Title: Kisah Sang Pangeran Dan Tuan Putri

Rating: T
Characters/Pairings: Sasuke-Hinata
Genre: Romance, Friendship
Warnings: AU, agak OOC mungkin. Selamat membaca cerita ini sebagaimana saya menulisnya. Cerita ini hanya diperuntukkan untuk hiburan semata.
Summary:

Chapter 5. Takut kehilangan Hinata, Sasuke mengajak gadis itu kencan. Sayangnya, semuanya berantakan karena sang ibu, Itachi, Neji dan Hanabi malah ikut. AU. A sequel. Complete.

Disclaimer: Sekali lagi, Naruto bukan milik saya.

Chapter 5

.

Sasuke merasa capek. Lahir dan batin.

Penyebabnya salah satunya adalah karena beredarnya foto ciumannya dengan Naruto. Gara-gara itu sampai muncul masalah antara dia dan sang pacar tersayang. Saat si masalah masih bercokol, tanpa sengaja dia membentak Hinata. Sialnya, itu terjadi di depan cowok kelas dua belas yang sangat tidak disukai Sasuke: Sai. Kalau ditelaah, masalah yang terjadi seperti rantai dan beruntun. Untungnya Kakashi membantunya mengklarifikasi foto-ciuman-yang-jauh-dari-syur itu.

Tak heran kalau cowok bermata onyx itu merasa letih luar biasa. Setelah masalah ciuman itu beres, Sasuke menyadari satu hal: dia tak ingin hubungannya memburuk dengan Hinata. Cowok mana sih yang ingin bertengkar dengan kekasih yang disayangi? Apalagi bila sang gadis lemah lembut, berperangai halus dan berkesempatan menghabiskan banyak waktu dengan pelukis kelas wahid di sekolah! Sejak kelas sebelas, Hinata sering bersama Sai, entah mengerjakan lukisan untuk dilombakan, atau hanya saling bertegur sapa di koridor. Yang membuat Sasuke terusik, ketika insiden foto itu terjadi, Sailah yang menemani Hinata. Terang saja salah satu remaja terpopuler di sekolah itu marah bukan buatan.

Akhirnya sampailah dia pada kesimpulan, bahwa dia harus memperkuat ikatannya dengan Hinata. Secepatnya dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Bila ikatan batin di antara mereka sudah erat, Sasuke tidak khawatir lagi.

Sembari mengetik nama Hinata dan memperhatikan foto gadis itu, Sasuke berpikir. Berkali-kali mata hitamnya menelusuri profil Hinata di jejaring sosial, nomor ponselnya serta fotonya. Ponsel Sasuke canggih. Tinggal mengetik nama Hinata, seketika itu pula jaringan internet langsung menghubungkan cowok itu dengan jejaring sosial Hinata, nomor beserta fotonya.

Tak ingin ragu-ragu lagi, Sasuke mengecilkan volume televisi dan menelpon Hinata. Pada dering ketiga, suara Hinata menyambut telinganya.

"Ya, Sasuke?" sapa Hinata lembut.

Tanpa sadar Sasuke tersenyum kecil. "Kau sedang apa?"

"Aku membantu Hanabi belajar," jawab Hinata.

"Hinata, bagaimana kalau besok kita keluar?" ajak Sasuke. Dadanya sedikit berdebar. Maklum, selama ini mereka hanya bisa main sepulang sekolah. Hari libur keduanya disibukkan oleh keluarga masing-masing.

Suara kikik Hanabi terdengar.

"Eh?"

"Sabtu besok mumpung tidak ada ekstra."

"Boleh," sambut Hinata. Sasuke sudah membayangkan wajah gadis kalem itu. Pastilah saat itu gadis itu tersenyum lembut.

"Itu Hinata, ya?" tanya ibu Sasuke.

Sasuke nyaris terlonjak. Tiba-tiba saja Mikoto sudah berada di belakang sofa, berdiri menunduk dan memandang putra bungsunya.

Masih dengan ponsel menempel di telinga, Sasuke menjawab. "Iya, Bu, ini Hinata." Remaja itu memang tadinya menonton tv di ruang keluarga. Karena terlalu fokus pada suara pacarnya, Sasuke tidak memperhatikan sang ibu yang berjalan menghampiri.

"Kalian mau keluar?" cecar Mikoto lagi.

Sasuke mengangguk.

"Ah, kebetulan!" seru sang ibu. "Besok temani Ibu belanja, ya," pinta wanita cantik itu.

"Ibu, kami mau kencan," protes Sasuke segera.

