Title: Kisah Sang Pangeran Dan Tuan Putri
Author: Firenze Firefly
Rating: T
Characters/Pairings: Sasuke-Hinata
Genre: Romance, Friendship
Warnings: AU, agak OOC mungkin. Selamat membaca cerita ini sebagaimana saya menulisnya. Cerita ini hanya diperuntukkan untuk hiburan semata.
Summary:

Chapter 4. Sasuke mengalihkan matanya pada Hinata. "Aku tak suka kau dekat-dekat dia," ujarnya seraya menunjuk Sai. "Kita tak butuh orang ketiga…" jempolnya menunjuk Sai, "…dalam hubungan kita!" AU. A sequel.

Disclaimer: Sekali lagi, Naruto bukan milik saya.

Chapter 4

.

Kelas Multimedia geger.

Siswanya adalah tipe yang tak asing dengan teknologi. Software terbaru dan dunia web bagaikan roti dan jus yang dijual dimana-mana, alias sudah jadi santapan sehari-hari. Kali ini yang menghebohkan kelas sebelas itu adalah beredarnya foto seorang idola yang sedang berciuman. Jika saja yang berciuman itu adalah Kanata Hongo, para siswa di kelas itu tak akan heboh. Lain cerita jika pelaku yang berciuman adalah Yang Mulia Sasuke Uchiha. Yang menggemparkan bukannya karena dia olahraga bibir dengan Hinata Hyuuga, melainkan karena seseorang yang jadi lawannya adalah orang yang tak akan pernah disangka siapapun. Naruto Uzumaki.

Foto itu beredar dua hari yang lalu. Tak jelas siapa yang mengedarkannya, tahu-tahu saja gambar itu sudah nampang di ponsel anak-anak.

Yang dibuat pusing tentu saja Sasuke. Dia geram dengan kemunculan gambar yang tak pernah dia duga akan diabadikan oleh orang iseng.

Naruto tak kalah kesal. Dia menjambak rambut pirangnya. Si rambut yang biasanya sudah mencuat ke mana-mana itu tambah kusut dan tak beraturan.

"Kok bisa, sih? Arghhh!" teriaknya frustasi.

Sasuke geram. Mendengar ucapan Naruto semakin membuatnya jengkel. "Buktinya bisa, Dobe!" bentaknya tak sabar.

"Ta-tapi, bagaimana bisa ada yang membidik kita waktu itu?" pekik Naruto panik. "Itu cuma kecelakaan. Kecelakaan!"

Walau wajahnya tampak tenang, dalam hati Sasuke sudah ingin membanting si pirang menyebalkan di hadapannya. Beberapa siswa yang berlalu lalang melihat mereka dan tertawa-tawa. Dengan tidak sopan, mereka bahkan tidak sungkan menunjuk jari. Sasuke menepuk wajahnya dengan telapak tangannya. Aduh, siapa pun yang mendengar pekikan Si Bodoh Naruto pasti akan menyangka yang tidak-tidak! Hal terakhir yang diinginkan Sasuke adalah merebaknya gosip bahwa ada apa-apa antara dia dan Naruto.

"Teme! Pasaranku bisa turun kalau begini," curhat Naruto. Dia menggeleng sedih.

Sasuke meninju lengan Naruto sampai temannya itu mengaduh kesakitan. "Kau! Bodoh!" gertak Sasuke. Giginya bergemelutuk karena menahan marah. "Foto memalukanmu beredar dan yang ada di kepala kosongmu hanya soal itu? Tsk, aku tak heran!"

Naruto balas memandang Sasuke sengit. Mata birunya mengejek Sasuke. "Itu foto kita berdua," ralatnya pelan-pelan, seolah menikmati tampang horor Sasuke.

Sasuke diam saja, tapi bahkan remaja sedingin itu juga bisa luruh ketika menghadapi masalah pelik. Mata hitamnya memancarkan sinar laser berisi kemarahan, panik dan galau. Sayang, Naruto sudah imun dengan tatapan Sasuke.

