Minna, maafkan Nade untuk peng-update-an cerita yang melebihi 3 BULAN ! Maafkan…. maafkan… Serius, Nade nggak ada waktu buat nulis Chapter yang ke-6. Banyak kegiatan sekolah sama pe-er juga, terus UTS. Waktu kemarin, Nade ada kejuaraan KONI buat Drum Band di Surabaya. Jadi, waktunya dipakai buat latihan. Maaf, ya.

Oh ya, untuk pemberitahuan, Nade itu perempuan lho, perempuan. Jangan sampai salah kira bahwa Nade itu laki – laki. Perempuan tulen kok, walaupun banyak yang bilang lebih pantas jadi laki – laki daripada jadi perempuan :-P

Sekali lagi, maafkan keterlambatan Nade dalam meng-update cerita ini. Nanti ada bonus kok, setelah Chapter terakhir selesai.

Selamat Menikmati ! _

Sebelum Syuting

Tsuna : Akhirnya…. *Meregangkan tubuh* Akhirnya tugasku selesai juga. Ganbatte, Nadecchi !
Nadeshiko : Um…ya. Sebentar lagi juga nih film selesai. Ini kan udah dendam yang terakhir.
Yamamoto : Lho ? Bukannya mau kasih bonus ?
Nadeshiko : Oh, kalau bonus nggak pake karakter kalian. Pake….mmff ! *Mulut dibekep*
Dino : *Bisik di telinga dengan suara mengancam* Nade-ku sayang~ itu masih rahasia honey~ babe~ *Dibunuh fans-nya Dino*
Nadeshiko : *Merinding* Ma-maaf.
Yamamoto : Pake apa Nadecchi ?
Nadeshiko : Ng-nggak. Nggak jadi.
Mammon : Nadecchi ! *Bawa buku scenario* *Meluk Nade*
Nadeshiko : H-hai ? *Kaget*
Mammon : Maksudnya ini apa ? *Nunjukin skenario*
Nadeshiko : Hum ? *Liat scenario* Oh, ini. Kamu tuh harus n….mmmff ! *Mulut dibekep (lagi)*
Dino : Duh, honey~ bunny~ masih rahasia~
Nadeshiko : *Angguk – angguk* Hai….Dino-sama….
Dino : *Elus – elus kepala* Anak pintar~
Nadeshiko : *Heran* Lama – lama Dino-sama kok jadi mirip Russia-nya Hetalia Axis Power (Promosi) ?
Mammon : *Bingung* Jadi gimana ini ?
Nadeshiko : Nanti aja, deh ! Nade masih sayang nyawa Nade. Nade masih punya cita – cita. w
Yamamoto : Imuuttt~~
Nadeshiko : *Sensitif* Apanya yang imut ?
Yamamoto : Nggak, nggak ada apa – apa.
Nadeshiko : Ya udah. Semua sudah siap ?
All : YAAAAA !

Chapter 6 : Blinding Emotion. Sixth Chapter : Gokudera's Revenge

Warna warni dunia sudah lenyap dari hadapannya

Jalan setapak yang dulu dilaluinya

Kini sudah hancur lebur

Ia telah kehilangan

orang yang memimpin hidupnya…

Semenjak kematian Tsuna, sang Boss Vongola ke 10, dunia seakan hancur bagi Gokudera Hayato, sang Storm Guardian. Hidupnya yang dahulu selalu bergantung pada Tsuna, sekarang sudah lenyap. Orang yang selalu memimpinnya, orang yang selalu menerangi jalan setapak yang ia lalui, orang yang selalu membuatnya tersenyum, orang yang sangat ia hormati selain Reborn, sudah mati. Ia sudah pergi ke neraka.

Dan semua itu gara – gara Xanxus.

Kalau tidak ada Boss Varia itu, mungkin Tsuna tak akan mati. Ia akan tetap bersamanya, ia akan tetap menjadi penunjuk jalannya, menjadi penerang malamnya, menjadi warna – warni yang menghiasi hari – harinya.

Namun sekarang ia sudah tak ada lagi. Gokudera takkan bisa bertemu dengannya lagi. Gokudera takkan pernah bisa melindunginya lagi seperti yang dulu selalu ia lakukan. Gokudera takkan pernah bisa bahagia lagi.

Takkan pernah.

Gokudera menggemeretakkan giginya dengan kesal. Kedua tangannya dikepalkan disamping. Tubuhnya gemetaran menahan amarah dan kesedihan. Bulir – bulir air mata mengalir di kedua pipinya dari sudut mata Emerald-nya itu.

Saat itu juga, Gokudera bersumpah.

Ia bersumpah akan melakukan hal yang sama kepada Xanxus. Ia bersumpah akan membuat Xanxus akan merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan oleh orang yang disayanginya, Tsuna. Ia bersumpah akan mengirim Xanxus ke neraka seperti yang ia lakukan kepada Tsuna. Ia bersumpah akan melakukan hal itu meskipun ia tahu resiko-nya terlalu tinggi. Ia tidak masalah jika ia harus mati juga dan masuk ke neraka pada akhirnya. Asalkan dendam ia dan boss-nya tersampaikan, ia tak peduli harus melakukan apa ataupun harus menanggung resiko yang tinggi dan berat.

Ia tak peduli lagi dengan jalan hidupnya di masa depan. Ia tak peduli lagi dengan orang – orang yang ada di sampingnya. Yang ia pedulikan saat ini adalah dendamnya. Hanya dendamnya.

Ia bersumpah akan membalaskan dendam boss-nya.

Karena itu adalah tugas seorang Tangan Kanan Jyuudaime.

-OooOooO-

"Gokudera Hayato." Panggil seorang guru yang sedang mengabsen murid – muridnya. Mendengar tak ada jawaban, maka guru itu menuliskan huruf 'A' di lembar absensi siswa sambil berbicara pelan. "Tak masuk lagi, ya."