Sayang Mikoto mengacuhkannya. Matanya yang mirip Sasuke berbinar-binar, wajah ayunya berseri-seri. "Apa salahnya menemani Ibu belanja? Kan tadi kalian sudah ketemu di sekolah," dalihnya.

Wajah Sasuke memerah. "I-itu lain, Bu!" ujarnya membela diri.

"Sasuke!" panggil Hinata, yang rupanya menyimak pembicaraan Sasuke dan Mikoto.

Buru-buru Sasuke memusatkan perhatian pada Hinata. "Barusan Ibu."

"Tak apa kok menemani Mikoto-san belanja," tukas gadis Hyuuga itu. "Kan kita sekalian jalan-jalan."

Sasuke menoleh pada ibunya. "Hinata bilang oke," katanya.

Mikoto tersenyum lebar.

Semua berawal dari tali sepatu.

Sasuke yang diam-diam menyukai Hinata mendapat ide dari kegemaran teman-temannya di sekolah. Mereka suka menyimpul tali sepatu teman-teman wanita di kelas. Pastinya tak ada yang menduga bahwa Sasuke menggunakan trik itu untuk mendekati Hinata. Entah bagaimana Shikamaru –salah satu cowok jenius di Sebelas MM- mengetahuinya. Sebelum masuk kelas Sasuke menalikan tali sepatunya dan Hinata, dan ketika pelajaran usai, dia pura-pura mencari sepatunya dan membantu Hinata mengurai simpul tali. Aksinya sempat terhenti ketika Hinata memergokinya. Sudah kepalang tanggung, Sasuke menyatakan rasa sukanya saat itu juga. Kadangkala, ketika isengnya kumat, Sasuke kembali menalikan sepatu mereka. Biasanya Hinata protes. Sasuke suka melakukannya. Wajah cemberut Hinata sungguh menggemaskan.

Rupanya hubungan mereka dimanfaatkan oleh anak-anak. Mereka melelang foto dirinya dan Hinata, mencetaknya di kalender, mug, dan lain-lain. Sasuke susah menebak, apakah Sakura, Ino, Karin dkk benar-benar cerdas atau licik. Atau kombinasi keduanya.

Keluarga Sasuke menerima Hinata dengan tangan terbuka. Mereka suka dengan profil Hinata yang sederhana, bahkan Itachi meminta supaya dikenalkan dengan kerabat Hinata. Sayangnya, mereka adalah Neji –yang notabene cowok tulen- dan Hanabi, bocah cantik pintar yang masih kelas lima SD.

Yang paling antusias dengan keberadaan Hinata adalah Mikoto.

Ibu Sasuke itu jatuh hati pada kekasih putra bungsunya.

Sasuke merasa tersisihkan melihat dua wanita yang dicintainya itu asyik memilih ini itu keesokan harinya. Sejak pagi mereka bertiga sudah menyusuri nyaris tiap pertokoan di mall, meski lebih tepatnya sebenarnya Mikotolah yang menyeret dua sejoli itu. Sasuke tidak habis pikir menyaksikan sang ibu memiliki tenaga luar biasa. Tapi, seperti kata orang-orang, kalau sudah belanja, wanita bisa jadi perkasa.

Sambil duduk di kursi yang disediakan toko, Sasuke hanya menunggu mereka. Mikoto terlihat sangat gembira. Tiap ada baju yang menarik matanya, dia mengambilnya.

"Dari dulu Ibu menginginkan anak perempuan," ujarnya riang. Dia mengambil sehelai gaun dan menempelkannya di tubuh Hinata. "Anak perempuan bisa didandani dengan baju-baju manis dan aksesoris lucu."

Sasuke manggut-manggut. Walau sebenarnya bosan diajak belanja, dia lega bahwa Hinata dan Mikoto cocok.

"Ah, Sasuke. Kalau Hinata didandani dengan model Goth, bagaimana menurutmu?" tanya Mikoto.

Tepat saat itulah Hinata keluar dari ruang ganti. Wajahnya sedikit memerah. Gaun pendek yang dikenakannya berwarna hitam, panjangnya sedikit di atas lutut. Hitam kontras dengan kulitnya yang agak pucat. Gaun itu memperlihatkan lekuk tubuhnya dengan sempurna, bahu rampingnya dan kulit mulusnya.

Mikoto bertepuk tangan.

"Mi-Mikoto-san, gaun ini tidak cocok…" ujar Hinata terbata.

Sebelum Hinata menyelesaikan kalimatnya, Mikoto sudah berseru, "Kau seperti boneka, Hinata. Cantik."

Sasuke yang terpana langsung mimisan.