Foto yang dimaksud menampilkan duo sahabat itu sedang berciuman. Yah, lebih tepatnya sih itu secarik gambar dua anak laki-laki yang berada di akhir fase anak-anak yang saling membenturkan bibir dengan mata terbelalak. Sama sekali tidak mesra. Jika ditilik dari tampang dan seragam yang mereka pakai, Sasuke dan Naruto tiga ratus persen yakin jika hal memalukan itu terjadi ketika mereka menginjak kelas tujuh. Hn, tanpa melirik seragam maupun setting kelas yang terpampang pun, dua anak itu tetap ingat kapan peristiwa itu terjadi dengan persis. Siapa sih yang bisa melupakan kejadian memalukan plus menakutkan seperti itu? Aksi-menempelkan-bibir itu semestinya sudah diupayakan untuk terkubur dalam-dalam di otak mereka, namun peredaran foto melalui media ponsel itu membangkitkan lagi kenangan buruk itu.

Sambil menghela napas berat, Sasuke menghempaskan pantatnya di bangku dekat pohon di dekat Lab KKPI. Takut-takut, Naruto mengikutinya.

"Teme, bagaimana ini?" tanya Naruto pelan. Kemarahannya menguap. Sama seperti Sasuke, dia juga dibuat pusing.

"Hn!" gumam Sasuke tidak jelas.

"Jangan hanya, 'Hn' dong!" protes Naruto lemah. Remaja super aktif itu kini terduduk lesu.

"Untungnya hanya anak Multimedia yang tahu," gumam Sasuke. Dia memijit keningnya, kemudian menyeruput jus tomat kalengan yang dibawanya dari rumah. Tomat adalah buah favoritnya. Selain mengandung vitamin 'T', ternyata buah menggemaskan itu juga bagus untuk kesehatan bibir, dengan efek samping menenangkan hati. Diacuhkannya Naruto yang berjengit memandangnya. Si Matahari itu tak habis pikir kenapa Sasuke suka buah berasa asam itu. Sasuke tak peduli.

"Hanya anak MM saja?" ulang Naruto.

Sasuke mengangguk pelan. "Hn! Mereka menjamin bahwa foto kita tak sampai bocor ke kelas lain," jawab Sasuke.

Kata 'kita' membuat perut kedua remaja itu mulas. Rasanya terdengar begitu…gay. Tapi Sasuke dan Naruto doyan cewek, apalagi jika cewek itu berambut pink (untuk Naruto) dan berinisial Hinata Hyuuga (bagi Sasuke, yang kemudian disadarinya bahwa Hinata Hyuuga terlalu panjang untuk sebuah inisial). Ngomong-ngomong soal Hinata…

"Hinata sudah lihat foto itu, kan?" tanya Naruto tiba-tiba.

Sasuke tersedak jusnya. Sangat-tidak-Sasuke-banget. "Hinata!" serunya seakan teringat sesuatu. "Aku kok lupa," geramnya.

"Eh? Sasuke, bukannya tadi kau bilang anak MM sudah tahu," sahut Naruto ragu-ragu. Dia terheran-heran mendapati kejeniusan Sasuke seolah tak berarti.

"Kau sih, tanya lagi!" bentak Sasuke.

Naruto yang merasa tidak bersalah langsung meledak. "Hei, jangan melimpahkan kemarahanmu pada orang lain, dong!" sambar Naruto. Dia ikut berdiri.

Sasuke benar-benar kalut. Dia tak ingin pacar tersayangnya itu melihat foto itu. Walau Naruto berdiri sambil memandangnya penuh amarah, mata Sasuke melintasinya. Dia hendak beranjak mencarinya ketika speaker di atas mereka berbunyi.

"Perhatian, Sasuke Uchiha dan Naruto Uzumaki harap ke Ruang Guru untuk menemui Kakashi-sensei!"

Naruto yang biasanya super ceria bahkan kini kisut. Sasuke yang sudah pucat sejak masih dalam kandungan sekarang semakin pucat. Mereka berpandangan. Sepertinya Kakashi sudah tahu kasus mereka. Jika tidak, untuk apa dia memanggil mereka berdua?

Dengan segan Sasuke menyeret langkah melintasi parkiran guru. Berbagai perasaan berkecamuk di dadanya. Ugh! Remaja berambut hitam kebiruan itu berpikir yang macam-macam. Meski tidak kelihatan, tapi dia tegang. Naruto di sampingnya sudah berkicau menyampaikan ketakutan dan spekulasinya, membuat suasana hati Sasuke bertambah keruh.

