Disclaimer : Saya tidak punya dan tidak akan punya yang namanya Hunter X Hunter dan The Rule of Four. BUKAN MILIK SAYA.

Warning : Transgender, rada OOC, AU, aneh dan sebagainya. You've been warned!

A/N : Akhirnya! Chapter 6 ini akan menjadi chapter trakhir. Makasih banyak yg udah nge-review.

I'm Not Alone This Night-Final Chapter

31 Desember 2010

Preview : Aku melihat wajahnya semakin mendekati wajahku. Wajah kami hanya beberapa centimeter sekarang. A… Apa yang ingin dia lakukan? Aku juga bisa merasakan nafasnya yang berhembus pelan di wajahku. Jantungku semakin berdegup keras (rasanya, jantungku kebanyakan bekerja malam ini). Dia perlahan-lahan menutup kedua matanya sambil terus mendekatkan wajahnya ke wajahku. Dan…

Aku tidak mau melihat apa yang selanjutnya terjadi! Aku-pun langsung menutup rapat kedua mataku. Tapi, aku membukanya kembali secara refleks ketika mendengar Killua berbisik ke telingaku. "Kau benar-benar kelihatan bodoh." A… Apa?

Aku sekarang melihat dia tertawa terbahak-bahak. "A… Ahahahah…" Menyebalkan! Aku langsung memalingkan wajahku ke depan lagi. Merasa benar-benar malu. Di saat-saat serius seperti ini, dia bahkan masih sempat berpikir untuk mengerjaiku. Sial…

Dia masih saja tertawa. Apa jangan-jangan dia bohong soal semua ini? Tapi, dia sudah menjelaskan semuanya kepadaku dan penjelasannya tidak ada yang meleset. Aku tiba-tiba merasakan komidi putarnya berhenti berjalan. Dan itu memberiku ide untuk segera cepat-cepat turun meninggalkan Killua. Dan aku-pun melakukannya tanpa pikir panjang.

Aku berjalan lurus sambil terus menundukkan wajahku, aku merasa benar-benar dipermalukan malam ini. Oh, Tuhan… Tidak pernah rasanya dalam hidupku ini aku merasa semalu ini.

"Kurapika!" Aku mendengar Killua meneriakkan namaku dari jarak yang cukup jauh sambil berlari-lari. Ya, aku pergi meninggalkannya dan dia masih terus saja tertawa. Kesal rasanya hatiku…

Aku masih terus berjalan, tidak mau menghiraukannya. Tapi, dia ternyata berlari hingga dia mendahuluiku dan sekarang berdiri di depanku dengan nafas terengah-engah. Aku menengadahkan kepalaku ke atas lalu melihat wajahnya. Aku kemudian menunjukkan ekspresi orang yang sedang marah. Ya, aku memang marah. Siapa yang tidak marah kalau dikerjai terus-terusan seperti ini?

Baru saja aku ingin berjalan terus tanpa memperdulikannya, dia menghentikan langkahku dengan pelukannya. Dia memelukku lagi. Aku rasanya lemah kalau dia perlakukan aku dengan perlakuan manis dan lembut seperti ini. Aku-pun akhirnya diam saja dipeluk olehnya. Tapi, tentu saja aku masih kesal.

"Jangan tinggalkan aku. Aku benar-benar serius dengan semua ucapanku tadi, kok." Katanya lembut. Dan entah muncul dari mana, tapi, aku melihat banyak gelembung beterbangan di sekitar aku dan Killua. Siapa yang meniup gelembung? Aku hanya bisa terdiam sambil mengerutkan dahiku.

"Kurapika…" Suara halus Killua kini membuatku tersadar dari pikiranku soal gelembung tadi.

"…Malam tahun baru ini membuatku sadar akan sesuatu…" Lanjutnya. Dia sepertinya ragu-ragu untuk mengatakan hal ini.

"…" Aku-pun hanya bisa diam, menunggu apa yang ingin dia katakan.

"…Aku sadar kalau aku… Ternyata suka kepadamu." Aku kaget mendengar apa yang baru saja ia ucapkan. Apa itu benar?

"Dan… Itulah sebabnya kenapa aku senang kalau kau yang menjadi calon istriku kelak. Aku yakin hubungan kita akan jadi hubungan yang menyenangkan." Aku langsung melepaskan diri dari pelukannya. Aku benar-benar kaget mendengar hal itu keluar dari mulutnya. Aku langsung memandang wajahnya dalam-dalam. Jantungku rasanya berdebar keras sekarang. Dan wajahku mungkin sudah merah merona. Tapi, aku mengumpulkan seluruh keberanianku untuk tetap memandang wajahnya. Karena aku-pun akan mengatakan hal yang sama.

