Disclaimer : Saya tidak punya dan tidak akan punya yang namanya Hunter X Hunter. BUKAN MILIK SAYA.

Warning : Transgender, rada OOC, AU, aneh dan sebagainya. You've been warned!

A/N : Chapter lima ini banyak saya post trus delete lagi. Soalnya, ada beberapa hal yg kelupaan DX Saya rencana mengupas semuanya secara tuntas di chapter ini (kayak ngupas jeruk. wkwkwk). Tapi, masih ada beberapa hal yang saya ga mau beberin. Dan… Seperti biasa, flashback saya italic. ^^

I'm Not Alone This Night-Chapter Five

31 Desember 2010

"AKU TIDAK MAU NAIK BEGINIAN!" Aku hanya menutup rapat-rapat kedua telingaku dengan tanganku ketika Killua berteriak-teriak layaknya orang stress. Aku dan Killua sekarang sedang berada di depan sebuah komidi putar. Ya, permainan untuk anak-anak. Dan sepertinya komidi putar adalah salah satu wahana yang sudah siap pakai di taman hiburan ini. Buktinya saja, lampu-lampu yang ada pada wahana itu menampakkan sinarnya dengan terang. Aku juga melihat 3 pria dewasa yang tampaknya adalah petugas di sana. Mereka tampak sedikit heran melihat kami berdua.

Aku melepaskan tanganku kemudian menghela nafas dalam-dalam. "Oh, begitu. Baiklah." Aku mengambil langkah, bersiap untuk meninggalkan Killua.

Tapi, aku menghentikan langkahku saat suara Killua sampai ke telingaku. "Tu… Tunggu!" Aku berbalik ke arah Killua. "Iya?"

"Aku… Akan naik wahana ini." Katanya mengakui kekalahannya.

Aku kemudian memasang senyuman di wajahku sambil menarik tangan kiri Killua ke tempat 3 pria tadi. "Tuan muda." Mereka semua memberi hormat. Ugh, aneh sekali. Kenapa 3 pria ini sopan sekali kepada Killua, sedangkan si Hisoka dan Hanzo tampak seperti teman akrab di hadapan Killua? Dan kenapa 3 orang ini memanggil Killua 'tuan'? Apa Killua memiliki taman hiburan ini? Ah, akan kutanyakan padanya nanti.

"A… Aku ingin naik wahana ini. Apa sudah siap pakai?" Tanya Killua ragu. Ketiga pria itu melihat satu sama lain, tampak heran lalu menjawab, "Sudah, tuan."

-cmR-

"Aku harusnya membawa kamera untuk merekam moment-moment berharga ini." Kataku sambil berusaha menahan tawa. Aku sekarang sedang berdiri menonton Killua yang menaiki komidi putar sambil menyandarkan punggungku di sebuah tiang lampu jalan yang letaknya tidak jauh dari komidi putar yang Killua naiki sekarang. 3 pria tadi sudah disuruh oleh Killua untuk pergi. Mungkin dia malu dilihat orang lain menaiki wahana bermain seperti ini.

"Oh, yah, benar sekali, Kurapika. Kau harusnya membawa kamera untuk merekam ekspresi takutmu juga." Killua menyindir.

"…" Aku tidak membalas sindirannya. Tapi, aku memutuskan untuk mengambil langkah untuk meninggalkan Killua. Dan, seperti dugaanku, Killua menghentikanku.

"Katakan hal itu lagi dan aku akan pergi meninggalkanmu." Ancamku. Aku serius akan ancamanku ini. Aku akan benar-benar meninggalkannya jika dia berbuat konyol seperti itu lagi. Begini-begini, aku masih tidak terima!

Aku kemudian kembali ke posisiku semula sambil memandangi langit. Suara kembang api semakin jelas terdengar. Aku-pun kemudian tersadar dari lamunanku dan ingat akan pertanyaan-pertanyaan yang ingin kuajukan.

"Killua." Aku memanggilnya.

"Ada apa?" Jawabnya sedikit teriak.

"Apa kau yang memiliki taman hiburan ini?"

"…" Dia terdiam sejenak sebelum menjawab, "Iya. Sebenarnya, taman hiburan ini adalah proyek yang diserahkan oleh ayahku. Kau ingat Hisoka? Pria berambut merah tadi?"

"Ya, aku ingat. Kenapa?" Aku kemudian menyilangkan tanganku di bawah dada.

