Minna~ ketemu lagi nih, sama Nadeshiko di Chapter 2 : Jigoku Shoujo VariaVongola Version. Kelihatannya nih Chap. Udah nunjukin sifat asli Nadeshiko yang sebenernya, yaitu sukanya buat cerita angst. Moga – moga suka ya~~~ Selamat menikmati !
Sebelum Syuting :
Hibari : Nadecchi, aku harus pura – pura nangis sama bunuh diri, nih ?
Nadeshiko : Ya iyalah, liat aja skenarionya gimana, Kyouya…
Hibari : *Terpuruk* Yah, padahala aku nggak suka kalo jadi herbivore…
Nadeshiko : *Nepuk – nepuk bahu Hibari* Sudahlah, ini kan cuma akting..
Lussuria : Aih~~ Squ-chan~~ Jangan lari dong~~~ Katanya mau didandanin~~
Squalo : VOOOOIII ! NGGAK AKAN PERNAAAAHHHH ! *Lari*
18 n Nadeshiko : *Sweatdrop*
Xanxus : Woi, aku harus tampil di Chapter berapa nih ? *Ganggu aja*
Nadeshiko : Ada deh.
Dino : Yah, masa aku harus pura – pura pacaran sama Tsuna, sih ? Aku kan pacarnya Kyouya….hiks…hiks…
Nadeshiko : C-Cuma sementara kok, Dino. Selesai Syuting sana pacaran lagi sama Kyouya.
Hibari : Jangan telat…atau, kami korosu *Death glare*
Dino : I-iya, iya, Kyouya…. *Merasa terancam*
Nadeshiko : Baiklah, kita mulai sekarang aja, syutingnya.
All : (VOI) + BAIKLAHHH !
Selamat menikmati !
Chapter 2 : Cinta terlarang. Second Revenge : Hibari's Revenge
Hibari Kyouya, penguasa Namimori sedang berjalan – jalan di pusat perbelanjaan di Namimori. Ketika itu, ia merasa cukup lelah. Maka, ia memutuskan untuk singgah sebentar di sebuah café. Saat ia sedang menikmati Coffee Latte yang dipesannya, ia mendengar 3 orang gadis berbicara tentang sebuah hal yang…aneh.
"Hei Rika-chan, kamu tahu Hell Communication ?"
"Oh, tentu saja Mina-chan. Situs yang baru itu, kan ?"
"Ya, situs yang hanya bisa diakses pukul 12 malam. Katanya kalau kita memasukkan nama orang yang kita benci, katanya gadis dari neraka akan membalaskan dendam kita."
"Wah, kamu sudah pernah mencoba ?"
"Belum, soalnya aku kan tidak dendam pada siapa – siapa."
"Benar juga, ya…"
Meskipun bagi seorang Hibari Kyouya situs seperti itu tidak menarik perhatiannya, entah kenapa ia tetap mendengarkan pembicaraan gadis – gadis itu tentang Hell Communication.
-OooOooO-
"Selamat siang, Kyouya !" Suara itu terdengar ketika Hibari memasuki ruangannya. Sorot mata Hibari melembut sedikit ketika melihat siapa yang menyambutnya itu.
"Haneuma…"
"Kyouya, ayo kita latihan sekarang ! Tadi kamu yang minta, kan ?" Hibari mengangguk. "Baiklah, ayo kita keluar." Dino berjalan keluar dari ruangan itu, sementara Hibari mengikutinya dari belakang. Tanpa disadari oleh Dino, di bibir Hibari terkembang sebuah senyum simpul, senyum bahagia.
-OooOooO-
"Hah…hah…tetap kuat seperti biasanya, Kyouya…" Dino terengah – engah. Hibari sudah meninggalkan segaris luka di dahi Dino. Sementara itu, Romario berdiri di kejauhan menatap boss-nya berlatih bersama muridnya. Tentu saja kehadiran Romario disitu untuk mencegah Dino masuk rumah sakit gara – gara dihajar oleh Hibari.
