Maaf ya~ Nadeshiko update-nya kelamaan. Padahal banyak yang minta biar cepat2 di-update. Maaf ya~~ *Bungkuk – bungkuk*. Kebanyakan tugas, nih. Maaf ! Maaf ! Maaf ! Maaf !

Di Chapter sebelumnya, ceritanya tentang Mukuro mati, kan ? Nah, sesuai janji Nadeshiko, Chapter yang ke 5 adalah Tsuna mati. Maaf ya. Buat para penggemar tokoh Tsuna, tolong jangan dendam sama Nadeshiko, soalnya, dendam berantainya sudah Nadeshiko rancang dari dulu, jadi, kalau mau diubah, jadinya nggak sesuai. Maaf ya ! Maaf !

Selamat menikmati Chapter ke 5 !

Sebelum Syuting

Hibari : Ne, ne, Nadecchi. * Narik2 lengan baju Nadeshiko*. Hari ini aku mau jalan – jalan, boleh ? *Perasaan akhir – akhir ini Hibari jadi agak childish, ya ?*
Nadeshiko : Boleh aja sih. Lagipula, kamu kan udah nggak ada peran.
Hibari : Yaudah. Dadah ! *Pergi*
Nadeshiko : *Melambai – lambaikan tangan* Hati – hati, ya !
Xanxus : Woi, Nadecchi. Ini dialog setting-nya dimana ?
Nadeshiko : Di Varia HQ. Tapi, aku udah buat replika-nya di sini. Soalnya, kalo di Varia HQ kejauhan.
Xanxus : Yaudah. Ah, tolong kasihin ikan hiu sialan itu kimono yang lebih kecil. Udah ya, gitu aja.
Nadeshiko : *Salting* (Tumben ngomong 'tolong') Eh, iya, akan kusampaikan.

5 menit kemudian

Squalo : VOOOOOOIIIIIIIIIIIIIIIIIII ! KENAPA AKU HARUS PAKE KIMONO SEKECIL INI, HAAHHHH ? *Emosi*
Nadeshiko : (Aw, kupingku berdarah) Ja-jangan marah kayak gitu, dong, Squcchi. Aku cuma disuruh Xanxus, kok.
Squalo : Oh, jadi Boss sialan itu yang nyuruh. Hehehe…liat saja, aku akan balas dendam…. *Senyum kejam*
Nadeshiko : *Nyengir* Tapi, kamu kalo pake kimono itu jadi manis, kok. Hanya saja, suaramu dikecilin dikit, volume-nya.
Squalo : ! AKU BUKAN ! *Suara toa*
Semua yg di studio : Whud ? Suara apaan tuh ?
Nadeshiko : I-i-iya Squcchi ! Jangan teriak ! Kupingku sakit !
Squalo : Boss sialan itu…habis syuting dia…MATI.
Nadeshiko : Iya, iya, ngerti. Udah deh, kita mulai aja syutingnya. Semua udah siap ?
All : YOSH !

Chapter 5 : Wrath and the Vengeance. Fifth Revenge : Xanxus's Revenge

Semua sudah selesai.

Sumpah itu, dendam itu…

Ia sudah menyelesaikan semuanya.

Termasuk dendamnya pada Rokudo Mukuro.

Ia suah mati…

Rokudo Mukuro…

Sudah mati…

-OooOooO-

Tsuna duduk terpaku di kursi kelasnya. Pandangan matanya kosong, menerawang entah kemana. Kedua tangannya tertaut di meja. Tubuhnya sama sekali tak bergerak. Hanya sesekali helaan nafas berat yang mengalir dari mulutnya-lah, yang membuktikan bahwa sang Vongola Decimo itu masih hidup.

Keadaan Tsuna yang seperti ini membuat Gokudera, Yamamoto, dan beberapa teman – temannya sangat khawatir. Pasalnya, Tsuna sekarang lebih mirip seperti mayat daripada manusia. Tak ada satupun panggilan dari Yamamoto yang dijawab, ataupun ajakan Gokudera untuk makan siang bersama di atap. Tsuna tetap diam, dan terus diam.

"Ne, Gokudera, Tsuna sepertinya masih shock atas kematian Reborn." Bisik Yamamoto di telinga Gokudera. Pemuda berambut silver itu hanya bisa mengangkat bahu.

"Bisa iya, bisa juga tidak. Padahal, beberapa hari yang lalu, tepat saat Reborn-san menghilang, Juudaime masih cukup ceria, bahkan sempat mengajak kita bermain kejar – kejaran." Balas Gokudera.