Tak acuh, dia melayangkan pandangan ke taman di belakang Lab Biologi. Laboratorium itu menyeramkan, menurut banyak anak. Betapa tidak, toples-toples berisi ular, kadal, iguana, dan beberapa hewan lain yang sudah diawetkan dipajang berjejer di jendela kaca. Aura yang memancar dari sana gelap dan menakutkan. Karenanya, jarang ada yang sukarela lewat Lab. Tapi yang membuat Sasuke mengerutkan dahi tanda tak suka adalah mendapati bahwa saat itu pacarnya duduk di salah satu bangku beton.

Sang pacar, Hinata, duduk dan asyik bercengkerama dengan Sai, pelukis kebanggaan Konoha High yang sempat berkolaborasi dengannya beberapa waktu lalu.

Hinata telah melihat foto Sasuke yang berciuman dengan Naruto. Pertamanya dia tak percaya. Sasuke, Sasuke yang disayanginya tak mungkin melakukannya. Hinata mengira itu hasil rekayasa Photoshop, namun ternyata dugaannya salah. Foto di ponsel Karin itu otentik, alias asli.

Dengan perasaan galau dan bingung, saat istirahat gadis itu berjalan menuju kantin. Dia tak lapar, tapi belum mau bertemu Sasuke. Hinata masih syok. Tak dinyana, Sai memanggilnya. Seperti biasa, ada buku sketsa dan pensil di pangkuannya. Wajah cowok itu terlihat ramah, sehingga Hinata tak ragu menghampirinya.

"Wajahmu lebih muram dari biasanya," sapa Sai ceria. Dia menggeser pantatnya, mengundang Hinata untuk duduk di sampingnya.

Hinata hanya mengangguk. Sejujurnya, dia tidak tahu musti bersikap bagaimana menghadapi Sai. Cowok yang mirip Sasuke itu bermulut pedas dan tak sudi bermanis-manis kata.

Setelah meneguk air mineral dari yang ditawarkan Sai, Hinata merasa bahwa situasinya benar-benar konyol. Ada masalah dengan cowoknya, dan sekarang alih-alih meminta penjelasan Sasuke, gadis itu bersama cowok lain.

" Iya, ada masalah sedikit," jawab Hinata akhirnya.

"Sedikit saja sudah membuat wajahmu tertekuk, apalagi kalau masalahnya berat, wah!" sahut Sai ringan.

Hinata tidak murung lagi. Orang mana yang sempat murung bila dikomentari seperti itu? Terlebih jika sang pemberi komentar menyunggingkan senyum ceria.

"Hei, lupakan!" ujar Sai lagi ketika dilihatnya Hinata mematung. "Kau bertengkar dengan Sasuke?"

"Tidak," jawab Hinata pendek. Kenyataannya mereka memang bukannya tidak akur. Tapi tentu saja dia tak bisa memberitahu masalahnya pada Sai. Bagaimana pun itu masalah intern mereka. Entah kenapa walau Sai gemar melontarkan pernyataan pedas, melihat wajahnya sedikit banyak membuat Hinata tenang. Setidaknya Sai tidak menyambutnya dengan senyum palsunya. Dan, komentarnya selalu jujur meski menusuk. Anehnya, bila membandingkan Sai dan Sasuke, Hinata merasa jauh lebih mudah berinteraksi dengan Sasuke. Senyum simpul segera tersungging di bibirnya. "Yah, Sai, ada sedikit masalah tapi aku yakin kami bias menyelesaikannya," ujarnya mantap.

Sai manggut-manggut pelan. Dia kembali memainkan pensil di tangannya. Mata Hinata mengikutinya. "Kau suka sekali menggambar," celetuk Hinata.

Sai kembali menatapnya. Dia tipe remaja yang cuek, tapi ketika ada yang perhatian dengan kegemarannya menggoreskan pena dan kuas di kertas, diam-diam Sai selalu senang. "Ya, aku suka," balasnya lembut. Mata hitamnya yang biasanya seperti danau kelam kini bersinar. "Setelah lulus, aku berencana melanjutkan ke Desain Komunikasi dan Visual," imbuhnya bercerita.

Hinata terkejut. "Wah, aku tidak bisa membayangkannya."

Sai tertawa kecil, lepas dan karena merasa lucu dengan seruan Hinata. "Tidak boleh, ya, anak Otomotif melanjutkan ke bidang seni?"