Sementara itu, Yamamoto menatap kursi Gokudera yang terletak di sebelahnya dengan pandangan sedih dan khawatir. Ia tahu, Gokudera masih terlalu marah dan kesal, sehingga emosinya belum sempurna. Namun, ini sudah seminggu setelah kejadian mereka mengetahui bahwa Tsuna sudah dikirim ke neraka oleh Xanxus. Ini sudah keterlaluan ! Sebegitu kesalnya-kah Gokudera terhadap Xanxus ?

Oke, kali ini Yamamoto sudah mulai merasa was – was. Bagaimana kalau sekarang Gokudera sakit karena terlalu sedih ? Atau, bagaimana bila Gokudera sama sekali tidak makan dan minum ? Bagaimana juga bila Gokudera kekurangan istirahat ? Atau yang terburuk….bagaimana kalau Gokudera….mati ?

Yamamoto menelan ludah dalam kengerinan. Oh Tuhan, jangan sampai semua yang ia pikirkan saat ini adalah kenyataan.

Oh, tidak, tidak. Yamamoto tidak mau kehilangan orang yang dicintainya dengan sepenuh hati itu. Namun, bayang – bayang mengerikan terus menghantui kepalanya, membuatnya serasa ingin langsung keluar dari kelas ini dan berlari menuju ke rumah Gokudera untuk memastikannya baik – baik saja, dan merawatnya dengan sungguh – sungguh seakan dia itu adalah kucing kecil yang tersesat.

Yamamoto buru – buru menepis pemikiran buruknya itu. Ia yakin, Gokudera pasti akan baik – baik saja. Gokudera bukanlah orang yang lemah seperti itu. Gokudera adalah orang yang kuat, yang pemberani, yang takkan menyerah meskipun nyawanya di ujung tanduk. Ia tahu hal itu.

'Aku akan mengunjunginya sepulang sekolah nanti,' Pikir Yamamoto sebelum membuka buku pelajarannya, dan sibuk oleh pelajaran.

-OooOooO-

Gokudera berbaring di lantai rumahnya dengan tangan berdarah oleh pecahan kaca. Nafasnya tersengal dan pendek, menunjukkan bahwa ia sangat kelelahan. Mata Emerald-nya juga tak seperti dulu, indah dan berkilau. Kedua bola mata itu bak batu Emerald yang kilaunya meredup, kosong dan hampa.

Ia sudah menghancurkan vas bunga di rumahnya, meninggalkan pecahan kaca yang berserakan di lantai ruang tamu. Bahkan ada yang menggores telapak tangannya, meninggalkan luka yang dalam dan mengalirkan darah yang terus menerus menetes. Luka itu belum ia bersihkan. Disentuh saja belum. Setelah puas melampiaskan amarah dan kekesalan sekaligus kesedihan yang ia pendam kepada vas bunga yang malang itu, ia berjalan beberapa langkah dari ruang tamu, sebelum ambruk. Ia menatap kosong langit – langit rumahnya, sambil sesekali mengucapkan 'aku benci Xanxus' dari mulutnya.

Sesaat, Gokudera berpikir untuk mati saja disitu, dan saat itu juga. Ia sudah tak makan apa – apa selama 2 hari, hanya minum saja. Dan ditambah sekarang, darah mengalir deras dari telapak tangannnya. Semua itu sudah cukup untuk membuatnya mati. Membuatnya takkan pernah bisa melihat dunia ini lagi, membuatnya lenyap untuk selama – lamanya.

Tapi, jika ia mati saat itu juga ia tak akan bisa membalaskan dendam Tsuna.

Ya. Jika ia mati sekarang, Xanxus tak akan menderita. Xanxus takkan pernah merasakan kepedihan dan kesakitan yang Tsuna rasakan saat Xanxus mengirimnya ke neraka. Jika ia mati, sumpahnya dan dendamnya takkan pernah bisa mencapai tujuan. Semua yang ia lakukan akan sia – sia saja.

Dam ia tak mau itu.

"Aku…akan membalaskan dendam Jyuudaime, dan juga dendamku." Ujarnya sambil menggemeretakkan giginya. "Lihat saja, Xanxus. Kau juga akan menderita."

-OooOooO-

Seusai sekolah, Yamamoto menyempatkan diri untuk membelikan makanan dan beberapa obat – obatan, perban, serta barang – barang lain yang mungkin diperlukan oleh Gokudera. Ia tak ingin ketika ia memasuki rumah Gokudera nanti, ia akan menemukan pemuda berambut keperakan itu berbaring di lantai dengan luka – luka. Ia tak menginginkan itu terjadi kepada pemuda yang sangat ia cintai.

Setelah itu, Yamamoto bergegas menuju rumah Gokudera dengan langkah cepat, sementara otaknya mulai berpikir.

'Apa yang terjadi pada Gokudera ? Sebegitu kesalnya-kah ia pada Xanxus ? Sebesar apakah emosi itu hingga mampu mebuatnya buta akan dunia luar ?' Pikir Yamamoto seraya berjalan.

Tak butuh waktu lama bagi Yamamoto untuk mencapai rumah Gokudera. Ia menekan bel pintu-nya, namun tak ada yang menjawab. Jantung Yamamoto mulai berdegup kencang dalam kekhawatiran. Ia mencoba sekali lagi untuk menekan bel-nya, namun tetap saja tak ada yang menjawab. Maka, ia memasuki pintu gerbang rumahnya, dan membuka pintu rumah…

…hanya untuk menemukan vas bunga yang pecah berantakan, dan Gokudera yang terbaring telentang dengan luka berdarah di telapak tangannya.

Hampir saja Yamamoto menjatuhkan barang bawaannya jika ia tidak segera menggenggamnya dengan erat. Tidak hanya itu. Perabotan di rumah Gokudera juga tak tertata dengan baik. Banyak yang jatuh dan berantakan. Yamamoto langsung meletakkan belanjaannya, kemudian berlari mendekati Gokudera yang terbaring di lantai dengan mata terpejam.

Dengan perasaan takut ia mengangkat tubuh Gokudera dari lantai dan mendekapnya erat sebelum mengecek urat nadi Gokudera, khawatir apabila ia sudah mati. Namun, ketika ia merasakan urat nadi-nya, ia menghela nafas dengan lega, kemudian menepuk – nepuk wajah pucat Gokudera sambil memanggil – manggil namanya, berusaha menyadarkannya.