Tapi, belum sempat aku beritahu dia soal perasaanku, dia langsung bicara, "Dan… Aku tahu kalau kau juga suka padaku." Dia kini tersenyum puas dan bangga. A… Apa? Bagaimana dia bisa tahu?

"Aku tahu dari gerak-gerikmu dan tingkah lakumu." Aku hanya bisa menundukkan kepalaku sekarang. Aku sudah tidak tahan! Rasanya jantungku mau copot saja!

Aku kemudian merasakan tangannya berada di daguku. Dia kemudian mengangkatnya perlahan-lahan dan membuatku bertatapan langsung dengannya. Aku merasakan mata hitamnya menatapku begitu dalam sampai aku tidak tahan dan memutuskan untuk melirik ke arah lain.

"Kurapika… Pandang aku kalau aku sedang bicara" Katanya begitu lembut.

Aku-pun menyerah dan berusaha untuk tetap memandangnya. Sulit sekali rasanya! "A... Apa?" Satu kata itu terasa seperti duri saat aku mengucapkannya.

Aku melihatnya menarik nafas dalam-dalam lalu berkata, "Jadi pacarku, yah? Mau, 'kan? Aku tahu ini terlalu cepat. Tapi, tidak ada salahnya, 'kan untuk mencoba dulu? Lagipula, kita juga sudah dijodohkan."

Aku secara refleks membulatkan kedua mataku dan melirik ke arahnya. Aku sejujurnya masih sangat berdebar-debar. Tapi… Dia… Memintaku untuk menjadi pacarnya? Hanya beberapa jam kita bertemu dan dia sudah ingin pacaran?

Aku kemudian mengerutkan dahiku sambil tetap menatapnya. Aku menutup mataku lalu menghela nafas dalam-dalam. "Tidak mau." Itulah jawaban yang kuberikan kepadanya. Aku lalu menggeser tangannya dari daguku. Aku berusaha untuk tetap memandangnya walaupun aku merasa berdebar-debar begini. Aku melihat dia sepertinya terkejut atas jawaban yang kuberikan.

Aku memang menyukainya. Aku sejujurnya sangat senang dan berbunga-bunga dia mengatakan hal itu kepadaku. Aneh rasanya kalau perasaan suka itu bisa muncul hanya dalam waktu beberapa jam. Tapi, lebih anehnya lagi jika aku menjawab 'iya' untuk jadi pacarnya. Aku masih belum begitu mengenalnya dan aku hanya ingin pacaran sekali untuk seumur hidup dengan orang yang kuanggap tepat.

"Kenapa? Bukankah kau menyukaiku?" Aku mendengarnya bertanya.

"Aku mungkin memang menyukaimu. Tapi… Aku tidak sembarangan menerima orang untuk menjadi pacarku." Jelasku pasti.

Aku bisa melihat dia sepertinya kaget mendengarku bicara seperti itu. Aku-pun melanjutkan apa yang ingin kusampaikan. "Aku lebih suka kalau suatu hubungan itu punya suatu proses. Tapi, aku 'tak akan bilang ke orangtuaku soal perjodohan kita ini. Aku akan melihat apa yang terjadi diantara kita dulu."

Dia-pun sontak tertawa. Apa yang lucu, sih? "A… Aku baru pertama kali ini ditolak. Maksudku… Biasanya para wanita-lah yang mengejarku. Dan aku yang selalu menolak mereka. Tapi, kau berbeda." Katanya sambil terus tertawa. Aku-pun hanya terdiam melihatnya seperti itu. Aku masih merasa berdebar-debar. Tapi, aku berusaha untuk tetap tenang.

"Hm… Aku mengerti… Tapi, seperti yang kubilang tadi, aku serius dengan semua ucapanku." Dia akhirnya berhenti tertawa juga. Dia sekarang tersenyum ke arahku. Dan aku hanya menundukkan kepalaku untuk menahan rasa malu. Aku mendengar langkah kakinya yang berjalan mendekatiku. Dia lalu membisikkan sesuatu ke telingaku.

"Kalau memang begitu, mari kita nikmati saja semua ini." Dia lalu merangkulku dan berjalan ke arah depan. Aku masih tetap menundukkan kepalaku dengan perasaan yang berdebar-debar. Tapi, aku berusaha untuk bertanya ke mana tujuan kami sebenarnya.

