Title: Kisah Sang Pangeran Dan Tuan Putri
Author: Firenze Firefly
Rating: T
Characters/Pairings: Sasuke-Hinata
Genre: Humor, Romance
Warnings: AU. Selamat membaca cerita ini sebagaimana saya menulisnya. Cerita ini hanya diperuntukkan untuk hiburan semata.
Summary:

Chapter 2: "Hinata, aku tidak ingin terjadi hal-hal yang diinginkan di antara kalian," ujar Neji. Jadilah dia mengawal Hinata bertemu ibu Sasuke. A Sequel. AU

Disclaimer: Sekali lagi, Naruto bukan milik saya.

Chapter 2

.

Meski lomba fashion show kemarin diwarnai kericuhan gara-gara Hinata masuk koridor –yang dijadikan catwalk- dan Sasuke mengikutinya, secara keseluruhan acara itu sukses. Kelas Multimedia diganjar penghargaan karena dua modelnya memboyong juara satu dan tiga. Tak hanya itu, Sasuke dan Hinata meraih penghargaan pula. Title The Hottest Couple Of The Year jatuh ke tangan mereka. Sebagai hadiah, Hinata menerima kalung tembaga yang dibakar. Herannya, kelas sepuluh Multimedia bersedia menerima job membuatkan piagam untuk mereka.

Sasuke tidak tahu harus takjub atau tertawa menerima secarik kertas tebal nan cantik itu. Rasanya barangkali seperti menerima penghargaan sekaliber Oscar saja. Sayangnya Hinata menolak ketika Sasuke memintanya untuk menyimpan si piagam. Dalam hati Sasuke berencana untuk menyembunyikannya di antara tumpukan kertas hasil ulangannya. Siapa sih yang tidak malu menerima piagam seperti itu? Lagi-lagi remaja jangkung itu dibuat terkejut oleh ulah fansnya. Mereka memaksanya menerima figura untuk tempat si piagam. Sasuke sudah mati-matian menolak, namun rupanya desakan mereka lebih kuat.

"Aku t-tak mau memajang ini di kamarku," tolak Hinata dengan muka pucat. Gadis itu tak bisa membayangkan reaksi Hanabi, adiknya, atau Hiashi jika mereka melihat piagam itu.

Menyerah, akhirnya Sasuke memajang piagam berfigura itu di balik foto besar keluarga di atas meja belajarnya. Tak dinyana, Mikoto menemukannya ketika wanita itu membersihkan kamar Sasuke.

"Eh, The Hottest Couple?" sang ibu menatap tak percaya. Mata hitamnya membulat. Cepat-cepat dia menuruni tangga dan menuju ruang tengah di mana Sasuke sedang menonton televisi.

Sasuke menajamkan telinga sewaktu suara gedebukan di tangga terdengar semakin jelas. Remaja itu heran mendapati ibunya begitu tergesa-gesa sampai-sampai langkah kakinya yang biasanya teratur jadi seperti itu.

"Sasuke!" panggil Mikoto.

Sembari lambat-lambat mengalihkan mata dari benda elektronik berbentuk kotak yang tengah menayangkan berita, Sasuke membalas, "Ada apa, Ibu?"

"Ajak pacarmu ke rumah, dong. Ibu ingin ketemu," ujar Mikoto langsung.

Sasuke nyaris tersedak ludahnya sendiri. Wajah putih pucatnya bersemu merah melihat sesuatu yang dilambaikan sang ibu. "Ibu! Jangan dibaca!"

Mikoto tersenyum penuh kemenangan. "Duh, kau punya pacar kok tidak bilang-bilang? Jangan mangkir ya! Nama gadis itu Hinata Hyuuga, bukan? Nih, tercetak besar-besar di sini."

Sasuke merutuk kebodohannya sendiri. Seharusnya piagam memalukan itu ia buang ke keranjang sampah supaya tidak ada yang bisa menemukannya.

