rasanya aku banyak bohongnya malam ini) dengan pertanyaan, "Kau bilang, kau menggendongku sampai ke rumahmu, 'kan? Kenapa kau tidak pakai mobil saja? Itu,'kan lebih mudah."

"Hmmm..." Aku melihat dia tersenyum sejenak sambil terus menyetir sebelum menjawab, "Kalau tidak digendong, tidak ada romantis-romantisnya, dong." Dia sekarang tertawa cekikikan. Dasar… Bercanda terus kerjaannya!

"Aku hanya bercanda." Dia akhirnya berhenti cekikikan tidak jelas. Aku menoleh ke arahnya sambil mengangkat kedua alisku.

"Kau pasti menyadari betapa menyebalkannya para bodyguard-ku itu."

Ada jeda beberapa detik sebelum dia melanjutkan penjelasannya lagi. Aku masih menatapnya, ingin jawaban.

"Sebenarnya, aku bosan dengan kehidupanku sebagai anak orang kaya. Tidak begitu menyenangkan." Kali ini, wajahnya tampak lebih serius. Killua ternyata kalau serius agak menyeramkan.

"Jadi, pada saat itu, aku memutuskan untuk keluar rumah sebentar untuk pergi membeli beberapa buku. Aku bosan pakai mobil. Jadi, aku putuskan untuk berjalan kaki."

Dia lalu menoleh sekilas ke arahku sambil tersenyum tipis. "Dan ternyata, berjalan kaki itu menyenangkan juga."

Aku kemudian merasakan jantungku semakin berdetak kencang melihat dia tersenyum seperti itu. Merasa tidak nyaman, aku-pun cepat-cepat memalingkan wajahku ke arah jendela lagi. Aku… Salah tingkah lagi…

Aku juga menyadari sesuatu, aku jadi lebih memerhatikan apa yang ada pada Killua. Dan… Aku sudah bisa berhenti memanggilnya cowok kurang ajar. Oh… Tuhan… Apa yang salah denganku?

-cmR-

"Taman… Hiburan…?"

Aku menatap heran taman hiburan yang berada di depanku dan Killua. Ya, kami sekarang telah sampai pada tujuan kami. Tapi, kenapa taman hiburan? Lagipula, bukankah taman hiburan ini masih dalam tahap pembangunan? Ah, akan kutanyakan hal ini padanya nanti.

Aku menoleh ke arah Killua, dia ternyata telah berada di luar mobil. Aku lalu melihat dia berjalan ke arahku kemudian membukakan pintu mobilnya. Dia mengulurkan salah satu tangannya kepadaku, tersenyum lalu berkata, "Iya, tuan putri. Taman hiburan."

…Apaan, sih? Aku mengerutkan dahiku, memutuskan untuk tidak menerima uluran tangannya kemudian keluar dari mobil. Aku kemudian berbalik ke arahnya, menemukannya sedang tertawa lagi. Menyebalkan…

Tapi aku memutuskan untuk menyampingkan rasa sebalku dan menanyakan pertanyaan yang tadi ada dibenakku. "Killua."

"Hm, iya?" Dia merespon sambil menaikkan kedua alisnya.

"Taman hiburan ini, 'kan masih dalam tahap pembangunan."

"Aku tahu."

Aku-pun bingung dibuatnya. "Kalau kau tahu, kenapa mengajakku ke sini?"

Tapi, bukannya menjawab pertanyaanku, dia malah menarik tangan kiriku dan membawaku menuju taman hiburan itu. Kenapa dia lakukan itu? Dan mobilnya? Tidak ditempatkan di tempat yang aman? Aku memutuskan untuk diam saja mengikutinya sampai kami berdua-pun akhirnya sampai di depan pintu gerbang taman hiburan itu.

"Hei, Killua!" Seorang pria dewasa berambut merah yang berdiri di depan gerbang menyapa Killua. Pria ini wajahnya agak tidak menyenangkan menurutku. Dia tinggi, berbadan tegap dan memakai jas hitam.

"Hisoka." Balas Killua. Ternyata namanya adalah Hisoka.

"Wah! Kau membawa seorang gadis manis ke sini rupanya!" Dia berjalan ke arahku kemudian mendekatkan wajahnya ke wajahku, seperti mempelajari wajahku kemudian menyeringai. Uh… 'Tak perlu dekat-dekat begitu, 'kan? Lagipula, dia siapanya Killua?

Dia lalu memundurkan wajahnya (baguslah). Lalu tersenyum ke arah Killua. "Kekasihmu?"

"Calon istriku." Aku seketika langsung menolehkan kepalaku ke arah Killua yang ternyata sedang terseyum bangga dan puas. Calon istri? Sinting kali dia ini? Killua lalu merangkulku sambil tetap tersenyum. Aku merasakan wajahku memanas saat dia melakukan hal itu. Tapi, kusembunyikan dengan menundukkan kepalaku.

