Minna~~ Akhirnya Nadeshiko bisa Update Chapter 4. Kemarin, waktu Nadeshiko lihat review-nya, ada yang tanya apakah fic ini adalah dendam berantai. Iya, Fic ni dendam berantai, nanti yang hidup di Fic ini tinggal 2, yaitu…. Rahasia deh ! Kalo mau tahu, ikutin terus ceritanya, ya !
Sebelum syuting
Nadeshiko : *Lagi mastiin kalo semuanya udah beres* Hmm…kayaknya dah beres semuanya, deh. Kalo iya, mendingan langsung dimulai aja…
Hibari : HWWAAAA ! *Lari – lari kesetanan*
Nadeshiko : Eh ? Kyouya-kun ksenapa ? *Heran*
Hibari : Nadecchi, tolong aku~~~~ *Muka uke* *Duh, penasaran lihat mukanya Hibari kalo kayak gini* ada….ada…. *Ngumpet dibelakangnya Nadeshiko*
Nadeshiko : Iya…iya…ada apa ? Kok tau – tau heboh sendiri gitu ?
Hibari : Si kuda poni itu sama si Nanas Burung Hantu mau nge-rape aku~~~ Takut~~ *Muka melas*
Dino : Waa… Kyouya…. *Tau – tau muncul*
Mukuro : Kufufu…akhirnya uke-ku ketemu juga…fufufu…
Hibari : What the hell ?
Nadeshiko : Kalian berdua ah…. Dino jangan rape Kyouya dong, Muku juga. Kyouya kan seme-ku, bukan uke-nya kalian…weee… *Di kami-korosu fans-nya Hibari*
Dino : *Cemberut* Huu….yaudah deh. Eh, Mukuro, kita 'Gituan' berdua aja, yuk. *Narik – narik bajunya Mukuro*
Mukuro : Fufufu…ide bagus, Cavallone.
Nadeshiko n 18 : ….
Hibari : Mereka sakit, ya….
Nadeshiko : Ya, setidaknya kamu gak jadi di rape…. *Hening sejenak* MUKURO ! JANGAN PERGI DULU ! KITA MAU SYUTING TAUU ! *Ngejar Mukuro* *Yaelah, baru sadar sekarang*
Hibari : E-E-Eh ? Nadecchi ? Kok pergi ? Terus syutingnya gimana ?
Tak lama kemudian…
Nadeshiko : Akhirnya ketemu juga, nih. *Nyeret Mukuro yang diiket pake tali tambang*
Mukuro : Adududuh~~~~ Lepasin dong~~~~ sesak nih…. *Meronta – ronta*
Hibari : *Nggak kuat nahan ketawa(?)* HWAAHAHAHA ! *Ketawa sambil guling – gulingan di lantai negliat Mukuro yang mirip cacing berkepala nanas*
Mukuro : *Cemberut* Yaahhh….Kyouya-kun jahat, deh…
Nadeshiko : Kyouya-kun, karena peranmu dah selesai, kamu boleh bebas ngapain aja, sama siapa aja.
Hibari : *Mata berbinar – binar* Hee…benarkah ? Kalo gitu, aku mau jalan – jalan, deh~~ hyaaa…asyiknya….
Nadeshiko : *Niatan usil* Sama siapa ? Kuda poni ?
Hibari : *Merinding* Nggak…jelas nggak…. Aku maunya jalan – jalan sendirian aja.
Nadeshiko : Terserah deh…
Hibari : *Udah ngacir entah kemana dengan riang*
Nadeshiko : OKE ! SYUTING DIMULAI !
Chapter 4 : Air mata yang mengalir. Fourth Revenge : Tsuna's Revenge
Hari itu, Tsuna sudah kehilangan 3 orang yang paling berharga di hidupnya. Dino Cavallone, kekasihnya, Hibari Kyouya, sahabat sekaligus Guardiannya, dan Reborn, tutornya. Hari itu juga, hidupnya bagaikan runtuh, hancur berkeping – keping dan melayang bebas terbawa angin lembut yang mengalir halus melewati setiap rerumputan.
Dulu, saat Hibari meninggal mungkin ia masih bisa menahan air matanya jatuh perlahan – lahan, tapi kali ini tidak. Kali ini, ia benar – benar menangis keras, tidak seperti dulu saat Hibari meninggal.