"Ki… Kita mau ke mana?"

"Melihat kembang api dari jarak dekat." Jawabnya. Aku-pun merasa semakin berdebar-debar. Aku benar-benar merasa senang malam ini. Aku merasa benar-benar tidak sendirian lagi.

-cmR-

Ternyata, tujuan kami berikutnya adalah bianglala. Aku duduk berhadapan dengannya. Sudah beberapa menit berlalu dan kami berdua hanya diam saja. Killua hanya memandang keluar dengan tangan menopang dagunya, melihat kembang api dan aku hanya menundukkan kepalaku.

"Kurapika." Killua akhirnya bicara duluan. Aku-pun menolehkan kepalaku ke arahnya. Aku melihatnya mengeluarkan sesuatu dari tas. Seperti buku… Tunggu, itu… Novel The Rule of Four!

"Untukmu." Katanya sambil menyerahkan novel itu kepadaku. Kenapa dia memberikannya kepadaku?

"Ini sepertinya novel yang kau tunggu-tunggu bukan?" Aku hanya bisa diam sambil memandangi Killua. Dia lalu tersenyum dan berkata, "Anggap sebagai hadiah karena sudah mau menemaniku kencan."

Aku-pun mengulurkan tangan kananku untuk menerima novel yang kuinginkan itu. "Terima kasih, Killua."

"Sama-sama, sayang." Dia lalu tertawa kecil. Sayang… Aku, 'kan bukan pacarnya! Tapi, aku memutuskan untuk diam saja dan memegangi novelnya.

Setelah itu, kami berdua kemudian diam lagi. Killua kembali memandangi kembang api dan aku hanya melihat-lihat novel yang baru saja aku terima itu. Aku kemudian tersenyum mengingat-ingat pertemuan konyol antara aku dan Killua. Dan… Aku baru teringat satu pertanyaan yang tadinya ingin kutanyakan. Obat… (A/N : chapter 2)

"Killua." Kali ini aku yang memecah keheningan.

Dia hanya melirik ke arahku sambil menaikkan kedua alisnya. "Ada apa?"

"Kau ingat kau bilang kepadaku soal obat?" Aku-pun melanjutkan apa yang ingin kutanyakan.

"Iya. Kenapa?"

"Bagaimana aku bisa meminum obat itu kalau aku pingsan?"

"…" Dia terdiam sejenak samil terus memandangiku. Dia lalu tersenyum sambil menegakkan posisi dudukunya lalu berkata, "Aku tidak menyangka kalau kau penasaran akan hal sekecil itu." Dia sekarang tersenyum lebar. Aku tidak suka dengan seyumnya kali ini. Entah kenapa, tapi, aku merasa dia akan berbuat sesuatu lagi kali ini.

"…" Aku diam sejenak, sibuk berpikir sendiri sampai akhirnya Killua mulai bersuara lagi. "Benar-benar ingin tahu?"

"Ya…" Jawabku ragu.

Dia lalu tersenyum lagi sambil terus memandangiku. Apaan, sih?

"Akan kuberitahu." Dia sekarang bangkit dari tempat duduknya. Aku melihat dia mendekat ke arahku dengan wajah tertunduk. Apa lagi kali ini? Tapi, aku memutuskan untuk tetap bersikap tenang dan diam saja.

Dia dengan dengan kasar menempatkan lengannya ke pundakku kemudian mendorongku mendekati tubuhnya. Dia menciumku! tepat di bibir! Aku secara refleks membulatkan kedua mataku dan berusaha untuk mendorongnya. Tapi, dia menahan tanganku. Kenapa dia lakukan ini? Aku kemudian tersadar kalau ternyata inilah jawabannya. Aku meminum obatnya dengan cara seperti ini. AH!

Dia kemudian memaksa memasukkan lidahnya ke dalam mulutku. Astaga! Apa yang dia lakukan? Aku masih berusaha untuk lepas dari ciuman ini sambil menahan perasaan berdebar-debar di dada. Aku merasakan wajahku memanas dan mungkin sudah merah seperti tomat sekarang.

Dia masih terus-terusan menciumku seperti itu dan aku masih berusaha untuk lepas. Tapi, aku akhirnya mengalah dan membiarkannya menciumku. Entah apa yang aku pikirkan saat itu sampai aku membiarkannya melakukan hal ini kepadaku. Tapi, aku… Sejujurnya… Cukup menikmatinya.