"Mungkin… perasaan berssalah Tsuna belum hilang…" Ia terdiam sejenak. "…karena sudah mengirimkan Mukuro…ke..ke neraka, ya ?" Tebak Yamamoto.

Gokudera tersenyum sinis sambil melihat Yamamoto. "Heh. Tumben – tumbennya otakmu jalan, Yakyuu-baka. Ini kejadian langka." Sindir Gokudera.

Mendengar komentar(atau sindiran ?) yang dilontarkan Gokudera, Yamamoto hanya tersenyum sambil menepuk – nepuk kepala Gokudera bak menepuk anak kucing.

"Terima kasih, Hayato." Balas Yamamoto.

"OI ! Jangan panggil nama kecilku !" Gokudera langsung membentak – bentak Yamamoto, semnentara yang dibentak hanya tersenyum – senyum, seolah tak peduli dengan omelan Gokudera.

Meskipun luarnya ia marah – marah, sebenarnya dalam hati Gokudera sangat senang. Ia senang akan sikap Yamamoto yang tenang dan santai. Ia sangat menyukai perhatian dan kasih sayang yang hampir setiap saat Yamamoto berikan padanya.

Gokudera tetap diam, membiarkan tangan Yamamoto terus membelai kepalanya, hingga…

"Ah ! Ini bukan saatnya bersenang – senang, bodoh !" Gokudera yang baru saja sadar dari 'hipnotis' Yamamoto langsung menyerang pemuda maniak baseball itu.

BUAGH.

Sedetik kemudian, Yamamoto langsung dibawa ke klinik oleh Ryohei yang kebetulan lewat.

-OooOooO-

Biasanya, melihat Yamamoto dan Gokudera bertengkar bisa membuat Tsuna tersenyum, bahkan tertawa. Biasanya, bersama – sama dengan sahabatnya bisa menenangkan perasaan Tsuna, membawa pergi rasa takut dan khawatir yang selalu menghantuinya kemanapun ia pergi, karena ia tahu, bahwa mereka akan selalu berada di sampingnya, menjaganya.

Namun kali ini tidak.

Melihat mereka berdua bertengkar tidak membuatnya tersenyum sedikitpun. Melihat mereka tersenyum, tertawa, bercanda, dan menyambutnya sama sekali tak mampu meringankan beban mental yang sedari tadi terus mengikutinya, menghantuinya.

Beban itu tak mau hilang.

Perasaan bersalah sekaligus benci dan dendam bercampur menjadi satu. Beban yang menimpa pundaknya itu meruntuhkan kepercayaan dirinya, melemparkannya melewati batas horizon, menghantui setiap helaan nafasnya, menyiksanya dalam keheningan abadi.

Tsuna tak bisa melawan kenyataan.

Ia tak bisa melawan kenyataan bahwa ia sudah menghilangkan seseorang. Melenyapkan seseorang dari muka bumi. Terlebih lagi, orang yang dilenyapkannya adalah temannya.

Temannya sendiri.

"Maafkan aku, Mukuro." Bisik Tsuna lirih dengan butiran air mata mengalir melewati pipinya.

-OooOooO-

"Aduh~ maaf Hayato~" Erang Yamamoto sambil memegangi perutnya yang masih terasa nyeri setelah ditinju Gokudera dengan kekuatan penuh.

Gokudera memalingkan wajahnya. "Che. Baseball-Freak. Jangan harap aku akan memafkannmu." Geramnya pelan sembari menghembuskan nafas.

"Yah~~Hayato~ Please~~?" Mohon Yamamoto sambil memasang puppy eyes-nya yang terkenal hampir sekuat puppy eyes milik Tsuna. Terlebih lagi, saat mengeluarkan serangannya, mata cokelat Yamamoto melebar, hampir mirip seperti mata polos Tsuna.

CTAR. Melihat mata Yamamoto itu sukses membuat hati Gokudera luluh.

Ia menghela nafas pelan. "Hai, hai. Aku maafkan. Sekarang, istirahat dulu. Kalau kamu berjalan – jalan dengan kondisi seperti itu, aku yakin kamu bakal pingsan." Saran Gokudera.

Yamamoto, yang merasa trik-nya berhasil, langsung duduk di tempat tidur klinik sembari memeluk Gokudera. Entah kenapa, kali ini Gokudera tak melawan meskipun menurutnya pelukan Yamamoto terlalu erat.

