Title: Kisah Sang Pangeran Dan Tuan Putri
Author: Firenze Firefly
Rating: T
Characters/Pairings: Sasuke-Hinata
Genre: Romance, Friendship
Warnings: AU, agak OOC mungkin. Selamat membaca cerita ini sebagaimana saya menulisnya. Cerita ini hanya diperuntukkan untuk hiburan semata.
Summary:

Chapter 3: Sai menelan ludah untuk membasahi kerongkongannya yang mendadak kering. Profil dan wajah gadis di depannya tidak luar biasa menawan, namun entah mengapa terasa pas dengan situasi dan inspirasi yang dicarinya. AU. A sequel.

Disclaimer: Sekali lagi, Naruto bukan milik saya.


Chapter 3

.

Sai adalah salah satu dari sekian bukti betapa agungnya Sang Maha Pencipta. Cowok itu bagai mahakarya yang dipahat oleh tangan terampil, begitu molek dan indah. Wajahnya mulus seakan kulitnya terbuat dari porselen kwalitas nomor satu. Kehalusan kulitnya akan membuat model mana pun malu. Pendeknya, Sai adalah jenis makhluk yang membuat para gadis mau pun laki-laki iri.

Itulah yang ada di kepala Hinata saat dia dan Sai diminta menghadap Kurenai-sensei. Selama ini kadang kala Hinata berpapasan dengan cowok itu. Sekali lihat pun Hinata tahu Sai memiliki level ketampanan di atas rata-rata. Tapi mengamatinya berdiri di sampingnya membuat Hinata sadar bahwa Sai jauh lebih cakep saat diterawang dari dekat.

Gadis itu kadang heran menyaksikan betapa banyak makhluk menyilaukan di sekelilingnya. Memiliki pacar setampan Sasuke dan sepupu secakep Neji sedikit banyak membuatnya terbiasa dengan keberadaan orang menonjol seperti Sai. Omong-omong soal Sasuke, gadis itu agak tercengang mendapati Sai mirip dengannya. Bedanya, jika Sasuke dahsyat tampannya, attitudenya dingin dan acuh namun approachable, Sai luar biasa acuh dan menimbulkan perasaan bahwa cowok itu berada di galaksi lain dan tak dapat disentuh. Semua yang melekat di tubuh Sai meneriakkan 'Exquisite and Splendid', namun kadang kala Hinata merasa cowok itu palsu. Bukan seperti uang palsu atau cat palsu, tapi ketulusan Sai yang nampak fake karena senyum yang menghiasi bibirnya.

"Jadi, bisakan kau melukis 3 baju ini dalam waktu empat hari?" tanya Kurenai. Wanita itu menyodorkan tiga baju berwarna hijau lumut, oranye muda dan kuning.

Hinata menyambutnya. Dia mengamati kain atasan-atasan itu. "Bisa, Sensei, jika saya lembur," jawab Hinata lambat-lambat.

"Maaf jika waktunya mepet," ujar sang sensei. "Oh, ada lagi," katanya, teringat sesuatu. Kurenai melongok ke bawah mejanya dan menarik sebuah payung putih polos. "Bila sempat, tolong lukis juga payung ini."

Hinata nyaris terbelalak. Melukis tiga baju dan sebuah payung? Gadis itu hanya berharap waktu akan berkompromi dengannya sehingga dia bisa menyelesaikan tugasnya.

Beberapa hari lagi akan ada lomba Putri Mangrove. Sesuai judulnya, tema yang diusung adalah mengenai tanaman itu. Sekolah Hinata diwakili Ino dan dua orang murid perempuan lain di ajang lomba itu. Mereka diminta memakai busana bercorak mangrove. Kreatifitas seseorang yang mampu melukis di atas kain sangat dibutuhkan. Kurenai sudah melihat hasil lukisan Hinata pada syal Ino, sehingga setelah anak-anak Tata Busana selesai menjahit baju-baju untuk para model, Kurenai langsung menyerahkannya pada Hinata untuk dilukis.

Rupanya antusiasme peserta yang akan mengikuti lomba antar sekolah itu memberi inspirasi lain pada orang-orang di Departemen Pertanian. Mereka mengusulkan supaya ada juga lomba melukis dengan corak tanaman atau bunga. Lukisan yang menang akan di print di kain dan dipakai sebagai seragam bebas di departemen itu.