"Gokudera ! Ayo, bangun ! Kamu tak apa – apa, kan, Gokudera ? Hey !" Ujarnya sambil masih menepuk pipi pemuda itu.

Mendengar namanya dipanggil, Gokudera perlahan – lahan membuka kedua mata Emerald-nya itu. Sesaat, yang ia lihat hanyalah bayangan kabur, namun setelah ia mengerjapkan matanya beberapa kali, akhirnya ia dapat melihat sosok Yamamoto yang memandanginya dengan tatapan cemas dan khawatir.

"Yama…moto ?" Yamamoto langsung tersenyum melihat kekasihnya itu tersadar dari pingsannya.

"Oh, Gokudera, syukurlah kau sudah sadar. Bagaimana perasaanmu ?" Ia bertanya lagi.

Gokudera hanya menjawab lemah. "Tanganku sakit…" Melihat tangan Gokudera, Yamamoto segera mengangkat tubuh Gokudera bridal-style menuju kamarnya.

Setelah itu, pemuda maniak baseball itu menurunkan Gokudera di kasur, sebelum berlari dan mengambil belanjaannya yang berisi obat – obatan. Diambilnya alkohol dan kapas, dan dibersihkannya darah di luka itu menggunakan kapas yang sudah dibasahi alkohol, kemudian membalutnya rapi dengan perban yang sudah ia beli. Diletakkannya kembali tangan Gokudera di kasur, sebelum bertanya.

"Aku sudah membeli makanan. Kamu mau makan ?" Dengan sebuah anggukan, Yamamoto mulai menyuapi Gokudera yang dengan sukarela mau untuk disuapi oleh kekasihnya itu. Ia merasa sangat lemah sekarang.

Setelah menyuapi Gokudera, Yamamoto bertanya lagi pada pemuda itu, kali ini dengan nada serius.

"Gokudera, aku ingin kau jujur. Apa yang saat ini kau inginkan ?" Tanyanya. "Aku tahu, kamu memang masih sedih dan kesal setelah kematian Tsuna yang disebabkan oleh Xanxus. Tapi, bukan begini caranya untuk menyalurkan rasa sakit itu ! Kamu tidak boleh membiarkan emosi membutakan dirimu, Gokudera !" Kata Yamamoto.

Mata hijau Gokudera menatap pemuda di sampingnya sebelum berkata dengan kesal. "Kamu tak tahu apapun tentang bagaimana perasaan orang yang ditinggalkan, Yakyuu-baka !" Bentaknya.

Yamamoto mendesah. "Oh, Gokudera, bukan hanya kau saja yang pernah ditinggal mati oleh orang yang kau sayangi."

"Tetap saja kau tidak mengerti !" Ia mulai marah oleh kata – kata Yamamoto yang seolah tak mengerti akan dendam dan sumpah yang sudah ia buat dan ia ucapkan. "Gara – gara Xanxus sialan itu, aku tidak pernah bisa lagi bertemu dengan Jyuudaime !" Ia menatap kedua tangannya yang dikepalkan di pangkuannya. "Aku bersumpah akan mengirim Xanxus ke neraka, agar ia merasakan kepedihan dan kesakitan. Dan kamu tak tahu apapun tentang hal itu, bodoh !"

Pemuda berambut cokelat itu menghela nafas panjang. "Aku tahu, kok." Jawabnya tenang.

"Eh ?" Kata Gokudera sambil mengernyitkan dahi.

"Kau pikir, kemana Pak Kanata pergi ?" Balas Yamamoto, wajahnya terlihat serius. "Akulah…yang sudah mengirimkan Pak Kanata ke neraka melalui situs Hell Communication. Aku melakukan itu semua agar kalian tidak lagi menderita karena guru sadis itu." Tambahnya.

"Mu-mustahil…" Mata Emerald Gokudera melebar mendengar penuturan Yamamoto.

"Tidak percaya ? Ini buktinya." Kata Yamamoto sambil membuka kacing kemejanya, dan menunjukkan sebuah tanda hitam yang terletak dibawah tulang selangkanya. Tanda perjanjian dengan gadis neraka.

Gokudera meraba tanda hitam itu, kemudian menatap Yamamoto dengan pandangan bertanya. "Kamu…tidak takut ? Atau…merasa bersalah ?"

Pemuda berambut cokelat itu menggeleng. "Tidak. Aku sama sekali tidak merasa bersalah ataupun takut akan kenyataan bahwa aku nanti akan masuk neraka sebagai imbalan telah mengirimkan Pak Kanata ke neraka." Yamamoto memandang keluar jendela sebentar sambil tersenyum lembut. "Karena…bagiku masa yang sekarang…lebih penting daripada masa saat aku mati nanti."

Pemuda berambut perak itu memandang Yamamoto sebentar, kemudian menundukkan kepalanya hingga helaian rambut peraknya menutupi mata.

"Hei, Yakyuu-baka.." Panggil Gokudera. Yamamoto menoleh. "Kalau aku…mengirimkan Xanxus ke neraka…apakah Jyuudaime akan bahagia ?" Tanyanya dengan suara lirih.

Mata cokelat Yamamoto melebar. Jangan – jangan…pemuda itu sudah merencanakan ini sejak awal. Untuk mengirimkan Xanxus ke neraka menggunakan Hell Communication demi membalaskan dendam Tsuna. Oh, tidak. Ini tak boleh terjadi. Tsuna takkan senang mengetahui ini. Begitu juga dengan dia sendiri. Ia tak ingin Gokudera pada akhirnya harus masuk ke neraka. Ia ingin Gokudera bahagia sekarang dan setelah mati nanti. Biarlah, ia harus masuk neraka. Tapi, ia takkan mengizinkan orang yang ia cintai itu untuk masuk ke neraka juga.