Gokudera memejamkan matanya, membiarkan kehangatan tubuh Yamamoto menyelimutinya.

-OooOooO-

Tsuna duduk di atap sambil memeluk kedua kakinya. Angin sejuk berhembus pelan, meniup sebagian rambut cokelatnya yang jatuh menutupi mata. Ia duduk di lantai, bersandar pada dinding putih yang sedari tadi menopang tubuhnya. Matahari tertutupi awan gelap, pertanda bahwa hujan akan turun.

Ia terus saja begitu sejak ia meninggalkan kelasnya. Diam, tak bersuara, dan tak bergerak. Hanya sesekali terdengar helaan nafas beratnya atau sedikit isakan. Meskipun luarnya ia terlihat biasa – biasa saja, ada tekanan batin yang terkira di dalam hatinya.

Tsuna takut, ia sedang sangat ketakutan.

Ia takut akan keadaan Mukuro…

Ia takut akan berpisah dari teman – temannya…

Ia takut akan kesendirian yang ia alami…

Ia takut akan kematian…

Ia takut akan siksaan yang menunggunya di Neraka…

Ia takut akan…

…dirinya sendiri.

"A-aku takut…" Desah Tsuna pelan. Sekali lagi, air matanya mengalir. Namun, kali ini lebih deras. Sebelumnya, ia hanya terisak pelan. Tapi, sekarang ia benar – benar menangis, bukan lagi terisak.

"Aku sudah, membunuh Mukuro…" Kalimat itu ia ucapkan berkali – kali. Entah apa maksudnya.

Perasaan bersalah itu belum juga hilang. Perasaan bersalah karena sudah membunuh Mukuro itu bercampur dengan perasaan takut dan ngeri, ketika ia membayangkan siksaan – siksaan yang akan ia dapatkan, setelah ia masuk neraka nanti.

Kemarin, ia sudah berkata pada Gokudera dan Yamamoto, untuk selalu bersama sampai kapanpun, karena baginya, masa yang saat ini ia hadapi lebih berharga daripada masa setelah ia mati nanti. Akan tetapi, bagaimana bila ia sudah mati sebelum sempat menghabiskan waktu terakhir bersama teman – temannya, dan masuk neraka ?

"Aku akan…masuk neraka…nanti…" Ucapnya pelan disela – sela tangisannya.

Cklek.

Ia mendengar suara pintu atap terbuka. Seketika ia menoleh, dan menemukan Gokudera dan Yamamoto berjalan kearahnya.

"Juudaime…" Panggil Gokudera.

"Tsuna…"

Melihat kedua temannya muncul, Tsuna buru – buru menghapus air matanya, namun sia – sia. Mereka tetap mengalir, jatuh membelai kulitnya, membentur permukaan lantai yang dingin, dan keras.

"Maaf, Gokudera-kun, Yamamoto. Aku tak bermaksud-"

"Tidak apa – apa, Juudaime. Aku paham perasaan anda…" Gokudera sudah menyela sebelum Tsuna mampu menyelesaikan kalimatnya.

"Aku juga," Sambung Yamamoto. "Aku bisa mengerti beban dan perasaan bersalah yang terus menghantuimu, karena sudah melakukannya. Aku paham, benar – benar paham."

'Karena aku-pun juga begitu, Tsuna,' Tambahnya dalam hati.

Mata cokelat Tsuna beralih menatap kedua teman – temannya dengan pandangan sedih dan gundah. Dapat terlihat segaris kekhawatiran terlukis di air mukanya yang sayu itu.

"Aku…aku…aku sudah… MEMBUNUH MUKURO !" Ia berteriak keras frustasi, kemudian menangis tersedu – sedu sambil menghempaskan wajahnya ke dada Gokudera. Gokudera langsung melingkarkan tangannya di punggung Tsuna, berusaha menenangkan boss-nya tercinta itu.

"Sudahlah, Juudaime. Semuanya akan baik – baik saja, tak apa – apa." Bisik Gokudera di telinga Tsuna lembut.

"Iya, Tsuna. Itu bukan salahmu. Mukuro sendiri yang memulainya, sehingga kamu terpaksa mengirimnya ke neraka.." Tambah Yamamoto sambil menyentuh bahu Tsuna.

Seketika pemuda berambut cokelat itu mengangkat wajahnya, menatap Yamamoto penuh harapan. "Benarkah, Yamamoto ?" Yamamoto mengangguk mantap dengan seulas senyum terpasang di wajahnya.