"Dia adalah rekan bisnis ayahku. Walaupun umurnya masih tergolong muda dan fresh, dia sudah cukup tenar di dunia bisnis. Ayahku kemudian memutuskan untuk menyerahkan proyek taman hiburan ini ke tanganku dan Hisoka. Aku berteman akrab dengannya dan beberapa pekerja di sini semenjak aku dikirim ke sini." Jelasnya sambil terus memandang lurus ke depan.

"Kau tahu, dia berdiri di depan gerbang begitu karena dia sedang menunggu pacarnya, Kak Machi. Mereka berdua pacarannya lucu!" Lanjutnya sambil tertawa. Tapi, aku tidak menggubris pernyataan Killua yang mengejek-ngejek Hisoka. Aku berpikir lebih baik aku lanjut bertanya.

"Jadi, Hanzo itu juga adalah temanmu?"

"Iya. Aku juga mengenal beberapa orang lagi. Seperti Ubogin, Kite, Shizuku, Shalnark dan lain-lain." Aku kini melihatnya tersenyum. Jadi, dia akrab begitu karena dia berteman dengan mereka.

Aku kemudian menaikkan kedua alisku, agak terkejut. Dia ternyata bukanlah tuan muda resek yang pilih-pilih teman. Tapi, tentu saja aku tidak berkomentar seperti itu. Malah, aku memutuskan untuk mengajukan pertanyaan lain. "Ngomong-ngomong, kau tadi bilang bahwa kau dikirim ke sini. Memangnya kau sebelumnya tidak ada di sini?"

"Hm, aku sebenarnya tinggal di Australia setengah bulan yang lalu. Aku bersekolah privat di rumah dan pada saat aku sedang tidak ada pelajaran lagi, ayahku memutuskan untuk memberikanku sebuah proyek yang dipandu oleh Hisoka." Ternyata, dia benar-benar sibuk di usianya yang tergolong masih sangat muda.

"Kau ternyata benar-benar sibuk, yah." Komentarku.

"Yah, begitulah. Aku mengajakmu kencan di sini sekalian ingin melihat sejauh mana taman hiburan ini telah berkembang. Semua orang di sini bekerja lembur hingga pagi demi taman hiburan ini. Makanya masih banyak orang ada di sini walaupun sudah selarut ini." Jelasnya lagi.

Beberapa rasa penasaranku telah terjawab. Tapi, rasa penasaran yang paling mendalam adalah kenapa pertemuan kami terlihat begitu aneh. Tapi… Bagaimana aku menanyakannya? Dan kenapa pula dia mau begitu terbuka kepadaku yang masih orang asing ini?

"Tapi, sebenarnya, daripada 'ditugaskan', aku lebih tepatnya meminta ayahku untuk menugaskanku dalam proyek ini." Lanjutnya, membuyarkanku dari lamunanku.

Aku kemudian mengangkat kedua alisku, merasa heran. "Kenapa begitu?"

"Aku menghindari seseorang. Tapi, seseorang itu ternyata menyenangkan juga. Dan aku... Merasa senang bisa bertemu dengannya." Jawabnya sambil tersenyum.

Seseorang? Siapa? "Siapa yang kau maksudkan?"

"Kau ternyata bawel juga, yah." Dia kemudian tertawa.

Dasar menyebalkan! Aku kemudian berjalan mendekatinya yang masih duduk di komidi putar. "Oh, yah? Kau tahu, kau tampak seperti ksatria kesasar yang menaiki kuda-kudaan." Balasku, tidak mau kalah.

Aku melihat komidi putarnya berputar ke arah lain kemudian kembali mendekati arahku. Aku kemudian melihat Killua mengangkat tubuhku dan menempatkan aku di komidi putar yang didudukinya. Aku secara refleks membulatkan kedua bola mataku. Aku lalu menoleh ke belakang ke arah Killua. Ya, dia menempatkanku di depannya.

"Killua!" Aku meronta ingin turun. Tapi, dia menahanku dengan memelukku dari belakang. …Apa-apaan, sih dia ini? Aku kemudian merasakan jantungku berdegup keras. Sial! Kalau dari jarak sedekat ini, dia pasti bisa merasakannya. Aku kemudian mendengarnya berbisik ke telingaku. "Kalau aku ksatria, maka kau akan jadi tuan putrinya."

Aku merasakan wajahku memerah saat dia membisikkan itu ke telingaku. Dan memutuskan untuk cepat-cepat menundukkan kepala. "Ki…Killua… Turunkan aku…" Kalimat yang tadinya ingin kuutarakan sebagai perintah malah terdengar jadi seperti permohonan.

