Ketemu lagi Minna~~ Maaf ya, Chapter 3-nya telat. Nadeshiko lagi banyak pr nih, terus modem internetnya juga lagi habis pulsanya. Tapi, tenang aja….Insya Allah Chapter 4 nanti nggak begitu telat deh… Moga – moga semuanya suka Chapter yang ke-3. Selamat Menikmati !
NB : Mulai Chapter ini, Behind the Scene-nya sama adegan yang lucu – lucu nggak bisa terlalu banyak, soalnya ceritanya mulai menuju kearah angst.
Sebelum Syuting :
Nadeshiko : Kyouya-kun…jangan gerak – gerak, dong. Nanti bedaknya nggak rata… *Dandanin Hibari*
Hibari : Uhhh~~~ *Cemberut* Kemarin aku pura – pura mati, sekarang pura – pura jadi mayat terus tiduran di peti mati… Uh~~
Nadeshiko : Udah deh, nggak usah down gitu… Kyouya-kun cukup tiduran di peti mati pakai jas, terus mukanya pasang agak – agak senyum gitu…Cuma gitu kok, peranmu… tenang aja..
Hibari : Iya deh…. *Kecewa*
Dino : Kyouya ! *Berlari dengan gembira*
Hibari : ….*Sigh*….
Dino : *Langsung peluk – peluk Hibari* Sayang, ya, Kyouya…Kita nggak bisa main di Chapter yang sama….
Nadeshiko : Hei, Kuda poni *Julukan Nadecchi buat Dino* ! Kalo mau kencan sama Kyouya, nanti abis syuting. Jangan ganggu orang !
Dino : *Sigh*…iya deh….Kyouya ! Nanti kutunggu ya, abis syuting. Daah !
Hibari : Aku lebih milih kencan sama si Burung Baseball (Yama), kalo nggak sama si Kucing Dinamit (Goku), Singa Kecil Ceroboh (Tsuna), Hiu Nyasar (Squalo), Kangguru Extreme (Ryohei), Singa Cacat (Xanxus) atau sama si Manusia Tak bermata (Bel) itu daripada sama si Kuda Bule (Dino).
Nadeshiko : *Iseng* Oh, kalo gitu sama si Burung Hantu Psiko (Mukuro) itu mau ?
Hibari : *Melotot dengan horror* ….Tambah nggak mau….
Squalo : VOOOIIII ! BOCAH SIALAN ! KEMARI ! KUCINCANG DAGINGMU JADI STEAK ! KUCUKUR RAMBUTMU JADI BANTAL, BOCAH SIALAAAANNN ! *Ngamuk – ngamuk*
Nadeshiko : Apaan sih, Squcchi ? Kaget nih…
Squalo : VOOI ! Lihat tuh si Bocah Tak bermata itu ! Seenaknya saja di sobek – sobek kimonoku !
Bel : Shishishi….Biar saja, aku kan pangeran…Shishishi….
Hibari : Woi, Hiu Nyasar. Kamu milih ku-Kami Korosu atau di-rape sama si Singa Cacat itu ? *Mengancam*
Squalo : *Menelan ludah*
Bel : Shishishi…
Hibari : Hei, Manusia Tak Bermata. Kamu milih ku-Kami Korosu atau didandanin sama Si Banci Burung Merak itu ?
Bel : *Menelan ludah*
Nadeshiko : Thanks Kyouya-kun, sudah mau hentikan mereka *Lega*
Hibari : Hmph, bukan masalah *Muka Cool*
Nadeshiko : Oke, sebaiknya kita mulai syuting-nya sekarang !
Chapter 3 : Hilangnya seorang penghalang. Third Revenge : Mukuro's Revenge
Tsuna berdiri terpekur di depan sebuah peti mati berlambang Cloud Vongola. Di tangannya terdapat segenggam bunga Lili berwarna putih. Yamamoto, Gokudera, Ryohei, Mukuro, dan yang lainnya berdiri di belakang Tsuna. Sementara, Reborn, menggenggam tangan kiri Tsuna yang sedari tadi terus – menerus menundukkan kepalanya tanpa berkata sepatah katapun.