"Bagaimana rupa pacarmu? Pasti cantik sampai-sampai anakku yang dingin ini mau dengannya," goda Mikoto.

"Bukan begitu, Bu," elak Sasuke.

Mikoto bingung. Dia menghampiri anaknya yang kini terpekur di sofa. "Bukan begitu?" ulangnya. Dia mengacak rambut legam Sasuke.

"Itu karena dia yang bersedia jadi pacarku," kata Sasuke malu-malu.

"Seperti apa anaknya?" tanya Mikoto penasaran. Wanita cantik itu tahu anaknya termasuk populer di sekolahnya, tak beda jauh dengan Itachi saat putra sulungnya itu masih duduk di bangku sekolah. "Luar biasa cantik?" tebak Mikoto.

"Iya, menurutku Hinata cantik," ujar Sasuke setuju.

"Tinggi semampai?" cecar sang ibu.

"Tidak," Sasuke menggeleng. "Tidak terlalu tinggi, juga tidak terlalu pendek."

"Oh, pasti karena Hinata pintar?"

Dahi Sasuke sedikit berkerut. Hinata tidak termasuk murid yang bodoh, tapi Sasuke masih jauh lebih pintar darinya. "Iya, lumayan pintar."

"Banyak teman cowok yang suka padanya?" berondong Mikoto lagi.

Lagi-lagi Sasuke berpikir. Hinata memang berteman dekat dengan Kiba dan Shino, tapi Sasuke yakin tidak ada perasaan yang berhubungan dengan hal-hal romantis di antara mereka. "Suka karena anaknya memang baik," putus Sasuke akhirnya.

Nyonya Uchiha itu mau tak mau jadi berpikir agak jauh. Hinata yang ditangkapnya dari penjelasan Sasuke, sepertinya gadis yang tidak menonjol karena kecantikannya atau kepintarannya. Bahkan terdengar biasa saja. Benarkah anaknya yang tampan luar biasa dan otaknya encer ini jatuh cinta pada seorang gadis biasa? Bahkan Sasukelah yang tertarik dan akhirnya berpacaran karena Hinata berkata iya.

Sembari mengamati profil Sasuke yang nyaris tanpa cacat, Mikoto diam-diam menggali pemikirannya. Dulu dia mengira gadis cantik jelita yang bakal bisa menarik perhatian Sasuke. Putra bungsunya itu bukannya 'rewel' soal selera. Mikoto selalu berpikir Sasuke termasuk anak yang agak sulit.

"Hinata ini gadis periang dan selalu ceria?" tanya Mikoto berusaha mengkonfirmasi. Sasuke yang agak judes dan dingin pasti 'mencair' ketika berhadapan dengan gadis yang berpembawaan riang dan menebarkan aura suka cita ke sekelilingnya.

Sekali lagi Sasuke menggeleng. "Tidak, Hinata gadis yang kalem dan tenang."

Mikoto tak mampu menebak-nebak lagi.

"Ke rumahmu?" Hinata terbelalak. Matanya yang nyaris putih itu semakin lebar. Kekagetan menghiasi rupanya.

"Iya, Ibu ingin bertemu denganmu," jawab Sasuke serius. Tak dihiraukannya tatapan anak-anak yang mengamatinya dengan Hinata. Sejujurnya Sasuke tidak suka berada di keramaian seperti kantin, namun kadang Hinata membawa bekal untuk Neji, jadi dia menemaninya menemui sepupunya.

Hinata tampak ragu. "Ayahku tahu kita pacaran tapi dia biasa saja," ujar Hinata.

Sasuke nyengir. "Lain dengan ibuku. Saking gembiranya anaknya akhirnya laku, Ibu meminta supaya bertemu langsung denganmu. Heboh banget deh."

Sang pacar tertawa kecil. "Terus, Sabtu ini memintaku datang, begitu?" ujarnya agak geli.