Mungkin, jika ia hanya kehilangan Hibari, ia tidak sesedih ini—meskipun saat Hibari meninggal ia benar – benar terpukul—tapi, sampai kehilangan kekasihnya dan tutor-nya yang selalu setia bersamanya, itu sudah lebih dari keterlaluan. Itu sudah lebih dari menyakitkan. Batas kesedihan Tsuna sudah penuh, tak mungkin ada ruang kosong lagi. Kejadian itu sudah menghancurkan hidup dan hatinya.
Keterlaluan.
Tsuna kesal sekaligus sedih. Kalau Hibari, mungkin ia hanya sedih karena Hibari mati karena bunuh diri. Tapi Reborn ? Dino ? Siapa yang membawa mereka pergi dan kemana ? Siapa yang mampu mengalahkan kedua orang itu ? Siapa si 'penangkap' yang mampu membawa pergi orang sekuat Dino dan Reborn ? Siapa ?
Boss Vongola itu benar – benar marah, dan juga kesal yang bercampur dengan perasaan sedih yang mendalam. Ia marah pada orang yang membawa pergi Reborn dan Dino, ia marah pada dirinya sendiri, mengapa ia tak mampu melindungi mereka berdua, ia juga sedih karena kehilangan orang – orang yang paling berharga yang ada di hidupnya.
Hari itu juga, Tsuna bersumpah bahwa ia akan membunuh orang yang sudah membawa Reborn, ia bersumpah hari itu juga, dengan hatinya sendiri sebagai saksinya. Meskipun harus mempertaruhkan nyawanya, meskipun tubuhnya harus tercabik – cabik, meskipun jiwanya harus hancur diterjang badai pasir.
Seorang Boss Mafia bersumpah demi orang yang disayanginya.
-OooOooO-
Kehilangan 3 orang yang berharga dalam kurun waktu kurang dari 1 minggu membuat Tsuna depresi berat. Tak hanya Tsuna, Yamamoto, Gokudera, Ryohei, dan semua Mafioso termasuk Arcobaleno mendapatkan tekanan batin yang sangat berat. Tekanan yang takkan mampu dihapuskan oleh waktu, tekanan yang tak mungkin hilang dalam hitungan jari, tekanan batin yang mampu meluluhkan orang seperti apapun.
Begitu menyakitkan,
….dan juga menyedihkan.
Terkecuali untuk Rokudo Mukuro.
Saat ini hatinya sedang berpesta pora, bersorak – sorai penuh kegembiraan. Orang yang selalu menghalanginya untuk menguasai tubuh Tsuna, kini lenyap sudah. Dengan ini, tak ada lagi seseorang yang selalu menjaga Tsuna, berada di samping Tsuna, dan melatih boss-nya itu. Tak ada lagi.
Ia sudah mengirimnya ke Neraka.
Sudah.
Ia adalah orang yang telah membuat Tsuna bersumpah bahwa ia aka membunuh orang yang membawa pergi Reborn dari hadapannya.
Ia adalah orang yang diincar Tsuna.
Ialah yang sudah…
…mengirimkan Reborn ke Neraka…
-OooOooO-
Tsuna membuka pintu ruang kelasnya. Biasanya, ia selalu disambut oleh seruan Gokudera, tawa riang Yamamoto, yang pada akhirnya berujung pertengkaran satu pihak. Sekarang ini, yang ia lihat adalah kelasnya yang sepi, sunyi, meskipun bisa dibilang kelasnya itu cukup ramai. Gokudera hanya duduk terpekur sambil menundukkan kepalanya, dan Yamamoto mencorat – coret selembar kertas dengan tatapan kosong dan hampa.
"Yamamoto….Gokudera-kun…." Panggil Tsuna pelan, tak ingin mengganggu aktivitas mereka.
Kendati pelan, namun kedua Mafioso itu dapat mendengar suara Tsuna karena telinga mereka sudah terlatih dari semua pertarungan yang telah mereka hadapi.
"Tsuna…" Gumam Yamamoto pelan sambil menatap Tsuna. Tatapan matanya pahit dan hampa, dan terlihat sedikit berkaca – kaca.
"Juudaime…" Gokudera mengikuti Yamamoto dan menatapa mata cokelat Tsuna dalam – dalam, penuh dengan kesedihan, kepedihan, dan kehampaan yang seolah abadi dalam mata hijau Gokudera dan mata gelap Yamamoto.