Sudah 4 jam sejak mereka berdua mulai berlatih. Hibari juga sudah mulai kelihatan agak lelah karena bertarung selama 4 jam non-stop bersama tutornya.
"Kyouya, sebaiknya kita bersitirahat dulu," Usul Dino. Hibari tidak berkata apa – apa, ia hanya menghentikan serangannya dan berjalan mengikuti Dino.
"Silahkan Boss, Kyouya-san.." Romario menyerahkan handuk dan coca cola ke Hibari dan Dino.
"Ah, terima kasih Romario." Dino mengambil cola itu dan duduk sambil bersandar dip agar kawat yang ada di atap. Hibari mengikutinya dan duduk disebelahnya. Dino agak kaget dengan hal ini, namun ia tetap bersikap tenang.
Sambil minum, Hibari masih memikirkan timing yang tepat untuk mengajak Dino jalan – jalan di sekitar Namimori, berhubung hari ini ia tidak ada kerjaan. Namun, baru saja Hibari akan berbicara padanya…
"Er…Haneuma.."
TRRRR
"Ah, maaf Kyouya, aku ada telpon." Bunyi telpon yang barusan mengganggu pembicaraan Hibari dengan Dino. Dalam hati, Kyouya mengutuk si penelpon yang sudah memotong kata – katanya.
"Ah, iya. Aku mengerti. Aku akan segera kesana sekarang, oke ? Tunggulah.." Suara Dino tidak terdengar seperti suara orang yang berbicara soal urusan bisnis, melainkan seperti sedang berbicara dengan seorang teman.
"Kyouya, aku harus pergi sekarang. Latihan hari ini cukup sampai disini." Dino berdiri, dan hendak meninggalkan Hibari sendirian di atap. Tapi…
"Siapa ?" Tanya Hibari. "…apa kau ada pekerjaan lagi ?"
Dino menggeleng, lalu tertawa kecil dan mengacak – acak rambut Hibari. "Bukan, Kyouya. Itu dari Tsuna. Ia memintaku untuk menemuinya."
DEG. Jantung Hibari langsung berdetak dengan kencang ketika mendengar nama 'Tsuna' diucapkan oleh Dino. Itu membuat hatinya sakit. Sakit sekali.
"Baiklah kalau begitu aku pergi dulu, ya. Dah, Kyouya !" Dino dan Romario langsung membuka pintu atap dan meninggalkan Hibari sendirian disana.
"Bodoh. Apa kau tak menyadari alasanku memintamu latihan ?" Suara Hibari terdengar gemetaran. Memang tidak salah kalau Hibari kesal. Tujuan Hibari meminta Dino berlatih hari ini adalah untuk mengajaknya jalan – jalan berdua, agar ia bisa bersama dengan Dino lebih lama daripada biasanya.
"Apa…apa..kau tak menyadari bahwa aku begitu merindukanmu ?" Hibari menutup wajahnya dengan menggunakan telapak tangan, dan menangis.
Hari itu, jam itu, pada detik itu, seorang Hibari Kyouya menangis untuk yang pertama kalinya dalam seumur hidupnya.
Keesokan harinya, Hibari meminta Dino untuk berlatih lagi, tapi tanpa ditemani oleh Romario. Kali ini, ia benar – benar sudah bertekad untuk mengungkapkan perasaannya kepada Dino. Meskipun bagi Dino permintaan Hibari itu agak aneh karena ia meminta untuk tidak mengajak Romario, Dino tetap menuruti keinginan muridnya itu.
-OooOooO-
"Ada apa kau memanggilku hari ini, Kyouya ?" Dino bertanya pada Hibari yang berdiri diam di depannya tanpa memegang tonfa yang biasanya selalu ia gunakan untuk berlatih bersama Dino.
"Haneuma…aku…" Hibari maju, kemudian mengangkat kepalanya, dan menunjukkan sorot mata lemah dan sedih kepada Dino. Dino sedikit tersentak melihat ekspresi Hibari yang sebelumnya tak pernah ia lihat.