Yamamoto segera mencengkram bahu Gokudera erat – erat, menariknya lebih dengan dengannya, sebelum menatapnya dengan pandangan khawatir dan mencegahnya untuk mengirimkan Xanxus ke neraka.

"Tidak !" Teriak Yamamoto. "Aku tahu, kau sangat membenci Xanxus karena sudah mengirimkan Tsuna ke neraka, tapi bukan begini caranya untuk membalas dendam, Gokudera !" Gokudera, yang kaget mendengar teriakan Yamamoto, segera memejamkan matanya antara shock dan sedikit takut. Pemuda di depannya itu terkadang sangat menyeramkan.

"Yamamoto…."

"Aku…aku takkan mau melihatmu pada akhirnya harus masuk neraka, Gokudera. Aku tak mau." Suara Yamamoto melembut, dan ia memeluk pemuda berambut perak itu erat – erat. "Biarlah…cukup aku saja yang masuk ke neraka. Tapi…jangan dirimu, Gokudera. Jangan…Aku tak mau…"

Untuk sesaat, Gokudera terdiam, mendengarkan bait demi bait yang keluar dari bibir pemuda yang dicintainya itu sambil menikmati kehangatan yang disalurkan tubuh Yamamoto, membuatnya merasa tenang dan nyaman.

Tapi, detik kemudian ia menyadari, bahwa ia tak bisa terus menerus seperti ini. Ia sudah bersumpah, dan ia harus melaksanakannya. Sumpah bahwa ia akan membalas dendam kepada Xanxus, dengan mengirimkannya ke neraka, agar Boss Varia itu dapat merasakan kepedihan dan kesakitan yang Boss-nya rasakan. Ia tak bisa terus menerus diam di pelukan Yamamoto, tak melakukan apapun. Ia tidak bisa kalau harus melanggar sumpah yang sudah ia buat. Ia tak bisa kalau ia tidak membalas dendam kepada Xanxus. Tidak bisa.

"Maaf, Yamamoto." Kata Gokudera sambil melepaskan diri dari pelukan hangat Yamamoto. "Tapi…Aku sudah bersumpah…bahwa aku akan membalaskan dendam Jyuudaime. Aku akan mengirimkan Xanxus ke neraka. Aku tak peduli apa yang akan kau katakan, Yamamoto. Aku sudah siap menerima semua resikonya. Maafkan aku, Yamamoto." Tambahnya sambil memegang bahu Yamamoto.

Mata Yamamoto melebar. "Gokudera…."

"Aku mencintaimu, Yamamoto." Ucapnya lembut sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Yamamoto, siap untuk menciumnya.

Bibir mereka bersentuhan dengan lembut. Pada detik pertama, ciuman itu hanya sekedar sentuhan antara bibir, tapi ketika pemuda berambut perak merasakan jilatan lidah pada bibirnya, ia segera membuka mulutnya dengan senang. Lidah Yamamoto segera memasuki mulutnya dan menyapu rongga mulutnya, membuatnya mendesah penuh kenikmatan. Sensasi dari lidah pemuda berambut cokelat itu di mulutnya membuat sekujur tubuhnya menjadi panas seolah terbakar. Dan hormonnya terbakar, meminta lebih dari ini. Meminta Yamamoto meneruskan ciuman mereka dan tidak pernah melepaskannya. Tapi ia tahu ia harus melepaskan Yamamoto.

Dengan satu gerakan cepat, Gokudera melepaskan bibir Yamamoto drai bibirnya. Pemuda berambut cokelat itu sedikit kaget ketika ia menyadari bahwa Gokudera telah menghentikan ciuman mereka, kemudian menatap Gokudera dengan pandangan bertanya.

Pemuda itu tersenyum sedih. "Terima kasih, Yamamoto." Bisiknya lembut di telinga Yamamoto, sebelum menariknya berdiri, dan mendorongnya keluar dari rumahnya. "Sebaiknya kau pulang saja. Kalau kau ingin memberikan sesuatu, letakkan saja di depan pintu. Akan kuambil." Ia kemudian menatap Yamamoto serius. "Aku…akan tetap membalaskan dendamku. Maafkan aku. Aku mencintaimu, Takeshi."

Sebelum Yamamoto sempat merespon perkataan Gokudera, pintu rumah Gokudera sudah ditutup. Yamamoto menghela nafas panjang, kemudian menyentuh bibirnya sambil tersenyum lembut. "Aku juga mencintaimu, Hayato." Sebelum akhirnya ia pergi meninggalkan rumah Gokudera menuju rumahnya sendiri. Ia tahu, ia sangat khawatir dengannya. Namun, ia tahu, Gokudera adalah orang yang kuat. Walaupun ia akan tetap membalaskan dendamnya pada Xanxus, ia yakin Gokudera akan tetap bersamanya.

-OooOooO-

Gokudera masih mampu mendengarkan perkataan cinta pemuda berambut cokelat itu karena sampai saat setelah Yamamoto meninggalkan rumahnya, ia terus bersandar dibalik pintu. Mata hijaunya menatap kosong ruangan di depannya, sebelum sebutir air mata bening mengalir pelan dari kedua kelopak matanya menuju pipinya, sebelum akhirnya membentur lantai ia dingin.

Detik berikutnya ia terduduk di balik pintu, dengan kedua telapak tangan menutupi wajahnya, menangis terisak – isak karena semua emosi yang ia rasakan bercampur menjadi satu, mengacaukan perasaannya.

Jika ia mau jujur, sebenarnya Gokudera merasa takut. Ia takut kalau ia nanti harus masuk neraka. Ia sebenarnya tahu, bahwa Tsuna sendiri sebenarnya tak mengharapkan dirinya untuk membalaskan dendam kepada Xanxus. Kata – kata Yamamoto, perhatian Yamamoto, pelukan Yamamoto, semuanya sudah menyembuhkan kebutaan Gokudera akan dunia luar karena emosi. Dan bisa dibilang, menyesali sudah bersumpah. Ia sangat menyesal. Namun, apa daya ? Saat ia mengucapkan sumpah itu, ia sudah dibutakan oleh emosi yang terus – menerus mengaduk – aduk dan menghilangkan kontrol atas dirinya sendiri. Sekarang, ia sudah tak bisa mundur lagi. Ia takkan mungkin bisa memutar waktu. Waktu akan berjalan maju, takkan mundur. Dan mau tak mau ia harus melaksanakan sumpah itu.