"Kenapa? Apa tuan putri tidak suka berada dipelukan ksatrianya?" Aku hanya bisa diam dan menutup kedua mataku rapat-rapat. Aku bisa merasakan nafasnya yang menggelitik leher dan telingaku. Aku jadi semakin berdebar-debar. Aduh… Aku rasanya mati kutu.

Aku kemudian tersadar akan pertanyaannya tadi. Apa aku senang? Aku… Senang… Aku sejujurnya sangat senang bisa sedekat ini dengannya. Tunggu, kenapa begitu?

"Ahahahah." Aku secara refleks langsung membuka kedua mataku saat Killua tertawa. Apa aku masuk ke dalam salah satu permainan tololnya lagi? Aku-pun menoleh ke belakang dan melihat Killua tersenyum. Aku membalikkan kepalaku perlahan dan kembali menunduk.

Beberapa detik kami lewati dengan keheningan menyelimuti kami. Killua masih memelukku dan jantungku masih berdebar-debar dengan keras. Beberapa detik, hingga akhirnya Killua bicara. "Kau tahu, saat aku bilang kalau kau adalah calon istriku, aku tidak bohong." Apa maksudnya?

"Ternyata, kau memang belum tahu, yah." Tahu apa?

Aku merasakan sesuatu yang hangat menempel dipipiku. Aku kemudian melirik ke samping dan menemukan Killua menyenderkan dagunya di pundakku dan menempelkan pipinya di pipiku.

Apa yang dia lakukan, sih? Aku secara refleks langsung menolehkan kepalaku ke arah yang berlawanan untuk menyembunyikan rasa maluku.

"Ta… Tahu apa?" Aku berusaha untuk tetap tenang dan menanyakan sebuah pertanyaan.

"Kalau kau memang benar calon istriku." Itu lagi… Apa dia tidak bisa berhenti bicara soal itu? Tapi, aku memutuskan untuk mendengarnya melanjutkan apa yang ingin ia sampaikan.

"Orang yang ingin kuhindari itu adalah kau, bodoh." Bodoh? Dia bilang aku bodoh? Dasar cowok kurang ajar! Tapi, aku tetap diam menahan rasa sebal. Rasa penasaran kini menguasaiku. Aku ingin tahu ada apa sebenarnya dibalik pertemuan aneh kami ini.

"Orangtua kita bertemu saat orangtuamu sedang ada urusan di Australia." Aku secara refleks terkejut dan membulatkan kedua bola mataku.

"Apa maksudmu?" Tanyaku penasaran. Aku berbalik ke arahnya dan ternyata dia masih di posisi bodohnya tadi.

"Ya, seperti yang kubilang tadi bahwa mereka bertemu. Dan ternyata, bukan hanya bertemu dalam rangka menjalankan bisnis saja, mereka juga bertemu untuk merundingkan masalah perjodohan anak-anaknya." APA? Perjodohan? Kenapa aku tidak tahu? Aku kemudian merasakan adanya perasaan aneh di pangkal perutku. Ugh…

"Aku akan menceritakan cerita lengkapnya sekarang kepadamu..." Aku-pun memasang telingaku baik-baik, bersiap untuk mendengarkan penjelasannya.

"Ini adalah salah satu putra kami, Killua Zoldyck.

"Saat itu adalah malam dimana aku, ayahku dan ibuku serta kedua orangtuamu bertemu di sebuah restauran di Australia. Aku sebenarnya bingung pada saat itu. Karena sehari sebelum pertemuan itu, kedua orangtuaku tidak berkata apa-apa. Mereka hanya bilang kalau aku diharuskan menemui orang penting di sebuah restauran."

"Oh, putra anda kelihatan benar-benar tampan, yah. Mungkin dia akan cocok dengan putri kami, Kurapika yang usianya 15."

"Tapi, aku benar-benar kaget saat mendengar pembicaraan yang mengarah ke perjodohan antara aku dan seorang gadis. Yang kutahu, keluargaku bukanlah tipe keluarga yang menjodohkan anak-anaknya. Dan yang paling membuatku kaget adalah semua ini terlalu mendadak. Aku bahkan tidak diberitahu bagaimana orangtuaku dan orangtuamu bisa bertemu dan mempunyai ide segila ini."

"Tentu saja. Saya merasa terhormat bisa bekerja sama dengan anda. Terutama, jika bisa menjodohkan putra kami dengan putri anda."