"K-kau kenapa, Kyouya ? Hari ini kau tidak terlihat seperti biasanya. Bahkan kau menyuruh agar Romario tidak bersamaku. Apa yang terjadi ?" Tanya Dino khawatir sambil memegang bahu Hibari, dan balas menatap matanya.
Hibari menarik nafas panjang, lalu mulai berkata. "Haneuma…aku…mencintaimu.." Hibari mengatakan hal itu kepada Dino dengan muka memerah.
Dino terdiam dengan mata melebar, kemudian tertawa pahit. "Hahaha…kau bercanda, kan, Kyouya ? Hahaha…lucu sekali.."
Hibari menggelengkan kepalanya pelan, membuat Dino menghentikan tawanya itu. "K-kau serius ?" Ia bertanya lagi, berusaha memastikan bahwa pendengarannya tidak salah.
"Sejak kapan aku pernah bercanda ?" Perkataan Hibari yang barusan mematikan keraguan dari hati Dino. Membuktikan bahwa sebenarnya Hibari sangat mencintainya.
"….."
"Haneuma ?"
"…Kyouya…maaf…aku…aku tidak bisa.." Ucap Dino setelah keheningan diantara mereka padam dan hilang.
"Aku akan lakukan apapun agar aku bisa bersamamu…" Hibari menggenggam kedua tangan Dino. Tapi ia malah memalingkan muka.
"Tak ada gunanya, Kyouya. Aku…aku…sudah memiliki Tsuna. Aku tak bisa bersamamu… maafkan aku…" Hibari menundukkan kepalanya. Rambut hitamnya menutupi wajah.
'Tsuna ? Jadi…itukah alasannya kenapa ia meninggalkanku sendirian kemarin ?'
"Kyouya….maafkan aku…eh Kyouya ?" Dino kaget karena tiba – tiba Hibari berlari menjauhinya.
'Dasar bodoh. Aku mencintaimu sepenuh hati…tapi kau malah mencintai Sawada yang ceroboh itu… kau bodoh, Haneuma…'
Hibari berlari, dan terus berlari menjauh dari Dino dengan butiran air mata yang mengalir dengan deras.
Bersamaan dengan angin yang berhembus lirih, sebuah kata terucap dari mulut Dino. "Maafkan aku, Kyouya…"
Karena kelelahan, Hibari berhenti di sebuah gang gelap dan menarik nafas panjang. Nafasnya tersengal – sengal karena ia berlari sambil memendam perasaan sedih, kesal, dan cinta yang tak terbalas.
"Rupanya sejak awal, ini adalah cinta yang terlarang." Hibari duduk dan mengistirahatkan tubuh dan pikirannya sambil bersandar di dinding bata gang itu. Dalam otaknya sekarang, ia memikirkan bagaimana cara untuk membuat ia dan Dino bersama selamanya entah dimana. Tapi, entah kenapa ia tak sengaja teringat tentang percakapan 3 orang gadis tadi siang.
Flashback
"Hei Rika-chan, kamu tahu Hell Communication ?"
"Oh, tentu saja Mina-chan. Situs yang baru itu, kan ?"
"Ya, situs yang hanya bisa diakses pukul 12 malam. Katanya kalau kita memasukkan nama orang yang kita benci, katanya gadis dari neraka akan membalaskan dendam kita."
"Wah, kamu sudah pernah mencoba ?"
"Belum, soalnya aku kan tidak dendam pada siapa – siapa."
"Benar juga, ya…"
End of Flashback
"Hell…Communication ?" Nama situs itu terlintas di otak Hibari.
'Kenapa aku tidak..mencoba mengirimkan Sawada ke neraka ? Ah, itu ide yang bagus. Tapi, kalau nanti, imbalannya adalah jiwaku juga dimasukkan kedalam neraka, itu sama saja ! Aku tetap tak bisa bersama dengan Dino. Ah, tunggu. Bagaimana kalau….aku menuliskan nama…Dino ?'