Jika Hinata diminta melukis kain untuk para model, maka Sai-lah yang mengikuti lomba melukis.

"Peserta diharuskan menggunakan cat air," kali ini Kurenai mengalihkan perhatiannya pada remaja cowok di samping Hinata. "Lukisan cat air adalah spesialisasimu, jadi menurutku tak ada orang lain lagi yang cocok selain dirimu."

Sai mengangguk pelan. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan emosi. Dia mendengarkan penjelasan Kurenai dengan cermat. "Iya, Sensei," ujarnya.

"Tenggat waktumu sama seperti Hinata, dan besoknya kau harus ikut ke lomba itu sambil menunjukkan hasil lukisanmu," sambung sang sensei.

"Saya tidak perlu ikut, kan?" tanya Hinata.

"Tidak, Hinata," jawab Kurenai sembari tersenyum kecil.

Hinata lega.

"Karena pihak sekolah yang meminta bantuan kalian, akan ada dispensasi yang dibuat TU dan diberikan ke kelas kalian sehingga tugas untuk lomba ini tidak mengganggu jadwal kalian setelah sekolah," urai Kurenai.

Lagi-lagi Hinata lega. Tadinya dia berpikir baju-baju itu harus dilukisnya di rumah. Mengerjakannya harus menunggu setelah jam sekolah usai sedang dia sendiri sampai di rumah ketika hari menjelang sore.

Sai tidak menunjukkan kelegaannya secara terang-terangan seperti Hinata. Sikapnya tetap kalem. Lomba ini menuntut imajinasinya tetapi cowok itu yakin dia bisa melakukannya dengan baik. Berbeda dengan Hinata yang harus melukis empat obyek, Sai hanya diminta membuat satu lukisan.


Sai dan Hinata mengerjakan tugasnya di gedung baru di atas Lab Komputer. Kadang saat pergantian jam anak-anak kelas lain melongok dari pintu atau berjinjit mengintip lewat jendela untuk melihat mereka berdua.

"Sulit tidak melukis dengan cat air?" tanya Hinata berbasa-basi. Bagaimana pun berada dalam kebisuan yang menulikan telinga bersama Sai bukanlah hal yang disukainya.

"Tidak," jawab Sai singkat. Dia berkonsentrasi menggambar. Sesekali cowok itu memperbaiki sketsanya. Beberapa lama kemudian Sai mengangkat kepala dan mengarahkan mata hitamnya pada Hinata. "Melukis di kain sepertinya mudah bagimu," komentarnya.

"Menurutku jauh lebih mudah melukis dengan menggunakan cat akrilik daripada cat air," sahut Hinata, agak senang karena Sai membalas ucapannya.

"Buatku sebaliknya," pungkas Sai seraya mengedikkan bahu.

Hinata kembali menatap sketsanya sendiri. Sebelum mengaplikasikannya ke kain, dia terlebih dulu menorehkan desainnya di kertas. Setelah itu dia memindahkannya ke kain. Sebelumnya gadis itu sudah browsing gambar-gambar daun mangrove di internet. Selain itu Asuma-sensei membawakannya daun mangrove asli beserta rantingnya. Dengan membandingkan gambar di internet dan rupa aslinya, Hinata paham bagaimana gambar yang akan dibuatnya.

"Lukisanmu tidak jelek," komentar Sai.

Hinata nyaris terlonjak. Mata Sai sudah jatuh pada sketsa di tangannya. Kepala cowok itu miring supaya bisa mengamati gambar Hinata lebih jelas.

"Tidak bagus luar biasa," lanjut Sai. Nadanya datar dan tampangnya tanpa ekspresi.

Hinata bingung menanggapinya. Kadang dia melihat Sai tersenyum dan berkata manis pada orang lain. Tapi untaian pujian atau kalimat bernada positif tidak pernah dialamatkan padanya.

"Meski tidak terlalu bagus, aku sudah bekerja keras," akhirnya Hinata membuka mulut. Dalam hati dia mendecak kesal. Omongan Sai jauh lebih pedas dan menusuk daripada gerusan cabe yang ditumbuk. Hinata bukan gadis yang memiliki kadar percaya diri di atas rata-rata, namun komentar-komentar Sai membuatnya kesal.