Tiba – tiba, ia merasakan sesuatu yang dingin dan basah menimpa wajahnya. Ia melihat keatas, dan butiran – butiran air turun dari langit dan mengalir lembut menuju tanah melewati kulitnya.
Hujan.
Hari ini, semua anggota Mafia sekaligus Namimori telah kehilangan seseorang yang bagi mereka berharga sekaligus mengerikan.
Hibari Kyouya.
Entah apa alasannya, Sang Penguasa Namimori itu membiarkan hidupnya terbang dan menjadi bintang yang berkilauan dengan memotong pergelangan tangannya. Kejadian itu menimbulkan shock dan dampak yang luar biasa bagi semua orang yang ada di pemakaman itu.
Terutama Sawada Tsunayoshi.
Meskipun baginya Hibari bukanlah siapa – siapa jika dibandingkan dengan kekasihnya, Dino Cavallone, Hibari adalah orang yang berharga baginya. Ia tidak menganggapnya sebagai seorang anak buah ataupun seorang Cloud Guardian yang harus mengorbankan apapun demi menjaga keselamatannya. Ia menganggap Hibari sebagai seorang sahabat.
Hujan yang turun dengan deras tidak menghalangi niat mereka semua untuk tetap mengunjungi upacara pemakaman Hibari. Ketika waktunya untuk memberikan penghormatan terakhir bagi Sang Cloud Guardian, Tsuna maju, dan meletakkan bunga Lili itu di peti mati Hibari.
Tsuna memandangi wajah Hibari yang pucat. Tatapan dan sorot mata kejam yang dulu selalu ia pancarkan setiap kali ia bertemu dengannya kini pudar sudah. Yang ada hanyalah kulit pucat milik Hibari yang dingin. Ekspresi wajahnya yang dulu selalu membuat orang lain merinding ketakutan kini sudah lenyap dihembuskan angin. Sekarang, ekspresi wajahnya mampu membuat semua orang menangis, ataupun tersenyum sedih.
Wajah Hibari Kyouya saat itu terlihat begitu damai dan tenang.
Perlahan – lahan, Tsuna mengecup dahi Hibari dengan lembut. Ia dapat merasakan bibirnya dingin seketika karena mencium dahi Hibari yang sudah membeku untuk selamanya. Tubuhnya takkan bisa dicairkan oleh api sepanas apapun.
"Ini adalah yang pertama sekaligus yang terakhir kalinya aku melihat wajah Hibari-san yang begitu damai, begitu tenang, sekaligus begitu indah. Selamat tidur, Hibari-san.." Ucap Tsuna smabil mundur beberapa langkah, dan langsung menghamburkan air mata yang sedari tadi ia tahan.
Ia menangis sesegukan sambil memeluk Reborn. Sementara yang lainnya masih meletakkan bunga di peti mati Hibari.
"Sudahlah, Tsuna. Sesuatu yang hidup pasti akan mati. Ini adalah takdir." Ucap Reborn tenang. Ia berusaha menenangkan muridnya itu dengan cara apapun yang ia tahu.
Yamamoto, Gokudera, Ryohei, dan beberapa temannya juga berusaha untuk menahan air mata mereka, meskipun itu sia – sia. Bahkan, Yamamoto yang terkenal periang itu pun langsung menangis tanpa suara. Gokudera membenamkan wajahnya di dada Yamamoto, dan mereka berdua menangis pelan dan sesekali terisak sedih. Ryohei memeluk Kyoko, sementara ia sendiri memalingkan wajahnya, tak mau melihat tempat di mana Hibari ditidurkan.
Hanya Mukuro, yang tak menangis atau apapun. Ia hanya melipat kedua tangannya di dada, dan memandang lurus kearah peti mati Hibari. Ia sama sekali tak merasa kehilangan, ataupun sedih. Ia hanya tetap pada tujuannya, yaitu berhasil menguasai dan merasuki tubuh Tsuna. Saat itu juga ia berpikir, bahwa inilah saat yang tepat untuk mendapatkan Tsuna.