Hibari tetap duduk disitu, dengan aneka pikiran yang memenuhi otaknya yang terasa penuh, sangat penuh.
-OooOooO-
Pukul 00.00
Dengan tangan gemetaran, Hibari menuliskan nama 'Dino Cavallone' di kolom situs itu. Tak lama kemudian, sebuah tulisan muncul dan menggantikan kolom nama di situs Hell Communication.
Aku terima pesanmu
Hell Girl
Lalu, di depan Hibari muncullah seorang gadis(?) yang mengenakan yukata berwarna merah, dengan mata merah membara dan rambut hitam yang panjang. Segera saja Hibari menyadari siapa sosok yang berdiri di depannya.
"Apa kau…gadis neraka ?"
Gadis itu mengangguk pelan. "Jika kamu mengutuk seseorang, maka 2 lubang akan digali. Maka, setelah kamu mati nanti jiwamu akan masuk kedalam neraka juga." Jelas gadis itu.
"Apa kau yakin ?" Gadis neraka itu bertanya lagi kepada Hibari. Hibari terdiam sejenak, lalu mengangguk lemah. "Ya…"
Mata sang gadis neraka tampak seperti ia mengulang lagi pertanyaan itu. Hibari tersenyum pilu. "Aku akan segera menyusulnya…."
"Baiklah, kalau begitu…"
Dendammu akan terbalaskan…
-OooOooO-
Dino baru saja kembali setelah meeting. Ia segera masuk kedalam kamarnya karena tubuhnya terasa sangat lelah. Namun, ketika ia memasuki kamarnya, ia melihat seorang wanita cantik berkimono, seorang gadis kecil, seorang pemuda yang matanya tertutupi oleh rambut, dan seorang pria botak.
Dino terperanjat. "S-siapa kalian ?" Ia bertanya pada orang – orang di depannya itu.
"Aku sebenarnya tak rela memberikan siksaan padamu.."Kata wanita cantik itu dengan sorot mata yang sedih.
"Shishishi…aku juga." Pemuda yang matanya tertutupi rambut itu menyetujui perkataan si wanita.
"Nona Ai juga melarang kita untuk menyiksa dia." Pria botak itu mengikuti pembicaraan 2 orang yang lainnya.
"Kelihatannya si pengirim juga mencintai dia sehingga meminta Ai untuk tidak menyiksa dia sebelum ia mengirimkan orang ini ke neraka." Sahut si gadis kecil itu.
"S-sebenarnya, kalian ini siapa ?" Tanya Dino sekali lagi.
Tak lama kemudian, di depan Dino muncul seorang gadis remaja beryukata dan bermata merah membara. Gadis itu menatap Dino dengan tatapan sedih dan iba.
"Aku tidak punya perkatan apapun untukmu." Gadis itu mulai berbicara. "Akan tetapi, ini adalah permintaan dari orang yang sangat mencintaimu, Hibari Kyouya untuk mengirimkanmu ke neraka." Jelas gadis itu.
"K-ke neraka ?" Tanya Dino lagi dengan mata ketakutan. "Apa maksudmu ?"
Gadis itu menghela nafas. "Ia sangat mencintaimu, dan menginginkan agar kamu bisa bersama dengannya selamanya di neraka."
"Kyouya…"
"Aku sebenarnya tak rela kalau harus mengirimkanmu ke neraka." Lanjut gadis itu lagi.
Gadis itu mengangkat tangan kanannya. "Kau mau coba mati ?"
-OooOooO-
Ruang Resepsi, hari berikutnya
"Maafkan aku, Cavallone. Aku akan segera menyusulmu…tenang saja." Hibari mengambil pisau yang ada didekatnya, lalu mengiris pergelangan tangannya. Darah mulai mengalir dengan deras.
Dengan kekuatan terakhirnya, Hibari tersenyum kecil dan berkata lemah. "Aku…sangat mencintaimu…Dino…selamanya…"
Setelah itu, tubuh Hibari rubuh di lantai bersamaan dengan nafasnya yang telah habis. Darah mengotori lantai ruang resepsi milik komite kedisiplinan yang bersih itu.