"Ti-tidak, kok," sergah Hinata cepat, tidak ingin membuat Sai tersinggung.

Dan rupanya inilah yang membuat darah Sasuke mendidih.

Dengan hati panas dia menghampiri mereka berdua. Tak dipedulikannya Naruto yang jauh tertinggal di belakangnya.

"Menyingkir dari cewekku!" geram Sasuke.

Sontak Hinata dan Sai tersentak. Mereka terkejut –dengan caranya masing-masing- mendapati Sasuke marah. Bahkan mata onyxnya tampak merah.

"Kenapa? Kami cuma ngobrol, kok," balas Sai kalem.

"Hn!"

Sai menaikkan alis. Kali ini wajahnya tidak menampilkan senyum palsunya. "Masalah ya, jika pacarmu ngobrol dengan cowok lain?" cemohnya.

"Pertanyaan retoris," bentak Sasuke. Dia mengalihkan matanya pada Hinata. "Aku tak suka kau dekat-dekat dia," ujarnya seraya menunjuk Sai. Bahkan seorang Sasuke Uchiha melupakan kesopanan ketika dikendalikan amarah. "Kita tak butuh orang ketiga…" jempolnya menunjuk Sai, "…dalam hubungan kita!"

Tanpa disadari, Sasuke menaikkan suaranya. Hinata berjengit mendengarnya. Mendung segera menggelayuti wajah pucatnya. "Sasuke…" gumamnya sedih.

Rupanya Sai juga menyadarinya. Dia menutup buku sketsanya sampai berdebam. "Tega sekali kau membentak pacarmu," tegurnya.

Mata Sasuke kembali hitam. Remaja itu terkesiap. "Hinata, maaf," ujarnya buru-buru. Mata putih-lavender Hinata yang berkaca-kaca semakin membuatnya panik. Dia beringsut ke depan dan hendak meraih gadis itu ketika Naruto menyentaknya.

"Teme! Kita dipanggil Kakashi-sensei, tapi kau malah sempat berdebat dengan orang lain," sergah Naruto kesal.

Sasuke berusaha melepaskan tangan Naruto. Sedikit putus asa, dia mengutuk kenapa dia mau berteman dengan Naruto yang sangat tidak peka dengan situasi. "Sebentar!" gerutunya.

Dewi Fortuna belum berpihak pada remaja popular itu karena ketika dia menoleh lagi, Hinata sudah hilang dari pandangan.

"Nanti saja ngobrolnya, Bodoh!" maki Naruto. "Ayo menemui Kakashi-sensei!" lanjut Naruto seraya menarik Sasuke menjauh.

Yang lebih mengesalkan lagi, Sai hanya menaikkan alis melihatnya diseret Naruto.

.-.-.

"Sebagai Wali Kelas dan Ketua Jurusan kalian, aku berhak tahu apa yang sebenarnya terjadi," ujar Kakashi. Tidak seperti biasanya, kali ini kedua matanya terbuka, memperlihatkan warna irisnya yang berlainan. Ditatap mata yang biasanya terpicing itu membuat Sasuke dan Naruto agak gentar. Postur Kakashi 'SerSan' alias serius tapi santai.

"Soal foto itu, Sensei, uhm, ano…" Bahkan Naruto yang biasanya susah diam detik itu juga tergagap.

"Anda tahu soal foto kami, Sensei?" sambung Sasuke. Ketika Kakashi tersenyum dan matanya membentuk huruf U terbalik, tampang Sasuke langsung pias.

Dua remaja itu deg-degan menunggu vonis Kakashi. Pria jangkung yang rambutnya melawan gravitasi itu sering terlihat santai, namun ketika serius, Shino saja sampai tak berani bermain-main dengan serangga yang suka menempel di seragamnya.

"Aku bukan mau mengadili," tukasnya, mengagetkan mereka berdua. "Sepertinya foto kalian menimbulkan keresahan pada aktornya," Naruto dan Sasuke berjengit, "Karena itu aku bermaksud mengklarifikasi."

Betapa beruntungnya Kelas XI Multimedia memiliki seorang Kakashi. Di Lab Multimedia seluruh anak MM berkumpul dan memusyawarahkan foto ciuman Sasuke dan Naruto. Ternyata saat kejadian itu terjadi banyak ketidaksengajaan, yang baru diketahui beberapa tahun kemudian ketika mereka kelas sebelas.