Masih menangis, Gokudera mengucapkan nama 'Yamamoto' berkali – kali diantara isak tangisnya yang kunjung berhenti.

Ia menyesal. Ia menyesal akan apa yang sudah ia ucapkan. Ia juga mengutuk dirinya sendiri, mengapa ia begitu mudahnya dibutakan oleh emosi.

Ia sangat menyesal.

-OooOooO-

Tak jauh dari rumah Gokudera, seorang gadis berkimono hitam merah bermotif bunga Sakura berdiri sambil membawa beberapa batang bunga Mawar merah. Kedua bola matanya yang sewarna dengan mawar yang dipegangnya itu menatap sosok Gokudera yang menangis terisak – isak dari jendela. Di sampingnya, berdiri juga seorang gadis kecil, seorang wanita berkimono, seorang pria tua botak, dan seorang pemuda berambut hitam.

"Hh…kapan dendam berantai ini akan berakhir… Dasar manusia itu…" Wanita cantik berkimono itu, atau yang dipanggil Hone Onna, menghela nafas sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.

"Kan sudah Nona Ai bilang, satu dendam selesai, satu dendam yang lain muncul." Pria tua botak itu—Wannyundo—menanggapi.

"Aku tak habis pikir, apa yang sebenarnya mereka inginkan ? Balas dendam bukanlah cara untuk menyelesaikan masalah. Apa mereka sadar akan hal itu ?" Ujar pemuda berambut hitam itu, Ichimoku Ren.

"Manusia itu bodoh, ya !" Kikuri, gadis kecil berkimono itu tertawa terkikik.

Gadis bermata merah itu, alias si gadis neraka, Ai Enma, hanya bisa berkata dnegan suara yang pelan.

"Semoga saja, setelah ini, merupakan dendam yang terakhir…." Ujarnya pelan, seirama dengan hembusan angin yang menerbangkan kelopak – kelopak Mawar merah di tangannya.

-OooOooO-

Pukul 00.00

Gokudera mengakses situs Hell Communication, kemudian dituliskannya nama 'Xanxus' di kolom tersebut. Kemudian, kolom itu berganti dengan sebuah tulisan.

Aku terima pesanmu

Hell Girl

Kemudian, di sekitar Gokudera muncullah kelopak – kelopak bunga Mawar merah dan Sakura. Mereka berterbangan layaknya hujan, kemudian kelopak – kelopak tersebut membentuk sebuah sosok. Sebuah sosok seorang berambut hitam panjang dengan yukata hitam merah, serta bola mata yang merah membara.

"Gadis…neraka ?" Gadis neraka, atau Ai Enma itu mengangguk. Kemudian, ia berjalan mendekati Gokudera dengkah pelan.

Ketika ia sudah dekat dengan Gokudera, ia mengeluarkan sebuah boneka jerami dan menyerahkannya kepada pemuda itu.

"Kurasa kau sudah tahu peraturannya. Jika kau tarik benang merah di boneka itu, maka orang yang kau benci akan jatuh kedalam neraka." Katanya. "Tapi, jika mengutuk seseorang 2 lubang akan digali. Maka, setelah mati nanti jiwamu akan masuk kedalam neraka." Gokudera menatap boneka jerami di tangannya, mata hijaunya menatap sayu.

Pertempuran antara akal sehat dengan emosi sudah dimulai di dalam otak Gokudera. Keinginannya untuk membalaskan dendam kepada Xanxus begitu kuat, begitu membara seperti api. Namun, rasa takut dan ngeri juga menyelimutinya, seperti air. Air yang akan memadamkan api dendam di dalam hatinya.

"Apa kau takut ?"

Gokudera tersentak ketika menengar pertanyaan Ai, sang gadis neraka. Ia menatap gadis itu sebentar, kemudian menundukkan kepalanya kembali seraya mengangguk pelan. "Ya…" Jawabnya sambil berbisik.

"Kalau kau takut, kenapa kau tetap mengakses Hell Communication ?" Tanyanya lagi.

Gokudera menghembuskan nafas pelan. "Karena aku sudah tak bisa mundur lagi." Ketika ia memandnag mata gadis neraka, ia seolah – olah melihat bahwa gadis itu masih belum puas dengan jawaban yang ia berikan. "Aku…sudah bersumpah akan membalaskan dendam kepada Xanxus. Pada saat itu, kedua mata dan akal sehatku sudah dibutakan oleh emosi. Tapi…" Matanya terpejam, aliran – aliran memori mengenai perkataan dan sikap Yamamoto berlari kencang di kepalanya. "…Yamamoto, sudah mengembalikan penglihatanku akan kenyataan, akan dunia. Dan pada saat aku tersadar, aku sudah tak bisa mundur lagi."

Ai menatap pemuda di hadapannya itu sebelum berkata. "Ingatlah, dendam hanya akan membuahkan dendam. Aku rasa kau sudah tahu itu." Ketika melihat Gokudera mengangguk pelan, ia menambahkan. "Semoga saja, dendam berantai ini akan selesai sampai disini."

Pemuda Storm Guardian itu mengangkat tangannya, kemudian dengan tangan gemetar menarik benang berwarna merah yang ada di leher boneka itu hingga terlepas, dan jatuh ke lantai. Saat itu juga-lah, ia sudah terikat dengan perjanjian hidup dan mati dengan gadis neraka. Mengirimkan Xanxus ke neraka, dengan imbalan jiwanya juga akan masuk ke neraka setelah mati nanti.

Gadis itu menatap datar benang merah di lantai tersebut. "Baiklah kalau begitu…" Katanya sebelum lenyap dari hadapan Gokudera.