Kedua Guardian Tsuna itu sama sekali tak beranjak dari kursi mereka—bukan hal yang biasa dilakukan oleh mereka berdua—dan mereka berdua memalingkan muka, tak mau melihat wajah boss-nya yang sedang terpukul, atau mereka tak ingin Boss mereka melihat wajah pedih dan sedih mereka, entah yang mana yang benar.
Tsuna kemudian berjalan pelan mendekati kedua Guardiannya—berusaha mencermati arti setiap sorot mata yang mereka pancarkan samar – samar.
Bisa dibilang mereka bertiga cukup terpukul. Kematian Hibari, kepergian Dino, dan kali ini kehilangan Reborn yang merupakan satu – satunya orang yang bisa mereka andalkan saat mereka masih belum matang menjadi seorang Mafioso. Sekarang, jika Reborn pergi, siapa yang bisa mereka andalkan ? Siapa juga yang bisa menggantikan posisi Hibari sebagai Cloud Guardian Vongola ? Siapa juga yang bisa menggantikan posisi sebagai Boss Cavallone ke-11 apabila Dino belum punya anak ?
"Maafkan aku…Juudaime…" Setlah keheningan yang begitu lamanya menyelimuti mereka, akhirnya Gokudera mulai angkat bicara.
Yamamoto memutuskan untuk mengikuti Gokudera, daripada ia tak mempunyai sesuatu yang bisa memecahkan kesunyian itu. "Maaf, Tsuna."
Tsuna kaget. Bukankah ia yang seharusnya minta maaf karena sudah seenaknya bersumpah untuk membunuh orang yang sudah mengambil Dino dan Reborn ? Kenapa malah mereka berdua yang meminta maaf ? Ah, sudahlah. Lagipula Tsuna menyimpan sumpah itu sendiri dalam hatinya. Ia sama sekali tak berencana untuk memberitahukan siapapun mengenai hal ini.
Tsuna mencoba tersenyum, walau dipaksakan. "Ke-kenapa kalian minta maaf, Gokudera-kun, Yamamoto ? Kalian kan, tidak salah apa – apa padaku." Tsuna tertawa pahit kepada mereka.
"Tidak." Kata Gokudera pelan. "Tidak, Juudaime. Aku merasa bersalah karena aku tak mampu melindungi orang – orang yang sangat berharga bagi Juudaime. Maafkan aku…" Lanjutnya.
"Aku juga." Tambah Yamamoto. "Kami tidak lebih dari sebuah sampah karena tak mampu melindungi orang – orang yang kau sayangi. Aku merasa bodoh…sangat bodoh…"
Kali ini, giliran Tsuna yang merasakan perasaan bersalahnya yang semula kecil, bertambah besar karena mendengar perkataan mereka berdua. Ia merasa, bahwa dirinya sangat lemah, dan terlalu diperhatikan oleh Gokudera yang Yamamoto, sehingga ia sendiri tak sadar bahwa apa yang dialaminya juga berdampak besar pada lingkungan sekitarnya.
Entah kenapa, saat itu ia serasa mendengar perkataan Mukuro saat Hibari meninggal. Perkataan itu terngiang terus – menerus di telinganya, seolah ada tape recorder yang merekam suara Mukuro dan memutarnya berulang – ulang tepat di depan telinganya.
'Sudahlah, aku tahu kamu sedih karena kehilangan Dino sekaligus Kyouya, tapi kamu tak boleh begini terus. Yang lainnya juga akan terus murung jika kamu murung. Cobalah kamu bersikap sedikit ceria didepan yang lain. Pasti mereka juga akan ceria.'
Ia kaget.
Sangat kaget.
Sekaligus senang.
Ah, bodoh sekali ia. Kenapa ia tak menyadarinya dari tadi ? Jika ia senang, ceria, pasti Gokudera dan Yamamoto juga akan ceria. Karena, kebahagiaan Tsuna adalah kebahagiaan mereka juga.
Kemudian, Tsuna mulai membayangkan semua hal – hal menyenangkan yang ia pernah alami saat semua masih di hadapannya, saat semua masih tertawa bersamanya, hanya itu yang ia bayangkan.
Hanya kebahagiaan.