Sambil pura-pura mencari penghapus, Hinata melirik sketsa Sai. Langsung saja dia terkagum. Gambar Sai indah. Sulur-sulur dan bunga meliuk-liuk saling berkejaran. Meski masih sketsa yang belum diwarnai, gambar itu tampak sangat indah. Tak salah memang bila Sai dijuluki pelukis andalan sekolah mereka.

"Terpana, ya?" tanya Sai. Cengiran kecil menghiasi wajah pucatnya.

"Eh, i-iya," jawab Hinata gugup. Saat itulah dia menyadari bahwa jawaban lugasnya terlalu jujur. Bisa-bisa cowok itu besar kepala!

"Wajar, sih," jawab Sai sambil lalu. Dia kembali menekuri sketsanya.

Hinata hampir membelalakkan mata. Ck, Sai congkak!


"Tiap hari kau menghabiskan waktu bersama Sai."

Hinata mendongak mendengarnya. Niatnya menyeruput jus apel yang dibelikan Sasuke kandas. "Erm, iya, kan kami melukis bersama," jawab Hinata ragu-ragu.

Sasuke mengerutkan alis. Dia melempar kotak jus tomatnya ke tempat sampah terdekat. Kotak yang sudah tandas isinya itu melayang mulus dan mendarat di antara tumpukan sampah kering lainnya.

"Sasuke!" tegur Hinata, tidak suka dengan kelakuan pacarnya.

"Jadi Hinata," ujar Sasuke serius. Mata hitam beningnya menatap lurus gadis di sebelahnya. Dia tidak menghiraukan teguran gadis itu. "Tiap hari kau berduaan dengan Sai di ruang baru itu," ulangnya. "Jujur saja, aku tidak suka."

"Sasuke, kami hanya melukis," kata Hinata mengingatkan kekasihnya bahwa mereka hanya menjamah kuas dan mengelus kertas.

"Aku tahu," ujar Sasuke datar, namun ada kejengkelan di balik suaranya. "Tapi aku tidak suka dengan kenyataan bahwa gadisku bersama cowok lain di satu ruangan."

"Studio sudah dipakai anak Tata Busana," jelas Hinata. "Yang kosong hanya ruangan baru itu, jadi kami menggunakannya. Disamping itu, aku dan Sai sibuk melukis kerjaan masing-masing," terangnya panjang lebar. Gadis itu, beserta seluruh siswa Konoha High, sadar bahwa sekolah adalah lembaga suci untuk menuntut ilmu, bukan tempat untuk berbuat hal-hal tidak senonoh.

Sebagai seorang Uchiha, Sasuke pintar menampakkan ekspresi yang harus ditunjukkannya ke publik, yaitu wajah tanpa ekspresi. Tetapi, ketika bersama dengan kekasihnya, itu lain cerita. Sasuke tidak sanggup mempertahankan tampang kece namun stoicnya. Wajahnya menampilkan senyum sumringah, raut bahagia, kesal dan kadang cemburu. Gadis Hyuuga itu membuatnya lebih manusiawi. Yah, tanpa mengurangi arti bahwa Sasuke masih manusia.

"Sai mirip denganmu," Hinata tersenyum tipis. Dia menoleh ke arah Sasuke, yang dalam hati kebat-kebit melihat senyum gadis itu. "Wajah dan penampilannya mengingatkan orang padamu," ucapnya setelah menimbang-nimbang profil Sai. "Tapi dia jauh lebih pucat."

"Mungkin dia kurang pigmen," sahut Sasuke singkat. Dia mengedikkan bahu sambil lalu. "Tapi aku tidak suka disamakan dengannya," ujarnya judes.

Hinata tertawa kecil. "Kalian berbeda," balasnya menenangkan Sasuke. "Tapi ada persamaan lainnya."

"Dari segi tampang?" tebak Sasuke letih. Dia sering mendengar bahwa cowok seangkatan Neji itu sekilas mirip dengannya.