Banyak pikiran yang masuk ke dalam otakku saat ini. Aku merasa senang, kesal, sebal dan… Bahagia. Beberapa jam yang lalu, aku pikir aku akan sendirian. Tapi, ternyata… Aku salah. I'm Not Alone This Night…

1 Januari 2011

Kami berdua masih berada dalam posisi seperti itu sampai akhirnya aku merasa kalau bianglala ini sudah berhenti berputar dan pintunya terbuka. Aku kaget! Killua langsung melepaskan ciumannya saat ada orang yang berkata, "Selamat tahun baru! Maaf merusak kesenangan kalian. Tapi, aku mengantarkan pesan untuk gadis manis bernama Kurapika dari orangtuanya."

Aku langsung menolehkan kepalaku untuk melihat orang itu yang ternyata adalah Hisoka dan seorang wanita berambut biru keunguan. Wanita itu berwajah cantik. Tapi, dia hanya berekspresi datar. Aku rasa dia adalah Machi.

Aku yang masih merasa malu hanya bisa menundukkan kepalaku sambil keluar dari bianglala. Killua mengikutiku dari belakang.

Aku kemudian melihat Hisoka (yang sambil tertawa-tertawa tidak jelas) menyerahkan sebuah telepon genggam yang layarnya bertuliskan : "Selamat tahun baru, Kurapika. Maaf ibu dan ayah tidak bisa mengunjungimu. Karena ibu dan ayah sedang sibuk mempersiapkan sesuatu." Mempersiapkan perjodohanku.

Aku hanya tersenyum melihat itu. Aku kemudian teringat akan Gon dan Leorio serta bibiku. Mungkin mereka sekarang sudah meneleponku untuk mengucapkan selamat tahun baru. Tapi, sayang sekali aku tidak membawa HP-ku bersamaku sekarang. 'Selamat tahun baru, Gon, Leorio dan bibi…' Ucapku dalam hati sambil terus tersenyum.

Aku kemudian menoleh ke arah Killua. Dan dia memasang senyuman di wajahnya. Dia kemudian berjalan mendekatiku kemudian merangkulku sambil berbisik ke telingaku, "Aku sudah menepati janjiku, 'kan?"

Aku hanya mengangguk-angguk sebagai jawaban. Ya, terima kasih Killua. "T'rima kasih." Kataku pelan sambil terus tersenyum berbinar-binar.

"Aku sekarang berjanji tidak akan membuatmu merasa kesepian saat bersama denganku." Katanya dengan manis sambil mengecup keningku. Aku hanya menutup rapat kedua mataku sambil merasa berdebar-debar dan tersipu malu. Aku benar-benar senang malam ini... Tapi, Killua kemudian menyadarkanku dari angan-anganku.

"Kurapika..." Bisiknya lagi.

"Masih ada satu hal yang belum kau sadari." Lanjutnya. Apa maksudnya?

"Soal celana dalammu." Aku merasakan wajahku memanas seketika saat dia mengucapkan itu. Aku kemudian merasakan Killua melepaskan rangkulannya. Dia berjalan menjauhiku lalu berkata dengan suara yang cukup keras, "Aku melihatnya saat kau sedang membungkuk. Kau tahu, rokmu terangkat cukup tinggi!" Dia sekarang berlari menjauhiku.

"Killua!" Aku-pun mengejarnya sambil tersenyum dalam hati. Dasar... Cowok resek...

Final Chapter-End

A/N : Akhirnya! Selesai juga fic abal ini! XD Ah… tapi, saya kurang suka sama chapter 5 dan 6. Entah knapa. Oh, sudahlah! Dan, BTW, aku telat update TT_TT Jadi brasa ga gitu nyambung, deh… Ah! ya, sudahlah… BTW, masalah gelembungnya, silahkan pikirkan sendiri itu ulah siapa ;) DAN! Trima kasih sekali lagi buat yg udah review. Dan… Saya masih mohon kritik dan sarannya, yah!

Saya mau berterima kasih, LAGI kepada "Aull Chan Kuruta" yang menyempatkan waktu untuk mereview setiap chapter O.O XD makasih banyak! Chapter 5 bukan endingnya, kok. Rencananya mau saya selesaikan di sana aja. Tapi, ternyata kepanjangan. Ga jadi, deh :P Ehehehe… Jadi, ini chapter trakhirnya

Omong-omong, KALAU ADA YG MASIH MEMBINGUNGKAN, SILAHKAN DITANYA. OK? ;)