Setelah ia rasa cukup, ia mulai tersenyum. Kali ini, senyuman di bibir Tsuna benar – benar nyata. Senyuman yang selalu ia perlihatkan kapanpun ia merasa bahagia.
Gokudera dan Yamamoto terkejut, kemudian mereka menatap Tsuna dengan pandangan 'Aku-tidak-percaya-Tsuna-bisa-tersenyum-di-saat-seperti-ini'. Setelah lama Tsuna terus tersenyum dengan aura yang sama, barulah kedua Guardian itu percaya bahwa Boss mereka benar – benar tersenyum.
"Juudaime…"
"Tsuna…"
Mereka berdua bertatapan satu sama lain dengan tatapan senang sekaligus lega.
BUUKK!
"Aduh~~" Gokudera dan Yamamoto mengerang sambil memegangi kepala mereka. Ternyata, yang memukul mereka ialah Tsuna dengan senyuman jahil di wajah uke(?)-nya.
"Wee…kejarlah aku…" Tsuna tersenyum usil sekali lagi, lalu kabur dan berlari keluar dari kelas, meninggalkan Yamamoto dan Gokudera.
Kedua sejoli(?) itu bertatapan sejenak, kemudian tertawa kecil dan berlari keluar kelas untuk mengejar pemukul mereka alias Tsuna.
-OooOooO-
Ketiga sahabat itu terengah – engah di kelas sambil tertawa riang. Mereka sudah bermain kejar – kejaran selama hampir 1 jam, dan hampir mengelilingi sekolah mereka. Dulu, biasanya Reborn mengajak Hibari atau Ryohei untuk bergabung dengan adegan lari – larian mereka.
Tapi semua itu tak ada gunanya sekarang.
Reborn sudah pergi, dan Hibari sudah meninggal. Entah, apa yang terjadi, sejak saat itu Ryohei sama sekali tak mau bersikap se-'Extreme' biasanya. Kini ia malah terlihat lebih tenang dan pendiam, dan benar – benar mirip Knuckle.
Masih terengah – engah dan kelelahan, ketiga sahabat itu langsung tertawa lepas dengan riangnya. Rasanya memori saat berkejar – kejaran tadi masih berbekas dengan baik dalam benak mereka sampai kapanpun.
"Ahahaha….tadi itu menyenangkan ya, Tsuna !" Teriak Yamamoto gembira sambil merangkul bahu Tsuna. Gokudera yang (sangat) overprotektif pada Tsuna, langsung marah – marah pada Yamamoto.
"Yakyuu-Baka ! Beraninya kau menyentuh Juudaime !" Teriak Gokudera kesal. Sementara yang dituju hanya senyum – senyum manis ala seme(?) dengan santai. Melihat ini, amarah Gokudera semakin terbakar(sebenarnya Gokudera cemburu).
"Ahaha….memangnya aku tak boleh bersama Tsuna, Hayato-kun ?" Tanya Yamamoto sambil mengelus kepala Gokudera bak mengelus anak kucing.
"YAKYUU-BAKA !" Teriak Gokudera kesal.
BUAGH.
Sebuah tinju dengan sukses mendarat di perut Yamamoto hingga membuatnya tersungkur seketika.
Yamamoto buru – buru bangun sambil memegangi perutnya, dan menghadapi Gokudera yang masih marah – marah padanya. Hingga akhirnya mereka berdua bertengkar(satu sisi).
Dari kejauhan Tsuna menatap kedua temannya dengan seulas senyum simpul di wajahnya. Melihat pemandangan itu, entah kenapa hatinya merasa dingin, merasa tenang. Ketakutan, kesedihan, dan rasa sakit yang sedari tadi menghantui hatinya, lenyap menguap entah kemana setelah menikmati waktu bersama kedua sahabat terbaiknya.
Ah, betapa indahnya waktu yang ia rasakan bersama dengan teman – temannya.
-OooOooO-
Tsuna berbaring di kasur sambil menatap langit – langit kamarnya dengan pandangan menerawang jauh. Entah, siapa yang saat itu membayang di pikirannya.
Karena terlalu banyak berpikir, Tsuna sama sekali tak menyadari kehadiran sepiring puding nanas(digebuk) yang sedari tadi menggenggam Trident-nya, untuk bersiap – siap merenggut tubuh Tsuna(baca : Dirasuki).