Sambil menangis, Tsuna langsung meratapi kepergian temannya. "D-Dino-san juga menghilang entah kemana, dan sekarang, Hibari-san juga pergi untuk selama – lamanya…k-k-kenapa…?" Reborn menghela nafas sebentar, lalu berkata. "Hush, jangan meratapi kepergian Hibari seperti itu, Tsuna. Nanti Hibari tidak tenang di alam sana. Kalau Dino, nanti akan aku cari bersama – sama dengan Romario dan Arcobaleno yang lain." Mendengar perkataan Reborn, Tsuna langsung menghentikan ratapannya.
-OooOooO-
2 hari setelah kepergian Hibari, Tsuna masih belum bisa kembali ceria seperti yang biasanya. Begitu juga dengan teman – temannya. Tak ada lagi teriakan 'Juudaime' dari Gokudera, pekikan 'Extreme' yang selalu meluncur dari mulut Ryohei, tawa ringan Yamamoto, ataupun hebohnya pertengkaran antara Gokudera dan Yamamoto. Semuanya membisu. Semua diam, dan jarang berbicara. Bahkan, Yamamoto yang terkenal mudah tertawa dan ceria itu pun, hanya diam sambil menautkan tangannya dengan Gokudera. Ia hanya sesekali tertawa, namun Tsuna tahu tawa Yamamoto adalah tawa palsu.
Kepergian seorang Hibari Kyouya memberikan dampak yang sangat besar bagi Tsuna dan teman – temannya.
Tapi tidak untuk Rokudo Mukuro.
Saat ini, ia sedang sibuk memikirkan cara untuk menguasai Tsuna, berhubung yang bersangkutan sedang tidak dalam kondisi yang baik karena masih sedih atas kepergian Hibari. Ia juga mengambil kesempatan dimana Reborn sedang tidak bersama Tsuna sebab ia harus mencari Dino. Dengan begitu, ia bisa mendekati Tsuna dengan bebas tanpa ada yang menghalangi.
"Kufufufu….Sebentar lagi, tubuhmu akan menjadi milikku, Sawada Tsunayoshi…" Tawa Mukuro sebelum sosoknya menghilang menjadi kabut dingin.
-OooOooO-
Hari itu, Tsuna sedang mengurung diri di kamarnya. Panggilan dari Ibunya untuk makan malam pun hanya dibalas dengan 'Letakkan saja di depan kamar'.
Tsuna memeluk kedua lututnya, dan menangis terisak – isak. Ia sedih sudah kehilangan sahabatnya, Hibari. Ia juga sangat sedih karena kekasihnya, Dino, menghilang entah kemana tanpa jejak sedikitpun.
"Uh…kenapa, kalian berdua harus meninggalkanku ? Kenapa…uh…" Ia membenamkan wajahnya ke lututnya yang tertutupi selimut.
"Kufufufu…"
Suara tawa yang sangat khas itu terdengar di kamar Tsuna. Seketika bulu kuduk Tsuna langsung berdiri. Ia memang sangat sensitif dengan kehadiran Mist Guardiannya, Rokudo Mukuro.
"Mu-Mu-MUKURO !" Ia berteriak kaget ketika tiba – tiba Mist Guardiannya muncul tiba – tiba bak hantu di depannya.
"Kufufufu…sekaget itukah dengan aku, Tsunayoshi-kun ?" Goda Mukuro sambil tersenyum jahil melihat 'buruan'-nya yang langsung menutupi selimut yang digenggamnya ke kepala sambil meringkuk di pojok tempat tidur.
"K-Kau ini !" Bentak Tsuna kesal setelah jantungnya kembali normal. Mukuro tertawa lagi. "Kufufu…maaf deh, aku kan cuma mau menghiburmu. Habis, akhir – akhir ini Tsunayoshi-kun murung terus, sih. Aku kan bosan." Ujar Mukuro membela diri.
Tsuna tak menjawab. Ia hanya kembali ke posisi-nya semula, dengan tangan yang memeluk kaki dan wajah yang tertunduk.
Mukuro langsung duduk di sebelah Tsuna, sementara kedua tangannya menyangga tubuhnya di belakang.