Sasuke mengangguk. Belum sempat dia berkata-kata, seseorang sudah menyambar Hinata.

"Siapa memintamu datang?" tanya Neji curiga. Matanya menyipit.

Hinata terkejut. Siapa yang tidak jika sang sepupu yang tiba-tiba datang tanpa angin atau hujan langsung mengguncang bahumu?

"Ibu Sasuke," jawab Hinata takut-takut. Gadis itu bertanya-tanya kemana gerangan perginya Neji yang kalem dan tenang seperti sungai yang dalam. Sang sepupu di depannya terlihat garang.

Neji mengarahkan mata pada Sasuke yang juga terkejut. "Beneran ibumu atau kau hanya menipu Hinata?" selidiknya.

Sasuke mendengus sebal. "Kenapa aku harus bohong?"

"Bisa saja itu akal bulusmu supaya bisa berduaan dengan Hinata," tunjuk Neji sengit.

Tentu saja sang Uchiha dongkol setengah mati. Ayam yang lewat di depannya bakal langsung terpanggang menerima tatapan mautnya. "Buang jauh-jauh pikiran kotormu itu," balas Sasuke dingin. Hinata langsung menggigil.

"Hei, aku tidak berpikir kotor," elak Neji. "Baiklah, aku ikut!" putusnya bahkan tanpa meminta persetujuan sepasang kekasih terkenal itu.

Baik sang sepupu maupun pacarnya bengong.

"Hinata, aku tidak ingin terjadi hal-hal yang diinginkan di antara kalian," suara berat Neji terdengar seperti nada kebapakan seorang pria berumur empat puluhan. "Biar aku memastikannya."

"Mantap sekali," cibir Sasuke. "Memangnya kau ayahnya?"

"Bukan," tukas Neji datar. "Aku sepupunya."

"Wah, ini yang namanya Hinata?" seru Mikoto begitu Hinata menjejakkan kaki di ruang keluarga.

Hinata tersenyum gugup. Dia membungkuk dalam-dalam. "Selamat pagi, Uchiha-san," sapanya grogi.

Mikoto mengerling pada Sasuke. "Manis banget."

"Iya dong, pacarku!" balas Sasuke. Remaja normal bakal menepuk dadanya bangga ketika mengucapkan kalimat itu. Meski Sasuke jelas-jelas pemuda yang masuk kategori normal, dia tak akan melakukannya.

"Iya iya," sahut sang ibu. Dia mengalihkan perhatian pada gadis yang tadi diseretnya. "Teman sekelas Sasuke?"

"Benar, kami sekelas," jawab Hinata canggung. Sejak beberapa hari yang lalu dia memang sudah gugup membayangkan akan bertemu dengan ibu pacarnya. Hinata cemas sekali.

Rupanya sang ibu mengerti. "Santai saja," ujarnya ramah. "Kau mau minum apa?"

Sasuke menoleh ketika kakaknya turun. "Oh, ini pacar Sasuke?"

"Eh?" Hinata ikut menoleh. Kakak Sasuke, menurut Hinata, sangat mirip dengan sang adik. Mereka sama-sama memiliki mata dan rambut hitam. Jika profil Sasuke lembut, mirip ibunya, Itachi memiliki garis wajah yang jauh lebih tegas. Di bawah matanya ada dua garis.

Pemuda tinggi itu duduk di sebelah Sasuke. "Aku kakak Sasuke, Itachi. Tadinya aku penasaran sekali denganmu," ujar Itachi.

Sasuke mendelik. Dia memang mengagumi Itachi. Remaja itu bangga memiliki kakak yang tampan, cerdas dan sukses. Tapi kadang Itachi suka usil.

"Penasaran?" Hinata semakin canggung. Berada di antara The Uchihas yang rupawan membuatnya sangat rendah diri.