Pikiran Tsuna yang penuh kosong ketika tiba – tiba puding nanas tersebut melompat dari piring(Memangnya makanan bisa gerak ?), dan seketika menodongkan Trident-nya pada Tsuna.
"A-apa yang-" Belum selesai Tsuna berbicara, Trident itu sudah ada di tempat yang sangat mengancam, yakni hanya 1 cm dari permukaan kulit Tsuna.
"Sudah terlambat, Tsunayoshi-kun." Bisik Mukuro pelan sambil tersenyum, senyuman licik tentunya.
Tsuna takut, khawatir, dan cemas. Dulu, biasanya ada Reborn yang selalu melindunginya di manapun ia berada. Jika ada Reborn, Mukuro pun bukan masalah baginya. Selama ada Reborn, tak akan ada yang bisa mengancam dirinya. Karena ia tahu, Reborn sangatlah kuat.
Mukuro menyeringai, seolah – olah tahu apa yang Tsuna pikirkan saat itu. "Ia sudah mati, Tsunayoshi-kun. Ia takkan pernah ada disini, karena aku." Kata Mukuro.
DEG.
Rasanya saat itu jantung Tsuna keluar dari rongganya. Ia kaget. Sangat kaget.
"Ya, akulah yang membunuh Tutormu itu. Menggunakan situs Hell Communication. Ia sudah pergi ke neraka." Jelas Mukuro.
Tsuna diam sejenak.
"Ja-ja-jadi kau yang…" Tsuna hanya bisa memandang Mukuro dengan tatapan kaget sekaligus benci.
"Kufufufu….benar sekali, Tsunayoshi. Akulah yang sudah mengirim tutor kesayanganmu itu ke neraka, melalui situs Hell Communication." Jawab Mukuro sambil tersenyum licik.
"Kenapa…" Air mata Tsuna mulai mengalir dengan deras. "Kenapa kau tega membunuh Reborn ? Kenapa ?" Tanya Tsuna. Kali ini kemarahannya sudah tak bisa ditahan lagi. Meskipun ia biasanya jarang marah, kali ini ia benar – benar marah.
"Tentu saja untuk menguasai tubuhmu, Tsunayoshi…" Mukuro mengarahkan Trident-nya pada Tsuna. Namun, sebelum hal itu terjadi, Gokudera dan Yamamoto sudah muncul.
"Aku berjanji pada Reborn-san untuk melindungi Juudaime." Gokudera mengarahkan dinamit-nya kepada Mukuro, sementara ia menggunakan Sistema C.A.I untuk melindungi Tsuna dan Yamamoto menyiapkan pedangnya.
Mukuro menghela nafas sambil tertawa kecil. "Yah, sepertinya aku dihalangi lagi. Tak apalah, masih banyak waktu….kufufufu…" Tawa Mukuro sebelum ia lenyap dari hadapan Tsuna.
Setelah Mukuro pergi, Tsuna langsung jatuh terduduk di belakangYamamoto dan Gokudera. Tubuhnya gemetaran tidak karuan. Sementara air matanya terus mengalir tanpa henti dari sudut matanya, mencerminkan kesedihan yang luar biasa dalam terhadap nasib tutornya itu.
Gokudera dan Yamamoto menghampiri Boss mereka, berusaha menenangkannya, meskipun mereka tahu hal itu sia – sia saja.
"Tsuna, tenanglah." Yamamoto mengelus punggung Tsuna lembut, berharap agar ia berhenti menangis.
"Kepala nanas sialan ! Beraninya ia membuat Juudaime menangis ! Ia juga sudah membunuh Reborn-san ! Kubunuh dia !" Geram Gokudera.
Kemudian ia berdiri dari tempatnya duduk, dan bermaksud untuk mengejar Mukuro. Namun, tangan kecil Tsuna sudah mencengkram bahunya.
"Sudahlah, hentikan Gokudera-kun," Bisik Tsuna pelan.
"Eh, Juudaime ?"
"Aku yang akan membalas dendam." Lanjutnya. "Aku yang akan membalas dendam pada Mukuro. Aku akan membuat ia merasakan semua yang telah ia lakukan pada Reborn. Lihat saja nanti, Mukuro. Kau akan merasakannya." Desis Tsuna kesal.