"Yakyuu-Baka benar, Juudaime !" Tambah Gokudera semangat. "Aku yakin kalau kepalan nanas sialan itu tak membunuh Reborn-san dan memulai semua ini, pasti Juudaime takkan mengakses Hell Communication dan mengirimnya ke neraka !" Ia berkata pada Tsuna adengan penuh semangat berapi – api.

Entah kenapa, perasaan Tsuna menjadi lega. Ia merasa nyaman dan aman setelah mendengarkan penuturan Yamamoto dan Gokudera. Semua beban dan perasaan bersalah yang sedari tada menghantui dan menimpa bahunya, kini perlahan – lahan mulai lenyap, menjadi kabut.

Dengan seulas senyum di bibir, Tsuna berkata, "Arigatō, Yamamoto, Gokudera-kun,"

Varia HQ, 3.45 p.m

Xanxus duduk dengan tenang di singgasananya dengan tatapan arogan. Di depannya ada sebotol wine yang sudah separuh, dan sebuah gelas kecil berisi es. Mata merahnya menelusuri setiap inci ruangannya. Kedua kakinya disilangkan, sementara tangan kanannya menopang dagu. Hari itu, entah kenapa ia sangat membenci Sawada Tsunayoshi.

Gara – gara dia, ia tak bisa menjadi Boss Vongola.

Gara – gara dia, ia kalah dengan memalukan.

Gara – gara dia, Vongola hancur.

Semuanya gara – gara dia. Gara – gara Sawada Tsunayoshi.

Xanxus membencinya. Sangat membencinya. Ia ingin membunuhnya, ia ingin ia mati, ia ingin Sawada Tsunayoshi merasakan semua penderitaan yang ia rasakan. Ia sangat kesal pada Sawada Tsunayoshi, kesal sekali. Bayang – bayang kekalahannya pada saat Ring Battle masih segar di otaknya.

Hari dimana ia dikalahkan oleh seorang bocah berusia 14 tahun. Hari itu adalah hari dimana harga dirinya hancur. Hei, dia adalah Xanxus, kan ? Dia adalah orang yang sangat ditakuti karena kemampuannya yang mengerikan itu. Tapi, bagaimana mungkin seorang Xanxus bisa dikalahkan oleh seorang bocah murid SMP kelas 2 berusia 14 tahun ? Bukankah itu memalukan ?

Ia benci Sawada Tsunayoshi. Benci sekali.

Dan rasa benci itu takkan hilang sampai ia mampu membuatnya lenyap dari dunia ini, selamanya.

Tak lama, ia teringat percakapan beberapa orang bawahannya tentang sebuah situs misterius bernama Hell Communication.

Flashback

"Hei, tahu tidak kalau akhir – akhir ini Nave menghilang ? Ia kemana, ya ?" Tanya salah seorang bawahan Xanxus pada kedua temannya.

Temannya itu hanya menggeleng. "Entahlah. Mungkin dibawa oleh gadis neraka." Jawabnya singkat.

"Apa katamu tadi ? Gadis neraka ? Apa itu ?" Ia heran. Satu orang temannya lagi langsung memberitahukan tentang hal itu.

"Itu lho, situs yang katanya hanya bisa diakses pada pukul 12 malam. Katanya jika kita memasukkan nama orang yang kita benci kedalam situs itu, maka gadis neraka akan membalaskan dendam kita."

"Ah, mengerikan !"

Senyum sinis terkembang di bibir Xanxus.

'Hell Communication. Situs yang mampu membalaskan dendam kita. Hmph, situs yang menarik. Akan kubuktikan kebenarannya padamu, Sawada Tsunayoshi...' Pikir Xanxus sambil tersenyum.

Akhirnya, ia menemukan cara untuk memuaskan rasa benci dan dendamnya pada Sawada Tsunayoshi.

-OooOooO-

Varia HQ, 00.00 a.m

Xanxus menuliskan nama 'Sawada Tsunayoshi di kolom tersebut. Sesaat kemudian, kolom tersebut hilang, berganti dengan sebuah tulisan.

Aku terima pesanmu

Hell Girl

Tak lama, didepan Xanxus muncullah seorang gadis berambut hitam panjang, menggunakan yukata bermotif bunga – bunga hadir di hadapan Xanxus. Mata merah gadis itu beradu dengan mata Ruby Xanxus.

"Kau gadis neraka ?" Tanyanya pada gadis di depannya itu. Gadis tersebut mengangguk pelan.