Hisoka-pun tertawa. Aku merinding mendengarnya tertawa, entah mengapa. "Aku mengerti. Ada beberapa wahana yang sudah siap pakai. Aku akan memberitahu para pekerja mengaturkannya untukmu."

"Terima kasih, Hisoka. Omong-omong, aku membawa mobil, tolong kau urus yang itu juga, yah."

"Aku mengerti. Silahkan nikmati kencan kalian." Dengan itu, dia pun membukakan gerbangnya dan kami berdua-pun masuk. Saat masuk, mataku menerawang keadaan sekitarku. Sebuah taman hiburan yang belum sepenuhnya jadi. Tapi, aku bisa membayangkan bagaimana jadinya kelak apabila taman hiburan ini selesai dibagun. Dan ternyata, salju telah berhenti turun. Mulai terdengar suara kembang api secara samar-samar dari kejauhan. Sudah mau tahun baru rupanya…

Setelah berjalan untuk beberapa menit dengan perasaan yang masih sedikit berdebar-debar, aku kemudian tersadar dari pikiranku. Aku juga baru sadar kalau Killua masih merangkulku. Dan ingat akan apa yang dikatakannya kepada Hisoka tadi. Aku juga merasakan adanya rasa "butuh" untuk memaki-makinya. Dan aku-pun melakukannya.

"Killua! Kenapa kau bilang kalau aku ini calon istrimu?" Aku melepaskan tangannya yang bersandar di pundakku kemudian memasang ekspresi orang marah.

Dia menoleh ke arahku sambil mengangkat kedua alisnya lalu menjawab, "Memang benar, 'kan?"

"Jidatmu benar!" Jawabku kesal.

"Ahahahah." Dia malah tertawa terbahak-bahak. Apaan, sih? Menyebalkan sekali! Tapi, walaupun begitu, sebenarnya ada perasaan senang juga. Entah mengapa.

Setelah beberapa detik dia habiskan untuk tertawa, dia dengan girang berkata, "Ah! Jet Coaster!" Aku mengerutkan dahiku. Dia kemudian menarik tanganku lagi (sial! Kenapa, sih? Dia harus menarik-narik tanganku terus kalau mau ke suatu tempat?). Dia berlari menarik tanganku menuju ke tempat Jet Coaster itu. Oh, tidak… Jangan Jet Coaster…

"Hanzo!" Teriak Killua, memanggil pria botak yang berdiri dekat wahana bermain yang kami tuju. Aku masih berdoa dalam hati

"Ah, Killua rupanya. Aku sudah mendengar dari Hisoka kalau kau datang bersama dengan calon istrimu." Calon istri lagi. Dasar sial! Tapi, aku tidak begitu memperdulikan itu sekarang. Aku lebih memperdulikan masalah naik Jet Coaster ini. Aku jujur saja adalah seseorang yang takut dengan ketinggian. Dan berada di ketinggian dengan kecepatan kilat seperti itu bukanlah suatu hal yang menyenangkan kalau kupikir-pikir.

"He…Eh, iya, nih. Apa Jet Coasternya sudah siap pakai?"

"Sudah, kok. Mau naik?" Aku merasakan wajahku mulai memucat.

"Iya!" Tidak!

"Baiklah, mari masuk." Oh, Tuhan… Tidak… Kumohon… Saat dia menginstruksikan kami untuk memasuki wahana terkutuk itu, aku hanya diam mematung di tempatku, sedangkan Killua kelihatan benar-benar senang dan cepat-cepat masuk. Aku tidak mau naik wahana laknat ini!

Merasa tidak aku ikuti, mereka berdua-pun berbalik melihatku. "Killua, apa calon istrimu ini takut dengan ketinggian?" Iya! Aku takut ketinggian! Dan aku bukan calon istrinya! Tapi, aku berusaha untuk tetap tenang dan aku memutuskan untuk diam saja di tempat.

"Kurapika, ayo, naik!" Ajak Killua, masih heran kenapa aku hanya diam.

Aku merasa berat untuk bicara, tapi, aku mencoba untuk bersuara setelah menelan ludah. "Kau… Naik sendirian saja Killua."

"Kurapika, kau tidak takut dengan ketinggian, 'kan?" Dia bertanya kepadaku, memastikan.

"A… Aku… memang tidak begitu suka dengan yang namanya ketinggian." Aku berusaha menjawab walaupun hasilanya terbata-bata.

Tapi, bukannya menolongku, dia malah menarik tanganku memasuki wahana laknat itu. Tidak! "Ki… Killua, lepaskan!" Aku berusaha untuk melepaskan genggaman tangannya yang cukup kuat dari tanganku. Dan hasilnya, nihil. Dia berhasil membuatku masuk kemudian duduk di wahana terkutuk ini. Aku kemudian menoleh ke arah pria botak yang bernama Hanzo itu, berusaha memasang wajah memelas meminta pertolongan. Tapi, dia tidak melihatku. Dia malah sibuk menginstruksikan beberapa hal kepada Killua.