"Tsunayoshi-kun…" Panggil Mukuro.
"Hm ?"
"Ibumu meletakkan makanan di depan pintu, tapi kenapa tidak kamu sentuh ? Kan kasihan dia sudah capek – capek membuatkannya untukmu." Mukuro menunjukkan nampan berisi makanan milik Tsuna.
Tsuna menghela nafas. "Aku tak lapar."
"Nanti kamu sakit."
"Aku tahu." Jawab Tsuna pelan. "Tidak cuma aku yang merasa kehilangan atas kepergian Hibari-san. Yang lainnya juga sama. Aku tahu kalau hampir setiap hari Gokudera-kun pergi ke rumah Yamamoto, dan ia menangis di pelukan Yamamoto sampai ia tertidur karena kelelahan. Aku juga tahu kalau Yamamoto selalu memasang senyuman palsu setiap kali aku bertemu dengannya. Mereka semua merasakan hal yang sama denganku."
Perlahan – lahan, senyum di bibir Mukuro terkembang. Ia mendekatkan posisi duduknya dengan Tsuna, lalu merangkulkan tangan kirinya di bahu Tsuna, sementara tangan kanannya ia sembunyikan di belakang tubuhnya.
"Sudahlah, aku tahu kamu sedih karena kehilangan Dino sekaligus Kyouya, tapi kamu tak boleh begini terus. Yang lainnya juga akan terus murung jika kamu murung. Cobalah kamu bersikap sedikit ceria didepan yang lain. Pasti mereka juga akan ceria." Saran Mukuro.
Tsuna merasa sedikit tenang ketika Mukuro mengucapkan kata – kata itu, tanpa tahu maksud Mukuro yang sebenarnya. Diam – diam, tanpa Tsuna sadari, tangan kanan Mukuro yang sedari tadi tersembunyi di belakang tubuh kini sudah memegang Trident miliknya.
'Inilah saatnya.' Pikir Mukuro sambil perlahan – lahan mendekatkan Trident itu ke kulit Tsuna.
Namun, tepat sebelum Trident itu menggores kulit Tsuna, Tutor Tsuna, Reborn, tiba – tiba masuk dari jendela dan menggenggam tangan kanan Mukuro yang memegang Trident tersebut.
"Re-Reborn ! Kau mengagetkanku !" Kata Tsuna ketika melihat Tutornya itu masuk. Namun, bukan senyuman licik yang muncul di wajah Reborn, melainkan tatapan benci dan menusuk.
"Menjauh dari Mukuro dan pergi kebelakangku, Tsuna." Perintah Reborn dingin. Tanpa tahu apa yang terjadi, Tsuna tetap menuruti perintah Reborn dan bersembunyi di punggungnya.
"Rupanya ini yang kau incar semenjak kematian Hibari, Mukuro." Ujar Reborn dingin. Tsuna bertambah bingung. "Se-sebenarnya ada apa, Reborn ?" Tanya Tsuna pelan.
"Lihat tangannya." Tsuna pun langsung melihat tangan kanan Mukuro, dan ia sangat kaget melihat Mukuro sudah menggenggam Trident-nya.
"Rupanya…kau…Mukuro…"
"Ingat saja, Rokudo Mukuro. Sampai kapanpun kamu takkan bisa mendapatkan Tsuna karena aku akan selalu menjaganya. Sekarang, aku beri kau 2 pilihan. Kau memilih untuk kubunuh sekarang juga atau pergi dari sini dan tak pernah mengganggu Tsuna lagi ?" Ancam Reborn.
Mukuro tak punya pilihan lain selain pergi dari tempat itu meskipun hatinya sama sekali tak rela.
"Baiklah, aku akan pergi. Sampai jumpa, Tsunayoshi-kun…kufufufu…" Sosok Mukuro segera menghilang menjadi kabut.
Setelah Mukuro pergi, Tsuna langsung terduduk lemas di lantai.