"Bukan," Hinata menggeleng, membuat poninya tersibak dari dahinya. Sasuke ingin mengusap rambut Hinata tapi mati-matian menahan diri. Hey, sekolah adalah tempat umum, bukan tempat untuk menampilkan kemesraan yang bisa berujung fatal menghadap wali kelas karena menampilkan tindakan yang membuat siswa lainnya risih. "Dia tipe visual, sama denganmu."

"Hn?" Alis Sasuke yang tebal dan indah terangkat. Para fansgirlnya mungkin akan pingsan oleh gerakan si alis yang dianggap sensual. "Tahu dari mana?"

"Dari cara Sai ngobrol," jawab Hinata ringan. "Kadang dia bicara sambil melirik ke atas seakan membayangkan obyek yang dibicarakannya."

"Kau cermat memperhatikannya," komentar Sasuke. Lagi-lagi dahinya berkerut dan hidung penggarisnya yang mancung sempurna mengernyit seolah ada yang mengoleskan kotoran di bawah lubangnya. Sadar bahwa rasa cemburu nyaris mengambil alih kewarasannya, Sasuke buru-buru berdehem. "Ada tipe lain?" tanyanya.

"Ya, dua lainnya audio dan kinestetik. Mata orang audio akan melirik ke arah samping, sejajar dengan telinga, seolah mendengarkan sesuatu, sedang orang kinestetik akan melirik ke bawah."

"Jadi, kau tipe kinestetik?" tanya Sasuke. Membayangkan kekasihnya yang lemah lembut termasuk tipe kinestetik sungguh terasa janggal. "Dulu kau suka bicara sambil memandang kukumu."

Mendadak wajah putih Hinata keruh. Aura mendung menggelayuti rupanya. "I-itu…karena aku gugup saja," jawabnya pelan dan berat.

Sasuke merasa bersalah sendiri. Dia sudah menyentil topik sensitif. Dia tahu Hinata bukan tipe percaya diri seperti Sakura atau Ino. Mengungkit perangai Hinata yang dahulu didominasi kegagapan dan rasa minder adalah hal terakhir yang ingin disentil Sasuke.

"Ah, aku tipe visual," Sasuke mengangguk kecil tanda paham. Dia ingin mengalihkan pembicaraan tidak mengenakkan tadi. Cowok itu mencubit tangan Hinata lembut. "Tipeku bagaimana, sih?"

Hinata terkejut mendapati kulitnya sudah bersinggungan dengan jari panjang Sasuke. Wajahnya memerah. Rupanya sentuhan kecil itu membuatnya merona dan menyingkirkan perasaan tak nyaman di hatinya. "Vi-visual…itu.."

Sasuke tersenyum menyimak wajah kekasihnya. Biar saja orang bilang Hinata gadis biasa saja. Bagi Sasuke, sang pacar luar biasa.

"Visual…seperti arti katanya sendiri: melihat, mengerti dengan mata. Orang-orang ini menyukai keindahan," jelas Hinata agak gugup karena mata Sasuke tak beranjak menelusuri wajahnya. "Yang disukai Sai memang jelas, dia suka melukis."

"Kalau aku?"

"Kau..ehm..Sasuke, kau tidak suka menggambar, kan?" tanya Hinata sedikit bingung. Dia tak pernah tahu Sasuke menggambar sebagai hobi.

"Aku suka sesuatu yang indah, kok. Misalnya, kamu!" tunjuk Sasuke serius.

Kali ini Hinata tak jauh beda dengan buah favorit Sasuke. Bedanya, rona merah di pipi Hinata jauh lebih menggemaskan daripada tomat paling ranum sekalipun.

"TEME!"

Suara cempreng Naruto yang membuat telinga tuli bisa mendengar kembali itu membuat para siswa terlonjak kaget.

"Oi, aku mencarimu ke mana-mana! Ayo adu lari lagi!" gemuruh langkah Naruto mendekat.

Sasuke menghela napas. "Naruto sih jelas, tipe kinestetik," gerutunya. Dia semakin kesal pada The Dobe Blond yang menghancurkan momen romantisnya dengan Hinata.


Dispensasi yang diberikan sekolah sangat membantu duo Sai dan Hinata menyelesaikan tugas mereka. Tinggal satu baju yang harus dilukis Hinata. Itu pun tinggal dipertebal saja catnya. Sai akhirnya menemukan desain yang pas. Dia menggambar di kertas, lalu memotong bagian yang digambar. Kemudian kertas itu ditempelkan di kertas lain. Bagian yang sudah dipotong digunakan untuk melukis di kertas yang baru itu.