"Kau tahu, aku hanya diam mematung di tempat dudukku saat tahu bahwa aku diundang untuk membicarakan siapa yang akan menjadi calon istriku kelak. Jujur saja, aku tidak punya banyak kekuatan dan kuasa untuk melawan kehendak orangtuaku, terutama kehendak ayahku."

"Ini adalah foto putri kami."

"Dan setelah itu, orangtuaku dan orangtuamu melanjutkan pembicaraan mengenai masalah perjodohan. Tetapi, aku tidak begitu memerhatikan karena otakku sibuk berpikir atas masalah perjodohan ini. Aku hanya mendengar beberapa hal yang mereka bicarakan."

"Yah, dan karena itulah, aku berunding kepada ayahku supaya memberikanku sebuah proyek. Supaya aku sibuk dengan proyek itu dan bisa menghindari masalah perjodohan konyol itu, walau hanya untuk sementara waktu. Tapi, tentu saja aku tidak bilang kalau aku ingin proyek itu untuk menghindari masalah perjodohanku. Dan ternyata, aku malah dapat proyek di sini dan bertemu dengan calon istriku."

Aku hanya bisa menganga mendengar cerita Killua. Apa itu semua benar? Kalau itu semua memang benar, kenapa ayah dan ibu tidak memberitahuku dulu sebelumnya? Lagipula, kenapa mereka pakai acara jodoh-jodohan segala?

"Kau mungkin tidak akan percaya semua ini. Tapi, aku punya fotomu." Katanya sambil mundur dan melepaskan pelukannya, kemudian mengeluarkan sesuatu dari tas kecil yang ditentengnya. Sesuatu itu ternyata adalah sebuah foto. Fotoku…

Aku kaget, BENAR-BENAR kaget! aku langsung mengambil foto itu, memandanginya dalam-dalam.

"Aku juga tahu kalau kau ditinggal oleh kedua orangtuamu ke luar negeri karena urusan pekerjaan pada saat kau berusia 9 tahun. Kau dititipkan kepada bibimu, Pakunoda yang merupakan seorang wanita karier yang tidak bersuami. Tapi, dia adalah orang kepercayaan kedua orangtuamu." Suara Killua menyadarkanku dari lamunanku. Tapi, aku masih tidak mengerti. Kenapa orangtuaku tidak memberitahuku sebelumnya? Aku-pun memutuskan untuk menanyakan hal ini kepada Killua.

"Killua." Panggilku.

"Hm?"

"Kalau memang ingin bicara masalah perjodohan, kenapa kedua orangtuaku tidak memberitahukanku? Kenapa mereka malah tidak menemuiku?"

"Hm, yang kudengar, mereka ingin membuat kejutan soal perjodohan ini. Jadi, mereka masih sibuk mengurusi semua hal itu. Lagipula, masalah perjodohan ini masih baru." Jadi, ini alasan kedua orangtuaku tidak berada bersamaku sekarang.

Aku masih merasa terkejut sambil memegangi fotoku. Entah apa yang kurasakan sekarang. Kesal, marah, sebal, jengkel. Tapi, aku juga bahagia. Tunggu, kenapa begitu? Aku harusnya kesal karena dijodohkan sembarangan begini, 'kan?

"Dan kau tahu, aku sebenarnya berbohong saat aku bilang aku membuntutimu karena rasa bosan belaka. Aku sebenarnya membuntutimu dari toko buku itu karena aku penasaran akan calon istriku kelak." Dia kemudian tertawa kecil. Dan aku, aku masih merasa kaget.

"Tapi…" Aku menolehkan kepalaku sedikit ke belakang, merasa kedua lengan Killua berada di pinggangku lagi, berusaha untuk memelukku dari belakang.

Aku kemudian merasakan jantungku berdegup keras lagi. Aku-pun hanya menundukkan kepalaku, membiarkannya melakukan hal itu. Kenapa rasanya setiap aku gugup aku selalu menundukkan kepalaku?

"…Alasan utama aku membuntutimu adalah karena aku tahu kau adalah gadis cengeng yang waktu itu kutemui saat malam tahun baru beberapa tahun yang lalu. Aku langsung tahu kalau itu kau saat Ibumu bercerita soal kejadian waktu itu. Ibumu bilang, bibimu meneleponnya. Pada waktu pertama mendengarnya, aku jujur saja tidak peduli. Karena, yah... Aku masih merasa kesal dijodohkan secara sembarangan begitu. Tapi, rasa penasaranku berkata lain saat aku secara kebetulan bertemu denganmu di toko buku itu." Dia kemudian tertawa kecil.