Akhirnya Mikoto tidak jadi membelikan Hinata gaun itu. Dia memilih-milih gaun yang sesuai dengan kepribadian gadis muda itu. Dipilihkannya gaun berenda, berdesain manis dan berwarna pastel. Wanita itu menepis pernyataan Hinata bahwa baju-baju yang dibelikan untuknya sudah cukup.

"Aku senang mendadanimu," pungkas Mikoto. "Maklum, di rumah tidak ada anak perempuan. Lain kali kita keluar bersama lagi, bagaimana?"

Tentu saja Sasuke senang melihat keakraban dua wanita itu. Baru kali ini dia melihat Mikoto segembira itu. Sang ibu sangat bersemangat, seolah menemukan anak perempuan yang hilang. Walau nyaris sepagian itu Mikoto mencurahkan seluruh perhatiannya pada Hinata, Sasuke tidak protes. Hanya saja, sepertinya si ibu sudah mengubah status Sasuke: bukan sebagai anak tapi sebagai pelayan yang membawakan belanjaan.

"Bu, belanjanya sudah selesai, kan?" tanya Sasuke lemah. Kedua tangannya menjinjing tas belanjaan. Dia agak menyesal setuju menemani sang ibu belanja.

Mikoto menyunggingkan senyum keibuan. Wajah teduhnya membuat Sasuke tenang. "Belum, dong. Kan yang di lantai tiga belum kita jelajahi."

Sasuke ingin pingsan.

Berantakan sudah rencananya untuk memperkuat bonding antara dia dan Hinata. Sebaliknya, ikatan batin antara sang pacar dan ibu yang semakin kuat. Tapi bukan Sasuke namanya bila dia menyerah begitu saja.

Malamnya, lagi-lagi Sasuke menelpon Hinata. Dia tidak menghubungi gadis itu di ruang keluarga seperti hari sebelumnya, khawatir bila Mikoto mendengarnya dan malah mengajak belanja lagi. Karena itulah dia beranjak ke teras. Samar-samar didengarnya suara Itachi dari ruang keluarga.

"Hinata, capek tidak?" tanya Sasuke.

"Tidak, kok," sanggah Hinata. "Pasti kau yang capek, Sasuke, membawa banyak tas."

"Hn!" gerutu Sasuke. Wajahnya mengernyit mengingatnya. "Tapi aku masih ingin keluar denganmu."

"Tadi kan sudah."

"Kita keluar hanya berdua, Hinata. Hanya kau dan aku. Nonton, ke toko buku atau kafe. Beneran kencan," seru Sasuke agak keras, menyuarakan isi hatinya.

"Kau terdengar seperti putus asa," ujar Hinata pelan.

"Aku…" Sasuke terdiam. Dia mengambil napas. Latar di belakang Hinata terdengar agak ramai. Ada suara-suara bersahut-sahutan. "Aku ingin kita kencan, menikmati waktu berdua saja. Jujur saja, aku tak mau kecolongan dengan Sai."

"Sai? Apa hubungannya?" tanya Hinata tidak mengerti. Yang dia tahu Sasuke memang tidak menyukainya.

"Kau sering bersamanya. Bahkan saat ada masalah foto itu, dialah yang mendengarkan curhatmu," jawab Sasuke getir. Bayangan seorang pemuda bertampang mirip dirinya hinggap di kepala Sasuke. Genggamannya pada ponsel semakin erat.

"Ah, aku tidak curhat, kok. Kami hanya ngobrol saja," tepis Hinata.

"Jadi, Hinata, hari Minggu besok bisa tidak kita keluar?" tanya Sasuke penuh harap. Wajahnya yang biasanya tanpa ekspresi sekarang diliputi kekhawatiran.

Suara gemerisik terdengar. Detik berikutnya suara kencang Neji memekakkan telinga Sasuke. "Kau mau keluar dengan sepupuku?"

Kaget, Sasuke menjauhkan ponselnya dari telinga. "Hei, aku bicara dengan Hinata, bukan denganmu!" ujarnya galak.

"Kalian mau ke mana?" tanya Neji curiga.

Sering sekali Sasuke mendapat pemikiran bahwa Neji super protektif pada Hinata. Neji Hyuuga adalah cowok kalem yang jadi incaran para siswi di sekolah mereka, tapi Sasuke tidak percaya pada stereotip itu. Neji yang dikenalnya adalah laki-laki galak dan judes –kalau sudah menyangkut Hinata.

"Ke mall, nonton film," jawab Sasuke, letih. Dia memainkan tomat di tangannya.

"Tidak dengan ibumu lagi?" cecar Neji.