"Harusnya kau bersyukur karena aku datang tepat waktu. Jika tidak, maka kau sekarang sudah dilukai oleh Trident itu." Gumam Reborn tenang. "Kelihatannya mulai sekarang kau harus hati – hati, Tsuna. Akan kusuruh Yamamoto dan Gokudera kesini, sekarang." Reborn mengambil hp-nya, kemudian menekan nomor Gokudera.
Sementara itu, di tempat Yamamoto
"Uh..kenapa begini ? Hibari mati bunuh diri tanpa alasan yang jelas. Aku…tak bisa menerimanya. Mana si kuda jingkrak itu juga menghilang entah kemana…uh….Yamamoto.." Gokudera semakin membenamkan kepalanya ke dada Yamamoto yang sedari tadi mengelus – elus kepalanya dengan lembut.
"Shh…sudahlah…" Yamamoto berusaha menenangkan Gokudera yang sejak kematian Hibari menangis terus hingga akhirnya tertidur karena kelelahan.
Kemudian.
TRRRRRR. Suara hp Gokudera.
"Ha-halo…" Jawab Gokudera.
"Ini Reborn, Gokudera. Apa kamu dan Yamamoto bisa kerumah Tsuna, sekarang ?" Tanya Reborn, memberi penekanan pada kata 'sekarang'.
"Ke-kerumah Juudaime bersama dengan Yamamoto ? Baiklah, aku mengerti." Telepon itu segera diputus dari pihak Gokudera.
Di rumah Tsuna
Reborn menghela nafas sejenak. "Kelihatannya Gokudera menangis lagi." Ujarnya datar. Tsuna langsung menundukkan kepalanya. "Sejak kematian Hibari-san, Gokudera-kun selalu pergi ke rumah Yamamoto, dan menangis sambil dipeluk oleh Yamamoto yang berusaha menenangkannya hingga akhirnya Gokudera-kun tertidur di pelukan Yamamoto karena kelelahan setelah menangis."
"Oh." Respon Reborn.
-OooOooO-
"Rupanya orang sialan itu mengincar Juudaime lagi." Geram Gokudera.
"Oleh karena itu, aku meminta kalian berdua untuk meningkatkan pengawasan kalian terhadap Tsuna. Jangan biarkan Mukuro mendekati Tsuna lagi."
"Aku mengerti." Jawab Yamamoto.
Reborn kemudian menjelaskan bermacam – macam informasi yang ia dapatkan saat mencari Dino ke 3 orang tersebut.
Sementara itu…
Dari luar rumah, Mukuro memandangi Reborn dengan tatapan benci dan penuh dendam. Arcobaleno itu sudah menghalangi tujuannya untuk mendekati Tsuna, untuk menguasai tubuh Tsuna. Tapi, setiap kali ia akan berhasil, Arcobaleno itu selalu saja menghalangi dirinya entah dengan cara apa.
Mukuro sangat membencinya, dan Mukuro ingin agar dia bisa dengan mudah menguasai tubuh Tsuna sendirian. Tanpa adanya pengganggu, tanpa adalah penghalang.
"Kau akan merasakannya, Arcobaleno. Pembalasan dariku akan segera tiba."
-OooOooO-
Mukuro duduk di salah satu café di Namimori sambil memakan Chocolate Parfait yang tadi ia pesan sambil memikirkan bagaimana cara untuk menyingkirkan Arcobaleno itu dari sisi Tsuna.
Tiba – tiba, ia mendengar percakapan beberapa orang gadis remaja yang duduk tak jauh darinya.
"Hei, apa kau tahu Hell Communication ?"
"Tentu saja. Situs baru itu, kan ?"
"Iya. Katanya, kalau kita memasukkan nama kedalam situs itu, maka gadis dari neraka akan membalaskan dendam kita. Tapi, situs itu kan hanya bisa diakses pada pukul 12 malam."
Mist Guardian Vongola itu mendengarkan percakapan itu dengan seksama. Ia tak menyangka, bisa ada situs seperti itu. Sebuah ide terlintas di benaknya. Dengan cepat ia menghabiskan Chocolate Parfait-nya, kemudian membayar dan segera berlari pulang ke Kokuyo.