Hal yang baru saja ia katakan sontak membuatku kaget. Aku memang sempat merasakan ada sesuatu yang familiar dengannya. Tapi, tidak pernah terpikirkan olehku bahwa dia adalah anak lelaki yang menolongku waktu itu. Malam ini... Rasanya semuanya menjadi jelas... Tapi, aku masih sedikit sulit untuk mempercayainya.

"Aku menemukanmu dalam keadaan menangis di depan sebuah danau yang membeku dan memutuskan untuk menggendongmu sampai kita tiba di kantor polisi terdekat. Aku melihat bibimu di sana. Tapi, aku tidak bisa mengobrol lama denganmu karena bodyguard-ku sudah mencariku." Aku merasakan pelukannya semakin erat. Dan aku juga baru sadar kalau aku masih berada di komidi putar ini bersama dengannya. Aku rasa apa yang diceritakan oleh Killua barusan membuatku berpikir banyak. Sampai-sampai aku lupa akan hal ini.

Aku sekarang merasakan wajahku semakin memanas dan mungkin sudah merah seperti tomat. Aku-pun semakin berusaha untuk membenamkan wajahku. Kenapa semuanya seperti sudah ada yang mengatur? Ini semua seperti… Keajaiban di balik musibah.

"Aku sangat senang bisa bertemu dengan gadis cengeng lagi." Dia sekarang tertawa lepas. Huh… Aku tidak tahu, rasanya semua perasaan kini bercampur dalam hatiku. Tapi, perasaan yang paling menonjol adalah perasaan senang dan bahagia. Aku… Juga senang bisa bertemu dengan penolongku lagi…

Apa aku suka pada Killua? Aku hanya tersenyum memikirkan hal itu. Mungkin iya. Bukan hal yang buruk juga, 'kan untuk menyukainya? Tapi, apa dia juga merasakan hal yang sama? Rasanya ini semua bagaikan mimpi...

Beberapa detik kami lalui dengan keheningan menyelimuti kami berdua. Kami masih berada di komidi putar, saling menghangatkan diri dalam pelukan. Dan… Suara kembang api semakin jelas terdengar.

"Kurapika." Akhirnya Killua-lah yang memulai pembicaraan duluan.

"Aku senang kalau kau yang menjadi calon istriku." Aku-pun dibuat kaget olehnya. Aku refleks menolehkan kepalaku ke belakang, menghadap wajahnya sambil tetap memegangi fotoku. Aku melihatnya tersenyum, tersenyum manis. Sedangkan aku hanya memasang ekspresi orang yang sedang terkejut.

Aku melihat wajahnya semakin mendekati wajahku. Wajah kami hanya beberapa centimeter sekarang. A… Apa yang ingin dia lakukan? Aku juga bisa merasakan nafasnya yang berhembus pelan di wajahku. Jantungku semakin berdegup keras (rasanya, jantungku kebanyakan bekerja malam ini). Dia perlahan-lahan menutup kedua matanya sambil terus mendekatkan wajahnya ke wajahku. Dan…

Chapter Five-End

A/N : Dan… Yak! Chapter lima selesai! Saya ga suka chapter ini =_=; Padahal tadinya mau saya tamatin aja di sini =_=; Tapi, ternyata lebih panjang dari dugaan saya. Ah, tak apa, lah. Omong2, saya ketik fic ini pas2an saya denger OST full house (drama korea) ;D Ahahahah… Oke, lah, itu ga penting. Saya, seperti biasa, mohon saran dan kritiknya, yah. Dan… Oh, ya, MET TAHUN BARU SEMUA! XD S'MOGA ANDA SEMUA BERBAHAGIA MALAM INI! XD jangan sendirian kayak Kurapika di fic ini ;P Heheh…

Dan buat yang review :

1. "Mikamo Zaoldyeck" – Ahahah, terima kasih. ^^ Yah… Rasanya saya ga bisa idup tanpa ke-OOC-an *lebay*. Wkwkwkwk. Tapi, trima kasih atas kritik dan sarannya, yah ;)

2. "Imappyon" - Wkwkwkwk. Saya pasti ketawa, deh kalo baca review dari anda XD Ah, syukurlah kalo emang ga ada ^^ Makasih buat review-nya, yah.