"Dengan paman dan bibiku," bentak Sasuke kesal. "Ya tidak, Neji!"

"Kalau begitu aku ikut!" putus Neji.

Ada suara tergagap dan mencicit di dekat Neji.

Sasuke ternganga.

Ponsel hitamnya hampir terjatuh ketika seseorang menepuk bahunya dari belakang. Sasuke kaget. Itachi sudah berdiri menjulang di belakangnya. "Mau dolan, Sasuke?" sang kakak meringis. "Aku ikut juga!" serunya.

Sasuke sebal. Pertama, kencannya batal karena sang ibu ikut dan mengajak belanja. Kedua, Neji memutuskan kehadirannya dibutuhkan demi menjaga Hinata. Ketiga, Itachi ikut-ikutan. Sasuke tidak keberatan dengan keusilan Itachi. Asal jangan sekarang!

Sayang doa Sasuke tidak terkabulkan. Dengan santai Itachi mengambil ponsel Sasuke dan menyapa orang di seberang.

"Lho, ini Neji? Kukira Hinata. Ya ya, kita keluar bareng saja," ujar Itachi.

"Kak Neji, ikuuuut!" suara anak perempuan lain masuk ke telpon.

"Maaf, Itachi-san, itu Hanabi," kata Neji memberitahu.

Seakan mendapat ide cemerlang, Itachi tersenyum lebar. "Ajak saja. The more the merrier," cetusnya.

"Kyaaa…"

Sepertinya Neji menekan tombol loudspeaker dari tadi. Suara-suara dan rentetan pekikan terdengar jelas.

Sasuke mematung. Dia mendapat firasat buruk bahwa kali ini kencannya gagal lagi.

Itachi menjemput The Hyuugas di rumah mereka. Pria itu tetap menguncir rambut hitamnya yang panjang. Kaos, jaket dan jeans yang dikenakannya membuatnya terlihat santai namun seksi.

Keempat penumpang lainnya tidak berdandan heboh. Meski begitu, para pengunjung mall tetap memberi apresiasi. Mereka mencuri pandang pada para makhluk menyilaukan itu.

"Jadi, ini yang namanya Hanabi," ujar Itachi ramah. Si sulung itu memang charming.

Hanabi tersenyum. Daripada dengan Hinata, bocah SD itu lebih mirip Neji. Rambutnya coklat, sama dengan sang sepupu. Sama seperti keluarga Hyuuga lain, wajah Hanabi juga teduh dan matanya nyaris putih. "Iya, namaku Hanabi, Om," balasnya sopan.

"O-om?" mata Itachi sedikit terbelalak.

Yang lain tertawa kecil. Bagi anak seumuran Hanabi, Itachi memang terlihat seperti pria dewasa yang layak dipanggil 'om' atau 'paman'.

"Hanabi, sebenarnya Itachi penasaran padamu, lho," ujar Sasuke. Sebuah cengiran menghiasi wajah tampannya.

"Eh, kenapa?" tanya Hanabi. Mata bulatnya penuh tanda tanya.

Sebelum Sasuke sempat berkomentar, Itachi buru-buru menyahut. "Hanya ingin tahu adik Hinata," ujarnya cepat.

Anak normal lain pasti akan memutar mata mendengar pernyataan Itachi. Tapi karena Sasuke Uchiha termasuk anak luar biasa, dia hanya bergumam 'Hn!'.

Neji mengangguk. "Maaf, Hanabi ingin ikut."

Hanabi menarik lengan Neji dan memeluknya erat. "Pokoknya aku ikut Kak Neji jalan-jalan kemana pun," tegasnya. "Boleh, kan, Om?"

"Panggil saja Itachi-san," tegur Hinata, meski sebenarnya dia ingin tertawa keras mendengar sang adik memanggil Itachi dengan sebutan itu dan melihat pria yang paling tua diantara mereka itu berkedut.

"Lho, dia kan memang sudah om-om," bantah Hanabi polos.

Sasuke mendorong bahu Hanabi dan menggiringnya ke depan poster-poster film. "Orang yang kau panggil 'Om-om' ini bisa mentraktirmu apa saja, lho," bisik Sasuke.

Layaknya semua Hyuuga, Hanabi juga sangat sopan. Peringainya halus seperti Hinata. Tapi anak sekecil itu terluka harga dirinya mendengar ucapan Sasuke. Hidung kecilnya mengembang tidak suka. "Aku juga punya uang, kok," sahutnya ketus. "Memang kenapa kalau Om Itachi mau mentraktir kita?"