Tak lama kemudian, Tsuna menyuruh Gokudera dan Yamamoto untuk pulang. Meskipun mereka sama sekali tak mengerti apa maksud Tsuna menyuruh mereka pulang, mereka berdua tetap menuruti keinginan Boss mereka tersebut. Mungkin mereka berpikir Tsuna sedang membutuhkan waktu untuk istirahat dan menyendiri atas berita yang mengagetkan itu.
-OooOooO-
Malamnya, pukul 00.00, Tsuna menuliskan nama 'Rokudo Mukuro' di kolom situs Hell Communication tersebut. Setelah itu, ia menekan 'send'.
Kolom nama itu hilang, dan berganti dengan sebuah tulisan.
Aku terima pesanmu
Hell Girl
Tak lama kemudian, muncullah sesosok gadis beryukata yang berambut hitam panjang dan bermata merah membara. Gadis itu menatap mata Tsuna lekat – lekat.
"Apakah kamu….gadis neraka ?" Tanya Tsuna ragu – ragu. Gadis itu mengangguk pelan.
"Terimalah ini…" Gadis itu menyerahkan sebuah boneka jerami kepada Tsuna. Ia menerimanya dengan tangan gemetaran.
"Jika kamu menarik tali merah itu, maka secara otomatis kamu telah mengikat kontrak denganku, dan orang yang kau benci akan segera kukirim ke neraka. Tapi, jika kamu mengutuk seseorang, maka 2 lubang akan digali. Maka, setelah kamu mati nanti jiwamu akan masuk kedalam neraka juga." Jelasnya.
"Aku juga…akan masuk neraka ?" Tanya Tsuna. Gadis itu mengangguk.
"Itu adalah keputusanmu sendiri." Jawab gadis itu sebelum menghilang dari hadapan Tsuna.
Meskipun begitu, kamu masih mau membalas dendam ?
-OooOooO-
"Jadi, kalau kita menarik benang merah di boneka ini, maka kepala nanas sialan itu akan masuk neraka. Benar, Juudaime ?" Tanya Gokudera sambil menatap boneka jerami yang ada di tangannya. Tsuna menganguk lemah. Yamamoto hanya duduk terpekur di hadapan mereka berdua, seolah ada yang mengganjal pikirannya.
Yamamoto tahu, kalau Tsuna mengirimkan Mukuro ke neraka, maka nanti jiwanya sendiri juga akan masuk ke dalam neraka.
"Tapi, Gokudera-kun." Tambah Tsuna. "Meskipun nanti Mukuro akan masuk neraka, tapi, setelah mati nanti aku juga akan masuk kedalam neraka. Jadi, sama saja."
Gokudera tersentak, sementara Yamamoto tetap diam. Kemudian Gokudera menatap Tsuna dengan tatapan sedih dan miris.
"Bukannya aku tak sopan, Juudaime. Tapi, anda sendirilah yang harus memutuskan apakah anda akan mengirim kepala nanas itu ke neraka atau tidak. Karena jaminannya adalah jiwa anda Juudaime. Sebenarnya, aku sangat ingin menolong anda, tapi, maaf sekali, aku tidak bisa." Jelas Gokudera pelan.
Sekarang ini, semua masalah yang ada di kepalanya semakin berputar – putar, dan menjadi kusut bagaikan benang yang tak pernah digunakan sehingga menjadi berantakan. Sulit dan sukar untuk dilepaskan.
-OooOooO-
"Maaf ya, Mukuro. Tapi aku sudah bersumpah untuk membunuh orang yang sudah membawa Reborn pergi. Maka, dengan ini kamu akan pergi ke neraka, Mukuro." Perlahan – lahan, Tsuna menarik tali merah di boneka jerami itu dengan tangan gemetaran.
Benang merah itu lepas dari boneka tersebut, dan jatuh ke lantai. Saat itu juga kakinya kehilangan kekuatan dan tubuhnya lemas ke tanah.
Dendammu akan terbalaskan…
"Sampai jumpa di neraka, Mukuro." Bisik Tsuna sambil tersenyum pilu, dan butiran air bening mengalir pelan di pipinya.
-OooOooO-
Mukuro baru saja kembali dari jalan – jalannya di sekitar Namimori. Belakangan ini, stamina Chrome membaik, sehingga ia bisa keluar lebih sering dan mencari 'buruan'-nya, yaitu Tsuna.
Namun, begitu ia membuka pintu kamarnya, yang ada dihadapannya adalah 4 orang yang berdiri mengisi ruangannya. Seorang pemuda yang tak bermata, lelaki tua botak, seorang gadis kecil, dan seorang wanita cantik berkimono.