Tak lama setelah Hibari mencabut nyawanya sendiri, Kusakabe, wakil dari Hibari masuk kedalam ruangan itu untuk menyerahkan pekerjaan Hibari yang belum selesai. "Kyou-san ini…KYOU-SAN !" Kusakabe langsung panik melihat pimpinannya tergeletak tak bernyawa dengan bersimbah darah di lantai.
Tsuna, Gokudera, dan Yamamoto yang mendengar teriakan Kusakabe langsung menyusul kedalam ruang resepsi itu. Mereka bertiga shock melihat Hibari yang sudah tak bernyawa tergeletak dengan luka di pergelangan tangannya. Mereka langsung tahu bahwa Hibari mencabut nyawanya sendiri dikarenakan oleh pisa yang Hibari genggam di tangan kanannya.
Tsuna, yang merasa sedih langsung saja menangis tersedu – sedu melihat temannya meninggal. Apalagi, setelah itu Romario menelpon Tsuna dan mengatakan bahwa Dino menghilang entah kemana. Tangisan Tsuna pun bertambah keras.
Hari itu, Tsuna sudah kehilangan 2 orang yang sangat berharga dalam hidupnya. Dino Cavallone, kekasihnya, dan Hibari Kyouya, temannya.
(End of Hibari's Revenge)
To Be Continued…
Next Chapter : Hilangnya seorang penghalang. Third Revenge : Mukuro's Revenge
Behind the Scene
Scene 1
"Silahkan Boss, Kyouya-san.." Romario menyerahkan handuk dan coca cola ke Hibari dan Dino.
"Ah, terima kasih Romario." Dino mengambil cola itu dan duduk sambil bersandar dip agar kawat yang ada di atap. Hibari mengikutinya dan duduk disebelahnya. Dino agak kaget dengan hal ini, namun ia tetap bersikap tenang.
"Uhuk ! Uhuk !"
Nadeshiko : CUT ! CUT ! Kyouya-kun kenapa ?
Hibari : Uhuk ! Uhuk ! Uhuk ! Aku nggak suka Cola !
All : ….
Scene 2
Gadis itu menghela nafas. "Ia sangat mencintaimu, dan menginginkan agar kamu bisa menjadi seme-nya selamanya."
"Kyouya…"
"Aku sebenarnya tak rela kalau ia harus menjadi uke-mu. Aku lebih suka kalau aku yang menjadi uke-mu, Dino Cavallone."
Nadeshiko : CUT ! Mammon, kamu baca dialog yang mana, sih ?
Mammon : *Muka polos* Eh ? Dialog yang diberikan oleh Lussuria
Nadeshiko : LUSSURIAAA !
Nah, untuk bonus, Nadeshiko kasih preview buat Chapter 3, deh…
Mukuro memandang Reborn dengan tatapan benci dan penuh dendam. Arcobaleno itu sudah menghalangi tujuannya untuk mendekati Tsuna, untuk menguasai tubuh Tsuna. Tapi, setiap kali ia akan berhasil, Arcobaleno itu selalu saja menghalangi dirinya entah dengan cara apa.
Mukuro sangat membencinya, dan Mukuro ingin agar dia bisa dengan mudah menguasai tubuh Tsuna sendirian. Tanpa adanya pengganggu, tanpa adalah penghalang.
Nah, Chap 2 selesai ! Nadeshiko senang deh~~~ Oh ya, untuk Chapter 3, kan tokoh utamanya Reborn sama Mukuro, nah, disini, Reborn-nya dalam sosok Adult lho, bukan dalam bentuk bayi.
R&R please !
NB : Um, Nadeshiko minta maaf, mungkin Chapter 3-nya agak telat, soalnya Nadeshiko banyaka kerjaan + modem-nya nggak ada pulsa…Maaf ya, minna…. Mungkin tanggal 26 Juli 2010 Nadeshiko baru bisa Update Chapter 3