Mewakili lomba untuk sekolah memang menimbulkan perasaan gugup, was-was dan khawatir. Namun siapa pun yang terpilih memiliki rasa bangga karena membawa nama sekolah di pundak mereka.

"Aku sudah hampir selesai," ujar Hinata lega. Aroma cat akrilik, latek dan cat lainnya menggelitik dan mengisi hidungnya beberapa hari ini. Bukan aroma yang sehat, tentu saja, karena itulah semua jendela dan pintu dibuka lebar-lebar. Ventilasi di ruang baru itu dimanfaatkan semaksimal mungkin demi kesehatan dan keselamatan duo pelukis itu. Yah, siapa sih yang rela mati gara-gara menghirup aroma cat air? Geez!

"Sama," ujar Sai. Dia sibuk melukisi kertas barunya. Wajahnya luar biasa serius, seolah kemaslahatan seluruh umat terukir di lukisannya. Memang rautnya nyaris tanpa ekspresi namun aura keseriusan menguar kuat dari dirinya. Lukisannya memang belum selesai karena tugasnya tidak hanya melukis. Dia harus menghias bonsai buatan dengan daun-daun mangrove sebagai pemanis yang dijinjing para model nantinya.

Bel istirahat berdentang keras. Dari ruangan itu bunyinya memang terdengar sangat nyaring karena salah satu speakernya dipasang di atas pintu.

Inilah yang tidak disukai Sai. Saat istirahat tiba para kaum hawa akan berbondong-bondong masuk ke ruang studio dadakan itu. Mereka akan memekik melihatnya. Tak peduli sepedas apapun ucapan cowok tinggi itu, mereka tak terpengaruh. Dikerubuti fans mungkin terdengar menakjubkan, namun jika waktunya tidak tepat, yang ada malah jengkel.

Seperti yang sudah-sudah terjadi, berduyun-duyun cewek mendatanginya. Mereka akan mendekat dan melongok dari balik pundaknya, dari samping dan depan. Para gadis itu bagaikan lalat mengerubungi daging lezat.

Sayangnya pagi itu adalah yang terburuk yang bisa terjadi. Salah satu dari mereka menyenggol palet dan menumpahkan isinya ke lukisan yang dengan susah payah sudah dibuatnya.

Dengungan tak wajar segera menyebar.

Sai membeku. Lukisan, lukisan yang besok harus dibawanya, malah sekarang tak jelas gambarnya apa karena Sang Kertas-sama sudah basah kuyup.

"Kyaa.. Sai, maaf!"

"Kau sih menyenggolku."

"Apa? Jangan menyalahkan orang lain, dong!"

"BERISIK!" teriakan Sai menggelegar menenggelamkan cicitan mereka. Sontak mereka terdiam, ketakutan.

Sai bisa mentolerir apapun. Malah, dia lebih sering cuek. Tapi kalau sudah menyangkut lukisan yang sangat disayanginya, dia berubah berang dan mengerikan. Posturnya yang menjulang menambah kesan angkernya. "Keluar sekarang juga!" hardiknya tanpa ampun.

"Maaf, Sai. Aku bantu deh."

"Iya, aku juga mau bantu, kok."

"Keluar atau mati!" bentak Sai lagi.

Para fansnya mengkerut dan buru-buru keluar sebelum Sai sempat membunuh mereka dengan ujung kuas.

Sai menghela napas. Wajah pucatnya nampak lelah. Memang benar dia pelukis jenius, tapi melihat hasta karyanya jadi segumpal kertas basah benar-benar membuat hatinya terluka.

Cowok yang penampilannya tidak biasa itu nyaris tidak pernah menampilkan ekspresi murni dari dalam hatinya. Sedari kecil Sai terbiasa menekan segala emosi yang timbul. Karena itulah kadang dia canggung, tak tahu bagaimana bersikap dan mengatakan sesuatu yang tepat. Sai kecil bukan anak yang bahagia, sampai akhirnya Yamato mengadopsinya.

"Sai," ujar Hinata takut-takut. Dia ngeri melihat Sai marah dan stress seperti itu.