Seketika mata Mukuro melebar. Ia tahu siapa mereka. Ia tahu siapa orang – orang yang ada di dalam kamarnya.
Mereka adalah anak buah dari gadis neraka.
"A-apa yang kalian lakukan di sini ?" Tanya Mukuro, berusaha terlihat tenang.
Pemuda berambut panjang itu menyeringai. "Shishishi… tentu saja untuk membawamu pergi ke neraka…shishishi.."
'Ke…neraka ? Siapa yang mengirimkanku ?'
DUAAKK. CHASS.
Belum sempat Mukuro bertanya, sebuah kapak dengan cepat menghantam perutnya, dan seketika membuat perutnya sobek, bahkan beberapa organnya keluar dari lubang yang disebabkan oleh kapak itu. Darah tercecer di mana – mana.
"Ukh…aukh…" Erang Mukuro sambil memegangi perutnya. Sambil menyeringai, pemuda berponi panjang yang tadi ia lihat dengan cepat melemparkan beberapa buah pisau sekaligus, yang dengan sukses membuat sobekan – sobekan lain pada tubuhnya.
Tidak cukup itu saja siksaan yang ia terima, wanita yang berkimono itu sudah menyayat – nyayat organ tubuhnya, dan melemparkannya kesana kemari, bersamaan dengan pembuluh di lehernya yang putus akibat salah satu lemparan pisau pemuda tadi.
Entah kenapa, ia membayangkan Tsuna. Ia membayangkan Tsuna yang sudah membuatnya menerima semua siksaan ini, mengirimnya ke neraka karena ia sudah mengirimkan tutornya tercinta ke neraka juga.
Nafas Mukuro semakin tersengal – sengal, luka – luka di tubuhnya, sayatan di organ tubuhnya, putusnya pembuluh di lehernya, dan hancurnya paru – paru miliknya sebelah kanan, benar – benar membuat tubuhnya lemah, dan kehilangan kekuatan.
Setelah itu, di hadapan Mukuro muncullah seorang gadis berambut hitam panjang, beryukata, dan bermata merah membara. Lagi – lagi, Mukuro tahu siapa sosok di depannya. Sosok itu adalah si gadis neraka.
"Hei, sosok yang kebingungan dalam kegelapan dan menyedihkan. Kamu sudah melukai dan memandang rendah manusia…Jiwamu terkena karma dan tenggelam dalam dosa…" Gadis itu mengangkat tangan kanannya.
"…kau mau coba mati ?"
-OooOooO-
Gokudera dan Yamamoto hanya bisa melongo karena kaget sekaligus shock mendengar penjelasang Tsuna yang mengatakan bahwa Mukuro sudah pergi ke neraka, ia sudah mati. Boss-nya itu sudah mengirimkan Mukuro ke neraka, yang berarti ia kehilangan Mist Guardiannya dan juga jiwanya akan masuk kedalam neraka setelah ia mati nanti.
Mereka berdua hanya bisa menunduk lemah. Melihat hal itu, Tsuna tersenyum pilu.
"Tidak apa – apa, Gokudera-kun, Yamamoto. Ini adalah pilihanku. Maka, akulah yang harus menanggungnya. Kalian tak perlu bersedih. Setidaknya, aku sudah membalas kematian Reborn pada Mukuro. Ini adalah jalanku." Kata Tsuna pelan.
Gokudera dan Yamamoto tersenyum, dan menggenggam tangan Tsuna erat – erat. Tsuna tersenyum.
"Kita selalu bersama, ya. Karena masa ini adalah masa yang paling berarti buatku." Bisik Tsuna pelan.
Setelah mati nanti, jiwamu pun akan masuk ke neraka
Ketiga sahabat itu tersenyum pelan sambil berpegangan tangan. Ikatan kuat yang disebut 'sahabat' ini, takkan pernah terputus walaupun terpisah oleh apapun.
Meskipun begitu, kamu masih mau membalas dendam… ?
(End of Tsuna's Revenge)
To Be Continued…
Next Chapter : Wrath and the Vengeance. Fifth Revenge : Xanxus's Revenge.