"Nah, semuanya beres!" Kata Hanzo senang.

Aku kemudian mulai merasakan wahana yang kududuki ini bergetar, berjalan perlahan kemudian… TIDAK! BERKATI AKU TUHAN! (A/N : Bagian ini saya lewati saja, yak ;D)

-cmR-

Aku menutup kedua mataku rapat-rapat. Aku masih berada dalam pelukan Killua. Atau tepatnya, aku yang memeluknya. Karena daritadi saat kami berdua menaiki wahana terkutuk itu, aku tidak mau melepaskan pelukanku darinya hingga sekarang. Aku… Takut… Rasanya, perasaan berada di ketinggian tadi masih melekatkan dirinya dalam pikiranku.

"Kurapika, kita sudah tidak berada di Jet Coaster lagi, kok." Aku mulai membuka kedua mataku perlahan-lahan sambil terus memeluk Killua. Aku tahu kita sudah tidak berada di wahana laknat itu lagi. Tapi, aku masih merasakannya.

Kami berdua sekarang duduk di bangku panjang yang biasa ditempatkan di taman-taman. Di atas kami ada sebuah pohon besar yang menaungi kami.

Aku kemudian menggenggam erat kain baju Killua, membenamkan wajahku di sana. Aku masih berusaha untuk mengusir rasa takutku. Tapi, aku tiba-tiba tersadar akan 2 hal. Pertama, aku, pada kenyataannya sedang memeluk cowok sialan ini? Apa-apaan? Dan dia sudah membuatku naik wahana terkutuk itu!

Aku kemudian berhenti menggenggam kain bajunya dan mendorong tubuhnya kemudian bangkit berdiri. Aku merasakan emosi dan amarah memuncak dalam diriku. Aku kemudian mendekati Killua dengan wajah tertunduk kemudian mencengkram kerah pakaiannya. "Killua… Kau…" Aku mengangkat wajahku kemudian berteriak, "DASAR COWOK SIALAN!"

Aku kemudian membalikkan tubuhku, bersiap untuk berlari. Aku merasakan air mata mulai membasahi mataku. Kenapa rasanya aku jadi emosional dan terbawa perasaan begini? Ugh… Aneh sekali… Ini benar-benar menyedihkan sekaligus menyebalkan.

Aku biasanya adalah orang yang bisa mengontrol semuanya, apalagi yang namanya perasaan dan emosi. Aku sudah paham betul bagaimana cara mengontrol semua itu. Tapi, kenapa rasanya aku jadi lupa bagaimana cara mengontrol mereka saat aku bersama dengan Killua?

Langkahku terhenti seketika saat aku merasakan ada yang menarik tangan kananku. Aku menoleh dan melihat wajah Killua yang terlihat menunjukkan ekspresi orang bersalah.

"Aku minta maaf." Dia menatapku dalam-dalam dengan ekspresi bersalahnya. Aku-pun hanya menunduk untuk menyembunyikan mataku yang sudah mulai basah karena air mata. Tapi, aku yakin dia tahu kalau aku sedang menahan tangis. Sial! Apa yang perlu kutangisi, sih?

"Aku benar-benar minta maaf, Kurapika."

"…" Aku hanya terdiam sambil tetap menundukkan kepalaku. Tepatnya, aku sedang memikirkan sesuatu. Aku kemudian merasakan tangannya berada di pundakku, berusaha untuk mendorongku ke dalam pelukannya.

Aku tersadar dari lamunanku dan segera menggeser tangannya sebelum dia sempat memelukku. Entah dari mana pikiran ini datang, tapi, kurasa bukan hal yang buruk juga. Aku kemudian mengambil nafas dalam-dalam sebelum berkata, "Aku ingin kau naik komidi putar."

Chapter Four-End

A/N : Tidaaaaaaaakkkkkkk! Saya telat update *stress*. =_=; Oh, sudahlah… Tolong kritik dan sarannya, yah ;D

Bahas review lagi. Dari :

1 "Imappyon" - Kalau Kurapika-nya di voodoo, ga bisa ngelanjutin fic ini, dong. Ahahahah XD Ehm, iya, maaf T^T Saya emang suka begitu. Walaupun di cek, masih tetep suka salah biasanya =_=; Ahahah, iya, soalnya ini fic spesial tahun baru ^^ Iya, thanks, yah ^^V

2 KuroPika X - Umn, kalau yg soal trakhirnya, entar bakalan aku jelasin semuanya. Tapi, thanks banget buat review-nya XD teeeennnnngggggg yu~ Ahahahah…