-OooOooO-
Kokuyo, 00.00
Mukuro baru saja mengakses situs Hell Communication. Kemudian, ia menuliskan nama 'Reborn' di kolom situs itu. Tak lama, kolom itu berganti dengan sebuah tulisan.
Aku terima pesanmu
Hell Girl
Kemudian di depan Mukuro muncullah seorang gadis berkimono. Ia memiliki rambut hitam dan mata yang merah membara. Gadis itu menatap Mukuro dengan mata datar.
"Kalau kau mengirim seseorang ke neraka, maka 2 lubang akan digali. Setelah mati nanti, kamu pun akan masuk kedalam neraka." Jelas gadis itu.
"Tak masalah." Jawab Mukuro. "Yang penting aku bisa mendekati Sawada Tsunayoshi dan menguasai tubuhnya. Soal masuk neraka, toh, tanpa mengirimkan seseorang ke neraka pun aku juga sudah akan masuk neraka karena semua perbuatanku." Tambah Mukuro enteng.
Gadis itu menghela nafas. "Baiklah kalau begitu…"
"Dendammu akan terbalaskan…"
-OooOooO-
Reborn kembali ke kamar tidurnya setelah selesai mencari Dino yang menghilang untuk hari ini. Baru saja ia masuk, ia sudah dikejutkan oleh kehadiran 4 orang tak dikenal didalam kamarnya. Seorang wanita cantik berkimono, seorang gadis kecil, seprang pemuda yang matanya tertutupi oleh rambut, dan seorang pria botak.
"Siapa kalian ?" Tanya Reborn sambil menyiapkan pistolnya.
"Ha, kelihatannya yang ini cukup sulit." Gumam pria botak itu sambil mendekati Reborn. Reborn pun menambah kewaspadaannya.
"Menjauh dariku." Perintah Reborn dingin. Namun, mereka seperti tak mempedulikan ancaman Reborn. Mereka tetap mendekat kearahnya.
Kemudian Reborn pun menembakkan pistolnya kearah wanita cantik itu. Namun, apa yang terjadi ? Meskipun peluru itu menembus kepalanya, wanita itu sama sekali tidak tumbang. Malahan, luka bekas peluru itu melebar, dan membuat kulitnya mengelupas dan menunjukkan tulang – tulangnya.
Reborn terkejut. "A-apa yang…" Belum sempat ia menyelesaikan kata – katanya, sebuah palu seberat kurang lebih 10 ton (Sama seperti yang biasanya digunakan untuk Tsuna) menghantam kepalanya dan membuat kepalanya pecah, dan bahkan sebagian otaknya keluar.
Darah terlukis disekitar tempat itu. Reborn langsung rubuh sambil terengah – engah. "K-kenapa.."
"Sepertinya kamu tak tahu bagaimana perasaan orang lain ketika kamu memukulnya ataupun menendangnya." Gadis kecil itu berkata sambil memegang 2 buah pistol.
DOR ! DOR ! DOR ! DOR !
Suara peluru yang dilontarkan berkali – kali dari pistol itu langsung menembus tubuh Reborn dan membuatnya semakin tak berdaya. Belum sempat ia berbicara, pemuda yang matanya tertutupi rambut itu langsung menendang dan memukulnya berkali – kali. Dilanjutkan dengan pukulan palu dan kapak yang mengiris – iris tubuhnya dengan kejam.
Warna merah darah sudah memenuhi ruangan itu.
Kemudian, seorang gadis berambut hitam panjang dan bermata merah membara yang mengenakan kimono mendekatinya. Dengan sisa – sisa kekuatan terakhirnya, Reborn mencoba bertanya.
"S-siapa s-s-sebenarnya k-kalian ?" Tanyanya dengan suara yang berat dan nafas yang terengah – engah. Bagaimana tidak, paru – parunya sudah dilubangi oleh peluru tadi, sehingga membuatnya kesulitan bernafas.
"Hei, sosok yang kebingungan dalam kegelapan dan menyedihkan. Kamu sudah melukai dan memandang rendah manusia…Jiwamu terkena karma dan tenggelam dalam dosa…" Gadis itu mengangkat tangan kanannya.
"…kau mau coba mati ?"