"Aku harus mengulang lagi," kata Sai datar. Dia menunduk dan dengan getir melipat kertas basah itu.

Saat itulah mata Hinata tertumbuk pada replika kertas yang tadinya dipotong Sai. "Aku bantu, ya?" tukas gadis itu menawarkan. Dia beringsut dari duduknya dan mendekat. "Aku hampir selesai, kok." Hinata tahu bahwa karya Sai tidak akan orisinal lagi karena ada campur tangannya, tapi gadis berambut panjang itu hanya berniat membantu.

"Tidak usah!" tolak Sai tegas.

"Hei, kita partner," tegas Hinata. "Memang hasil lukisanku nanti tidak akan sebagus punyamu," wajahnya memucat mengetahui bahwa dia lemah jika berhadapan dengan cat air. "Ta-tapi aku tulus."

Mau tak mau sebuah senyum kecil tersembul di bibir Sai. "Mana ada orang tulus bilang tulus? Kau tidak tulus."

"Ah.." Hinata tersadar. Lidahnya kadang suka terpeleset.

"Suka-suka kau sajalah," tutur Sai akhirnya.

Hinata masih mengingat kombinasi warna lukisan sulur-sulur daun dan bunga Sai. Dia agak ragu dengan kemampuannya melukis dengan cat air, namun kemudian memantapkan hati.

Sai membersihkan air yang tercecer di lantai. Dia mengampil lap pel kering di sudut ruangan. Sisa-sisa cat yang tumpah dibersihkannya dengan seksama. Orang yang menghargai keindahan seperti dirinya jelas bukan orang yang jorok. Sesuatu yang tidak bersih sungguh menyakitkan mata hitamnya.

Selesai, Sai hendak berkata pada Hinata bahwa dia sendiri yang akan melanjutkan melukis gambarnya dengan cat air. Namun sesuatu membuat tenggorokannya tercekat.

Disinari matahari pagi yang bersinar lembut, lekukan garis wajah Hinata terlihat sempurna. Helaian rambut panjangnya menuruni pundak dan punggungnya. Poni gadis itu berebut tempat di dahinya. Alisnya berkerut menandakan konsentrasi super. Bulu mata panjang itu memagari pandangan orang pada mata putih-lavendernya. Sesekali gigi putihnya menggigit bibir bawahnya.

Sai menelan ludah untuk membasahi kerongkongannya yang mendadak kering. Profil dan wajah gadis di depannya tidak luar biasa menawan, namun entah mengapa terasa pas dengan situasi dan inspirasi yang dicari Sai.

Buru-buru cowok itu mencari buku sketsa dan pensil.

Gemerisik kertas yang dibalik membuat Hinata menoleh. "Sai? Bikin sketsa baru lagi?" tanyanya.

"He-em," jawab Sai tidak jelas. "Kau teruskan saja, oke? Please," imbuhnya ketika melihat sebelah alis Hinata terangkat.

Hinata tidak terlalu paham, namun kembali melukis. Dia juga pelukis, jadi gadis itu berpikir mungkin saat itu Sai menemukan inspirasi lain. Sia-sia saja usahanya melukis kertas replika jika itu benar, tapi -Hinata menggeleng- biarkan saja.

Tangan Sai bergerak lincah. Sesekali dia melirik Nona Hyuuga itu. Sulur-sulur yang digambarnya merambati pinggiran halaman, berlarian menuju bunga di tengah. Di samping bunga itu, seorang gadis tengah tersenyum dengan cantiknya.

"Fuh."

Hinata mengangkat kepala. "Selesai?"

"Yap," balas Sai.

Sai segera membuat replikanya, memotong gambarnya dengan cutter dan memindahkannya ke kertas lebar. Hinata takjub dengan ketangkasan Sai menjadikan lukisan tanamannya nampak hidup. Hinata setuju bahwa Sai seorang pelukis sejati.


Keesokan harinya setelah menaruh tasnya di kelas, Hinata ke ruang guru. Di depan kantor, dia melihat Sai mengusung bonsai buatan yang ditatanya ke mobil sekolah. Ino dan dua model lainnya terlihat berbincang dengan Kurenai-sensei. Mereka tampak luar biasa cantik. Pantas memang jika terpilih mewakili sekolah dalam ajang seperti putri-putrian.