-OooOooO-
Behind the Scene
Scene 1 :
Pikiran Tsuna yang penuh kosong ketika tiba – tiba puding nanas tersebut melompat dari piring(Memangnya makanan bisa gerak ?), dan seketika menodongkan Trident-nya pada Tsuna.
"A-apa yang-" Belum selesai Tsuna berbicara, Trident itu sudah ada di tempat yang sangat mengancam, yakni hanya 1 cm dari permukaan kulit Tsuna.
"Sudah terlambat, Tsunayoshi-kun." Bisik Mukuro pelan sambil tersenyum, senyuman licik tentunya.
Tsuna takut, khawatir, dan cemas. Dulu, biasanya ada Reborn yang selalu melindunginya di manapun ia berada. Jika ada Reborn, Mukuro pun bukan masalah baginya. Selama ada Reborn, tak akan ada yang bisa mengancam dirinya. Karena ia tahu, Reborn sangatlah kuat.
Mukuro menyeringai, seolah – olah tahu apa yang Tsuna pikirkan saat itu. "Ia sudah mati, Tsunayoshi-kun. Ia takkan pernah ada disini, karena aku." Kata Mukuro.
DEG.
Rasanya saat itu jantung Tsuna keluar dari rongganya. Ia kaget. Sangat kaget.
"Ya, akulah yang membunuh Tutormu itu. Menggunakan situs Hell Communication. Ia sudah pergi ke neraka." Jelas Mukuro.
Tsuna diam sejenak.
"Ja-ja-jadi kau yang…" Tsuna hanya bisa memandang Mukuro dengan tatapan kaget sekaligus benci.
"Kufufufu….benar sekali, Tsunayoshi. Akulah yang sudah mengirim tutor kesayanganmu itu ke neraka, melalui situs Hell Communication." Jawab Mukuro sambil tersenyum licik.
"Kenapa…" Air mata Tsuna mulai mengalir dengan deras. "Kenapa kau tega membunuh Reborn ? Kenapa ?" Tanya Tsuna. Kali ini kemarahannya sudah tak bisa ditahan lagi. Meskipun ia biasanya jarang marah, kali ini ia benar – benar marah.
"Tentu saja untuk menguasai tubuhmu, Tsunayoshi…"
"Eh ?" Tanya Tsuna heran.
Kemudian Mukuro menindih tubuh Tsuna ke kasur, lalu mulai menciuminya. Kemudian…
Nadeshiko : CUT ! CUT ! CUT ! Kalian baca dialog yang mana sih ? *Mulai curiga*
27 dan 69 : Dialognya Lussuria.
Nadeshiko : LUSSURIAAAAAAAAAAA! BERHENTI MENGGANGGU SYUTINGKUU ! *Bawa Bazooka*
Lussuria : TIDAAAKKK !
KABOOOMMM.
Lussuria : *Mati*
Haaa….selesai Chapter 4. Nah, preview bwt C. 5.
Xanxus duduk dengan tenang di singgasananya dengan tatapan arogan. Mata merahnya menelusuri setiap inci ruangannya. Hari itu, entah kenapa ia sangat membenci Sawada Tsunayoshi.
Gara – gara dia, ia tak bisa menjadi Boss Vongola.
Gara – gara dia, ia kalah dengan memalukan.
Gara – gara dia, Vongola hancur.
Semuanya gara – gara dia. Gara – gara Sawada Tsunayoshi.
Xanxus membencinya. Sangat membencinya. Ia ingin membunuhnya, ia ingin ia mati, ia ingin Sawada Tsunayoshi merasakan semua penderitaan yang ia rasakan.
-OooOooO-
"Terimalah ini. Jika kau tarik benang merah di boneka itu, maka orang yang kau benci akan jatuh kedalam neraka." Jelasnya. "Tapi, jika mengutuk seseorang 2 lubang akan digali. Maka, setelah mati nanti jiwamu akan masuk kedalam neraka."
Tanpa ragu – ragu, Xanxus langsung menarik benang merah itu, yang dengan sekejap membuatnya mengikat kontrak dengan gadis neraka.
"Baiklah kalau begitu…" Gadis itu menghilang dari hadapan Xanxus.
"Dendammu akan terbalaskan…."
Hah…akhirnya Chapter 4 selesai juga. Mohon maaf atas waktu yang agak kelamaan. Sebagai penutup, Nadeshiko nggak punya apa – apa untuk diomongin. Tapi…
R&R Please !