"Terimalah ini. Jika kau tarik benang merah di boneka itu, maka orang yang kau benci akan jatuh kedalam neraka." Jelasnya. "Tapi, jika mengutuk seseorang 2 lubang akan digali. Maka, setelah mati nanti jiwamu akan masuk kedalam neraka."

Tanpa ragu – ragu, Xanxus langsung menarik benang merah itu, yang dengan sekejap membuatnya mengikat kontrak dengan gadis neraka.

"Apa kau yakin ?" Ia bertanya. "Kenapa kau tidak membunuh ayah tirimu saja ? Kenapa kau mengirimkan orang ini ke neraka ? Padahal, walaupun ia mati pun, kau takkan pernah menjadi Vongola Decimo, sebab kau tak ada keturunan dari Vongola."

Xanxus menatapnya tajam. "Cih, tahu apa kau tentang aku ?" Balasnya dingin. "Yang aku inginkan hanya ia merasakan semua rasa sakit dan perih yang sudah kurasakan sebelum dan setelah ia mengalahkan aku. Itu saja." Lanjutnya sambil bersandar pada kursinya.

"Tapi, ingatlah, walaupun ia dikirim ke neraka, penderitaan yang ia alami takkan pernah sama denganmu. Dendam hanya akan membuahkan dendam. Aku bisa mengatakan seperti itu karena aku sendiri pernah mengalaminya. Itu saja yang ingin kubicarakan," Ia mengakhirinya. Xanxus terdiam, memandangi gadis itu.

"Baiklah kalau begitu…" Gadis itu menghilang dari hadapan Xanxus.

"Dendammu akan terbalaskan…."

Sambil memandangi sosoknya yang mulai lenyap, Xanxus merenungkan semua yang dikatakan oleh gadis itu.

"Dendam hanya akan membuahkan dendam,"

Benarkah dendamnya hanya akan membuatnya menerima dendam yang lain ?

"Walaupun ia dikirim ke neraka, penderitaan yang ia alami takkan pernah sama denganmu."

-OooOooO-

Tsuna baru saja pulang dari sekolah. Ia merasa lebih tenang dan aman setelah mencurahkan seluruh perasaan dan bebannya pada Yamamoto dan Gokudera. Kedua sahabatnya itu memberikan banyak sekali humor dan lawakan—atau apapun—untuk membuat Tsuna tertawa, tersenyum seperti dulu lagi.

Seulas senyum kecil terpampang halus di wajahnya.

"Aku senang, aku mempunyai kalian, Gokudera-kun, Yamamoto. Kalian semua sangatlah berharga bagiku. Aku berjanji, aku akan melindungi kalian." Kata Tsuna pelan, sambil tersenyum.

Ketika ia membuka pintu rumahnya, ia merasa sedikit heran karena rumahnya sangat sepi. Biasanya, Lambo dan I-pin menyambutnya sambil berkejar – kejaran memperebutkan makanan, atau Bianchi yang sedang menghajar Shamal dengan Poison Cooking-nya yang terbaru, atau suara Ibu-nya yang menyuruhnya untuk makan siang.

Semuanya benar – benar sepi.

"Ano, Okaa-san ! Bianchi ! Lambo ! I-pin ! Kalian dimana ?" Tsuna berteriak memanggil nama mereka sambil berjalan mengelilingi rumah, namun hasilnya nihil. Rumahnya tetap sepi.

'Ah, mungkin mereka sedang berbelanja.' Batinnya.

Kemudian, ia masuk kedalam kamarnya, ketika ia melihat ada orang – orang asing tak dikenal ada di dalam kamarnya. Seorang wanita cantik berkimono, seorang lelaki tua botak, seorang pemuda berambut hitam, dan seorang bocah perempuan yang tersenyum jahil kepadanya.

"Ka-kalian….siapa ?" Ia bertanya dengan sedikit perasaan takut yang bergemuruh di dadanya.

Pemuda berambut hitam itu mengacak – acak rambutnya sendiri. "Hah, Nona Ai memang benar. Satu dendam muncul, kemudian terbalaskan, dan dendam yang baru akan muncul." Ia memandangi Tsuna.

Wanita yang berkimono mengiyakan perkataan pemuda tersebut. "Dendam itu bagaikan mata rantai yang tak ada ujungnya. Tak pernah selesai. Satu dendam akan membuahkan dendam yang lain. Manusia yang malang," Ia mengangkat bahu.

"Tapi, tapi, bukankah Ai menyuruh kita untuk melakukan 'itu' pada pemuda ini ? Jangan diabaikan, nanti dimarahi, lho."Celetuk bocah perempuan itu sambil menarik – narik kimono milik wanita cantik tersebut.