Sai buru-buru memanggil Hinata ketika dilihatnya gadis itu melangkah ke kantor guru.

"Kau tidak ikut?" tanya Sai basa-basi. Aneh sekali baginya, tapi ada rasa senang melihat Hinata. Bahkan dia sampai berbasa-basi segala.

Hinata menggeleng. "Tidak. Semoga sukses, Sai."

Mata Sai sedikit terbelalak. "Eh..ah.." Sai mengusap tangannya ke celana panjangnya. Gerakannya terhenti ketika dia teringat sesuatu. Dia merogoh sakunya. "Hinata, ini!" ujarnya seraya menyerahkan sekeping benda kekuningan.

Hinata terhenyak. Dia hanya terpaku memandangi obyek kecil di tangan Sai. "Apa ini?"

"Tanda terima kasihku karena kau mau membantuku kemarin," pungkas Sai. Tak ada tanda-tanda Hinata akan mengambil bros kecil yang diberikannya, jadi Sai meraih tangan gadis itu dan membuka telapak tangannya.

Hinata tetap tercengang tapi kini ia mengamati bros kecil berbentuk kupu-kupu itu. Bros kecil itu cantik, berwarna kuning-kehitaman. Desainnya berbeda dengan kalung yang diperolehnya sebagai juara The Hottest Couple Of The Year, namun bahannya sama.

"Sai, ini cantik sekali," ujar Hinata terbata.

Sai tersenyum tipis. Lagi-lagi senyum itu tulus. "Aku mendesainnya kemarin. Kalau kau perhatikan, ada kemiripan dengan kalung yang kemarin kau dapat. Itu memang dari tembaga yang dibakar. Fresh from the oven," candanya setengah serius.

"Fresh? Kapan kau membuatnya?" lagi-lagi Hinata tak bisa menahan keheranannya.

"Kemarin, sebelum pulang. Omong-omong, aku ke mobil dulu," ujar Sai sebelum melangkah pergi. "Eh, Hinata, lukisan kain buatanmu cantik, lho," serunya sebelum berbalik lagi. Dengan ringan kaki jenjangnya bergerak lincah.

Seperti orang bodoh, Hinata terpekur di tempatnya berdiri. Dia bahkan lupa mengucapkan terima kasih. Sangat-tidak-Hyuuga-sekali. Semua Hyuuga sopan dan tahu adat. Yah, kecuali Neji kalau sedang marah dan taringnya keluar.


Neji tidak jadi menyapa Sai dan Hinata. Dia tak ada niat menguping, namun sisi tembok kantor dekat dengan mereka sehingga tubuhnya terlindung tetapi telinganya mampu menangkap pembicaraan mereka.

Neji mengenal Sai. Bagaimana pun mereka satu angkatan. Sedikit banyak bocah tinggi berambut coklat panjang itu tahu tentangnya. Dia tahu bahwa Sai termasuk anak yang susah mengungkapkan apa yang dirasakannya. Neji sadar cowok itu canggung.

Ketertarikan Sai pada Hinata mungkin tidak dalam artian romantis. Yang namanya rasa tertarik tidak selalu berujung pada romantisme, gumam Neji dalam hati. Orang lain bisa saja salah mengartikan perhatian Sai, yang mau susah-susah mendesain dan membakar tembaga yang dibentuk bros demi seorang gadis yang sudah memiliki pacar keren. Perasaan memang kompleks, malah sering susah didefinisikan.


TBC

Fire's Note: Wow, tenggang antara apdet chapter terakhir dengan chapter ini lama. Life has been hectic. Begitulah! Saya sudah nyicil nulis tapi tidak selesai-selesai. Pokoknya, yang terpenting cerita ini berhasil saya tulis dan teman-teman bisa membacanya. Tadinya saya pikir ini gak akan sampai 1000 words, eh, malah banyak words. Bahkan ini chapter terpanjang yang pernah saya bikin untuk satu chapter. Ada sisi Sai yang tidak jadi saya masukkan di chapter ini menimbang jumlah kata yang tidak sedikit. Tapi saya suka karakter Sai, jadi mungkin di sini bukan terakhir kali dia muncul. Akhir kata, happy reading!