"…dendammu akan terbalaskan…"

-OooOooO-

Sepeninggal sang gadis neraka, Gokudera merasa kedua kakinya kehilangan kekuatan. Ia pun jatuh terduduk seiring dengan butiran – butiran air mata yang mengalir turun, membasahi lantai. Ia menutupi kedua wajahnya dengan tangan sambil menangis terisak – isak.

Ia sudah melakukannya.

Ia sudah mengirimkan Xanxus ke neraka.

Ia sudah melaksanakan sumpahnya.

Meskipun begitu, ada sebuncah penyesalan yang bergemuruh di dadanya, yang perlahan – lahan tumbuh dan mulai membesar. Ia menyesal. Ia menyesal sekali. Ia menyesal harus mengirimkan Xanxus ke neraka. Ia menyesal sudah mengucapkan sumpah yang membuatnya akan semakin tersesat dalam kegelapan, di jalan tak berujung, di dunia tak berpeta. Ia hanya akan semakin terjerumus kedalam lubang hitam.

Di tengah – tengah keputusasaan yang melandanya, hanya satu nama yang ia ingat dalam kepalanya.

"Yamamoto…"

-OooOooO-

Xanxus baru saja selesai dari misinya. Seulas senyum sinis dan puas tersungging di wajahnya yang penuh bekas luka itu. Pada hari itu, ia sudah membunuh salah satu musuhnya yang baginya cukup membahayakan Varia. Musuhnya itu mati dengan luka menganga dari dada hingga perut. Darah menyembur dengan keras dari luka itu, bercipratan kemana – mana. Bahkan hingga mengenai sebagian wajah Xanxus. Belum puas dengan luka yang sudah ia buat itu, dikeluarkannya isi perut musuhnya. Jantungnya ditarik keluar bersamaan dengan paru – parunya, kemudian diremas dan ditembaknya menggunakan senjatanya hingga hancur berantakan. Masih belum puas lagi, dengan Flame yang penuh, ditembakannya senjatanya hingga mengenai bagian perut, dan membuat semua organ dalamnya hancur, bertebaran berantakan di samping mayat sang empunya organ. Bau amis darah memenuhi udara. Dengan sebuah senyum senang, ia meninggalkan tempat pertempuran dan berjalan kembali menuju Varia HQ.

"Heh, sampah." Katanya sambil menyeringai sinis sambil berjalan menuju ruangannya untuk mengganti bajunya dan mungkin bersantai menikmati hari.

Namun begitu ia memasuki ruangannya, ia melihat orang – orang yang tak seharusnya ada di ruangannya selain dia sendiri. Seorang pria tua botak—Wannyundo, wanita cantik berkimono—Hone Onna, pemuda berambut hitam—Ichimoku Ren, dan seorang gadis kecil yang berkimono—Kikuri. Mata ruby Xanxus menyipit, kedua tangannya meraih senjatanya, dan ia segera bersiap untuk menembak orang – orang aneh yang sudah seenaknya masuk kedalam ruangannya itu.

"Siapa kalian, sampah ?" Tanya Xanxus dingin kepada orang – orang itu sambil mengangkat senjatanya yang mulai bersinar karena Flame. "Kalau kalian tak segera menyingkir dari sini, aku akan membunuh kalian, sampah." Ancamnya.

Anehnya, bukan merasa takut ataupun pergi dari sana, keempat orang itu malah tertawa kecil seolah mengejek Xanxus.

"Shishishi~ orang yang bodoh. Di ambang kematian saja, masih bersikap sombong seperti biasa." Pemuda berambut hitam itu, Ichimoku Ren tertawa sambil mengejek Xanxus.

"Ya, orang bodoh. Ia selalu merasa dirinya yang terhebat, padahal sekarang ia akan mati." Kikuri tertawa juga.

Xanxus, yang merasa darahnya naik ke kepala alias kesal, mengarahkan senjatanya dan bersiap untuk menembak mereka. "Justru kalian yang akan mati, sampah !"

Namun, belum sempat Flame keluar dari senjatanya, senjata itu sudah menghilang duluan. Dengan kaget Xanxus menatap kedua tangannya yang sekarang kosong tanpa senjata. Masih kaget, Xanxus mendengar suara yang persis dengan suara yang dimiliki oleh senjata Flame-nya. Kesal, ia menoleh kebelakang untuk merebut kembali senjatanya hanya untuk…

…hanya untuk mendapatkan dirinya sendiri tertembak oleh senjatanya itu. Rupanya, wanita berkimono itu, Hone Onna-lah yang menembaknya.

Rasa sakit yang luar biasa menyerang seluruh tubuhnya, dan ia mampu merasakan ia terlempar ke sudut ruangan dengan darah dimana – mana. Tubuhnya membentur dinding, kemudian ia terjatuh ke lantai, meninggalkan bekas goresan merah darah di dinding yang putih.

Xanxus mengangkat kepalanya, dan melihat bahwa serangan dari senjatanya tadi telah menembus perutnya, meninggalkan luka menganga dengan darah segar menyembur – nyembur dari luka tersebut. Melihat luka itu, Xanxus sama sekali tidak merasa ngeri ataupun takut. Ia malah berusaha bangun sambil menahan darah yang masih terus mengalir.

Baru saja ia bersiap akan menyerang lagi, kali ini sebuah pedang tajam menyayat kaki kirinya, membuat kaki kirinya itu putus dan jatuh ke lantai diiringi dengan darah yang mendesak keluar dari luka putus itu. Otomatis, pemimpin Varia itu terjatuh ke lantai. Ia melihat ke belakang, dan menemukan potongan tubuhnya itu berada tak jauh darinya. Ia mampu melihat tulangnya dengan jelas, begitu juga dengan daging kemerahan karena darah serta otot – otot berwarna kekuningan yang juga basah oleh darah. Pembuluh – pembuluh kebiruan yang terus memancarkan darah juga menyembul dari unjung luka.

Xanxus tak mampu mempercayai matanya. Ia dapat melihat kakinya sendiri, berlumuran darah segar, dan dihiasi oleh daging, otot, dan pembuluh darah.