-OooOooO-
Hari itu, Sawada Tsunayoshi merasakan sesuatu yang aneh. Campuran antara bingung dengan perasaan tidak enak yang ia rasakan semenjak Reborn pergi untuk mencari Dino. Perasaan seperti seakan – akan ia tidak pernah bisa bertemu dengan Reborn lagi selama – lamanya.
"Kenapa ya… Reborn belum juga pulang. Aneh, bukankah ia berjanji padaku akan pulang hari ini ?" Tanya Tsuna pada dirinya sendiri, sebelum pintu kamarnya diketuk oleh seseorang.
"Ya, masuk saja." Jawabnya pelan. Kemudian, masuklah Lal Mirch, Colonnello, Skull, Aria, dan Fon.
"Kalian kan…Arcobaleno. Mana Reborn ? Kenapa ia belum pulang ?" Begitu mendengar perkataan Tsuna, mereka semua langsung menundukkan kepala.
DEG.
Perasaan tidak enak itu kembali menyergap kedalam diri Tsuna. "A-a-apakah Reborn…mati ?" Ia bertanya dengan suara gemetaran.
Fon menggelengkan kepala. "Tidak, Reborn tidak mati. Tapi kemarin, setelah mencari Dino Cavallone, Reborn menghilang entah kemana setelah ia kembali kedalam kamarnya untuk beristirahat." Jelas Fon.
Seketika tangis Tsuna pecah dan ia langsung jatuh terduduk di lantai sambil menutupi mukanya dengan kedua tangannya.
"Ke-kemarin Hibari-san meninggal bunuh diri, la-lalu Dino-san menghilang, sekarang Reborn juga menghilang ? Tidak ! Tidak mungkin ! Reborn….uh…." Fon dan Aria langsung menghibur Tsuna yang menangis tersedu – sedu.
Ketika Gokudera dan Yamamoto diberitahu bahwa Reborn juga menghilang, mereka sangat terkejut. Namun, hanya Yamamoto-lah yang tidak terlihat terkejut. Ia sudah mengerti bahwa Dino dan Reborn sudah dikirim ke neraka oleh Gadis Neraka. Entah siapa yang mengirimkan mereka.
Hari itu, Tsuna sudah kehilangan orang yang paling berarti bagi dirinya selain Dino dan Hibari.
Dari kejauhan, Mukuro memandang Tsuna sambil tersenyum licik.
"Kufufufu…sekarang…sang pengganggu sudah pergi. Tunggulah saja, Sawada Tsunayoshi. Tubuhmu itu akan segera kukuasai, akan segera menjadi milikku…kufufufu…" Katanya sebelum sosoknya menghilang menjadi kabut.
(End of Mukuro's Revenge)
To Be Continued…
Next Chapter : Air mata yang mengalir. Fourth Revenge : Tsuna's Revenge
-OooOooO-
Behind the scene
Scene 1
Tsuna memandangi wajah Hibari yang pucat. Tatapan dan sorot mata kejam yang dulu selalu ia pancarkan setiap kali ia bertemu dengannya kini pudar sudah. Yang ada hanyalah kulit pucat milik Hibari yang dingin. Ekspresi wajahnya yang dulu selalu membuat orang lain merinding ketakutan kini sudah lenyap dihembuskan angin. Sekarang, ekspresi wajahnya mampu membuat semua orang menangis, ataupun tersenyum sedih.
Wajah Hibari Kyouya saat itu terlihat begitu damai dan tenang.
Hibari : BAAA ! *Langsung bangun dari peti mati terus neriakin Tsuna*
Tsuna : HWAAA ! *Kaget + Shock*
Gedebuk.
Gokudera : Uwa ! Juudaime ! *Lari ke Tsuna yang pingsan karena kaget*
Nadeshiko : CUT ! Kyouya apaan sih ?
Hibari : Ya, aku kan cuma mau ngagetin dia aja. Kok sampai pingsan begitu sih ? *Muka polos*
Nadeshiko : *Sweatdrop* Soalnya mukamu sekarang kayak Vampir tau !