"Kasihan sekali kau ini. Yang kau inginkan hanya melindungi dirimu sendiri dengan mengirimkan Illusionist psikopat itu ke neraka, tapi pada akhirnya kau sendiri akan jatuh ke neraka." Kata si lelaki tua botak.

Mata caramel Tsuna melebar seiring dengan kata – kata yang diluncurkan lelaki tua botak tersebut. "A-apa yang…" Ia terdiam. "Apa yang kalian maksud itu Mukuro ? Aku tahu aku memang mengirimkannya ke neraka untuk melindungi diriku sendiri, dan juga teman – temanku. Tapi, apa yang kalian maksud dengan aku juga akan masuk kedalam nereka ?" Tanya Tsuna setengah berteriak karena panik.

"Percuma bicara. Sudah terlambat." Wanita berkimono itu berdiri di belakang Tsuna. Namun, ketika Tsuna menengok ke belakang….

CRASH

Pemuda yang tadi sudah memotong tangannya menggunakan sebuah pedang. Darah berceceran dimana – mana. Kemudian pemuda itu mengangkat tangannya tinggi – tinggi, mmebiarkan Tsuna terjatuh kelantai sambil mengerang kesakitan, kemudian menjilati darah yang mengalir dari tangan Tsuna. Tsuna bahkan mampu melihat seluruh isi tangannya—Daging, tulang, pembuluh darah, dan otot—ia menutup matanya karena ngeri.

"Ugh…ah…!" Ia mengerang kesakitan sambil terus membiarkan matanya tertutup rapat.

"Hihihi…orang bodoh." Bocah perempuan itu tertawa terkikik – kikik, seolah mengejek keadaan Tsuna yang menyedihkan itu. "Kalau ia menutup matanya, berarti semakin bertambah rasa sakit itu." Keempat orang itu berjalan mendekati tubuhnya.

Sontak, Tsuna membuka kedua matanya, dan mendelik ketika melihat wanita berkimono itu memegang sebuah tulang pipih dengan ujung tajam.

SRET….CASH

Tsuna berteriak kesakitan sambil memegangi mata kanannya yang berlumuran darah merah segar. Wanita cantik itu sudah menyobek kelopak mata kanannya, memotong semua urat – urat kebiruan, dan menarik bola matanya hingga keluar dari rongganya. Ia memegang bola mata Tsuna seakan memegang sebuah yoyo, dan menghancurkannya menjadi serpihan – serpihan daging dengan cara meremasnya kuat – kuat.

"Sa-sakit….ugh…ah…arggh…he-hentikan !" Tsuna terus memohon pada mereka, namun ia sama sekali tak digubris.

Keempat orang tersebut terus menyiksanya. Perutnya disobek, membuat isi perutnya terburai, darah mengalir deras, membasahi lantai kamarnya. Kaki kirinya dipotong menjadi beberapa bagian, semengtara tulang – tulangnya digunakan untuk menusuk – nusuk bagian tubuh yang lain.

Kemudian, pemuda berambut hitam itu mengambil pedangnya, kemudian membelah dada Tsuna. Ia memotong tulang – tulang rusuknya, menyingkirkannya seakan itu adalah barang tak terpakai. Dari sana, terlihatlah paru – paru Tsuna, dan jantungnya yang berdenyut dengan cepat. Pemuda tadi merobek paru – parunya, dan memotong saluran pernafasan Tsuna, sehingga membuatnya kseulitan bernafas dan sesak.

"Hah…hah…hah…" Nafasnya menjadi tersengal – sengal. Ia tak sanggup lagi berpikir, yang ia tahu adalah rasa sakit dan nyeri yang amat sangat menjalar keseluruh tubuhnya, merasuki sum – sum tulangnya, menyiksanya.

Setelah itu, ia mengiris pembuluh arteri dan vena yang ada di jantungnya, dan menarik jantungnya keluar. Namun, beberapa pembuluh darah masih menyatukan jantung itu dengan tubuh sekarat Tsuna. Jantungnya ia belah dua, dan darah menyembur keras. Pemuda itu menjilati darahnya penuh nafsu, kemudian menggigitnya sambil nyengir ala kucing.

"UAGGH !" Tsuna berteriak kesakitan.

"Sepertinya kamu tak tahu rasanya menderita selama 8 tahun dikurung di penjara es. Maka, akan kami buat kau merasakannya." Lelaki botak itu membekukan tubuh Tsuna, dan Tsuna tak mampu bergerak. Ia hanya mampu melihat apa yang mereka lakukan.