"Yap," Itachi tersenyum. Para gadis yang melihat senyumannya bakal semaput karena terpesona. "Ternyata kau sangat manis," pujinya.

"Te-terima kasih," balas Hinata, sembari dalam hati berdoa semoga penyakit gagapnya tidak kambuh.

Sasuke hendak berdiri dan pindah ke samping Hinata. Jika dia benar-benar melakukannya gadisnya akan duduk diapit dirinya dan Mikoto. Sudah seharusnya Sasuke melindungi Hinata, batinnya. Bagaimanapun gadis itu adalah kekasihnya, pasti rasanya gugup jika diajak ke rumah dan bertemu anggota keluarga sang pacar. Dalam hati Sasuke mengeluh. Antusiasme Mikoto tentang calon mantunya benar-benar menakutkan. Ditambah lagi Itachi sampai bela-belain tidak kemana-mana karena ingin bertemu pacar sang adik.

Itachi menarik bahu Sasuke sehingga dia terduduk kembali. "Hinata," ujar pria tampan itu. "Kok mau pacaran dengan Sasuke?"

Muka Hinata merah padam.

"Itachi!" rutuk Sasuke marah.

Mikoto tertawa. "Itachi,jangan menggodanya seperti itu."

Kalau bisa, Hinata ingin sofa super empuk yang didudukinya supaya melesak dan menelannya. Pernah dengar ada gadis yang pingsan saat bertemu keluarga sang pacar?

"Aku jauh lebih cakep, lho," Itachi menyematkan senyum paling menawannya. "Lebih dewasa pula. Pasti jauh lebih baik daripada Sasuke."

Hn, Sasuke memang (dulu) mengidolakan Itachi tapi menurutnya kali ini Itachi sudah kelewatan. "Pantaskah seorang kakak berkata begitu?" katanya gusar.

Mikoto menepuk-nepuk lengan Hinata. "Jangan dipikirkan, itu hanya gurauan," hiburnya.

Hinata tersenyum terpaksa. Alamat, rasanya dia seperti dikerjai habis-habisan.

"Maaf, maaf," Itachi mengangkat tangan meski nampaknya dia sama sekali tidak menyesal. Diacuhkannya tatapan peringatan ibunya. "Hei, kau punya saudara? Yang cakep sepertimu. Aku lagi cari pacar, nih."

"Saudara? Ada…"

"Yang cakep?" potong Sasuke. "Ada. Dia berambut panjang, cakep banget. Yah, meski Hinata masih jauh lebih cakep sih."

Itachi tertarik. "Oh ya?"

"Hn," Sasuke mengangguk. Di seberang Hinata menatapnya penuh tanda tanya. "Anaknya pintar, tinggi. Jauh lebih tinggi dari Hinata," lanjutnya sambil lalu.

"Hinata," Itachi menatap Hinata. "Kenalin dong."

"Tuh, ada di ruang tamu," tunjuk Sasuke dengan nada bosan.

"Lho, kok tidak diajak ke ruang keluarga?" Itachi terkejut.

"Anaknya terlalu pemalu," ujar Sasuke acuh. "Lagipula, aku cerita kalau kakakku usil, dia jadi takut."

Dahi Itachi berkerut. "Jangan nurunin pasaranku, Adik Kecil!" Itachi tahu Sasuke paling tidak suka dikatai 'Adik Kecil'. Dua kata itu terdengar sangat kekanakan, sedang Sasuke jauh-jauh hari sudah tidak mau lagi disebut anak-anak. Entah kenapa baginya menggoda Sasuke selalu asyik.

Itachi bangkit. "Oke, aku menyapanya dulu," ujarnya seraya mengedipkan mata. Tanpa suara dia berjalan menuju ruang tamu. Duduk di sofa menghadap ke luar adalah seseorang berambut coklat panjang, berpostur tinggi dan tenang. Bahkan meski dari belakang sekalipun Itachi tahu orang yang duduk membelakanginya itu good looking.