Ia masih tetap berusaha bangun walaupun hanya dengan sebelah kaki. Harga dirinya sebagai Boss Varia-lah yang membuatnya tak mau semudah itu dikalahkan hanya dengan kehilangan sebelah kaki dan luka menganga di perut.

"Oh, dia punya harga diri yang besar." Pria tua botak alias Wannyundo itu berkomentar. Di tangannya, ia memegang sebuah pipa baja berwarna keperakan yang berkilat – kilat tertimpa sinar matahari yang mengintip dari balik jendela sekaligus cahaya dari lampu.

Mata ruby Xanxus melebar. Oh, ia sudah tahu apa yang akan pria tua botak ini lakukan.

Dan, benar saja apa yang sudah ia pikirkan di kepalanya.

Belum sempat Xanxus berpikir hal yang lain, pipa baja perak itu menghantam bahunya, membuat lengannya putus seketika, dengan tulang – tulang bahu dan lengan yang remuk dan pecahannya tersebar di sekeliling tubuhnya. Dan, ia dapat melihat pemandangan yang sama dari luka putus di lengannya itu. Daging, otot, tulang, dan pembuluh darah.

Kelihatannya pria tua botak itu belum puas dengan luka putus di lengan kanannya itu.

Megapa begitu ?

Karena, tepat setelah itu, pipa baja itu menghantam dadanya, menyobek kulit, dan meremukkan tulang rusuk dan rongga dada milik Xanxus, sehingga jantung dan paru – paru dapat terlihat dengan jelas, dilumuri oleh darah segar. Jantungnya berdenyut – denyut, bersamaan dengan denyutan urat dan nadi merah biru yang mengelilingi jantung dan menonjol di permukaan jantung Xanxus. Paru – parunya bergerak kembang kempis, seirama dengan proses pernafasan yang dilakukan oleh Boss Varia itu.

Keempat orang tadi menatap luka – luka yang sudah mereka buat dengan tatapan puas sekaligus mengejek.

"Masih kurang ?" Tanya Hone Onna.

Xanxus sama sekali tidak menjawab. Bukan karena takut atau apa, melainkan karena otaknya tak bisa memproses apa yang terjadi maupun apa yang sedang orang – orang aneh itu lakukan. Jangankan berpikir, untuk melihat saja ia sudah susah payah. Pemandangan di sekitarnya mengabur, kemudian jelas sedikit, dan kabur lagi. Begitu terus menerus.

Karena tak menerima respon ataupun jawaban dari Xanxus, keempat orang itu segera membuat keputusan lain, yang tentunya sama sekali tak bagus.

"Diam itu artinya 'ya'." Kata Ichimoku Ren sambil menyeringai lebar. "Kalau masih kurang, akan kami tambahkan terus – menerus hingga menurut Nona Ai itu sudah cukup dengan semua dosa yang telah kau lakukan."

"Ugh.." Xanxus mengerang pelan.

Kikuri—si gadis kecil berkimono itu mendekat kearah Xanxus sambil tersenyum jahil.

"Ayo bermain denganku." Katanya sambil tertawa kecil.

Oh, oh. Sepertinya Xanxus mengerti apa yang dimaksud dengan 'bermain' oleh gadis kecil itu. Mengapa ? Sebab Xanxus melihat Kikuri mengeluarkan sebuah belati yang berwarna sama dengan pipa baja yang tadi menghancurkan kedua tangannya.

"S-sialan…k-kau…ughh…"

Dengan satu gerakan cepat, Kikuri menghujamkan belati tadi ke rongga dada Xanxus yang sudah terbuka lebar, merobeknya hingga luka itu sekarang sebesar dada Xanxus sendiri. Kulitnya dikuliti sedikit demi sedikit, kemudian dilempar entah kemana. Kikuri menguliti Xanxus dimulai dari dada, kemudian perut, kaki, dan leher.

Darah sudah terciprat di sekeliling tubuh Xanxus. Belum lagi dengan irisan – irisan kulit yang bertebaran hampir di seluruh ruangan itu.

Tiba – tiba, gadis kecil itu menghentikan prosesnya, dan melihat kearah Ichimoku Ren.

"Hei, aku sudah selesai. Giliranmu." Sambil tersenyum, Ichimoku Ren mendekati tubuh penuh darah Xanxus yang tergeletak di lantai.

Oke, sekarang apa yang mereka rencanakan untuk menyiksa Xanxus ? Apapun itu, yang jelas sama sekali bukan ide yang bagus..

"Selamat menikmati," desis Ren dengan seulas senyum keji di wajahnya.

Ia berjalan semakin mendekat, kemudian berlutut di samping Xanxus. Kemudian, Ichimoku Ren meregangkan kedua tangannya dan menggemeretakkan jari jemarinya sebelum mengistirahatkan kedua tangannya itu di dada Xanxus yang sudah terbuka dengan lebar.

Dengan satu gerakan cepat, ia mengambil jantung Xanxus yang terlihat mencolok dengan denyutannya. Diremasnya jantung itu keras – keras, membuat pemimpin Varia itu mengerang kesakitan dengan nafas yang berat dan terengah – engah.

"Arrrgghh…."

Mendengar reaksi Xanxus, pemuda berambut hitam itu semakin senang, dan meremas jantung itu dengan kekuatan yang lebih daripada sebelumnya.

"Nah, terasa sakit, kan ? Sepertinya kamu sendiri belum pernah merasakan luka seperti ini. Padahal entah sudah keberapa kalinya kamu melakukan hal ini kepada musuh – musuhmu. Sekarang kau merasakan betapa sakitnya disiksa itu." Kata Ren sambil meremas jantung Xanxus.

Kemudian, Ren meremas jantung itu hingga hancur berantakan.

"AAAGHHH !" Teriakan itu menggema di ruangan ketika jantung tersebut hancur menjadi serpihan – serpihan daging dan otot.

"Hihihi…" Keempat orang itu malah tertawa melihat keadannya saat itu.

Dengan mata yang sudah mengabur, Xanxus melihat kearah sisinya. Pemuda botak itu berdiri di sana, sambil membawa sebuah palu yang sangat besar. Palu tersebut sudah dalam posisi siap pukul—terangkat tinggi – tinggi ke atas.