'Menderita…penjara es….8 tahun…' Batin Tsuna mulai menerawang ketika ia mendengarkan kalimat tersebut. 'Ja-jangan – jangan…. Xanxus !'

Baru saja Tsuna menyadari siapa yang mengirimnya ke neraka, bahaya lain sudah menantinya.

BRUAK… DRAKK….PRYANG

Wanita tadi mengayunkan sebuah kapakk pada tubuh berbalut es itu. Es tersebut hancur, begitu juga dengan tubuh Tsuna. Ia bahkan mampu melihat bagian pinggangnya berada tak jauh darinya, dan bagian bahu kiri di sebelah kanan tubuhnya.

"Xa…n…xus…"

Kemudian, di depan Tsuna muncullah seorang gadis berambut hitam panjang, bermata merah darah, mengenakan yukata berjalan kearahnya.

"K-k-kau….ga-gadis…ne-ne-neraka….la-lama tak…ju-jumpa…" Sapa Tsuna dengan tatapan miris.

"Dendam hanya akan membuahkan dendam. Kau sudah membalaskan dendammu pada Mukuro, dan sekarang kau adalah sasaran pelampiasan dendam orang lain." Kata gadis itu pelan.

Tsuna tersenyum lemah.

"Hei, sosok yang kebingungan dalam kegelapan dan menyedihkan. Kamu sudah melukai dan memandang rendah manusia…Jiwamu terkena karma dan tenggelam dalam dosa…" Gadis itu mengangkat tangan kanannya.

"…kau mau coba mati ?"

-OooOooO-

Gokudera dan Yamamoto memutuskan untuk mengunjungi rumah Tsuna setelah pulang sekolah. Yang mereka inginkan hanyalah menghibur Tsuna, membuat Boss-nya tercinta itu dapat melupakan semua beban dan perasaan bersalah yang terus menghantuinya akibat mengirim Mukuro ke neraka.

Walaupun dalam perjalanan Gokudera berkali – kali bertengkar satu sisi dengan Yamamoto tercinta.

"Yakyuu-Baka ! Kenapa sih, kamu juga ikut kerumah Juudaime ?" Bentak Gokudera kepada Yamamoto yang berjalan tenang di sebelahnya.

Pemuda di sebelahnya hanya tersenyum santai. "Ya, tak apa – apa, kan ? Aku kan, juga mau mengunjungi Tsuna."

Gokudera langsung kehilangan kata – kata.

"Cih, terserah kau sajalah." Balas Gokudera sambil memalingkan mukanya dari Yamamoto.

Tak lama kemudian mereka berdua sudah sampai di rumah Tsuna. Yamamoto membuka gerbang pintunya, dan masuk.

Namun anehnya, tak ada tanda – tanda keberadaan manusia ataupun makhluk sejenis itu di rumah Tsuna. Padahal, biasanya mereka disambut oleh Lambo dan I-pin, lalu Bianchi yang dalam sekejap membuat Gokudera terkapar disebelahnya.

"Eh, rumahnya kok kosong ?" Yamamoto melihat ke seluruh penjuru ruangan dengan heran.

"Mungkin Ibunya Juudaime sedang berbelanja dengan Anee-ki, Aho-Ushi, dan I-pin. Tapi, seharusnya Juudaime ada di rumah." Tambah Gokudera.

"Bagaimana…kalau kita ke kamarnya saja ? Mungkin dia sedang tidur atau mendengarkan musik, sehingga ia tak tahu bahwa kita datang." Usul Yamamoto. Gokudera mengangkat bahu dan mengikutinya keatas, ke kamar Tsuna.

Namun, ketika mereka membuka pintu kamar Tsuna, tak ada satupun orang disana. Tak ada siapa – siapa, maupun hawa keberadaan manusia.

"Eh, aneh ? Kok tak ada siapa – siapa, ya ?"

Gokudera mengamati dari sudut ke sudut ruangan Tsuna. Matanya melebar ketika ia melihat noda darah yang ada di lantai. Noda tersebut membentuk sebuah kalimat. Ia buru – buru memanggil Yamamoto untuk mengamati noda itu bersama – sama.

Noda itu berbentuk huruf alphabet bertuliskan :

Xanxus, thank you for sending me to the Hell. All of the incident you enganged with me was my fault. But thank you, Xanxus.