Tanpa sengaja Shikamaru menyikut Naruto yang sedang beradu argumentasi dengan Sasuke, menyebabkan Naruto terjerembab ke depan dan membenturkan bibirnya ke bibir Sasuke. Sakura yang sedang memegang kamera digital berusaha memotret suasana kelasnya. Tak dinyana malah gambar Si Pirang dan Si Hitam yang tertangkap kameranya. Tak ada yang tahu fakta ini kecuali Sakura sendiri. Dia menyimpan foto itu di komputernya, dan baru beberapa waktu lalu memindahkannya ke ponsel. Rupanya beberapa anak tahu. Singkatnya kemudian, via bluetooth foto itu tersebar. Untungnya mereka tidak sampai mengunduhnya ke jejaring sosial. Dengan mempertimbangkan ketidaknyamanan Naruto dan Sasuke, Kakashi meminta supaya foto itu dihapus.

.-.-.

Ketika bel pulang berdentang, Sasuke lekas-lekas menghampiri Hinata. Seribu satu rencana sudah tersusun di benaknya untuk meminta maaf pada gadisnya itu. Kalau Hinata menghindar, Sasuke akan mencegatnya. Jika Hinata menolak melihatnya, Sasuke akan menghalangi pandangannya sampai hanya dia yang terlihat. Bila Hinata melengos, Sasuke akan…Hah, Hinata tidak akan pernah melengos! Sasuke memaki dirinya sendiri.

"Hinata, aku mau bicara," sambar Sasuke buru-buru.

Hinata tersenyum tipis, membuat jantung Sasuke jumpalitan, salto, roll depan dan belakang. "Aku juga. Sasuke, aku minta maaf karena…"

"Jangan!" potong Sasuke tangkas. "Jangan minta maaf!"

"Tapi aku…"

Sasuke sering bersikap 'holier-than-thou' tapi dia bukan manusia yang sempurna. Walau ekspresi yang ditunjukkannya nyaris nol, dia juga memiliki perasaan.

"Kita ngobrol sambil jalan, yuk!" ajak Sasuke, menawarkan kompromi.

Lagi-lagi mereka mampir ke kafe dekat sekolah mereka. Karena kafe itu berada di mall yang hanya dikunjungi oleh orang berdompet tebal, Sasuke tidak khawatir mengenai privasi mereka. Teman-teman mereka di sekolah tak akan berada di tempat itu.

Hinata berkata bahwa dia bersalah sudah membiarkan Sasuke bingung sendirian karena foto bermasalah itu. Gadis Hyuuga itu menyesal. Tapi itu belum seberapa. Dengan terang-terangan Sasuke menyatakan penyesalannya karena sudah bernada kasar pada Hinata dan Sai.

"Tapi aku tetap tak suka padanya," imbuh Sasuke keras kepala.

"Lho, Sai tidak bersalah, kan?" tanya Hinata heran. "Jangan-jangan kau cemburu," godanya, yakin sang pacar akan menangkisnya.

Sasuke terdiam, sampai-sampai Hinata khawatir. "Iya," ujarnya beberapa saat kemudian. "Aku cemburu padanya."

Hinata terkesiap, apalagi ketika Sasuke meraih tangannya dan menggenggamnya erat. Berbeda dengan sikapnya pada teman-temannya, Sasuke bisa sangat romantis ketika hanya berduaan dengan Hinata.

"Dan soal ciuman itu," Sasuke menatap Hinata lekat-lekat sampai gadis itu jengah. "Hanya kau orang yang ingin kucium, bukan Naruto."

TBC

Fire's Note: Saya terburu-buru mempost chaper tiga, karenanya saya lupa mencantumkan bocoran untuk chapter selanjutnya. Sebenarnya dari awal, saya hanya merencanakan cerita ini jadi empat atau lima chapter. Dan sekedar info saja, chapter depan adalah yang terakhir (wink).

Preview for the next chapter:

Sasuke menarik Hanabi. "Pst, laki-laki yang kau panggil om itu bakal membelikanmu apa saja," tunjuk Sasuke. Mata kelamnya menunjuk Itachi.