'S-sialan…' Pikir Xanxus.

DUAAKKK

Palu itu seketika membentur tubuh Xanxus, membuat tubuhnya terpisah dalam beberapa buah potongan yang tergeletak di lantai yang basah oleh darah segar berwarna merah. Bau anyir dan amis memenuhi ruangan, membuat siapapun pasti akan merasa pusing dan tidak nyaman.

Xanxus sekarang dapat melihat potongan – potongan tubuhnya tergeletak tak jauh darinya, mengeluarkan darah yang mengotori sekelilingnya. Ia mampu melihat pinggulnya berada di depannya, dan torso-nya berada di samping kanannya. Benar – benar bukan pemandangan yang bisa kau lihat sehari – hari.

Dengan kesadaran yang tinggal sedikit itu, Xanxus masih mampu melihat sekelilingnya.

Dan yang saat ini ia lihat adalah seorang gadis bermata merah dan berkimono hitam-merah berjalan mendekatinya, Mata merah gadis itu memancarkan kesedihan dan keperihan yang dalam. Namun tak tampak sedikit-pun rasa kasihan di matanya. Segera saja Xanxus mengenali sosok yang ada di depannya itu.

Ya, sosok yang sudah membantunya mengirimkan rivalnya ke neraka.

"Ga..dis…n-ne..ra..ka…" Ucapnya pelan.

"Bukankah sudah kubilang…" Katanya pelan. "…dendam hanya akan membuahkan dendam. Pada saat itu kau mengharapakan agar rivalmu merasakan siksaan dan rasa sakit. Pada akhirnya, kau sendiri juga merasakan rasa sakit itu. Bukankah itu sama saja ?" Tambahnya.

Xanxus tersenyum miris. "Be..nar juga…"

"Hei, sosok yang kebingungan dalam kegelapan dan menyedihkan. Kamu sudah melukai dan memandang rendah manusia…Jiwamu terkena karma dan tenggelam dalam dosa…" Gadis itu mengangkat tangan kanannya.

"…kau mau coba mati ?"

-OooOooO-

Dengan tangan gemetar Gokudera meraba tanda berwarna hitam di bawah tulang selangkanya itu. Tanda perjanjiannya dengan gadis neraka setelah ia mengirimkan Xanxus ke neraka.

"Ah…sudah kulakukan, ya…" Kata lemas sambil tersenyum miris.

Sejenak, ia berpikir untuk tetap duduk disana dan menangis. Namun, batinnya berkata lain. Ia tak boleh terus – terusan berdiam diri di dalam rumahnya dan membiarkan penyesalan memakan hatinya sedikit demi sedikit. Ia harus mencari seseorang yang akan membuatnya nyaman. Seseorang yang akan merengkuhnya dalam pelukan yang hangat. Dan ia tahu siapa itu.

Yamamoto Takeshi.

Gokudera bangun, kemudian mengusap kedua air matanya. Secercah semangat dapat terlihat di kedua mata Emeraldnya. Ia akan pergi ke tempatnya. Ketempat orang yang ia sayangi. Dengan langkah pasti, ia keluar dari rumahnya, kemudian berjalan menuju rumah Yamamoto. Ia yakin, pemuda itu dapat memberikannya sedikit ketenangan dan kedamaian.

Ketika angin malam membelai helaian rambut peraknya, seketika itu juga ucapan Yamamoto terngiang di telinganya.

"Karena…bagiku masa yang sekarang…lebih penting daripada masa saat aku mati nanti."

Gokudera tersenyum kecil.

"Heh, dasar Yakyuu-baka." Bisiknya pelan sambil tersenyum.

(End of Gokudera's Revenge)

To Be Continued…

Next chapter : Tomorrow Will Come. Seventh Chapter : The Final

-OooOooO-

Selesai Syuting

Nadeshiko : Teman – teman, terima kasih atas kerjasamanya hari ini ! ^_^

All : Sama – sama, Nadecchi !

Nadeshiko : Oh ya, apa kalian semua mau lihat untuk chapter berikutnya ? *Nyengir setan sambil ngelirik Yama dan Goku*

18 and 59 : *Blushing*

Nadeshiko : Next chapter will pretty romantic and…hot… *Smirk*

18 and 59 : Nadecchi ! Jangan diingetin, dong ! Malu, nih !

Nadeshiko : Pembaca, apa ada yang bisa menebak maksud Nade ?

Preview Chapter 7

Tanpa berkata apapun, Yamamoto langsung merengkuh pemuda berambut perak itu ke pelukannya, mendekapnya dengan erat sambil membelai kepala Gokudera.

"Aku takkan pernah melepaskanmu…"

-OooOooO-

Bersamaan dengan gugurnya bunga Sakura, Yamamoto menggenggam erat tangan Gokudera dan tersenyum lembut.

"Masa saat di neraka tak penting. Yang terpenting adalah masa yang sekarang. Dan itu karena, kita berdua akan selalu bergandengan tangan." Mata cokelat Yamamoto mentapa Gokudera hangat.

Hari esok akan datang…

Membawa sejuta kenangan…

Meskipun hari esok adalah badai…

Tak perlu khawatir…

Karena kita akan selalu bersama…

Sekarang dan nanti…

Selamanya…

Phew ! Akhirnya chapter ini beres juga. Maafkan, ya, atas keterlambatan dalam peng-update-an chapter ini. Habisnya sibuk, sih. Oh ya, ngomong – ngomong, apa pembaca bisa menebak apa yang akan terjadi pada chapter depan ? *Evil smirk * Harusnya tahu, sih.

Sebenarnya Nade juga kepingin buat fanfic untuk Hetalia Axis Power, tapi, nunggu Fanfic ini selesai dulu, deh. Soalnya kalo nggak, nanti Nade kebanyakan tanggung jawab dalam peng-update-an fanfic.

Sebagai penutup, Nade nggak punya apa – apa untuk disampaikan kecuali…

R&R please !1 w