Sasuke nyengir lebar.

Hinata yang tadinya tegang malah terkikik. "Ada-ada saja," komentarnya.

Mikoto tentu tahu siapa yang dimaksud Sasuke. "Itachi bakal marah, lho," ujarnya memperingatkan.

"Biar saja, Bu," sahut Sasuke. Dia senang bisa membalas sang kakak.

Tak lama kemudian Itachi kembali masuk ruang keluarga. Wajahnya tetap tenang namun matanya memancarkan sinar laser pembunuh. "Sa-su-ke!"

Di belakangnya Neji mengikutinya dengan bingung.

Menemui Mikoto tidak semenakutkan seperti yang dikira Hinata. Wanita itu sangat baik dan ramah. Dia menanyai Hinata tentang keluarganya, teman-temannya dan hobinya. Bahkan pada akhirnya ibu cantik itu memonopoli Hinata. Diajaknya pacar putranya itu memasak.

Diam-diam Sasuke mengintip dua wanita yang asyik berceloteh di dapur itu. Dia lega melihat Hinata menikmati pembicaraannya dengan Mikoto. Sang ibu terlihat bahagia. Sasuke maklum, mungkin ibunya merindukan seorang anak perempuan. Terlebih sosok Hinata sangat manis dan bersahaja. Memang gadisnya itu tidak cantik luar biasa namun wajahnya menimbulkan simpatik. Tersenyum simpul, Sasuke kembali ke ruang tengah. Jika Mikoto dan Hinata memasak, para pria itu menonton ulang pertandingan baseball.

Ayah Sasuke terlihat terkejut mendapati dua orang Hyuuga di meja makannya. Dia ayah yang tegas, tapi mengetahui langsung profil kekasih putra bungsunya, dia tak banyak komentar.

"Sering-sering ke sini, lho, biar Ibu terhibur," ujar Mikoto seraya menambahkan tofu ke piring Hinata.

"Ibu! Kan ada Sasuke dan aku," protes Itachi.

Mikoto mengerling penuh sayang pada gadis di sebelahnya. "Beda dong. Di rumah ini tidak ada anak perempuan," kilah Mikoto.

"Anak perempuan kan tanpa disuruh, mau membuatkan teh," tambah Fugaku.

Hinata bersyukur keluarga Sasuke menerima dirinya. Neji juga terlihat santai berbincang dengan Fugaku. Si ayah yang terlihat sangar itu nyambung ngobrol dengan Neji yang pintar.

Itachi mengusik Hinata. "Hinata, kau punya saudara, tidak? Bukan Neji lho," desaknya.

Hinata merenung. "Ada, adikku," katanya ragu-ragu.

"Cantik, tidak?"

Mikoto dan Fugaku hanya geleng-geleng.

"Dia sangat mirip denganku," urai Hinata.

Itachi bersemangat. Senyum menghiasi wajah tampannya. "Siapa namanya? Kapan-kapan aku dolan ke rumahmu."

Hinata tersenyum manis. "Namanya Hanabi, kelas lima SD."

TBC

Fire's Note: Yup, Nerazzuri benar, cerita ini kumpulan multichap yang saling berhubungan. Trims banget teman-teman udah RnR chapter terdahulu. Ini chapter terbaru. Selamat membaca! Hehe maaf kalau kesannya tergesa-gesa. Saya udah nulis ini sejak dua hari lalu, tapi karena saya keluar-keluar terus, jadinya malah lama selesai. Pagi ini saya buru-buru dolan ke Malang XD. Sampai jumpa di chapter selanjutnya!

Preview Chapter 3:

Yang namanya ketertarikan memang bermacam-macam. Si empunya perasaan sendiri, Sai, bahkan tak bisa menjabarkannya. Dia senang bertemu Hinata. Beberapa hari kemudian dia mendapat kesempatan berkolaborasi dengan gadis Hyuuga itu.