Tsuna

Kedua sahabat itu hanya bisa terdiam dengan kaget sekaligus ngeri melihat tulisan merah darah itu.

Gokudera menggeretakkan giginya menahan amarah. Jadi, penyebab Tsuna menghilang saat ini adalah karena Xanxus. Xanxus sialan itu sudah mengirim bossnya tercinta ke neraka, agar ia bisa menderita selamanya seperti semua yang ia rasakan.

Flame berwarna merah muncul di cincin Gokudera. Yamamoto hanya bisa menatap tulisan itu dengan perasaan sedih sekaligus miris. Jujur, ia memang kesal kepada Xanxus, namun, Tsuna sudah berterima kasih pada Boss Varia itu karena telah mengirimkannya ke neraka. Entah apa yang dimaksud olehnya.

"Xanxus…sialan… Lihat saja, kau juga akan pergi ke tempat itu dan menderita selamanya… sialan…" Geram Gokudera.

Dendam yang satu…

Hanya akan menciptakan dendam baru…

Itulah yang harus kau tahu…

Sebelum kau membalas dendam…

(End of Xanxus's Revenge)

To Be Continued…

Next Chapter : Blinding Emotion. Sixth Chapter : Gokudera's Revenge

-OooOooO-

Selesai Syuting

Nadeshiko : *Bergelung di selimut sambil minum teh*

Yamamoto : Syuting hari ini lancar, ya. Aku senang.

Nadeshiko : Benarkah ? Terima kasih.

Squalo : !

Yamamoto : *Jatuh dari kursi*

Nadeshiko : *Jatuh dari kursi + gelas teh-nya pecah*

Squalo : VOOOIIII ! XANXUS SIALAN ! BERANINYA DIAAAA !

Nadeshiko : Uwa, Squcchi, ada apa ? *Nutup telinga pake kapas*

Yamamoto : *Pasang I-Pod sambil nyanyi – nyanyi gak jelas* *Dibunuh fans-nya 18*

Squalo : Grrkh…. Akan kucincang Boss sialan itu… grrrkhh….. *Taring hiu keluar*

Nadeshiko : HIII ! *High-pitched ala Tsuna*

Lussuria : *Tau – tau muncul* Ara~ Squcchi, ayo ikut aku ! *Narik – narik Squalo* Aku punya sesuatu yang ingin kutunjukkan padamu~~

Squalo : VOOOOII ! LEPASKAN AKU BANCI KEPALA AYAM !

Nadeshiko : *menghela nafas* Ah, akhirnya si toa berjalan pergi juga. Iya kan Yamamoto ? *nengok kearah Yama*

Yamamoto : *dengerin I-Pod* *Nyanyi lagunya Cherry-Blossom 'Cycle'*

Nadeshiko : Er…. *Sweatdrop* Err…pembaca, tunggu Chapter berikutnya, ya !

Preview Chapter 6

Semenjak kematian Tsuna, Gokudera berubah sifat. Ia menjadi lebih pendiam, dan kasar. Tatapan matanya seolah kosong, tak berisi apa – apa. Nilai – nilai sekolahnya pun menurun drastis. Bahkan, Yamamoto tak mampu menyadarkannya.

Gokudera sudah terjebak dalam emosi yang membutakannya akan dunia luar.

-OooOooO-

"Terimalah," Gadis itu menyerahkan sebuah boneka jerami. "Jika kau membuka tali merah itu, maka musuhmu dalam sekejap akan jatuh dalam neraka. Tapi…" Gokudera menelan ludah.

"…ada harga yang harus dibayar. Setelah mati, jiwamu pun akan masuk kedalam neraka."

Pemuda berambut keperakan itu terdiam.

"Satu dendam terselesaikan, satu dendam lagi muncul. Ingatlah itu," Gadis itu berkata sebelum menghilang dari hadapan Gokudera.

Huwwaaaa ! *Nangis* Maaf ya, kelamaan update-nya. Nadeshiko kebanyakan pr nih, jadi nggak ada waktu buat nulis fic ini. Oh ya, tolong kalau me-review tuliskan jawaban dari pertanyaan Nadeshiko di bawah ini.

Bagaimana adegan penyiksaannya ?

a/. Sadis b/. Kurang Sadis c/. Terlalu sadis

Bagaimana penokohan karakter ?

a/. Baik b/. Kurang kuat c/. Harus diubah

Paling suka pair apa ?

a/. 1859 b/. 1880 c/. 1869 d/. 2759

Terima kasih sudah mau membaca, R&R please !