Sasuke geleng-geleng. Gadis cilik itu…lebih pantas jadi adik Neji. Sepertinya Sasuke harus memperingatkan Hinata supaya Hanabi tidak terlalu sering berinteraksi dengan sang sepupu. "Kakakku itu tidak keberatan membelikanmu apa saja. Kau boleh minta apa pun," tukasnya meyakinkan.

Hanabi meneliti wajah Sasuke. Dengan hati-hati dia berkata, "Tapi kata Kak Neji, jangan mau saja dibelikan orang. Bahaya! Kalau mau minta sesuatu, hanya pada Kak Hinata atau Kak Neji," tegasnya.

Hahh,kecil-kecil cabe rawit! Sasuke mendengus dalam hati. Hanabi layaknya duplikat Neji. Boleh saja bocah SD itu masih kecil dan bertampang malaikat, tapi lama-lama dia bisa berubah jadi setan! Sasuke sungguh-sungguh khawatir.

Karena Hanabi masih kecil, dia tak bisa sembarangan menonton film. Neji mengalah. Dia memilih menemaninya. Sebagai orang paling dewasa, Itachi memilih keputusan terbaik: membiarkan Sasuke dan Hinata di studio sebelah, sedang dia sendiri bersama duo Hyuuga lain.

Sasuke sengaja memilih deretan kursi sebelah atas. Begitu dia dan Hinata duduk, lampu dipadamkan dan beberapa trailer menanti untuk ditayangkan, Sasuke segera melingkarkan lengan di bahu Hinata. Suasana yang gelap menyembunyikan wajah keduanya yang sama-sama panas dan memerah.

"Beginilah kencan, hanya kau dan aku," bisik Sasuke.

Perlahan Hinata menyandarkan kepala di bahu kekasihnya. "Hanya kita berdua, ditemani orang asing yang ikut menonton," imbuhnya berkontradiksi.

Sasuke tertawa kecil. "Aku…sangat menyayangimu," ujarnya. Ketika Hinata tak juga memberikan respon, dia mulai resah. "Hinata?"

"Aku juga Sasuke, sayang padamu," balas Hinata lembut. "Kadang aku masih tak percaya bahwa cowok tercakep di sekolah juga suka padaku. Rasanya seperti mimpi."

Sasuke mengelus rambut Hinata, yang menurutnya lebih halus dari sutra. "Dan aku tak percaya seorang bidadari mau denganku. Dulunya kukira kau tak bisa kuraih."

"Aku tak secantik itu," sanggah Hinata malu. Lagi-lagi dia bersyukur lampu bioskop sudah padam.

"Ah iya, kau lebih cantik lagi," balas Sasuke. Dia menikmati ngobrol dan bergurau dengan Hinata. Tak seperti yang diduga kebanyakan orang, Sasuke tidak sedingin penampilannya. Dia juga manusia yang manusiawi.

Manusia yang bisa bahagia karena bersama gadis yang disukainya, cemburu ketika gadisnya bersama cowok lain, dan gelisah saat dikiranya orang lain bisa mengambil tempatnya di hati sang pujaan hati.

The End

Fire's Note : Tamattt! Seperti yang saya utarakan di chapter sebelumnya, cerita ini kumpulan one-shot yang saling berhubungan dan tidak panjang. Saya berterimakasih untuk teman-teman yang sudah meluangkan waktu untuk membaca, mereview, mengalert dan menambahkan cerita ini ke dalam daftar favorit mereka. Setelah ini saya membuat one-shot antara Itachi dan Neji. Genre yang saya pilih adalah Shonen-Ai. Saya paham ada yang agak keberatan dengan cerita yang bergenre tidak straight. Dengan mempertimbangkan itu, sengaja saya tidak akan mempublishkannya di Kisah Sang Pangeran Dan Tuan Putri dan menjadikannya side story terpisah. Ceritanya akan berpusat antara Neji dan Itachi dengan sedikit hint Sasuke, Hinata dan Sai.

Preview:

"Ganti dong avatarmu! Kalau profil picturemu bergambar kau dan Hanabi, cewek-cewek pada menyingkir," kritik Tenten. Neji terbelalak.

"Bersediakah anda mengkonfirmasi hubungan anda dengan Itachi Uchiha?" In relationship? Neji berdebar, apalagi ketika pesan dari Itachi muncul di ponsel dan chatnya.

The Perfect Work Of Art. "Aku beli lukisan Hinata, berapa pun harganya!" tukas Sasuke tegas. Sai hanya memandangnya ogah-ogahan. "Aku tak akan menjual lukisan ini, Sasuke. Lukisan ini tak ternilai harganya."

Coming soon.