Scene 2
"Uh..kenapa begini ? Hibari mati bunuh diri tanpa alasan yang jelas. Aku…tak bisa menerimanya. Mana si kuda jingkrak itu juga menghilang entah kemana…uh….Yamamoto.." Gokudera semakin membenamkan kepalanya ke dada Yamamoto yang sedari tadi mengelus – elus kepalanya dengan lembut.
"Shh…sudahlah…" Yamamoto berusaha menenangkan Gokudera yang sejak kematian Hibari menangis terus hingga akhirnya tertidur karena kelelahan.
"Yamamoto, maukah kau…menenangkanku ?" Tanya Gokudera sambil menatap lurus Yamamoto.
"Tentu saja. Bagaimana caranya ?" Kemudian Gokudera langsung melumat bibir Yamamoto, kemudian tangan Gokudera merayap ke baju Yamamoto, dan….
Nadeshiko : CUT ! CUT ! Kalian baca dialog yang mana ? *Curiga*
59 n 80 : ….ng….dialog yang diberikan Lussuria
Nadeshiko : LUSSURIAAAAAAAAAAAAAAAA !
Lussuria : *Dah kabur*
Nadeshiko : Sialan tuh banci. *Nyiapin pistol*
Mu…akhirnya selesai juga. Nah, bonus Preview Chapter 4 !
"Ja-ja-jadi kau yang…" Tsuna hanya bisa memandang Mukuro dengan tatapan kaget sekaligus benci.
"Kufufufu….benar sekali, Tsunayoshi. Akulah yang sudah mengirim tutor kesayanganmu itu ke neraka, melalui situs Hell Communication." Jawab Mukuro sambil tersenyum licik.
"Kenapa…" Air mata Tsuna mulai mengalir dengan deras. "Kenapa kau tega membunuh Reborn ? Kenapa ?" Tanya Tsuna. Kali ini kemarahannya sudah tak bisa ditahan lagi. Meskipun ia biasanya jarang marah, kali ini ia benar – benar marah.
"Tentu saja untuk menguasai tubuhmu, Tsunayoshi…" Mukuro mengarahkan Trident-nya pada Tsuna. Namun, sebelum hal itu terjadi, Gokudera dan Yamamoto sudah muncul.
"Aku berjanji pada Reborn-san untuk melindungi Juudaime." Gokudera mengarahkan dinamit-nya kepada Mukuro, sementara ia menggunakan Sistema C.A.I untuk melindungi Tsuna. Sementara Yamamoto menyiapkan pedangnya.
Mukuro menghela nafas sambil tertawa kecil. "Yah, sepertinya aku dihalangi lagi. Tak apalah, masih banyak waktu….kufufufu…" Tawa Mukuro sebelum ia lenyap dari hadapan Tsuna.
-OooOooO-
"Terimalah ini…" Gadis itu menyerahkan sebuah boneka jerami kepada Tsuna. Ia menerimanya dengan tangan gemetaran.
"Jika kamu menarik tali merah itu, maka secara otomatis kamu telah mengikat kontrak denganku, dan orang yang kau benci akan segera kukirim ke neraka. Tapi, jika kamu mengutuk seseorang, maka 2 lubang akan digali. Maka, setelah kamu mati nanti jiwamu akan masuk kedalam neraka juga." Jelasnya.
"Aku juga…akan masuk neraka ?" Tanya Tsuna. Gadis itu mengangguk.
"Itu adalah keputusanmu sendiri." Jawab gadis itu sebelum menghilang dari hadapan Tsuna.
Meskipun begitu, kamu masih mau membalas dendam ?
Yaaaay ! Chapter 3 selesai ! Oh ya, untuk tambahan, mulai Chapter ini, Ai bakal ngasih boneka jerami, nggak mengajukan penawaran. Maaf kalo pas pemilihan nama panggilan agak – agak ngawur. Nih, Nadeshiko kasih tambahan untuk nama panggilan.
Sapi bego (Lambo)
Bego-san (Haru)
Nyamuk Mesum (Shamal)
Kembaran Hibari (Fon)
Bayi sadis (Reborn)
Rambut nanas versi cewek (Chrome)
R&R Please !
